PENGALIHAN HAK KESULUNGAN DALAM ALKITAB
Kitab Kejadian merupakan sebuah kitab benih. Dalam berita ini, yang sebagai sisipan pelajaran-hayat kita ini, kita akan melihat sebuah benih lain, yakni benih pengalihan hak kesulungan.
Anda mungkin tidak pernah membayangkan kalau hak kesulungan dapat dialihkan. Hak kesulungan adalah hak yang khusus dimiliki anak sulung. Hampir dalam setiap bangsa, terutama pada zaman dahulu, anak sulung dalam keluarga selalu mewarisi bagian yang istimewa. Di antara orang-orang Yahudi kuno, lazimnya bagian ini berupa bagi-an ganda (dua kali) atas tanah. Menurut seluruh pencantuman Alkitab, hak kesulungan termasuk bagian ganda atas tanah, jabatan raja, dan jabatan imam. Jabatan imam membawa manusia kepada Allah, dan jabatan raja membawa Allah kepada manusia. Kitab Kejadian menunjukkan bahwa hak kesulungan ini ada kemungkinan beralih dari anak sulung kepada anak yang kedua. Dalam kitab ini paling sedikit terdapat empat peristiwa pengalihan hak kesulungan: dari Esau kepada Yakub (25:22-26, 29-34), dari Zerah kepada Peres (38:27-30), dari Ruben kepada Yusuf (49:3-4; 1 Taw. 5:1), dan dari Manasye kepada Efraim (48:12-20).
Begitu pula dalam Perjanjian Baru, hak kesulungan beralih dari Israel kepada gereja. Dalam Lukas 15, Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan anak yang hilang menunjukkan bahwa pemungut cukai dan orang-orang berdosa itu sebagai anak kedua, dan orang-orang Farisi yang membenar-kan dirinya sebagai anak pertama (Luk. 15:1-2, 11, 25-28). Tetapi dalam Matius 21:28-32 Tuhan mengalihkan hak kesulungan orang Yahudi kepada pemungut cukai dan perempuan pelacur. Di sini Tuhan menyamakan pemungut cukai dan perempuan pelacur dengan anak sulung, yaitu yang mula-mula tidak menaati perkataan ayahnya, namun kemudian bertobat dan menaatinya. Selanjutnya Tuhan menyamakan orang Farisi dengan anak yang kedua yang mengatakan mau menaati kata-kata bapanya, namun sesungguhnya tidak. Pada awal ministri Tuhan, mereka tetap yang pertama. Na-mun pada akhir ministri-Nya, Tuhan Yesus mengalihkan hak kesulungan dari orang Yahudi kepada gereja. Firman-Nya dalam Matius 21:28-32 dikatakan pada akhir ministri-Nya. Dalam ayat-ayat ini, Tuhan menyamakan pemungut cukai dan perempuan pelacur dengan anak sulung. Gereja terdiri dari orang-orang berdosa yang telah ditebus dan dilahirkan kembali. Dalam ekonomi Allah, mereka adalah orang-orang yang menerima hak kesulungan. Karena itu, Ibrani 12:23 menyinggung jemaat anak-anak sulung.
I. DARI ESAU BERALIH KEPADA YAKUB
Dalam Kejadian 25:22-26, 29-34 terlihat pengalihan hak kesulungan dari Esau kepada Yakub. Walaupun Esau anak sulung (ayat 25), namun Yakub telah ditentukan untuk memiliki hak kesulungan (ayat 23). Pengalihan hak kesulungan dari Esau kepada Yakub menunjukkan bahwa hal menerima hak kesulungan merupakan perkara yang telah ditentukan. Tidak tergantung pada kelahiran alamiah kita. Anda boleh dilahirkan sebagai Esau, ini bukan berarti Anda telah ditentukan untuk memiliki hak kesulungan, melainkan mutlak merupakan masalah kedaulatan Allah. Ketika kita melihat lima perkara pengalihan hak kesulungan ini, kita tidak dapat tidak menyembah Allah atas kedaulatan-Nya serta berkata, “Oh, Tuhan, kami berterima kasih atas kedaulatan-Mu. Segala sesuatu tergantung pada penentuan kedaulatan-Mu.”
