← Daftar isi Kejadian (7) · bab 4/14

DIMATANGKAN MANIFESTASI KEMATANGAN (1)

Dalam berita yang lalu kita telah menunjukkan perbedaan pengubahan dengan kematangan. Pengubahan ialah perubahan metabolis dalam hayat, sedang kematangan ialah kepenuhan dalam hayat. Kematangan adalah tahap terakhir dari pengubahan. Ketika kita sedang diubah, kita juga dipenuhi dengan hayat. Semakin kita diubah, semakinlah kita dipenuhi dengan hayat. Tidak seorang pun dapat dipenuhi dengan hayat tanpa diubah. Tingkat kepenuhan justru menandakan tingkat pengubahan. Kapan kita terubah seluruhnya, niscayalah kita dipenuhi oleh hayat dalam kepenuhan hayat.

Dari pasal 25—32 tidak kelihatan perubahan hayat atas diri Yakub. Menurut catatan dalam pasal 25, Yakub sudah mulai merebut sebelum ia dilahirkan. Pengubahan Yakub dimulai sejak Allah menjamah dia. Ini terjadi pada pasal 32. Pasal 25—32 tidak ada pengubahan, tidak ada perubahan hayat; tetapi pasal-pasal ini penuh dengan penanggulangan. Ingat, Yakub telah menempuh hidup selama 20 tahun di bawah tangan Laban. Selama masa itu, ia menerima penang-gulangan demi penanggulangan. Setelah melewati penanggulangan selama 20 tahun itu, pada suatu malam, Tuhan datang ke Pniel dan menjamah bagian Yakub yang terkuat, yakni pangkal pahanya, sehingga Yakub menjadi timpang. Itu adalah pertanda dimulainya pengubahan Yakub, dan proses pengubahan ini berlangsung terus dari pasal 32 sampai pasal 37. Pasal-pasal ini menggambarkan bagaimana Yakub diubah. Tetapi setelah kehilangan Yusuf dalam pasal 37, kita tidak nampak lagi perubahan lebih lanjut atas hayat Yakub. Ini dikarenakan saat itu pengubahannya sudah mendekati perampungan. Jadi, dalam pasal 37 Yakub mulai menjadi matang.

Dalam seumur hidup Yakub terdapat tiga periode yang mencolok: periode penanggulangan, periode pengubahan, dan periode kematangan. Kalau ketiga pasal ini kita bandingkan, yaitu pasal 27, pasal 37, dan pasal 47, niscayalah terlihat penanggulangan, pengubahan, dan kematangan. Dalam pasal 47, kematangan Yakub mencapai puncaknya bahkan termanifestasi sepenuhnya. Dalam berita ini kita akan melihat manifestasi kematangan Yakub.

(2) Manifestasi Kematangan

(a) Tidak Ada Kata-kata Tempelak Ketika Mendengar Yusuf Masih Hidup

Tanda pertama atas kematangan Yakub ternyata pada fakta ia tidak menempelak putra-putranya ketika mendengar kabar tentang Yusuf masih hidup di Mesir (45:21-28). Meskipun mereka pernah bermufakat untuk membunuh Yusuf, dan akhirnya menjual Yusuf sebagai budak, lalu membohongi Yakub dengan karangan cerita tentang Yusuf, namun Yakub sama sekali tidak menempelak mereka. Seandainya Yakub belum matang, pastilah ia akan berkata, “Apa yang kalian perbuat terhadapku? Tidakkah kalian tahu bahwa kalian nyaris membunuh aku?” Dalam pasal 45, tidak tercatat Yakub menempelak siapa pun.

Kejadian 45:26-27 melukiskan hati dan roh Yakub. Walaupun ada orang yang disebut orang Kristen menganggap roh dan hati itu sama, namun oleh terang Alkitab yang sejati kita tahu bahwa hati itu hati dan roh itu roh. Ayat 26 mengatakan, “Tetapi hati Yakub tetap dingin” (mati rasa Tl.), dan ayat 27 mengatakan, “bangkitlah kembali semangat (roh Tl.) Yakub, ayah mereka itu.” Mendengar kabar baik tentang Yusuf, hatinya tetap mati rasa. Beberapa terjemahan mengatakan “hatinya tetap dingin dan tawar”. Dalam bahasa Ibrani istilah tersebut berarti “mati rasa”, “tidak ada perasaan”. Hati Yakub tetap dingin, namun rohnya bangkit kembali

Kita perlu seperti Yakub. Dalam situasi-situasi tertentu, hati kita harus mati rasa, namun roh kita harus bangkit kembali. Baru-baru ini banyak orang muda yang mengalami “mabuk” Kristus. Tetapi saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan ini kepada mereka: Apakah hati Anda mati rasa? Apakah roh Anda atau hati Anda yang bangkit kembali? Saya tidak dapat memastikan bahwa mereka telah dibangkitkan kembali di dalam roh. Mungkin keadaan membubung mereka merupakan campuran antara roh dan hati. Pencampuran ini menunjukkan tidak ada pemisahan antara roh dengan jiwa. Menurut Ibrani 4:12, roh harus dipisahkan dengan jiwa. Seorang kudus yang matang adalah orang yang rohnya bangkit kembali, lincah, dan membubung, tetapi hatinya mati rasa. Memang kita harus berkobar-kobar dalam roh, namun hati kita seharusnya dingin. Roh kita harus merupakan tungku yang penuh api yang membara, tetapi hati kita harus sedingin kulkas.

Ketika hayat rohani kita masih muda atau hijau, kita sering bangkit dalam hati, namun mati rasa dalam roh. Semakin Anda muda, semakinlah Anda bangkit dalam hati dan mati rasa dalam roh. Akan tetapi begitu Anda bertumbuh, Anda mulai mati rasa dalam hati dan mulai bangkit dalam roh. Dalam pasal 45 kita nampak Yakub sebagai orang kudus yang matang. Sebab itulah Alkitab menyebutkan hatinya mati rasa, sedangkan rohnya bangkit. Inilah pernyataan kematangannya. Pembicaraan sedemikian ini mengenai hati dan roh hanya terdapat dalam Alkitab, dalam kitab-kitab duniawi tidak pernah ada.

Karena hati Yakub mati rasa dan rohnya bangkit, maka ia tidak menyalahkan siapa pun atau apa pun. Hatinya tidak berperasaan atau bereaksi. Hayat jiwanya telah mati sama sekali, sehingga hatinya seperti kayu. Jiwa Yakub telah terpisah dengan rohnya, karena itulah kabar gembira tentang Yusuf hanya membangkitkan rohnya, tidak merangsang hatinya.

Jangan sekali-kali mengira saya bermaksud menyiram air dingin ke atas kegembiraan muda-mudi kita. Tidak, saya setuju kaum remaja bergelora. Anak-anak itu anak-anak, ayah itu ayah, dan kakek itu kakek. Alangkah kekanakkanakannya jika seorang kakek mudah bergejolak! Anakanaklah yang seharusnya mudah terangsang. Kalau tidak demikian, mungkin fisik atau mental mereka ada penyakitnya. Anak-anak yang sehat selalu mudah bergejolak terangsang.

