← Daftar isi Kejadian (7) · bab 12/14

DIMATANGKAN MANIFESTASI KEMATANGAN (5)

Dalam berita ini sampailah kita pada kelompok ketiga dari kedua belas putra-putra Yakub. Seperti yang telah kita lihat dengan jelas bahwa nubuat yang disertai pemberkatan dalam Kejadian 49, bukan hanya melukiskan kehidupan kedua belas suku Israel dalam Perjanjian Lama, tetapi juga melukiskan kehidupan rohani orang-orang Kristen dalam Perjanjian Baru. Hal ini berdasarkan prinsip bahwa kedua belas suku Israel melambangkan gereja beserta semua orang beriman. Jadi, setiap hal dalam Kejadian 49 merupakan lambang, bayang-bayang, gambar; sedang pengalaman kita hari ini justru adalah realitas, penggenapan dari nubuat yang disertai pemberkatan oleh Yakub.

Nubuat yang disertai pemberkatan yang diucapkan oleh Yakub berbentuk puisi. Bahasa puisi sulit dipahami. Bahasa puisi sangat bermakna dan dalam, namun tidaklah mudah ditembus kedalaman maknanya. Jika Anda bisa menembus makna puisi yang terkandung dalam pasal ini, Anda akan nampak betapa bermakna, kaya, dan dalamnya nubuat ini.

Ada alasan lain mengapa begitu banyak pembaca pasal 49 ini kesulitan untuk memahaminya, dan alasan itu ialah kekurangan pengalaman kristiani mereka. Kalaupun kita sudah bisa memahami bahasa puisi dalam pasal ini, namun karena kekurangan pengalaman yang diperlukan, kita tetap tidak tahu bagaimana menerapkannya. Untuk memahami nubuat-nubuat ini, kita harus memahami bahasa hitam di atas putih, harus mengetahui sejarah kedua belas suku Israel, harus pula mengetahui arti tanda atau gambar dalam puisi, dan juga harus ada pengalaman. Yakub memakai banyak gambar pada puisi dalam pasal 49 ini: anak singa, singa berbaring, singa betina, keledai, anak keledai, anggur, po-hon anggur, baju, pangkalan kapal, kapal-kapal, ular, ular beludak. Untuk mengetahui arti gambar-gambar ini, tahu bagaimana menjelaskan semua gambar ini, dan menerap-kannya ke atas situasi kita, diperlukan pengalaman. Alasan pasal ini tertutup sekian abad, tidak lain karena kekurang-an pengalaman.

Lima puluh tahun lebih yang lampau, saya duduk di depan kaki seorang guru besar Kaum Saudara (Brethren). Ia memberikan berita-berita yang menjelaskan Kejadian 49, menunjukkan kepada kami bagaimana nubuat-nubuat ini tergenapi dalam kitab-kitab selanjutnya. Tetapi ia kurang sekali dalam hal pengalaman. Semua yang ia miliki seka-dar pengetahuan tulisan hitam di atas kertas putih. Dan karena ia tidak mengerti makna rohani gambar-gambar ini, maka ia tidak menerapkannya ke dalam pengalaman ke-kristenan hari ini. Karena itu, saya tidak menerima bantuan sedikit pun dalam hayat maupun dalam pengalaman rohani. Tetapi, bagaimanapun juga saya berterima kasih kepada Allah bahwa darinya saya telah mendengarkan keterangan-keterangan atas pasal ini berdasarkan sejarah dan tafsiran Alkitab. Kemudian, setelah menjajarkan pasal ini dengan pengalaman rohani saya, barulah saya menyelami ke ke-dalaman makna nubuat yang disertai pemberkatan ini.

Catatan mengenai kedua belas anak Yakub ini diawali dengan Ruben, seorang yang berdosa. Tak ada seorang pun yang lebih berdosa daripada Ruben. Paulus mengakui dirinya sebagai “kepala” orang berdosa, namun menurut saya, Ruben itulah sebenarnya orang berdosa yang paling besar, lebih berdosa daripada Saulus yang berasal dari Tarsus. Alang-kah mengerikannya dosa yang diperbuatnya! Pada awal penga-laman kristiani kita, kita juga adalah orang-orang berdosa. Betapa kita berterima kasih kepada Tuhan atas belas kasihan-Nya! Meskipun mula-mula saya adalah Ruben, na-mun sekarang saya telah beroleh selamat. Meskipun nubuat yang disertai pemberkatan ini diawali oleh seorang berdosa, tetapi diakhiri dengan dua orang putra yang terkasih, Yusuf dan Benyamin. Diawali dengan seorang berdosa dan diakhiri dengan seorang raja, seorang yang memegang pemerintahan, seseorang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Di anta-ra Ruben dan Yusuf terdapat Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, dan Naftali.

