← Daftar isi Kejadian (7) · bab 3/14

DIMATANGKAN PROSES PEMATANGAN (2)

Sebelum kita meninjau lebih lanjut tentang penanggulangan terhadap Yakub di Hebron, kita perlu terlebih dulu menunjukkan perbedaan pengubahan dengan pematangan. Tahap terakhir dari pengubahan ialah pematangan. Pematangan berarti mencapai kepenuhan hayat. Orang yang matang ialah orang yang tidak kekurangan hayat. Semakin banyak hayat yang kita miliki, semakin matang kita ini. Seorang bayi jelas belum matang (dewasa), tetapi seorang dewasa, adalah seorang yang matang. Manusia yang matang berarti hayatnya telah mencapai kepenuhan.

Pengubahan dalam hayat adalah pengubahan metabolis. Jadi pengubahan bukan perkara kepenuhan atau keluapan, melainkan perkara perubahan. Tumbuh-tumbuhan tidak memerlukan pengubahan, karena mereka hanyalah tumbuh-tumbuhan. Tetapi kita, anak-anak Allah, memerlukan peng-ubahan. Hanya melalui pengubahanlah kita dapat mencapai kematangan. Kita memiliki hayat alamiah, tetapi hayat ini tidak berguna bagi ekonomi Allah. Meskipun hayat alamiah kita tidak perlu diganti, tetapi perlu diubah secara metabolis. Kita tidak seharusnya hanya mempunyai pengubahan penampilan yang di luar tetapi juga harus mempunyai pengubahan sifat yang di dalam. Meskipun hayat insani diperlukan untuk ekonomi Allah, namun bukannya dalam keadaan sebagai hayat alamiah manusia; melainkan hayat manusia yang telah mengalami pengubahan atas sifat, sehingga hayat Allah bisa berbaur menjadi satu dengan hayat manusia yang telah diubah. Ini adalah suatu perkara yang dalam dan misterius.

Sedikitnya ada dua ayat dalam Perjanjian Baru yang mengungkapkan perkara pengubahan. Roma 12:2 mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu.” Dalam bahasa Yunani, kata “berubah” di sini juga muncul dalam 2 Korintus 3:18. Ayat ini mengatakan, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Kata-kata “berubah” dan “diubah” dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan kristiani kita, kita memerlukan pengubahan yang metabolis. Kita tidak memerlukan koreksi dan perubahan luaran; kita memerlukan perubahan terhadap sifat dan hayat yang di dalam. Pengubahan yang metabolis ini diawali dengan kelahiran kembali. Ketika kita diselamatkan, kita bukan sekadar dibenarkan dan diampuni; kita juga dilahirkan kembali. Ketika dilahirkan kembali, ada satu hayat yang baru, yaitu hayat Allah, ditaruh ke dalam roh kita. Mulai saat kita dilahirkan kembali, hayat ini terus mengubah hayat alamiah kita. Ketika hayat Allah mengubah hayat alamiah kita, hayat Allah ini akan semakin di-salurkan ke dalam diri kita. Jadi, pengubahan mengubah hayat alamiah kita. Ketika pengubahan ini mencapai kepenuhannya, tibalah saat kematangan. Saya ulangi, tahap terakhir dari pengubahan adalah kematangan. Matang bukanlah masalah pengubahan manusia kita, melainkan masalah memiliki hayat Allah yang terus-menerus disalurkan kepada kita, sehingga kita memiliki kepenuhan hayat.

Baiklah sekarang kita terapkan perkara ini kepada Yakub. Meskipun Yakub telah mengalami banyak pengubahan di antara pasal 25 dan 37, namun setelah pasal 37, kita tidak nampak pengubahan selanjutnya atas dirinya. Dalam pasal 25 Yakub adalah seorang perebut dan pemegang tumit. Ketika kita membaca dari pasal 26-36, yang mencakup periode kira-kira 25 tahun, tampak Yakub telah diubah. Segala sesuatu yang terjadi pada dirinya selama tahun-tahun itu tidak lain untuk mengubah dia.

