Berita Keseratus Tiga
MAKNA ROHANI DARI DAN, GAD, ASYER, DAN NAFTALI
Dalam berita ini saya mempunyai beban untuk memberikan tambahan yang berkaitan dengan makna rohani dari Dan, Gad, Asyer, dan Naftali. Dari satu sudut, saya lebih menyukai kelompok ini daripada kelompok yang mencakup suku Yehuda. Kelompok Yehuda merupakan kelompok yang kedua, sedangkan kelompok ini merupakan kelompok ketiga, dan tentu saja lebih maju. Telah kita lihat bahwa antara kelompok kedua dan ketiga ini ada mata rantai yang menghubungkan satu sama lainnya. Yehuda adalah anak singa dan singa betina (49:9). Dan adalah anak singa, sedangkan Gad adalah singa betina (Ul. 33:22, 20). Jadi kedua gambar ini, yaitu anak singa dan singa betina, telah menghubungkan kelompok ketiga dengan kelompok kedua.
Ketika saya masih muda, saya sering mempelajari Kejadian 49. Sering kali saya merasa bahwa perkataan-perkataan ini tidak begitu bermakna. Misalnya, ayat 21 mengatakan bahwa Naftali seperti rusa betina yang terlepas dan ia mengucapkan kata-kata indah (Tl.). Saya tidak dapat memahami bagaimana seekor rusa betina yang terlepas dapat mengucapkan kata-kata indah. Rusa betina dan kata-kata indah ini bagi saya tidak ada kaitannya satu dengan yang lainnya. Lagi pula saya heran bagaimana rusa betina dapat berkata-kata. Akibatnya, dalam jangka waktu yang sangat lama, saya tidak begitu memperhatikan Kejadian 49 ini. Namun, ketika kita menelusuri makna rohani pasal ini, kita tampak betapa bermaknanya semua ini. Dalam berita keseratus, kita telah tampak perhentian dalam kenikmatan atas kelimpahan hayat Kristus. Kita tampak bahwa kita perlu menambatkan keledai kita pada pohon anggur dan mencuci pakaian kita dalam anggur. Jika kita berbuat demikian, pastilah mata kita akan merah karena anggur dan gigi kita akan putih karena susu (Kej. 49:11-12). Mungkin seorang saudara bertanya kepada yang lainnya, “Sudahkah Anda menambatkan keledai Anda pada pohon anggur?” Yang lain mungkin menjawab, “Saudara, sudahkah Anda mencuci pakaian Anda dalam anggur?” Kemudian saudara yang pertama bertanya pula, “Sudahkah mata Anda merah karena anggur?” Yang kedua lalu memberi respons, “Sudahkan gigi Anda putih karena susu?” Orang-orang luar mungkin mengira ini rahasia, kata-kata sandi dari orang-orang gereja. Entah apa yang dikatakan oleh orang-orang luar itu, semua pepatah baru ini sangat berarti bagi kita! “Tambatkan keledai Anda pada pohon anggur!” “Cucilah pakaian Anda dalam anggur!” Saya menginginkan mata saya merah karena anggur dan gigi saya putih karena susu. Agar semua ini tercapai, pertama-tama kita harus mengaso di dalam Kristus, kemudian mencelup seluruh diri kita dan tingkah laku kita ke dalam kelimpahan hayat Kristus. Dengan demikian kita akan mengalami pengubahan, penampilan kita akan berubah. Mata kita akan merah karena anggur, dan gigi kita putih karena susu. Ini menandakan kita sudah cukup sehat, sanggup menerima firman Allah, bahkan mampu mengutarakan firman Allah kepada orang lain.
Urutan keempat kelompok dalam pasal 49 ini sangat menakjubkan. Urutan ini cocok sekali dengan sejarah gereja maupun pengalaman rohani kita. Pertama-tama ada Ruben, mengiaskan kita mula-mula sebagai orang-orang berdosa. Setelah Ruben, Simeon, dan Lewi, tampillah Yehuda. Ini melambangkan Kristus telah datang sebagai Singa yang menang. Setelah Yehuda, Zebulon, dan Isakhar terdapat kejatuhan Dan. Kejatuhan Dan ini bukan sekadar kegagalan, lebih-lebih kemurtadan. Setelah kemurtadan Dan, menyu-sullah pemulihan Gad, keserbacukupan Asyer, dan penggenapan Naftali. Dalam sejarah gereja, kita juga tampak kemurtadan, pemulihan, keserbacukupan, dan penggenapan. Jika hari ini kita belum bisa melihat penggenapan ini, kita yakin bahwa kita akan melihatnya pada generasi yang akan datang, khususnya pada zaman langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru. Naftali akan digenapkan dengan sempurna bila Yerusalem Baru dimanifestasikan dalam langit baru dan bumi baru. Yerusalem Baru akan menjadi Naftali yang kekal. Keempat hal ini: kemurtadan, pemulihan, keserbacu-kupan, dan penggenapan, sejajar pula dengan pengalaman kristiani kita. Setelah kejatuhan, kemurtadan, kita mengalami pemulihan; berikutnya ialah keserbacukupan dan penggenapan. Kita telah tampak hal-hal ini dalam pemulihan Tuhan. Dalam segenap tahun-tahun pemulihan, kita ada bersama Yehuda, menambatkan keledai pada pohon anggur, dan mencuci pakaian dalam anggur. Mata kita merah karena anggur dan gigi kita putih karena susu. Akan tetapi, kemurtadan Dan tiba-tiba muncul. Setelah itu, menyusullah pemulihan yang dibawakan oleh Gad.