Kita telah melihat bahwa nubuat ini diawali oleh kelompok orang-orang berdosa, yakni: Ruben, Simeon, dan Lewi. Dosa Ruben adalah hawa nafsu, dan dosa Simeon dan Lewi adalah amarah yang berasal dari tabiat alamiah mereka. Matius 5 membicarakan juga tentang dosa hawa nafsu dan amarah yang berasal dari tabiat alamiah manusia. Setelah kelompok yang berdosa ini, yang penuh dengan hawa nafsu dan amarah, Kristus datang sebagai Singa. Yehuda mewakili Kristus menjadi Injil kita. Berikutnya ialah Zebulon, pang-kalan kapal untuk menyalurkan Injil; dan Isakhar, kenikmat-an hidup gereja. Sungguh mengagumkan! Masih adakah hari ini Ruben di antara kita? Kita telah mendeklarasikan bahwa dalam gereja tidak ada Ruben dan Simeon, bahkan se-mua orang Lewi telah menjadi imam-imam. Jadi, di sini ti-dak ada lagi orang-orang berdosa. Kristus ada di sini, Dialah Sang almuhit. Karena Kristus ada di sini, maka kita me-miliki berita Injil yang disalurkan melalui pemberitaan Injil, dan kita pun memiliki hidup gereja. Haleluya, kita bukan lagi orang-orang berdosa! Kita dalam hidup gereja. Di satu pihak, kita adalah pangkalan kapal bagi pelayaran Injil; di pihak lain, kita adalah kemah-kemah, tinggal ber-sama-Nya dalam kenikmatan yang penuh atas Kristus.

9) Tentang Dan

a) Anak Singa yang Berperang

untuk Merebut Lebih Banyak Tanah

Ulangan 33:22, “Tentang Dan ia berkata: ‘Adapun Dan ialah anak singa yang melompat keluar dari Basan.’” Sebutan anak singa dalam ayat ini menghubungkan kelompok kedua dan kelompok ketiga dari kedua belas putra Yakub, berarti kelompok ketiga merupakan lanjutan dari kelompok kedua. Gambaran yang penting dalam kelompok kedua ini ialah singa. Dan, orang pertama dalam kelompok ketiga ini juga disebut singa. Sebagai anak singa, Dan bukan berperang untuk menerkam mangsa, melainkan untuk merebut lebih banyak tanah (Yos. 19:47; Hak. 18:27-29). Di sini terlihat bahwa anak singa ini ada kemajuan, yakni dari berperang untuk menerkam mangsa menjadi berperang untuk mere-but tanah. Secara lambang, berperang untuk merebut ta-nah berarti berperang untuk merebut lebih banyak Kristus. Yehuda yang diumpamakan anak singa adalah untuk me-nerkam mangsa. Tetapi anak singa di sini adalah untuk berperang agar merebut lebih banyak tanah, berperang untuk merebut lebih banyak Kristus. Dalam Hakim-hakim 18 kita nampak Dan sebagai anak singa, berperang untuk memperoleh tanah.

b) Ular di Jalan, Ular Beludak di Denai yang Memagut Tumit Kuda sehingga Penunggangnya Jatuh ke Belakang

Setelah Dan memperoleh kota Dan dalam Hakim-hakim 18, sebuah berhala yang dibuat Mikha ditempatkan di dalamnya (Hak. 17:4-5; 18:30-31). Waktu itu Kemah Allah ada di Silo; tetapi di kota Dan ada berhala. Hari ini kita mem-punyai terang untuk memahami makna rohaninya. Ini berarti, ada beberapa orang Kristen yang bisa memperoleh lebih banyak Kristus. Tetapi setelah memperoleh lebih ba-nyak Kristus, mereka mendirikan pusat penyembahan lain. Menurut Kitab Ulangan, di tanah permai seharusnya hanya ada satu tempat penyembahan bagi umat Allah (Ul. 12:11, 13-14, 21; 14:23-26). Di satu-satunya tempat itu terdapat nama Allah dan tempat tinggal Allah. Pada zaman Hakim-hakim, tempat penyembahan berada di Silo, di sanalah ter-dapat Kemah Allah dan imam-imam. Meskipun Dan telah meraih kemenangan, tetapi kemenangan ini membuatnya “merdeka” (terhadap Kristus). Setiap “merdeka” berasal dari kesombongan. Jangan mengira meraih kemenangan rohani tidak dapat menyebabkan Anda sombong. Bahkan memperoleh Kristus juga bisa membuat kita menjadi sombong. Inilah yang disebut kesombongan rohani. Orang yang membang-gakan kerohaniannya tidak mau tunduk kepada orang lain. Sebaliknya mereka berkata, “Mengapa harus pergi ke Silo? Kita sendiri bisa mendirikan sesuatu untuk penyembahan.” Segera setelah kemenangan Dan, tempat penyembahan yang lain (yang ada berhala yang dibuat Mikha) didirikan di kota Dan.

Jika Anda memperhatikan sejarah kekristenan, Anda akan nampak bahwa perkara seperti ini sudah berulang-ulang terjadi. Setelah beberapa individu atau kelompok orang beriman meraih kemenangan dalam hal lebih banyak mem-peroleh Kristus, kemenangan itu lalu membuat mereka sombong dan merdeka. Karena mereka tak mau tunduk ke-pada yang lain, maka mereka harus mendirikan pusat pe-nyembahan lain. Seharusnya mereka pergi ke pusat penyem-bahan Silo, sebab imam-imam yang ditahbiskan Allah berada di Silo. Tetapi mereka mendirikan sesuatu yang dibuat dan ditetapkan oleh manusia. Inilah pekerjaan si ular licik itu yang telah menyelinap ke dalam.

