← Daftar isi Kejadian (7) · bab 5/14

PEMBERKATAN

Telah berulang-ulang kita tunjukkan bahwa Kitab Kejadian merupakan sebuah kitab benih. Hampir setiap hal dalam kitab ini berupa benih yang berkembang dalam kitab-kitab selanjutnya dalam Alkitab. Demikian juga perihal pemberkatan. Berita ini merupakan sisipan yang lain lagi dalam pelajaran hayat kita. Kita akan memperhatikan be-nih pemberkatan yang ditaburkan dalam Kitab Kejadian dan perkembangannya yang terdapat dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

I. PRINSIP PEMBERKATAN

Ibrani 7:7 mengatakan, “Memang tidak dapat disangkal bahwa yang lebih rendah (kecil) diberkati oleh yang lebih tinggi (besar).” Ayat ini menerangkan prinsip pemberkatan, yakni yang lebih besar memberkati yang lebih kecil. Lebih besar atau lebih kecil, terutama bukan masalah usia, melainkan masalah kapasitas Kristus. Kita menjadi yang lebih besar atau yang lebih kecil itu adalah menurut kapasitas Kristus dalam batin kita. Dalam Matius 11:11 Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia.” Di sini Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis lebih besar daripada semua orang yang menda-huluinya. Tetapi yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada Yohanes. Alasan Yohanes lebih besar daripada orang-orang yang mendahuluinya adalah ia sangat dekat dengan Kristus. Meskipun Abraham besar, tetapi ia belum nampak Kristus. Sedangkan Yohanes sudah nampak Dia. Dan meskipun Yohanes demikian dekatnya dengan Kristus, ia tetap belum memiliki Kristus dalam batinnya. Tetapi mereka yang ada di dalam Kerajaan Surga bukan sekadar dekat dengan Kristus, lebih-lebih dalam batin mereka telah memiliki Kristus. Inilah alasannya yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada Yohanes. Orang-orang besar dalam Perjanjian Lama dapat mengatakan bahwa Kristus akan datang, dan Yohanes Pembaptis dapat mengatakan bahwa Kristus ada di depannya. Tetapi kita, semua orang yang ada dalam Kerajaan Surga, dapat mengatakan bahwa Kristus ada dalam batin kita. Bahkan kita dapat berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Jadi, kita lebih dekat kepada Kristus daripada Yohanes Pembaptis dan semua orang-orang sebelumnya.

Kita lebih besar atau lebih kecil tergantung pada kapasitas Kristus yang ada di dalam kita. Memiliki Kristus lebih banyak berarti lebih besar. Memiliki Kristus lebih sedikit berarti lebih kecil. Dengan memiliki Kristus lebih banyak, kita akan lebih besar daripada orang lain, sehingga memenuhi syarat untuk memberkati orang lain; karena yang lebih besar selalu memberkati yang lebih kecil. Alasan ini berdasar pada yang lebih besar mempunyai kadar Kristus lebih banyak sehingga bisa memberikan kepada orang lain. Bila Anda lebih besar daripada saya, berarti Anda memiliki Kristus dalam porsi yang lebih besar daripada saya. Dengan demikian Anda mempunyai Kristus yang lebih banyak untuk disuplaikan kepada saya. Memberkati orang berarti menyuplaikan Kristus kepada orang. Mereka yang hanya memiliki sedikit kadar Kristus memerlukan berkat dari orang-orang yang berkadar banyak. Kita memberkati orang dengan Kristus yang kita miliki dan yang kita nikmati. Lebih banyak menikmati Kristus akan bisa lebih banyak pula menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Penyuplaian Kristus kepada orang inilah yang disebut pemberkatan.