Dalam pasal 37, Yakub kehilangan Yusuf, putra kesayangannya. Saat itu kelihatan bahwa ia secara mutlak berbeda dengan sewaktu dalam pasal 27. Dalam pengertian rohani, Yakub dalam pasal 27 mempunyai beberapa tangan yang bisa dipakai untuk merebut apa saja yang diinginkannya. Ia merebut barang yang dimiliki ayahnya, Esau, dan kemudian Laban. Tetapi, dalam pasal 37, Yakub tidak lagi menggunakan kedua tangannya. Seolah-olah dalam pasal ini Yakub tidak ada ketrampilan atau kemampuan; malahan nampaknya ia tidak sanggup melakukan sesuatu apa pun. Ini menunjukkan bahwa secara mutlak ia telah diubah. Mulai pasal 37 hingga akhir kitab ini, kita tidak lagi melihat perubahan-perubahan lebih lanjut atas diri orang ini. Pasal-pasal ini selain memperlihatkan seorang yang telah diubah, juga seorang yang penuh dengan hayat. Dalam pasal 37 kita tidak nampak baik pengubahan maupun kepenuhan hayat. Pengubahan berlangsung sebelum pasal ini, dan kepenuhan hayat tercapai setelah pasal ini.

Saya minta Anda membaca pasal 27, 37, dan 47 sekali lagi. Dalam pasal 27 kita nampak seorang perebut. Dia mempunyai banyak tangan, bisa melakukan setiap hal, dan tidak terkalahkan oleh siapa pun. Siapa saja yang berhubungan dengan Yakub — ayahnya, saudaranya, atau pamannya — semuanya dikalahkan olehnya. Yakub selalu muncul di depan. Ia telah meraih kemenangan atas kakaknya, ayahnya, dan pamannya. Bahkan ia telah meraih kemenangan atas Rahel, Lea, dan kedua pelayannya. Akan tetapi, sewaktu Rahel meninggal, Yakub mulai merasa kehilangan. Namun selain kehilangan ini, ia tetap beroleh suatu keuntungan, yakni Benyamin. Dalam pasal 37 Yakub mengalami kehilangan lainnya, yaitu Yusuf. Dalam pasal ini Yakub tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Sejak itu dan seterusnya, Yakub berturut-turut kehilangan satu demi satu. Akhirnya, sampai pasal 47, ia mencapai kepenuhan hayat. Kepenuhan hayat ini adalah suatu berkat, yaitu meluapnya hayat. Ketika Anda dipenuhi hayat hingga meluap, hayat ini akan mengalir kepada orang lain. Keluapan inilah suatu berkat. Jadi, dalam pasal 27 terlihat seorang perebut, sedang dalam pasal 37 terlihat seorang yang telah diubah, dan dalam pasal 47 terlihat seorang yang telah matang. Pengubahan Yakub dimulai saat Allah menjamahnya (32:25), dan ini berlangsung terus hingga pasal 37, saat itu proses pengubahan secara relatif hampir rampung. Namun dalam pasal ini Yakub masih belum memiliki kematangan atau kepenuhan hayat. Untuk mencapai hal ini, ia harus mengalami penanggulangan yang terakhir, yaitu penanggulangan di Hebron.

Sekarang kita harus melihat bagaimana Yakub, sebagai orang yang telah diubah, dapat dipenuhi dengan hayat. Manusia adalah suatu bejana. Namun kita bukan seperti guci atau botol. Kita bukanlah bejana yang tanpa perasaan, pengertian, atau kemauan. Jika Anda ingin mengisi sebuah botol dengan cairan tertentu, botol itu tidak memiliki opini atau perasaan terhadap cairan itu. Tidak perlu kita minta persetujuan kepada botol itu sebelum kita mengisinya. Namun, sukar untuk menaruh sesuatu ke dalam kita yang merupakan bejana yang hidup ini. Kita ini penuh dengan opini, keinginan dan kehendak. Para orang tua tahu alangkah sulitnya memberi makan obat kepada anak-anak mereka. Demikian juga, bukanlah suatu perkara yang mudah bagi Allah untuk menaruh hayat-Nya ke dalam kita.