I. KEMURTADAN DAN
A. MELALUI HAYAT KEMENANGAN KRISTUS BEROLEH LEBIH BANYAK KRISTUS
Dan merupakan kelanjutan Yehuda, karena Yehuda adalah singa, sedangkan Dan adalah anak singa. Sebagai lanjutan Yehuda, Dan berhasil memperoleh lebih banyak Kristus melalui hayat kemenangan-Nya (Ul. 33:22; Yos. 19:47; Hak. 18:27-29).
B. MENYENDIRI DAN MERDEKA
Karena Dan berhasil dan menang, ia berubah menjadi sombong, menyendiri, dan merdeka. Ia hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak mau tahu orang lain. Seperti yang dikatakan dalam Hakim-hakim 18:30, “Bani Dan menegakkan bagi mereka sendiri patung pahatan itu.”
C. MENDIRIKAN PUSAT PENYEMBAHAN YANG MEMECAH-BELAH, MENTAHBISKAN “IMAM-IMAM” UPAHAN
Kemurtadan Dan ialah mendirikan pusat penyembahan lain yang memecah-belah (Hak. 18:30-31; 17:9-10; 1 Raj. 12:26-31; 2 Raj. 10:29). Dengan cara yang memecah-belah ini Dan mendirikan suatu pusat yang tampaknya seolah menyembah Allah. Tidak sedikit orang yang menggunakan perkara penyembahan Allah sebagai suatu selubung atau kedok untuk mendirikan pusat yang terpisah. Mungkin ada yang membela “Apa salahnya melakukan hal seperti itu untuk menyembah Allah? Bukankah lebih baik mendirikan pusat penyembahan daripada pergi ke gedung bioskop?” Menurut sejarah Perjanjian Lama, generasi demi generasi tidak ada sesuatu yang lebih berdosa, lebih mencelakakan umat Allah daripada perbuatan Dan yang mendirikan pusat penyembahan yang memecah-belah ini. Dalam Ulangan 12, 14, 15, dan 16, melalui Musa paling sedikit ada lima belas kali Allah berpesan kepada bani Israel untuk tidak mempersembahkan kurban bakaran mereka di tempat-tempat menurut pilihan mereka sendiri. Mereka diperintahkan agar pergi ke satu-satunya tempat yang telah dipilih Tuhan bagi nama-Nya dan kediaman-Nya. Ulangan 12:13-14 mengatakan, “Hati-hatilah, supaya jangan engkau mempersembahkan kurban-kurban bakaranmu di sembarang tempat yang kaulihat; tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN di daerah salah satu sukumu, di sanalah harus kaupersembahkan kurban bakaranmu, dan di sanalah harus kaulakukan segala yang kuperintahkan kepadamu.” Allah seolah berfirman, “Ketika kamu memasuki tanah permai, jangan sekali-kali mempersembahkan kurban bakaranmu di sembarang tempat yang menurut selera kamu sendiri. Kamu harus pergi ke satu-satunya tempat, yang telah Kupilih bagi nama-Ku dan kediaman-Ku. Kamu tidak berhak memilih tempat-tempat lain. Kamu harus pergi ke satu-satunya tempat itu. Hanya pusat itu yang akan memelihara umat-Ku dalam keesaan.” Berkali-kali Musa menyampaikan pesan ini kepada orang Israel. Bagi tempat yang unik inilah, yakni tempat yang Allah pilih untuk nama-Nya dan untuk kediaman-Nya, Musa berpesan dan berpesan lagi kepada umat-Nya. Alasan Allah menyuruh Musa menyuarakan perintah ini berulang-ulang ialah agar dapat memelihara keesaan umat-Nya.
Setelah orang Israel memasuki tanah permai, tabernakel (Kemah), rumah Allah, berada di Silo (Hak. 18:31). Selama Kemah ada di Silo, maka Silo adalah satu-satunya tempat menyembah Allah. Sebagai pusat yang tunggal, pastilah Silo merupakan tempat yang memelihara keesaan umat Allah. Akan tetapi, Dan mendirikan pusat lain di wilayah bagian utara, sehingga menimbulkan perpecahan yang pertama di antara orang Israel. Demikianlah umat Allah terpecah, bukan karena gedung bioskop, melainkan karena pusat penyembahan. Hari ini, orang-orang Kristen memaafkan dirinya dengan alasan, “Di sini kita melakukan penyembahan terhadap Allah. Apa salahnya? Allah tidak sempit, Dia itu Mahaada. Ia ada bersama-sama kalian di tempat kalian. Ia pun ada di sini menyertai kami juga. Tentunya Allah tidak sesempit kalian. Allah itu Mahahadir. Mana mungkin kalian bisa membatasi-Nya pada tempat tertentu?” Namun, untuk memelihara keesaan umat-Nya, Allah justru rela dibatasi. Kebanyakan orang Kristen hari ini terlalu bebas. Seperti suku Dan, mereka mengira boleh bebas mendirikan pusat penyembahan lain.
Hakim-hakim 18:30 mengatakan, “Bani Dan menegakkan bagi mereka sendiri patung pahatan itu.” Di sini kita tampak bahwa bani Dan melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri. Mereka tidak memperhatikan suku-suku lainnya. Jadi, sumber kemurtadan mereka ialah tidak mau memperhatikan saudara-saudara mereka. Tidak memperhatikan bagian-bagian lain dari Tubuh adalah sumber kemurtadan. Kemurtadan ini menyelinap masuk dalam kedok menyembah Allah. Demikian juga pada prinsipnya hari ini. Banyak orang Kristen mendirikan pusat-pusat lain, bukan untuk berjudi atau dansa-dansi, melainkan untuk menyembah Allah. Tampaknya hal ini sangat positif, tetapi sebenarnya berdasarkan diri sendiri dan untuk diri sendiri. Setiap pusat perpecahan pastilah didirikan untuk kepentingan pribadi seseorang. Praktik semacam ini bukan hanya menimbulkan perpecahan, juga menimbulkan persaingan.