Ular dalam Kejadian 3 muncul lagi dalam Hakim-hakim 18. Dengan demikian, Dan, si anak singa, menjadilah ular. Kejadian 49:17 mengatakan, “Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang.” Ular di sini lebih jahat daripada ular dalam Kejadian 3, karena yang di sini ular beludak. Tanpa mengenal sejarah Perjan-jian Lama, makna rohaninya, dan penerapannya yang riil, kita sulit memahami ayat ini. Namun, jika kita mengetahui semua perkara ini, kita akan nampak bahwa ada banyak Dan dalam sejarah kekristenan. Mula-mula, Dan-Dan ini berupa anak-anak singa yang beroleh lebih banyak Kristus, tetapi akhirnya mereka menjadi ular, bahkan ular beludak, mendirikan pusat-pusat penyembahan lain. Hari ini banyak orang rohani yang beroleh sesuatu dari Kristus, lalu men-dirikan pusat penyembahan lain selain pusat penyembahan tunggal yang ditentukan dan didirikan oleh Allah. Kita harus menerapkan ini kepada diri sendiri sambil bertanya kepada diri sendiri, apakah kita mendirikan pusat penyem-bahan lain. Sungguh memalukan dan menyedihkan bahwa sekitar lima belas tahun yang lalu, sedikitnya ada dua atau tiga orang yang tadinya di antara kita telah melakukan perkara ini. Mereka telah beroleh sesuatu, tetapi perolehan mereka itu membuat mereka sombong dan merdeka, tidak mau tunduk kepada apa yng ditetapkan oleh Tuhan. Akibat-nya, pusat-pusat lain bermunculan. Hal-hal ini bisa menye-babkan sejumlah orang lain jatuh ke belakang.

Dalam Kejadian 49, ini merupakan nubuat. Hari ini terlihat oleh kita penggenapannya pada sejarah yang lam-pau dan situasi sekarang ini. Sekali lagi, hal ini meyakinkan kita bahwa Alkitab benar-benar diilhamkan oleh Allah. Gam-bar mengenai Dan di sini sungguh memberi kesan yang dalam kepada kita! Hari ini kita menjumpai pusat-pusat penyembahan dengan berhala-berhala rohani. Berhala dan pusat penyembahan yang terpisah ini menjadi batu san-dungan terbesar bagi bangsa Israel. Melalui membaca kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama, kita nampak bahwa dengan memasukkan berhala ini, Dan benar-benar menjadi ular beludak. Ular ini memagut tumit kuda dan menyebabkan penunggangnya jatuh ke belakang. Ini berarti ular beludak telah menjadi penghalang terbesar dan menarik orang-orang ke belakang. Ketika mereka sedang menunggang kuda maju ke depan, Dan memagut tumit-tumit kuda dan menyebab-kan mereka jatuh ke belakang; yaitu menghalangi mereka maju ke depan.

c) Yakub Menanti-nantikan Penyelamatan TUHAN

Pada butir ini Yakub berkata, “Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN” (ayat 18). Se-telah mengatakan bahwa Dan seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, segera Yakub berseru kepada Tuhan untuk keselamatan. Jika kita nampak situasi Dan hari ini, kita pun akan berseru, “Ya, Tuhan, selamatkanlah kami. Selamatkanlah kami dari Dan-Dan, dari berhala-berhala, dan dari pusat-pusat penyem-bahan yang lain. Tuhan, selamatkanlah kami dari ular dan dari ular beludak. Selamatkanlah kami, ya Tuhan, dari pa-gutan ular.” Yakub bukan hanya berdoa, ia pun menyeru nama Tuhan. Ayat ini tidak mengatakan, “Aku sedang me-nunggu keselamatan yang dari Engkau,” atau “Aku akan menunggu keselamatan yang dari Engkau.” Melainkan “Aku telah menanti-nantikan keselamatan yang dari Engkau” (Tl.). Seolah-olah Yakub berkata, “Tuhan, terhadap situasi Dan ini, tidak ada satu pun yang dapat menolong kecuali keselamatan yang dari-Mu. Hanya keselamatan-Mu itulah yang mampu menyelamatkan kami dari luka dan kerusakan ini. Tuhan, aku telah menanti-nantikan keselamatan yang dari Engkau. Aku telah berseru kepada-Mu, ya Tuhan. Aku telah menyeru nama-Mu. Ya Tuhan, kami memerlukan penyelamatan-Mu.”

Sepanjang sejarah, telah ada banyak Dan yang menjadi ular-ular yang mendirikan berhala-berhala sehingga merusak orang lain. Hati kita sangat sedih karena hal ini. Tahun 1969, pusat penyembahan lain telah didirikan, dan banyak orang muda terhalang olehnya. Tumit kuda dipa-gut, dan banyak penunggang muda yang jatuh ke bela-kang. Terhadap situasi seperti ini kita hanya dapat melaku-kan satu hal, yaitu menyeru nama Tuhan sambil berkata, “Tuhan, aku telah menanti-nantikan keselamatan yang dari Engkau.” Pada waktu yang silam, kita telah melihat penye-lamatan Tuhan, dan hari ini kita tetap melihatnya. Saya dapat bersaksi bahwa banyak orang yang telah diselamatkan dari gigitan ular itu.

