← Daftar isi Kejadian (7) · bab 8/14

DIMATANGKAN MANIFESTASI KEMATANGAN (3)

Dalam berita ini kita akan melanjutkan judul tentang Yakub bernubuat dengan memberkati (49:1-28). Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa kata-kata nubuat ini memang diucapkan oleh seseorang, namun ini justru merupakan firman Allah. Yakub telah menjadi matang, telah bersatu dengan Allah, maka apa yang diucapkan olehnya adalah firman Allah. Sebagian besar orang Kristen tidak memahami Kejadian 49. Kira-kira lima puluh tahun-an yang lalu, saya mulai mempelajari pasal ini. Saya menemukan bahwa tidak mudah untuk mempelajari arti yang tercantum di sini. Pasal ini sangat penting, karena pada hakekatnya pasal ini merupakan kesimpulan Kitab Kejadian.

Menurut catatan Kitab Kejadian, umat manusia dimulai dengan Adam dan berkelanjutan dengan Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub. Akhirnya, Yakub tidak lagi seorang diri, karena ia telah menjadi ayah dari keluarga yang dipilih Allah. Rumah ini, rumah Yakub (46:27), terutama terdiri atas kedua belas anak Yakub. Kemudian, kedua belas anak ini menjadi dua belas suku bangsa Israel. Ini menunjukkan bahwa maksud hati Allah ialah menginginkan sebuah rumah, bukan masing-masing individu. Rumah Israel melambangkan gereja, yaitu rumah Allah hari ini. Dalam Perjanjian Lama terdapat sebuah rumah, yakni rumah Israel; dalam Perjanjian Baru juga terdapat sebuah rumah, yakni gereja Allah yang hidup (1 Tim. 3:15).

Apa pun yang dikatakan tentang rumah Israel, itu adalah lambang, gambar, dan bayang-bayang gereja. Ketika saya berkumpul bersama guru-guru Brethern (Kaum Saudara), mereka memberi tahu saya untuk memisahkan bagian-bagian Alkitab yang ditujukan kepada anak-anak Israel dengan yang ditujukan kepada gereja. Di satu aspek, ini memang benar, kita tidak boleh mencampur aduk firman Allah tentang rumah Israel dengan firman-Nya tentang gereja. Tetapi karena gereja itu merupakan suatu entitas (perwujudan) rohani, maka kita sulit memahaminya. Karena itu, kita perlu gambar rumah Israel yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Alkitab menggunakan lambang-lambang dan gambar-gambar untuk menjelaskan hal-hal rohani, ini adalah satu prinsip. Apa saja yang rohani itu adalah misterius. Sebagai contoh, Yerusalem Baru itu rohani dan misterius, karena itu Alkitab menggunakan sebuah kota untuk melukiskannya. Demikian pula tanpa adanya gambar rumah Israel, kita akan sulit memahami gereja dengan memadai. Dengan mempelajari gambar dalam Perjanjian Lama, kita dapat memahami banyak aspek tentang gereja yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Jadi, apa yang dikatakan tentang orang Israel bukan sekadar untuk mereka; juga untuk kita.

Berdasarkan prinsip penggunaan lambang dan gambar untuk menjelaskan realitas rohani, kita harus menerapkan pada diri kita semua yang dikatakan tentang kedua belas suku Israel. Secara jasmani, kita jelas bukan tergolong kedua belas suku Israel; namun secara rohani, kita adalah kedua belas suku itu, karena mereka adalah gambar kita. Jika kita ingin mengenal diri kita, kita harus melihat foto diri kita dalam kedua belas suku ini. Jangan mengira bahwa nubuat dalam Kejadian 49 hanya berhubungan dengan anak-anak Yakub. Nubuat-nubuat ini mungkin justru lebih ditujukan kepada kita daripada kepada kedua belas anak Yakub.

Angka dua belas terbentuk dari tiga kali empat. Mulamula, Yakub menubuatkan tentang ketiga anaknya yang pertama, yaitu Ruben, Simeon, dan Lewi (ayat 3-7). Ketiga saudara ini pun terbagi: Ruben berdiri sendiri, Simeon dan Lewi digabung menjadi satu. Menurut aktivitas mereka, Simeon dan Lewi adalah satu.