Seandainya Dan tidak mendirikan pusat penyembahan lain, dengan sendirinya Silo akan menjadi tempat penyembahan satu-satunya, tidak akan ada persaingan. Tidak peduli berapa jauhnya tempat orang-orang Israel dari Silo, mereka harus pergi menyembah ke sana. Setelah Dan mendirikan pusat penyembahan di wilayah sebelah utara, ia men-jajakan dan melariskan barang dagangannya dengan alasan “mempermudah”. Ia boleh jadi berkata, “Kalian tidak perlu bersusah payah ke Silo. Lihat, kami menyembah Allah di sini, di dekat kalian.” Sebuah kelompok yang memecah-belah di New York telah melakukan perkara yang mirip dengan ini. Beberapa orang dari kelompok ini menelepon seorang saudari tua, “Mari berhimpun bersama kami. Kami menggunakan bahasa Mandarin, dan mengandung selera orang China. Di Amerika Serikat sulit memiliki selera orang China. Mari gabung dengan kami serta bersama-sama menikmati selera orang China ini.” Inilah cara yang mereka pakai untuk mempromosikan barang-barang dagangan mereka yang murah dan memecah-belah itu.
Sama seperti bani Israel, semua orang Kristen seharusnya menjadi satu, dan dalam hal menyembah Allah pun seharusnya hanya mempunyai satu pusat. Tetapi suku Dan telah menggunakan lokasi pusat penyembahan yang mudah dicapai untuk membujuk tetangga mereka berhimpun dan menyembah Allah bersama mereka. Jika Anda ini tetangga suku Dan, dan salah seorang dari antara mereka berkata kepada Anda, “Saudara, mengapa begitu tolol menempuh perjalanan jauh ke Silo? Kita tetap bisa menyembah Allah di sini saja. Mengapa tidak mau berhimpun bersama kami saja?” Inilah persaingan. Hari ini, tidak jarang persaingan seperti ini terjadi di kalangan kekristenan. Masing-masing kelompok kekristenan berupaya mempromosikan dagangan-nya. Ini berdosa. Alangkah memalukan melihat persaingan-persaingan semacam ini di kalangan orang-orang Kristen hari ini!
Ada orang yang membantah kita, “Mengapa kalian memisahkan diri dari yang lain?” Tentu saja Silo terpisah dari tempat-tempat lainnya. Silo itu hanya satu. Hari ini orang-orang berkata, “Mengapa kalian menyebut diri sendiri gereja, dan menyebut yang lain bukan gereja?” Inilah jawaban kita, “Silo adalah Silo. Tempat lain bukanlah Silo. Di bumi ini hanya ada satu Silo. Kelompok-kelompok lainnya tidak menyebut dirinya gereja. Mereka justru mengambil nama-nama lain. Selama mereka masih memakai nama lain, itu menandakan mereka bukanlah Silo, malah pusat penyembahan yang memecah-belah.”
Hakim-hakim 18:31 mengatakan, “Demikianlah mereka menempatkan bagi mereka sendiri patung pahatan yang telah dibuat Mikha itu, dan patung itu ada di sana selama rumah
Allah ada di Silo.” Kalimat “selama rumah Allah ada di Silo” menunjukkan suatu persaingan. Setelah Dan mendirikan sebuah pusat perpecahan yang bersaingan dengan Silo, pusat ini tidak pernah disingkirkan. Berapa lama Kemah Pertemuan di Silo, selama itu pula patung pahatan berada di Dan. Ini mengisyaratkan adanya persaingan. Kemudian di Yerusalem didirikan sebuah Bait Suci sebagai kelanjutan Kemah. Setelah bait ini dibangun oleh Salomo, Yerobeam yang merupakan generasi berikutnya mendirikan pula di Dan berhala yang lebih kukuh, sehingga bersaing dengan Bait Allah di Yerusalem (1 Raj. 12:26-31). Yerobeam khawatir kalau-kalau umat-Nya yang menyembah ke Yerusalem akan berpaling kepada Rehabeam, raja Yehuda (1 Raj. 12:27). “Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: ‘Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.’ Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan” (1 Raj. 12:28-29). Yerobeam seakan-akan berkata kepada umat, “Kalian tidak perlu pergi ke Yerusalem. Di sini kita telah mempunyai pusat penyembahan.” Ia berbuat demikian dikarenakan takut kehilangan kerajaannya. Jadi, persaingan Dan dengan Yerusalem semakin menghebat. Mula-mula Dan bersaing dengan Kemah di Silo; kemudian ia bersaing dengan Bait Suci di Yerusalem.
Dalam Perjanjian Lama, kita tampak bahwa pada mulanya patung pahatan di Dan bersaing dengan Kemah di Silo. Kemudian persaingan antara lembu emas di Dan dengan Bait Suci di Yerusalem. Setelah Bait Allah dibangun dengan kukuhnya, berhala di Dan juga menjadi lebih kukuh. Kemah di Silo dan patung pahatan di Dan, keduanya didirikan oleh orang-orang biasa. Namun, Bait Suci di Yerusalem didirikan oleh Raja Salomo, demikian pula pusat perpecahan diperkuat oleh Raja Yerobeam. Ini merupakan gambar persaingan yang sangat jelas. Sama dengan keadaan hari ini. Begitu gereja dibangun dengan lebih kuat, denominasi-denominasi pun menjadi lebih kuat. Penguatan denominasi adalah untuk bersaing dengan gereja. Cepat atau lambat, pasti ada lagi kelompok-kelompok lain yang ingin bersaing dengan pemulihan Tuhan. Mula-mula mereka mungkin akan menentang dan mengkritik kita, tetapi kemudian mereka akan meniru kita dan bersaing dengan kita. Lima belas tahun yang lalu istilah seperti Roh pemberi-hayat dan roh manusia tidak pernah terdengar di kalangan orang-orang Kristen di Amerika Serikat. Tetapi akhir-akhir ini, bahkan sebuah surat kabar yang diterbitkan oleh aliran karismatik tertentu juga ikut menggunakan istilah-istilah pemulihan Tuhan.