Kita telah melihat bahwa Dan mula-mula merupakan kelanjutan dari Yehuda, kelanjutan dari kemenangan Kristus. Kemudian Dan jatuh ke dalam penyembahan berhala. Kapan saja penyembahan terhadap berhala didatangkan, di sana ada ular. Di balik setiap berhala, terdapat roh jahat. Di belakang setiap berhala, ada si licik yang menuntut penyembahan orang. Jadi begitu berhala itu didirikan, Dan menjadilah ular. Dengan kata lain, karena Dan menjadi satu dengan berhala, ia pun menjadi Iblis. Setelah kejatuhan yang mengerikan ini, tibalah penyelamatan Allah. Terpuji-lah Tuhan bagi penyelamatan-Nya! Sejarah membuktikan hal ini, sekeliling kita dan lingkungan kita menguatkan hal ini. Kita telah melihat kejatuhan, kita telah melihat situasi masuknya ular, tetapi kita pun telah melihat keselamatan yang dari Tuhan. Haleluya, banyak orang telah diselamat-kan! Tuhan, kami telah menanti-nantikan keselamatan yang dari Engkau.

d) Tetap sebagai Salah Satu Suku (Tongkat Kerajaan)

Mengadili Bangsanya

Yakub menubuatkan bahwa Dan akan mengadili bang-sanya sebagai salah satu suku dari Israel (ayat 16). Nubuat yang disertai pemberkatan ini menunjukkan bahwa Yakub khawatir kalau Dan akan disingkirkan. Menurut hukum Musa, setiap orang yang mendirikan berhala atau menyem-bah berhala harus disingkirkan dari antara bangsanya (Ul. 13:5-18). Di antara kedua belas suku, suku Dan itulah yang mendatangkan berhala. Jadi menurut hukum, Dan akan diakhiri kedudukannya sebagai salah satu suku. Berhubung Yakub tidak ingin melihat salah seorang dari putra-putra-nya disingkirkan, maka ia memberkatinya secara bernubuat dari hatinya yang penyayang. Inilah sebabnya Yakub me-ngatakan bahwa Dan akan tetap sebagai salah satu suku yang mengadili bangsanya. Perkataan ini khususnya terkabul atas Simson, yang berasal dari suku Dan (Hak. 13:2, 24; 15:20).

Yakub mengatakan bahwa Dan akan mengadili bangsa-nya sebagai salah satu suku Israel. Dalam bahasa Ibrani, kata “suku” ini terutama berarti “cabang”, kemudian “batang”, “tongkat”, dan “lambang kekuasaan”. Karenanya, kata “suku” dalam bahasa Ibrani sebenarnya berarti tong-kat kerajaan. Setiap suku memiliki tongkat dan kekuasaan. Dua belas suku adalah dua belas tongkat, dua belas pengu-asa, dua belas kekuasaan. Selama zaman Simson, sudah pasti suku Dan menjadi tongkat. Atas Simson, suku Dan merupakan penguasa, kekuasaan yang riil. Inilah makna nubuat pemberkatan mengenai Dan dalam ayat 16. Perkata-an Yakub bukan hanya bermaksud bahwa Dan akan tetap sebagai salah satu suku, tetapi juga akan menjadi sebuah tongkat, sebuah kekuasaan. Nubuat ini telah digenapi.

e) Sukunya Dihapus dalam Kitab 1 Tawarikh dan Kitab Wahyu, tetapi Tetap sebagai Satu Suku dalam Kerajaan Seribu Tahun

Dalam 1 Tawarikh 2—9, suku Dan telah dihapus dari catatan umat kudus Allah. Nama Dan disebut dalam 1 Tawarikh 2:2, tetapi dalam catatan selanjutnya suku ini telah dihapus. Tidak hanya demikian, pada catatan dalam Wahyu 7, suku ini juga tidak disinggung. Alangkah serius bila sampai dihapus dari catatan Allah mengenai umat-Nya. Kita menemukan peringatan ini dalam Perjanjian Baru pa-da Wahyu 3:5, kita diberi tahu bahwa siapa yang menang, namanya tidak akan dihapus dari kitab hayat. Ini menyi-ratkan bahwa nama-nama kaum beriman yang kalah akan dihapus dari kitab hayat selama zaman kerajaan yang akan datang. Namun itu bukan berarti kaum beriman yang kalah akan binasa. Suku Dan tidak binasa. Namun karena Dan jatuh dan bersatu dengan seteru Allah, maka ia men-jadilah ular dan membawa masuk batu sandungan bagi umat Allah, sehingga namanya dihapus dari catatan pada Kitab 1 Tawarikh dan Kitab Wahyu.

Hari ini banyak orang Kristen telah menjadi Dan. Mereka bersatu dengan Iblis, membawa masuk batu sandungan yang menjegal umat Allah. Namun mereka kelihatan tak acuh terhadap apa yang mereka perbuat, bahkan sama sekali tidak merasakan apa-apa. Memang, Allah mau mengampuni mereka, tetapi selama zaman kerajaan yang akan datang, nama-nama mereka tidak akan ditemukan pada catatan. Di sana hanya akan ditemukan suatu keadaan, yaitu nama-nama mereka dihapus. Meskipun nama Dan dihapuskan dari catatan Kitab 1 Tawarikh dan Kitab Wahyu atas kejahatannya, namun ia masih sebagai satu suku dalam Kerajaan Seribu Tahun oleh pemberkatan ayahnya (Yeh. 48:1). Inilah sebuah gambar yang melukiskan belas kasihan Allah.

