MAKNA ROHANI DARI BERKAT YANG DINUBUATKAN TENTANG YEHUDA, ZEBULON, DAN ISAKHAR (2)
Menurut Perjanjian Lama, kedua belas putra Yakub di-bagi ke dalam empat kelompok, masing-masing tiga orang. Nubuat pemberkatan Yakub dalam pasal 49 berdasar pada keempat kelompok ini. Kita telah membahas kelompok yang pertama, yaitu kelompok Ruben, Simeon, dan Lewi. Kelompok ini merupakan kelompok yang jahat dalam pandangan Allah. Ruben itu cemar, sedang Simeon dan Lewi itu sadis. Penca-tatan kelompok yang pertama ini mengawali pencatatan kedua belas putra Yakub. Permulaan yang sangat kasihan! Akan tetapi ini seharusnya merupakan gugahan terhadap kita, karena permulaan kita juga sangat kasihan.
Kelompok kedua terdiri dari Yehuda, Zebulon, dan Isakhar. Karena Kristus datang melalui kelompok ini, maka kelompok ini adalah kelompok yang menang. Dalam kelompok ini kita mempunyai Injil, penginjilan, dan hidup gereja.
Mungkin ada orang yang mengira terlalu berlebihan mengatakan bahwa dalam Kejadian 49 kita menemukan penginjilan dan hidup gereja sebagai hasil dari penginjilan. Ingatlah, suku pertama dalam kelompok yang kedua ini ialah Yehuda, dan aspek yang paling bermakna dalam catat-an tentang Yehuda ini adalah singa. Ayat 9 mengatakan, “Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, eng-kau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia me-niarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina.” Ayat ini dijelaskan oleh Wahyu 5:5, di mana Kristus disebut sebagai Singa suku Yehuda. Tanpa Wahyu 5:5, sulitlah menjelaskan Kejadian 49:9. Tetapi dengan adanya Wahyu 5:5 di hadapan kita, tak seorang pun dapat me-nyangkal bahwa Yehuda melambangkan Kristus.
Meskipun Perjanjian Baru sering menjelaskan lambang-lambang dan tanda-tanda dalam Perjanjian Lama, tetapi Perjanjian Lama tidak selalu memberikan perincian pada penjelasan-penjelasan itu. Tentang Yehuda sebagai singa, Kejadian 49 mencatat tiga aspek: anak singa, singa yang berbaring, dan singa betina. Tetapi, Kitab Wahyu hanya menyinggung Singa dari suku Yehuda secara umum, tanpa menyebut aspek-aspeknya secara rinci. Orang-orang yang berpegang erat pada hukum akan berkata, “Jangan berle-bihan. Kita hanya bisa mengatakan apa yang dikatakan Perjanjian Baru. Kita tidak boleh membicarakan lebih jauh.” Demikian justru terlalu kaku. Kejadian 49 menyebut Yehuda sebagai singa yang meliputi tiga aspek, sedangkan Perjanjian Baru hanya memberi kita keterangan secara umum. Mengapa tidak kita teruskan untuk mendapatkan (menyuplai) penjelasan yang rinci? Paling sedikit ada dua atau tiga tempat dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa kita tidak diberi tahu segala sesuatu (Ibr. 5:11, 9:5, 11:32). Perhatikan Ibrani 11:32 “Apa lagi yang harus aku sebutkan? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceritakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi.” Di sini penulis Surat Ibrani seolah-olah mengatakan, “Aku tidak mempunyai waktu un-tuk memberi tahu kalian semuanya. Aku hanya memberikan sebagian dari apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lama. Masih ada sebagian besar yang belum kusinggung.” Lalu bagaimana sikap kita terhadap ini? Kita harus pergi ke hadapan Tuhan dan bertanya kepada-Nya. Penulis Surat Ibrani memelopori dalam memberikan jalan kepada kita untuk menjelaskan Perjanjian Lama. Ia tidak ada waktu menerangkan seluruhnya kepada kita. Ia meninggalkan be-berapa hal supaya kita sendiri mencari jawabannya lang-sung ke hadapan Tuhan. Tidak seorang pun boleh menyanggah prinsip ini. Namun, ada beberapa guru Kristen yang men-debat bahwa tanpa Perjanjian Baru membicarakan tentang hal itu, kita pun jangan membicarakan apa-apa tentang hal itu.
