← Daftar isi Kejadian (7) · bab 10/14

MAKNA ROHANI DARI BERKAT YANG DINUBUATKAN TENTANG YEHUDA, ZEBULON, DAN ISAKHAR (1)

Dalam berita ini, saya mempunyai beban untuk me-lihat lebih lanjut tentang Kejadian 49:8-15. Ungkapan yang digunakan untuk melukiskan kelompok yang terdiri dari Yehuda, Zebulon, dan Isakhar ini menggunakan banyak ki-asan tentang: anak singa, singa yang meniarap, singa be-tina, tongkat kerajaan, keledai yang ditambatkan pada pohon anggur, anak keledai pada pohon anggur pilihan, pakaian yang dicuci dengan anggur, dan baju yang dicuci dengan darah buah anggur. Pernahkah Anda mendengar seorang yang mencuci pakaiannya dengan anggur atau bajunya de-ngan darah buah anggur? Ayat 12 mengatakan bahwa ma-tanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu. Tentang Zebulon, kita nampak “pangkalan kapal” (ayat 13), dan Isakhar seperti “keledai yang kuat tulangnya, meniarap di antara kandang domba” (Tl.), yang melihat bahwa perhentian itu baik dan negeri itu permai dan menyendengkan bahunya untuk memikul, menjadi budak rodi (ayat 14-15). Semua butir ini kaya, kita perlu mempunyai kesan yang dalam terhadap semuanya ini.

Tidak satu pun dari butir-butir ini yang bisa tercatat dalam Kejadian 1, yang membahas kisah penciptaan Allah. Menurut Kejadian 1, pada hari keenam Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Di saat Kejadian 1, mustahillah terdengar kata-kata tentang Yehuda sebagai anak singa, singa yang meniarap dan singa betina, atau kata-kata tentang menambatkan keledai pada pohon anggur. Mustahil pula terdengar pakaian dicuci dengan arak. Dalam Kejadian 2, terdapat sebuah taman dan dua pohon, namun tidak ada satu pun dari butir-butir dalam Kejadian 49:8-15 yang disinggung di sana. Karena merupakan bagian dari nubuat yang disertai berkat yang diucapkan oleh seorang yang telah diubah dan matang dalam hayat ilahi, maka hal ini hanya terdapat dalam pasal 49.

Dalam Kejadian 2, Adam itu luar biasa, karena ia dapat memberi nama kepada semua binatang. Ini membuktikan bahwa ia sangat cakap. Tetapi, meskipun ia dapat memberi nama kepada setiap binatang, ia tidak dapat mengucapkan nubuat yang disertai berkat. Adam hanya manusia ciptaan. Ia tidak punya hayat ilahi tergarap ke dalam dirinya. Da-lam Kejadian 1 dan 2, ia belum terjatuh. Dalam arti ter-tentu, kita perlu menghargai kejatuhan manusia. Anak yang paling sering jatuh adalah yang paling kuat. Seorang anak yang tidak pernah jatuh sudah pasti sangat lemah. Adam, manusia dalam Kejadian 1 ini memang sempurna, namun bukan sangat kuat. Tetapi Yakub, manusia dalam Kejadian 49, bukan hanya sempurna, tetapi juga kuat. Bahkan sekalipun Yakub yang telah diubah ini dikerumuni ularular, ia tetap tidak akan jatuh. Sebaliknya, ia akan menghancurkan kepala ular itu serta memenggal ekor mereka. Anda ingin menjadi orang yang mana — Adam dalam pasal 1 ataukah Yakub dalam pasal 49? Saya ingin menjadi Yakub.

Dalam pasal 49, Yakub mengucapkan nubuat yang di-sertai berkat yang mustahil diucapkan oleh Adam. Hanya Yakub yang memenuhi syarat untuk mengucapkannya. Adam sama sekali tidak memenuhi syarat, karena ia tidak memiliki hayat Allah tergarap ke dalam dirinya, dan ia pun tidak pernah diubah atau matang dalam hayat Allah. Yakub, selain tercipta dan jatuh, ia pun telah dilahirkan kembali dan hayat Allah telah tergarap ke dalamnya. Tidak ada ca-tatan mengenai nama Adam diubah, namun kita telah di-beri tahu bahwa nama Yakub telah diubah menjadi Israel. Adam berarti “tanah merah”, sedangkan Israel berarti “pangeran Allah”. Anda ingin menjadi tanah merah atau pangeran Allah? Tanah merah tidak mungkin dapat meng-ucapkan nubuat seperti yang diucapkan oleh Yakub dalam pasal 49.

