← Daftar isi Yakobus · bab 8/14

KEBAJIKAN PRAKTEK KRISTIANI YANG SEMPURNA (8)

Pembacaan Alkitab: Yak. 3:1-18

Dalam berita ini sampailah kita ke pasal 3 dari Surat Yakobus. Ayat 1-12 dari pasal ini membahas perihal mengekang lidah, sedang ayat 13-18, membahas tentang berperilaku dalam hikmat.

MENGEKANG LIDAH

Mengekang lidah adalah perkara yang sangat sulit. Sebagai contoh, Anda mengetahui bahwa Anda tidak akan sanggup untuk tidak berbicara selama satu jam. Tetapi jika kita gagal mengekang lidah kita, kita bodoh. Namun, jika kita membatasi lidah kita, kita berhikmat. Berhikmat dalam praktek kristiani yang sempurna berkaitan dengan pengekangan lidah kita.

Dalam Yakobus 3 terdapat dua kata yang penting — lidah dan hikmat. Selama bertahun-tahun saya tidak bisa mema-hami bagian terakhir pasal ini, yakni ayat-ayat mengenai hikmat. Saya tidak bisa memahaminya karena saya tidak memiliki kuncinya. Akan tetapi sekarang saya nampak bah-wa kuncinya adalah mengekang lidah kita ialah jalan un-tuk memiliki hikmat. Kebodohan berkaitan dengan terlalu banyak bicara dan hikmat berkaitan dengan mengekang lidah kita.

Dalam 3:1 Yakobus mengatakan, “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kamu tahu bahwa sebagai guru kita akan diha-kimi menurut ukuran yang lebih berat.” Guru-guru mudah membawa masuk ajaran-ajaran yang berbeda, menghasil-kan opini-opini yang berbeda dan menyebabkan permasalahan dan perpecahan (lihat 2 Tim. 4:3; 1 Tim. 1:3-4, 7; Ef. 4:14).

Dalam ayat 1 Yakobus mengatakan bahwa para guru akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Apa saja yang kita katakan akan dihakimi, kita akan dihakimi berdasarkan perkataan kita sendiri (Mat. 12:36-37).

Sekalipun kita perlu belajar mengekang lidah dalam kehidupan sehari-hari, namun kita semua perlu didorong untuk berbicara di dalam sidang-sidang gereja. Jika kita berbuat demikian, sidang-sidang kita akan sangat membubung, berkat akan datang, dan segala masalah akan terselesaikan.

Macam-macam masalah dalam kehidupan pernikahan sering kali disebabkan oleh lidah. Jika suami dan istri me-ngendalikan lidah, banyak masalah akan terselesaikan. Akan tetapi karena sebagian orang mempunyai lidah yang sukar dikendalikan, maka lidahnya menimbulkan masalah yang serius, dan masalah-masalah itu bahkan dapat mengakibatkan perceraian.

Menurut pengalaman saya dalam kehidupan manusia, saya dapat bersaksi bahwa cara yang terbaik untuk meng-hindari kesulitan adalah membatasi lidah. Mengenai pema-kaian yang tepat terhadap lidah, kita perlu memohon hik-mat kepada Allah. Hikmat yang dibicarakan Yakobus dalam pasal 3 merupakan lanjutan dari yang telah disebut dalam pasal 1. Kita perlu hikmat untuk mengetahui bagaimana menggunakan lidah kita.

Dalam 1:19 Yakobus mengatakan, “Setiap orang hen-daklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berka-ta-kata, dan juga lambat untuk marah.” Berkata-kata sering bisa menimbulkan kemarahan. Tetapi jika kita membatasi lidah kita, kita juga akan membatasi kemarahan kita. Seba-gai contoh, misalnya Anda agak kurang senang terhadap seseorang dan Anda menunjukkan kesalahannya kepadanya. Dengan hanya berbicara seperti itu saja mungkin Anda te-lah menyulut “korek api” yang bisa menyalakan “kebakar-an” yang besar. Tetapi jika Anda mengendalikan pembica-raan Anda terhadapnya atas hal itu, kemarahannya tidak akan timbul. Karena itu, di dalam hikmatnya Yakobus memberi tahu kita hendaklah cepat untuk mendengar, lam-bat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.

