← Daftar isi Kejadian (7) · bab 7/14

DIMATANGKAN MANIFESTASI KEMATANGAN (2)

(g) Bernubuat dengan Memberkati

Dalam berita ini kita akan melihat manifestasi lain dari kematangan hayat Yakub: bernubuat dengan memberkati (49:1-28). Kita paham arti bernubuat, namun mungkin kita tidak mengerti bernubuat dengan memberkati. Kejadian 49 merupakan satu-satunya pasal yang mewahyukan hal ini. Pemberkatan Musa dalam Ulangan 33 sangat mirip dengan pemberkatan yang dalam Kejadian 49, tetapi pemberkatan di sana tidaklah sekaya pemberkatan di sini. Kedua bagian firman ini menubuatkan tentang Israel, namun dalam Kejadian 49 terdapat pemberkatan yang lebih kaya daripada yang dalam Ulangan 33.

Nubuat dalam pasal 49 merupakan suatu manifestasi kematangan, karena pembicaraan kita selalu menunjukkan di mana kita berada dan tingkat kematangan kita. Seorang bayi tidak dapat berbicara sama sekali, tetapi seorang anak yang telah berumur setahun, mulai dapat mengucapkan beberapa patah kata. Perkataannya menunjukkan bahwa ia anak kecil. Sama dengan golongan usia lainnya: seorang muda berkata-kata sebagai seorang muda, orang yang setengah baya sebagai seorang yang setengah baya, dan seorang kakek sebagai seorang kakek. Tutur kata kita tidak hanya mewakili usia kita, juga mewakili macam orang kita. Seandainya Anda bertabiat cepat, Anda tidak akan berbicara lambat-lambat. Jika bertabiat lambat, Anda tidak akan berbicara dengan cepat. Orang yang bermartabat tinggi, tidak akan mengucapkan kata-kata yang rendah, dan orang tingkat rendah tidak akan mengutarakan kata-kata kelas tinggi. Jadi, tutur kata kita menunjukkan apa adanya kita dan di mana kita berada.

Ada orang yang berkata bahwa paling baik jangan bicara. Jika saya berdiri di depan sekelompok orang tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mustahil mereka mengetahui saya ini dalam atau dangkal, cepat atau lambat. Saya akan tinggal sebagai suatu misteri. Tetapi selama 14 tahun berselang, setiap serabut saya telah ternyata pada kalian melalui pembicaraan-pembicaraan saya. Sampai-sampai anak umur 7 atau 8 tahun pun sangat mengenal saya, karena mereka telah mendengar kata-kata saya, juga sangat mengenal saya. Karena saya telah berbicara terlampau banyak, maka saya tidak bisa menyembunyikan diri saya. Cara yang terbaik untuk menyembunyikan diri adalah jangan bicara. Pada tahun-tahun sebermula dalam ministri, saya sangat pintar, saya tidak pernah mengutarakan apa-apa dalam sidang-sidang sekerja. Karena permainan siasat saya itu, maka saya menjadi suatu misteri dalam pandangan sekerja lainnya dan tidak seorang pun yang mengerti saya. Berbicara itu memang sulit, namun lebih sulit lagi untuk tidak berbicara. Ketika datang kesempatannya, Anda tidak mungkin tahan membungkam. Saya sangsi apakah Anda bisa diam seribu bahasa selama 60 menit bersama saya. Saya yakin setelah beberapa menit saja, Anda akan berbicara.

Sekarang mari kita secara ringkas menelusuri ucapan Yakub yang diwahyukan dalam Kitab Kejadian. Pasal 25:31 kali pertama mencatat pembicaraannya, di sana Yakub berkata kepada Esau, “Juallah dahulu kepadaku hak kesulungan-mu.” Memperoleh hak kesulungan adalah keinginan hati Yakub, impian, dan cita-citanya. Sudah lama ia menunggu kesempatan untuk merebutnya dari Esau. Akhirnya kesempatan itu tiba, maka tercantumlah dalam Alkitab kata-kata pertama yang keluar dari mulut Yakub, yaitu menyuruh menjual hak kesulungan.