Yakub telah melewati pengalaman yang penuh dari ke-jatuhan manusia. Saya ragu kalau ada orang lain yang per-nah jatuh serendah Yakub. Meskipun kisah Yakub meru-pakan juga biografi kita, namun mengenai kejatuhan, kita ini bukanlah tandingannya. Yakub ahli dalam hal kejatuh-an. Yakub menipu, merebut, dan merampas setiap orang, termasuk ibunya sendiri. Fakta ia “mempergunakan” ibunya membuktikan bahwa ia merebut ibunya. (Merebut seseorang berarti mempergunakan dia, menyerobot dia). Pada suatu kali, Yakub bahkan berusaha sekuat tenaganya untuk merebut Allah. Pada malam itu, di Pniel, Yakub sekuatnya meme-gang Allah, merebut Allah, memaksa Allah berbuat sesuatu baginya (32:24-31). Sudah tentu Yakub tidak dapat menga-lahkan Allah. Akhirnya Allah memukul sendi pangkal pa-hanya, sehingga Yakub menjadi pincang. Karena Yakub merebut setiap orang, maka ia terus jatuh sepanjang jalan. Namun, akhirnya ia diubah dan menjadi matang, mencapai puncak pengalaman hayat Allah. Karena itu, dalam pasal 49, ia mampu mengucapkan nubuat yang kaya yang disertai berkat.

Sebelum pasal ini, orang tidak bisa mengucapkan per-kataan sedemikian, karena belum ada orang yang diubah dan cukup matang. Tidak hanya demikian, sebelum pasal 49, lingkungan yang tepat belum tercipta. Pemberian visi sur-gawi selalu memerlukan lingkungan yang tepat. Agar Yakub dapat mengucapkan perkataan dalam 49:8-15, ia harus diubah dan menjadi matang, ia harus mempunyai anak-anak sebagai sasaran nubuatnya. Sekarang mari kita meli-hat makna rohani dari berkat yang dinubuatkan dalam ayat-ayat ini. Bagian firman ini memerlukan seluruh Alkitab untuk perkembangannya.

I. TENTANG YEHUDA —

INJIL (KABAR GEMBIRA)

Ayat 8-12 menyinggung tentang Yehuda. Ayat 9 menye-but Yehuda itu singa. Dalam Wahyu 5:5 Kristus disebut Si-nga dari suku Yehuda, ini membuktikan bahwa Kejadian 49 memerlukan Wahyu 5 untuk perkembangannya. Ini juga mem-buktikan bahwa ayat-ayat pemberkatan dalam nubuat Yakub ini memerlukan seluruh Alkitab untuk perkembangannya. Beban saya dalam berita ini ialah agar Anda berkesan terhadap penjelasan rohani atas ayat-ayat ini.

Kita semua tahu bahwa Kitab Kejadian adalah kitab be-nih. Hampir semua benih kebenaran dalam Alkitab dita-burkan dalam Kitab Kejadian. Dalam Perjanjian Baru ada tiga kebenaran utama tentang Kristus. Pertama ialah kebe-naran kemenangan Kristus. Fakta Kristus menang itu me-nunjukkan bahwa Ia telah merampungkan segala sesuatu yang Allah kehendaki pada-Nya. Dalam karya yang telah genap ini, Ia telah menanggulangi dosa, membereskan ma-salah dunia, mengalahkan Iblis (Satan), memusnahkan maut, dan menyingkirkan segala hal yang negatif. Ia telah meraih kemenangan penuh bagi penggenapan tujuan Allah. Inilah kemenangan Kristus, kebenaran dasar yang pertama dalam Perjanjian Baru tentang Kristus.

Kebenaran utama yang kedua ialah kekuasaan Kristus, yaitu kerajaan Kristus. Kristus telah menang, Ia telah di-angkat menjadi Tuhan atas segalanya. Semua kekuasaan di surga maupun di bumi telah diberikan kepada-Nya (Mat. 28:18). Tidak hanya demikian, Ia pun telah menerima kera-jaan Bapa-Nya yang kekal dan universal. Jadi, Ia mempu-nyai kekuasaan, pemerintahan, dan kerajaan.

Kebenaran utama yang ketiga dalam Perjanjian Baru tentang Kristus ialah kenikmatan dan perhentian di dalam Kristus. Dalam kemenangan-Nya, Kristus telah merampung-kan semuanya, juga telah memperoleh kuasa dan kerajaan sehingga kita bisa beroleh kenikmatan dan perhentian di dalam Dia. Betapa luar biasa kenikmatan dan perhentian yang kita peroleh di dalam Kristus! Ketiga kebenaran ini merupakan ringkasan Perjanjian Baru.

Karena Perjanjian Baru merupakan hasil tuaian dari benih-benih yang ditaburkan dalam Kitab Kejadian, maka kini kita perlu melihat letak benih-benih kemenangan Kristus, kerajaan Kristus, serta kenikmatan dan perhen-tian dalam Kristus. Betapa saya berterima kasih kepada Tuhan dan menyembah Dia bahwa pada zaman akhir ini, Ia telah membukakan bagian firman ini kepada kita!

