TIGA TIANG DAN SATU MENARA DALAM SEUMUR HIDUP YAKUB
Jika kita menyusuri kisah Yakub, kita akan nampak bahwa dalam seumur hidupnya terdapat tiga tiang dan satu menara. Meskipun Yakub telah empat kali mendirikan tiang, namun ia mendirikannya hanya pada tiga tempat — di Gilead, di Betel, dan di jalan yang menuju Betlehem (31:45; 28:18, 22; 35:14, 20). Berhubung Yakub mendirikan tiang-tiang ini di tiga tempat, dua kali mendirikan tiang di Betel, maka sesungguhnya dalam seumur hidup Yakub hanya terdapat tiga tiang sebagai tanda atas pengalamannya. Kecuali ketiga tiang ini, Yakub juga mengalami satu menara, yakni menara Eder (35:21). Kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang dicatat dalam Alkitab mempunyai makna yang khusus. Dalam berita ini kita perlu melihat suatu sisipan mengenai makna dari tiga tiang dan satu menara dalam seumur hidup Yakub.
I. TIGA TIANG
A. TIANG DI GILEAD
Tiga tiang yang didirikan oleh Yakub merupakan tanda dalam seumur hidupnya. Ketiga tiang ini membagi seumur hidupnya ke dalam tiga bagian. Bagian yang pertama yaitu Yakub mengalami pemeliharaan Allah. Sejak hari kelahirannya, ia telah berada di bawah pemeliharaan Allah. Akan tetapi, Yakub, si perebut, si pemegang tumit ini, menganggap dirinya sanggup memelihara dirinya sendiri. Namun akhirnya ia menyadari bahwa ia bukan berada di bawah pemeliharaannya sendiri, melainkan berada di bawah pemeliharaan Allah. Jika ia berada di bawah pemeliharaan dirinya sendiri, mustahil ia mampu menghadapi kelicikan pamannya, Laban, atau berhadapan muka dengan kakaknya yang kuat, Esau. Bahkan ia kemungkinan dikalahkan secara habis-habisan oleh Laban pamannya, atau bisa-bisa dihancurluluhkan sama sekali oleh Esau. Tetapi karena Yakub berada di bawah pemeliharaan Allah, maka baik Laban maupun Esau tidak bisa mencelakakan dia. Meskipun Yakub telah sedapat-nya melakukan segala sesuatu untuk memelihara dirinya sendiri, namun kemudian ia berangsur-angsur menyadari bahwa ia berada di bawah pemeliharaan Allah.
Ingatlah kembali bagaimana Yakub meninggalkan Laban. Ia tidak pergi dengan cara yang mulia, melainkan karena takutnya terhadap Laban, secara memalukan, diam-diam ia melarikan diri (31:20-21). Berbuat demikian “Yakub telah mencuri hati Laban, orang Aram itu” (31:20 Tl.). Yakub mengira bahwa ia harus melarikan diri untuk melindungi diri-nya, itulah sebabnya ia melarikan diri dari Laban, pamannya, dengan diam-diam. Namun setelah itu Yakub menyadari bahwa ia bukan dilindungi oleh taktiknya sendiri, melainkan oleh pemeliharaan Allah. Laban baru tahu bahwa Yakub melarikan diri tiga hari kemudian, namun ia tetap mengejarnya sampai berhasil (31:23). Malam sebelum Laban menyusul Yakub, Allah berkata kepada Laban, “Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah kata pun” (31:24). Seolah-olah Allah berpesan kepada Laban, “Janganlah engkau berbuat sesuatu pun terhadap Yakub. Engkau harus membiarkan dia di dalam tangan-Ku.” Laban sungguh bodoh, sehingga kepada Yakub ia menceritakan seluruhnya mengenai apa yang telah dikatakan Allah kepadanya malam sebelumnya (31:29). Seandainya Laban tidak membuka rahasia ini, ia masih memiliki kesempatan untuk mengadakan tawar-menawar dengan Yakub. Tetapi sekarang Yakub menunggangi alasan Allah berbicara kepada Laban untuk menegur Laban, katanya, “Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam” (31:42). Sementara Yakub menegur Laban, dalam hatinya boleh jadi ia bersyukur kepada Allah atas perlindungan-Nya. Allah berdaulat atas semua keadaan sekeliling bagi eksistensinya.
Kemudian Laban berkata kepada Yakub, “maka sekarang, marilah kita mengikat perjanjian, aku dan engkau, supaya itu menjadi kesaksian antara aku dan engkau” (31:44). Yakub menyetujui usul Laban dan mengambil sebuah batu serta mendirikannya sebagai tiang (31:45). Meskipun Laban bermaksud menimbun setumpukan batu, tetapi Yakub mendirikan sebuah tugu (tiang). Tiang ini mempersaksikan bahwa Allah telah memelihara Yakub. Yakub sudah nampak bahwa kehidupannya benar-benar di bawah pemeliharaan Allah. Karena itulah, ia mendirikan tiang ini sebagai suatu kesaksian yang kuat akan pemeliharaan Allah terhadapnya.