Dalam pasal 27, Yakub berbicara bohong kepada Ishak, ayahnya (ayat 19-20, 23). Dalam 27:19 Yakub mendustai ayahnya, sambil berkata, “Akulah Esau, anak sulungmu.” Ketika Ishak menanyakan mengapa cepat mendapatkan daging buruan, Yakub menjawab, “Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku.” Ishak ragu-ragu, “Kalau suara, suara Yakub, kalau tangan, tangan Esau.” (ayat 22), lalu tanyanya pula, “Benarkah engkau ini anakku Esau?” (ayat 24). Yakub menjawab, “Ya!” Jadi, perkataan Yakub dalam pasal 27 adalah bohong sama sekali.

Perkataan Yakub dalam pasal 29—32 penuh dengan keuntungan bagi diri sendiri, ambisi, dan kepentingan sendiri. Melalui percakapannya yang tercatat dalam pasal-pasal ini, terbongkarlah berbagai aspek ego Yakub. Kata-kata Yakub begitu egoistis sehingga sepertinya ia tidak mempunyai roh. Bila di tengah-tengah kita ada saudara yang seperti itu, tentu kita akan sangsi apakah ia benar-benar telah dilahirkan kembali.

Percakapan Yakub dengan Esau saudaranya pada pasal 33 merupakan sebuah sandiwara. Dalam pasal ini beberapa kali Yakub menyebut Esau, “tuanku” (33:13-14). Padahal dalam batin, Yakub tidak pernah mengenal Esau sebagai tuannya. Ia menyebut Esau demikian karena takut kalau-kalau Esau membunuhnya. Yakub benar-benar seorang aktor, politikus, dan pernyataan kerendahan hatinya di hadapan Esau tidak lain sebuah sandiwara belaka.

Sampai pada pasal 35, perkataan Yakub mengalami perubahan. Perkataannya dalam pasal ini mulai menyerupai percakapan seorang yang telah dilahirkan kembali, atau seorang anak Allah.

Dalam pasal-pasal berikutnya, setelah Yakub kehilangan Yusuf, Yakub jarang sekali berbicara. Ini menandakan bahwa ketika kita bertumbuh dalam hayat, maka pembicaraan kitalah yang mula-mula mengalami perubahan. Ciri-ciri khas pembicaraan kita akan berubah. Akhirnya, jumlah kata-kata kita akan jauh berkurang. Makin bertumbuh, makin sedikit berbicara. Mungkin saat ini Anda tidak dapat mengalahkan godaan berbicara. Namun beberapa tahun kemudian, ketika hayat Anda telah banyak bertumbuh, Anda akan menjadi pendiam, tidak peduli berapa besar godaannya.

Kita dapat menelusuri kemajuan hayat Yakub melalui kemajuannya dalam tutur katanya. Akhirnya, Yakub bertumbuh sampai pada satu taraf, bahkan sampai ia kehilangan Yusuf, tetap sedikit sekali berbicara. Tetapi banyak di antara kita terlalu banyak berbicara atas masalah-masalah yang tidak penting, misalnya, kehilangan sepasang kaos kaki. Seorang saudara muda dalam perumahan kaum saudara kehilangan sepasang kaos kaki, mungkin akan berteriak-teriak, “Di mana kaos kakiku? Apa yang terjadi de-ngan kaos kakiku?” Namun ketika Yakub kehilangan Yusuf, buah hatinya, ia tetap tidak banyak bicara. Inilah tanda yang normal dan sehat. Banyak berbicara mengenai kaos kaki itu tandanya belum matang, masih kanak-kanak. Ter-lalu banyak bicara menandakan Anda masih kekanak-kanakan. Hal ini menampakkan kepada kita bahwa pembicaraan kita itu menunjukkan kadar pertumbuhan yang telah kita capai. Di antara kita ada beberapa orang yang pada tahun-tahun yang silam sangatlah cerewet. Tetapi sekarang sedikit berbicara. Saya harap beberapa saat kemudian, mereka sudah hampir tidak berbicara sama sekali. Mereka tidak berbicara bukan karena dukacita, melainkan karena hayat mereka telah bertumbuh. Semakin bertumbuh, kita makin sedikit bicara.