Kita perlu memahami makna yang tepat dari kemurtadan. Kemurtadan berarti menyimpang dari jalan yang tepat dalam mengikuti Allah. Kemurtadan berarti menyembah Allah dengan cara setani. Kapankala seseorang menggunakan jubah menyembah Allah sambil menempuh jalan Iblis, berarti ia telah jatuh ke dalam kemurtadan. Ada gereja yang murtad sama sekali, karenanya, tidak salah kalau disebut gereja yang murtad. Gereja ini menyembah Allah, tetapi menyembah dengan cara setani. Orang-orang di dalam gereja ini mengaku menyembah Allah, namun sesungguhnya menyembah berhala-berhala. Mereka berlaku seperti apa yang dilakukan oleh Yerobeam, mendirikan berhala-berhala lalu berkata, “Hai Israel, lihatlah allah-allahmu.” Seolah-olah Yerobeam berkata, “Inilah allah yang harus kalian sembah.” Padahal itu bukanlah Allah, melainkan lembu emas. Jadi, kemurtadan adalah menyembah Allah dengan cara yang palsu dan setani.
Dunia kekristenan hari ini penuh dengan kemurtadan; kemurtadan ini telah bersifat universal. Banyak orang yang mengaku menyembah Allah, padahal mereka menyembah berhala-berhala. Jika Anda mengunjungi katedral, Anda akan menemukan orang-orang menyembah berhala-berhala pada dinding-dinding serta menyalakan lilin-lilin bagi orang-orang yang disebut orang-orang suci.
Menurut pengakuan, mereka menyembah Allah dan Yesus; tetapi pada hakikatnya, mereka menyembah berhala-berhala. Menurut G.H. Pember, salah satu di antara berhala yang ada dalam gereja tersebut adalah milik agama berhala lain yang telah diasimilasikan ke dalam aliran kekristenan tersebut. Alangkah murtadnya ini!
Ungkapan “bagi mereka sendiri” pada Hakim-hakim 18:30 sangatlah bermakna. Banyak orang mengaku menyembah Allah, tetapi faktanya mereka itu bertindak bagi kepentingan dirinya sendiri. Kemurtadan ialah melakukan sesuatu bagi diri sendiri dengan mengenakan jubah menyembah Allah. Yerobeam sama sekali tidak menaruh hati kepada Allah. Hatinya hanya untuk kerajaannya sendiri yang kecil. Hatinya khawatir kalau-kalau kerajaannya akan kembali ke rumah Daud (1 Raj. 12:26). Nama Allah dijadikan jubah atas segala usahanya yang bertujuan melindungi kerajaannya. Inilah kemurtadan. Dunia kekristenan hari ini merupakan suatu kemurtadan. Banyak orang yang merias dirinya dengan nama Yesus Kristus dan bersembunyi di bawah kedok menyembah Allah untuk perkaranya sendiri. Inilah alasan Tuhan mengadakan pemulihan. Pemulihan Tuhan selalu melukai hati orang lain. Selama pemulihan ada di sini, kelompok-kelompok pemecah pasti dipersalahkan. Selama Bait Suci ada di Yerusalem, pasti lembu emas berada di bawah penghukuman. Mungkinkah Dan mengasihi Yerusalem? Tidak mungkin. Antara Dan dan Yerusalem tidak mungkin akan terjadi perdamaian. Sering kali orang-orang datang kepada saya dan menganjurkan, “Saudara Lee, janganlah terlalu keras. Mengapa tidak bersikap lembut sedikit?” Jawab saya, “Kepada siapa saya harus bersikap lembut? Kepada ular? Kepada ular beludak? Kepada patung pahatan? Kepada lembu emas? Saya benci lembu emas, saya ingin membakar patung pahatan, saya ingin meremukkan kepala ular beludak.” Bagaimana mungkin kita bisa beramah-tamah dengan kemurtadan hari ini? Tidak akan pernah ada kompromi. Jangan sekali-kali mencoba berkompromi dengan ular dan ular beludak. Jika Anda beramah-tamah dengan ular, Anda pasti akan diracuninya. Mencoba bersikap lembut terhadap kemurtadan hari ini pasti akan menderita kerugian. Kesaksian adalah kesaksian, dan kemurtadan adalah kemurtadan. Di Yerusalem ada Bait Allah sebagai kesaksian-Nya, tetapi di Dan ada kemurtadan. Baik dalam sejarah gereja maupun dalam pengalaman kristiani kita, kita sudah banyak tampak perkara-perkara serupa. Mungkin sekali kita sering menyimpang dari jalan yang mengikuti Allah, bahkan jatuh ke dalam keadaan yang murtad. Kita mungkin berkata bahwa kita bekerja untuk Tuhan, padahal kita bekerja untuk sesuatu yang lain. Inilah kemurtadan.