II. MAKNA PEMBERKATAN

Sungguh sangat sulit untuk memberikan definisi yang tepat atas pemberkatan ini. Di tahun-tahun yang lampau saya hanya dapat mengatakan bahwa pemberkatan ialah mengharapkan atau meminta sesuatu yang baik bagi orang lain. Tetapi setelah menempuh pengalaman bertahun-tahun, saya bisa mengatakan bahwa pemberkatan adalah Allah me-luap melalui seseorang yang matang hayatnya. Allah tidak dapat mengalirkan diri-Nya kepada orang lain tanpa melalui manusia sebagai saluran-Nya. Tanpa Kristus berinkarnasi, Allah tidak dapat mengalir kepada manusia, karena belum ada saluran. Keluapan Allah memerlukan manusia sebagai saluran. Hanya manusia yang diresapi dan dijenuhi oleh Allah yang dapat dipakai Allah sebagai saluran. Itulah sebabnya Yakub tidak memberkati seorang pun sebelum ia mencapai kematangan. Yakub tidak memberkati Laban atau Esau. Bahkan ketika ia menjumpai Esau setelah 20 tahun tinggal bersama Laban, ia tidak memberkatinya. Sampai ia pergi ke Mesir, barulah ia memberkati Firaun, pemerintahan terting-gi di bumi pada masa itu (47:7, 10). Pada saat itu Yakub sudah dipenuhi oleh Allah. Melalui pemberkatan Yakub kepada Firaun, berkat Allah mengalir ke atas Firaun.

Seorang anak yang berumur 2 tahun mustahil memberkati seorang pun; akan tetapi anak yang berusia 7 atau 8 tahun mungkin sudah bisa memberikan berkat tertentu kepada orang. Hal ini menjelaskan bahwa memberkati orang lain tergantung pada kematangan hayat. Kematangan hayat merupakan perkara dipenuhi Allah. Begitu kita dipenuhi oleh Allah, niscaya kita mempunyai keluapan Allah, sehingga kita mampu memberkati orang yang kita jumpai. Di tahun-tahun yang silam, saya tidak mampu menerangkan pemberkatan seperti ini. Pemahaman pemberkatan semacam ini bukan berasal dari buku-buku bacaan, melainkan hanya berasal dari pengalaman.

III. CONTOH PERTAMA PEMBERKATAN

Contoh pertama pemberkatan dalam Alkitab ialah pemberkatan Melkisedek kepada Abraham (14:18-20). Melkisedek adalah lambang Kristus. Jadi, kedatangan Melkisedek kepada Abraham adalah kedatangan Kristus kepada Abraham. Melkisedek mendatangi Abraham dengan roti dan anggur, sama seperti Tuhan juga mendatangi kita dengan roti dan anggur. Tidak hanya demikian, Melkisedek datang sebagai imam yang kekal, dan Kristus menjadi imam menurut peraturan kekal Melkisedek (Ibr. 5:6). Imam membawa orang-orang kepada Allah. Kalau Anda mau memberkati orang lain, Anda haruslah sebagai imam Allah. Nanti kita akan nampak bahwa dalam Perjanjian Lama Allah memerintahkan imam-imam untuk memberkati umat-Nya. Pemberkatan ini adalah keluapan Allah, dan keluapan ini disampaikan kepada orang-orang melalui imam-imam. Pemberkatan kali pertama diberikan melalui seorang imam. Kita semua perlu menjadi imam-imam, yang membawa orang-orang kepada Allah.

Jika kita ingin memberkati orang, kita sendiri harus dekat dengan Allah. Kita harus menjadi imam-imam yang membawa orang-orang kepada Allah. Orang-orang memerlukan berkat Allah karena mereka jauh dari Allah. Imam justru melenyapkan jarak di antara Allah dengan manusia; ia membawa mereka yang jauh itu ke hadirat Allah. Di atas bahu imam besar terdapat dua permata krisopras yang pa-danya terukir nama-nama kedua belas suku Israel, sedang pada tutup dadanya terdapat dua belas batu permata, yang juga terukir nama-nama kedua belas suku Israel (Kel. 28:9-12, 15-21). Setiap kali imam besar masuk ke dalam tempat maha kudus, ia selalu memakai tutup dada dan tutup bahu. Ini menunjukkan bahwa ia membawa orang-orang Israel ke hadapan Allah. Kita semua paham bahwa imam itu melayani Allah, namun kita mungkin belum pernah nampak bahwa imam juga melenyapkan jarak yang ada di antara manusia dengan Allah. Sebelum Anda diberkati oleh imam, mungkin di antara Anda dengan Allah terdapat suatu jarak. Tetapi setelah ia memberkati Anda, jarak itu telah dilenyapkan, Anda dibawa ke hadirat Allah, dan berbagian dalam menikmati Allah. Ketika Melkisedek memberkati Abraham, pemberkatan itu membawanya ke hadapan Allah. Bahkan Melkisedek berkata, “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi” (14:19). Jika Anda membaca Kejadian 14 dengan teliti, Anda akan nampak bahwa Melkisedek bukan memberkati Abraham dengan sesuatu yang bukan Allah. Ia tidak mengatakan, “Kiranya engkau diberkati dengan sebuah rumah yang bagus,” juga bukan, “Kiranya engkau diberkati dengan dua orang putra.” Melainkan katanya, “Diberkatilah kiranya oleh Allah Yang Mahatinggi.” Dengan demikian Melkisedek membawa Abraham lebih dekat kepada Allah.