Saudara-saudara yang telah menikah perlu memprak-tekkan hal ini terhadap istri mereka. Mereka perlu cepat untuk mendengar istri-istri mereka, namun lambat berbi-cara kepada mereka. Sebagai contoh, jika istri Anda menge-luh kepada Anda tentang sesuatu, Anda berhikmat jika Anda mendengarnya namun lambat menanggapinya. Jika Anda tergesa-gesa menanggapi, Anda bisa menyulut api yang menyebabkan masalah yang serius.

ILUSTRASI TENTANG LIDAH

YANG TIDAK TERKEKANG

Dalam 3:5-6 Yakobus menyamakan lidah dengan api, “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan hal-hal yang besar. Li-hatlah, betapa pun kecilnya, api dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; lidah merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai se-luruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang-kan lidah itu sendiri dinyalakan oleh api neraka.” Neraka di sini menunjuk kepada lautan api (Why. 20:15). “Api” da-lam ayat 5 adalah api ganas dengan daya sebar yang cepat, sedang api dalam ayat 6 adalah api jahat dari neraka yang mencemarkan kita. Seperti api ganas yang menyebar de-ngan cepat, lidah menyebarkan perusakannya, dan sama seperti api yang jahat, lidah mencemari seluruh tubuh kita dengan kejahatan-kejahatan dari neraka.

Dalam ayat 6, bahasa Yunani untuk “roda” adalah trochos, umumnya mengacu kepada sesuatu yang bundar dan melingkar yang berjalan atau berguling seperti sebuah roda. Di sini kata roda dipakai secara kiasan, menunjukkan suatu lingkaran efek fisika, seperti orbit matahari. Kata “kehidupan” dalam bahasa Yunani adalah genesis, berarti asal usul, kelahiran, generasi. Jadi, frase, roda kehidupan itu dapat disebut roda kelahiran yang mengacu kepada kehidupan insani kita, yang berawal dari kelahiran dan te-rus berlangsung sampai akhir kehidupan. Lidah sepertilah api jahat dari neraka, menyalakan kehidupan insani kita, yang berputar seperti sebuah roda, dari kelahiran kita sam-pai kematian kita, dengan akibat seluruh hidup kita sepe-nuhnya berada di bawah pencemaran dan perusakan yang jahat dari lidah.

Dalam ayat 7-8a Yakobus meneruskan perkataannya, “Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang melata dan binatang-binatang laut dapat dijinak-kan dan telah dijinakkan oleh manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah.” Sifat binatang-bina-tang liar di darat, burung-burung di udara, binatang-bina-tang menjalar di tanah, dan binatang-binatang laut di dalam air, telah dijinakkan oleh sifat manusia; sifat manusia lebih kuat daripada semua sifat binatang. Walaupun demikian, sifat manusia yang lebih kuat ini tidak dapat menjinakkan lidah.

Dalam ayat 8b Yakobus mengatakan bahwa lidah ada-lah sesuatu “yang buas, yang tidak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan”. Sebagai kejahatan yang buas dan tidak terkuasai, lidah tidak pernah berhenti melakukan ke-jahatan. Lidah penuh dengan racun yang mematikan. Keja-hatan dan maut berjalan seiring dengan lidah, yang menye-barkan kejahatan dan maut untuk mencemari dan meracuni seluruh umat manusia. Di antara orang Kristen pun demi-kian.

Dalam ayat 3-12, menanggulangi masalah lidah, Yakobus dengan hikmatnya mengenai hidup manusia telah menggunakan dua puluh butir yang berbeda sebagai ilustrasi: kekang pada mulut kuda, kemudi kapal, api ganas, dunia kejahatan, api neraka, roda kehidupan, binatang liar, bu-rung, binatang menjalar, binatang laut, sifat manusia, ke-jahatan yang tidak pernah berhenti, racun yang memati-kan, mata air, pohon ara, buah zaitun, pohon anggur, air asin (pahit), dan air tawar (manis). Hikmat Yakobus sangat kaya terhadap kehidupan manusia, agak mirip dengan Salomo, raja yang bijaksana dalam Perjanjian Lama (1 Raja. 4:29-34), tetapi tidak demikian dalam hikmatnya ter-hadap ekonomi ilahi.