Meskipun penjelasan mengenai Yehuda dalam Wahyu 5 sangat jelas, tetapi apakah yang dikatakan oleh Perjanjian Baru tentang Zebulon dan Isakhar? Matius 4:15 ada sedikit keterangan tentang Zebulon, tetapi sama sekali tidak ada keterangan tentang Isakhar. Menurut orang-orang yang mempertahankan harus diam bila Perjanjian Baru tidak mengatakan, kita tidak diperbolehkan mengatakan apa-apa tentang Isakhar. Tetapi kita tidak setuju dengan konsepsi yang berpandangan sempit ini. Kenyataan bahwa suku Yehuda mempunyai makna rohani telah dibuktikan sepenuhnya oleh Wahyu 5. Tidakkah suku Zebulon dan Isakhar juga mempunyai makna rohani? Jika ada makna rohani untuk suku Yehuda, masakan suku-suku lainnya dalam kelompok yang sama tidak ada makna rohaninya? Berkata demikian sungguh tidak logis; ini sangat lucu.
Telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya bahwa Yehuda mempunyai tiga butir utama: kemenangan Kristus, kerajaan Kristus, dan perhentian dalam kenikmatan atas kelimpahan hayat Kristus. Kemenangan Kristus terlihat dalam ayat 8 dan 9; kerajaan Kristus dalam ayat 10; dan per-hentian serta kenikmatan atas kelimpahan hayat Kristus da-lam ayat 11 dan 12. Ketiga butir ini bukannya menjelaskan ayat-ayat ini dengan sembarangan saja. Jika Anda menyangka keterangan saya ini sembarangan saja, saya ingin bertanya kepada Anda, mengapa dalam ayat 9, anak singa itu disebut lebih dulu daripada singa jantan yang berbaring dan singa betina? Mengapa urutannya demikian? Mengapa singa be-tina tidak didulukan? Kemudian, setelah sebutan singa yang beraspek tiga ini, kita mempunyai tongkat kerajaan dan lambang pemerintahan dalam ayat 10, yang menunjukkan pemerintahan dan kerajaan. Mengapa kerajaan menyusul di belakang singa? Mengapa tidak disebut duluan? Setelah kera-jaan, ada butir ketiga, yaitu perhentian dalam kenikmatan atas kelimpahan hayat Kristus. Jika Anda tidak mengikuti penjelasan-penjelasan yang dibahas dalam berita sebelumnya tentang menambatkan keledai pada pohon anggur, bagaima-nakah Anda menjelaskan kata-kata ini? Apakah maksud semua ini? Kemudian, apa arti mencuci pakaiannya dalam anggur? Apa pula arti matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu? Perjanjian Baru ha-nya memberi kita keterangan untuk ayat 9 dalam Wahyu 5:5, tentunya harus ada juga penjelasan bagi ayat-ayat 11 dan 12. Lalu apakah penjelasannya? Terhadap semua butir dalam ayat 9-12, kita memerlukan banyak waktu yang tenang di hadapan Tuhan sambil berkata, “Tuhan, apa yang hendak Engkau katakan mengenai ini? Apa arti menambat-kan keledai pada pohon anggur?” Tuhan akan menjawab, “Asal kamu memeriksa Alkitab, kamu akan nampak bahwa keledai dipakai untuk menempuh perjalanan menuju suatu sasaran. Keledai seperti ini selalu bekerja keras.” Kemudian Anda akan berkata, “Betul, aku adalah keledai itu. Aku perlu menambatkan keledai ini pada pohon anggur.” Pohon anggur yang disebut dalam ayat 11 adalah Kristus. Dalam Yohanes 15:1 Kristus mengaku “Akulah pokok anggur yang benar.” Jadi, menambatkan keledai pada pohon anggur ber-arti menambatkan keledai kita pada Kristus. Ini sekadar sebuah contoh cara yang tepat untuk memahami potongan firman ini.
II. TENTANG ZEBULON — PEMBERITAAN
INJIL (KABAR GEMBIRA) KRISTUS
A. MENGIRIM KELUAR
KELIMPAHAN KRISTUS
Ayat 13 mengatakan, “Zebulon akan diam di tepi pan-tai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal.” Ayat ini tidak mengatakan, “Zebulon akan diam di kandang yang penuh dengan kuda dan keledai.” Juga tidak mengatakan bahwa Zebulon akan diam di gunung. Suku Yehuda diam di daerah perbukitan, di wilayah sekitar Gunung Sion, di mana terletak ibukota bangsa itu. Akan tetapi Zebulon diam di tepi pantai laut. Ini sangat bermakna.