IV. PEMBERKATAN OLEH IMAM

Dalam Bilangan 6:23-27 kita nampak sebuah contoh pemberkatan. Di sini Allah menyuruh para imam memberkati umat dengan berkata kepada mereka, “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Pemberkatan di sini bukan satu atau rangkap dua, melainkan rangkap tiga. Pemberkatan ini rangkap tiga dikarenakan berkaitan dengan perkara penyaluran Allah ke dalam manusia. Dan ini meliputi Trinitas: Bapa, Putra, dan Roh. Trinitas bukanlah suatu doktrin, melainkan perkara penyaluran diri Allah ke dalam umat-Nya.

Aspek pertama dari pemberkatan dalam Bilangan 6 berhubungan dengan pemberkatan dan kekuatan perlindungan Allah Bapa. Aspek kedua berhubungan dengan wajah yang bersinar dari Allah Putra dan kasih karunia-Nya (anugerah-Nya). Kata “kasih karunia” dalam Bilangan 6:25, dalam bahasa Ibraninya menyiratkan merendah dengan penuh sayang kepada mereka yang lebih rendah. Ini menerangkan bahwa melalui menjadi seorang manusia, maka Yang kedua dari Trinitas, telah merendah dengan penuh kasih sayang kepada kita, kaum yang rendah. Ketika Ia menjelma sebagai manusia, Ia telah benar-benar merendah ke bawah dari surga. Inilah kasih karunia.

Saya menyukai kalimat “Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya”. Punyakah Anda pengalaman semacam ini? 2 Korintus 4:6 mengatakan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Yesus Kristus. Yesus itulah terang sejati, terang ini adalah diri Allah sendiri (Yoh. 8:12; 1 Yoh. 1:5). Diri Allah sebagai terang menyinari kita dari wajah Yesus Kristus. Jadi, aspek kedua dari pemberkatan yang tiga rangkap ini berhubungan dengan Allah Putra yang merendahkan diri-Nya dengan penuh kasih sayang dan baik hati serta mengunjungi kita agar kita beroleh anugerah. Yohanes 1:14 menyuratkan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita . . . penuh anugerah dan kebenaran.” Karena Tuhan telah merendahkan diri dengan penuh kasih sayang kepada kita, maka kita sekarang memiliki pemberkatan ini.

Aspek ketiga dari pemberkatan berhubungan dengan wajah Allah Roh dan damai sejahtera-Nya. Penghadapan wajah Tuhan ke arah kita dan pemberian damai sejahtera sudah tentu merupakan pekerjaan anugerah dari Yang ketiga dari Tritunggal, yaitu Roh itu. Hari ini, Roh itu senantiasa menghadapkan wajah Allah kepada kita dan memberi kita damai sejahtera. Ia memberi damai sejahtera bukan hanya pada lingkungan kita saja, juga dalam segenap diri kita, dalam hati kita, roh kita, bahkan dalam pikiran kita. Dalam Roh itu, melalui Roh itu, dan dengan Roh itu kita memiliki damai sejahtera. Orang lain boleh saja terganggu dalam hati, pikiran, roh, dan lingkungan mereka, namun kita tidak seharusnya demikian. Di mana saja kita berada, kita memiliki damai sejahtera, karena Roh Allah beserta kita dan wajah-Nya dihadapkan ke arah kita.