A. KEMENANGAN KRISTUS

1. Kristus sebagai Anak Singa yang Mengalahkan Musuh

Dalam 49:8-9 kita nampak kemenangan Kristus. Kitab Kejadian, kitab yang ajaib ini, penuh dengan gambar-gam-bar. Dalam nubuatnya, Yakub mengumpamakan Yehuda dengan singa: anak singa, singa yang berbaring, dan singa be-tina. Anak singa adalah untuk berperang, menangkap mang-sa. Ayat 9 mengatakan, “Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang ting-gi, hai anakku.” Kata-kata “engkau naik” mengandung arti bahwa tadinya ia turun. Ia turun dari gunung ke dataran guna menangkap mangsanya. Setelah anak singa menangkap mangsanya, ia lalu naik lagi ke atas gunung untuk menik-matinya. Ketika Kristus di bumi dan dipaku di atas salib, Dia adalah sebagai Anak Singa yang menangkap mangsa-Nya. Mangsa itu termasuk seluruh dunia, semua orang ber-dosa dan bahkan Iblis, si ular itu. Setelah menangkap mang-sa-Nya, Kristus lalu naik ke atas gunung, yaitu ke surga tingkat tiga. Ini berarti dari kemenangan-Nya, Ia telah naik ke surga. Efesus 4:8 mengatakan bahwa tatkala Kristus na-ik ke tempat yang tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan. Kristus telah menang; tangan-Nya mencengkeram leher Iblis. Haleluya, Ia telah mencengkeram leher musuh-musuh-Nya! Sebagai Anak Singa, Dia telah mengalahkan semua musuh-Nya. Banyak pasal dalam Perjanjian Baru mewahyukan ba-gaimana Kristus datang sebagai Anak Singa, bagaimana Dia menuju ke salib untuk menerkam mangsa-Nya, dan ba-gaimana Dia naik ke atas gunung di surga tingkat tiga.

2. Kristus sebagai Singa yang Berbaring dalam Kepuasan Setelah Menikmati Mangsa

Kejadian 49:9 juga mengatakan, “Ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan.” Kristus juga sebagai Singa jantan yang berbaring, Singa jantan yang berbaring dalam kepuasan setelah menikmati mangsa-Nya. Setelah seekor singa menikmati mangsanya dan puas, ia lalu meniarap, berbaring dan mengaso. Gambaran singa berbaring dalam ayat 9 ini mengiaskan Kristus sedang menikmati perhenti-an-Nya di surga. Setelah memperoleh kemenangan dan me-nikmati mangsa, puaslah Ia. Jadi, kini Ia mengaso di surga dalam kepuasan. Kepuasan dan perhentian ini adalah hasil kemenangan Kristus. Kristus tidak lagi berperang, melain-kan berbaring.

3. Kristus sebagai Singa Betina, Melahirkan Anak-anak Singa

Dalam ayat 9 Kristus juga diumpamakan sebagai Singa betina. Sebagai Singa betina, Ia telah melahirkan banyak anak singa. Kita semua adalah anak-anak singa Kristus. Dalam makna tertentu, gereja merupakan kerajaan singa, dan masing-masing orang dalam gereja adalah anak singa. Pernahkah Anda nampak bahwa Anda adalah anak singa? Jika kita memandang situasi dari sudut pandang Allah, kita akan nampak bahwa di mata Allah, gereja adalah keraja-aan singa. Terhadap orang, kita adalah domba-domba yang mengikuti Anak Domba, tetapi terhadap Iblis, kita adalah anak-anak singa. Mungkin Anda tidak mempunyai ke-sadaran itu, namun Iblis tahu akan fakta ini. Ia tahu bahwa dalam pemulihan Tuhan, semua orang yang percaya adalah anak-anak singa. Kita perlu sering memberi tahu Iblis, “Hai Iblis, jangan menyentuh aku. Tidakkah kau tahu bahwa keluargaku keluarga singa?” Kristus adalah Anak Singa, Singa yang berbaring, dan Singa yang melahirkan, dan kita adalah anak-anak singa-Nya. Inilah kemenangan sepenuh-nya dari Kristus. Inilah sebabnya ayat 8 mengatakan bahwa Kristus yang dilambangkan oleh Yehuda patut dipuji dan disembah.

B. KERAJAAN KRISTUS

1. Kekuasaan dan Kekerajaan Kristus

Kemenangan Kristus mendatangkan kerajaan (ayat 10). Bahkan hari ini di bumi ini, di mana ada kemenangan, di sana ada kerajaan. Kristus naik ke surga dan di sana Ia mendapatkan semua kekuasaan. Di sana Ia juga mendapat-kan kerajaan. Jika kita mempunyai pandangan Allah, kita akan nampak bahwa seluruh bumi ini justru adalah kera-jaan Kristus. Hari ini semua bangsa menggunakan kalen-der Kristus. Menurut sejarah, kerajaan adalah milik orang yang dipakai kalendarnya. Fakta bahwa bangsa-bangsa meng-gunakan kalender Kristus, menunjukkan bahwa mereka ada-lah kerajaan-Nya. Bahkan bangsa-bangsa yang menentang Kristus juga mengikuti kalendar-Nya. Karena itu, mungkin Kristus akan menertawai mereka sambil berkata, “Meskipun kalian menentang Aku, kalian justru menggunakan kalen-der-Ku. Dengan demikian kalian mengakui Aku sebagai Raja kalian.” Kristus adalah Raja, setiap orang berada di bawah penguasaan-Nya. Kalau Anda tidak percaya, tunggu saja se-jangka waktu, akhirnya Anda akan nampak bahwa seluruh bumi ini akan menjadi kerajaan Kristus.