HIKMAT YANG LAHIR

DARI KELEMAHLEMBUTAN

Dalam ayat 13 Yakobus mengatakan, “Siapa di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah dengan cara hidup yang baik ia menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” Menurut konteksnya, hikmat yang lahir dari kelemahlembutan di sini tentu mengacu kepada pembatasan dalam berkata-kata. Ini sesuai dengan Amsal 10:19. Kelemahlembutan yang demikian sama de-ngan peramah dan penurut (ayat 17), yang berlawanan de-ngan perasaan iri hati dan ambisi diri sendiri dalam meme-gahkan diri dan berdusta melawan kebenaran (ayat 14).

Dalam ayat 13 Yakobus menyebutkan bijak dan ber-budi. Jika kita tidak memiliki hikmat, kita tidak dapat memiliki budi atau pengertian. Karena mengetahui hal ini, maka dalam Efesus 1 Paulus berdoa agar Allah menga-runiai kita roh hikmat. Seorang yang penuh hikmat mem-punyai pengertian, sebaliknya seorang yang bodoh tidak bisa memahami orang lain.

HIKMAT DAN ROH KITA

Apakah hikmat itu? Sangat sulit untuk mengatakan apakah hikmat itu, karena hikmat itu abstrak. Pengertian ada di dalam pikiran kita, tetapi di manakah hikmat itu? Menurut pengalaman saya, hikmat ada di dalam roh kita. Ini berarti hikmat tidak terdapat dalam pikiran kita, emosi, tekad, jiwa atau hati kita; hikmat ada di bagian kita yang terdalam. Ketika kita melatih roh kita, tinggal di dalam roh dalam segala situasi, dan melakukan segala sesuatu menu-rut roh, kita akan memiliki hikmat.

Ada orang begitu mendengar bahwa hikmat ada di da-lam roh, mungkin akan berkata, “Yakobus adalah seorang yang menekankan hikmat dalam praktek kristiani yang sempurna. Mengapa ia tidak mengatakan bahwa hikmat ada di dalam roh kita?” Sekalipun Yakobus tidak menga-takan hal ini dengan tegas, namun ia memberi kita satu isyarat atau petunjuk bahwa hikmat ada di dalam roh kita. Dalam 3:17 ia mengatakan perihal “hikmat yang dari atas”. Di sini, kata “dari atas” berarti dari Allah. Segala sesuatu yang datang kepada kita dan berasal dari Allah haruslah menjamah roh kita. Yohanes 4:24 mengatakan bahwa Allah itu Roh dan mereka yang menyembah-Nya harus menyem-bah dalam roh. Ini menyatakan bahwa untuk berhubungan dengan Allah, kita harus menggunakan roh kita. Demikian juga, sewaktu Allah berhubungan dengan kita, Ia menjamah roh kita. Karena itu, hikmat yang datang dari atas, dari Allah, sudah tentu seharusnya masuk ke dalam roh kita. Hikmat ini bukannya masuk ke dalam pikiran, jiwa, atau hati kita; melainkan masuk ke dalam roh kita, organ kita untuk berhubungan dengan Allah. Karena itu, adalah benar mengatakan bahwa kita memiliki satu petunjuk bahwa hikmat ada di dalam roh kita.

Karena hikmat ada di dalam roh kita, maka kita dapat memiliki hikmat hanya dengan tinggal di dalam roh kita. Allah adalah sumber hikmat, dan Ia memberikan hikmat. Tetapi hikmat yang datang dari Allah menjangkau roh kita. Sama seperti kita perlu memakai organ yang tepat untuk melihat, mendengar, dan makan, kita pun perlu memakai organ yang tepat — roh kita — untuk memiliki hikmat.

HIKMAT YANG DARI ATAS

Dalam ayat 14-15 Yakobus meneruskan perkataannya, “Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan jangan-lah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manu-sia, dari setan-setan.” “Hikmat” yang dimaksud Yakobus dalam ayat 15 adalah hikmat yang mengandung perasaan iri hati dan mementingkan diri sendiri dalam memegahkan diri dan berdusta melawan kebenaran (ayat 14). Lagi pula, dalam ayat 15 kata “dari dunia” mengacu kepada dunia, “dari nafsu manusia” (jiwani) mengacu kepada manusia alamiah, dan “dari setan” mengacu kepada Iblis dan roh-roh jahatnya. Ketiga hal ini saling berkaitan.