Dengan ringkas dapat kita katakan bahwa pemberkatan adalah membawa manusia ke hadapan Allah, ke dalam kenikmatan atas Allah. Pemberkatan yang beraspek tiga ganda dalam Bilangan 6 merupakan contoh pemberkatan oleh imam-imam dalam Perjanjian Lama. Contoh ini menunjukkan bahwa pemberkatan yang sebenarnya ialah membawa manusia ke hadapan Allah, kepada sinar wajah-Nya, dan kepada pancaran wajah-Nya sehingga mereka mempunyai bagian dalam anugerah-Nya dan mempunyai damai sejahtera. Inilah pemberkatan yang sebenarnya. Sungguh indah! Sungguh ajaib!

V. PEMBERKATAN OLEH RASUL

Dalam 2 Korintus 13:13 Rasul Paulus juga memberikan sebuah contoh tentang pemberkatan. Ayat ini mengatakan, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Kita telah nampak bahwa imam membawa manusia kepada Allah. Akan tetapi, rasul membawa Allah kepada manusia; ia mendatangi manusia dengan membawa Allah. Dalam 2 Korintus 13:13 kita melihat kunjungan anugerah Allah Tritunggal. Melalui pemberkatan Rasul Paulus, Allah Tritunggal mendatangi manusia untuk menjadi kenikmatan mereka. Kenikmatan ini berupa kasih Allah yang sebagai anugerah Kristus melalui persekutuan Roh Kudus. Kasih, anugerah, dan persekutuan bukanlah tiga hal yang terpisah, semua itu merupakan tiga aspek atau tiga tahap dari satu hal. Mereka adalah tiga tahap dari Allah menjadi kenikmatan kita. Kasih itu di dalam, anugerah adalah kasih yang terekspresi, sedang persekutuan adalah anugerah ditransmisikan ke dalam kita. Kasih ada di dalam diri Allah. Ketika kasih ini diekspresikan, itulah anugerah; dan anugerah ditransmisikan dalam persekutuan. Saya mungkin saja mengasihi saudara tertentu, namun kasih itu ada di dalam saya. Bagaimana kasih ini dapat diekspresikan? Saya dapat mengekspresikannya dengan memberinya sebuah Alkitab. Alkitab mewakili anugerah yang sebagai ekspresi kasih yang ada dalam saya kepada saudara itu. Untuk menyampaikan anugerah ini kepadanya, saya harus benar-benar memberinya Alkitab. Inilah persekutuan.

Dalam Perjanjian Lama, dasar pemikiran mengenai pemberkatan ialah membawa manusia ke hadapan Allah. Tetapi dalam Perjanjian Baru, rasul yang datang bersama Allah, bukan sekadar membawa manusia ke hadapan Allah, tetapi juga membawa Allah ke dalam manusia. Ada perbedaan yang besar antara pola pemberkatan zaman Perjanjian Lama yang dilakukan oleh imam-imam dengan pola pemberkatan zaman Perjanjian Baru yang dilakukan oleh rasul-rasul. Pemberkatan zaman Perjanjian Baru lebih tinggi dan lebih dalam. Di satu pihak, memberkati manusia ialah membawa manusia ke hadapan Allah; di pihak lain, ialah membawa Allah ke dalam manusia sebagai kasih, anugerah, dan persekutuan.

Semua orang Kristen sangat mengenal istilah pemberkatan. Bahkan ada sebuah nyanyian yang tertulis, “Hitunglah berkat-berkatmu, sebutlah satu per satu.” Tidak diragukan bahwa konsepsi mengenai pemberkatan dalam nyanyian ini ditujukan kepada perkara-perkara mendapatkan istri, anak-anak, pendidikan, kenaikan pangkat, rumah, dan mobil yang baik. Menurut nyanyian tadi, kesemuanya itu adalah berkat-berkat yang harus kita hitung satu per satu. Tiga puluh lima tahun yang lalu, saya selalu menyanyikan nya-nyian ini berjam-jam lamanya menjelang saat terakhir tiap tahun. Saya mengumpulkan beberapa orang serta mengajak mereka, “Marilah kita menghitung berkat-berkat sepanjang tahun ini, satu demi satu.” Tetapi pemberkatan menurut firman Allah yang murni jauh berbeda dengan ini. Menurut pola pemberkatan dalam Perjanjian Lama yang dilakukan oleh imam-imam dan pola pemberkatan dalam Perjanjian Baru yang dilakukan oleh rasul-rasul, pemberkatan tepatnya ialah membawa manusia ke hadapan Allah dan membawa Allah ke dalam manusia sebagai anugerah, kasih, dan persekutuan, sehingga manusia menikmati Allah Tritunggal, yakni Bapa, Putra, dan Roh. Jadi, pemberkatan adalah perkara menikmati Allah Tritunggal.

VI. PEMBERKATAN TUHAN

MENYINGKIRKAN PENGENDALIAN

ALAMIAH MANUSIA

Sekarang kita sampai pada beberapa butir pelaksanaan yang berhubungan dengan pemberkatan. Pemberkatan Tuhan menyingkirkan pengendalian alamiah manusia (48:13-20). Sewaktu Yusuf membawa putra-putranya, Manasye dan Efraim, ke hadapan Yakub, ia telah mengendalikan situasi sedemikian rupa sehingga Manasye, putranya yang sulung, berada di depan tangan kanan Yakub. Sang ayah menaruh putra sulungnya di depan tangan kanan kakeknya untuk menerima berkat yang utama, dan putra yang kedua di depan tangan kiri untuk menerima berkat yang kedua. Tindakan Yusuf ini didasari konsepsi alamiah. Menurut konsepsi alamiah, Yusuf memang benar. Akan tetapi Yakub menyilangkan tangannya. Meskipun penglihatannya sudah kabur, tetapi rohnya sangat jelas dan bening. Kejadian 48:17 menuliskan, “Ketika Yusuf melihat bahwa ayahnya meletakkan tangan kanannya di atas kepala Efraim, hal itu dipandangnya tidak baik; lalu dipegangnya tangan ayahnya untuk memindahkannya dari atas kepala Efraim ke atas kepala Manasye.” Kata Yusuf, “Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya” (ayat 18). Yakub menolak, katanya, “Aku tahu, anakku, aku tahu” (ayat 19). Demikianlah, pemberkatan Tuhan menyingkirkan pengendalian alamiah manu-sia.

Karena orang tua mempunyai kesenangan, pilihan, dan konsepsi yang alamiah, maka mereka selalu ingin mengendalikan situasi. Tetapi pengendalian itu harus disingkirkan. Saya telah banyak membuat pengendalian, bahkan di saat memberitakan Injil. Ketika saya melihat bahwa di antara para pendengar ada yang berbakat dan berpengharapan, saya lalu berkata kepada diri sendiri, “Inilah bahan-bahan yang baik.” Akan tetapi, kebanyakan dari mereka sama sekali tidak mau percaya, atau kalau mereka percaya, mereka percaya secara sambil lalu saja. Sebaliknya yang lain, yang saya anggap tidak berguna, malah sungguh-sungguh percaya, menjadi bahan yang berguna.

Bentuk lain dari pengendalian dapat ditemukan dalam pelayanan gereja. Pada masa silam, kami mengira orang-orang tertentu dapat dipercaya, rohani, dan ksatria. Namun, sering kali kami dikecewakan oleh mereka, karena mereka tidak mencapai apa yang kami harapkan. Pengendalian kita tidaklah sesuai dengan pemberkatan Allah. Pengendalian kita merupakan pilihan kita, kemauan kita. Lebih dari 30 tahun yang lampau, saya berkata, “Orang-orang ini sungguh baik. Mereka sedang bertumbuh, mereka akan dibangun, dan mereka akan menjadi satu.” Akan tetapi, akhirnya orang-orang yang terbaik bukanlah berasal dari kelompok orang-orang pilihan saya, melainkan berasal dari arah yang lain. Inilah salah sebuah contoh dari tangan-tangan Allah yang disilangkan.