Yakub, yang telah ditentukan untuk memiliki hak kesulungan, sangat tamak dan berusaha sendiri dengan sekuatnya untuk memperoleh hak kesulungan. Ketika Yakub dan Esau masih di dalam rahim ibunya, mereka sudah mempe-rebutkan hak kesulungan. Saya yakin Yakublah yang memulai perebutan itu. Tetapi menurut pengaturan Allah, Esau lebih kuat. Bila Anda membaca Alkitab dengan cermat, Anda akan nampak bahwa Esau adalah seorang pemburu, kuat, dan bertubuh kekar. Berlawanan dengan Yakub, yang sering tinggal di rumah mendampingi ibunya, tentu berbadan kecil. Saya tidak percaya seorang muda yang tegap kuat selalu tinggal di rumah mendampingi ibunya. Berhubung Yakub lebih kecil dan lebih lemah daripada Esau, maka kalau berkelahi mengadu kekuatan jasmani, Yakub tentu mustahil memperoleh hak kesulungan itu. Sekalipun Yakub bergumul di dalam rahim ibunya untuk hak kesulungan, namun tetap dikalahkan oleh Esau, maka Esau lahir pertama dan mendapat hak kesulungan. Pergumulan Yakub ternyata sia-sia.
Yakub tidak mau menyerah. Saya yakin ia selalu mendampingi ibunya dengan tujuan ingin mengadakan persekongkolan merebut hak kesulungan. Mungkin akhirnya ibu Yakub setuju dan bersedia membantunya. Untuk merebut hak kesulungan kakaknya, Yakub melakukan dua perkara. Pertama, bersiasat dan membujuk Esau ke dalam keadaan supaya ia mau menjual hak kesulungan kepadanya (ayat 29-34). Yakub memang sangat licik dan pandai. Ia benar-benar cerdik. Melalui kecerdikannya itu ia mendapatkan kerja sama ibunya. Ribka, yang lebih pandai daripada Ishak, memihak kepada Yakub. Yakub yang amat cerdik ini membujuk Esau untuk menjual hak kesulungannya.
Boleh jadi Yakub telah mengamat-amati Esau dalam sejangka waktu tertentu. Ia mungkin telah memperhatikan bahwa Esau selalu lapar sesudah berburu, karena berburu selalu membangkitkan selera makan seseorang. Seorang pem-buru selalu menikmati santapan yang sedap setelah berburu. Setiap orang yang telah melakukan aktivitas yang melelahkan, seperti bekerja keras atau berolah raga, selalu menginginkan makanan yang digemari dan yang lezat. Yakub telah menganalisis seluruh situasinya — keadaan lingkungan, kejiwaan Esau, dan selera Esau seusai berburu. Yakub mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “Aha! Aku sudah menemukan cara untuk memperoleh hak kesulungan. Ketika Esau berburu, aku akan menyediakan santapan berupa sup baginya.” Kejadian 25:29 mencantumkan, “Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.” Esau sangat lapar, dan sup telah disediakan. Esau berkata kepada Yakub, “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah” (ayat 30). Yakub menjawab, “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu” (ayat 31). Ketika seseorang sudah lapar, ia akan makan apa pun dan membayar harga berapa pun untuk itu. Maka sahut Esau, “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (ayat 32). Seolah-olah Esau berkata, “Hak kesulungan hanya untuk masa yang akan datang saja. Apa gunanya bagiku sekarang? Di sini ada semangkuk sup di depanku, sungguh, nyata, dan riil.” Maka Esau menyetujui usul Yakub dan menjual hak kesulungannya. Di satu pihak, hak kesulungan memang tergantung pada penentuan kedaulatan Allah. Namun di pihak lain, apakah kita bisa mendapatkan hak kesulungan itu juga tergantung kepada sikap dan tindakan kita. Sikap Esau sangat kasihan dan tindakannya tolol. Ia salah sekali menerima tawaran Yakub. Tetapi dengan istilah hari ini, ia telah menandatangani kontrak dan melepaskan hak kesulungannya.