Lihatlah reaksi Yakub sewaktu menerima kabar bahwa Yusuf masih hidup di Mesir. Ia berbicara sedikit sekali, boleh dikata hampir tidak mengatakan apa-apa. Seandainya kita ini Yakub, kita akan menjadi gusar dan marah-marah kepada anak-anak yang lainnya serta siap menghajar mereka, atau kita akan lari kebingungan dari anak yang satu ke yang lain, sambil meneriakkan, “Yusuf masih hidup!” Dalam kedua keadaan ini pasti terdapat banyak pembicaraan. Namun Yakub sedikit sekali berbicara. Tidak hanya demikian, setelah tiba di Mesir, ia pun sedikit bicara. Sewaktu Yakub dihantar ke hadapan Firaun, ia tidak banyak bicara. Sebaliknya, ia memberkati Firaun. Hampir tidak ada percakapan, tetapi ada pemberkatan yang kuat (47:7-10).

Karena Yakub telah matang, maka perkataannya dalam pasal 49 sangat berbobot. Setiap kata yang diucapkan di sini menjadilah nubuat. Pasal ini sangat dalam, karena itu ia tertutup bagi kebanyakan orang Kristen. Mereka tidak saja tidak mempelajari kedalaman pasal ini, juga tidak tahu apa yang dimaksud. Dalam Kejadian 49 kita nampak seorang yang telah matang sepenuhnya. Orang ini tidak berbicara secara dangkal, ringan, kendur, melainkan penuh dengan hayat dan matang. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan hayat kita akan ternyata atas tutur kata kita.

Berita mengenai bernubuat dengan memberkati ini sangat dalam. Bukan dalam pada doktrinnya, melainkan dalam pada pengalamannya. Walaupun di antara kita sangat sedikit yang telah mencapai tingkat pengalaman hayat ini, namun berita ini tetap diperlukan sebagai bagian Pelajaran-Hayat Kitab Kejadian kita; ini akan membantu kita dalam hal pertumbuhan hayat maupun dalam hal berbicara. Ingatlah fakta bahwa pembicaraan Anda akan menunjukkan di mana Anda berada. Setiap kali Anda hendak berbicara, berkatalah kepada diri Anda, “Tutur-kataku akan menyatakan diriku.” Mengenal hal ini akan banyak membantu kita.

Perkataan Yakub dalam pasal 49 tidak dapat kita temukan di tempat lain. Ini bukan sekadar kata-kata ajaran, dorongan, atau anjuran. Bukan pula sekadar kata-kata yang berbobot atau kata-kata nubuat, melainkan perkataan nubuat dengan berkat. Meskipun berupa nubuat, ini adalah nubuat yang dijenuhi oleh pemberkatan. Mengucapkan perkataan semacam ini tidaklah mudah. Yesaya adalah yang tertinggi di antara nabi-nabi. Namun, di antara banyak nubuat dalam kitabnya, sulit ditemukan sebuah nubuat dengan pemberkatan. Yesaya bernubuat, namun ia tidak bernubuat dengan memberkati. Akan tetapi, dalam Kejadian 49, Yakub tidak hanya bernubuat, tetapi juga bernubuat dengan memberkati. Pemberkatannya mengalir keluar dari kata-kata nubuatnya.

1) Empat Syarat Bernubuat dengan Memberkati

a) Mengenal Allah

Untuk bernubuat dengan memberkati, kita harus memenuhi empat syarat. Syarat pertama ialah mengenal Allah, mengenal maksud hati Allah, dan tujuan Allah. Allah, maksud Allah, dan tujuan Allah semuanya terwahyukan oleh kata-kata Yakub dalam pasal ini. Kitab-kitab selanjutnya dari Perjanjian Lama dan seluruh Perjanjian Baru merupakan perkembangan dari Kejadian 49. Dengan kata lain, hampir seluruh Alkitab merupakan perkembangan kata-kata Yakub yang diucapkan dalam pasal ini. Alangkah tinggi, dalam, dan berlimpahnya kata-kata ini! Pasal ini adalah satu benih yang sangat kaya, benih yang akan menempuh suatu perkembangan yang alangkah menakjubkan dalam kitab-kitab berikutnya dari Alkitab. Agar dapat mengucapkan kata-kata ini, kita harus mengenal Allah, harus mengenal hati Allah, dan harus mengenal tujuan Allah.