Dan tidak mau tahu suku-suku lainnya; ia hanya memperhatikan sukunya sendiri. Setelah ia beroleh kemenangan dan mendapatkan perluasan, lalu berbuat sesuatu untuk dirinya sendiri. Inilah sumber kemurtadannya. Menurut Perjanjian Lama, Tuhan tidak pernah melupakan kemurtadan Dan. Dalam pandangan Allah, inilah dosa yang ter-jahat dalam ekonomi-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih merusak daripada perpecahan di antara umat Allah. Pusat penyembahan yang memecah belah itu sering berkaitan dengan berhala, sebab Iblis justru bersembunyi di belakang berhala. Dengan mendirikan berhala, Dan menjadi ular. Kapan kala Anda menjadi pemecah, tidak peduli betapa baiknya alasan Anda, di belakang Anda pasti ada sesuatu
— ular, si licik itu. Seluruh sejarah gereja mempersaksikan hal ini, pengalaman kita juga membuktikan hal ini. Setiap kali Anda tidak memperhatikan orang lain, hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, hanya bekerja untuk diri sendiri, pasti ular itu ada di sisi Anda. Jalan terbaik untuk menghindari kemurtadan ialah memperhatikan orang lain. Seandainya Dan mau berunding dengan suku-suku lainnya dan berkata, “Saudara, apakah kalian setuju jika aku mendirikan pusat penyembahan lain di kota Dan?” Jika demikian, suku-suku lainnya tentu menjawab, “Saudara, sekali-kali jangan. Ulangan 12, 14, 15, dan 16 melarang kita mempunyai pusat penyembahan lain, kita harus datang ke tempat satu-satunya itu.” Jika Dan berkonsultasi dengan suku-suku lainnya, ia tentu terhindar dari kemurtadan. Tetapi karena sifat individualistisnya, Dan telah mendirikan pusat penyembahan lain dan jatuh ke dalam kemurtadan.
Dan jatuh ke dalam kemurtadan disebabkan ia hanya memperhatikan kepentingannya sendiri. Pada prinsipnya, semua pusat penyembahan yang bersifat memecah belah adalah sama. Orang-orang yang mendirikannya hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, keinginannya sendiri, namun mengabaikan kaum saleh lainnya. Orang-orang itu sama seperti Dan, hanya tahu mementingkan sukunya sendiri, tidak memperhatikan suku lainnya.
Dan bukan hanya mendirikan pusat perpecahan, tetapi juga mengupah “imam-imam” (Hak. 18:30; 1 Raj. 12:31). Meng-upahi orang biasa menjadi imam adalah suatu penghujatan, karena ini telah merusak ketetapan ilahi Allah. Begitu gereja jatuh, banyak orang yang belum beroleh selamat akan dibayar untuk melakukan pelayanan terhadap Allah. Inilah kemurtadan. Dalam ekonomi Allah dalam Perjanjian Baru, semua orang beriman yang sejati telah dijadikan imam-imam Allah (1 Ptr. 2:9; Why. 1:6; 5:10). Tetapi kekristenan yang telah merosot mendirikan suatu sistem, yaitu meng-upahi sejumlah orang beriman untuk melayani Allah, sehingga timbullah tingkatan paderi, dan sisanya yang lain digolongkan ke dalam kaum awam. Ini pun merupakan semacam bentuk kemurtadan. Penggolongan kaum paderi dan kaum awam juga merupakan suatu praktik kemurtadan yang harus kita benci dan kita buang.
II. PEMULIHAN GAD
A. KEMBALI KEPADA KEMENANGAN KRISTUS
Puji Tuhan, di bawah inspirasi Allah, setelah Dan, Yakub membicarakan Gad! Atas Gad kita tampak pemulihan. Setelah kemurtadan Gad, Gad datang memulihkan kemenangan yang terhilang (49:19). Kemenangan Yehuda, singa itu, telah hilang oleh kemurtadan Dan, tetapi Gad me-raihnya kembali, bahkan memperluasnya. Gad bukan anak singa, melainkan singa betina yang melahirkan anak. Ia merupakan kelanjutan dari kemenangan Yehuda dan Dan.
B. DIBERI KELAPANGAN OLEH ALLAH
Allah sangat senang akan pemulihan kemenangan Gad, maka Ia memberi kelapangan kepadanya. Ulangan 33:20 mengatakan, “Terpujilah Dia yang memberi kelapangan kepada Gad.” Gad bukan hanya diberi kelapangan oleh Allah, tetapi juga untuk Allah. Ia diberi kelapangan untuk melaksanakan kebenaran dan keadilan di antara umat Allah.
C. MEREMUKKAN MUSUH
DENGAN HAYAT PRODUKTIF KRISTUS
Gad meremukkan musuh dengan hayat produktif Kristus. Ulangan 33:20 mengatakan, “Seperti singa betina ia diam dan menerkam lengan, bahkan batu kepala.” Gad meremukkan musuh bukan sebagai singa jantan, tetapi sebagai singa betina yang melahirkan anak-anak singa. Ini memperlihatkan bahwa penghancuran yang dilakukannya terhadap musuh merupakan perkara korporat. Hal ini sama dengan kita hari ini dalam pemulihan Tuhan. Kita adalah anak-anak singa yang menghancurkan musuh secara korporat.
D. MEMPERHATIKAN SAUDARA-SAUDARA
Aspek terbaik yang ada pada Gad bukan hanya karena ia telah menghancurkan kepala musuh, tetapi juga karena ia tidak menikmati kemenangan bagi dirinya sendiri. Meskipun ia telah memperoleh tanah di sebelah timur Sungai Yordan, ia tidak menikmatinya sampai suku-suku lainnya memperoleh bagian tanah mereka. Gad pergi dengan suku-suku lainnya berperang untuk memperoleh lebih banyak tanah, sampai semua suku itu dapat memiliki bagiannya masing-masing. Perjanjian Baru menjelaskan gambar dalam Perjanjian Lama ini sebagai berikut: kita perlu senantiasa memperhatikan saudara saudari, anggota-anggota Tubuh.