Sebelum kita meneliti aspek-aspek penting dalam nubuat Yakub tentang Ruben, Simeon dan Lewi, saya ingin menunjukkan bahwa menurut nubuat Yakub yang disertai pemberkatan, status dan sifat alamiah kita mungkin saja berubah. Boleh jadi Anda dilahirkan baik. Namun jangan bangga dengan kebaikan itu, karena Anda bisa menjadi buruk. Bila Anda dilahirkan buruk, Anda tidak perlu kecewa. Sebaliknya, Anda harus beriman bahwa Anda bisa menjadi baik. Ini adalah suatu peringatan, juga suatu dorongan. Sebagai anak sulung, Ruben memiliki hak utama. Tetapi ia kehilangan hak itu; status alamiahnya, status sejak lahirnya telah berubah. Kita tidak perlu putus asa, namun janganlah bangga diri. Kita harus waspada agar jangan kehilangan hak kesulungan kita.

Di samping itu, meskipun Anda sebetulnya bukan dilahirkan sebagai yang pertama, Anda masih ada kemungkinan menjadi anak sulung. Yusuf dilahirkan sebagai yang kesebelas, namun akhirnya ia menjadi yang pertama. Dalam Alkitab terdapat banyak perkara peralihan hak kesulungan, yakni beralih dari yang pertama kepada yang kedua. Mendengar perkataan ini, orang yang berpikiran akan mengatakan, “Aku bukan dilahirkan sebagai yang pertama atau yang kedua, melainkan sebagai yang kesebelas. Biarpun berapa kali hak kesulungan itu beralih, tentunya tidak akan beralih kepadaku.” Harus beriman, harus terdorong. Boleh saja Anda nomor sebelas, Allah tetap ada jalan untuk menjadikan Anda nomor satu. Ia pernah melakukan hal ini pada diri Yakub. Ingat, status alamiah Anda dapat berubah baik atau berubah buruk. Jangan menyalahkan Allah, Ia mungkin berkata, “Anak yang terkasih, bacalah lagi Kejadian 49. Meskipun kelahiranmu nomor sebelas, namun statusmu dapat berubah menjadi nomor satu.”

Bertahun-tahun ini, saya selalu berkata kepada para penatua tentang watak mereka. Saya mengakui bahwa perkataan saya atas perkara ini berat dan tajam bagaikan pedang bermata dua yang menusuk ke dalam saudara-saudara. Para penatua bertanya kepada saya bagaimanakah mereka dapat lebih berguna, saya selalu menjawab bahwa itu tergantung pada watak mereka. Saya sering mengatakan bahwa watak alamiah mereka justru merupakan sebab utama yang membuat mereka kurang berguna. Banyak yang kecewa karena perkataan ini. Namun dalam Kejadian 49 ini terdapat kabar baik bagi mereka yang kecewa terhadap watak alamiahnya. Dari kelompok tiga orang bersaudara ini, kita tidak hanya nampak bahwa status alamiah kita dapat berubah, juga nampak bahwa watak alamiah kita dapat dipakai oleh Allah. Namun sebagaimana kita akan nampak kemudian dalam berita ini, Allah hanya dapat me-makai watak kita apabila sesuai dengan syarat tertentu.

Yakub menggabungkan Simeon dan Lewi dalam nubuatnya karena karakter dan sifat mereka itu sama. Sifat mereka tersingkapkan dalam pasal 34, yang mencatat penodaan Dina, saudara perempuan mereka, dan pembalasan mereka terhadap Hemor dan Sikhem. Simeon, Lewi, dan Dina dilahirkan oleh ibu yang sama. Itulah sebabnya saudara-saudara ini sangat mengasihi adik perempuan mereka. Ketika mereka mendengar ia dinodai, serta merta sifat mereka tersingkapkan dalam bentuk mereka membunuh semua laki-laki di kota Sikhem, dan menjarah kota itu dan bahkan memotong urat keting lembu. Alangkah kejam mereka itu! Kekejaman Simeon dan Lewi mengguncang diri Yakub. Dalam seumur hidup Yakub, belum pernah ia sedemikian ngeri seperti dalam pasal 34. Namun, dalam kedaulatan Allah, kejadian dalam pasal itu sangat membantu kematangan Yakub. Kejadian itu merupakan sinar matahari yang kuat yang membakar Yakub hingga matang. Karena itu dalam pasal 35 kita nampak perubahan yang riil dalam hidup Yakub.