Tuhan tidak pernah mau meletakkan tangan-Nya menurut pengendalian kita. Karena itu, dalam keluarga kita, dalam penginjilan, dan dalam pelayanan gereja, kita harus belajar mengesampingkan tangan kita. Kita hanya memba-wa kedua putra kita ke hadapan Allah sambil mempercayakan mereka ke dalam tangan kedaulatan-Nya. Kita semua adalah Yusuf-Yusuf. Kita ingin membawa Manasye kita ke tangan kanan Tuhan dan Efraim ke tangan kiri-Nya. Akan tetapi sekali demi sekali Tuhan menyilangkan tangan-Nya. Jika Anda memperhatikan hidup gereja dan mempelajari sejarah gereja, Anda akan nampak bahwa pemberkatan Allah selalu menurut kedaulatan-Nya, tidak pernah tunduk kepada pengendalian manusia. Sebagai contoh, Petrus merupakan salah seorang pemimpin di Yerusalem. Yakinkah Anda bahwa ia pernah mendoakan supaya Saulus dari Tarsus menjadi seorang rasul? Tentu tidak! Sebaliknya, Petrus mungkin berdoa demikian, “Tuhan, Saulus terlalu aktif. Mohon Engkau mengikat dia.” Tetapi tangan Tuhan melintasi kedua belas rasul itu dan diletakkan ke atas Saulus. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, setelah pasal 1, selain Petrus, Yakub, dan Yohanes, tidak ada rasul-rasul lainnya yang disebut-sebut. Namun, ketika Saulus di jalan menuju Damaskus, Tuhan sengaja mengulurkan tangan-Nya, dan pemberkatan turun ke atasnya.

Kita, para orang tua, janganlah memiliki kesukaan diri sendiri terhadap anak-anak kita. Kita tidak tahu siapa di antara mereka yang akan dipilih Tuhan. Kita tidak dapat mengetahui secara dini siapa di antara anak-anak kita yang akan diselamatkan. Ini mutlak tidak tergantung pada pengendalian kita, melainkan tergantung pada berkat Tuhan.

Dalam hidup gereja, saya tidak lagi mempercayai pilihan saya sendiri. Dalam pemilihan penatua-penatua, diaken-diaken, dan pemimpin-pemimpin dalam pelayanan gereja, saya sering menarik tangan saya karena saya tidak percaya akan daya tamyiz (pembeda) saya. Sering kali pilihan kita mendatangkan pengendalian kita, akibatnya, penyilangan tangan Allah muncul untuk memberkati orang yang tidak kita pilih. Mereka yang sebagai orang tua, juga pemimpin-pemimpin dalam pelayanan gereja, hendaklah berhati-hati terhadap pilihan mereka. Jangan sekali-kali melakukan pengendalian yang mana pun menurut apa yang kita sukai dan apa yang tidak kita sukai, karena berkat Allah selalu menyingkirkan pengendalian kita.

Ada hal yang menyangkut pemberkatan Yakub kepada Efraim yang seharusnya sangat mendorong kita semua. Mungkin adakalanya Anda menganggap diri sendiri tidak berpengharapan dan tidak berguna. Berapa bulan yang lalu, saya mendengar banyak orang yang merasa kecewa dan merasa seperti itu. Malah ada beberapa di antara mereka yang merasa bahwa hidup ini tanpa makna. Ada yang berkata, “Aku telah percaya kepada Tuhan Yesus. Aku telah menempuh hidup gereja. Aku tahu aku harus berfungsi dalam gereja, tetapi tidak ada yang memilih aku untuk melakukan sesuatu. Jelaslah tidak ada harapan bagiku. Jika aku tidak berfungsi dalam gereja, maka hidup ini sungguh tidak bermakna.” Janganlah kecewa; Anda belum habis sama sekali. Dalam gereja-gereja, terutama gereja-gereja yang besar, ada suatu atmosfer yang membuat orang-orang merasa bahwa mereka tidak diperlukan. Meskipun dalam gereja yang besar hanya beberapa orang yang menjadi penatua, namun setiap orang masih tetap penting. Jangan mengendalikan situasi Anda dengan cara apa pun, sebab tangan pemberkat Tuhan bisa menyilang dan mencapai Anda.