Kita tidak seharusnya membaca catatan perihal Dan ini hanya sebagai cerita sejarah. Kita harus melihatnya se-bagai bayang-bayang, tanda, pengalaman kita sebagai orang-orang Kristen. Boleh jadi, kita adalah kelanjutan dari Yehuda, kelanjutan dari kemenangan Kristus, namun kita harus berhati-hati. Setelah kemenangan, sering kali ada suatu bahaya, yaitu hal kita beroleh Kristus bisa membuat kita menjadi sombong dan merdeka, sehingga kita tidak mau patuh kepada yang lain. Pada saat yang demikian, kita mudah mendirikan pusat penyembahan yang lain, dan ber-satu dengan Iblis, seteru Allah itu. Ini akan sangat meru-gikan kita. Kita memang tidak akan binasa, karena sekali kita diselamatkan, kita beroleh selamat selamanya. Tetapi benar-benar ada kemungkinan bahwa dalam sejangka waktu tertentu dan dalam situasi tertentu, kita akan dihapus dari catatan umat Allah.

10) Tentang Gad

a) Diserang oleh Gerombolan,

tetapi Ia Akan Menyerang Tumit Mereka

Karena kegagalan Dan, maka Yakub berseru kepada Tuhan mohon keselamatan. Tuhan telah menjawab seruan ini. Jadi setelah Dan, kita mempunyai Gad sebagai lanjutannya. Ayat 19 mengatakan, “Gad, ia akan diserang oleh gerom-bolan, tetapi ia akan menyerang tumit mereka.” Atas diri Dan kita melihat kekalahan, tetapi atas diri Gad kita nam-pak kemenangan telah direbut kembali. Janganlah meman-dang Dan terpisah dengan Gad, atau Gad terpisah dengan Dan. Mereka itu justru bagian-bagian dari satu keutuhan. Dan berakhir dengan kekalahan, tetapi Gad, dialah yang akan menyerang tumit-tumit gerombolan itu, serta pulang dengan kemenangan yang terpulihkan.

b) Diperluas oleh Allah

Ulangan 33:20 mengatakan, “Terpujilah Dia yang mem-beri kelapangan kepada Gad.” Atas kemenangan ini Gad di-beri kelapangan oleh Allah. Ini justru sama dengan penga-laman rohani kita. Beberapa waktu yang lalu mungkin kita mengalami kegagalan, tetapi oleh belas kasihan Allah, melalui doa-doa kaum saleh, maka penyelamatan Tuhan menimpa kita. Karenanya kita beroleh kemenangan kembali. Sekarang kita bukan lagi Dan, melainkan Gad, yang menyerang tumit-tumit musuh. Melalui kemenangan inilah, kita diperluas oleh Allah. Banyak di antara kita bisa bersaksi bahwa Allah telah memberi kelapangan kepada kita.

c) Diam seperti Singa Betina,

Menerkam Lengan, bahkan Batu Kepala Mangsanya

Ulangan 33:20 juga mengatakan, “Seperti singa betina ia diam dan menerkam lengan, bahkan batu kepala.” Di sini kita nampak bahwa Gad itu seekor singa betina. Gad tidak sedang berbaring; ia diam (tinggal). Ini merupakan suatu kemajuan daripada Yehuda sebagai seekor singa yang berbaring. Gad diam sebagai seekor singa betina yang me-nerkam lengan, bahkan batu kepala mangsanya. Dalam puisi Musa, batu kepala atau ujung kepala ditujukan kepada tengkorak. Mangsanya ini sudah tentu bukan binatang, me-lainkan orang. Gad menerkam lengan mangsanya, bahkan kepala, yaitu tengkorak mangsanya. Ini berarti Gad begitu kuat, sehingga ia bukan hanya mengalahkan musuhnya, tetapi juga mengoyaknya sampai menjadi potongan-potong-an. Ia bahkan menerkam tengkoraknya sampai menjadi po-tongan-potongan. Puisi ini melukiskan pengoyakan habis-habisan terhadap musuhnya. Seperti Gad, kita menumpas Iblis sampai hancur berkeping-keping. Dalam Ulangan 33, singa betina ini bukan berbaring sambil menikmati, mela-inkan diam, tinggal, dan merobek-robek musuhnya menjadi potongan-potongan. Seolah-olah Gad berkata, “Hai musuh, jangan mengganggu aku. Aku ingin tinggal dengan tenang di sini. Jika kamu menganggu aku, aku tidak hanya akan menerkam lenganmu, bahkan tengkorakmu hingga berkeping-keping. Setelah itu, tidak ada seorang pun yang akan nam-pak bayang-bayangmu.”

d) Memilih Bagian yang Terutama

dari Tanah Permai bagi Dirinya Sendiri

Ulangan 33:21 menyinggung tentang Gad: “Ia memilih bagian yang terutama untuk dirinya sendiri, sebab di sa-nalah tersimpan bagian panglima” (Tl.). Kemenangan selalu membuat kita diperluas, yaitu ruang lingkup kita diperlu-as. Karena itu, ayat ini mengatakan bahwa Gad memilih ba-gian yang terutama untuk dirinya sendiri. Bertahun-tahun lamanya saya tidak paham hal ini. Menurut sejarah Perjan-jian Lama, bagian yang terutama ditujukan kepada bagian dari tanah permai di sebelah timur Sungai Yordan. Dalam perjalanan mereka, kedua belas suku terlebih dulu mema-suki bagian ini, yaitu yang terletak di sebelah timur Sungai Yordan. Karena mengingini tanah yang subur ini, Ruben, Gad, dan separuh dari Manasye meminta kepada Musa untuk memberikan tanah ini kepada mereka. Meskipun Musa me-nyetujui, namun ia berpesan agar mereka tidak tinggal di sana dan menikmati tanah permai mereka, sementara saudara-saudara mereka masih belum memperoleh bagian mereka. Jadi Musa berpesan kepada mereka untuk berpe-rang merebut sisa tanah itu (Bil. 32:1-32). Setelah itu, mere-ka baru membagi-bagikan tanah itu dengan adil. Jika dua setengah suku itu menetap di sana dan tidak pergi berpe-rang untuk merebut sisa tanah, mereka berlaku tidak adil. Jadi Gad meminta bagian yang terutama untuk dirinya sendiri. Di sanalah tersimpan bagian panglima (pemberi hukum). Ini menunjukkan bahwa Musa, panglima (pemberi hukum) itu, dikuburkan di sana (Ul. 32:48-52; 34:1-6).

e) Datang kepada para Kepala Bangsa; Melakukan Kebenaran TUHAN serta Penghukuman-penghukuman-Nya Bersama-sama dengan Orang Israel

Ulangan 33:21 juga mengatakan, “Ia datang kepada pa-ra kepala bangsa itu; dilakukannya kebenaran TUHAN serta penghukuman-penghukuman-Nya (ketetapan-ketetapan-Nya) bersama-sama dengan orang Israel.” Gad datang ke-pada para kepala bangsa, pemimpin-pemimpin, untuk men-duduki sisa tanah permai, melakukan kebenaran TUHAN dalam membagi tanah serta ketetapan-ketetapan-Nya terha-dap bani Israel (Yos. 22:1-5). Kegagalan Dan ialah kesom-bongannya. Ketika Dan memperoleh lebih banyak tanah, ia menjadi sombong dan mendirikan pusat penyembahan lain. Ia tidak memelihara saudara-saudaranya. Dalam pengalaman rohani Anda, ketika Anda memperoleh lebih banyak tanah, memperoleh lebih banyak Kristus, Anda harus berhati-hati terhadap kesombongan. Jangan sekali-kali mendirikan pusat penyembahan lain. Sebaliknya, Anda harus memelihara saudara-saudara Anda. Jangan berkata, “Aku telah menca-pai kemenangan. Aku telah memperoleh lebih banyak tanah, lebih banyak Kristus. Aku tidak mau tahu yang lainnya. Aku akan tinggal di sini serta menikmati kemenanganku.” Jika Anda berbuat demikian, Anda pasti gagal. Sekalipun Anda tidak memperoleh tanah, Anda harus tetap terus maju untuk memelihara keperluan saudara-saudara Anda. Anda telah memperoleh bagian Anda, tetapi bagaimana de-ngan bagian saudara-saudara Anda? Anda harus berperang untuk sisa tanah agar semua saudara Anda bisa memiliki bagian mereka. Menikmati tanah bagian Anda tanpa meno-long saudara-saudara Anda untuk merebut bagian mereka itu tidak adil. Itu bukan menjalankan kebenaran Tuhan. Anda harus pergi bersama pemimpin-pemimpin yang lain, berjuang untuk sisa-sisa tanah. Kemudian saudara-saudara Anda akan mendapatkan bagiannya masing-masing. Melaku-kan hal ini berarti melakukan kebenaran Tuhan dan memelihara ketetapan-ketetapan-Nya terhadap bani Israel.

Gad mempunyai beberapa kebaikan. Ia memulihkan kemenangan, ia diberi kelapangan, dan ia mencabik musuh menjadi potongan-potongan. Tidak hanya demikian, meskipun ia telah menetapkan tempat bagi dirinya sendiri, ia tidak menikmatinya sebelum ia menolong saudara-saudaranya mendapatkan bagian-bagian mereka. Ia pergi berperang ber-sama mereka sampai masing-masing memperoleh bagian-nya. Inilah yang disebut melakukan kebenaran TUHAN dan ketetapan-ketetapan-Nya terhadap orang Israel. Sekali lagi, Dan memperingatkan kita agar jangan menjadi sombong, jangan merdeka, atau mendirikan pusat penyembahan lain. Gad menolong kita untuk mengetahui bahwa setelah kita meraih kemenangan, setelah kita diperluas, jangan melu-pakan saudara-saudara kita. Jangan hanya tahu beristirahat atas bagian kita sendiri sebelum menolong saudara-saudara kita mendapatkan bagian mereka. Meraih kemenangan ro-hani dan memperoleh lebih banyak Kristus memang menak-jubkan. Tetapi berhati-hatilah terhadap kesombongan. Bisa-bisa Anda mendirikan pusat penyembahan yang terpisah, dan melalaikan saudara-saudara Anda. Jangan sekali-kali demikian. Jangan menikmati bagian yang telah Anda per-oleh sebelum Anda menolong saudara-saudara Anda menda-patkan milik mereka. Jangan sombong dan melupakan sau-dara-saudara Anda. Mendengar perkataan ini adalah suatu bantuan bagi kita semua. Sekarang kita sudah tahu apa yang harus kita perbuat setelah meraih kemenangan Kristus. Jangan mendirikan pusat penyembahan lain, sebaliknya pe-liharalah saudara-saudara kita, berjuanglah untuk bagian mereka.

11) Tentang Asyer

a) Makanan yang Limpah Mewah dan Santapan Raja-raja

Setelah Gad ada Asyer. Urutan di sini sudah tentu di bawah inspirasi Allah. Ayat 20 mengatakan, “Asyer, ma-kanannya akan limpah mewah dan ia akan memberikan santapan raja-raja.” Makanan Asyer limpah mewah, ber-arti yang dimakan olehnya itu limpah dan mewah. Ke-tika kita mempunyai kemenangan Kristus dan membantu saudara-saudara kita mendapatkan bagian mereka sebe-lum kita menikmati milik kita sendiri, kita akan mem-punyai makanan yang limpah mewah. Makanan yang limpah mewah ini bahkan menjadi pilihan raja-raja, san-tapan raja-raja. Ini bukan makanan untuk orang-orang biasa, melainkan makanan untuk raja-raja, untuk kelu-arga raja. Apa yang kita nikmati dalam kehidupan yang menang bukan sekadar makanan biasa, lebih-lebih ada-lah makanan raja. Tak seorang pun dapat menyanggah bahwa makanan dalam hidup gereja itu berlimpah mewah. Menurut fakta, makanan ini demikian limpah sehingga menjadi santapan raja. Kita bukan hanya keluarga singa, tetapi juga adalah keluarga raja. Kita adalah keluarga raja, dan santapan kita pun adalah santapan raja. Apa saja yang kita makan dalam berita-berita pelajaran hayat ini merupakan santapan raja-raja.

b) Lebih Diberkati daripada Anak-anak Lelaki, Paling Disukai oleh Saudara-saudaranya

Ulangan 33:24 mengatakan, “Diberkatilah Asyer di an-tara anak-anak lelaki; biarlah ia disukai oleh saudara-sau-daranya.” Anda mungkin heran mengapa Asyer bisa lebih diberkati daripada Yehuda atau Yusuf. Asyer lebih diberkati di antara anak-anak lelaki berarti lebih diberkati dalam kelimpahan makanan dan mineral.

c) Mencelupkan Kakinya ke Dalam Minyak

Ulangan 33:24 juga mengatakan, “Dan biarlah ia men-celupkan kakinya ke dalam minyak.” Yehuda mencuci pa-kaiannya dengan anggur, tetapi di sini Asyer mencelup-kan kakinya ke dalam minyak. Wahyu 6:6 mengatakan perihal jangan merusak minyak dan anggur. Pada waktu kelaparan, minyak dan anggur sangatlah langka. Tidak per-lu diragukan bahwa minyak di sini ialah minyak zaitun. Menurut sejarah dan geografi, di tanah permai ini terda-pat banyak pohon zaitun. Karena itulah, negeri ini kaya dengan minyak. Adanya fakta bahwa Asyer mencelupkan kakinya ke dalam minyak menunjukkan bahwa menyang-kut soal makanan, ia lebih kaya daripada suku-suku lainnya.

d) Besi dan Tembaga pada Palang Pintunya

Ulangan 33:25 mengatakan, “Biarlah dari besi dan dari tembaga palang pintumu.” Besi dan tembaga dipakai untuk berperang dan pembangunan. Minyak adalah makanan bagi perawatan, sedang besi dan tembaga adalah benda-benda dan bahan-bahan untuk berperang dan membangun kera-jaan. Berhubung Asyer sedemikian kaya dan limpah, paling nyaman dalam hal makanan dan mineral, maka ia lebih diberkati daripada suku-suku lainnya. Dia mempunyai ma-kanan untuk perawatan, dan mineral untuk senjata dan bahan-bahan bangunan.

e) Sebagaimana Harinya, Demikianlah Perhentiannya

Ulangan 33:25 juga mengatakan, “Sebagaimana hari-harimu, demikian juga perhentianmu” (Tl.). (LAI: Selama umurmu kiranya kekuatanmu). Dalam bahasa Ibrani, kata “perhentian” di sini bukanlah kata yang biasa. Kata ini sa-ngat sulit diterjemahkan. Kata ini berarti: aman, mantap, kuat, damai, dan tenang. Ini mengacu kepada suatu kehi-dupan yang nyaman marem, kehidupan yang berkecukup-an, tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan atau di-bingungkan. Jadi Asyer mempunyai suatu kehidupan yang nyaman marem, aman, dan terjamin, dengan suplai yang serba cukup. Ini berarti sepanjang hidupnya ia tidak akan kekurangan apa-apa. Ia akan mempunyai makanan yang berlimpah untuk perawatan, senjata untuk pertahanan, dan bahan-bahan untuk pembangunan. Tanpa kekurangan, melainkan ada kecukupan, perhentian, damai, dan nyaman marem. Ia akan terus-menerus menikmati kehidupan ini.

Kecuali Anda sudah memasuki tahap kehidupan rohani seperti ini, Anda tidak akan mengerti apa yang saya bica-rakan ini. Namun tahap ini benar-benar ada. Jika Anda belum mencapai tahap ini, saya anjurkan Anda untuk maju terus. Suatu hari, Anda pasti akan memasuki wilayah yang demikian. Dalam ruang lingkup ini tidak diperlukan kege-lisahan atau kebingungan. Di sini ada keamanan, keman-tapan, dan kedamaian. Di sini tidak kekurangan suatu apa pun. Kita ada makanan, senjata, dan bahan bangunan. Ke-tika Anda telah tiba pada tahap ini, Anda tidak perlu kha-watir atau was-was akan esok hari, tidak ada kekhawatiran apa pun. Yang ada ialah perhentian yang tak putus-putus-nya dalam kelimpahan makanan, besi, dan tembaga yang kuat. Di antara kita ada beberapa orang yang telah men-capai tahap ini. Inilah kematangan hayat.