Yakub berada di bawah pemeliharaan Allah lebih dari dua puluh tahun. Dalam waktu yang demikian lama ia berada di bawah tangan pemerasan Laban (sepuluh kali Laban mengubah upahnya — 31:41), namun Allah senantiasa menyertainya, dan tangan-Nya tidak pernah meninggalkan dia. Karena itu, ketika Yakub mengikat perjanjian dengan Laban, ia mendirikan tiang yang mempersaksikan bahwa ia berada di bawah pemeliharaan Allah. Tiang ini adalah untuk eksistensi Yakub. Banyak di antara kita juga mendirikan tiang seperti ini. Jika Anda memperhatikan pengalaman kristiani Anda sendiri, Anda akan nampak bahwa tahap pertama dari kehidupan kristiani Anda adalah mengalami pemeliharaan Allah. Bahkan sebelum kita diselamatkan, kita pun mengharapkan pemeliharaan Allah. Begitu kita mendengar Injil serta percaya kepada Tuhan Yesus, kita juga berharap mendapatkan pemeliharaan-Nya. Sama seperti Yakub, bertahun-tahun kita berada di bawah pemeliharaan Bapa surgawi kita. Pada akhir kehidupan kristiani kita tahap pertama, kita perlu mendirikan sebuah tiang yang mempersaksikan pemeliharaan Allah. Akan tetapi jika Anda telah lama bersama Tuhan, maka mendirikan tiang semacam ini mungkin sudah agak terlambat. Anda perlu mendirikan tiang yang kedua, yakni tiang di Betel.
B. TIANG DI BETEL
Lama sebelum Yakub mendirikan tiang di Gilead ini, ia telah mendirikan tiang di Betel (28:18, 22). Namun pendirian tiang itu oleh Yakub terjadi setelah ia bermimpi. Ini memperlihatkan sekali lagi bahwa biografi Yakub merupakan juga biografi kita. Tidak lama setelah kita diselamatkan, kita mendengar tentang rumah Allah, kita lalu menunjukkan reaksi terhadap perkara ini. Tetapi apa yang kita dengar dan perbuat itu seolah sebuah mimpi; kita belum secara riil mengalami rumah Allah. Dalam Kejadian 28 Yakub telah bermimpi. Setelah mimpi itu, ia mempunyai sebuah pengalaman yang riil, namun bukan pengalaman rumah Allah, melainkan pengalaman pemeliharaan Allah. Kemudian dari tahap pengalaman ini ia mendirikan sebuah tiang di Gilead sebagai tanda yang mempersaksikan pemeliharaan Allah. Kita akan melihat bahwa dalam kehidupan kristiani kita, kita memerlukan tiga tiang, tiga tanda, dan tiang yang pertama mempersaksikan pemeliharaan Allah terhadap kita.
Setelah Yakub meninggalkan Padan-Aram dan kembali ke tanah permai, ia tidak langsung menuju Betel. Allah lalu turun tangan dan memanggilnya untuk pergi ke Betel, kata-Nya, “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.” (35:1). Ini menunjukkan bahwa Yakub tidak berminat memenuhi janjinya di Betel kepada Allah dua puluh tahun yang lampau. Mungkin ia bahkan telah melupakannya. Ia tidak langsung menuju Betel untuk memenuhi janjinya, melainkan pergi ke Sukot, di sana ia mendirikan rumah bagi dirinya dan gubuk-gubuk bagi ternaknya (33:17). Kemudian ia pergi ke Sikhem, membeli sebidang tanah di sana dan memasang kemahnya (33:18-19). Setelah kejadian serius yang disebabkan pencemaran terhadap putrinya, Dina, Allah mendatangi Yakub dan menyuruh dia bangun dan berangkat ke Betel. Pada kali kedua Yakub tiba di Betel, ia tidak lagi bermimpi, Allah menyuruh dia pergi ke sana, tinggal, dan mendirikan mezbah bagi Allah yang telah menampakkan diri kepadanya ketika ia melarikan diri dari Esau. Di Betel Yakub mempersembahkan dirinya kepada Allah, agar Allah bisa menggenapkan tujuan-Nya, yakni memiliki Betel, rumah Allah. Di sini, di Betel, Yakub mendirikan tiang yang kedua, juga tanda yang kedua dalam seumur hidupnya (35:14). Seperti yang telah ditunjukkan dalam Kejadian 28:22, tiang di Betel disebut rumah Allah. Jadi, tiang pertama merupakan kesaksian atas pemeliharaan Allah, sedang tiang yang kedua memberi kesaksian atas rumah Allah.
Sejarah Yakub juga merupakan sejarah kita, karena itu kita semua harus menyembah kepada Allah. Banyak di antara kita yang telah mendirikan tiang di dua tempat ini, yaitu di Gilead dan di Betel. Kita dapat memberi kesaksian atas pemeliharaan Allah, maupun atas rumah Allah. Tiang Yakub yang pertama adalah kesaksian atas pemeliharaan Allah terhadap eksistensinya. Sewaktu Yakub, perebut yang kasihan, tiba di rumah Laban, ia tidak memiliki sesuatu apa pun. Tetapi ketika ia kembali ke tanah permai, ia telah memperoleh sejumlah besar kekayaan. Ia memiliki orang dan kawanan ternak serta domba-domba dalam jumlah yang besar. Dalam janjinya di Kejadian 28:20-21, Yakub berkata, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.” Dengan kata lain, Yakub sesungguhnya bermaksud, “Jika Tuhan tidak memberiku makanan dan pakaian, dan jika Ia tidak membawaku kembali ke rumah ayahku dengan selamat, aku tidak mau menjadikan Dia sebagai Allahku. Bahkan aku akan melupakan-Nya.” Transaksi yang alangkah menguntungkan yang dibuat Yakub dengan Allah! Meskipun demikian, Allah memenuhi semua tuntutannya; menyuplainya dengan makanan dan pakaian, memberinya keamanan, bahkan memberinya sejumlah orang dan kawanan ternak. Dalam pasal 35, Allah seolah berkata, “Yakub, sekarang kamu harus pergi ke Betel. Kamu seharusnya tidak lagi memperhatikan makanan dan pakaian, serta keamananmu. Kamu seharusnya memperhatikan Aku dan rumah-Ku. Yakub, telah bertahun-tahun Aku memeliharamu. Mulai sekarang, kamu harus memperhatikan Aku.”
Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa pada masa lampau kita telah mendirikan tiang di Gilead. Pada saat itu, yang kita persaksikan adalah bagaimana Allah memelihara kita. Kita bersaksi bahwa Tuhan itu setia, baik hati, rahmani, dan kaya. Tetapi kesaksian kita hari ini bukanlah tiang yang pertama, yang menyangkut pemeliharaan Allah, melainkan tiang yang kedua, kesaksian atas rumah Allah. Hari ini, sedikit sekali orang Kristen yang memperhatikan rumah Allah. Kebanyakan mereka hanya mengutamakan keperluan-keperluan mereka sendiri; tiang yang mereka dirikan hanyalah kesaksian atas pemeliharaan Allah. Pengalaman mendirikan tiang bagi kesaksian rumah Allah sangat jarang. Memiliki tiang pemeliharaan tanpa tiang rumah Allah, tidaklah normal. Sebagai Yakub-Yakub hari ini, kita harus mendirikan tiang yang kedua bagi pembangunan rumah Allah. Puji syukur kepada Tuhan, banyak di antara kita yang telah berbuat demikian. Dalam kehidupan kristiani kita, kita tidak hanya memiliki tahap pertama, tahap pemeliharaan Allah, tetapi juga memiliki tahap kedua, tahap rumah Allah. Meskipun demikian, kita masih harus melanjutkan perjalanan kita dan mendirikan tiang yang ketiga.
C. TIANG DI PERJALANAN KE BETLEHEM
Beban saya dalam berita ini ialah tiang ketiga, tiang di perjalanan ke Betlehem (35:16-20). Di Betel, Yakub mendirikan sebuah mezbah dan sebuah tiang. Selain menjawab panggilan Allah, ia pun mempersembahkan dirinya kepada Allah bagi penggenapan kehendak-Nya untuk memiliki Betel. Namun hidup Yakub bukan berakhir pada Kejadian 35:15. Ayat 16 mencatat bahwa Yakub berangkat dari Betel. Selama dalam perjalanan, Yakub mengalami perkara yang menyenangkan dan perkara yang menyedihkan, mendapatkan dan kehilangan. Yakub memperoleh seorang putra, Benyamin, dan ia kehilangan istri kesayangannya, Rahel. Jika Anda disuruh memilih, manakah yang lebih Anda sukai, mendapatkan putra atau tetap memiliki istri Anda? Untuk memperoleh putra, Anda harus mengorbankan istri Anda; ingin tetap memiliki istri Anda, Anda harus membuang anak Anda. Yakub telah berputra 11 orang, namun tidak satu pun di antara mereka yang merupakan lambang Kristus yang sempurna. Ia telah mempunyai banyak pengalaman, namun tidak satu pun di antara pengalaman - pengalaman itu yang membuat dia melahirkan Kristus. Jadi, ia dihadapkan pada suatu pilihan — memiliki Rahel atau mendapatkan Benyamin. Perkara ini penting sekali, kita semua pasti menghadapi pilihan ini.
