← Daftar isi Yakobus · bab 9/14

KEBAJIKAN PRAKTEK KRISTIANI YANG SEMPURNA (9)

Pembacaan Alkitab: Yak. 4:1-10

Dalam berita ini kita akan membahas apa yang dikatakan Yakobus dalam 4:1-10 mengenai menanggulangi pelesiran, dunia, dan Iblis. Tetapi, sebelum kita membahas halhal ini, saya ingin memberikan uraian ringkas lebih lanjut mengenai perbedaan antara hikmat seperti yang dinyatakan dalam tulisan-tulisan Yakobus dengan hikmat seperti yang dinyatakan dalam tulisan-tulisan Paulus.

DUA TINGKAT HIKMAT

Dalam 1:5 Yakobus mengatakan, “Tetapi apabila di an-tara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia me-mintanya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit —, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Kemudian dalam 3:13 Yakobus berkata, “Siapa di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah dengan cara hidup yang baik ia me-nyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kele-mahlembutan.” Kemudian dalam 3:17 Yakobus memberi tahu kita, “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut, penurut, penuh be-las kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” Semua ini adalah ciri praktek kristiani yang sempurna menurut pandangan Yakobus, yang agaknya di-pengaruhi oleh ajaran-ajaran Perjanjian Lama mengenai perilaku, moralitas, dan etika manusia (Ams. 4:5-8). Apa yang dikatakan oleh Yakobus mengenai hikmat ini adalah dari sudut karakter manusia. Hikmat seperti ini tidak da-pat menjangkau ketinggian hikmat mengenai rahasia eko-nomi Perjanjian Baru Allah yang tersembunyi tentang Kristus dan gereja (1 Kor. 2:6-8; Ef. 3:9-11).

Dalam tulisannya mengenai hikmat, Yakobus tidak me-ngatakan sepatah kata pun mengenai Kristus sebagai hayat ataupun mengenai gereja terbangun melalui mengalami ke-limpahan Kristus untuk ekspresi-Nya. Di samping itu, da-lam seluruh Kitab Yakobus, Roh Allah hanya disebutkan satu kali (4:5), dan itu pun secara negatif. Roh manusia sama sekali tidak disinggung. Melalui hal itu kita nampak tiga hal penting yang tidak dijamah oleh Yakobus dalam Surat Kirimannya: Kristus sebagai hayat, pembangunan ge-reja melalui segala kekayaan Kristus, dan roh manusia. Yakobus hanya menyebut Roh Kudus Allah dalam hubung-annya dengan melawan hawa nafsu (4:5). Karena kekurang-an dalam butir-butir ini, Yakobus tidak dapat mencapai ketinggian hikmat seperti yang kita nampak dalam Surat-Surat Kiriman Paulus.

Dalam Surat Kirimannya, Yakobus tampaknya menya-jikan hikmat sebagai sesuatu yang diberikan kepada kita oleh Allah sekali untuk selamanya. Pengertian Paulus ter-hadap hikmat jauh lebih tinggi. Menurut Paulus, hikmat sesungguhnya adalah Kristus itu sendiri, perwujudan Allah, yang telah “dipasang” di dalam kita, dan yang sekarang se-cara terus-menerus ditransmisikan ke dalam kita. Perihal berhuni ini terjadi sekali untuk selamanya, tetapi perihal transmisi tidaklah demikian: hal itu terjadi secara terus-menerus. Kita boleh menggunakan listrik sebagai suatu gambaran. Listrik dipasang dalam suatu bangunan sekali untuk selamanya. Tetapi begitu listrik dipasang, maka akan ada transmisi listrik secara terus-menerus dari pembangkit tenaga listrik ke bangunan itu.

Hikmat yang diajarkan Yakobus adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah. Tetapi hikmat yang diajarkan oleh Paulus adalah Kristus secara terus-menerus mentransmisi-kan diri-Nya ke dalam kita. Transmisi ilahi ini adalah suatu penyaluran ilahi. Listrik ditransmisikan ke suatu bangun-an, berarti listrik itu disalurkan ke dalam bangunan itu untuk berbagai keperluan penghuni bangunan itu. Prinsip-nya sama dengan Kristus sebagai hikmat.