Meskipun Esau telah menjual hak kesulungannya, namun ia tidak berhak memberikan berkat hak kesulungan itu kepada orang. Berkat ini tidak berada di tangannya, melainkan berada di tangan Ishak, ayahnya, yang mewakili Allah. Maka, perkara kedua yang Yakub lakukan untuk memperoleh hak kesulungan itu ialah menipu ayahnya supaya memberinya berkat atas hak kesulungan (27:18-29). Mungkin sekali Yakub memperdaya Esau atas inisiatif Ribka, karena ditinjau dari seluruh keadaannya, Ribkalah yang menguasai semua keadaan itu. Yakub sebagai pelajar-nya dan ibunya sebagai gurunya. Setelah Esau dibujuk sehingga menjual hak kesulungannya kepada Yakub, Ribka lalu menunggu waktu yang tepat untuk membantu Yakub supaya menerima berkat atas hak kesulungan dari Ishak. Ini harus terjadi sebelum Ishak meninggal, namun tidak boleh terlampau pagi. Seandainya terlampau pagi, mata Ishak masih tajam. Maka, Ribka menunggu sampai mata Ishak menjadi kabur. Ketika ia mendengar bahwa Ishak akan memberkati Esau, Ribka segera berkata kepada Yakub, “Maka sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku seperti yang kuperintahkan kepadamu” (27:8). Seolah-olah Ribka berkata, “Kinilah saatnya menipu ayahmu.” Yakub menuruti ibunya dan menipu Ishak agar memberkatinya secara buta. Hasilnya, Yakub tidak saja memperoleh hak kesulungan, juga memperoleh berkat hak kesulungan itu.
Sebenarnya, siasat Yakub itu tidaklah diperlukan. Tanpa ia bersiasat atau menipu, Allah akan tetap mempunyai jalan untuk memberi hak kesulungan kepadanya. Secara luaran nampaknya siasat dan tipu muslihat Yakub membantu dirinya memperoleh hak kesulungan. Namun sebenarnya justru membuatnya menderita. Sejak Yakub menipu ayahnya, ia boleh jadi tidak pernah lagi melihat ibunya. Ribka sangat mengasihi Yakub, tetapi karena kepintarannya, ia boleh jadi kehilangan Yakub dan tidak pernah berjumpa dengan Yakub lagi. Yakub harus lari ke rumah Laban dan menderita di bawah tangan Laban selama dua puluh tahun. Janganlah sekali-kali meniru Ribka. Jika Anda meniru dia, Anda akan menderita.
Melalui perkara beralihnya hak kesulungan dari Esau kepada Yakub, kita nampak bahwa hak kesulungan itu tergantung pada kedaulatan Allah. Kita pun nampak bahwa kita tidak boleh bermain siasat atau menipu untuk memperoleh hak kesulungan. Dengan kata lain, kita tidak perlu berjuang untuk hak kesulungan. Tetapi janganlah kita begitu kendor atau lengah sehingga menjual hak kesulungan kita. Memang kita tidak mampu memperoleh hak kesulungan dengan usaha kita sendiri, namun kita bisa saja menjualnya bila kita mempunyainya. Yakub memperoleh hak kesulungan bukan karena perbuatannya, tetapi Esau kehilangan hak kesulungan karena perbuatannya yang keliru.
II. DARI ZERAH BERALIH KEPADA PERES
Dalam Kejadian 38:27-30 kita nampak beralihnya hak kesulungan dari Zerah kepada Peres. Hal ini menjelaskan suatu fakta bahwa pemberian hak kesulungan tidak tergantung pada perbuatan manusia. Zerah berusaha keluar duluan. Ia “mengeluarkan tangannya, lalu dipegang oleh bidan, diikatnya dengan benang kirmizi serta berkata: ‘Inilah yang lebih dahulu keluar’” (ayat 28). Namun perbuatan manusia tidak mungkin mengendalikan, mengatur, atau mengarahkan hak kesulungan. Tidak pernah terpikir oleh bidan itu bahwa Peres akan dilahirkan duluan, dan sesungguhnya Pereslah yang lahir duluan (ayat 29). Ketika ia keluar, bidan berkata dengan keheranan, “Alangkah kuatnya engkau menembus keluar” (ayat 29). Bahasa Ibraninya di sini sangat sulit diterjemahkan. Dapat diterjemahkan juga, “Mengapakah engkau membuka sela bagi dirimu?” atau “Bagaimanakah engkau membuka sela ini! Sela ini terbuka bagimu!” atau “Bukan main sela yang kaubuat bagi dirimu!” Bidan itu harus mengakui bahwa Peres telah memperoleh hak kesulungan. Jadi, menerima hak kesulungan tidaklah tergantung pada perbuatan manusia.