Ayat 17 mengatakan, “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lem-but, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” Hikmat ini mencakup kelemahlembutan dalam ayat 13 dan kebajikan insani yang disinggung dalam ayat 17. Semuanya adalah ciri praktek kristiani yang sempurna menurut pandangan Yakobus, yang mungkin dipengaruhi oleh ajaran Perjanjian Lama mengenai perilaku, moralitas, dan etika manusia (Ams. 4:5-8). Hikmat seperti ini tidak dapat menjangkau ketinggian hikmat mengenai rahasia ekonomi Perjanjian Baru Allah yang tersembunyi tentang Kristus dan gereja (1 Kor. 2:6-8; Ef. 3:9-11).

Dalam ayat 17 Yakobus mengatakan bahwa hikmat yang dari atas adalah lembut. Lembut berarti lemah lem-but, lunak, beralasan namun penuh kemanisan (Flp. 4:5), ramah tamah. Lembut juga mengandung arti mengalah. Dari sini kita dapat melihat bahwa sifat lembut ini terdiri dari sejumlah sifat lainnya. Sifat pertama yang termasuk dalam kelembutan adalah mengekang lidah kita. Sewaktu seorang saudara tergoda untuk berbantahan dengan istri-nya, ia perlu lembut atau mengalah. Jika ia adalah orang yang cepat mendengar dan lambat untuk berbicara, ia akan lembut. Kelembutan adalah salah satu sifat yang me-nonjol dalam praktek kristiani yang sempurna.

Yakobus juga mengatakan bahwa hikmat yang dari atas adalah penurut, atau patuh; yaitu bersedia untuk pa-tuh, puas dengan apa yang lebih sedikit daripada yang se-mestinya, bisa dengan mudah menerima permintaan. Men-jadi lembut dan penurut sama dengan lemah lembut dalam ayat 13. Menurut berarti bersifat luwes, mudah menye-suaikan diri dengan berbagai macam lingkungan.

Dalam ayat 17 Yakobus juga memberi tahu kita bahwa hikmat yang dari atas penuh dengan belas kasihan dan buah-buahan yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Karena hikmat ini bersifat tidak memihak, maka ia tidak memihak kepada siapa pun. Fakta bahwa hikmat itu tidak munafik berarti ia itu jujur, benar, setia, bisa dipercayai, sama sekali tidak munafik. Inilah sifat-sifat yang berasal dari hikmat yang masuk ke dalam roh kita yang asalnya dari atas. Jika kita ingin memiliki hikmat ini, kita perlu berdoa untuk hal ini. Inilah pengajaran Yakobus.

VISI HIKMAT YAKOBUS DIBANDINGKAN

DENGAN VISI PAULUS

Pada butir ini kita perlu membandingkan hikmat me-nurut apa yang dikatakan Yakobus dengan apa yang dika-takan Paulus dalam Surat-surat Kirimannya. Hikmat yang diajarkan oleh Paulus sebenarnya adalah diri Kristus sen-diri. Dalam 1 Korintus 1:30 Paulus mengatakan bahwa Kristus menjadi hikmat kita yang dari Allah. Akan tetapi, Yakobus tidak menunjukkan bahwa hikmat yang masuk ke dalam kita yang dari Allah itu adalah Kristus; sebaliknya cara bicaranya tentang hikmat ini sangat mirip dengan cara-cara Salomo dalam Kitab Amsal. Yakobus adalah seorang yang dijenuhi dengan suasana Perjanjian Lama, dan cara bicaranya mengenai hikmat ini mempunyai bau dan rasa Perjanjian Lama. Sewaktu Yakobus membicara-kan hikmat, ia sama sekali tidak menanamkan kesan akan Kristus kepada kita. Sewaktu ia memberi tahu kita bahwa hikmat yang benar datang dari atas, dari Allah, kata-kata-nya tidak memiliki bau dan rasa Perjanjian Baru, sama se-kali tidak berbau Kristus. Sebaliknya, Paulus mengajarkan bahwa hikmat adalah diri Kristus sendiri.