Sebagai perwujudan Allah Tritunggal, Kristus berhuni di dalam ketiga bagian diri kita, untuk ditransmisikan, disa-lurkan ke dalam kita sepanjang masa sehingga kita bisa me-nempuh hidup yang mengekspresikan Kristus, dan dengan demikian gereja, Tubuh Kristus, bisa dibangun sebagai kepe-nuhan-Nya. Betapa tingginya jangkauan Paulus dalam tulis-annya mengenai Kristus sebagai hikmat kita yang dari Allah.

Dalam kedaulatan Tuhan, Surat Yakobus ditempatkan setelah keempat belas Surat Kiriman Paulus. Dalam Surat Kiriman Paulus kita nampak suatu hikmat yang berada di tingkat yang tertinggi. Dalam Surat Yakobus kita nampak suatu hikmat yang berada di tingkat yang lain, tingkat hidup manusia.

Ketika kita membahas gambaran kedua tingkat hik-mat ini, kita akan mengetahui di mana kita seharusnya berada. Kita seharusnya berada dalam ekonomi Allah dan dalam praktek kristiani yang sempurna. Di satu pihak kita harus bagi ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah menyalur-kan Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal ke dalam kita bagi pembangunan gereja sebagai kepenuhan Kristus. Praktek kristiani yang sempurna berkaitan dengan menjadi sempurna dan utuh dalam sikap, karakter, dan perilaku kita sehingga kita bisa memiliki kesaksian yang positif di hadapan orang lain dan bahkan dalam pandangan malaikat dan setan. Jika kita memiliki praktek kristiani yang sem-purna semacam ini, tidak akan ada seorang pun yang bisa mempermalukan kita. Untuk ekonomi Allah, kita perlu menjadi orang-orang yang memiliki praktek kristiani yang sempurna seperti yang digambarkan oleh Yakobus dalam Surat Kirimannya. Sekarang kita nampak mengapa kedua tingkat hikmat ini — satu dalam Surat Kiriman Paulus, dan yang lain dalam Surat Kiriman Yakobus — diungkap-kan dalam Perjanjian Baru.

PELESIRAN, DUNIA, DAN IBLIS

Dalam 4:1-10 Yakobus berbicara mengenai menanggulangi pelesiran, dunia, dan Iblis. Sebagian orang mungkin merasa terganggu dengan fakta bahwa kita menggunakan kata “pe-lesiran” dalam pengertian yang negatif. Dalam hidup gereja kita tidak memiliki pelesiran — kita memiliki kenikmatan. Kenyataannya, hidup gereja kita adalah suatu kenikmatan. Kenikmatan ini adalah suatu hal yang sangat positif, tetapi semua pelesiran duniawi benar-benar negatif. Dalam 4:1-10 Yakobus menggolongkan pelesiran-pelesiran ini dengan du-nia dan Iblis. Salah satu sifat kesempurnaan orang Kristen adalah mengalahkan segala macam pelesiran, dunia, dan Iblis.

Sengketa, Pertengkaran, dan Pembunuhan

Dalam 4:1 Yakobus mengatakan, “Dari mana datang-nya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” Hawa nafsu di sini sama dengan yang tercan-tum dalam ayat 3; menurut bahasa aslinya adalah “pelesir-an”. Dalam ayat 1, kata ini mengacu kepada nafsu kese-nangan daging (anggota tubuh); sedangkan dalam ayat 3, kata ini mengacu kepada pelesiran yang memuaskan hawa nafsu daging.

Perkataan Yakobus dalam pasal 4 agak campur aduk dan tidak mudah dipahami. Sebagai contoh, dalam ayat 1 Yakobus mengatakan perihal sengketa dan pertengkaran di antara mereka yang menerima Surat Kirimannya. Percaya-kah Anda bahwa pada zaman dulu ada sengketa dan per-tengkaran di antara kaum beriman Yahudi di Yerusalem dengan mereka yang tersebar di tempat-tempat orang kafir? Sedikitnya sampai taraf tertentu saya tidak percaya akan hal ini. Bagaimana mungkin kaum beriman bisa berteng-kar, bersengketa satu sama lain? Yakobus mengatakan bahwa persengketaan dan pertengkaran ini berasal dari ha-wa nafsu yang saling berjuang di dalam tubuh kita.

Dalam 4:2 Yakobus melanjutkan, “Kamu mengingini se-suatu, tetapi tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak mem-peroleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Kata “meng-ingini” di sini berarti serakah, bernafsu. Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Dalam ayat 1 Yakobus membicarakan dua macam sengketa, sengketa di antara kaum saleh dan sengketa yang berjuang di dalam tubuh kita. Kemudian da-lam ayat 2 ia mengatakan, “Kamu bertengkar dan kamu berkelahi.” Ia juga mengatakan, “Kamu membunuh; kamu iri hati.” Saya merasa bingung oleh apa yang dikatakan Yakobus dalam ayat 2. Saya yakin bahwa perasaan bingung tersebut dikarenakan dalam tulisan Yakobus, agama Yahudi dicampur aduk dengan pengajaran-pengajaran Perjanjian Baru. Yakobus dijenuhi dengan berbagai pikiran, konsep, pengajaran, peraturan, dan praktek dari agama Yahudi. Ia diresapi dengan unsur-unsur agama itu, dan telah lama hidup dalam lingkungan dan suasana agama itu. Tambahan pula, ia menghargai hal-hal Yudaisme. Namun, Yakobus juga cukup dalam terpengaruh oleh pengajaran-pengajaran Perjanjian Baru. Ini berarti pada diri Yakobus terdapat dua unsur, dua lingkungan, dan dua suasana. Akibatnya adalah suatu per-campuran dalam pikirannya, yakni percampuran antara Yudaisme dengan pengajaran-pengajaran Perjanjian Baru.

Walaupun saya telah mempelajari 4:1-10, saya merasa sangat sulit menguraikan ayat-ayat ini, dan menyampaikan ayat-ayat ini dengan tepat. Perkataan Paulus dalam 2 Timotius 2:13 perihal menguraikan firman kebenaran me-nyatakan bahwa kita tidak seharusnya menyampaikan fir-man kebenaran dengan berbelat-belit. Tetapi ketika kita sampai di Kitab Yakobus, kita sama sekali tidak dapat menguraikan atau menyampaikan firman ini dengan tegas. Sebagai contoh kesulitan ini, saya akan mengajak Anda memperhatikan kata “membunuh” dalam 4:2. Kata ini sangat mengganggu saya, dan saya tidak bisa memahami apa yang Yakobus maksudkan dengan kata ini. Sudah tentu maksud Yakobus bukanlah kaum beriman itu benar-benar saling membunuh. Akan tetapi, dapatkah kita merohanikan kata “membunuh” di sini? Kita dapat dengan mudah me-mahami apa yang dimaksud Paulus dalam Roma 8:13 se-waktu ia berbicara tentang mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, tetapi siapakah yang bisa memahami apakah yang dimaksud oleh Yakobus dengan membunuh pada ayat ini? Siapa yang dibunuh dan oleh siapa?

Tidaklah mudah mengikuti jalan pikiran Yakobus da-lam ayat ini. Ia mengatakan bahwa mereka yang disebut-nya membunuh dan iri hati, tidak bisa memperoleh sesuatu, lalu bertengkar dan berkelahi. Pertengkaran ini tentunya terjadi di antara orang-orang tertentu. Kemudian pada akhir ayat 2 Yakobus mengatakan, “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Di satu pihak Yakobus berkata, “Kamu membunuh”; di pihak lain, ia mengatakan bahwa mereka seharusnya berdoa. Apakah ini berarti bah-wa seorang pembunuh dapat meminta, seorang pembunuh dapat berdoa? Saya hanya dapat menyajikan ayat ini kepada Anda, dan minta Anda menganalisisnya serta menguraikannya.

Dalam ayat 3 Yakobus meneruskan ucapannya, “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hen-dak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” Bagaimanakah kita memahami ayat ini dalam hubungan-nya dengan ayat-ayat terdahulu? Nampaknya tidak ada “jejak” untuk menyusuri jalan pikiran Yakobus.

Persahabatan dengan Dunia

Dalam ayat 4 Yakobus mengatakan, “Hai kamu, orang-orang yang berzina! Tidakkah kamu tahu bahwa persaha-batan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi, siapa saja yang hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Tl.). Di sini Yakobus beralih dari perkara pelesiran ke perkara bersahabat de-ngan dunia dan permusuhan dengan Allah. Tulisan Yakobus di sini baik sekali; kata-katanya sangat jelas. Dalam ayat 4 Yakobus dengan tegas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia berarti menjadi musuh Allah.

Dalam 4:4 Yakobus menggunakan kata “orang-orang yang berzina” (Tl.). Allah dan Kristus adalah Suami kita (Yes. 54:5; 2 Kor. 11:2). Kita seharusnya murni dan me-ngasihi Dia saja dengan seluruh diri kita (Mrk. 12:30). Jika hati kita terpecah karena mengasihi dunia, kita menjadi orang-orang yang berzina.

Dalam ayat 4 Yakobus menggunakan kata “persahabatan” dan “sahabat” dalam hubungannya dengan dunia. Persahabatan dengan dunia adalah kasih terhadap dunia untuk kesenangan daging. “Dunia” adalah sistem Iblis, yang bermusuhan dengan Allah. Bahasa Yunani un-tuk dunia, kosmos, dipakai untuk berbagai hal dalam Per-janjian Baru. Dalam Matius 25:34; Yohanes 17:15; Kisah Para Rasul 17:24; Efesus 1:4; dan Wahyu 13:8, istilah kosmos menunjuk kepada alam kebendaan sebagai suatu sistem yang diciptakan oleh Allah. Dalam Yohanes 1:29; 3:16; dan Roma 5:12, istilah ini mengacu kepada umat ma-nusia yang telah jatuh yang dirusak dan dirampas oleh Iblis sebagai komponen untuk sistem dunianya yang jahat. Dalam 1 Petrus 3:3, istilah ini menyatakan perhiasan, yang memperindah. Di sini, dalam Yakobus 4:4, seperti dalam 1 Yohanes 2:15; Yohanes 15:19; dan 17:14 kosmos mengacu kepada suatu susunan, suatu perangkat bentuk, suatu ren-cana yang rapi; yaitu, suatu sistem yang dikelola, didirikan oleh Iblis, seteru Allah. Dari sini kita nampak bahwa “dunia” bukan mengacu kepada bumi. Allah menciptakan manusia untuk hidup di bumi dan untuk menggenapkan maksud-Nya. Tetapi musuh-Nya, Iblis, dalam upaya meram-pas manusia, telah membentuk suatu sistem dunia yang menentang Allah di bumi melalui mengatur manusia dengan hal-hal seperti agama, kebudayaan, pendidikan, industri, perdagangan, dan hiburan, melalui sifat manusia yang jatuh dalam hawa nafsu, pelesiran, tuntutan, dan bahkan dalam memenuhi keperluan hidup mereka seperti makanan, pakai-an, rumah, dan kendaraan. Menurut apa yang dikatakan Yakobus dalam 4:4, mengasihi dunia menyebabkan sese-orang yang mengasihi Allah menjadi musuh Allah.

Roh yang Berhuni

Dalam 4:5 Yakobus meneruskan ucapannya, “Jangan-lah kamu menyangka bahwa Kitab Suci tanpa alasan ber-kata, ‘Roh yang berhuni di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!’” (Tl.). Ketika Allah mendapatkan kita menjadi istri-Nya, Dia menaruh Roh-Nya ke dalam kita un-tuk membuat kita menjadi satu dengan Dia (1 Kor. 6:19, 16-17). Dia adalah Allah yang cemburu (Kel. 20:5), dan Roh-Nya cemburu kepada kita dengan cemburu Allah (2 Kor. 11:2), rindu, mendambakan dengan cemburu, agar kita tidak bersahabat dengan musuh-Nya, dan pada saat yang sama menjadi pengasih-Nya.

Hanya sekali ini saja Yakobus menyinggung tentang Roh Allah yang berhuni, dan ini pun dari sisi negatif, me-ngatakan jangan bersahabat dengan dunia, bukan dari sisi positif mengenai pembangunan Tubuh Kristus.

Kata “berhuni” dalam 4:5 juga boleh diterjemahkan dengan “membuat rumah-Nya”. Roh yang berhuni membuat rumah-Nya di dalam kita agar Dia bisa menduduki seluruh diri kita (lihat Ef. 3:17) bagi Allah, supaya kita sepenuhnya bagi Suami kita.

Dalam 4:5 Yakobus menyebutkan “Kitab Suci . . . berkata”. Tetapi, saya tidak mengetahui Yakobus mengacu kepada ayat apa di dalam Alkitab. Saya tidak yakin ada guru Alkitab yang bisa menemukan ayat yang dimaksudkan ini di dalam Alkitab.

Para penerjemah berbeda pendapat dalam menerjemah-kan kata-kata Yunani yang diterjemahkan, “Roh yang ber-huni di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu.”

Saya percaya bahwa “menginginkan dengan cemburu” me-rupakan terjemahan yang paling tepat. Keinginan atau ke-rinduan ini berasal dari cinta. Sebagai contoh, seorang suami yang mengasihi istrinya akan penuh rasa rindu ke-padanya dan akan cemburu kalau ia (istrinya) mengasihi orang lain. Ia tidak ingin istrinya mengasihi orang lain selain dirinya.

Dalam ayat 4 dan 5 Yakobus menggunakan pernikahan untuk menggambarkan hubungan kita dengan Allah. Allah adalah Suami, dan kita adalah jodoh-Nya. Sebagai jodoh Allah, kita harus mengasihi Dia. Jika kita mengasihi se-suatu atau orang lain menggantikan Dia, kita menjadi pe-zina. Roh yang berhuni yang telah Allah tempatkan di da-lam kita mengingini kita hanya untuk diri-Nya sendiri. Bila kita tidak hanya bagi Dia, melainkan mengasihi dunia, Roh yang berhuni ini bukan hanya akan tersinggung, te-tapi juga akan cemburu. Inilah pengertian sebenarnya dari apa yang dimaksud Yakobus sewaktu ia mengatakan bahwa Roh yang berhuni dalam kita itu diingini-Nya dengan cem-buru.

Dalam 4:6 Yakobus meloncat kepada masalah anuge-rah: “Tetapi anugerah yang diberikan-Nya kepada kita, le-bih besar daripada itu. Karena itu, Ia katakan, ‘Allah me-nentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’” Secara logika, nampaknya tidak ada hubung-an antara ayat 5 dengan ayat 6. Dalam ayat 6 kita temu-kan kutipan dari Amsal 3:34 menurut Septuagin (Perjan-jian Lama berbahasa Yunani).

Dalam ayat 7-10 Yakobus mengatakan bahwa kita harus tunduk kepada Allah, melawan Iblis, mendekat kepada Allah, mentabirkan tangan kita, menyucikan hati, menyadari kemalangan, berdukacita dan meratap, mengganti tertawa kita dengan ratapan dan sukacita kita dengan dukacita, dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Sewaktu kita membahas 4:1-10, kita nampak Yakobus sering melompat dari satu masalah ke masalah lain. Hal ini membuat kita sulit mengikuti jalan pikirannya. Juga sulit menguraikan firman dalam bagian ini.

Pezinah, Musuh, dan Orang Berdosa

Walaupun sulit untuk mengikuti jalan pikiran Yakobus dari ayat ke ayat, kita bisa nampak dengan jelas bahwa dalam 4:1-10 Yakobus memperlihatkan tiga butir utama yang merupakan masalah kita: pelesiran (ayat 1), dunia (ayat 4), dan Iblis (ayat 7). Hal-hal ini haruslah dibereskan hingga tuntas. Kalau tidak, kita akan menjadi pezina (perempuan sundal), musuh, dan orang berdosa. Sudah tentu, sebagai orang-orang yang mengasihi Tuhan, kita tidak ingin men-jadi pezina, musuh Allah, dan orang berdosa. Tetapi, jika masalah pelesiran, dunia, dan Iblis tidak dibereskan, akhir-nya kita akan menjadi pezina, musuh Allah, dan orang berdosa.

Saya prihatin banyak di antara kita yang mungkin sudah menjadi pezina dan musuh Allah. Orang-orang yang dibicarakan di sini adalah umat Allah, mereka milik Allah, dan mereka dilahirkan dari Allah. Akan tetapi, kondisi me-reka sebenarnya merupakan musuh Allah. Alasan mengapa mereka menjadi musuh Allah adalah karena terdapat banyak hal duniawi di dalam diri mereka. Suatu persahabatan yang erat telah terjalin dengan dunia, sistem yang diatur oleh musuh Allah, seteru-Nya. (Iblis bukan hanya musuh Allah, tetapi juga seteru-Nya; berarti ia adalah musuh yang ada di dalam lingkungan Allah, maka ia adalah seteru).

Jika anak Allah mengasihi dunia, dan menjalin persa-habatan dengan dunia, dunia akan menjadikannya musuh Allah. Seorang beriman yang demikian menjadi musuh Allah karena ia berpihak kepada musuh Allah dengan mengasihi dunia, sistem setan. Tegasnya, orang seperti itu ingin ber-gabung dengan sistem setan dari dunia. Karena itu, dalam pandangan Allah, ia menjadi seorang musuh Allah. Lagi pula, ia adalah orang berdosa. Dari sini kita nampak bahwa menurut keadaan nyata seseorang, seorang anak Allah bisa menjadi orang pezina, musuh Allah, dan orang berdosa.

Pelesiran dan Hawa Nafsu

Agar tidak menjadi pezina, musuh, dan orang berdosa, kita perlu menanggulangi pelesiran, dunia, dan Iblis. Pele-siran berkaitan dengan hawa nafsu. Jika kita tidak mem-punyai hawa nafsu, kita tidak akan memerlukan pelesiran. Tetapi, sukacita tidak berkaitan dengan hawa nafsu. Allah adalah Allah yang sukacita, dan sukacita adalah untuk diri kita, bukan untuk hawa nafsu kita. Maka tepatlah jika kita bersukacita, tetapi tidak benarlah jika memiliki pelesiran yang berkaitan dengan hawa nafsu.

Orang-orang yang menuntut pelesiran adalah orang-orang yang menuruti hawa nafsunya. Di seluruh dunia, hari Minggu telah menjadi hari untuk pelesiran. Hari itu, pada umumnya, tidak lagi dipandang sebagai hari Tuhan, hari di mana umat Tuhan bersekutu dengan-Nya, tinggal bersama-Nya, menyembah-Nya, menikmati-Nya, dan mengalami perhentian di dalam Dia. Pada hari Minggu orang-orang dunia melakukan pelesiran untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Sering kali, percakapan di sekolah atau di tempat kerja pada hari Senin pagi berkaitan dengan hal dosa dan duniawi selama akhir pekan. Hari ini orang-orang di dunia mengumbar hawa nafsu mereka dalam segala jenis pelesiran.

Hawa nafsu ini juga ada di dalam kita. Jika kita tidak hidup di dalam roh, kita tidak akan mempunyai jalan un-tuk mengalahkan penghamburan hawa nafsu ini. Roh kita perlu dikenyangkan oleh firman yang tertanam. Setiap pagi dan juga sepanjang hari kita perlu dikenyangkan melalui mengontak firman yang tertanam sehingga roh kita bisa menjadi kuat untuk melawan hawa nafsu dan mengalah-kannya.

Yakobus, seorang yang saleh, tidak ingin melihat kaum beriman terlibat dalam pengumbaran hawa nafsu berbagai pelesiran. Ia mengetahui pelesiran seperti itu akan menjadi-kan mereka pezina-pezina, musuh-musuh Allah, dan bah-kan menjadi orang-orang berdosa. Ia tahu semua pelesiran itu berkaitan dengan dunia. Memakai akhir pekan untuk berpelesiran adalah mengasihi dunia. Seorang beriman yang menggunakan akhir pekannya secara demikian akan sangat merosot kerohaniannya. Untuk mengangkatnya kembali mungkin ia memerlukan “derek” yang sangat besar.

Trinitas yang Jahat

Menurut 4:1-10, berbagai pelesiran berkaitan dengan dunia, dan dunia bersangkut-paut dengan Iblis. Di sini kita memiliki trinitas yang jahat yang bertentangan dengan Trinitas yang ilahi. Sebagai orang Kristen, kita mempunyai Allah Tritunggal, namun kita juga menghadapi problem tri-nitas. Problem trinitas ini adalah trinitas yang jahat, me-liputi hawa nafsu, dunia, dan Iblis. Trinitas ini bertentang-an dengan Tritunggal yang ilahi — Bapa, Putra, dan Roh itu. Perjanjian Baru dengan jelas mengungkapkan bahwa nafsu daging bertentangan dengan Roh itu, dunia berten-tangan dengan Bapa, dan Iblis bertentangan dengan Putra. Galatia 5 mengatakan bahwa daging dengan segala hawa nafsunya bertentangan dengan Roh itu. Yakobus 4 dan 1 Yohanes 2 mengungkapkan bahwa dunia bertentangan de-ngan Allah Bapa, dan 1 Yohanes 3 menunjukkan bahwa si Iblis, Satan, bertentangan dengan Putra, yang datang un-tuk membinasakan pekerjaan Iblis. Dari sini kita nampak bahwa Allah Tritunggal berperang melawan problem trini-tas, yakni Tritunggal ilahi — Bapa, Putra, dan Roh — ber-lawanan dengan dunia, Iblis, dan daging. Jika kita mempu-nyai pandangan menyeluruh terhadap Yakobus 4:1-10, kita akan nampak bahwa dalam ayat-ayat ini diungkapkan tiga hal besar — pelesiran, dunia, dan Iblis.