Baru-baru ini saya pulang dari perjalanan melawat ke Eropa. Saya membawa beberapa oleh-oleh untuk kedua cucu saya. Yang satu laki-laki berusia 7 tahun, saya memberinya alat untuk memecahkan biji-bijian, sedang yang satunya laki-laki yang berumur hampir 4 tahun, saya memberinya mainan mobil-mobilan. Hati kedua anak itu begitu bergejolak sampai-sampai hampir tidak dapat makan, tidur, atau berdiri tenang. Yang besar bahkan membawa mainannya ke sekolah untuk diperlihatkan kepada guru dan teman-teman sekelasnya. Melihat cucu-cucu kami bergairah, sungguh menggirangkan. Inilah pertanda bahwa mereka itu lincah dan sehat. Tetapi, andaikata saya memberi hadiah semacam itu kepada salah seorang penatua, lalu dengan gembiranya penatua tersebut memperlihatkannya kepada penatua-penatua lainnya, saya akan sangsi apakah saudara ini layak disebut penatua. Tidak pada tempatnya seorang penatua bergejolak seperti itu. Sebaliknya, kaum remaja memang perlu bergejolak.

Yakub tidak menyalahkan orang lain atas hilangnya Yusuf dikarenakan ia tidak terangsang. Mustahillah orang bisa mempelajari hal ini hanya melalui pengajaran. Pengajaran tidak akan berhasil. Jika saya mengajar cucu saya yang baru berusia 7 tahun untuk tidak menyalahkan adiknya, bertindak demikian tidak ada gunanya. Begitu saya membalikkan badan, ia sudah akan menyalahkan adiknya. Ia justru sedang pada usia senang menyalahkan orang lain, bahkan hayatnya itu bersifat menyalahkan orang lain, maka ia tidak sanggup menahan untuk tidak menyalahkan orang lain. Ini tentu bukan berarti kita tidak mau mendidik anak-anak kita. Kita harus mengajarkan disiplin kepada mereka. Tetapi mengajarkan untuk jangan menyalahkan orang lain tergantung kepada pertumbuhan hayat, bukan kepada pengajaran yang di luar.

Kejadian 45 menampakkan kepada kita seorang kudus yang tidak berpura-pura, tidak bersandiwara, tidak dibuat-buat. Ia telah mencapai kematangan, hatinya telah mati rasa, dan ia tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin ada orang mengira bahwa ayat 26 membuktikan bahwa hati Yakub mengalami guncangan pada waktu menerima kabar gembira itu sehingga menjadi mati rasa. Saya tidak percaya itu. Bila orang muda menerima berita yang mengejutkan, pikiran, emosi, dan tekadnya akan sangat aktif, sama sekali tidak mati rasa. Saya pernah melihat orang-orang yang mengalami guncangan yang hebat, namun jiwa mereka sangatlah aktif sekali. Namun Yakub yang telah berusia lanjut ini, begitu mendengar berita yang menggirangkan tentang Yusuf, tidak menunjukkan reaksi apa-apa: hatinya telah mati rasa. Inilah pertanda bahwa hayatnya telah matang.

Kaum muda, janganlah sekali-kali mencoba meniru kematangan ini. Anda tidak perlu bersandiwara. Anda justru kaum muda, bukan bapa-bapa atau kakek-kakek. Apa perlunya mencoba bertindak seperti kakek-kakek. Janganlah berbuat seolah hati Anda mati rasa dan roh Anda bangkit. Saya sangat mengapresiasi cucu-cucu saya dalam keadaan terangsang. Karena itulah tingkah laku yang asli, alami, dan spontan, bukan sandiwara. Orang-orang muda tidak seharusnya menjadi gelisah atas berita ini. Sekali lagi, kaum muda perlu bergejolak gembira. Jika seorang pemuda tidak mudah bergejolak, itu justru tidak normal. Janganlah berpura-pura matang, itu melampaui apa adanya Anda. Berpura-pura hanyalah membunuh orang.

(b) Mempersembahkan Kurban

kepada Allah di Bersyeba Sebelum Menjumpai Yusuf

Kejadian 46:1 mengatakan, “Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia tiba di Bersyeba, lalu dipersembahkannya kurban sembelihan (kurban-kurban Tl.) kepada Allah Ishak ayahnya.” Dalam Kejadian 35:1, Allah menyuruh Yakub bersiap, pergi ke Betel, dan mendirikan di sana sebuah mezbah bagi Allah. Tetapi dalam Kejadian 46:1, Yakub pergi atas inisiatifnya sendiri ke Bersyeba dan mem-persembahkan kurban-kurban sembelihan. Ayat ini bukan menyinggung satu kurban persembahan, melainkan “beberapa kurban persembahan”. Ia datang ke Bersyeba dengan maksud mempersembahkan kurban-kurban persembahan kepada Allah. Ayat ini tidak memberi tahu kita, Yakub berdoa, memuji, atau bersyukur kepada Allah, melainkan mengatakan bahwa ia mempersembahkan kurban-kurban persembahan. Ia berbuat demikian supaya memperoleh persekutuan yang sejati dengan Allah. Dengan istilah Perjanjian Baru, Yakub mempersembahkan Kristus yang telah dialaminya dalam berbagai aspek supaya Allah dipuaskan. Inilah penyembahan yang Allah inginkan dari kita. Tetapi penyembahan ini berhubungan dengan pertumbuhan hayat kita. Ketika kita sudah matang, dengan sendirinya kita akan sering menyembah Allah dengan cara yang demikian. Allah tidak menuntut Yakub untuk mempersembahkan kurban persembahan di Bersyeba, melainkan Yakub sendiri yang mau mempersembahkan Kristus bagi kepuasan Allah.

Ayat berikutnya mengatakan, “Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan-penglihatan waktu malam” (Tl.). Perhatikanlah bahwa ayat ini tidak mengatakan hanya satu penglihatan, melainkan penglihatan-penglihatan. Semalaman itu di Bersyeba, Allah sedikitnya dua kali menampakkan diri kepada Yakub, sambil berbicara kepadanya. Sewaktu hayat kita masih muda, kita sering berkata, “Ya Tuhan, apakah kehendak-Mu? Beri tahu aku apa yang Engkau inginkan agar aku perbuat?” Akan tetapi, dalam pasal 46, Yakub tidak berkata demikian. Ia tidak meminta pimpinan Allah, melainkan mempersembahkan kurban-kurban persembahan bagi kepuasan-Nya. Kemudian, pada malam itu, Allah menampakkan diri kepadanya. Di sini terlihatlah seorang kudus yang matang hayatnya menyembah kepada Allah. Di sini tidak ada doa, pujian, ucapan terima kasih, atau penuntutan; di sini hanya ada Kristus yang dipersembahkan kepada Allah, supaya Allah puas. Dalam penyembahan ini Yakub bersekutu dengan Allah, dan Allah menampakkan diri kepadanya. Ini benar-benar merupakan aspek yang lain dari manifestasi kematangan Yakub.

Kita tidak dapat meniru tingkatan hayat Yakub. Tingkatan hayat kita tergantung pada pertumbuhan hayat kita. Tanpa pertumbuhan hayat, mustahil kita mempunyai tingkatan itu. Boleh saja Anda berpura-pura, bersandiwara, atau berlagak, namun Anda tetap tidak akan memiliki tingkatan hayat yang Anda tiru itu. Kita semua perlu bertumbuh. Begitu kita bertumbuh sampai tingkatan tertentu, dengan sendirinya kita akan memiliki manifestasi hayat tingkat itu.

(c) Tidak Terlihat Bergejolak Lupa Diri

Ketika Berjumpa dengan Yusuf

Tanda-tanda lain dari kematangan Yakub adalah tidak menunjukkan keadaan bergejolak lupa diri ketika berjumpa dengan Yusuf (46:28-30). Yakub tidak bergejolak karena hatinya telah mati rasa. Memang bisa dibenarkan bila kaum muda bergejolak hatinya, tetapi janganlah sampai kendur dan lupa diri dalam keadaan bergejolak itu. Atas diri kita harus tetap ada daya kontrol tertentu. Kadang-kadang cucu-cucu saya demikian bergejolak dan kendur, sehingga merusak barang-barang. Yang satu bahkan naik meja dan berjalan di atasnya. Ketika anak-anak menunjukkan kekenduran seperti itu, perlu diberi pendisiplinan. Meskipun demikian, kalian, orang-orang muda, harus bergejolak. Gereja-gereja dan perkumpulan-perkumpulan yang dipenuhi dengan kaum muda memang merupakan tempat yang penuh gejolak.

Semakin orang muda bergejolak, semakinlah baik; karena semakin mereka bergejolak semakin cepat mereka bertumbuh. Saya tidak pernah menemukan seorang anak yang mati rasa bertumbuh besar. Anak-anak perlu lincah dan bergejolak. Itu membuktikan mereka lincah, sehat, dan normal. Saya menyukai gejolak anak muda, karena itu adalah tanda kenormalan mereka. Keadaan itu meyakinkan saya bahwa mereka akan bertumbuh. Namun dalam gejolak itu, jangan sampai ada kekenduran atau ketidakbenaran. Di tengah-tengah keadaan bergejolak itu, roh Anda sewajarnya berkata, “Berhati-hatilah. Janganlah keterlaluan atau melampaui batas.” Pengekangan semacam ini benar.

Kaum muda, saya menganjuri kalian supaya bergejolak. Meskipun saya ini orang tua, namun saya senang menghadiri sidang muda mudi dan tinggal di dalam gereja yang penuh dengan kaum muda. Mungkin mereka belum diubah dan matang, tetapi mereka hidup. Karena di sana ada hayat, maka saya yakin bahwa pertumbuhan, pengubahan, dan kematangan pasti menyusul.

(d) Tidak Meminta-minta Setelah Tiba di Mesir

Setelah tiba di Mesir, Yakub tidak meminta sesuatu apa pun. Ketika masih muda, ia selalu meminta sesuatu ke mana saja ia pergi. Bukan sekadar meminta, ia bahkan merebut, merampas orang lain. Yakub mengharapkan segala sesuatu bagi dirinya sendiri. Jika ia tinggal bersama Anda, niscaya apa yang ada di dalam kantong Anda cepat atau lambat akan pindah ke dalam kantongnya.

Pada tahun-tahun awal, Yakub merampasi ayahnya, saudaranya, pamannya, dan bahkan istri-istrinya. Akhirnya, pada masa tuanya, ia justru dirampasi oleh anak-anaknya sendiri. Tetapi ketika ia sudah matang ia tidak lagi meminta apa pun. Menurut posisinya setelah tiba di Mesir, ia seharusnya mempunyai kedudukan untuk menuntut sesuatu. Tetapi ia tidak meminta apa pun. Inilah tanda yang kuat dari kematangannya. Orang yang telah matang tidak ada permintaan. Sebagai ganti menuntut dan meminta, Yakub malahan mengulurkan tangannya memberkati orang lain. Jika kita memohon, mengharapkan, dan meminta, itu membuktikan bahwa hayat kita masih muda. Kita, kaum saleh, tidak seharusnya saling meminta sesuatu kepada satu sama lain. Namun, ini bukan sandiwara, melainkan hasil dari pertumbuhan hayat.

Dalam setiap keluarga, anak-anaklah yang paling banyak tuntutannya dibandingkan dengan yang lainnya. Kakek-kakek tidak menuntut apa-apa, malahan terus-menerus memberi. Anak-anak setiap hari meminta permen, kue, dan ma-inan. Cucu-cucu saya tidak henti-hentinya meminta sesuatu kepada nenek mereka. Semakin muda Anda, semakin banyak permintaan Anda. Anda mengajukan permintaan kepada penatua, kepada saudara saudari, tetapi tidak pernah meminta kepada diri sendiri. Itu membuktikan Anda masih bayi kecil. Seorang bayi tidak melakukan sesuatu yang lain kecuali meminta. Terhadap doa saya, Tuhan mungkin akan menunggu beberapa saat baru memberi jawaban, tetapi doa seorang bayi segera dijawab-Nya. Banyak permintaan menandakan Anda masih muda.

Doa yang berlebihan juga merupakan tanda ketidakmatangan. Ada kaum saleh muda menganggap para penatua kurang rendah hati dan kurang rajin, lalu mendoakan mereka dengan cara kekanak-kanakan. Mendoakan para penatua semacam itu bukanlah menunjukkan bahwa Anda telah bertumbuh. Mendoakan para penatua dengan cara yang tidak tepat menunjukkan bahwa Anda belum matang.

Doa-doa untuk gereja juga banyak yang bersifat kekanak-kanakan. Ada beberapa orang kudus yang berdoa, “Tuhan, aku tidak berani memberi tahu Engkau mengenai gereja. Tetapi Tuhan, Engkau tahu situasinya. Oh Tuhan, berbuatlah sesuatu.” Doa sedemikian ini sesungguhnya menuduh atau menyalahkan gereja. Berdoa seperti ini berarti Anda mendakwa gereja. Berdoa macam ini berarti meminta Tuhan menanggulangi gereja. Anda banyak berdoa bagi gereja, karena dalam pandangan Anda gereja tidak dapat memuaskan tuntutan Anda. Paulus tidak mendoakan gereja secara itu. Lima puluh tahun yang silam, saya juga mendoakan gereja dengan menyalahkan, menuntut, mendesak, dan bahkan mendakwa. Namun, Tuhan dapat bersaksi atas diri saya bahwa sekarang saya tidak seperti itu lagi mendoakan para penatua di Anaheim. Ini bukan berarti mereka telah sempurna, melainkan berarti saya tidak ada tuntutan terhadap mereka, dan dalam batin saya tidak terganggu oleh mereka.

(e) Tidak Ada Aktivitas

untuk Diri Sendiri Selama Tinggal di Mesir

Setelah Yakub tiba di Mesir, ia tidak melakukan akti-vitas untuk diri sendiri. Ini juga merupakan manifestasi kematangannya. Jangan mengira Yakub malas, lelah, atau tidak ada tenaga untuk bertindak. Kalaupun ia sendiri tidak sanggup melakukan sesuatu, ia tetap bisa memerintah putra-putranya untuk mengerjakan sesuatu baginya. Tetapi, ia tidak berbuat demikian. Nampaknya ia benar-benar puas dan mutlak mengaso dalam kedaulatan Allah. Ia tidak bersandar pada daya upayanya. Dari bertahun-tahun pengalamannya, ia telah mengenal bahwa nasibnya berada di tangan Allah, bukan di tangannya sendiri. Sewaktu Yakub memberkati kedua putra Yusuf, ia mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang menggembalakannya sepanjang hidupnya (48:15-16). Kata-kata Yakub dalam Kejadian 48:15-16 berhubungan dengan Allah Tritunggal. Di sini kita nampak Allah Tritunggal dalam pengalaman Yakub, bukan dalam doktrin. Dalam ayat-ayat ini Yakub berkata, “Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang, dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan (menebus. Tl.) aku dari segala bahaya, Dialah kiranya yang memberkati orang-orang muda ini.” Di sini kita melihat tiga kali sebutan Allah: Allah yang di hadapan-Nya Abraham dan Ishak menempuh hidup, Allah yang menggembalakan Yakub selama hidupnya, dan Malaikat yang telah menebusnya (melepaskannya, LAI) dari segala bahaya. Allah yang di hadapan-Nya Abraham dan Ishak menempuh hidup pasti adalah Bapa; Allah yang menggembalakan Yakub selama hidupnya pasti adalah Roh; dan Malaikat yang menebusnya dari segala bahaya pasti adalah Putra. Inilah Allah Tritunggal dalam pengalaman Yakub.

Yakub mengalami kedaulatan dan pemeliharaan penggembalaan Allah. Menggembalakan termasuk merawat. Gembala selalu mencukupi segala yang diperlukan domba-dombanya, yang hanya tahu makan dan beristirahat. Semua suplai bagi eksistensi domba berasal dari gembala. Perumpamaan seorang gembala ini merupakan sebuah gambar yang menakjubkan tentang pengenalan Yakub terhadap nasib dan eksistensinya. Ia tahu bahwa nasib dan eksistensinya mutlak berada di dalam tangan Allah yang menggembalakannya. Jadi setelah ia matang dan tiba di Mesir, ia tidak melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri. Ini merupakan tanda lain dari kematangan hayat.

(f) Selalu Memberkati Orang

Sekarang kita melihat tanda yang paling kuat dari kema-tangan Yakub: pemberkatannya kepada orang lain. Perkara pertama yang diperbuat Yakub setibanya di Mesir ialah memberkati Firaun (47:7, 10). Pada masa itu Firaun merupakan orang tertinggi di bumi, namun ia di berada di bawah tangan pemberkatan Yakub. Menurut Ibrani 7:7, “yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.” Jadi fakta bahwa Yakub memberkati Firaun adalah suatu bukti bahwa ia lebih besar daripada Firaun. Setelah Yakub dibawa ke depan Firaun, ia tidak berbincang-bincang dengannya secara sopan-santun, atau beramah tamah secara diplomatis. Ia justru mengulurkan tangannya memberkati Firaun. Ini mutlak berbeda dengan kebudayaan dan agama manusia. Ketika Yakub hendak mengundurkan diri dari hadapan Firaun, ia kembali memberkatinya.

Berkat adalah keluapan hayat. Keluapan Allah terjadi melalui kematangan seseorang. Agar bisa memberkati orang lain, kita harus dipenuhi hayat bahkan meluap hingga mengalir kepada orang lain. Yakub memiliki keluapan hayat ini, maka ia bisa memberkati Firaun dan kedua putra Yusuf (48:8-20).

Ishak, ayah Yakub, memberkati secara membuta. Tetapi pemberkatan Yakub atas kedua cucunya, Efraim dan Manasye, penuh daya tembus dan terang. Meskipun mata jasmaninya kabur, namun rohnya jelas dan tegas (48:10). Yusuf membawa kedua putranya kepada Yakub, dan ditempatkannya Manasye, putra sulungnya, di sebelah tangan kanan Yakub, sedang Efraim di sebelah tangan kiri Yakub. Yusuf menyangka Yakub akan menumpangkan tangan kanannya ke atas kepala Manasye dan tangan kirinya ke atas kepala Efraim. Tetapi sebagai orang yang amat terang dalam batin akan apa yang akan diperbuatnya, Yakub menyilangkan tangannya yang kanan ke atas kepala Efraim. Yusuf merasa kurang senang dengan keadaan ini, lalu katanya, “Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya” (48:18). Yakub menolak katanya, “Aku tahu, anakku, aku tahu.” Yakub telah mengarahkan tangannya dengan sengaja dan penuh kesadaran. Lain dengan Ishak, ayahnya; Yakub tidak mengerjakan sesuatu secara membuta. Karena dia telah matang dan bersatu dengan Allah dalam hayat, maka ia mempunyai roh yang jelas. Dalam rohnya, ia menyadari betul bahwa Allah menghendaki Efraim berada di atas Manasye.

Nanti kita akan melihat bahwa kematangan hayat membuat Yakub penuh dengan berkat. Yakub memberkati kedua belas putranya, dan pemberkatan itu menjadi nubuat yang berhubungan dengan nasib kedua belas suku bangsa Israel. Yakub dipenuhi dengan hayat sehingga ia dapat mengalirkan berkat kepada setiap orang yang dijumpainya. Inilah manifestasi yang paling kuat dari kematangan hayat Yakub.