Bertahun-tahun saya tidak memahami perkataan Musa dalam Ulangan 33:21. Ayat ini mengatakan, “Ia memilih bagian yang terutama, sebab di sanalah tersimpan bagian panglima; ia datang kepada para kepala bangsa itu; dilakukannya kebenaran TUHAN serta penghukuman-penghu-kuman-Nya bersama-sama dengan orang Israel.” Meskipun telah berulang-ulang saya mempelajari ayat ini, terutama bagian terakhir, yaitu mengenai para kepala, saya tetap tidak dapat memahaminya. Tetapi hari ini saya sudah mengerti ayat-ayat ini. “Bagian yang terutama” ditujukan kepada tanah di sebelah timur Sungai Yordan. Gad memilih bagian itu untuk dirinya sendiri; namun ia tidak berhenti di sana dan menikmatinya, melainkan pergi kepada para kepala bangsa, para pemimpin suku-suku lain, berperang bagi tanah yang tersisa. Di sini kita tampak adanya tindakan, pergerakan dari Tubuh. Dan hanya tahu mementingkan dirinya sendiri, tetapi Gad memperhatikan Tubuh secara korporat. Dengan ungkapan gereja hari ini, Gad itu penuh dengan perasaan Tubuh.
Penyebab kesuksesan Gad ialah ia meninggalkan kenikmatan sendiri demi memelihara Tubuh. Inilah kebenaran (keadilan) dalam pandangan Allah. Inilah pelaksanaan keadilan Tuhan. Dalam istilah Perjanjian Baru, adalah penggenapan kehendak Allah. Ketika orang-orang Israel memasuki tanah permai, kehendak Allah dalam keadilan-Nya ialah agar umat-Nya tinggal di sana. Allah bukan hanya menginginkan Gad saja, melainkan menginginkan kedua belas suku itu mendapat tempat, sehingga menjadi kerajaan-Nya yang memelihara perintah-perintah dan ketetapan-ketetapan-Nya. Ini menggenapkan kehendak Allah. Roma 12:1-2 mengatakan bahwa jika kita mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban persembahan yang hidup, kita akan dapat menyatakan apa kehendak Allah itu. Menurut Roma 12, kehendak Allah itu menghendaki adanya kehidupan Tubuh. Jadi, memiliki kehidupan Tubuh, memperhatikan keperluan orang lain, berarti melakukan kebenaran (keadilan) Allah, melaksanakan perintah-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang benar dan adil selain menaruh perhatian kepada anggota-anggota Tubuh. Tidak ada perintah yang dapat dilaksanakan tanpa melakukan kebenaran (keadilan) Allah. Perintah Allah dalam Perjanjian Baru hanya dapat dilaksanakan di dalam Tubuh Kristus, yang dibangun demi saling merawat anggota-anggota lain dalam kebenaran (keadilan).
Kegagalan Dan disebabkan ia bersifat individualistis. Kesuksesan Gad disebabkan ia bersifat korporat, bergerak bersama saudara-saudara. Dan untuk dirinya sendiri, tetapi Gad untuk semua suku. Kapan kala Anda hanya memperhatikan kepentingan rohani Anda sendiri, Anda adalah Dan. Tetapi bila Anda melupakan kepentingan rohani Anda sendiri untuk memperhatikan saudara-saudara lainnya, yaitu memperhatikan Tubuh, Anda adalah Gad. Kita harus memperhatikan Tubuh dan bergerak bersama-sama Tubuh. Dan atau Gadkah Anda? Anda hanya mementingkan lokal Anda sendiri ataukah seluruh Tubuh? Asal kita tidak memperhatikan Tubuh, kita adalah Dan hari ini, dan kita telah jatuh ke dalam suatu bentuk kemurtadan.
III. KECUKUPAN ASYER
A. BERKAT YANG MELEBIHI
DAN ANUGERAH YANG MELAMPAUI
Setelah pemulihan oleh Gad, kita memiliki kecukupan bersama Asyer. Catatan Asyer diawali dengan berkat yang melebihi dan anugerah yang melampaui. Ulangan 33:24 mengatakan, “Diberkatilah Asyer di antara anak-anak lelaki; biarlah ia disukai oleh saudara-saudaranya.” Asyer menerima berkat yang melebihi dan anugerah yang melampaui. Banyak di antara kita yang dapat memahami perkataan ini. Dalam kemurtadan Dan, kita kehilangan semua berkat dan anugerah, tetapi dalam kemenangan Gad, berkat itu dipulihkan dan anugerah diraih kembali. Sekarang di dalam Asyer, kita menikmati berkat yang melebihi dan anugerah yang melampaui.
B. SUPLAI HAYAT YANG BERLIMPAH
Pada Asyer kita juga tampak suplai hayat yang berlimpah. Pertama-tama Asyer mempunyai suplai yang berlimpah untuk kehidupan dan pertumbuhan. Kejadian 49:20 mengatakan, “Asyer, makanannya akan limpah mewah dan ia akan memberikan santapan raja-raja.” Ulangan 33:25 menunjukkan bahwa Asyer juga mempunyai suplai hayat yang berlimpah untuk berperang dan membangun. Bagian pertama ayat ini mengatakan, “Biarlah dari besi dan dari tembaga palang pintumu.” Makanan yang limpah mewah dan santapan raja-raja adalah untuk kehidupan dan pertumbuhan Asyer, sedangkan besi dan tembaga merupakan mineral untuk berperang dan membangun. Asyer benar-benar telah menerima suplai yang paling kaya limpah.