Yehuda melambangkan Kristus yang menang, yang te-lah meraih kemenangan bagi kerajaan-Nya, sehingga umat-Nya bisa beristirahat di dalam-Nya. Sudah tentu Yehuda harus tinggal di pegunungan. Tetapi Zebulon tinggal di tepi pantai laut, di pangkalan atau pelabuhan. Pelabuhan berfung-si untuk mengirim barang-barang, mengirim keluar kapal-kapal. Sampai sejauh ini, dalam penggalan firman ini, kita nampak dua cara transportasi: keledai dan kapal. Gambar-gambar seperti ini sering dipakai dalam Alkitab. Sebagai contoh, Yohanes 1:29 mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Gambar yang sederhana tentang Anak Domba Allah ini melukiskan banyak hal. Demikian pula, dalam pasal 49, dilukiskan oleh gambar-gambar keledai dan kapal. Keledai merupakan binatang yang mengangkut barang-barang de-ngan tenaganya sendiri. Tetapi pada zaman kuno, kapal-kapal itu berlayar dengan kekuatan angin dari atas. Tidak diragukan lagi bahwa ini ditujukan kepada pengiriman keluar Injil Kristus. Yehuda adalah pabrik yang menghasil-kan Injil, dan Zebulon adalah pelabuhan yang mengirim keluar Injil yang dihasilkan Yehuda.
Matius 4:15 menunjukkan bahwa Zebulon merupakan bagian dari Galilea. Dari Galilea, Tuhan Yesus memulai mi-nistri pemberitaan Injil kerajaan-Nya. Setelah Ia bangkit, malaikat menyuruh perempuan-perempuan itu untuk mem-beri tahu murid-murid, “Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia” (Mat. 28:7). Di sana, di Galilea, Kristus yang telah bangkit itu menjumpai murid-murid-Nya serta berpesan kepada mereka agar memberitakan Injil. Murid-murid itu “berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka,” dan di sana Tuhan ber-sabda kepada mereka, “Karena itu, pergilah, jadikanlah se-mua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:16, 19). Zebulon adalah ba-gian dari daerah Galilea. Kisah Para Rasul 1:11 menyatakan bahwa penginjil-penginjil yang pertama ialah orang-orang dari Galilea. Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Tuhan berkata kepada orang-orang Galilea ini, “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Melalui se-mua ini, kita nampak bahwa Zebulon melambangkan pem-beritaan Injil. Yehuda melambangkan Injil yang terdiri dari Kristus yang menang, kerajaan Kristus, dan perhentian da-lam kenikmatan atas kelimpahan Kristus. Inilah Injil yang diwakili oleh Yehuda. Jadi Yehuda adalah suku yang meng-hasilkan Injil. Setelah Injil dihasilkan, perlu ada pemberitaan Injil. Karena itu, Zebulon datang untuk merampungkan amanat ini, menyalurkan dan mengirim keluar beban Injil.
Cara yang tepat untuk menyebarkan Injil bukanlah de-ngan keledai yang bekerja keras dengan tenaganya sendiri. Cara yang tepat untuk mengirim keluar Injil ialah dengan kapal-kapal layar yang didorong oleh kekuatan angin dari atas. Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Tuhan memberi tahu penginjil-penginjil Galilea agar menunggu hingga mereka menerima kuasa yang dari atas, dan Kisah Para Rasul 2:2 mengatakan, “Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit se-perti tiupan angin keras.” Mulai saat itu dan seterusnya, kapal-kapal mulailah berlayar. Salah satu di antara kapal-kapal hidup ini bernama Petrus. Pada hari Pentakosta, Petrus bukan berupa seekor keledai yang menempuh perjalanan dan berjerih payah, memberi tahu orang-orang bahwa Yesus adalah Juruselamat dan mereka harus percaya kepada-Nya, atau kalau tidak, mereka akan binasa. Ia berupa kapal yang berlayar dengan kekuatan yang berasal dari angin yang ken-cang dan keras. Pemberitaan Injil dalam kekristenan hari ini kebanyakan dibawakan oleh keledai-keledai yang berjerih pa-yah. Tetapi ketika Anda membaca berita Petrus dalam Kisah Para Rasul 2, Anda nampak bahwa pada hari Pentakosta, ia berlayar bagaikan sebuah kapal, bukan melangkah kepayahan bagaikan seekor keledai.