Kristus telah memperoleh semua kekuasaan, baik di surga maupun di bumi. Ini tidak boleh hanya teori bagi kita. Kita harus nampak bahwa kita berada di bawah penguasa-an-Nya. Ayat 10 mengatakan, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya.” Menurut bahasa Ibraninya, tidaklah salah untuk menerjemahkan “tongkat kerajaan” sebagai “kekuasa-an”. Mengatakan tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda berarti kekuasaan tidak akan beranjak dari Yehuda. Tongkat kerajaan di sini melambangkan kekuasa-an kerajaan. Kristus memiliki kekuasaan ini dan kita se-mua harus berada di bawah-Nya. Kita, umat kerajaan, berada di bawah penguasaan surgawi Kristus.

Kita, orang-orang Kristen, juga perlu belajar menerapkan kekuasaan Kristus. Tatkala kita menghadapi keadaan yang menyusahkan atau suatu kesulitan, jangan berdoa dengan meminta-minta. Sebaliknya, kita harus menerapkan berdoa dengan kekuasaan. Sewaktu orang-orang Israel dikejar oleh orang-orang Mesir, Tuhan menyuruh Musa mengangkat tongkat dan mengulurkan tangan ke atas laut (Kel. 14:15-16). Musa berbuat demikian. Itulah penerapan atas kekuasaan Allah. Demikian pula, kita tidak seharusnya meminta-minta, melainkan harus menerapkan kekuasaan Raja kita sambil memerintahkan kesulitan-kesulitan itu pergi. Karena kita berada di bawah penguasaan surgawi, maka kita berkedu-dukan dan berhak mengatakan kepada kesulitan, kesu-sahan, dan serangan, “Enyahlah, aku tidak mengizinkan kamu tinggal di sini.” Kita semua harus belajar menerap-kan kekuasaan ini.

Agar dapat menerapkan kekuasan ini, mula-mula kita harus berada di bawah penguasaan Kristus. Kalau kita sen-diri membangkang, dan kita memerintahkan Iblis untuk enyah, Iblis akan berkata, “Siapa kamu? Aku tidak tunduk kepadamu, karena kamu tidak tunduk kepada Kristus. Kamu tidak tunduk kepada Rajamu, kamu tidak berkedu-dukan untuk memerintah aku.” Karena itu, hendaklah kita menjadi umat kerajaan yang taat. Ketaatan kita memberi kita kedudukan untuk menerapkan kekuasaan Raja. Inilah kerajaan. Dalam kerajaan, segala sesuatu telah genap, semua musuh telah dikalahkan, dan semua masalah sudah dibe-reskan.

2. Kristus Datang sebagai Pemberi Damai

Ayat 10 mengatakan bahwa tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya sampai Silo datang (Tl.). “Silo” berarti “Pem-beri damai”. Kerajaan yang tepat merupakan wilayah yang damai. Jika Anda tidak ada kedamaian, berarti Anda bukan sungguh-sungguh di dalam kerajaan. Sang Raja seharusnya Pemberi damai, Pembawa damai. Ketika Raja kita kembali, Ia akan datang sebagai Silo yang agung yang membawakan damai kepada seluruh bumi. Kita tidak perlu menunggu sampai hari itu baru menikmati Dia sebagai Silo kita. Kita boleh menikmati Kristus sebagai Silo kita hari ini juga.

Renungkan kehidupan keluarga sebagai contoh. Dalam arti tertentu, kehidupan keluarga serupa lautan yang ber-ombak dan berbadai, penuh gejolak. Kita tidak tahu kapan badai muncul. Saya telah bertahun-tahun lamanya berlayar di lautan kehidupan keluarga, dan saya dapat bersaksi bah-wa sering kali terjadi badai yang dahsyat. Dalam Matius 14, kita membaca pengalaman murid-murid di laut yang ber-gelombang (Mat. 14:22-23). Tatkala Yesus hendak berdoa ke atas bukit, Ia menyuruh murid-murid-Nya “naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang” (Mat. 14:22). Pada malam harinya, perahu itu diombang-ambingkan gelombang. Setelah berdoa di atas bukit, Tuhan mendatangi murid-murid-Nya dengan berjalan di atas air (Mat. 14:25). Begitu Ia naik ke perahu, angin pun redalah (Mat. 14:32). Ini sangat bermak-na. Angin ribut reda karena di mana Yesus berada di sana tidak ada badai. Angin ribut tidak takut kepada kita, tetapi takut kepada Raja surgawi. Badai dapat mengganggu kita, namun tidak dapat mengusik Dia, karena Dia berjalan di atas gelombang. Di tengah-tengah lautan kehidupan keluarga yang dilanda badai, janganlah berdoa dengan meminta-minta, sebaliknya, kita harus menerapkan kekuasan serta berkata, “Tuhan, Engkau berjalan di atas air. Engkaulah Sang Raja yang empunya kekuasaan. Kini aku menerapkan kekuasaan-Mu untuk menguasai situasi yang penuh angin ribut ini.” Cobalah berdoa seperti ini.