Sebenarnya, pilihan ini tidak tergantung pada Yakub, seandainya ia memilih tetap memiliki Rahel, itu tidak mungkin; atau ia ingin menolak Benyamin, juga mustahil. Baik kematian Rahel maupun kelahiran Benyamin, semuanya di tangan Allah.
Lea, orang yang tidak terlalu disukai oleh Yakub, telah melahirkan enam orang putra. Rahel, yang menjadi sasaran kasih Yakub, hanya melahirkan seorang putra — Yusuf, yang berarti “tambahan”. Ketika Yusuf dilahirkan, Rahel berharap memiliki putra yang kedua, katanya, “Mudah-mudahan TUHAN menambah seorang anak laki-laki lagi bagiku” (30:24). Dalam pengharapannya untuk memiliki seorang putra lagi, ia seakan-akan berkata, “Allah telah menghapus aibku dan telah memberiku seorang putra. Tetapi hanya seorang saja belumlah cukup. Aku menginginkan seorang lagi. Karena itu, aku memberi nama putraku yang pertama ini, Yusuf.” Hal ini menyiratkan suatu doa, yang jawabannya dibayar dengan nyawa Rahel. Rahel berdoa demikian dalam Kejadian 30:24, dan terkabul dalam Kejadian 35:18. Untuk mencapai keinginannya, Rahel harus kehilangan nyawanya. Ia tidak menyadari benar-benar apa yang diucapkannya dalam Kejadian 30:24. Rahel berharap Allah akan memberinya putra yang kedua, tetapi ia tidak tahu bahwa ia harus mengorbankan nyawanya untuk ini. Banyak di antara kita melakukan hal yang sama. Kita berdoa bagi suatu perkara yang istimewa tanpa menyadari bahwa untuk jawabannya kita harus mengeluarkan harga yang macam apa.
Pada kelahiran putra Rahel yang kedua, Yakub pasti bergembira. Namun tiba-tiba ia nampak bahwa Rahel, jantung hatinya itu meninggal. Benyamin muncul, tetapi Rahel berangkat. Kelahiran Benyamin dan kematian Rahel terjadi secara serentak, berarti Yakub mendapatkan seorang putra melalui kehilangan pilihan alamiahnya. Butir penting dalam berita ini ialah Yakub mendapatkan Kristus melalui kehilangan pilihan alamiahnya. Tiang ketiga dalam hidup Yakub ini merupakan suatu kesaksian penanggulangan Allah terhadap pilihan alamiahnya.
Memiliki kesaksian pemeliharaan Allah dan kesaksian rumah Allah memang cukup mengagumkan. Tetapi bahkan rumah Allah masih bukanlah sasaran Allah yang terakhir. Sasaran Allah yang terakhir ialah mengekspresikan Kristus. Mengekspresikan Kristus bukannya perkara individu, melainkan perkara yang korporat dalam rumah Allah. Gereja sebagai rumah Allah adalah untuk mengekspresikan Kristus. Untuk mengekspresikan Kristus, harus ada gereja. Namun, kebanyakan orang Kristen mengira bahwa mereka dapat mengekspresikan Kristus tanpa gereja. Padahal tanpa gereja, mus-tahil kita bisa mengekspresikan Kristus dengan sepenuhnya. Selain tiang pemeliharaan Allah dan tiang rumah Allah, kita harus memiliki tiang ketiga, tiang untuk mengekspresikan Kristus secara korporat. Tiang ini memerlukan kurban yang amat mahal.
Kejadian 35:20 mengatakan bahwa Yakub mendirikan sebuah tugu (tiang) di atas kubur Rahel, itulah “tugu (tiang) kubur Rahel sampai sekarang.” Kubur ini menandakan bahwa pilihan alamiah Yakub telah mati, yaitu dambaan hatinya telah mati. Rahel adalah orang pertama yang dijumpai Yakub ketika ia sampai di rumah Laban, dan segera pula ia jatuh cinta kepadanya. Ia melakukan segala sesuatu hanya untuk memperistri Rahel, dan akhirnya ia benar-benar mendapatkan dia. Rahel bukan mati pada usia yang lanjut; ia mati di saat mengalami kesulitan bersalin. Ia masih bisa bersalin menunjukkan bahwa ia belum lanjut usia. Keenam putra dan seorang putri dilahirkan Lea dengan sangat lancar, sedang Rahel mati sewaktu melahirkan putranya yang kedua. Kematiannya itu seizin Allah.
Kematian Rahel menandakan kematian pilihan alamiah kita. Dua tiang yang kita dirikan sebelumnya bukanlah agar kita memiliki kehidupan yang menyenangkan, melainkan agar kita tetap hidup guna mendirikan rumah Allah, menjadi ekspresi Kristus. Meski Yakub sudah memiliki sebelas putra, namun tak satu pun dari mereka merupakan lambang yang sempurna dari Kristus. Tidak satu pun dari mereka merupakan anak yang menderita dan anak tangan kanan. Yusuf sungguh unggul, namun sebelum kelahiran Benyamin ia bukanlah lambang Kristus. Dalam perlambangan, Yusuf merupakan kelanjutan Benyamin. Ini menyatakan bahwa tidak peduli berapa banyaknya pengalaman rohani kita sampai saat ini, tidak ada satu pun yang mengekspre-sikan Kristus. Kita masih memerlukan Benyamin. Supaya Benyamin dilahirkan, pilihan alamiah kita, “Rahel” kita, harus mati.
Allah memakai Rahel untuk melahirkan Benyamin. Tetapi setelah Benyamin dilahirkan, Ia mengambil Rahel. Demikian juga Allah akan memakai “Rahel” kesayangan kita. Dan setelah Rahel kita dipakai, Ia mengambilnya dari sisi kita. Jika Anda memeriksa kembali pengalaman Anda, Anda akan menemukan bahwa Tuhan memakai pilihan Anda, keinginan Anda. Dan setelah itu, Ia mengambilnya dari Anda.
Kematian Rahel bukan hanya merupakan penderitaan bagi Yakub, tetapi juga suatu penderitaan bagi Rahel. Matius 2:18 mengatakan, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.” Bertahun-tahun saya tidak mengerti, mengapa Rahel yang telah dikuburkan selama 1700 tahun lebih masih dapat menangis. Akan tetapi ayat ini menegaskan bahkan pada saat kelahiran Kristus, Rahel masih menangisi anak-anaknya; mereka semua adalah keturunan Benyamin. Benyamin benar-benar “anak sengsara”, dan tepat sekali Rahel memberinya nama ini. Kelahiran Benyamin bukan hanya merenggut nyawa Rahel, tetapi juga nyawa-nyawa keturunannya 1700 tahun lebih kemudian. Ketika Kristus dilahirkan di Betlehem, Herodes membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah (Mat. 2:16). Rahel menangisi semua anaknya yang telah dibunuh oleh Herodes atas kedatangan Kristus. Ini berarti Rahel mati martir bagi kedatangan Kristus. Tangisan Rahel terdengar sampai di Rama. Rahel dimakamkan pada jalan menuju Betlehem, sedang Rama hanya terletak 200 yard dari Betlehem. Jadi kubur Rahel terletak berdekatan dengan Betlehem maupun Rama. Daerah ini didiami oleh keturunan-keturunan Benyamin, putra Rahel.
Setelah Rahel mati dan dikuburkan, ia masih harus menunggu selama 1700 tahun lebih. Melahirkan Benyamin dengan kehilangan nyawa saja tidaklah cukup; ia masih harus menangis pada 1700 tahun lebih kemudian untuk keturunan-keturunan-Nya yang mati martir bagi Kristus. Rahel bukan hanya menderita pada saat melahirkan, bahkan 1700 tahun lebih kemudian ia masih harus menderita lagi. Tujuan penderitaannya adalah untuk melahirkan Kristus. Pertama, Benyamin yang merupakan lambang Kristus datang, dan kedua, Kristus yang sejati datang. Allah tidak sama dengan kita yang terikat oleh waktu. Berhubung alasan inilah kita tidak perlu prihatin terhadap jangka waktu 1700 tahun lebih antara kematian Rahel dengan kelahiran Kristus.
Yakub telah mendirikan sebuah tiang di Gilead dan sebuah tiang di Betel, tetapi sekarang ia harus mendirikan tiang ketiga di jalan yang menuju Betlehem. Dalam kehidupan kristiani kita, kita pun harus mempunyai tiang ketiga pada kubur Rahel, tempat pilihan alamiah kita dimakamkan. Kasih kita, kedambaan kita, dan pilihan kita, pada suatu hari akan diakhiri dan dimakamkan. Kita harus mendirikan tiang di atas kubur pilihan alamiah kita. Tiang ini sebagai tanda atas kematian dan penguburan pilihan alamiah kita, kesukaan hati kita. Orang, benda, dan perkara yang sangat kita sayangi akan mati dan dikuburkan. Dan kita harus mendirikan sebuah tiang di atas kubur itu, mempersaksikan bahwa pilihan kita telah terkubur. Kemudian kita meneruskan perjalanan ke Betlehem, tempat Kristus lahir. Tiang yang terletak di jalan menuju Betlehem akan memimpin orang-orang kepada Kristus.
Kali pertama Yakub bertemu dengan Rahel serta jatuh cinta kepadanya, ia tidak tahu kesukaran apa yang akan menimpanya karena Rahel. Karena Yakub mengasihi Rahel, ia diberi Lea dan kedua pelayannya, Zilpa dan Bilha. Tanpa Lea dan kedua pelayan ini, ia tidak akan memiliki kesepuluh orang anak laki-laki yang memberinya kesulitankesulitan. Semakin mengasihi Rahel, semakin banyak kesulitan yang dihadapi Yakub. Lea telah memberi Yakub empat orang putra, sedang Rahel tidak beranak, lalu ia mengeluh kepada Yakub (30:1). Terhadap keluhan ini Yakub membalas, “Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?” (30:2). Yakub seolah-olah berkata, “Rahel, mengapa engkau mengeluh kepadaku? Mengapa engkau tidak mengeluh kepada Allah?” Akhirnya Allah mendengarkan doa Rahel dan memberinya seorang putra, Yusuf (30:22-24). Pada kelahiran Yusuf, Rahel mengharapkan Allah akan memberinya seorang putra lagi. Ia dikabulkan untuk melahirkan putra yang kedua, namun seperti yang telah kita lihat, ia kehilangan nyawanya saat melahirkan. Karena itu, ia menyebut putranya yang kedua “anak sengsara”. Bahkan jauh di kemudian hari Rahel juga merasa sengsara atas mati martirnya keturunan Benyamin bagi kedatangan Kristus. Seandainya Anda ini Yakub dan dapat meramalkan semua kesulitan yang akan menimpa Rahel kekasih Anda, masihkah Anda mau mengasihinya? Mungkin Anda akan menjawab, “Rahel, betapa pun eloknya engkau, aku tidak akan berani melibatkan diriku padamu. Karena melakukan hal ini, aku akan menghadapi kesulitan.” Yakub sudah tentu tidak mengetahui apa yang akan terjadi di depannya. Ketika Rahel mati, ia tidak mempunyai pilihan kecuali menguburnya dan mendirikan tiang yang ketiga. Dia mendirikan tiang yang pertama di Gilead, yang kedua di Betlehem; sekarang ia mendirikan yang ketiga di atas kubur Rahel.
Hari ini, kita mungkin merasa gembira dalam hidup gereja. Tetapi suatu hari “Rahel” Anda, pilihan hati Anda, akan mati agar Benyamin bisa terlahir. Saya benar-benar yakin bahwa Benyamin akan dilahirkan dalam hidup gereja. Bahkan selanjutnya, jauh hari setelah kematian “Rahel”, kita masih harus menangisi mati martir keturunannya, yaitu mereka yang mati martir bagi kedatangan Kristus.
Rahel menangis, sebab ia itu orang alamiah. Ia tidak seharusnya menangis, melainkan harus bersukacita. Jika ia menggunakan rohnya, ia pasti tidak akan menangis; malahan akan merasa gembira serta berkata, “Orang yang kusebut ‘anak sengsara’ ini ternyata merupakan bayang-bayang dari anak sengsara sejati yang akan dilahirkan di Betlehem.” Dalam gambaran yang diungkapkan oleh Kejadian 35 ini, Rahel menandakan pilihan alamiah kita. Terhadap pilihan alamiah kita, kelahiran Benyamin merupakan suatu penderitaaan. Tetapi bagi Israel, hal ini merupakan pe-nyebab sukacita. Kedatangan Benyamin merupakan penderitaan bagi Rahel; kedatangan Kristus merupakan tangisan baginya. Tetapi kedatangan Benyamin dan kedatangan Kristus merupakan sukacita bagi Israel. Perkara-perkara tertentu akan terjadi di dalam hidup gereja sehingga orang alamiah kita akan merasa sengsara dan susah. Namun bagi Israel, orang rohaniah kita, perkara itu bukan suatu penderitaan, melainkan suatu kegembiraan. Sebagai pengganti tangisan, timbullah sukacita.
Dalam tahap pertama kehidupan kristiani kita, kita mengalami pemeliharaan Allah; dalam tahap kedua, kita mengalami rumah Allah; dan dalam tahap ketiga, kita mengalami kelahiran Kristus, ekspresi Kristus. Kelahiran Kristus dan ekspresi Kristus meminta pengorbanan hayat alamiah kita, keinginan alamiah kita, dan pilihan alamiah kita. Segala sesuatu yang alamiah akhirnya akan mati dan dikuburkan. Akan tetapi pilihan alamiah kita akan menderita terus untuk jangka waktu yang panjang.
Kita semua memerlukan tiga tiang ini, tiga jenis kesaksian. Selama beberapa tahun di Taipei, dalam persekutuan dengan para penatua, saya telah menjelaskan bahwa kebanyakan kesaksian dalam sidang gereja selalu berkisar hanya pada pemeliharaan Allah. Jarang sekali kita mendengar kesaksian tentang rumah Allah atau ekspresi Allah. Waktu itu saya tidak nampak gambar tentang ketiga tiang ini sejelas hari ini. Kehidupan kristiani kita haruslah mempunyai ketiga bagian ini: pemeliharaan Allah, rumah Allah, dan ekspresi Kristus. Dalam sidang gereja, kaum muda dan mereka yang baru beroleh selamat, sudah tentu memberi kesaksian atas pemeliharaan Allah. Mendengar kesaksian dari “bayi” macam ini mengagumkan kita. Tetapi kita memerlukan juga kesaksian-kesaksian mengenai rumah Allah dan ekspresi Kristus. Jika kita memiliki tiga jenis kesaksian ini, berarti dalam gereja kita telah memiliki tiang pemeliharaan Allah, tiang rumah Allah, dan tiang ekspresi Kristus.
Sasaran Allah yang terakhir ialah mengekspresikan Kristus. Dan ini mengorbankan pilihan alamiah kita, keinginan alamiah kita, dan hayat alamiah kita. Baik pada tiang yang pertama maupun yang kedua tidak terlihat kematian dan kubur. Baru pada tiang yang ketiga kita menjumpai kematian Rahel dan kuburnya. Tiang yang didirikan di atas kubur Rahel ini berada pada jalan yang menuju Bethelem. Jadi tiang ini berada pada jalan yang menuju Kristus, mengarahkan orang kepada Kristus. Jika Anda ingin melakukan perjalanan menuju Betlehem, Anda harus melalui jalan di mana ada tiang yang seperti ini. Bahkan setelah tiba di Betlehem, Anda bukan menjumpai sukacita yang luar biasa, melainkan pembunuhan. Yang pertama-tama, hanya Rahel seorang yang mati. Namun 1700 tahun lebih kemudian, banyak dari keturunannya yang mati martir, agar Kristus bisa terlahir.
Saya yakin bahwa dalam pemulihan Tuhan kata-kata ini akan digenapi dan kita akan mengalami perkara-perkara ini. Semoga Roh Tuhan menerjemahkan gambar ini secara kuat dan jelas. Apa yang saya katakan di sini bukan sekadar doktrin atau suatu terjemahan. Ini harus menjadi sebuah rekaman dalam sejarah kita. Sudah banyak di antara kita yang bisa mengatakan bahwa kita telah memiliki kedua tiang yang pertama. Mungkin sekali ada beberapa saudara dan saudari yang segera akan mempunyai tiang yang ketiga yaitu kematian Rahel dan kuburnya. Setelah kematian dan penguburan ini, datanglah Kristus. Entah berapa orang yang akan mati martir dan menangis, yang pasti, akan terjadi kelahiran yang ajaib — kelahiran Benyamin dan kelahiran Kristus, yaitu Kristus datang dan terekspresi. Inilah sasaran Allah dan kesaksian Allah.
II. SATU MENARA
Setelah Yakub mendirikan tiang yang ketiga, “Berangkatlah Israel, lalu ia memasang kemahnya di seberang Migdal-Eder (menara Eder)” (35:21). Dalam bahasa Ibrani kata “Eder” berarti “kawanan domba”. Dalam Mikha 4:8 ada ungkapan bahasa Ibrani yang sama diterjemahkan “Menara Kawanan Domba”. Di sini, di Menara Eder, Yakub menghadapi perkara kecemaran, yang memalukan dan amoral; Ruben tidur dengan gundik ayahnya. Peristiwa ini tidak terjadi di tempat tiang, melainkan di tempat menara.
Saya percaya bahwa Menara Eder, Menara Kawanan Domba, menyatakan kenyamanan hidup. Yakub memiliki banyak kawanan domba. Ketika melewati Menara Eder, mungkin dia berpikir, inilah tempat yang baik untuk istirahat. Sebelum ia mencapai tempat tujuannya — Hebron, ia menetap di Menara Eder. Berarti Yakub sudah sampai di tempat ia dapat menikmati hidup yang nyaman. Ketika ia menikmati hidup yang nyaman ini, terjadilah perkara dosa. Dosa, terutama dosa berzina, selalu terjadi saat kita menempuh hidup yang nyaman. Ruben melakukan perzinaan dengan gundik Yakub menunjukkan bahwa Yakub tidak seharusnya menetap di tempat itu. Dia seharusnya langsung menuju Hebron. Jika ia tidak mendirikan kemah di Menara Eder, mungkin tidak akan terjadi perkara yang jahat itu.