12) Tentang Naftali

a) Seperti Rusa Betina yang Terlepas

Kejadian 49:21 mengatakan, “Naftali adalah seperti rusa betina yang terlepas.” Segera setelah Asyer ada Naftali, yang bukan anak singa atau singa betina, melainkan rusa betina. Menurut teks dalam bahasa Ibrani, judul Mazmur 22 adalah rusa di kala fajar, yang menggambarkan Kristus yang telah bangkit sebagai rusa betina yang terlepas. Pada Naftali kita bukan hanya mempunyai Kristus yang menang sebagai singa, juga mempunyai Kristus yang telah bangkit sebagai rusa betina yang terlepas dan melompat lincah di puncak gunung. Tidak ada apa pun yang dapat menghalangi Dia, dan tidak perlu orang meratakan jalan-Nya. Ia adalah rusa yang telah bangkit. Karena Ia di dalam kebangkitan, maka Ia dapat melompat di atas gunung-gunung yang tinggi.

b) Mengucapkan Kata-kata Indah

Ayat 21 juga mengatakan, “Ia akan melahirkan katakata indah” (Tl.). Rusa betina yang bangkit dalam Kejadian 49 berpadanan dengan Tuhan yang bangkit dalam Matius 28. Matius 28 terlebih dulu mewahyukan bahwa Kristus telah bangkit, kemudian memberi tahu kita bahwa ketika murid-murid-Nya sedang berkumpul bersama-sama dengan Dia, Dia berpesan kepada mereka, kata-Nya, “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku . . . dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kupe-rintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Inilah mengucapkan kata-kata indah. Dalam kebangkitan, kita bisa mengucapkan kata-kata indah. Inilah kematangan hayat dalam kebangkitan. Untuk bisa mengucapkan kata-kata indah bagi Kristus, kita harus di dalam kebangkitan. Ketika kita di dalam kebangkitan, kita dengan mudah mengucapkan katakata indah bagi Tuhan.

c) Kenyang dengan Perkenanan

dan Penuh dengan Berkat TUHAN

Ulangan 33:23 mengatakan, “Naftali kenyang dengan perkenanan dan penuh dengan berkat TUHAN.” Di sini kita nampak bahwa Naftali kenyang dengan perkenanan. Perkenanan dalam Perjanjian Lama sama dengan anuge-rah dalam Perjanjian Baru. Jadi Naftali kenyang dengan anugerah. Ketika kita mengucapkan kata-kata indah di dalam kebangkitan, kita juga dikenyangkan dengan anuge-rah. Sering kali saat saya berkata-kata, saya pun kenyang dengan perkenanan, kenyang dengan anugerah. Ayat ini ju-ga mengatakan bahwa Naftali dipenuhi dengan berkat Tuhan. Ia kenyang dengan anugerah dan penuh dengan berkat. Inilah kemenangan dan kematangan hayat dalam kebang-kitan. Ketika kita berbicara bagi Kristus, merawat orang lain, kita sendiri dikenyangkan dengan anugerah dan penuh dengan berkat.

d) Memiliki Tasik dan Wilayah Sebelah Selatan

Ulangan 33:23 juga mengatakan, “Milikilah tasik dan wilayah sebelah selatan.” Hasil dari mengucapkan kata-kata indah dalam kebangkitan, kenyang dengan perkenan-an, dan penuh dengan berkat, ialah memiliki wilayah sebelah barat dan selatan. Naftali memiliki wilayah sebelah barat berarti memiliki Laut Tengah; Laut Tengah terletak di sebelah barat dari tanah permai yang merupakan bagian Naftali. Karena itu, ada beberapa terjemahan menerjemah-kan “tasik” dalam ayat ini sebagai “sebelah barat”. Sebenar-nya ini ditujukan kepada laut (tasik), sebab laut terletak di sebelah barat tanah permai. Kata “selatan” menandakan da-ratan. Laut, wilayah barat, menandakan dunia orang kafir, dan selatan, daratan, menandakan dunia orang Yahudi. Maka, memiliki laut dan darat berarti memiliki dunia orang kafir dan dunia orang Yahudi. Dengan kata lain, Naftali akan memiliki seluruh bumi.

Untuk memperoleh seluruh bumi, kita harus memulai dari Ruben, menyusuri Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, dan Asyer, hingga kita tiba pada Naftali. Setelah kita menjadi Naftali, kita niscaya memiliki wilayah sebelah barat dan selatan, laut dan darat. Kita akan memenuhi syarat dan diberi kuasa untuk memiliki bumi. Alangkah mengagumkan! Ketika kita menjadi Naftali, mudahlah bagi kita untuk memiliki bumi, karena kita mengucapkan kata-kata indah di dalam kebangkitan, dan kita kenyang dengan perkenanan serta penuh dengan berkat. Jadi, kita siap memiliki lautan dan daratan, dunia orang kafir dan dunia orang Yahudi. Kita siap memiliki bumi.