Akan tetapi, Yakub tidak dapat melupakan apa yang telah dilakukan oleh Simeon dan Lewi. Karena itu, dalam 49:6, Yakub berkata kepada mereka, “Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permupakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting lembu.” Apa yang dilakukan Simeon dan Lewi telah mengguratkan kesan yang begitu dalam pada roh Yakub sehingga ia tidak dapat memberi mereka berkat apa-apa. Tetapi dalam Ulangan 33, Musa telah memberkati Lewi. Pemberkatan dalam Kejadian 49 dilakukan oleh seorang ayah yang mengasihi dan memperhatikan anaknya. Namun nubuat dalam Ulangan 33 dilakukan oleh seorang tua yang mewa-kili hukum Taurat. Semua nubuat itu menurut keputusan dari penghakiman hukum Taurat. Tetapi keputusan peng-hakiman itu penuh dengan belas kasihan, sehingga Lewi juga menerima berkat.

Meski Yakub mengasihi anak-anaknya dan sangat memperhatikan mereka, namun ia tidak dapat melakukan pemberkatan terhadap Simeon dan Lewi. Kejadian 49:5 mengatakan, “Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan.” Mengenai Simeon dan Lewi diungkapkan istilah saudara, menandakan mereka bersekongkol. Pedang mereka ialah alat kekerasan. Seperti yang telah kita singgung bahwa ayat 6 memperlihatkan kekejaman mereka. Dalam ayat 7 Yakub berkata, “Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel.” Yakub tidak mengucapkan, “Terkutuklah Simeon dan Lewi,” melainkan katanya, “Terkutuklah amarah dan berang mereka.” Mereka patut menerima kutukan, namun ayah mereka tidak mengutuki mereka, melainkan mengutuki amarah mereka dan melaksanakan hukuman atas mereka dengan membagi-bagi mereka. Cara terbaik untuk menanggulangi orang-orang yang kejam ialah menyerakkan mereka. Mengenai Simeon dan Lewi, Yakub seolah-olah berkata, “Simeon dan Lewi terlalu kejam. Mereka tidak memiliki belas kasihan atau murah hati. Benar, Hemor dan Sikhem memang berbuat salah dalam hal menodai Dina, akan tetapi itu cukup dibalas dengan membunuh mereka. Simeon dan Lewi tidak perlu membunuh semua laki-laki di kota itu serta memotong urat keting lembu mereka. Aku tidak ingin mereka tinggal bersama. Hal yang paling baik yang bisa kuperbuat adalah menyerakkan mereka.”

5) Tentang Ruben

a) Anak Sulung yang Unggul dalam Keluhuran dan Kesanggupan

Kini kita melihat perkataan Yakub tentang Ruben. Karena Ruben terusak, tercemar, penuh kuman penyakit, maka dalam nubuat Yakub yang disertai pemberkatan, ia dikucilkan dari semua saudara yang lainnya. Ayat 3 mengatakan, “Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan.” Sebagai anak sulung, Ruben unggul dalam keluhuran dan kesanggupan. Lihatlah ungkapan yang dipakai Yakub untuk melukiskan dia: “anak sulungku”, “kekuatanku”, “permulaan kegagahanku”, “yang terutama dalam keluhuran”, “yang terutama dalam kesanggupan”.

b) Kehilangan Keunggulan Hak Kesulungan karena Membual dalam Hawa Nafsu

Meskipun Ruben mempunyai keunggulan hak kesulungan, namun ia kehilangan hak itu karena kecemarannya. Ayat 4 mengatakan, “Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku!” Ruben yang melampiaskan hawa nafsu, bagaikan air yang membual, bergolak, menodai tempat tidur ayahnya. Ruben keterlaluan dalam melakukan hal itu. Pelampiasan hawa nafsu itulah yang menyebabkan ia kehilangan hak kesulungan. Yakub berkata bahwa Ruben tidak akan mempunyai keunggulan karena ia melampiaskan hawa nafsunya dengan menodai tempat tidur ayahnya. Hak kesulungan yang unggul itu dialihkan darinya.