Saya juga perlu menegaskan bahwa Injil dikirim keluar dengan kapal layar, bukan dengan kapal uap atau perahu yang dijalankan oleh mesin buatan manusia. Jangan sekali-kali memakai siasat dalam penginjilan. Menginjil dengan siasat berarti mengubah kapal layar menjadi kapal uap. Sejarah membuktikan bahwa Injil tak pernah dikirim oleh keledai maupun kapal uap. Menurut sejarah gereja, kapan saja Injil ini disebarkan, selalu disebarkan oleh kapal-kapal layar, oleh orang-orang kudus yang berlayar bagaikan kapal-kapal di bawah tenaga angin surgawi.
Jika Anda tidak menjelaskan ayat 13 secara demikian, lalu bagaimana Anda menjelaskannya? Apakah Zebulon sebuah pangkalan kapal yang mengirimkan kentang, jeruk, atau buah-buah zaitun? Janganlah mengabaikan konteks dalam seluruh Alkitab. Penjelasan dari kelompok kedua yang terdiri dari tiga suku ini dikuasai oleh Yehuda. Makna ro-hani dari Yehuda menguasai seluruh penjelasan. Yehuda mengibaratkan Kristus sebagai Injil. Menurut sejarah roha-ni, Kitab Kisah Para Rasul meneruskan keempat Injil, dan Kitab Kisah Para Rasul mencatat penginjil-penginjil dari orang-orang Galilea. Penginjil-penginjil dari Galilea ini adalah kapal-kapal yang berlayar demi kekuatan angin surgawi. Setelah Yehuda menghasilkan kelimpahan Kristus, diperlu-kan Zebulon untuk mengirim keluar kelimpahan ini kepada bangsa-bangsa.
B. MENCAPAI DUNIA ORANG KAFIR
Ayat 13 juga mengatakan, “Dan batasnya akan bersisi dengan Sidon.” Di sini tidak dikatakan bahwa batasnya akan mencapai Yerusalem. Sidon adalah sebuah kota kafir yang terletak di luar tanah suci. Kota ini berlokasi di tepi pantai, dan dari sini lalu lintas laut mencapai ujung bumi. Karena ayat 13 merupakan sebuah puisi, maka harus dijelaskan secara kiasan. Dalam ayat ini kita mempunyai pelabuhan kapal dan batas dunia orang kafir. Sejarah pemberitaan Injil dalam Kitab Kisah Para Rasul cocok sekali dengan ini. Dalam Kitab Kisah Para Rasul penginjil-penginjil zaman itu berlayar dari kota suci ke Asia Kecil dan kemudian menyeberang Laut Aegea, terus ke Yunani, Roma, dan Spanyol. Rasul Paulus bertolak dengan sebuah kapal dari kota suci, dan berlayar, pertama-tama ke Sidon, terakhir ke Roma (Kis. 27:3; 28:14). Jadi, sejarah penginjilan yang tercatat dalam Kitab Kisah Para Rasul telah menggenapi ayat 13.
Suatu hari, saya memeriksa “Sinopsis Alkitab” karangan Darby, ingin tahu apa yang dikatakannya tentang Zebulon. Ia mengatakan bahwa batas yang mencapai Sidon ini me-nunjukkan percampuran dengan dunia orang kafir. Bahkan ahli Alkitab yang sebesar Darby pun membuat kesalahan dalam menjelaskan Zebulon. Ketika ia mencoba menjelas-kan Zebulon, tentunya ia telah melupakan Yehuda, suku per-tama dalam kelompok ini. Dan pasti pula ia tidak memper-hatikan makna Zebulon yang diungkapkan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, kita nampak bahwa Zebulon merupakan bagian Galilea, di mana penginjil-penginjil Galilea diutus keluar. Jadi kita harus berhati-hati untuk menerima opini-opini orang lain. Meskipun kita telah mengikuti bebe-rapa guru-guru Alkitab, namun janganlah mengikuti secara buta. Kita harus memeriksa setiap butir dengan cermat dan menyeluruh. Menurut sejarah, setelah Injil dihasilkan oleh Yehuda, kemudian pemberitaan Injil dilaksanakan oleh Zebulon.
Dalam catatan mengenai Yehuda, kata “singa” sangatlah penting, dan dalam catatan mengenai Zebulon , kata “kapal” sangatlah penting. Singa di sini berbentuk tunggal, sedang kapal berbentuk jamak. Hanya ada satu Kristus, tetapi ada banyak pemberita Injil Galilea. Hanya ada satu Injil, tetapi ada banyak kapal. Gereja di Anaheim adalah pangkalan ka-pal. Kita adalah kapal-kapal di pelabuhan yang telah dimu-ati Kristus dan siap bertolak bagi Injil. Hai, kaum muda, apakah kalian adalah kapal-kapal Galilea yang siap berlayar? Kalian adalah kapal-kapal, kalian harus siap berlayar. Teta-pi janganlah berlayar untuk memprakarsai suatu pergerakan.
C. KELUAR DENGAN SUKACITA
Ratusan tahun setelah Yakub mengucapkan nubuat de-ngan pemberkatan yang tercatat dalam Kejadian 49, kemu-dian Musa, orang yang membawa turun hukum Taurat mengatakan, “Bersukacitalah, hai Zebulon, atas perjalanan-perjalananmu” (Ul. 33:18). Perjalanan yang disebut dalam pasal ini ditujukan kepada pelayaran kapal. Jadi, perkataan Musa selaras dengan perkataan Yakub. Yakub menyamakan Zebulon dengan kapal-kapal, dan sudah tentu untuk pela-yaran. Musa menyuruh Zebulon untuk bersukacita atas perjalanannya. Jika kita keluar memberitakan Injil, kita akan bersukacita. Orang-orang yang paling bersukacita dan gembira adalah orang-orang yang memberitakan Injil. Jika Anda adalah sebuah kapal yang berlayar demi kekuatan angin surgawi, niscayalah Anda akan bersukacita, gembira bahkan sampai lupa diri. Yehuda disusul oleh Zebulon yang merupakan pemberitaan Injil. Haleluya, kita mempunyai Yehuda sebagai keempat kitab Injil dan Zebulon sebagai Kitab Kisah Para Rasul!
III. TENTANG ISAKHAR — HIDUP GEREJA
Sekarang sampailah kita pada Isakhar. Sangat mena-rik bahwa Isakhar tidak mendahului Zebulon. Apakah mak-na rohani dari Isakhar? Ayat 14-15 mengatakan, “Isakhar adalah seperti keledai yang kuat tulangnya, yang meniarap diapit bebannya (di antara kandang domba. Tl.), ketika di-lihatnya bahwa perhentian itu baik dan negeri itu permai.” Setelah keempat Injil dan Kitab Kisah Para Rasul, kita mem-punyai Surat-surat Kiriman yang menyinggung tentang hidup gereja (church life). Karena itu, Isakhar menandakan dan mewakili hidup gereja.
A. MENGASO DALAM GEREJA
Isakhar diumpamakan sebagai keledai yang kuat, yang meniarap di antara kandang domba (ayat 14. Tl.). Sebutan keledai dalam ayat 14 menghubungkan ayat ini dengan ayat 11, tentang menambatkan keledai pada pohon anggur. Jadi, keledai ini menghubungkan Isakhar dengan Yehuda. Dalam Yehuda, dalam Injil, kita mempunyai keledai muda yang tertambat pada Kristus, pohon anggur itu. Dalam Isakhar, dalam hidup gereja, kita memiliki keledai yang kuat yang meniarap di antara kawanan domba. Dalam Kejadian 49, meniarap berarti mengaso dalam kepuasan. Setelah Kristus, Singa muda, menerkam mangsa-Nya dan menikmatinya, Ia lalu meniarap (berbaring), mengaso dalam kepuasan. Dalam ayat 14 ini, kita mempunyai keledai yang kuat meniarap di antara kawanan domba. Dalam Yehuda, kita adalah keledai-keledai muda, tetapi dalam Isakhar, kita adalah keledai-keledai yang kuat. Keledai-keledai yang kuat ini bukan ber-jerih payah atau menempuh perjalanan, melainkan berti-arap. Kali pertama Anda menempuh hidup gereja, mungkin Anda berupa seekor keledai muda. Tetapi sekarang, setelah bertahun-tahun dalam gereja, Anda boleh jadi telah menjadi keledai yang kuat yang bertiarap.
Perhatikan bahwa keledai yang bertiarap ini bukan mengaso di dalam kandang domba, melainkan mengaso di antara kandang domba. Setiap denominasi dan agama meru-pakan sebuah kandang. Hari ini kita bukan mengaso di da-lam kandang denominasi apa pun, melainkan mengaso di luar kandang itu. Dalam Yohanes 10, Tuhan menunjukkan bahwa agama Yahudi itu sebuah kandang yang menahan domba-domba Allah, dan kedatangan-Nya ke dalam kandang ini bertujuan untuk memimpin domba-domba ini keluar dari sana. Dalam Yohanes 10:16 Tuhan berkata, “Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Haleluya, keledai yang se-dang mengaso ini bukan mengaso di dalam kandang, mela-inkan di antara kandang-kandang itu. Meskipun berada ti-dak terlalu jauh dari kandang-kandang itu, namun bukan di dalamnya. Inilah keadaan kita yang sebenarnya pada hari ini. Kita tidak terlalu jauh dari kandang-kandang denomi-nasi; kita di antara mereka.
Mungkin Anda merasa heran, mengapa keledai bisa ber-ada di antara kandang-kandang domba. Dalam beberapa hal, kita semua adalah kawanan domba. Tetapi menurut manusia alamiah kita, kita semua adalah keledai-keledai. Sering kali saya merasa gembira di hadirat Tuhan serta me-muji Dia, “Ya Tuhan, aku bersyukur karena aku ada di da-lam gereja-Mu. Aku adalah domba di antara kawanan dom-ba-Mu.” Tetapi, di waktu-waktu lainnya, saya memandang diri sendiri, berkata, “Kamu tidak mirip seekor domba. Mung-kin kamu adalah seekor keledai, kuda, atau sapi. Bahkan ada kalanya kamu mirip seekor kerbau.” Pada malam hari, ketika semua pekerjaan Anda telah selesai, Anda duduk te-nang di hadirat Tuhan, mungkin Anda akan berkata, “Tuhan, puji syukur kepada-Mu. Aku berada di dalam kawanan domba.” Namun pada saat yang sama, Anda mungkin me-mandang diri sendiri dan berkata, “Betapa kasihannya diriku, aku tidak mirip seekor domba, aku malah serupa seekor kuda atau sapi.” Menurut alamiah kita, tak seorang pun di antara kita adalah domba. Kita lebih mirip keledai atau kuda, sapi atau kerbau. Akan tetapi, bagaimanapun, kita adalah orang-orang yang telah diubah. Meskipun ciri-ciri saya adalah orang China, namun saya telah diubah. Saya dila-hirkan sebagai orang China, tetapi saya telah menjadi orang Kristen melalui dilahirkan kembali. Menurut asal saya, saya adalah seekor keledai. Tetapi setelah dilahirkan kembali, saya sekarang adalah seekor domba yang mengaso di antara denominasi-denominasi. Jadi, kita ini kawanan keledai yang telah diubah dan mengaso di antara kandang-kandang dom-ba. Kita mengakui bahwa kita bukanlah domba sejak lahir. Tetapi hari ini kita adalah kawanan domba yang berbaring di antara kandang-kandang domba.
Ketika Isakhar berbaring di antara kandang-kandang domba, “ia melihat bahwa perhentian itu baik” (ayat 15). Kita semua telah nampak perhentian yang baik ini. Alang-kah baiknya perhentian yang ada di antara kandang-kandang! Inilah perhentian dalam hidup gereja, berhenti dari jerih payah kita, mengaso di dalam Kristus (Mat. 11:28). Ketika kita berbaring di sini, kita nampak bahwa perhentian ini baik.
B. MENIKMATI KRISTUS YANG PERMAI (SUBUR)
Ayat 15 mengatakan pula bahwa Isakhar melihat, “ne-geri itu permai”. Ketika kita mengaso dalam hidup gereja, di antara kandang-kandang denominasi, niscaya kita me-nikmati perhentian yang baik dan tanah yang permai. Ta-nah ini ialah Kristus. Jika Anda memperhatikan pengalaman Anda, Anda akan nampak kalau ini memang benar. Ketika kita mengaso dalam hidup gereja, di antara denominasi-denominasi, niscayalah kita nampak perhentian yang baik dan negeri yang permai, yaitu Kristus sebagai padang rumput kita. Jika Anda tidak menjelaskan ayat-ayat ini secara demikian, maka ayat-ayat ini akan menjadi tanpa makna. Tetapi dengan menjelaskan secara demikian, maka ayat-ayat ini sangatlah bermakna dan menguatkan pengalaman kita.