Ke mana pemberkatan rohani itu, kita tidak tahu, namun kita tahu pasti bahwa tangan pemberkat Tuhan selalu menyingkirkan pengendalian alamiah manusia. Mungkin Anda berkata, “Ini anak sulung,” tetapi Ia berkata, “Aku tahu.” Penyilangan tangan Tuhan ini boleh jadi sebagai hal yang tidak benar dalam pandangan Anda, namun ini sangat indah dalam pandangan Tuhan. Pemberkatan bukan tergantung kepada pengendalian Anda; itu tergantung kepada keinginan dan pilihan Allah. Pilihan kita sangat mungkin dikendalikan oleh kesenangan kita. Jangan mengendalikan dan jangan merasa kecewa. Percaya saja bahwa tangan Tuhan akan bersilang mencapai Anda.

VII. KONSEPSI ALAMIAH MANUSIA

MENGHALANGI TANGAN

PEMBERKAT TUHAN

Kita telah nampak bahwa Yusuf mencoba menghalangi tangan pemberkat ayahnya. Ini menunjukkan bahwa konsepsi alamiah manusia menghalangi tangan pemberkat Tuhan. Dalam hidup gereja, Tuhan boleh jadi membangunkan ba-nyak orang yang tidak kita sukai, bahkan di antaranya akan menjadi penatua yang sangat baik. Memang saya mempu-nyai perasaan, konsepsi, dan kesukaan insani, tetapi konsepsi alamiah saya telah disingkirkan. Kita benar-benar tidak tahu dari arah mana Saulus dari Tarsus akan muncul. Orang yang Anda kira paling baik ternyata justru paling buruk. Namun seorang penentang akan menjadi Rasul Paulus hari ini; Anda tidak menyukainya, namun Tuhan menyukainya. Banyak orang akan dibangunkan justru dari orang-orang yang menurut konsepsi Anda tidaklah memadai. Lupakanlah pilihan Anda, itu tidak berkhasiat. Jika itu berkhasiat, tentu tidak perlu ada penentuan. Inilah alasan Perjanjian Baru tidak mencatat nama-nama keturunan para rasul. Hanya nama-nama anak-anak rohani saja yang dicatat. Paulus menyebut Timotius “anakku yang sah di dalam iman” (1 Tim. 1:2), dan Titus “anakku yang sah menurut iman kita bersama” (Tit. 1:4), dan Petrus menyatakan “Markus, anak-ku” (1 Ptr. 5:13). Nama-nama keturunan para rasul tidak dicantumkan karena bukan semua dari mereka yang ditentukan. Demikian pula kita harus mengakui bahwa bukan semua anak kita ditentukan. Namun, jangan membiarkan perkara penentuan ini membuat Anda mengabaikan memberitakan Injil. Itu ekstrem. Jangan mengendalikan apa-apa. Bawalah anak-anak kepada Allah begitu saja, dan biarlah Dia yang membuat pilihan. Jangan sampai konsepsi alamiah Anda menghalangi tangan pemberkat Tuhan.

VIII. TANGAN PERAMPAS YAKUB

MENJADI TANGAN PEMBERKAT

Tangan perampas Yakub akhirnya menjadi tangan pemberkat (25:26; 47:7; 10; 48:14-16). Dalam pasal 25, kita nampak bahwa Yakub bahkan mulai merampas ketika ia masih di dalam kandungan ibunya. Betapa mahirnya ia merampas! Tetapi dalam pasal 47—48 kita nampak bahwa kedua tangan perampas ini telah menjadi tangan pemberkat yang membawa orang-orang ke hadapan Allah dan menyuplaikan Allah ke dalam orang-orang, sehingga mereka bisa menikmati Dia. Percayakah Anda bahwa tangan perampas Yakub bisa menjadi tangan pemberkat dari seorang yang matang? Di sini kita nampak pertumbuhan dan kematangan hayat. Seorang perampas, pemegang tumit, menjadi seorang yang agung di muka bumi pada zaman itu. Ia bisa memberkati Firaun berhubung ia lebih besar daripada Firaun. Melalui jalan hayat ia menjadi orang yang sedemikian ini. Kita perlu bertumbuh dan matang dalam hayat agar kita terisi dengan Kristus dan menjadi orang yang dapat memberkati orang lain.