Sekarang saya ingin menunjukkan suatu perkara yang tersembunyi dalam kitab ini. Penanggulangan pertama dalam tahap terakhir terhadap diri Yakub ialah kehilangan Yusuf. Yusuf berumur 17 tahun ketika ia dijual (37:2), dan baru berumur 30 tahun ketika ia menghadap Firaun (41:46). Selanjutnya, terdapat 7 tahun yang limpah. Mungkin satu atau dua tahun setelah kelimpahan itu Yakub mengutus putra-putranya membeli gandum ke Mesir. Jadi, selang waktu antara Yusuf dijual sampai saat Yakub mengutus putra-putranya ke Mesir, sedikitnya mencakup dua puluh tahun. Alkitab tidak memberikan catatan mengenai apa yang dilakukan Yakub selama tahun-tahun ini, Alkitab hanya mencatat apa yang dialami oleh Yusuf. Sepanjang catatan yang menyangkut diri Yakub, tahun-tahun ini merupakan tahun-tahun yang sunyi.

Menurut Anda, apa yang dilakukan oleh Yakub selama tahun-tahun itu? Jika Anda ini Yakub, apa yang akan Anda lakukan? Saya sangat memperhatikan perkara ini, dan saya menemukan selama tahun-tahun itu Yakub tidak mengerjakan apa-apa. Ia tidak kekurangan, ia juga tidak berambisi. Tadinya, Yakub hanya menyukai Rahel saja, tidak menyukai Lea atau kedua pelayannya. Setelah Rahel meninggal, hati Yakub tercurah kepada Yusuf, yang setahun kemudian disingkirkan darinya. Setelah Yusuf disingkirkan, Yakub benar-benar tidak mempunyai apa-apa lagi. Itulah sebabnya selama tahun-tahun yang sunyi itu ia tidak punya ambisi apa-apa. Tidak berminat mengerjakan sesuatu. Justru inilah waktu yang tepat bagi Allah untuk semakin banyak menyalurkan diri-Nya ke dalam Yakub. Alangkah bedanya antara 20 tahun ini dengan 20 tahun yang bersama Laban! Sepanjang 20 tahun bersama Laban (31:4), Yakub “meronta” melawan Laban. Di samping itu ia juga harus “bergumul” melawan Rahel, Lea, pelayan-pelayannya, dan semua anak-anaknya. Tetapi selama 20 tahun ini di Hebron, Yakub telah dilepaskan dari segala himpitan dan penjajahan pekerjaan. Ia bukan hanya pensiun, tetapi juga bebas.

Hanya satu hal yang mustahil disingkirkan dari Yakub, itulah penyertaan Allah. Di Hebron, Yakub terus-menerus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Karena kehilangan Yusuf, Yakub menjadi sebuah bejana yang terbuka secara mutlak terhadap Allah. Hadirnya Yusuf mungkin mengha-langhalangi keterbukaan Yakub terhadap Allah. Sekarang, setelah Yusuf hilang, Yakub terlepas dari segala macam ha-langan, menjadi terbuka sama sekali terhadap Tuhan. Memang tidak dapat diragukan bahwa hari demi hari Yakub terkenang kepada Yusuf. Yakub berkesimpulan bahwa Yusuf telah dimakan oleh binatang buas, namun belum ada buktinya. Karena itu Yakub boleh jadi mengira bahwa ia akan berjumpa lagi dengan Yusuf. Hal ini memaksa Yakub mengarah kepada Allah serta membuka dirinya kepada Allah. Semakin memikirkan Yusuf, ia semakin terbuka. Dalam tahun-tahun ini, Yakub merupakan sebuah bejana yang terbuka terhadap surga sehingga hujan surgawi tercurah terus-menerus kepadanya. Dalam jangka waktu ini, setiap hari Yakub berada di hadapan Allah, dipenuhi dengan hayat ilahi.