C. MENGHASILKAN KERJA RODI SEBAGAI
UPETI DIPERSEMBAHKAN KEPADA TUAN
Ayat 15 juga mengatakan, “Maka disendengkannyalah bahunya untuk memikul, lalu menjadi budak rodi untuk membawa upeti (Tl.).” Ini benar-benar sesuai dengan penga-laman kita. Begitu kita mengaso dalam hidup gereja, meni-arap di antara denominasi-denominasi, mengenal perhentian, dan menikmati negeri yang permai, kita pun rela menyen-dengkan bahu kita untuk melayani dan memikul tanggung jawab. Kita menjadi budak rodi. Kerja rodi bukanlah me-lakukan pekerjaan menurut pilihan kita, melainkan pekerjaan yang telah ditetapkan. Pekerjaan ini bukan pilihan kita, me-lainkan ditetapkan oleh Tuhan. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan rodi yang ditentukan Sang Kepala kepada kita sebagai anggota-anggota Tubuh. Apa yang kita kerjakan sebagai bagian yang ditetapkan dari pelayanan Tubuh itu-lah kerja rodi. Akhirnya kerja rodi ini menjadi suatu upeti yang dipersembahkan kepada Tuan kita. Setelah menghasil-kan Injil, kita memiliki pemberitaan Injil. Hasil dari pem-beritaan Injil ialah hidup gereja. Dalam hidup gereja, kita adalah keledai-keledai yang meniarap (berbaring) di antara perpecahan, nampak perhentian yang baik, dan menikmati Kristus sebagai tanah yang permai. Ketika kita berbaring, dengan sendirinya kita akan berkata, “Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Aku mau memikul beban pekerjaan yang Engkau tentukan bagiku. Aku rela memikul beban di bawah pekerjaan rodi-Mu, sehingga aku bisa mempersembahkan sesuatu bagi kepuasan-Mu.” Inilah upeti yang kita persembahkan kepada Raja kita! Alangkah menakjubkan!
D. BERSUKACITA DALAM HIDUP GEREJA
Ulangan 33:18 mengatakan, “Bersukacitalah, hai Zebulon, atas perjalanan-perjalananmu, dan engkau pun, hai Isakhar, atas kemah-kemahmu.” Kita telah melihat bahwa Musa me-nyuruh Zebulon bersukacita atas perjalanan-perjalanannya. Sekarang, kita nampak bahwa Isakhar bersukacita dalam kemah-kemahnya. Tidak diragukan bahwa kemah-kemah di sini ditujukan kepada hidup gereja. Untuk pemberitaan Injil, kita harus bersukacita dalam perjalanan kita. Tetapi untuk hidup gereja, kita harus menetap dalam gereja-gereja lokal dengan sukacita.
IV. PENGGENAPAN
A. BANGSA-BANGSA DIPANGGIL
KE GUNUNG ALLAH
Setelah ada Injil, pemberitaan Injil, dan hasil dari pemberitaan Injil (yakni hidup gereja), maka sampailah kita pada penggenapan, yang terdapat dalam Ulangan 33:19. Ayat ini mengatakan, “Bangsa-bangsa akan dipanggil (diundang) mereka datang ke gunung; di sanalah mereka akan mempersembahkan kurban sembelihan yang benar, sebab mereka akan mengisap kelimpahan laut dan harta yang terpendam di dalam pasir.” Dalam penggenapan, per-tama-tama bangsa-bangsa akan diundang ke gunung Allah. Dalam hidup gereja hari ini, kita mengundang orang-orang ke gunung Allah, yaitu ke Kerajaan Allah. Sudah tentu undangan ini akan tergenapi dengan sempurna pada masa Kerajaan Seribu Tahun. Dalam Kerajaan Seribu Tahun, se-mua orang, semua bangsa, akan diundang melalui pembe-ritaan ke Kerajaan Allah di Gunung Sion. Tetapi hari ini kita justru mempunyai miniaturnya dalam hidup gereja. Oleh pemberitaan Injil dan hidup gereja, yaitu oleh Zebulon dan Isakhar, bangsa-bangsa diundang ke Kerajaan Allah, ke gunung Allah. Ayat ini melalui “bangsa-bangsa” yang di-panggil menghubungkan Isakhar dengan Yehuda, yang kepa-danya “akan takluk bangsa-bangsa” (ayat 10).
B. MEMPERSEMBAHKAN KURBAN
PERSEMBAHAN YANG BENAR KEPADA ALLAH
Kedua, di atas gunung bangsa-bangsa akan memper-sembahkan kurban persembahan yang benar kepada Allah. Dalam Kerajaan Allah, dalam hidup gereja hari ini, ada kurban persembahan yang benar sedemikian yang diper-sembahkan kepada Allah (1 Ptr. 2:5; Ibr. 13:15-16; Flp. 4:18). Semua kurban persembahan yang kita persembahkan kepada Allah dalam hidup gereja adalah benar, menurut tuntutan kebenaran Allah. Demikian pula dalam kerajaan yang akan datang (Mal. 3:3).