III. DARI RUBEN BERALIH KEPADA YUSUF
Contoh ketiga beralihnya hak kesulungan ialah dari Ruben kepada Yusuf (Kej. 49:3-4; 1 Taw. 5:1), memuat satu peringatan yang kuat. Ruben, anak sulung, kehilangan hak kesulungan karena perbuatannya yang cemar. Allah bermak-sud memberi hak kesulungan kepada Ruben, yang sebagai anak sulung, namun Ruben kehilangan hak itu karena berbuat cemar. Hak sulung itu beralih dari Ruben kepada Yusuf yang selalu menjauhi kecemaran (39:7-12). Allah itu adil. Ia mengalihkan hak kesulungan itu dari orang yang berbuat cemar kepada orang yang menghindari kecemaran. (Meskipun hak kesulungan itu beralih dari Ruben kepada Yusuf, tetapi Yusuf hanya mendapat bagian ganda atas tanah. Ia tidak mendapat jabatan imam atau raja. Lewi yang mendapat jabatan imam dan Yehuda mendapat jabatan raja).
Jangan mengira bahwa perzinaan itu tidak berarti apa-apa, Allah justru membencinya. Kita hidup dalam zaman Sodom. Seluruh dunia hari ini, termasuk Amerika Serikat dan terutama Swedia dan Perancis, sudah merupakan Sodom. Banyak laki-laki dan perempuan hidup bersama tanpa nikah. Itu tentu akan mendatangkan hukuman Allah. Dalam Alkitab, Allah melaksanakan hukuman khusus terhadap Sodom karena orang-orang di sana melampiaskan hawa nafsu tanpa batas. Tidak ada yang lebih berdosa kepada Allah daripada perbuatan zina. Namun, banyak orang muda hari ini, bahkan gadis-gadis muda, tidak merasa malu akan hal ini. Terlibat dalam perzinaan selalu merugikan Anda. Allah tidak perlu sengaja menghukum Anda, karena suatu hukuman alamiah dengan spontan akan menimpa diri Anda. Perkara Ruben menunjukkan bahwa sekalipun Anda telah ditentukan untuk memiliki hak kesulungan, Anda bisa kehilangan hak kesulungan itu bila Anda melakukan perzinaan.
Setiap orang Kristen yang melakukan perzinaan akan kehilangan hak kesulungannya. Hak kesulungan ini termasuk kenikmatan penuh atas Kristus dengan jabatan imam dan raja. Memiliki hak kesulungan berarti berhak menjadi imam dan raja. Bila kita kehilangan hak kesulungan, kita kehilangan kenikmatan atas Kristus. Setiap orang Kristen yang berbuat zina segera kehilangan kenikmatan ini. Dosa ini juga mengakibatkan orang beriman itu tidak dapat menjadi imam atau raja. Tidak hanya demikian, orang yang berzina tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Seribu Tahun, yang penuh kenikmatan atas Kristus dan menjadi imam Allah serta meraja bersama Kristus (1 Kor. 6:9-10; Gal. 5:19-21; Ef. 5:5). Hanya para pemenang yang akan mengambil bagian dalam kenikmatan ini, menjadi imam Allah dan meraja bersama Kristus. Ingat: pencemaran akan menyebabkan Anda kehilangan hak kesulungan.
IV. DARI MANASYE BERALIH
KEPADA EFRAIM
Sekarang kita membahas perkara yang keempat, yakni beralihnya hak kesulungan dari Manasye ke Efraim (48:12-20). Manasye adalah anak sulung (ayat 14). Sewaktu Yusuf menghantarkan Efraim dan Manasye kepada Yakub supaya diberkati olehnya, ia mengupayakan agar berkat anak sulung itu bisa sesuai dengan kelahiran alamiah (ayat 13-17). Namun Efraim mendapatkan berkat anak sulung, karena Yakub menyilangkan tangan pemberkatnya (ayat 14, 17-20). Saya mempunyai perasaan yang dalam bahwa ketika Yusuf berusaha mengendalikan keadaan itu, hal itu tentunya meng-ingatkan Yakub akan perkara yang pernah dilakukan pada masa mudanya. Ia teringat betapa ia telah memperdayai saudaranya untuk merebut hak kesulungannya dan juga menipu ayahnya untuk memperoleh berkatnya. Ketika Yakub menyilangkan tangan kanannya dan menaruh ke atas kepala Efraim, anak yang kedua, mungkin Yakub berkata kepada diri sendiri, “Yakub, engkau tidak perlu mengupayakan sesuatu apa pun. Efraim tidak melakukan apa-apa namun engkau meletakkan tangan kananmu atasnya. Mengapa engkau banyak main tipu daya di masa mudamu?” Saya yakin ketika Yakub menyilangkan tangannya, ia tersentuh oleh perasaan yang sangat dalam. Bila Yusuf dan anak laki-lakinya tidak ada di tempat, mungkin Yakub akan menyatakan penyesalannya secara terbuka. Mungkin Anda mengira bahwa Anda tepat dalam mengendalikan situasi. Namun bebe-rapa tahun kemudian, Anda akan merasa malu terhadap apa yang telah Anda lakukan, sehingga berkata, “Betapa memalukan perbuatan itu!”
Kita harus percaya bahwa bukan Yakub yang mengarahkan tangannya sendiri, melainkan Yakub dipimpin oleh Roh itu. Pimpinan Roh itu merupakan berkat bagi Efraim, namun merupakan teguran bagi Yakub. Mungkin Tuhan berkata kepadanya, “Yakub, kamu tidak perlu berbuat apa-apa. Lihatlah Efraim, ia tidak melakukan apa-apa, namun ia mendapat hak kesulungan. Mengapa kamu banyak bermain tipu daya sehingga menjerumuskan dirimu ke dalam penderitaan?” Saya seperti Yakub, melakukan beberapa perkara selagi masih muda, tetapi kemudian saya menyesal. Kaum muda, Anda perlu menyadari bahwa pemberkatan tidaklah dalam tangan Anda, melainkan dalam tangan orang-orang tua. Apakah kami akan menyilangkan tangan kami dan menaruh tangan kanan kami di atas kepala Anda tidaklah tergantung pada Anda. Ini tergantung pada kami. Bila Anda ingin menerima pemberkatan ini, Anda harus mempunyai orang tua. Jika Anda menjauhi mereka, Anda akan kehilangan pemberkatan. Yang tua tidak akan memberkati Anda, kecuali Anda menghormati mereka. Anak-anak muda, tanpa pemberkatan dari orang tua, Anda tidak akan maju. Anda perlu sekali bantuan mereka.
V. DARI ISRAEL BERALIH KEPADA GEREJA
Sekarang kita melihat perkara yang terakhir atas beralihnya hak kesulungan dalam Alkitab, yakni peralihan hak kesulungan dari Israel kepada gereja. Ini sangat penting. Dalam Keluaran 4:22, Tuhan berkata kepada Musa, “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung.” Israel memang anak sulung Allah, namun Israel kehilangan hak kesulungannya karena tidak percaya (Mat. 21:32; Rm. 11:20). Menurut Lukas 15, pada awal ministri-Nya, Tuhan masih memandang Israel yang diwakili oleh orang-orang Farisi sebagai anak sulung dan pemungut cukai serta orang berdosa sebagai anak kedua. Namun menurut kenikmatan dalam Lukas 15, anak kedua yang menerima hak kesulungan, karena anak kedua yang menikmati lembu gemuk, yaitu Kristus. Ini menunjukkan peralihan hak kesulungan. Melalui ini kita nampak bahwa orang-orang Farisi kehilangan kenikmatan atas Kristus, sedang pemungut-pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang bertobat malah beroleh kenikmatan ini. Ini membuktikan bahwa mereka mendapatkan hak kesulungan.
Menjelang akhir ministri-Nya, dalam Matius 21, Tuhan menunjukkan bahwa pemungut cukai, perempuan pelacur, dan orang-orang berdosa yang bertobat, yaitu orang-orang yang membentuk gereja, adalah anak sulung dan orang-orang Farisi yang tidak percaya, yang mewakili Israel, adalah anak kedua. Matius 21:32 mengatakan, “Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” Karena tidak percaya, maka Israel, anak sulung disingkirkan dan anak kedua dimasukkan dalam hak kesulungan. Orang-orang berdosa yang bertobat dan percaya menjadi bahan penyusun gereja, dan gereja hari ini disebut sebagai gereja anak sulung (Ibr. 12:23). Dalam gereja, kita adalah sekelompok anak sulung yang memiliki hak kesulungan. Hak kesulungan ini memberi kita hak untuk menikmati Kristus dengan sepenuhnya, menjadi imam-imam Allah, dan meraja bersama Kristus. Walaupun kita memiliki hak kesulungan, Perjanjian Baru masih memperingatkan kita akan kemungkinan kehilangan hak itu (Ibr. 12:16-17). Waspadalah, Anda bisa saja kehilangan hak kesulungan Anda.