Dalam pandangan Allah, kemenangan sudah diraih, kerajaan ada di sini, damai pun ada di sini. Segalanya telah rampung. Karena itu, kita tidak seharusnya melihat situasi sekeliling kita. Dalam Matius 14:28 Petrus berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu ber-jalan di atas air.” Jawab Tuhan, “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus (Mat. 14:29). Petrus mempunyai iman turun dari perahu ser-ta berjalan di atas ombak. Namun ketika ia mulai melihat sekeliling, imannya lenyap sehingga ia mulai tenggelam. Pengalaman Petrus menjadi pelajaran bagi kita, agar jangan memandang pada lingkungan kita, melainkan berdiri di atas firman Tuhan. Iman adalah perkara berdiri di atas firman-Nya. Iman bukan berdasar pada lingkungan, melainkan ber-dasar pada firman Tuhan. Jika Anda turun dari perahu dan berdiri di atas firman Tuhan, niscaya masalah-masalah akan beres. Anda telah terlalu banyak berdoa dengan me-minta-minta. Perintahkan saja suasana sekeliling, “Aku tidak mengizinkan kamu mengangguku. Yesus adalah Raja. Kerajaan adalah milik-Nya, Dia adalah Silo. Karena itu, aku harus mempunyai kedamaian di sekelilingku.”

Sering kali, sebelum kesulitan datang, kita sudah me-nerima kesulitan itu. Ini mutlak merupakan masalah ke-jiwaan. Sebelum Iblis, si licik itu menyerang Anda, ia akan menaklukkan dulu kejiwaan Anda. Ayub berkata, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang ku-cemaskan, itulah yang mendatangi aku” (Ayb. 3:25). Sebelum kesulitan itu menimpa Ayub, ia sudah memikirkan kesulit-an-kesulitan itu, merasa takut kepada kesulitan-kesulitan itu. Takut akan sesuatu berarti telah menerimanya. Setiap kali Anda merasa takut, Anda harus segera berkata, “Iblis, pergilah. Aku tidak takut apa pun. Aku menolak ketakutan ini.” Takut adalah kartu nama Iblis. Jika Anda menerima kartu namanya, Iblis sendiri akan datang. Setiap ketakutan itu merupakan satu kartu nama. Sebelum Iblis betul-betul mengirim kesulitan, terlebih dulu ia mengutus ketakutan terhadap kesulitan itu. Jangan mau menerima kartu nama ketakutan Iblis — lemparkan itu. Hal ini bersangkutan dengan peperangan rohani. Beberapa saudara khawatir kalau diberhentikan dari pekerjaan mereka. Beberapa hari kemudian, setelah mereka menerima ketakutan ini, mereka lalu benar-benar diberhentikan. Jangan menerima pikiran diberhentikan itu, melainkan katakan, “Iblis, aku tidak akan diberhentikan. Orang lain boleh diberhentikan, aku akan tetap dipakai. Karena aku ada di dalam kerajaan, aku menolak kekhawatiran ini.” Kristus telah menang, hasil kemenangan-Nya adalah kerajaan.

3. Ketaklukan dan Kepatuhan Bangsa-bangsa

Kejadian 49:10 mengatakan tentang Silo, “kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.” Perkataan ini ditujukan ke-pada Kerajaan Seribu Tahun. Ketika Kristus datang pada kali kedua sebagai Silo, semua bangsa akan takluk kepada-Nya, patuh kepada-Nya. Prinsip ini juga berlaku pada hari ini, di mana kekuasaan dan kerajaan Kristus berperan, di sanalah orang-orang tunduk dan patuh.

C. MENGASO DI DALAM KENIKMATAN AKAN KELIMPAHAN HAYAT KRISTUS

1. Berhenti Berjerih Payah, Mengaso

di Dalam Kenikmatan akan Hayat Kristus

Sekarang kita sampai pada inti beban saya atas berita ini. Ayat 11 mengatakan, “Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan.” Kita semua harus menambatkan keledai kita pada pohon anggur. Saya harap perkataan ini akan menjadi pepatah kita. Dalam Alkitab, keledai adalah binatang yang digunakan untuk transportasi. Nabi Bileam bepergian de-ngan menunggang keledai (Bil. 22:22). Tatkala Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem, tidak lama sebelum Ia disalibkan, Ia juga menunggang keledai (Mat. 21:5). Menurut Alkitab, ke-ledai selalu digunakan untuk bepergian ke berbagai tempat tujuan. Menambatkan keledai berarti perjalanan telah usai, telah tiba di tempat tujuan. Menambatkan keledai bukanlah sesuatu yang negatif. Semua keledai akan senang ditambat-kan pada pohon anggur. Jerih payah keledai ialah bepergian ke tempat tertentu dengan sasaran tertentu. Alangkah ber-maknanya gambaran yang ada dalam 49:11 ini! Orang-orang dunia hari ini semuanya adalah keledai-keledai yang be-pergian, berjuang, berjerih payah, dan menempuh perjalanan. Semua orang Kristen, tanpa kecuali, juga adalah keledai-keledai yang bepergian, berjuang, berjerih payah, dan me-nempuh perjalanan. Saya pun demikian sewaktu masih muda. Saya meronta untuk mengalahkan dosa dengan tujuan pada suatu hari saya akan menjadi pemenang. Itulah tujuan sa-ya. Saya berjuang terus sampai suatu hari saya nampak visi menambatkan keledai saya pada pohon anggur. Saya nam-pak bahwa saya tidak perlu berjerih payah atau bepergian mengejar tujuan saya, karena saya telah sampai pada tuju-an saya, telah tiba pada sasaran saya. Tempat tujuan kita ialah pohon anggur, yaitu Kristus yang hidup, yang penuh dengan hayat. Kita harus menambatkan keledai kita pada pohon anggur ini. Berarti kita harus berhenti dari berjerih payah dan berjuang, kita perlu tinggal di dalam Kristus, Sang hidup ini.

Seandainya seorang saudara memberi tahu Anda bah-wa ia damba menjadi kudus. Kekudusan itulah sasarannya dan negeri yang kudus itulah tempat tujuannya. Ia berkata kepada Anda bahwa ia sedang berjuang dan berusaha men-capai tujuan ini; ia bersusah payah agar dipenuhi dengan kekudusan serta tinggal di negeri yang kudus. Lalu apa yang akan Anda katakan kepada saudara ini? Anda harus berkata, “Saudara, tambatkanlah keledai Anda pada pohon anggur. Anda tidak perlu berjerih payah dan berjuang untuk mencapai sasaran kekudusan. Kristus ada di sini. Dialah pohon anggur, sumber hayat. Kristus sungguh kaya limpah di dalam hayat. Tambatkanlah keledai Anda pada-Nya. Artinya, Anda harus berhenti dari berjuang, mengasolah di dalam Kristus yang hidup dan kaya limpah.” Misalnya se-orang saudara lain yang baru menikah berkata kepada Anda, “Saudara, sebagai orang yang di dalam pemulihan Tuhan, aku ingin hidup di dalam kemenangan. Istriku adalah ujian besar bagiku. Siang malam aku berjuang untuk tidak marah-marah kepadanya. Sasaranku ialah jangan sampai marah-marah kepada istriku.” Apa yang akan Anda kata-kan kepada saudara ini? Mula-mula, Anda haruslah seorang yang pernah mempunyai pengalaman menambatkan keledai pada pohon anggur. Setelah Anda sendiri mengalaminya, barulah orang lain dapat datang membawa problem mereka kepada Anda. Ketika mereka datang, Anda harus berkata, “Kamu perlu menambatkan keledaimu pada pohon anggur. Hentikan susah payah dan perjuanganmu. Kamu tidak perlu berjuang, karena Kristus telah menang. Tongkat pemerintahan, dan kerajaan, semuanya milik Dia. Kamu hanya perlu mengaso di dalam Dia Sang pohon anggur itu.” Bukankah Anda sering mendengar bahwa Anda harus berhenti dari berjuang dan semata-mata mengaso di dalam Kristus, sum-ber hayat itu? Saya percaya banyak di antara kita yang telah melakukan ini. Tetapi saya harap dalam pemulihan Tuhan, kita akan memiliki pepatah baru yang membantu kita dalam hal ini. “Tambatkanlah keledai Anda pada pohon anggur.” Pepatah ini adalah pepatah perhentian. Saudari, mengapa Anda tetap berjuang? Anda perlu menambatkan ke-ledai Anda pada pohon anggur. Umumnya orang menam-batkan keledai pada tiang atau pancang. Namun kita tidak menambatkan keledai kita pada tiang yang mati, melainkan pada pohon anggur yang penuh hayat. Akhir-akhir inilah saya baru nampak jelas visi tentang hal ini; walaupun te-lah ratusan kali di waktu yang lampau saya menambatkan keledai saya pada pohon anggur. Saya berhenti dari bepergi-an, berhenti berjuang, melepaskan sasaran, dan melupakan tempat tujuan. Saya bisa melepaskan sasaran karena saya telah mencapai itu; saya bisa melupakan tempat tujuan ka-rena saya telah tiba di tempat tujuan. Kekudusan itu Kristus. Kekuatan mengatasi kesulitan antara kita dengan istri kita juga adalah Kristus. Kita telah berada di dalam Kristus. Alangkah tolol kalau tetap bepergian, berjuang, dan berusaha! Semua jerih payah itu sia-sia belaka. Begitu saya nampak visi ini, segera saya menambatkan keledai saya pada pohon anggur.