C. GEREJA DAN KERAJAAN MENJADI KENIKMATAN KITA
Ketiga, gereja dan kerajaan menjadi kenikmatan kita. Ini dinyatakan oleh kata-kata: “Mereka akan mengisap kelimpahan laut dan harta yang terpendam di dalam pasir.” Untuk menjelaskan bagian ayat ini, kita perlu memperha-tikan perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara dalam Matius 13:44-46. Dalam Matius 13, harta terpendam ditujukan kepada kerajaan, sedang mutiara ditujukan ke-pada gereja. Saya yakin kelimpahan laut yang dimaksud dalam Ulangan 33:19 ini ialah gereja. Tidak diragukan bah-wa laut melambangkan bangsa-bangsa, dunia orang kafir. Dari dunia orang kafir, gereja terlahir sebagai kelimpahan. Semua orang beriman yang berasal dari orang kafir meru-pakan kelimpahan laut, kelimpahan bangsa-bangsa. Inilah gereja. Kerajaan ialah harta yang terpendam di dalam pasir, atau di dalam tanah (bumi). Jika kita menerapkan penje-lasan yang tepat dari kedua perumpamaan dalam Matius 13 kepada Ulangan 33:19, kita akan nampak bahwa hasil dari Injil, hasil dari pemberitaan Injil, dan hasil dari hidup gere-ja yang dihasilkan oleh Injil adalah kenikmatan atas hidup gereja dan kerajaan. Bahkan hari ini pun kita sedang me-ngisap kelimpahan laut dan harta yang terpendam di dalam pasir. Kita sedang mengisap hidup gereja dan kehidupan kerajaan. Hidup gereja merupakan kelimpahan yang ber-asal dari bangsa-bangsa, dan kehidupan kerajaan merupakan harta yang terpendam di dalam bumi. Bahkan sampai hari ini kehidupan kerajaan masih tersembunyi. Orang luar tidak mengerti apa yang kita kerjakan dalam gereja. Mungkin mereka berkata, “Aku tidak mengerti orang-orang apa mereka itu. Hampir setiap malam mereka berhimpun. Apa yang mereka kerjakan?” Kita sedang mengisap kelimpahan laut dan harta yang terpendam di dalam pasir.
Dalam kelompok kedua dari putra-putra Yakub, kita mempunyai Injil yang dilambangkan oleh Yehuda, yang lengkap tercatat dalam keempat kitab Injil; mempunyai pemberitaan Injil yang dilambangkan oleh Zebulon, yang lengkap tercatat dalam Kitab Kisah Para Rasul; mempunyai hidup gereja yang dilambangkan oleh Isakhar, yang lengkap tercatat dalam kitab-kitab berikutnya dalam Perjanjian Baru, yang dimulai dari Surat Roma. Hasilnya adalah menikmati hidup gereja dan kehidupan kerajaan. Untuk mengerti Ke-jadian 49, kita memerlukan seluruh Alkitab. Untuk kelom-pok yang kedua saja kita sudah memerlukan seluruh Perjan-jian Baru. Dalam keempat Injil kita nampak Yehuda sebagai Injil; dalam Kitab Kisah Para Rasul kita nampak Zebulon sebagai pemberitaan Injil, dan dalam Surat-surat Kiriman serta Kitab Wahyu kita nampak Isakhar sebagai hidup gereja. Penggenapan dari semuanya ini adalah kenikmatan kita, pengisapan kita atas kelimpahan hidup gereja dan kerajaan. Haleluya, hari ini kita mempunyai Yehuda, Zebulon, Isakhar, serta semua penggenapan. Pada Yehuda, kita mem-punyai singa, Kristus yang satu-satunya; pada Zebulon, kita mempunyai banyak kapal dan banyak orang Galilea; dan pada Isakhar, kita mempunyai kemah-kemah, gereja-gereja lokal. Kita mempunyai Kristus sebagai Injil, kita mempu-nyai pemberitaan Injil, dan kita mempunyai hidup gereja. Kini kita merupakan kawanan yang meniarap di antara kandang-kandang sambil menikmati hidup gereja dan kehidupan kerajaan.
Hari ini sejumlah orang Kristen hanya memperhatikan Yehuda, yaitu kehidupan yang menang dalam Kristus; se-jumlah yang lain hanya memperhatikan Zebulon, yaitu pem-beritaan Injil. Sedikit sekali yang memperhatikan Isakhar, yaitu hidup gereja. Namun, dalam pemulihan Tuhan, kita harus memperhatikan ketiganya dari kelompok ini: Yehuda, kehidupan yang menang ; Zebulon, pemberitaan Injil; dan Isakhar, hidup gereja. Dengan demikian kita akan beroleh kenikmatan yang penuh di dalam Kristus.