C. SUPLAI ROH YANG LIMPAH LENGKAP
BAGI PENEMPUHAN HIDUP SEHARI-HARI KITA
Asyer juga mempunyai suplai Roh yang limpah lengkap bagi penempuhan hidup setiap hari (Gal. 5:25). Ulangan
33:24 mengatakan, “Biarlah ia mencelupkan kakinya ke dalam minyak.” Ini tentu merupakan bahasa kiasan. Makna rohani mencelupkan kaki ke dalam minyak berarti penuh dengan Roh itu. Dalam pelambangan, minyak ditujukan kepada Roh Allah. Asyer bukan sekadar memiliki sedikit minyak, melainkan cukup untuk mencelupkan kakinya ke dalamnya. Ini berarti Asyer mempunyai suplai Roh yang limpah lengkap (Flp. 1:19). Oh, kita bisa berjalan di dalam minyak! Sering kali dalam pemulihan Tuhan saya dapat merasa bahwa kita berjalan di dalam minyak. Saya menyembah, bersyukur, dan memuji Tuhan sambil berkata, “Tuhan, bukan main limpahnya ini! Suplai Roh di sini sangat berlimpah! Minyak kami betul-betul limpah lengkap!” Punyakah Anda minyak yang di dalamnya Anda dapat mencelupkan kaki Anda? Ya, ada. Kita mempunyai makanan yang limpah mewah, santapan raja-raja, dan minyak yang limpah lengkap yang di dalamnya kita mencelupkan kaki kita.
D. PERHENTIAN MUTLAK
DENGAN KEDAMAIAN, KEKUATAN,
KEAMANAN, DAN KECUKUPAN
Ulangan 33:25 menyinggung tentang Asyer, “Sebagaimana hari-harimu, demikian juga perhentianmu” (Tl.). Ketika kita memiliki berkat yang melebihi dan anugerah yang melampaui, suplai hayat yang berlimpah, dan suplai Roh yang limpah lengkap, kita pasti memiliki perhentian yang mutlak dengan kedamaian, kekuatan, keamanan, dan kecukupan. Inilah pengalaman Rasul Paulus dalam Filipi 4:11-13. Ia selalu puas dalam situasi apa pun. Saya dapat bersaksi bahwa minggu ini saya benar-benar berjalan dalam minyak dan memiliki kepuasan, kedamaian, serta perhentian. Saya pun penuh dengan kekuatan. Karena itu, saya memiliki keamanan dan kecukupan. TUHAN adalah Gembala saya, maka saya tidak kekurangan apa pun (Mzm. 23:1). Bahkan saya penuh dengan kecukupan. Saya memiliki makanan yang limpah mewah, santapan raja-raja, minyak yang cukup, dan besi serta tembaga. Di mana-mana ada suplai. Karena itu, saya mantap dan aman, saya memiliki perhentian dan kekuatan. Beranikah Anda mengatakan bahwa Anda telah memiliki keamanan dan kecukupan ini? Atau apakah Anda akan mengatakan bahwa pagi ini istri Anda telah mempersulit Anda dan hampir saja Anda dibuatnya tidak tahan? Anda harus bisa mengatakan, “Pagi ini istriku mempersulit aku, tetapi puji Tuhan, aku berjalan di dalam minyak yang dalam! Sekarang aku memiliki perhentian, kedamaian, keamanan, kekuatan, dan kecukupan. Kekuatanku berlaku seumur hidupku. Sebagaimana hari-hariku, demikian pula perhentianku, keamananku, dan kecukupanku.” Inilah pengalaman Asyer.
IV. PENGGENAPAN NAFTALI
Asyer memang menakjubkan, namun ia masih belum merupakan penggenapan dari puisi nubuat Yakub yang disertai pemberkatan. Setelah Asyer muncullah Naftali (49:21). Alangkah baiknya Yakub mempunyai dua belas orang putra! Angka ini justru merupakan kecukupan yang sejati, bahkan kecukupan yang selama-lamanya. Ketika Yakub memerlukan seseorang untuk mewakili orang dosa, ia mempunyai Ruben. Ketika ia memerlukan seseorang untuk memperlihatkan watak yang jahat dan kejam, ia mempunyai Simeon. Ketika ia memerlukan seseorang untuk mengekspresikan kemenangan Kristus, ia mempunyai Yehuda. Ia pun mempunyai Dan, yang mewakili kemurtadan, Gad yang menandakan pemulihan, dan Asyer yang melukiskan kecukupan. Kini sampailah kita kepada Naftali.
A. MENGALAMI KRISTUS YANG BANGKIT,
MENGUCAPKAN KATA-KATA HAYAT YANG
INDAH DAN MENYENANGKAN
Kejadian 49:21 mengatakan, “Naftali adalah seperti rusa betina yang terlepas; ia akan mengucapkan kata-kata indah” (Tl.). Dalam nubuat pemberkatannya, Yakub telah menggunakan banyak binatang sebagai lambang: singa, singa betina, keledai, anak keledai, ular, ular beludak, dan rusa betina. Naftali bukanlah singa atau keledai, melainkan rusa betina. Kita berterima kasih kepada Allah, baik atas ciptaan-Nya maupun atas puisi Yakub. Rusa betina adalah binatang yang elok dan menyenangkan, lincah dan gesit. Meskipun rusa betina ini tidak sombong atau terlalu besar, namun dia itu sangat kuat, sanggup melompat ke atas puncak-puncak gunung. Menurut teks dalam bahasa Ibrani, judul Mazmur 22 membicarakan rusa di kala fajar. Dulu saya pernah mendengar Saudara Watchman Nee dalam sebuah beritanya mengungkapkan bahwa rusa di kala fajar ini ditujukan kepada Kristus yang telah bangkit. Mazmur 22 pertama-tama membicarakan Kristus mati di atas salib. Kemudian mulai dari ayat 23 mengatakan tentang kebangkitan-Nya. Mazmur 22:23 mengatakan, “Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah.” Ini menunjukkan bahwa dalam kebangkitan-Nya, Kristus memasyhurkan nama Bapa kepada saudara-saudara-Nya dan memuji-muji-Nya di tengah-tengah jemaah, yakni gereja. Jadi mazmur ini berakhir dengan munculnya kebangkitan Kristus laksana rusa di kala fajar. Kebangkitan jelas merupakan fajar, dan Kristus dalam kebangkitan-Nya adalah rusa di kala fajar.