Banyak saudara muda, ketika baru memasuki hidup gereja, mereka itu serupa keledai yang berjuang. Sampaisampai dalam sidang mereka bersaing dengan yang lainnya. Tetapi setiap kali Anda berjuang, berusaha, dan bersaing, Anda tidak memiliki perhentian. Anda tidak seharusnya berjuang dan bersaing, sebaliknya Anda harus menambatkan keledai Anda pada pohon anggur, yakni Kristus, sumber hayat, Sang penuh hayat. Kristus bukan saja pohon anggur, bahkan po-hon anggur pilihan, sumber hayat pilihan. Hendaklah kita menghentikan jerih payah kita, untuk mengaso di dalam-Nya.

Sekarang kita harus melihat bagaimana menambatkan keledai kita pada pohon anggur. Dalam hal mengalahkan musuh, Kristus adalah Singa. Namun bagi kita, Dia adalah pohon anggur untuk kepuasan dan perhentian kita. Melalui kemenangan-Nya, Ia menjadi pohon anggur. Jika Kristus be-lum menang, Ia tidak mungkin bisa menjadi pohon anggur bagi kita. Tetapi karena Kristus telah menang, maka Dia menjadi pohon anggur kita yang penuh dengan hayat. Jadi, kita harus berhenti dari berjerih lelah, menambatkan diri kepada-Nya, dan mengaso di dalam-Nya.

Ada orang setelah membaca berita ini, mungkin me-ngira bahwa saya terlampau jauh dalam menjelaskan gam-bar-gambar ini untuk diterapkan pada Kristus. Tetapi, jika Anda tidak menjelaskan ayat 11 ini secara demikian, ba-gaimanakah Anda akan menjelaskannya? Apakah arti me-nambatkan keledai pada pohon anggur? Ada orang mungkin mengatakan bahwa ini ditujukan kepada kelimpahan suku Yehuda, lambang yang menunjukkan bahwa suku Yehuda penuh dengan anggur, sampai-sampai keledai yang bekerja keras pun ditambatkan pada pohon anggur. Ini tidak salah. Namun ingat bahwa ayat 11 juga merupakan suatu gambar dan suatu lukisan. Kita telah nampak bahwa menurut Wahyu 5:5, Kristus adalah Singa suku Yehuda. Berdasarkan prinsip yang menerangkan singa dalam ayat 9 sebagai Kristus yang menang, kita dapat mengatakan bahwa menambatkan keledai pada pohon anggur, berarti kita menghentikan jerih payah kita pada Kristus, sumber hayat itu. Ini bukan pen-jelasan khayalan, melainkan penjelasan yang tepat, sejati dan sehat menurut prinsip Alkitab. Kita bersyukur kepada Tuhan karena memberi kita penjelasan yang benar ini. Haleluya, kita mempunyai pohon anggur yang padanya kita boleh menambatkan keledai kita! Apakah Anda masih ber-jerih payah? Masihkah berjuang dan bepergian untuk men-capai sasaran Anda? Bahkan anak-anak muda di antara kita pun harus berkata,”Puji Tuhan! Aku tidak perlu berje-rih payah, berjuang, atau bepergian. Aku hanya perlu menam-batkan keledaiku pada pohon anggur.”

2. Merendam Kelakuan Kita

Dalam Kenikmatan atas Kelimpahan Hayat Kristus

Ayat 11 juga mengatakan, “Ia akan mencuci pakaian-nya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.” Tahun-tahun yang lalu, saya tidak paham makna mencuci pakaian dengan anggur dan baju dengan darah buah ang-gur. Dalam Alkitab, kelakuan dalam kehidupan sehari-hari kita diumpamakan sebagai pakaian atau baju. Secara kias-an, pakaian atau baju melambangkan kelakuan kita, mewakili perilaku hidup kita. Jadi, mencuci pakaian kita dengan anggur dan baju kita dengan darah buah anggur berarti kita merendam kelakuan kita, perilaku hidup kita tiap hari dalam kenikmatan atas kekayaan hayat Kristus.

Baik (arak) anggur maupun darah (sari) buah anggur, kedua-duanya bergizi. Sari buah anggur terutama untuk meleraikan dahaga kita, sedangkan (arak) anggur terutama untuk membangkitkan gairah kita. Dahaga kita perlu di-leraikan, dan gairah kita perlu dibangkitkan. Dalam arti yang tepat, setiap orang Kristen harus “gila”, lupa diri. Setiap orang Kristen yang menambatkan keledainya pada pohon anggur akan bergembira dan bergairah. Inilah fungsi anggur. Sari buah anggur yang kita minum adalah untuk meleraikan dahaga kita. Di satu pihak, Kristus yang berlim-pah itu membangkitkan gairah kita; di pihak lain, Ia me-leraikan dahaga kita. Kita perlu merendam kelakuan kita, perilaku hidup sehari-hari kita dalam kenikmatan atas kelimpahan hayat Kristus. Dengan demikian kelakuan kita akan terjenuhi dan terendam oleh kenikmatan penuh atas kekayaan hayat Kristus. Kemudian orang lain akan berka-ta, “Lihatlah orang-orang Kristen ini. Lihatlah bagaimana mereka menempuh hidup dan berperilaku. Pasti ada sesu-atu yang luar biasa pada diri mereka.” Sesuatu yang luar biasa ini adalah kelimpahan hayat Kristus yang sebagai ang-gur yang menggairahkan dan membangkitkan kita, juga sebagai sari buah anggur yang meleraikan dahaga dan me-muaskan kita. Orang-orang Kristen semacam ini gembira, puas, gairah, sampai-sampai lupa diri. Karena mereka itu sangat dibangkitkan, maka mereka menjadi gairah. Kelaku-an mereka, perilaku hidup sehari-hari mereka dan semua tindakan mereka penuh dengan hayat Kristus yang sebagai (arak) anggur dan darah buah anggur.

Apakah Anda orang Kristen yang selalu kurang puas? Apakah Anda orang Kristen yang tidak tahu bagaimana bergembira, yang selalu mengerutkan kening dan bermuka panjang, yang selalu tampak bermuram durja? Semua orang yang di dalam kerajaan Kristus seharusnya tersenyum, girang, senang, bergairah, penuh semangat, dan puas. Ini menunjukkan bahwa kita merendam kelakuan kita dalam kenikmatan atas kelimpahan hayat Kristus.

3. Terubah demi Kenikmatan dan Gizi yang Berlimpah terhadap Hayat Kristus.

Melalui mengaso dalam kenikmatan atas kekayaan hayat Kristus, kita lalu terubah. Ayat 12 mengatakan, “Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan pu-tih karena susu.” Inilah perubahan oleh hayat Kristus yang limpah. Begitu kita diubah, niscaya rupa kita pun ikut ter-ubah. Mereka yang menderita kelaparan, terlihat sekeliling matanya berwarna abu-abu. Karena kekurangan gizi, maka mata mereka kekurangan suplai darah. Namun kita, umat kerajaan yang menikmati Kristus, tidak pernah kekurangan gizi. Sebaliknya, kita penuh gizi sehingga mata kita men-jadi merah. Ini menunjukkan bahwa kita telah diubah dari maut kepada hayat. Jika muka saya kelihatan abu-abu, Anda akan merasa prihatin akan kesehatan saya, atau boleh jadi mengira bahwa saya takkan hidup terlalu lama. Tetapi, muka saya tidaklah abu-abu. Haleluya! Saya telah diubah dari maut kepada hayat! Menurut ayat 12, matanya merah karena anggur. Kemerahan ini bukan diwarnai atau dicat dari luar, melainkan dari arak anggur yang menimbulkan kekuatan dari dalam.

Ayat 12 juga menyinggung tentang giginya putih karena susu. Gigi kita memiliki dua macam fungsi. Pertama untuk makan, menerima makanan ke dalam mulut; kedua untuk membantu pengutaraan kita. Gigi yang putih di sini menunjukkan fungsi gigi yang baik dan sehat. Karena saya telah beroleh gizi yang tepat, maka saya mempunyai gigi yang sehat, putih, menerima firman Allah sebagai makanan dan mengutarakan firman-Nya agar orang lain mendapat-kan gizi. Untuk bisa menerima firman Allah sebagai gizi kita dan mengutarakannya agar menjadi gizi bagi orang lain, kita harus punya gigi yang sehat. Tidak banyak orang Kristen yang bisa menyerap firman Allah secara tepat dan mengutarakannya dengan kuat. Namun, setiap orang Kristen yang sehat pasti menerima firman Allah secara tepat dan mengutarakannya dengan berlimpah.

Dalam hidup gereja kita berhenti dari berjerih payah, kita mengaso dalam Kristus dan menikmati kelimpahan hayat Kristus sebagai anggur dan darah buah anggur. Juga merendam kelakuan kita ke dalam kenikmatan yang lim-pah ini. Akhirnya, kita memiliki harum semerbak Kristus. Kemudian, segenap diri kita akan diubah, penuh dengan ha-yat, dan kita akan dapat menyerap firman Allah sebagai gizi kita dan mengutarakan firman Allah kepada orang lain sebagai gizi mereka. Inilah kenikmatan dan perhentian dalam kemenangan Kristus. Jadi, dalam ayat 8-12 terdapat tiga benih yang penting: benih kemenangan Kristus, benih kerajaan Kristus, dan benih kenikmatan dan perhentian kita dalam Kristus. Benih-benih yang memerlukan Perjanji-an Lama dan Perjanjian Baru bagi perkembangannya ini adalah kabar gembira yang sejati, Injil yang sejati. Berita gembira ini dideklarasikan oleh Yakub dalam nubuatnya yang disertai berkat tentang Yehuda.