DIMATANGKAN PROSES PEMATANGAN (1)
Dalam berita ini kita memasuki bagian Kitab Kejadian yang paling menyenangkan, yakni pasal 37—50. Semua anak menyukai cerita-cerita dalam pasal-pasal tersebut. Sewaktu penulis sampai pada bagian ini, ia lalu mengubah cara penulisannya. Pencatatan tiga puluh enam pasal yang pertama adalah ringkas dan mantap, tetapi pencatatan empat belas pasal yang terakhir sangat rinci. Sebagai contoh, pasal 37 memuat banyak hal yang rinci. Bagian ini ditulis demikian rinci dikarenakan sangat riil bagi kehidupan ma-nusia kita. Tidak ada bagian lain dalam Kitab Kejadian yang lebih riil daripada keempat belas pasal yang terakhir ini.
Sebelum kita melihat pasal 37, saya ingin menarik perhatian Anda kembali ke permulaan kitab ini. Ketika membaca sebuah buku, kita harus memahami subyek dan tujuan buku tersebut. Setelah membaca habis seluruh Kitab Kejadian, yang terdiri dari 50 pasal, mungkin Anda masih belum mengetahui subyeknya. Apakah subyek kitab ini? Sewaktu saya masih muda, saya diberi tahu bahwa Kitab Kejadian mengungkapkan dua subyek utama — penciptaan Allah dan kejatuhan manusia. Kitab Kejadian dimulai dengan kata-kata “Pada mulanya Allah menciptakan”, dan diak-hiri dengan kata-kata “dan ditaruh dalam peti mati di Mesir”. Saya diberi tahu bahwa karena ayat yang pertama membicarakan penciptaan Allah sedang ayat yang terakhir mem-bicarakan tentang mayat Yusuf diletakkan dalam peti mati di Mesir, maka dapat disimpulkan bahwa Kitab Kejadian ini merupakan kitab mengenai penciptaan Allah dan kejatuhan manusia. Sekalipun pandangan ini tidak salah, namun masih sangat kurang dalam memahami kitab ini.
Memahami Alkitab memang tidak mudah. Pada faktanya, bahkan untuk memahami diri kita sendiri pun sangat sulit. Meskipun kita memiliki rambut pada kepala kita dan 10 jari pada kaki kita, apakah rambut dan kaki sudah cukup membentuk manusia yang lengkap? Apakah ini sudah merupakan bagian manusia yang lengkap? Tentu tidak. Semua bagian dan organ yang penting, seperti jantung dan paru-paru, terletak di antara rambut dan jari kaki. Demikian pula, bagian-bagian yang paling penting dalam Kitab Kejadian berada di antara ayat pertama dan ayat terakhir kitab ini.
Kejadian 1:26 merupakan ayat yang sangat penting. “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa . . .” Perhatikan dua kata-kata yang sangat penting dalam kalimat ini — gambar dan kuasa. Tidak salah, manusia diciptakan oleh Allah, dan kemudian ia jatuh. Namun kita harus memikirkan, dengan cara apa dan dengan tujuan apakah manusia diciptakan. Alkitab mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada Allah. Jadi, manusia diciptakan menurut gambar Sang Mahatinggi. Mungkin Anda tidak pernah menghargai diri Anda setinggi ini sebelumnya. Kita yang memiliki rupa Allah ini seharusnya menghargai tinggi-tinggi diri kita. Kita bukanlah makhluk yang rendah; kita justru diciptakan dengan tujuan untuk mengekspresikan Allah dan melaksana-kan kekuasaan-Nya. Subyek Kitab Kejadian ialah manusia memiliki gambar Allah dan melaksanakan kekuasaan Allah atas segala sesuatu. Kita memiliki gambar Allah agar bisa mengekspresikan Dia, dan kita mempunyai kuasa Allah agar bisa mewakili Dia. Karena itu, kita adalah ekspresi dan wakil Allah. Inilah inti Kitab Kejadian.
Untuk memahami hal ini secara progresif, kita memerlukan lima puluh pasal kitab ini. Semua generasi (angkatan) yang dicatat di dalamnya — Adam, Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf — adalah untuk satu tujuan, menyatakan bahwa ekonomi Allah dalam alam semesta ini ialah mengekspresikan diri-Nya melalui manusia. Inilah tujuan Allah, sasaran Allah, dan keinginan hati Allah. Tujuan atau ekonomi Allah ada pada diri manusia.