Kejadian 49:21 mencatat bahwa sebagai rusa betina, Naftali mengungkapkan kata-kata indah. Ketika saya masih muda, saya tidak mengerti hubungan rusa dengan kata-kata indah. Keduanya sepertinya sama sekali tidak berkaitan satu sama lain. Tetapi sekarang kita dapat tampak makna atas hal ini dari pengalaman rohani kita. Ketika kita mengalami Kristus sebagai persona yang dibangkitkan, kita akan dipenuhi hingga meluap-luap dengan kata-kata yang indah. Bukan lagi gosip atau gunjingan yang keluar dari kita, melainkan air hidup yang keluar melalui perkataan yang kita ucapkan. Ini berarti semua perkataan Anda akan menjadi sungai yang mengalirkan Kristus yang telah dibangkitkan. Dalam Matius 28 dan Kisah Para Rasul 2 kita tampak bahwa pengutaraan kata-kata yang indah berhubungan erat sekali dengan Kristus yang telah bangkit. Setelah Kristus bangkit, Ia memberi tahu murid-murid-Nya untuk datang kepada-Nya di suatu bukit, dan di sana Ia menyuruh mereka pergi memberitakan bukan dengan perkataan alamiah mereka, melainkan dengan Kristus yang telah bangkit sebagai perkataan mereka (Mat. 28:16, 18-20). Jadi, pada hari Pentakosta, Petrus berdiri mengucapkan kata-kata yang indah (Kis. 2:32-36). Pemberitaan Petrus pada hari itu membuktikan bahwa ia telah mengalami Kristus yang telah bangkit. Karena ia telah mengalami Kristus yang telah bangkit, maka giginya menjadi putih.
Kata-kata yang limpah, kata-kata yang menyenangkan, kata-kata yang indah, kata-kata sukacita dan hayat — semuanya berasal dari pengalaman terhadap Kristus yang telah bangkit. Semakin kita mengalami Kristus sebagai Sang kebangkitan, semakin banyak kita memiliki sesuatu untuk dikatakan. Kita tak akan berdiam diri. Setiap orang yang mengalami Kristus sebagai Sang kebangkitan akan meluap-luap dengan kata-kata yang indah. Ini bukan berarti kita akan menjadi cerewet. Bukan, ini berarti karena kita dipenuhi dengan Kristus, maka kita memiliki aliran, selalu ada saja sesuatu untuk dikatakan. Kristus adalah perkataan Allah, perkataan hayat, dan perkataan Roh. Saya dipenuhi dengan Kristus yang telah bangkit ini, karena itu saya memiliki banyak perkataan untuk diucapkan. Prinsipnya di sini ialah kita selalu mengalirkan apa yang memenuhi batin kita. Apa yang kita ucapkan berasal dari kelimpahan batin kita. Ketika batin kita dipenuhi dengan Kristus, kita harus menyalurkannya agar jangan sampai meledak. Sekarang kita dapat memahami mengapa Naftali, rusa betina yang terlepas, mengucapkan kata-kata indah. Karena ia telah mengalami Kristus, maka ia dipenuhi dengan kata-kata yang indah.
B. DIPUASKAN DENGAN ANUGERAH ALLAH,
PENUH DENGAN BERKAT ALLAH
Ulangan 33:23 mengatakan, “Naftali kenyang dengan perkenanan dan penuh dengan berkat TUHAN.” Perkenanan dan berkat di sini menghubungkan Naftali dengan Asyer, yang lebih diberkati di antara anak-anak lelaki dan lebih disukai di antara saudara-saudaranya. Dalam pemulihan Tuhan, setiap hari kita dikenyangkan dengan anugerah yang berlimpah dan dipenuhi dengan berkat Allah. Berkat ini bukan ditujukan kepada berkat materi, melainkan berkat di dalam Roh, berkat di dalam hayat, berkat surgawi. Sungguh besar anugerah yang telah kita kecap dan sungguh banyak berkat yang telah kita nikmati sejak menempuh hidup gereja! Kita semua dapat bersaksi bahwa dalam pemulihan Tuhan kita dipuaskan dengan anugerah yang berlimpah dan penuh dengan berkat yang kaya limpah (1 Kor. 15:10; 2 Kor. 13:13).
C. MEMILIKI BUMI BAGI TUHAN
Ulangan 33:23 juga mengatakan tentang Naftali, “Milikilah tasik dan wilayah sebelah selatan.” Naftali akan memiliki wilayah sebelah barat, lautan, yaitu dunia orang kafir; dan wilayah sebelah selatan, daratan, yaitu bangsa Israel. Ini berarti Naftali akan memiliki bumi. Kristus yang telah bangkit yang kita alami akan memiliki bumi. Pada akhir Mazmur 22, kita tampak bahwa Kristus yang telah bangkit akan memperoleh bangsa-bangsa. Mazmur 22:28 mengatakan, “Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.” Semua bangsa akan takluk kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, dan menyembah Dia. Naftali yang mengalami Kristus yang telah dibangkitkan akan memiliki lautan dan daratan. Ketika kita benar-benar mengalami Kristus di dalam kebangkitan, niscayalah kita menjadi orang-orang yang akan memiliki bumi melalui memberitakan Kristus (Mat. 28:19; Kis. 1:8; Rm. 15:19).