b) Mengenal Orang

Syarat kedua ialah mengenal orang, mengenal keadaan sesungguhnya dari setiap orang yang bersangkutan. Mungkin Anda mengira bahwa seorang ayah tentu mudah mengenal anaknya, karena itu Yakub mudah saja mengenal kedua belas anaknya. Tetapi, sering kali orang tua kesulitan mengenal anak mereka dengan sesungguhnya. Sering kali kita mengenal anak-anak kita secara buta sama seperti Ishak mengenal Yakub. Kelihatannya kita sebagai orang tua mengenal anak-anak kita; sesungguhnya, kita tidak mengenal siapa mereka dan di mana mereka berada. Namun Yakub mengenal anak-anaknya secara menyeluruh. Setiap situasi, kondisi, dan masalah yang tersembunyi terbentang jelas dalam pandangannya. Demikian pula, jika kita ingin mengucapkan kata-kata yang serupa dalam gereja, kita harus mengenal gereja, penatua-penatua, dan semua saudara saudari. Ini tidak mudah. Setiap hari kita berkumpul bersama, tetapi mungkin saya tidak begitu mengenal Anda. Walaupun saya telah bertahun-tahun berhimpun dengan para penatua, tetapi saya mungkin masih tidak begitu mengenal mereka. Kita tidak boleh mengenal orang menurut pengertian otak kita; kita harus mengenal orang menurut roh. Kejadian 49 menunjukkan bahwa Yakub mempunyai pengenalan yang tepat terhadap anak-anaknya. Ia mengetahui perbuatan mereka, situasi dan kondisi mereka. Dalam hal mengenal orang, Yakub itulah ahlinya. Ia punya sinar X rohani. Ketika ia bernubuat dengan memberkati, sinar X surgawi ini membuat keadaan setiap anaknya jernih bagaikan kristal pada pandangan matanya. Pengenalannya terhadap setiap anaknya ternyata dalam kata-katanya yang singkat.

c) Berkelimpahan

Meskipun mungkin kita mengenal Allah, hati Allah, dan tujuan Allah, juga mungkin mengenal keadaan orang lain, kita tetap tidak bisa memberkati orang jika kita miskin. Boleh saja seseorang sangat polos, mutlak bagi Allah, dan layak mendapatkan berkat yang berlimpah. Tetapi, jika saya miskin, berkat apakah yang dapat saya berikan kepadanya? Dikatakan secara rohani, saya hanya memiliki uang sepuluh sen dan saya sendiri memerlukan dua sen bagi diri sendiri. Maka, saya hanya bisa memberikan berkat sebesar delapan sen. Namun, Yakub penuh dengan kelimpahan. Oleh karena ia tidak kekurangan, maka ia dapat memberkati orang lain. Sesungguhnya, kapasitas orang yang menerima pemberkatannya, jauh lebih kecil daripada kelimpahannya.

d) Mempunyai Roh yang Kuat dan Aktif

Selain ketiga syarat di atas, kita masih perlu roh yang kuat dan aktif. Perkataan Yakub dalam pasal ini diucapkan menjelang tutup usianya. Banyak orang Kristen menjelang tutup usia, tidak hanya tubuhnya lemah, seluruh dirinya juga lemah. Karena itu, mereka tidak mempunyai roh yang kuat untuk bernubuat dengan memberkati orang lain. Jasmani Yakub hampir mati, namun rohaninya kuat dan lincah. Atas tubuh, ia menjelang mati, tetapi atas roh, ia kuat dan aktif. Jadi, untuk dapat bernubuat dengan memberkati, kita harus mengenal Allah, mengenal orang dan keadaan mereka, mempunyai kelimpahan Allah, dan mempunyai roh yang kuat.

2) Bukan Nabi yang Berkarunia

Oleh karena pengaruh kekristenan hari ini, banyak yang mengira bahwa hanya nabi-nabi saja yang bisa bernubuat. Tetapi di manakah ayat yang mengatakan bahwa Yakub adalah seorang nabi? Yakub bukan seorang nabi berkarunia yang menubuatkan perkara-perkara yang akan datang, tetapi ia tetap bernubuat. Dalam Kejadian 49:1 Yakub berkata, “Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari.” Inilah kata-kata awal dari nubuatnya.

Hari ini banyak orang Kristen memperbincangkan perihal karunia. Karunia apakah yang dimiliki Yakub? Saya ingin berkata: Satu-satunya karunia yang ia miliki ialah merampas. Dalam pasal 49, Yakub tidak mengatakan, “Ruben, . . . demikianlah firman TUHAN.” Namun, nubuat yang paling mendalam dalam Alkitab ialah yang diucapkan oleh Yakub dalam pasal ini. Inilah satu-satunya nubuat yang memerlukan seluruh Alkitab bagi perkembangannya. Nubuat yang dalam ini bukan dinubuatkan oleh seorang nabi atau seorang yang berkarunia.

3) Seorang yang Tersusun oleh Allah

Yakub bukan seorang nabi yang berkarunia, ia adalah orang yang tersusun oleh Allah. Ia bukan tersusun oleh karunia, fasih lidah, atau bahkan fungsi, ia tersusun oleh Allah. Ia telah diinfus, diresapi, dan dijenuhi seluruhnya oleh Allah, karena itu perkataannya merupakan perkataan Allah. Kata-katanya adalah kata-kata Allah. Baik perkataannya itu kita anggap suatu nubuat atau suatu pemberkatan, perkataan semacam inilah yang justru kurang dalam gereja-gereja hari ini. Yang gereja perlukan hari ini ialah perkataan orang-orang yang tersusun oleh Allah.

Atas butir ini, kita perlu melihat beberapa ayat dalam 1 Korintus 7. Pada tahun 1940, saya mendapatkan bantuan yang besar dari Saudara Watchman Nee tentang ayat-ayat ini. Dalam salah satu pembicaraannya, Saudara Watchman Nee mengatakan bahwa 1 Korintus 7 mewahyukan puncak pengalaman kristiani Paulus. Kali pertama saya mendengar ini, saya tidak mengerti, sebab ini sangat berbeda dengan konsepsi saya. Saya cukup hafal dengan 1 Korintus 7. Saya tahu bahwa pasal itu membicarakan perihal perkawinan dan perihal membujang. Karena itu saya berkata kepada diri sendiri, “Bagaimana pasal ini dikatakan sebagai puncak pengalaman kristiani Rasul Paulus?”

Saudara Watchman Nee menunjukkan kepada kami ayat-ayat 10, 12, 25, dan 40. Dalam ayat 10 Paulus berkata, “Kepada orang-orang yang telah kawin aku — tidak, bukan aku, tetapi Tuhan — perintahkan, supaya seorang istri jangan bercerai dari suaminya.” Di sini Paulus yakin bahwa perintah Tuhan kepada istri orang Kristen ialah jangan meninggalkan suaminya. Paulus yakin bahwa ini adalah perintah Tuhan, itulah sebabnya ia berani berbicara.

Tetapi dalam ayat 12 ia berkata, “Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan.” Mengenai seorang saudara yang mempunyai seorang istri yang tidak percaya, Paulus berkata, “Aku berkata, bukan Tuhan.” Seandainya saya ada di sana, saya akan berkata, “Saudara Paulus, jika bukan Tuhan, Anda tidak seharusnya berbicara. Kalau Anda jelas tahu bahwa bukan Tuhan yang berbicara, mengapa Anda berbicara? Kami tidak mau mendengarkan Anda. Anda hanyalah seorang berdosa yang diselamatkan. Anda tidak seharusnya berkata apa-apa berdasarkan diri Anda.” Ketika saya mendengar Saudara Watchman Nee membicarakan ayat ini, saya berkata kepada diri sendiri, “Jika bukan Tuhan yang berbicara, mengapa Paulus terus berbicara?” Namun, kata-kata Paulus tercantum dalam Perjanjian Baru dan menjadi firman Allah. Menurut ayat 12, kata-kata Paulus menjadi kata-kata yang diilhamkan dalam Kitab Suci.

Selain itu, dalam ayat 25 Paulus berkata, “Sekarang tentang orang-orang yang belum kawin. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah.” Seandainya waktu itu saya hadir, saya akan memutus perkataannya dan berkata, “Saudara Paulus, kalau tidak ada perintah Tuhan, mohon jangan bicara.” Bukan hanya tidak ada perintah dari Tuhan, bahkan Paulus berani menyampaikan opininya. Boleh jadi kita akan berkata, “Paulus, kami tidak mau mendengar opinimu. Kami mau mendengar firman Tuhan.” Sebelum mendengar pembicaraan Saudara Watchman Nee, saya telah berkali-kali membaca 1 Korintus 7, namun belum pernah nampak ayat-ayat ini, dan saya tercengang ketika dia menunjukkannya kepada kami. Memang Paulus memberikan opininya, tetapi lebih dari 1900 tahun ini, opininya tetap dianggap sebagai firman Allah. Jadi, opini Paulus telah menjadi firman Allah.

Akhirnya, dalam ayat 40 Paulus berkata, “Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah.” Di sini kita nampak bahwa Paulus mengajar menurut pendapatnya. Menurut pendapat Paulus, seorang janda akan lebih berbahagia kalau ia tetap menjanda. Alasan Paulus berani mengatakan demikian ini terdapat dalam ayat 25: “Sebagai seorang yang dapat dipercayai (setia) karena rahmat Allah.” Kita perlu rahmat Tuhan, agar kita setia terhadap-Nya. Dengan adanya rahmat ini, kita akan berani.

Pada akhir ayat 40 Paulus berkata, “Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah.” Kata “juga” di sini sangat penting. Seolah-olah Paulus berkata, “Aku tidak hanya berpendapat, aku juga mempunyai Roh Allah.” Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan, “Aku yakin,” atau “Aku percaya,” sebaliknya ia mengatakan, “Aku berpendapat.” Ini menunjukkan bahwa ia tidak yakin. Mes-kipun ia tidak yakin, namun ia mempunyai Roh Allah, dan kita semua mengakui 1 Korintus 7 sebagai firman Allah. Akhirnya, pada tahun 1940 hari itu, ketika saya mendengar perkataan Saudara Watchman Nee, saya setuju dengan keterangannya bahwa 1 Korintus 7 telah mencantumkan pun-cak pengalaman kristiani Paulus. Pendapat Paulus merupakan firman Allah.

Sama prinsipnya dengan Yakub dalam Kejadian 49. Apa pun yang dikatakan Yakub dalam pasal ini adalah firman Allah. Walaupun itu opininya, namun itu juga firman Allah. Dalam 49:3-4, seolah-olah Yakub berkata, “Ruben, engkau anak sulungku, tetapi engkau telah berbuat cemar, sehing-ga tidak dapat menikmati hak kesulungan yang terbaik.” Kata-kata Yakub kepada Ruben sedikit banyak merupakan suatu nubuat, karena ada sangkut-pautnya dengan kehilangan hak kesulungan; juga sedikit banyak merupakan suatu kutukan, karena menunjukkan perihal kehilangan hak kesulungan Ruben. Ini bukan perkataan seorang muda atau seorang biasa, melainkan ucapan seorang yang dipenuhi dengan Allah, seorang yang seluruhnya tersusun oleh Allah. Pada pasal 49, Yakub sudah sebagai seorang manusia Allah, seorang yang dipenuhi, disusun, dijenuhi, bahkan telah disusun ulang oleh Allah. Maka, apa yang dikatakannya itu merupakan firman Allah; pikirannya adalah pikiran Allah; dan opini yang diutarakannya adalah opini Allah. Seorang anak muda atau yang setengah baya tidak dapat mengucapkan perkataan semacam ini. Hanya orang yang telah mencapai kematangan yang penuh yang dapat mengucapkan perkataan semacam ini. Perkataan Yakub dalam pasal ini menunjukkan bahwa ia telah matang sepenuhnya.

Beban saya dalam berita ini adalah ingin memberikan kesan kepada Anda semua, terutama anak muda, ingatlah fakta ini: perkataan Anda menyatakan di mana Anda berada. Jika Anda banyak bicara ketika kehilangan kaos kaki, itu mengingatkan bahwa Anda belum matang. Reaksi semacam itu membuktikan Anda memerlukan pertumbuhan hayat. Lupakanlah kaos kaki itu dan tuntutlah hayat yang lebih banyak. Kalau Anda harus mengatakan sesuatu, Anda harus mengatakan, “Aku perlu hayat lebih banyak.” Jangan mengatakan, “Di manakah kaos kakiku?” Sebaliknya, “Saudara-saudara, sampai di manakah hayatku telah bertumbuh?” Kapan saja ada saudara yang menanyakan kaos kaki-nya, yang lain seharusnya mengatakan, “Di sinilah pertumbuhan hayatmu.”

Kebanyakan kita ini gemar bicara. Kita memang dilahirkan demikian, sehingga banyak bicara itu sudah alamiah, sifat, dan ciri khas kita. Setiap kali Anda banyak bicara, ingatlah bahwa itu tandanya Anda perlu bertumbuh dalam hayat.

4) Yakub — Bapa Jasmani, Israel — Mulut Allah

Kejadian 49:2 mengatakan, “Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu.” Ayat ini tertulis dalam bentuk puisi Ibrani yang lazimnya ditulis berpasangan. Bagian pertama dalam ayat 2 ini ialah, “Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub,” dan bagian keduanya ialah “dengarlah kepada Israel, ayahmu.” Ayah yang melahirkan ialah Yakub dan ayah yang berbicara ialah Israel. Kedua belas anak dilahirkan oleh Yakub, ayah jasmani, seorang perebut, pemegang tumit, dan pembohong. Namun ayah yang memberkati dan bernubuat ini bukan lagi Yakub, melainkan Israel. Dari apa adanya alamiahnya, Yakub tidak akan dapat mengucapkan kata-kata ini. Hanya karena ia telah matang, maka ia dapat mengucapkan kata-kata semacam ini. Yakub bukan berkata kepada anak-anaknya, “Dengarlah kepada Yakub, ayahmu;” melainkan, “Dengarlah kepada Israel, ayahmu.” Israel tidak hanya seorang yang telah diubah, tetapi juga seorang yang telah matang dalam hayat Allah. Kita semua senang ketika mendengar kesaksian orang-orang yang tahun-tahun sebelumnya adalah Yakub namun sekarang adalah Israel. Kita perlu lebih banyak Israel, yakni mereka yang tidak hanya berbicara bagi Allah, tetapi juga berbicara bersama Allah. Apa pun yang mereka ucapkan itulah firman Allah. Dalam Kejadian 49, Israel telah sepenuhnya dijenuhi, diresapi, dikonstitusi, dan disusun ulang dengan Allah. Karena ia telah bersatu dengan Allah, maka apa pun yang diutarakannya itulah firman Allah. Karena itu, dalam pasal ini kita nampak nubuat yang dijenuhi pemberkatan.

Kejadian 49:28 mengatakan, “Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya; dan itulah yang dikatakan ayah-nya kepada mereka, ketika ia memberkati mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing.” Ini nubuat atau pemberkatan? Ini adalah nubuat, nubuat yang dipenuhi pemberkatan.

Yakub dalam pasal 49 adalah seorang yang berpenge-tahuan rohani dan ilahi. Ia mengenal Allah dan keadaan anak-anaknya. Tidak hanya demikian, ia juga mempunyai kelimpahan yang diperlukan untuk bernubuat dengan memberkati. Itulah sebabnya, ia dapat bernubuat dengan dijenuhi segala macam pemberkatan. Dalam perkataannya tidak terdapat kesalahan, kecerobohan, kegelapan, kekosongan, atau kesia-siaan. Sebaliknya, perkataannya berupa nubuat yang kaya, dalam, menakjubkan, penuh dengan berkat. Ini berbeda sama sekali dengan kata-kata “demikianlah firman Tuhan” yang ada di antara orang-orang Kristen hari ini. Hanya dalam beberapa menit saja Anda bisa memperoleh “karunia” untuk mengucapkan nubuat semacam itu. Namun untuk bertumbuh setinggi itu, di mana Anda dapat mengucapkan kata-kata yang diucapkan Yakub dalam pasal ini, memerlukan waktu bertahun-tahun. Ini bukan masalah karunia atau fungsi, melainkan masalah pertumbuhan dan kematangan.

Agar menjadi matang, kita harus disusun oleh Allah. Segala apa adanya Allah harus tersusun ke dalam segenap diri kita. Setiap serabut manusia kita harus disusun ulang dan dijenuhi oleh unsur Allah. Ketika ini terjadi, kita akan seperti Yakub, menjadi orang yang dapat bernubuat dengan memberkati. Dalam kematangan ini, kita akan mempunyai pengetahuan ilahi, dengan tuntas mengenal perkara Allah dan keadaan orang lain. Dalam kematangan semacam ini, kita juga memiliki kelimpahan untuk bernubuat dengan memberkati.