Ketika Yakub bernubuat tentang Ruben dalam pasal 49, tidak diragukan, Yakub ingat bahwa ia telah memberi hak kesulungan kepada Yusuf (48:5-6). Yakub bukan secara mendadak memberikannya kepada Yusuf; ia pasti telah mempertimbangkan hal ini sangat lama. Menurut 48:5 Yakub berkata, “Maka sekarang kedua anakmu yang lahir bagimu di tanah Mesir, sebelum aku datang kepadamu ke Mesir, akulah yang empunya mereka; akulah yang akan empunya Efraim dan Manasye sama seperti Ruben dan Simeon.” Tidak hanya demikian, dalam 48:22 Yakub berkata, “Dan sekarang aku memberikan kepadamu sebagai kelebihanmu dari pada saudara-saudaramu, suatu punggung gunung yang kurebut dengan pedang dan panahku dari tangan orang Amori.” Jadi, Yusuf menerima dua bagian tanah, satu untuk Efraim dan satu untuk Manasye. Akhirnya, nubuat ini tergenap dalam Yosua 16 dan 17. Ketika tanah itu dibagi dalam undian, Yusuf menerima dua bagian. Ini bukan oleh pengendalian manusia, melainkan melalui undian yang dikendalikan oleh Allah untuk menggenapkan nubuat Yakub.

Pada butir ini saya perlu mengatakan perkataan yang berat, terutama kepada orang-orang muda. Janganlah mengira bahwa pencemaran perzinaan itu adalah perkara yang sepele. Kita ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena kita mempunyai gambar Allah, maka bahkan menurut pembentukan alamiah kita, kita adalah terhormat. Dosa-dosa lainnya mungkin tidak akan merusak tubuh kita, namun perzinaan justru langsung merusak tubuh jasmani, wadah kemuliaan kita (1 Kor. 6:18, 1 Tes. 4:4). Kita telah dilahirkan kembali, tubuh kita sekarang adalah bait Roh Kudus (1 Kor. 6:19). Kita bukan hanya mempunyai gambar Allah pada tubuh jasmani kita, tetapi setelah dilahirkan kembali, tubuh kita menjadilah bait Allah. Karena itu, Anda harus memelihara tubuh Anda secara terhormat. Tidak ada yang lebih merusak tubuh Anda daripada perzinaan. Praktek dunia hari ini benar-benar adalah perbuatan neraka, setan, Iblis. Orang-orang muda saling berhubungan tanpa batas, alangkah mengerikan! Saya ingin memperingatkan semua orang muda, juga saudara saudari muda dalam hidup gereja, harus ada batas yang ketat atas hubungan satu sama lain.

Ketika saya sebagai seorang saudara muda yang memasuki pelayanan, saya pergi ke Shanghai untuk menerima bantuan dari Saudara Watchman Nee. Pada waktu-waktu itu, Saudara Watchman Nee sering bercakap-cakap cukup lama dengan saya. Ajaran pertama yang ia berikan kepada saya sebagai seorang saudara dalam pelayanan Tuhan, ialah jangan sekali-kali berhubungan sendirian dengan seorang lawan jenis, hendaklah selalu ada orang ketiga demi perlindungan. Saya tidak pernah melupakan perkataan itu. Peringatan itu sangat membantu dan melindungi diri saya. Bersandar belas kasihan Tuhan, sepanjang tahun-tahun ini, saya terus-menerus memelihara apa yang ia katakan.

Kita adalah manusia yang telah jatuh, kita semua memiliki hawa nafsu. Tidak seorang pun dapat berdalih, dirinya tidak mempunyai hawa nafsu. Pada tahun 1930, di propinsi saya terdapat suatu pergerakan yang disebut gerakan karismatik. Sekelompok orang mengumumkan bahwa mereka telah menerima baptisan Roh Kudus, maka tidak ada lagi hawa nafsu. Laki-laki dan perempuan mulai tinggal bersama. Akhirnya praktek itu mengakibatkan perzinaan yang sangat memalukan nama Tuhan. Karena perzinaan yang terjadi di tengah-tengah kelompok ini, maka pintu Injil di daerah itu tertutup untuk jangka waktu yang sangat lama. Kira-kira 50 tahun yang lalu, hal yang sama terjadi di Korea. Banyak orang Kristen Korea yang telah mengalami apa yang disebut “pencurahan Roh” mulai berhubungan satu sama lain tanpa batas dan ternyata mengakibatkan perzinaan.

Ingat, Anda masih berada dalam daging. Bila seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sebaya berkumpul bersama, musuh akan beroleh kesempatan untuk menggoda. Pengalaman Anda yang lampau pasti meyakinkan Anda akan hal ini, karena itu tidak perlu saya banyak bicara. Jangan menganggap perzinaan adalah perkara yang remeh. Sebagaimana kita telah nampak, tidak ada yang lebih merusak tubuh jasmani Anda yang terhormat daripada perzinaan. Hari ini dalam pemerintahan Amerika ada orang yang ingin mengesahkan homoseks, alangkah memalukan! Perbuatan ini membuat negara ini menjadi Sodom.

Ruben kehilangan keunggulan hak kesulungan karena satu dosa. Hari ini keunggulan ini merupakan bagian kenikmatan yang tertinggi atas Kristus. Pembagian ganda atas tanah menandakan bagian kenikmatan yang tertinggi atas kelimpahan Kristus yang almuhit. Begitu seseorang melakukan dosa yang demikian serius dan menakutkan ini, habislah kenikmatannya yang tertinggi atas Kristus. Tidak hanya orang muda, tetapi mereka yang setengah baya juga harus mewaspadai bahayanya berada sendirian dengan seorang lawan jenis. Berbuat demikian berarti menanggung risiko besar, sebab itu akan membuka pintu bagi masuknya si licik itu. Anda tidak tahu betapa licik dan jahatnya daging Anda itu! Hawa nafsu tubuh daging kita sangat mengerikan! Jangan mempercayai diri sendiri. Jangan sekali-kali mengira diri Anda tidak mungkin melakukan hal itu. Perlindungan yang terbaik ialah memelihara nasihat yang saya terima dari Saudara Watchman Nee.

Janganlah menganggap kata-kata saya ini sebagai usulan yang kolot dari seorang China yang berasal dari Timur Jauh, sedangkan kalian hidup di tengah-tengah zaman modern di Amerika Serikat. Sebagai orang yang telah berusia lebih dari 70 tahun, saya telah menempuh berbagai macam pengalaman manusia. Terimalah peringatan saya tentang perzinaan. Dalam Perjanjian Baru berkali-kali Rasul Paulus memperingatkan bahwa orang yang berbuat zina tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah (1 Kor. 6:9-10; Gal. 5:19-21; Ef. 5:5). Nanti, dalam pelajaran hayat yang membahas Matius 5, kita akan nampak betapa Tuhan Yesus bersikap ketat dalam perkara ini. Janganlah bersikap kendur dalam hal berhubungan dengan lawan jenis. Demi nama Tuhan, demi kesaksian gereja, demi perlindungan Anda, dan demi kehormatan tubuh jasmani Anda, Anda harus mengikuti prinsip ini, jangan sendirian bersama lawan jenis. Jika Anda menuruti prinsip ini, Anda akan terjaga. Ingatlah, karena kecemarannya, maka status alamiah Ruben, yaitu status yang diterimanya dari kelahirannya telah berubah sama sekali.

c) Ada Bahaya Kematian dan Jumlahnya Berkurang

Dalam Ulangan 33:6 Musa mengucapkan nubuat tentang Ruben. Nubuat ini merupakan penghakiman menurut hukum Taurat, yang diucapkan oleh seorang tua yang berpengalaman dan bersimpati. Musa berkata, “Biarlah Ruben hidup dan jangan mati, tetapi biarlah orang-orangnya sedikit jumlahnya.” Perkataan ini mengandung arti bahwa menurut hukum Taurat, Ruben seharusnya mati. Menurut dosanya, Ruben harus mati (Yeh. 18:20). Ruben memang harus mati, tetapi Musa melaksanakan penghakiman dari hukum Taurat itu dengan penuh belas kasihan. Sebagai seorang hakim tua, ia menghakimi dua belas suku menurut hukum Taurat Allah yang adil. Namun ia menghakimi dengan penuh belas kasihan dan rasa simpati. Musa memikirkan apakah Ruben dibiarkan mati atau orang-orang sukunya jauh berkurang. Dengan ini kita nampak bahwa perzinaan selain menyebabkan kita kehilangan hak kesulungan, juga menyebabkan kita mati atau berkurang. Karena itu, kita harus melarikan diri dari perzinaan (1 Kor. 6:18).

Yusuf menerima hak kesulungan karena melarikan diri dari pencemaran yang ke dalamnya Ruben terbenam (39:7-12). Yusuf bukan dengan sengaja memasuki rumah untuk sendirian bersama istri Potifar. Ia hanya selaku seorang pelayan dalam rumah itu dan istri Potifarlah yang menggodanya. Yusuf meloloskan diri dari godaan ini. Setiap kali godaan semacam ini datang, lari adalah satu-satunya jalan untuk menghadapinya. Jangan mau berbicara atau beralasan dengan pihak lawan — lari saja. Ruben kehilangan hak kesulungan karena kecemarannya, sedang Yusuf memperolehnya karena kesuciannya. Allah itu adil, benar, dan lurus. Ruben berada di sisi yang gelap, maka ia kehilangan; Yusuf berada di sisi yang terang, maka ia mendapat. Oleh sebab Ruben tengah menghadapi bahaya mati atau paling tidak makin berkurang, maka Musa mendoakan agar ia tidak mati. Dalam hidup gereja, setiap orang yang melakukan perzinaan akan jatuh ke dalam keadaan yang sangat bahaya. Selain akan kehilangan puncak bagian kenikmatan atas Kristus, ia pun jatuh ke dalam keadaan bahaya mati atau berkurang. Inilah pengalaman Ruben.

Hak kesulungan bukan hanya terdiri atas dua bagian tanah, tetapi juga jabatan raja, dan jabatan imam. Sebagai anak sulung, Ruben seharusnya mewarisi ketiga berkat itu. Namun karena pencemarannya, ia kehilangan dua bagian tanah, juga kehilangan jabatan raja dan jabatan imam. Kita telah nampak bahwa dua bagian tanah diberikan kepada Yusuf, jabatan raja diberikan kepada Yehuda (1 Taw. 5:2), dan jabatan imam diberikan kepada Lewi (Ul. 33:8-10). Ini melambangkan jika hari ini kita membiarkan diri kita tercemar, niscayalah kita akan kehilangan dua bagian kenikmatan terhadap Kristus, jabatan raja, dan jabatan imam.

6) Tentang Simeon dan Lewi

a) Tidak Menerima Berkat karena Kekejaman Mereka

Kita telah nampak bahwa Simeon dan Lewi tidak menerima berkat karena kekejaman mereka (34:25-30). Kekejaman mereka membunuh dan merampas kota Sikhem itu begitu mengejutkan atau mengguncangkan ayah mereka, sehingga ia tidak dapat memberi mereka berkat apa pun. Pelampiasan sifat (tabiat) mereka membuat mereka kehilangan pemberkatan ayahnya.

b) Terserak di Tengah-tengah Israel

Yakub dikejutkan oleh tabiat kekejaman Simeon dan Lewi, karena itu, ia tidak menghendaki mereka tinggal bersama. Sebaliknya, ia menghakimi mereka dengan menyerakkan mereka di antara umat Israel, agar mereka tidak bisa bertindak kejam menurut tabiat mereka.

c) Simeon Dihapuskan dari Pemberkatan Musa

Simeon dihapuskan dari pemberkatan Musa yang tercatat dalam Kitab Ulangan. Menurut hukum Taurat Allah yang adil, Simeon tidak memiliki kedudukan untuk diber-kati. Dihapuskan dari catatan Allah bukanlah perkara yang sepele atau tak berarti. Simeon terlampau alamiah, tidak pernah mengekang tabiat alamiahnya. Saya yakin bahwa dialah orang yang memprakarsai rencana pembunuhan atas Yusuf. Karena itu, kali pertama saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir, Yusuf mengatur untuk memenjarakan Simeon. Ketika Simeon dipenjarakan, ia mungkin berkata kepada dirinya, “Aku tidak seharusnya melakukan hal itu kepada Yusuf.” Simeon tentu bertabiat amat kejam. Bagai-manapun tabiat kita, tidak sepatutnya kita melampiaskan-nya dengan sembrono. Simeon kehilangan semua kenikmatan atas Kristus karena pelampiasan tabiatnya. Ia perlu menda-patkan pembagian kenikmatan atas kekayaan Kristus dari orang lain, yakni bagian Yehuda yang berlimpah. Sebab “bagian bani Yehuda itu terlalu besar bagi mereka”. Simeon diserakkan di tengah-tengah bani Yehuda (Yos. 19:1, 9).

d) Lewi Menerima Jabatan Imam karena Setia kepada Tuhan

Meskipun Simeon dan Lewi adalah satu kelompok, na-mun akhirnya Lewi mengambil kesempatan untuk mengubah sifat alamiahnya. Baik Simeon maupun Lewi mempunyai sifat membunuh orang. Namun pada saat umat Israel menyembah lembu emas, sifat pembunuh pada diri Lewi digunakan oleh Allah (Kel. 32:29). Sewaktu Musa turun dari gu-nung dengan membawa loh hukum, ia nampak orang-orang sedang menyembah lembu emas, ia lalu berkata, “Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!” (Kel. 32:26). Dari semua suku, hanya satu suku, yakni suku Lewi yang berkumpul kepada Musa. Mengapa Simeon tidak menggabungkan diri bersama Lewi? Mereka bersifat sama. Namun, ketika Allah memanggil, yang satu menjawab, sedang yang lain menolak. Ini menunjukkan, meskipun kita mempunyai tabiat yang sangat buruk, itu masih mungkin dipakai oleh Allah. Tetapi ada syaratnya. Pertama, kita harus mempersembahkan diri; kedua, kita harus menggunakan sifat kita untuk menentang kegemaran atau kebencian alamiah kita, dan ketiga, kita harus menggunakan sifat kita dalam keadaan diperbaharui dan diubah. Penduduk kota Sikhem adalah musuh-musuh Lewi, hendak membunuh mereka itu mudah. Namun membunuh orang tua, saudara, anak-anak, dan sanak keluarga, sama sekali berlainan. Dalam hal ini, Anda harus menggunakan sifat Anda untuk menentang keinginan Anda dan menggunakannya dengan cara yang baru, yakni bagi Allah dan bersama Allah. Simeon dan Lewi, kedua-duanya memiliki sifat membunuh, mereka dapat membunuh orang lain. Namun, pembunuhan di Sikhem, tidak perlu menggunakan sifat mereka untuk menentang keinginannya sendiri. Simeon tidak menggabungkan diri dengan Lewi dalam melaksanakan perintah Musa, karena Simeon tidak mau membayar harga. Boleh jadi Simeon berkata, “Membunuh orang-orang di Sikhem itu benar, tetapi membunuh saudara sendiri, anak-anak, dan sanak keluarga kita, itu gila. Benar, mereka semua menyembah berhala, tetapi Allah itu berbelaskasihan, dan Ia akan mengampuni mereka. Mengapa kita harus membunuh mereka?” Pada saat itu, kedua mitra ini terpisah. Yang satu menggunakan sifat alamiahnya bagi Allah, bersama Allah, dan dengan cara yang baru; yang lainnya tidak. Lewi menggunakan tabiatnya dengan cara yang sudah diubah. Demikianlah tabiat alamiah Lewi, sifat pembunuhnya diubah.

Jangan mengira tabiat Anda tidak mungkin digunakan oleh Allah. Asal Anda menggunakannya secara berlawanan dengan kehendak alamiah Anda dan dalam cara yang sudah diubah, pasti dapat digunakan oleh Allah. Saya mengenal beberapa saudara yang keinginannya sangat keras. Mungkin Anda akan mengatakan bahwa mereka itu keras kepala. Tetapi karena kepala batu mereka itu digunakan untuk Allah, bersama Allah, dan dalam cara yang baru, maka mereka dipakai oleh Allah. Allah tidak dapat menggunakan seseorang yang tekadnya seperti agar-agar. Tekad itu harus diubah menjadi besi beton. Prinsipnya ialah alamiah kita dapat diubah dan digunakan oleh Allah. Lewi tidak sekadar membunuh orang-orang di Sikhem, bahkan juga memotong urat keting lembu. Perubahan tabiat ini digunakan Allah untuk membunuh penyembah-penyembah berhala, dan juga untuk membunuh binatang-binatang kurban persembahan untuk Allah. Tabiat alamiah kita akan berguna dengan tiga syarat: dipersembahkan, menggunakannya berlawanan dengan keinginan alamiah kita, dan menggunakannya dalam keadaan baru dan terubah.

Karena tabiat Lewi telah berubah, maka ia menjadi suatu berkat yang besar. Tumim dan Urim Allah ada padanya (Ul. 33:8), dan ia berhak datang melayani Allah di hadirat-Nya. Meskipun bagian ganda atas tanah itu kaya, namun hak memasuki hadirat Allah itu intim. Jabatan imam dapat dipandang sebagai bagian yang manis dari hak kesulungan. Lewi telah menerima bagian ini.

e) Penyerakan Lewi Menjadi Berkat bagi Umat Israel

Dalam 49:7 Yakub mengatakan bahwa Lewi harus diserakkan di antara umat Israel. Menurut Yosua 21, nubuat ini tergenap melalui pengundian. Oleh kesetiaan dan kemutlakkan Lewi, Lewi terserak di antara umat Israel. Musa, manusia Allah ini sangat berkenan kepada Lewi. Namun ia tidak bisa membatalkan nubuat Yakub, sebaliknya ia harus menggenapinya. Karena itu TUHAN berfirman kepada Musa, “Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya dari milik pusaka kepunyaannya diberikan mereka kota-kota kepada orang Lewi untuk didiami; juga haruslah kamu memberikan kepada orang Lewi tanah-tanah penggembalaan yang di sekeliling kota-kota itu” (Bil. 35:2). Kedua belas suku diharuskan memberi beberapa kota kepada orang Lewi. Kota-kota ini dipilih menurut undi. Tidak ada pengendalian manusia di sini, karena tidak seorang pun yang dapat mengendalikan undian itu. Orang Lewi secara keseluruhan mendapatkan empat puluh delapan kota (Bil. 35:6).

Dari empat puluh delapan kota ini, ada enam kota yang menjadi kota perlindungan (Bil. 35:6; Yos. 20:7-9). Kota-kota ini diatur dengan tepatnya di seluruh negeri Israel. Tiga kota di sebelah timur Sungai Yordan, dan tiga kota di sebe-lah barat Sungai Yordan. Orang yang dengan tidak sengaja membunuh orang lain dapat dengan mudah melarikan diri ke salah satu kota perlindungan ini. Jadi, terseraknya Lewi menurut kutukan sesungguhnya justru menjadi suatu ber-kat. Orang Lewi membawa manusia kepada Allah dan membawa Allah kepada manusia. Demikianlah pada zaman dahulu, orang Lewi yang di kota Anda atau di daerah Anda itu adalah suatu berkat (Hak. 17:7-13).

Kota-kota perlindungan ini adalah lambang Kristus. Kita semua adalah pembunuh-pembunuh dan Kristus adalah kota perlindungan kita. Betulkah Anda tidak pernah mem-bunuh orang? Kita semua telah membunuh orang tua kita, suami atau istri kita, anak-anak kita. Para saudara yang di dalam “perumahan saudara” semuanya saling membunuh. Setelah kita membunuh seseorang, kita perlu melarikan diri ke dalam kota perlindungan, yaitu ke dalam Kristus.

Orang Lewi yang terserak bukan hanya membawa orang kepada Allah, mereka pun membawa perlindungan Allah kepada orang dosa. Kita dapat menerapkan hal ini pada ke-adaan kita hari ini. Jika kita adalah orang-orang Lewi se-jati, di mana pun kita berada, kita akan memberikan Kristus sebagai kota perlindungan bagi orang lain. Tempat kediaman kita merupakan kota perlindungan di mana orang dosa me-larikan diri agar mendapatkan keselamatan. Dengan cara demikian, kita akan membawa perlindungan Allah kepada orang dosa. Orang dosa tidak perlu lari ke gedung kebak-tian, mereka hanya perlu lari ke perlindungan Allah, ke kota di mana imam Allah berdiam. Akhir-akhir ini umat saleh di Anaheim membentuk kelompok menurut tempat tinggal mereka masing-masing yang berdekatan. Saya ha-rap setiap kelompok akan merupakan kota perlindungan, banyak orang yang belum percaya akan lari ke tempat per-lindungan ini. Dalam perlindungan ini mereka yang telah berbuat dosa akan beroleh penutupan yang mereka butuh-kan. Tetapi terlampau sedikitnya orang-orang Lewi, membuat kota Anaheim sulit mendapatkan tempat perlindungan. Kita haruslah sebagai orang-orang Lewi hari ini. Kita harus setia, mutlak membunuh keinginan daging kita sampai kita dapat menjadi orang-orang Lewi Allah, imam Allah. Jika kita adalah orang-orang Lewi, di mana pun kita tinggal, tempat kediaman kita akan menjadi kota perlindungan, di mana orang dosa lari dan beroleh keselamatan.

Dari diri Ruben, Simeon, dan Lewi, kita telah nampak kemungkinan kehilangan atau mendapat. Kehilangan atau mendapat tergantung pada sikap kita dan reaksi kita terhadap keadaan yang berbeda. Semoga Allah membelaskasihani kita agar kita mempunyai reaksi yang membuat kita mendapat, bukan kehilangan.