Meskipun Yakub telah mendirikan tiga tiang, ia tidak perlu mendirikan Menara Eder, sebab Menara Eder sudah berdiri di sana sebagai sebuah jerat. Ketika Anda berada di jalan mengikuti Tuhan, di sekitar Anda sering terdapat jerat yang menanti Anda. Jalan untuk menghindari jerat ialah maju terus tanpa berhenti, bahkan menoleh pada menara pun jangan. Anda tidak boleh mendirikan kemah di seberang Menara Eder, Anda harus melewatinya. Tidak peduli sampai di mana tahap kehidupan kristiani kita, di sekeliling kita ada saja jerat menara yang akan mencelakai kita. Kenyamanan hidup bagi orang yang mengikuti Tuhan Yesus selalu merupakan satu percobaan. Setiap pengikut Tuhan mengetahui bahwa sasaran terakhir masih sangat jauh. Karena perjalanan masih jauh, maka Anda berharap menemukan tempat istirahat di sepanjang jalan. Namun ketika Anda tiba di Menara Kawanan Domba, sekali-kali jangan mengira itu adalah tempat istirahat Anda — itu justru suatu jerat. Lewatilah itu, terus maju ke depan. Dalam mengikuti Tuhan, walau bagaimanapun letihnya, Anda harus berkata, “Tuhan, tolonglah aku, aku tidak mau beristirahat di samping menara apa pun. Kapan saja aku mendekati menara, ajarlah aku menghindarinya, aku tidak mau menganggap tempat itu sebagai tempat istirahatku.” Kalau Anda berbuat demikian, Anda akan terlindung dan terselamatkan, tidak sampai jatuh ke dalam jerat.
Hasrat Yakub ialah ingin meminang Rahel sebagai istrinya. Jika bukan Allah yang menghalang-halangi dia melalui Laban, tentunya ia sudah langsung memperistrinya. Lalu siapa saja yang pertama dilahirkan oleh Rahel, dialah anak sulung Yakub. Akan tetapi Allah telah masuk, dan dalam satu aspek, Yakub dipaksa mengambil Lea sebagai istrinya, sehingga secara fakta Ruben adalah anak sulung, dan hak kesulungan menjadi miliknya. Ini tentunya berlawanan dengan hasrat Yakub. Juga kelihatannya tidak adil. Kemudian, sewaktu di Menara Eder, Yakub sedang menikmati hidup yang nyaman, Ruben berzina dengan gundik ayahnya. Perkara yang jahat ini menyebabkan Ruben kehilangan hak kesulungannya (49:3-4). 1 Tawarikh 5:1-2 jelas menunjukkan bahwa hak kesulungan itu diberikan kepada Yusuf. Di sini kita nampak kedaulatan Allah mem-perbaiki perihal hak kesulungan. Berhubung Ruben telah berbuat dosa yang cemar, ia kehilangan hak kesulungan-nya; sedang Yusuf, karena kemurniannya, ia mendapatkan hak kesulungan (39:7-12). Ketika istri Potifar membujuk Yusuf untuk berzina dengannya, Yusuf menolaknya. Karena mempertahankan kemurniannya, Yusuf dikaruniakan hak kesulungan yang dihilangkan oleh Ruben atas perzinaannya di Menara Eder. Jadi, bahkan kesalahan Yakub pun bisa dipakai Allah untuk memperbaiki hak kesulungan. Puji Tuhan, kesalahan ini telah memperbaiki hak kesulungan! Tetapi janganlah sekali-kali mengambil ini sebagai alasan untuk membela diri, “Biarlah kita berbuat salah saja, supaya yang baik itu datang.” Kita harus menundukkan kepala menyembah kepada Allah atas kedaulatan-Nya.”
Allah yang berdaulat ini adil dan benar, Dia tidak mem-berikan seluruh bagian hak kesulungan kepada Yusuf. Dia hanya memberi Yusuf kenikmatan atas dua bagian tanah, sedangkan bagian keimaman diberikan kepada Lewi, anak Lea yang ketiga, dan jabatan raja diberikan kepada Yehuda, anak Lea yang keempat (49:10; 1 Taw. 5:2; Ul. 33:8-10). Lewi, karena setia kepada Allah, mendapat jabatan imam (Ul. 33:9), Yehuda, karena mengasihi saudaranya dan mem-perhatikan ayahnya, mendapat jabatan raja (37:26; 43:8-9; 44:14-34). Dalam hal ini, kita nampak kedaulatan Allah. Dia ada di balik setiap perkara dan setiap orang. Ketika kita nampak gambar ini, dan betapa setiap perkara bekerja sama, kita harus menyembah Allah. Haleluya, kita di tangan Allah.
Biografi Yakub merupakan sejarah kita. Dalam seumur hidup Yakub ada tiga tiang dan satu menara. Kita juga akan memiliki tiga tiang dan satu menara. Saya boleh bersaksi bahwa saya telah mengalami perkara-perkara ini. Saya percaya setelah waktunya lewat, banyak di antara kita akan teringat perkara ini. Syukur kepada Tuhan atas tiga tiang dan satu menara ini.