Yakobus berkata, jika kita kekurangan hikmat, harus-lah kita memintanya dari Allah, dan Ia akan memberikan-nya dengan murah hati. Menurut Yakobus, hikmat adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah. Visi Paulus berbeda. Dia tidak mengatakan bahwa Allah memberi kita hikmat. Paulus berkata, Kristus telah menjadi hikmat kita yang dari Allah. Hal ini menyiratkan suatu transmisi dari Allah kepada kita. Sebagai gambaran kita boleh menggunakan transmisi listrik dari pembangkit tenaga listrik ke rumah-rumah. Pembangkit tenaga listrik tidak memberi kita sejumlah listrik dalam suatu wadah. Tidak, listrik dari tempat pem-bangkit tenaga listrik ditransmisikan ke rumah-rumah kita secara terus-menerus. Ini berarti ada “persekutuan” antara rumah kita dengan pusat pembangkit tenaga listrik. Sean-dainya listrik diberikan kepada seseorang dengan cara yang lain, maka tidak perlu ada “komunikasi” antara rumah kita dengan pusat pembangkit tenaga listrik. Demikian juga, Allah bukannya memberi kita, melainkan secara terus-me-nerus listrik surgawi ini ditransmisikan ke dalam kita. Un-tuk menerima transmisi ini, kita hanya perlu memutar “tombol” roh kita. Jika tombol ditutup, transmisi akan ber-henti. Tetapi jika tombolnya dibuka, transmisi akan ber-langsung terus-menerus. Hal ini menggambarkan pengerti-an Paulus tentang Kristus sebagai hikmat kita.

Pengertian Paulus tentang hikmat sudah tentu jauh lebih dalam daripada Yakobus. Kita mempunyai jaminan untuk mengatakan bahwa Yakobus dijenuhi dengan unsur Perjanjian Lama. Di satu pihak, melalui Surat Yakobus kita mendapat bantuan dan nampak perlunya kita memiliki praktek kristiani yang sempurna. Di pihak lain, kita perlu nampak dari tulisan Paulus bahwa jalan yang tepat untuk menerima hikmat adalah berdoa dengan “menyalakan” roh kita. Bila roh kita telah dinyalakan, Roh Allah akan ditrans-misikan ke dalam kita. Roh itu tidak mentransmisikan hikmat ke dalam kita sebagai sesuatu yang terpisah dari Kristus. Sebaliknya, Roh itu mentransmisikan diri Kristus sendiri ke dalam kita sebagai hikmat kita.

Sebenarnya, kita tidak perlu menggunakan istilah hik-mat atau memohon hikmat. Kita hanya perlu menekan tombol roh kita dan membiarkan Roh Allah mentransmisi-kan kekayaan trinitas ilahi ke dalam kita. Kemudian kita akan menempuh suatu kehidupan yang tidak lain adalah diri Kristus sendiri, suatu kehidupan yang berhikmat. Hik-mat ini bukanlah seperti sesuatu yang diberikan Allah ke-pada kita, melainkan Kristus, persona yang hidup, menjadi hikmat yang ditransmisikan dari Allah ke dalam roh kita. Apa pun yang ditransmisikan ke dalam kita dengan cara yang seperti ini sebenarnya adalah diri Kristus sendiri sebagai Roh pemberi-hayat. Ketika kita memperhidupkan Kristus ini melalui mengikatkan diri kita menjadi satu roh dengan Tuhan, kehidupan kita seluruhnya akan penuh hikmat.

Dalam 1 Korintus 2:6-7a Paulus berkata, “Sungguh pun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan me-reka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari du-nia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia.” Hikmat ini adalah untuk mereka yang telah matang. Dalam 1 Korintus 1:24 Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah hikmat Allah. Dalam Kolose 2:3 Paulus ber-kata, di dalam Kristus “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan”. Karena hikmat ini tersembunyi di dalam Kristus sebagai harta, maka jika kita tidak memiliki Kristus, kita tidak dapat memiliki hikmat.