2) Yakub Dilanda Bencana Kelaparan

Tiba-tiba Yakub dilanda bencana kelaparan di luar kendalinya, karena “ada kelaparan di tanah Kanaan” (42:5). Melalui bencana kelaparan Allah menanggulangi Yakub dan meninggikan Yusuf. Kita tahu bahwa selama 20 tahun, sejak hilangnya Yusuf sampai timbulnya bencana kelaparan ini, Yakub tidak mengerjakan apa-apa. Kemungkinan ia merasa hidupnya telah lewat, dan kini menunggu untuk kembali kepada nenek moyangnya, yaitu mati. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ia akan pergi ke Mesir untuk memulai satu permulaan yang baru. Lebih-lebih tidak mengira bahwa Yusuf menantinya di sana. Yakub mungkin berpikir, “Perkara baru apa yang akan terjadi atas diriku? Aku sudah tua, sudah beristri empat, aku pun punya anak dan cucu-cucu. Hidupku segera berlalu.” Namun, ketika ia berpikir demikian, tangan Allah tiba-tiba datang ke atas dirinya, Yakub dilanda bencana kelaparan. Betapa hebat ujian dari bencana kelaparan yang menimpa diri Yakub ini! Sebelum bencana kelaparan ini, ia hidup dalam suasana yang teduh dan tenang; ia tidak kekurangan sesuatu. Tetapi tiba-tiba tidak ada makanan di sana. Sebagai kepala keluarga yang besar, sudah tentu ia merasa gundah terhadap apa yang harus diperbuatnya di tengah-tengah bencana ini. Allah memakai bencana kelaparan ini untuk menekan (memeras) Yakub.

Allah juga memakai bencana kelaparan ini untuk meng-angkat tinggi Yusuf. Bagi Yusuf, bencana kelaparan ini merupakan satu perkara besar. Jika ternyata tidak ada bencana kelaparan setelah tujuh tahun yang berlimpah ruah, pastilah Firaun akan berkata kepada Yusuf, “Yusuf, engkau mengelabui aku dalam menafsirkan mimpiku. Setelah tujuh tahun yang berlimpah ruah, ternyata tidak ada bencana kelaparan.” Namun, bencana kelaparan itu benar-benar muncul, ini merupakan kekuatan dan kekuasaan Yusuf. Tujuh tahun yang limpah itu merupakan sebagian dari penggenapan mimpi Firaun. Namun tafsiran Yusuf terhadap mimpi itu belum diakui semua. Mungkin Firaun masih menunggu dan ingin melihat apa yang akan terjadi setelah masa tujuh tahun yang berlimpah itu. Seandainya masa kelaparan itu tidak tiba, boleh jadi ia akan menjatuhkan hukuman mati terhadap Yusuf. Jadi Yusuf masih memerlukan tujuh tahun masa kelaparan itu supaya bisa ditinggikan. Bencana kelaparan ini menjadi kemuliaan Yusuf. Allah menggunakan keadaan ini untuk memahkotainya. Pemerintahan Yusuf melambangkan Kerajaan Seribu Tahun, pemerintahan surgawi Allah di bumi.

3) Yakub Terpaksa Mengutus

Putra-putranya ke Mesir untuk Membeli Gandum

Karena bencana kelaparan ini, Yakub terpaksa mengutus kesepuluh putranya pergi ke Mesir untuk membeli gandum (42:1-3). Ia telah kehilangan Yusuf, dan sekarang ia harus mengutus kesepuluh putranya di antara kesebelas putranya yang masih ada. Pada zaman kuno, perjalanan dari Hebron ke Mesir merupakan suatu perjalanan yang amat jauh, yang memakan waktu kurang lebih 8-10 hari. Setelah kesepuluh putranya pergi menuju Mesir, hanya ada Benyamin, putra bungsunya yang baru berusia 20 tahun, tinggal mendam-pingi Yakub. Kesepuluh orang ini harus meninggalkan Yakub kurang lebih sebulan lamanya. Jangka waktu yang cukup panjang ini merupakan ujian yang cukup berat bagi orang tua ini. Boleh jadi ia berpikir, “Sekarang kesepuluh orang putraku telah pergi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri mereka? Apakah mereka akan kembali dengan selamat? Bisakah mereka membeli makanan dan membawanya kembali ke rumah?” Hal ini sungguh merupakan ujian yang berat bagi Yakub! Penanggulangan ini bukan untuk mengubah Yakub, melainkan untuk mematangkan dia. Allah memanfaatkan keadaan ini untuk mengisi Yakub dengan unsur hayat ilahi.

4) Putra Kedua Yakub, Simeon, Ditahan di Mesir

Ketika putra-putra Yakub pulang dari Mesir dengan membawa gandum, Yakub mendengar bahwa Simeon ditawan di Mesir (42:24, 36). Ini juga adalah penderitaan dan ujian baginya. Kalau kita melihat kembali pasal-pasal ini dari pihak Yusuf, dari aspek pemerintahan, kita akan nampak betapa berhikmatnya Yusuf. Ia tidak menerima uang pembayaran, uang itu dikembalikan ke dalam karung-karung gandum (42:25). Salah seorang di antara mereka menemukan bahwa uangnya ada di dalam mulut karungnya, kemudian diceritakannya hal ini kepada saudara-saudaranya, “Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan dengan gemetar serta berkata: ‘Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita?’” (42:28). Begitu mereka kembali ke rumah dan menemukan, “uang masing-masing dalam karungnya”, maka mereka semua, termasuk Yakub, merasa takut (42:35). Yakub seolah-olah berkata, “Apa-apaan ini? Putraku yang satu telah ditahan, sekarang kalian membawa gandum pulang, dengan uangnya tetap di dalam karung. Andaikata kita telah menghabiskan gandum ini dan ternyata bencana kelaparan masih berlangsung, kemu-dian apa yang bisa kita perbuat? Kita harus pergi lagi ke Mesir untuk membeli gandum. Namun bagaimana kita membereskan masalah uang ini?” Yakub mendengar juga berita buruk bahwa Benyamin harus diikutsertakan. Setelah mendengar berita ini, Yakub berkata, “Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyamin pun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!” (42:36). Meski Ruben berjanji memulangkan Benyamin kepada Yakub, tetapi Yakub sudah tidak mau mendengar usul mereka itu. Ia bahkan menegaskan, “Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal” (42:38).

5) Bencana Kelaparan Makin Hebat

Kejadian 43:1–2 mengatakan, “Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu. Dan setelah gandum yang dibawa mereka dari Mesir habis dimakan, berkatalah ayah mereka: ‘Pergilah pula membeli sedikit bahan makanan untuk kita.’” Pada saat itu Yehuda mengingatkan Yakub bahwa untuk membeli lagi bahan makanan ke Mesir, mereka diharuskan membawa Benyamin. Dikarenakan hebatnya bencana kelaparan yang terjadi, Yakub terpaksa mengirim putra bungsunya pergi bersama saudara-saudaranya untuk membeli gandum ke Mesir (42:4, 36; 43:1-15). Sungguh berat penderitaan ini bagi Yakub! Allah memang mau mengosongkan bejana ini, mengambil segala sesuatu yang ada padanya. Setelah Benyamin dengan kakak-kakaknya pergi ke Mesir, Yakub tinggal seorang diri tanpa seorang putra pun. Yusuf telah diambil, kemudian Simeon ditahan di Mesir, dan sekarang anak-anaknya yang lain turun pula ke Mesir. Mungkin pada malam itu Yakub berkata, “Apa yang masih tersisa padaku? Kedua belas orang putraku telah pergi semua, dan entah apa yang akan terjadi pada diri mereka. Pada perjalanan kali pertama seorang putraku telah ditahan. Aku tidak bisa menduga berapa orang yang bakal ditahan pada perjalanan kali kedua ini.” Ini merupakan penderitaan yang besar bagi Yakub, namun yang utama di sini bukanlah penderitaannya, melainkan adanya fakta bahwa ia telah dikosongkan oleh Allah. Allah mengambil segala sesuatu yang sebelumnya telah mengisi dirinya, dan kini Yakub benarbenar telah menjadi kosong. Akan tetapi, kita akan nampak pada hari Yakub menerima kabar baik mengenai diri Yusuf, ia benar-benar telah dipenuhi dengan kelimpahan hayat.

Allah telah mengambil Rahel, Yusuf, Simeon, dan akhirnya kesepuluh orang putra Yakub yang masih ada, termasuk Benyamin. Sewaktu Benyamin bersama saudara-saudaranya ke Mesir untuk berdamai dengan Yusuf, Yusuf sangat bahagia. Namun, Yakub sendirian di rumah, dikosongkan oleh Tuhan. Malam lepas malam, Yakub mungkin sangat merasakan bahwa dirinya merupakan bejana yang kosong. Segala sesuatu yang pernah mengisi dirinya telah diambil semua. Ini mutlak kedaulatan Tuhan. Tuhan mempersiapkan dia untuk dipenuhi dengan hayat ilahi.

Sekarang marilah kita melihat situasi ini dari sudut Yusuf. Cara Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya juga adalah kedaulatan Tuhan. Yusuf menahan Simeon, kemudian pundi-pundi uang saudara-saudaranya dikembalikan kepada mereka masing-masing (42:24-25). Apa tujuan Yusuf menahan Simeon? Mengapa ia tidak menahan yang lainnya di antara mereka? Saya yakin, itu disebabkan Simeon merupakan pemimpin komplotan yang mencelakai Yusuf. Simeon itu terlalu kejam. Ia dan Lewi telah membunuh Hemor dan Sikhem serta menghancurkan kota mereka (34:25-29). Dalam Kejadian 49:5 Yakub mengatakan, “Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan.” Saya juga yakin, Simeon memegang pimpinan dalam mengusulkan agar Yusuf dibunuh. Meskipun saudara-saudara Yusuf tidak mengenal Yusuf, namun Yusuf sendiri sangat mengenal mereka. Kali pertama melihat mereka, ia sengaja mempersulit mereka dengan maksud untuk menggugah hati nurani mereka. Mereka berkata seorang kepada yang lain, “Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita” (42:21). Kemudian Yusuf, “mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata mereka” (42:24). Inilah yang membuat Simeon teringat kembali apa yang pernah diperbuatnya terhadap Yusuf. Selama dalam pemenjaraannya, boleh jadi Simeon berpikir, “Mengapa hanya aku seorang yang ditawan? Oh, aku seharusnya tidak boleh melakukan hal itu kepada Yusuf.” Apa yang diperbuat Yusuf terhadap Simeon sungguh-sungguh berasal dari kedaulatan Tuhan.

Bahkan sampai pada kali kedua saudara-saudaranya datang ke Mesir, Yusuf tetap tidak segera menyatakan siapa dirinya. Jika saya adalah Yusuf, tentu saya akan berkata, “Aku adalah Yusuf. Betapa baiknya kalian datang bersama Benyamin, adikku. Pulanglah segera ke rumah dan beritahukan kepada ayah tentang perihalku.” Tetapi Yusuf tidak bertindak demikian, melainkan mengadakan suatu pesta bagi saudara-saudaranya (43:16). Hal ini sangat mengherankan mereka sehingga mereka merasa ketakutan. Usai makan, Yusuf menyuruh agar karung saudara-saudaranya diisi dengan makanan, uang mereka diletakkan pada mulut karung mereka masing-masing, dan piala peraknya disuruh diletakkan pada karung saudara bungsunya. Sudah tentu saudara-saudara Yusuf dengan sangat gembira meninggalkan Mesir. Tetapi sejenak kemudian, kepala rumah tangga Yusuf menyusul mereka serta menuduh mereka telah mencuri piala tuannya. Ketika piala itu ditemukan dalam karung Benyamin, saudara-saudaranya “mengoyakkan jubahnya” dan kembali ke kota (44:13). Ini betul-betul suatu peristiwa yang mengerikan mereka. Tetapi Yusuf tidak menghukum mereka, malahan ia menjamah hati nurani mereka. Setelah itu, barulah Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya.

Kedaulatan Allah tidak mengizinkan kabar baik tentang diri Yusuf ini cepat-cepat disampaikan kepada Yakub. Ketika Yusuf bergembira bersama saudara-saudaranya di Mesir, Yakub justru menderita di Kanaan, menunggu putra-putranya kembali. Semakin lama putra-putra Yakub tinggal di Mesir, semakin menderita ia dibuatnya. Tetapi semakin Yakub menderita, semakin berfaedah hal itu baginya. Penantian Yakub akan putra-putranya merupakan ujian baginya. Keadaan ini berada di bawah tangan kedaulatan Allah, memperpanjang penderitaan Yakub, sehingga ia bisa dikosongkan dari segala sesuatu yang dimilikinya. Ketika akhirnya kabar baik itu terdengar oleh Yakub, ia benar-benar telah dikosongkan.

Hal-hal yang terlebih dulu masuk ke dalam kita selalu menghalang-halangi pertumbuhan hayat. Karena hal-hal yang terlebih dulu masuk ini, maka tidak banyak tempat di dalam kita untuk menerima hayat ilahi. Tetapi ketika Yakub mendengar kabar tentang Yusuf di Mesir, ia sudah dikosongkan dari segala hal tersebut. Tidak ada sesuatu apa pun yang menduduki manusia batiniahnya. Rahel telah mati, kedua belas putranya telah pergi; Yakub sudah dikosongkan sama sekali. Demikian kosongnya sampai-sampai begitu kabar baik datang, ia tidak tersentak sama sekali. Hatinya tetap dingin (45:26). Sewaktu kabar mengenai Yusuf tiba, Yakub bukan hanya telah diubah; bahkan telah dipenuhi dengan hayat Allah. Ia telah matang.

Sejarah Yakub juga harus menjadi biografi kita. Kita ha-rus percaya bahwa segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari berada di bawah tangan kedaulatan Allah. Segala yang terjadi pada diri Yakub adalah untuk mengubah dan mematangkan dia. Supaya bisa berubah, Yakub harus dite-kan dalam situasi-situasi yang menyebabkan dia tidak punya pilihan lain kecuali menerima pengubahan. Sama seperti Yakub, setelah kita diubah, Allah secara berdaulat memakai orang-orang, perkara-perkara, dan benda-benda untuk mengosongkan segala yang telah memenuhi kita, menyingkirkan hal-hal yang terlebih dulu masuk ke dalam kita, agar kapasitas kita bertambah bagi pemenuhan diri Allah.

Kalau kita membaca Kitab Kejadian berulang-ulang, kita akan nampak bahwa dua aspek utama dari pengalaman Yakub ialah pengubahan dan pematangan. Ini bukan hanya perkara dipilih, dipanggil, diselamatkan, dan dilahirkan kembali. Kita masih memerlukan proses pengubahan dan proses pematangan. Sayang, sedikit orang Kristen yang memperhatikan perkara ini. Karena alasan inilah maka ekonomi Allah terhalang di antara anak-anak-Nya. Karena kekurangan pengubahan dan pematangan macam ini di tengah-tengah umat Allah, maka penggenapan atas tujuan kekal-Nya belum dapat tercapai. Tetapi kekurangan ini kini sedang ditambal dalam pemulihan Tuhan. Hari ini pemulihan Tuhan sedang memulihkan Kristus sebagai hayat dan gereja sebagai kehidupan kita. Di hari-hari mendatang, banyak orang saleh dalam pemulihan Tuhan yang akan diubah. Bahkan sekarang ini sudah ada orang-orang yang berada dalam proses pematangan. Tuhan bekerja di antara kita, dan di dalam diri kita untuk mengubah kita dan mematangkan kita.

Semasih muda, saya pernah membaca buku-buku tentang mengalahkan dosa, tetapi tidak pernah membaca buku tentang pengubahan. Bagi kita, hari ini yang penting bukan hanya masalah mengalahkan dosa, lebih-lebih perlu diubah. Jika kita tidak diubah, masalah mengalahkan dosa saja tidak begitu berarti bagi ekonomi Allah. Bagi ekonomi Allah kita bukan hanya perlu mengalahkan dosa, juga perlu diubah atas seluruh diri kita dan dipenuhi hayat Allah. Allah memperhatikan pengubahan dan pematangan. Inilah yang diperlukan hari ini.

Bersamaan dengan pematangan, kita juga mempunyai aspek pemerintahan. Hayat yang matang menjadi hayat pemerintahan. Kita telah menunjukkan bahwa Yakub dan Yusuf bukanlah dipandang sebagai dua orang yang terpisah, melainkan sebagai dua aspek atas satu orang yang lengkap yang mempunyai pengalaman yang limpah. Kita semua mempunyai aspek kematangan dan aspek pemerintahan. Sebenarnya bukannya Yusuf yang memerintah di Mesir, melainkan Yakub, Israel. Bila Anda bertanya kepada orang Mesir, siapakah yang memerintah mereka, ia akan menjawab, seorang Ibrani, seorang Israel. Israel memerintah di Mesir dikarenakan Israel mempunyai hayat yang matang. Hanya hayat yang matang yang dapat dipakai Allah bagi kerajaan-Nya, bagi pemerintahan-Nya.

Dari pengalaman Yakub, kita menemukan bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri kita adalah di bawah kedaulatan Allah guna mengubah dan mematangkan kita. Tidak ada sesuatu apa pun yang terjadi secara kebetulan. Rencana kekal Allah hanya dapat tercapai melalui pengubahan dan kematangan kita. Pengalaman Yakub merupakan sebuah gambar yang baik sekali mengenai hal ini.

(b) Reaksi Yakub

Sebetulnya Yakub tidak memberikan reaksi terhadap semua penanggulangan tahap terakhir kematangannya. Ia tidak lagi mempunyai aktivitas sendiri. Ia tidak lagi meronta, sebaliknya mutlak patuh kepada suasana lingkungannya. Ia menerima semua suasana yang terjadi (43:11, 13). Terhadap kemungkinan ia kehilangan putra-putranya, ia berkata, “Jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!” (43:14). Bukan main kepatuhannya!

Sebelum ini, Yakub selalu bersandar pada ketrampilan dan kemampuannya sendiri. Namun setelah melewati penanggulangan tahap terakhir, keyakinan atas dirinya telah lenyap, kecuali kepada Allah. Yakub telah mengenal belas kasihan Allah. Dalam pengalaman-pengalamannya seumur hidupnya, akhirnya ia menyadari bahwa yang terhitung adalah belas kasihan Allah, bukan ketrampilan atau kemampuannya. Ia juga menyadari bahwa Allah Sang belas kasihan ini bukan hanya Mahakuasa, tetapi juga serba cukup, bisa memenuhi keperluan-keperluannya dalam segala macam situasi. Sebab itulah Yakub berkata kepada putra-putranya, “Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu” (43:14). Sekarang sandarannya dan perhentiannya mutlak terletak pada belas kasihan Allah yang serba cukup, tidak lagi pada dirinya sendiri dan kemampuannya sendiri. Di sini kita nampak seorang yang telah diubah dengan sempurna dan matang.