Catatan mengenai semua generasi yang tercakup dalam buku ini merupakan sebuah potret atas ekonomi Allah. Pada Adam, kita tidak banyak melihat ekspresi dan kuasa Allah. Meskipun Habel beriman kepada Allah, namun padanya tidak kelihatan jelas ekspresi dan kuasa Allah. Enos menyadari bahwa dirinya rapuh dan lemah, sehingga ia mulai menyeru nama Tuhan. Tetapi atas dirinya hampir tidak tertampak ekspresi dan kuasa Allah. Henokh hidup bergaul dengan Allah. Karena itu, pada dirinya kita nampak sedikit ekspresi Allah; namun tidak terlihat kuasa Allah. Walaupun pada diri Nuh kita nampak sedikit ekspresi dan kuasa Allah, namun agak samar-samar, kurang nyata, kurang mengesankan atau kurang tegas. Atas diri Abraham, ekspresi dan kuasa Allah tidak sebanyak Nuh. Banyak orang Kristen yang terlalu mengagungkan Abraham, namun sebenarnya ia baru berada di tingkatan awal dari doktrin kristiani. Abraham adalah bapa orang yang dibenarkan karena iman, itu baru merupakan awal dari doktrin kristiani. Dan selanjutnya kita pun hampir tidak menemukan ada-nya ekspresi dan kuasa atas diri Ishak. Ishak, orang yang mewarisi segala sesuatu dari ayahnya, hanya tahu makan saja. Asal ia disuguhi makanan yang enak, ia akan secara membuta memberkati orang. Pada diri Yakub kita nampak ekspresi Allah. Tetapi, sebelum empat belas pasal yang terakhir, kita tidak banyak nampak ekspresi Allah pada diri Yakub. Dalam pasal-pasal terakhir kitab ini, pada dirinya kita nampak banyak ekspresi dan kuasa Allah. Meski dalam pasal-pasal ini Yakub sudah tua, namun mata rohaninya sangat tajam. Ke mana pun ia pergi, ia bisa memeriksa dan merasakan situasi yang sesungguhnya, dan memberkati orang-orang sesuai dengan situasi itu. Tidak hanya demikian, pemberkatannya itu juga menjadi nubuat Allah. Yakub benar-benar memiliki gambar Allah dan mengekspresikan-Nya. Bahkan Firaun, penguasa tertinggi pada zaman itu, berada di bawah pemberkatan Yakub. Ketika Yakub diantar ke depan Firaun, ia tidak mengucapkan, “Halo, apa kabar? Berapakah usia Anda?” Melainkan ia mengulurkan tangannya dan memberkatinya (47:7, 10). Ini menandakan Firaun ada di bawah Yakub, orang yang merupakan ekspresi Allah.
Berkat Yakub kepada kedua putra Yusuf, Efraim dan Manasye, juga adalah nubuat. Ishak ditipu oleh Yakub, sehingga memberkati Yakub secara membuta. Berbeda sekali dengan berkat Yakub kepada Efraim dan Manasye. Yusuf menghantarkan kedua putranya kepada Yakub, mengharap-kan Manasye putra sulungnya menerima hak kesulungan. Tetapi Yakub menumpangkan tangan kanannya ke atas kepala Efraim, yang lebih muda (48:14). Yusuf berusaha memindahkan tangan Yakub dari kepala Efraim ke atas kepala Manasye, Yakub menolak serta berkata, “Aku tahu, anakku, aku tahu” (48:19). Yakub seolah-olah berkata, “Anakku, engkau tidak tahu apa yang kuperbuat, tetapi aku tahu. Aku tahu maksud Allah. Berkatku ini adalah ekspresi dan ucapan Allah. Kata-kata pemberkatanku adalah nubuat Allah.”
Di sini, atas diri Yakub kita nampak seorang yang bersatu dengan Allah dan mengekspresikan Allah. Perkataan Yakub adalah perkataan Allah. Janganlah mengira hal berbicara itu perkara sepele yang tanpa arti. Menurut Perjanjian Baru, Putra mengekspresikan Bapa terutama melalui berbicara. Tuhan Yesus berkata, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.” Dan “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh. 14:10, 14). Jadi, mengekspresikan Allah terutama ialah berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah kepada orang lain.
Kita telah melihat bahwa Yakub, ekspresi Allah, memiliki gambar Allah. Tetapi bagaimana dengan pemerintahan Allah? Kitab Kejadian berakhir dengan Yusuf melaksanakan pemerintahan di seluruh bumi. Meskipun Firaun yang menjadi raja, namun ia hanyalah kepala negara simbolis. Yang benar-benar melakukan tugas raja adalah Yusuf, yang merupakan sebagian dari Yakub dalam pengalaman hayat. Dalam Yakub dan Yusuf kita nampak ekspresi Allah serta kuasa Allah. Yusuf tidak pernah terpisah dari Yakub. Empat belas pasal yang terakhir dari Kitab Kejadian merupakan pengisahan campuran dari kedua orang tersebut. Ini menunjukkan bahwa Yusuf merupakan bagian dalam berkuasanya Yakub, maka Yakub dan Yusuf ini tidak boleh dipandang sebagai persona yang terpisah.
Dalam bagian ini, Yakub menderita dan Yusuf memegang pemerintahan. Dalam pasal 37 Yusuf tidak memberikan kesan bahwa ia menderita. Pasal ini mewahyukan Yakub menderita, bukan Yusuf yang menderita. Mungkin ada orang akan mendebat, “Ketika Yusuf dimasukkan ke dalam liang tutupan, bukankah ia menderita?” Itu interpretasi Anda, tetapi pasal ini tidak memberi tahu kita begitu. Sebaliknya, Yakub sangat menderita. Ketika Rahel meninggal, ia tidak menangisi kematian Rahel, namun ia menangis dengan sangat sedih ketika ia menarik kesimpulan bahwa Yusuf telah dimakan binatang buas (ayat 33-35).
Pencatatan Akitab mempunyai satu tujuan. Kitab Kejadian, buku tentang gambar dan kuasa Allah, membentangkan gambar yang lengkap tentang bagaimana manusia dibentuk kembali dan diubah agar mengekspresikan Allah dalam gambar-Nya dan mewakili-Nya dalam kuasa-Nya. Keempat belas pasal yang terakhir dari Kitab Kejadian menunjukkan bahwa setelah Yakub menjadi Israel, ia memiliki gambar Allah dan melaksanakan kuasa Allah. Kitab Kejadian adalah lengkap; ia mengakhiri sebagaimana ia memulai. Kitab ini diawali dan diakhiri dengan gambar dan kuasa Allah. Pada pasal-pasal penutupan Kitab Kejadian, Allah sudah pasti gembira, dan Ia bisa mengatakan, “Sekarang Aku mempunyai satu orang di bumi yang mengekspresikan Aku dan mewakili Aku. Orang ini memiliki gambar-Ku dan melaksanakan kekuasaan-Ku. Perkataan-Nya ialah nubuat-Ku, dan tindakannya ialah pelaksanaan kuasa-Ku.” Inilah subyek Kitab Kejadian.
f. Menjadi Matang
(1) Proses Pematangan
Dalam pasal 37 Yakub sudah berusia lanjut. Ditinjau dari sudut waktu maupun geografi, ia telah menempuh perjalanan yang panjang dan akhirnya tiba di Hebron. Yakub telah melewati banyak perkara. Mungkin dalam Alkitab tidak ada seorang pun yang telah mengalami situasi yang sulit dan rumit sebanyak Yakub. Ia telah ditanggulangi Allah sampai tahap sedemikian rupa sehingga ia hampir kehilangan semua yang ia inginkan. Pada masa pasal 37, Rahel telah meninggal, dan Yakub tinggal di Hebron, menikmati persekutuan yang telah dikenal di sana oleh Abraham dan Ishak, nenek moyangnya. Seolah-olah Yakub telah pensiun di Hebron. Akan tetapi, kehidupan rohani tidak ada masa pensiun, maka Allah turun tangan untuk mengguncangkan apa yang kelihatannya sebagai masa pensiun Yakub.
Saya yakin bahwa di Hebron Yakub mencoba sebisanya untuk mencapai kehidupan yang tenang. Ketika ia bersekutu di sana, mungkin ia terbenam dalam banyak kenangan. Boleh jadi dalam ketenangan ia berpikir, “Aku seharusnya tidak memegang tumit Esau. Aku seharusnya tidak membohongi Esau atau ayahku. Aku juga tidak perlu meninggalkan ibuku dan melarikan diri kepada pamanku Laban. Tidak hanya demikian, aku pun tidak perlu begitu mencintai Rahel. Aduh, betapa banyak kerepotan yang muncul akibat kasihku kepada Rahel! Mengapa aku sebodoh itu? Aku tidak seharusnya ditipu Laban. Mengapa aku harus berjanji bekerja selama tahun-tahun itu untuk memperoleh Rahel? Selama tahun-tahun bersama Laban, aku harus menderita kepanasan dan kedinginan.” Andaikata Anda adalah Yakub, apa yang akan Anda perbuat di masa pensiun Anda? Mungkin Anda berkata, “Mulai sekarang, aku hanya ingin menempuh hidup yang tenang. Tidak lagi merebut, tidak lagi memegang tumit. Esau, Laban, dan Rahel semua telah lewat. Sekarang ini saatnya aku tenang menikmati hidup.” Tentunya Yakub sudah menikmati hidup yang tenang di Hebron.
Yakub mengasihi Yusuf lebih daripada saudaranya yang lain, dan ia membuatkan bagi Yusuf sehelai jubah berwarna-warni (ayat 3; LAI: maha indah). Kalau bukan dalam suasana pensiun, ia tidak akan sanggup membuatkan Yusuf jubah seperti itu. Seorang ayah yang sibuk tidak bisa meluangkan waktu untuk mengerjakan hal itu. Namun Yakub telah menikmati hidup dan ia mempunyai banyak waktu untuk membuatkan putra kesayangannya sebuah jubah. Ini membuktikan ia telah pensiun. Penyebutan jubah yang berwarna-warni ini ibarat sebuah jendela kecil, yang mela-lui ini kita dapat meneropong karakter, keinginan, maksud, sasaran, dan sifat Yakub.
(a) Penanggulangan dalam Tahap Terakhir
Setelah mengalami banyak penanggulangan di bawah tangan Allah, tidak diragukan lagi bahwa Yakub telah jemu (bosan) terhadap kehidupan manusiawi. Ia merasa jemu terhadap perebutan, penipuan, perontaan, dan pergulatan. Ke-hidupannya sudah tenang dan ia pun sudah memiliki putra kesayangan yang merupakan jantung hatinya. Karena ia bersikap pilih kasih kepada Yusuf, maka ia membuatkan Yusuf sehelai jubah berwarna warni. Bisakah tindakan Yakub ini dibenarkan? Mengapa ia tidak membuat jubah yang sama bagi Ruben putra sulungnya atau Benyamin putra bungsunya? Memang Ruben telah mencemarkan dirinya dengan perbuatan zinanya terhadap gundik Yakub, namun Benyamin masih merupakan anak kecil dalam keluarga itu, terlalu muda untuk berbuat suatu kekeliruan. Akan tetapi, hati Yakub jelas pertama-tama terikat pada Yusuf dan kedua pada Benyamin. Yakub jelas-jelas pilih kasih. Nanti kita akan melihat bahwa sikap pilih kasih Yakub terhadap Yusuf ini menimbulkan penderitaan bagi dirinya.
Segala sesuatu dalam pasal ini berada di bawah tangan kedaulatan Allah; tidak ada satu pun yang kebetulan. Misalnya, setelah saudara-saudara Yusuf melemparkan Yusuf ke dalam sebuah sumur, segera muncul serombongan orang Ismael, dan kakak-kakaknya memutuskan untuk menjualnya kepada orang Ismael tersebut. Kemudian Yusuf dibawa ke Mesir dan dijual kepada Potifar, pengurus rumah tangga Raja Firaun. Kesemuanya ini berada di bawah kedaulatan Allah. Sesungguhnya, bahkan sikap pilih kasih Yakub kepada Yusuf pun berada di bawah kedaulatan Allah. Dalam pasal 37 Allah memakai kedaulatan-Nya untuk menanggulangi sikap pilih kasih ini agar Yakub menjadi matang.
Sebelum pasal ini, Yakub sudah merupakan orang yang telah diubah; namun ia masih belum matang. Diubah berarti ada perubahan atas hayat alamiah kita, sedangkan matang berarti dipenuhi oleh hayat ilahi yang mengubah kita. Mungkin kita telah diubah dalam hayat alamiah kita, namun belum dipenuhi oleh hayat ilahi. Pasal 37—45 merupakan catatan proses pematangan Yakub. Proses ini dimulai dari 37:1 dan berakhir pada 45:28. Dalam lima pasal terakhir pada kitab ini, kita nampak Yakub yang telah sepenuhnya matang. Mungkin seumur hidup Yakub tidak pernah menderita sebanyak yang dialaminya dalam 9 pasal ini (37-45). Pasal-pasal ini benar-benar merupakan kisah penderitaan Yakub. Dalam pasal-pasal ini kita nampak penang-gulangan tahap terakhir dalam seumur hidup Yakub. Penderitaan yang ia alami di sini, menjamah sangat dalam perasaan pribadinya. Setelah pasal-pasal ini, Yakub sudah tidak mengalami penanggulangan apa-apa lagi. Ia telah sungguh-sungguh matang, ia telah dipenuhi dengan hayat ilahi, dan ia pun mempunyai ekspresi dan kuasa Allah.
Ekspresi dan kuasa Allah memerlukan kematangan. Hanya hayat yang matang yang dapat mengemban gambar Allah dan melaksanakan kuasa-Nya. Bahkan dalam pasal 37, Yakub belum mampu menanggung gambar Allah atau melaksanakan kuasa-Nya. Memang ia telah diubah, tetapi ia belum matang. Pilih kasihnya terhadap Yusuf membuktikan bahwa ia belum matang. Sikap pilih kasih ini merupakan suatu kelemahan. Jangan mengira bahwa orang yang telah diubah tidak akan pilih kasih atau mempunyai kelemahan lainnya. Karena itu, Allah dengan berdaulat menempatkan Yakub di bawah tangan-Nya agar ia menjadi matang.
1) Buah Hati Yakub Direnggut
di Bawah Kedaulatan Tangan Allah
Untuk menjadi matang, pertama-tama Yakub harus menderita kehilangan Yusuf, buah hatinya. Kelihatannya Yusuf tidak mungkin hilang. Ia mungkin saja dengan mudah mati karena penyakit tertentu, tetapi bagaimana mungkin Yakub kehilangan Yusuf? Meskipun ia belum mati — ia masih sangat berguna — tetapi ia harus diambil dari Yakub. Sekarang kita akan melihat bagaimana terjadinya Yakub kehilangan Yusuf.
a) Yusuf Melaporkan Kejahatan Saudara-saudaranya
kepada Ayahnya
Kejadian 37:2 menuliskan bahwa Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya. Dari kedua belas putra Yakub, hanya dua orang yang baik — Yusuf yang berusia 17 tahun dan saudaranya, Benyamin yang masih kecil. Kesepuluh yang lainnya kotor dan jahat, dan Yusuf sering melaporkan kepada ayahnya tentang kejahatan mereka. Ruben, putra sulung di antara kesepuluh saudara ini, telah berzina dengan gundik ayahnya (35:22); Yehuda, putra yang keempat, berzina dengan menantunya yang menyamar sebagai perempuan sundal (38:12-16). Lewi dan Simeon sangat bengis, mereka telah membalas dendam atas tercemarnya Dina, saudara perempuan mereka, dengan membantai Hemor dan Sikhem serta menjarah kota mereka (34:25-29). Fakta bahwa saudara-saudara ini bersekongkol untuk membunuh saudara sedagingnya sendiri menunjukkan betapa berdosanya mereka itu. Sungguh sulit dipercaya bahwa mereka adalah putra-putra dari keluarga pilihan dan yang dikhususkan. Juga sulit dipercaya bahwa mereka akan menjadi nenek moyang suku-suku bangsa Israel, bangsa pilihan Allah. Akan tetapi, jika kakak-kakak Yusuf semuanya baik-baik, tidak jahat, maka Yusuf mustahil hilang.
b) Israel Mengasihi Yusuf Melebihi Putra-putra Lainnya
Seperti yang telah kita ketahui, “Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah (berwarna-warni) bagi dia” (ayat 3). Karena sikap pilih kasih Yakub kepada Yusuf, maka ia harus kehilangan Yusuf, agar bisa menjadi matang. Terhilangnya Yusuf ini terutama dikarenakan sikap pilih kasih Yakub kepadanya.
c) Saudara-saudara Yusuf Membenci Dia
Ayat 4 mengatakan, “Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.” Sikap pilih kasih Yakub kepada Yusuf menyebabkan putra-putranya yang lain membenci Yusuf. Sikap pilih kasih terhadap seorang anak, menimbulkan kebencian di antara putra-putra yang lainnya. Orang tua sepatutnya menghindari perkara ini. Kasih kita harus merata dan adil. Saudara-saudara Yusuf membenci Yusuf karena ia sering melaporkan kejahatan mereka kepada ayah mereka, dan di samping itu dikarenakan Yusuf memang baik.
d) Yusuf Mempunyai Dua Mimpi yang Membuat Saudarasaudaranya Makin Membencinya
Yusuf mempunyai dua mimpi yang membuat saudara-saudaranya makin membencinya (ayat 5-11). Mimpi ini berasal dari Allah. Mimpinya ada dua, angka dua merupakan angka penegasan dan kesaksian. Kedua mimpi tersebut menyatakan satu perkara karena berkas-berkas gandum maupun bintang-bintang itu menyembah kepada Yusuf. Dalam pandangan kita, saudara-saudara Yusuf sebagai pelaku-pelaku zina dan cemar, pembunuh dan pendengki itu pantasnya dihukum masuk neraka saja. Namun Yusuf bukannya bermimpikan semak duri dan perampok-perampok yang mengepung seorang remaja belasan tahun yang lemah lembut. Melainkan ia bermimpikan berkas-berkas gandum dan bintang-bintang. Berkas gandum adalah ikatan gandum yang telah dituai. Ini menyatakan bahwa dalam pandangan Allah, putra-putra Yakub merupakan tanaman-Nya di bumi. Tidak hanya demikian, mereka bukanlah gandum-gandum yang masih hijau, melainkan telah masak, dituai, dan diikat menjadi berkas-berkas. Dalam mimpinya yang kedua, anggota keluarga Yusuf dinyatakan dengan matahari, bulan, dan sebelas bintang, kesemuanya itu merupakan benda-benda terang yang memancarkan sinar di langit. Dalam Pelajaran Hayat Kitab Wahyu kita telah menunjukkan bahwa matahari, bulan, dan bintang yang terdapat dalam Wahyu 12 dan Kejadian 37 mewakili seluruh umat Allah. Pada zaman Yusuf, keluar-ganya merupakan keseluruhan umat Allah di bumi. Menurut pandangan kita, mereka itu jahat dan buruk, namun menurut pandangan Allah, mereka itu terang dan surgawi. Demikian juga menurut sifat alamiah kita, kita ini jelek, jahat, dan kotor. Akan tetapi kita telah dipilih, ditebus, diampuni, dilahirkan kembali, dan diubah. Jadi, kita adalah ladang Allah, tanaman Allah. Akhirnya kita akan menjadi tuaian Allah; kita akan dituai oleh-Nya dan dijadikan berkas-berkas gandum. Tidak hanya demikian, kita juga adalah benda-benda terang surgawi. Oh, visi ini luar biasa!
Secara berdaulat Allah telah memberi Yusuf mimpi-mimpi ini, karena mimpi-mimpi ini telah mewahyukan sifat, kedudukan, fungsi, dan sasaran umat Allah di bumi. Umat Allah adalah tanaman-Nya dan benda-benda terang-Nya. Sebagai tanaman, mereka mempunyai hayat, dan sebagai benda-benda surgawi, mereka memiliki terang. Dalam mimpi yang pertama ada hayat, dan dalam mimpi yang kedua ada terang. Hayat dan terang adalah dua ciri khas umat Allah.
Dalam mimpi yang pertama, berkas-berkas gandum itu menyembah kepada berkas gandum Yusuf, dan dalam mimpi yang kedua, matahari, bulan, dan kesebelas bintang menyembah kepadanya. Ketika Yusuf memberi tahu ayah dan saudara-saudaranya perihal mimpinya yang kedua ini, Yakub menegurnya, “Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (ayat 10). Yusuf bukan seorang politikus; ia polos, terus terang, setia, dan lurus hati. Kalau ia tidak berterus terang memberi tahu mereka tentang mimpinya, tentunya tidak akan timbul masalah. Dalam hidup gereja, kita harus seperti Yusuf, bukan meniru politikus. Sayang, tidak banyak di antara kita yang berterus terang dan jujur seperti Yusuf. Kebanyakan di antara kita malah sebaliknya, menjadi “politikus-politikus” yang cerdik. Mungkin Anda telah bermimpi, namun Anda tidak memberitahukannya kepada orang lain. Yusuf justru polos, berterus terang, terbuka, dan transparan; dengan senang hati ia memberi tahu saudara-saudaranya tentang mimpinya. Tetapi hal ini membuat mereka lebih benci kepada Yusuf, dan ketransparanan Yusuf malah menyebabkan dia “disalibkan”. Kita pun sering “disalibkan” oleh ketransparanan kita. Seandainya saya ini politikus, saya pasti tidak mau seperti Yusuf. Secara manusiawi, Yusuf bertindak keliru karena memberi tahu saudara-saudaranya perihal mimpinya. Jika kita ini Yusuf, mungkin kita akan berkata, “Tahukah Anda bahwa semalam aku telah bermimpi indah sekali.” Dan kalau yang lain bertanya kepada kita mimpi apakah itu, kita akan menjawab, “Maafkan aku, aku tidak boleh memberitahukan mimpi itu kepada Anda.” Inilah “hikmat” berpolitik orang-orang Kristen hari ini. Akan menjadi politikus atau Yusufkah Anda? Kalau Anda menjadi Yusuf, Anda akan disalibkan oleh kejujuran Anda. Karena mimpi Yusuf, saudara-saudaranya makin membencinya daripada sebelumnya.
e) Saudara-saudara Yusuf Pergi Menggembala
Saudara-saudara Yusuf pergi menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem (ayat 12). Menggembala adalah mata pencaharian mereka. Melalui mata pencaharian ini, dalam kedaulatan Allah, mereka memperoleh kesempatan untuk memisahkan Yusuf dari Yakub.
f) Yusuf Diutus untuk Melihat Saudara-saudaranya
Kemudian Yusuf diutus ayahnya untuk melihat saudarasaudaranya (ayat 13-17). Ini pun di bawah kedaulatan Allah. Adanya fakta Yakub menyuruh Yusuf pergi menengok saudara-saudaranya merupakan petunjuk lain bahwa Yakub sedang menikmati kehidupannya. Jika ia dalam keadaan sibuk, ia tidak akan sempat memikirkan hal ini. Berhubung ia tidak ada pekerjaan, maka ia teringat akan putra-putranya dan rindu akan mereka. Ketika Yusuf disuruh pergi kepada saudara-saudaranya, ia taat. Ia tidak bergunjing atau mengobrol yang sia-sia. Ia menerima pesan ayahnya dan berangkat mencari saudara-saudaranya.
g) Saudara-saudara Yusuf Bermufakat untuk Membunuhnya
Ketika saudara-saudara Yusuf melihatnya dari jauh, “sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya” (ayat 18). Mereka memberi Yusuf sebuah julukan, serta berkata seorang kepada yang lain, “Lihat, tukang mimpi kita itu datang!” (ayat 19). Mereka telah bersepakat untuk membunuh Yusuf dan kemudian membohongi ayah mereka tentang apa yang telah terjadi (ayat 20).
h) Ruben Ingin Melepaskan Yusuf dari Tangan Saudara-saudaranya
Ruben, saudaranya yang tertua ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka. Ketika ia mendengar tentang siasat mereka, “Ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya, ‘Janganlah kita bunuh dia! . . . Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia’” (ayat 21-22). Ruben bermaksud melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.
i) Yehuda Mengusulkan untuk Menjualnya daripada Membunuhnya
Ketika Ruben tidak ada di tempat, Yehuda, saudaranya yang keempat, menyarankan agar sebagai ganti membunuh Yusuf, lebih baik menjual dia kepada kafilah Ismael (ayat 25-27). Kata Yehuda, “Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita” (ayat 26-27).
j) Yusuf Dijual kepada Orang-orang Ismael dari Midian
Yusuf dijual kepada orang-orang Ismael dari Midian (ayat 28). Ismael adalah putra Abraham melalui Hagar, dan Midian adalah putra Abraham dari Ketura, istrinya yang terakhir. Baik orang-orang Ismael maupun orang-orang Midian, kedua-duanya mewakili daging. Kebencian itu bertalian dengan daging, dan daging bertalian dengan dunia yang diwakili oleh Mesir. Berdasarkan kebencian, saudara-saudara Yusuf menyerahkannya kepada daging dan daging membawanya turun ke Mesir. Tetapi Allah berdaulat atas segalanya. Dalam kedaulatan-Nya, Ia memakai segala yang ada, termasuk daging dan kebencian dari saudara-saudaranya. Setiap perkara negatif dalam pasal ini — kebencian, daging, Firaun, dan Potifar si pengurus rumah tangga Firaun — telah dipakai oleh kedaulatan Alah untuk mencapai tujuan-Nya.
k) Yakub Kehilangan Buah Hatinya
Melalui kedaulatan Allah, ada perkara-perkara yang tampaknya terjadi secara kebetulan, Yakub kehilangan buah hatinya (ayat 31-35). Setelah kematian Rahel, hati Yakub seluruhnya tertambat pada Yusuf. Tiba-tiba, dengan sangat mengejutkan, Yusuf direnggut darinya. Putra-putra Yakub menipunya dengan meyakinkan bahwa Yusuf telah diterkam oleh binatang buas (ayat 32-33). Mendengar berita ini, Yakub segera “mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu” (ayat 34). Bagi Yakub, di bumi ini tidak ada apa-apa lagi. Ia tidak hanya diremukkan, juga telah dikupas habis-habisan sehingga tidak ada satu pun yang tinggal. Walaupun anak-anaknya berusaha menghibur dia, namun ia menolak serta katanya, “Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!” (ayat 35). Yakub benar-benar patah semangat, tidak ada satu pun yang dapat menghiburnya. Ia telah kehilangan buah hatinya. Alangkah dalam dan pribadi penanggulangan ini!
Pada prinsipnya, cepat atau lambat, kita semua akan menempuh penanggulangan semacam ini. Janganlah takut terhadap kemungkinan ini. Puji Tuhan, kita bukan sekadar memiliki pasal 37, tetapi juga pasal 47, di mana kita nampak akhir yang mulia. Pasal 37 hanya merupakan jalan bawah tanah yang pendek. Yakub telah melewati jalan bawah tanah yang pendek ini dan mengalami penderitaan yang menjamah sampai di relung hatinya, namun membuatnya menjadi matang. Tidak ada sesuatu dalam seumur hidupnya yang lebih menjamahnya sepribadi dan sedalam kehilangan Yusuf.
l) Orang-orang Midian Membawa Yusuf ke Mesir dan Menjualnya kepada Potifar
Sebenarnya Yusuf bukanlah hilang. Allah melindunginya di Mesir. Terbawanya Yusuf ke tanah Mesir sesungguhnya adalah berpindah dari “sekolah menengah” ke “universitas”. Di Mesir ia akan menerima pendidikan yang lebih tinggi, yang mempersiapkan dia menjadi raja. Sudah tentu Yakub tidak mengetahui hal ini. Dalam pandangan Yakub, Yusuf telah dimangsa binatang buas. Tetapi dalam pandangan Allah, Yusuf sedang dipersiapkan menjadi raja. Karena itu, Allah dapat berkata, “Yakub, kamu tidak perlu berkabung. Sebaliknya, kamu harus bergembira, sebab putramu di Mesir dipersiapkan untuk menjadi raja.”