Dari Perjanjian Lama kita mengetahui bahwa Salomo juga membicarakan hikmat. Alkitab mengatakan bahwa Allah memberikan hikmat kepada Salomo. Akan tetapi, tidak seperti kita hari ini, Salomo tidak memiliki Kristus di-transmisikan ke dalamnya untuk menjadi hikmatnya. Kare-na Yakobus dijenuhi dengan Perjanjian Lama, maka tulis-annya tentang hikmat ini mempunyai aroma Perjanjian Lama. Sewaktu kita membaca perkataan Yakobus tentang hikmat, kita perlu ingat apa yang diajarkan Paulus menge-nai hikmat ini. Pengajaran Paulus berfokus pada ekonomi Allah. Bila kita membaca apa yang dikatakan Yakobus ten-tang praktek kristiani yang sempurna, terutama tentang hikmat, kita perlu mengingat pengajaran Paulus, yakni Kristus adalah hikmat yang dari Allah yang ditransmisikan ke dalam roh kita oleh Roh pemberi-hayat. Karena itu, Surat Yakobus tidak hanya disajikan sebagai suatu penye-imbang atau suatu peringatan, tetapi juga mengingatkan kita untuk memperhatikan ekonomi Allah.

Kita telah menunjukkan bahwa Yakobus menganjuri kita untuk berdoa memohon hikmat. Tetapi asalkan kita melatih roh kita untuk berhubungan dengan Tuhan melalui doa, kita sebenarnya tidak perlu berdoa khusus untuk hik-mat. Sewaktu kita berhubungan dengan Tuhan di dalam roh, Kristus akan menjadi hikmat kita. Untuk berhubungan dengan Tuhan, kita perlu melatih roh kita dan berdoa dengan tidak ada putusnya.

Doa yang benar adalah suatu pernafasan rohani. Kita perlu belajar bagaimana melatih roh kita dengan menghirup Tuhan Yesus. Tidak peduli apa pun yang kita lakukan, kita perlu berhubungan dengan Tuhan melalui menghirup Dia. Jika kita berbuat demikian, transmisi ilahi akan terus ber-langsung, dan kekayaan Allah Tritunggal akan ditransmisi-kan ke dalam roh kita. Dengan cara inilah Kristus menjadi hikmat kita.

MENGENAI ILHAM ALKITAB

Baru-baru ini beberapa saudara bertanya kepada saya mengapa Kitab Yakobus ada di dalam Alkitab. Mereka ingin mengetahui apakah Surat Kiriman ini diilhamkan oleh Allah, karena nampaknya sebagian besar isinya adalah hikmat Yakobus sendiri. Saya menunjukkan kepada saudara-sau-dara itu bahwa kita perlu memahami apakah artinya Alki-tab diilhamkan oleh Allah. Bila Alkitab diilhami secara ilahi tidaklah berarti bahwa setiap kata dalam Alkitab me-rupakan perkataan Allah. Sebagai contoh, kata-kata ular kepada Hawa dalam Kejadian 3 bukan perkataan Allah. De-mikian pula, dalam Matius 16 beberapa kata yang diucap-kan Petrus sedikit pun bukan perkataan Allah, melainkan kata-kata Iblis yang diucapkan melalui mulut Petrus. Jadi, apakah artinya Alkitab sepenuhnya, kata demi kata, diil-hamkan oleh Allah? Ini berarti Allahlah yang mengatur apa pun yang tercatat dalam Alkitab. Karena itu, kata-kata yang diucapkan oleh ular dalam Kejadian 3 dan kata-kata yang diucapkan Iblis melalui Petrus dalam Matius 16 tercatat dalam Alkitab melalui ilham Allah. Tulisan dalam catatan ini sepenuhnya diilhamkan oleh Allah, walaupun kata-kata yang diucapkan si ular dan Iblis itu bukanlah diilhamkan oleh Allah. Jika kita jelas mengenai hal ini, kita akan nampak bahwa dalam Surat Yakobus beberapa kata tidak diucapkan oleh Allah. Sebaliknya, kata-kata se-perti “kedua belas suku” dan “sinagoga” diucapkan oleh Yakobus, tetapi dicatat melalui ilham Allah untuk tujuan tertentu.

Bersama-sama dengan keempat belas surat Paulus, ki-ta memerlukan Surat Yakobus untuk memenuhi tujuan menyeimbangkan kita dalam kehidupan kristiani kita me-ngenai praktek kristiani yang sempurna dan juga meng-ingatkan kita perlunya memiliki visi yang jelas mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah.