← Daftar isi Yakobus · bab 10/14

KEBAJIKAN PRAKTEK KRISTIANI YANG SEMPURNA (10)

Pembacaan Alkitab: Yak. 4:6-17

Dalam berita terdahulu telah kita bahas tiga masalah besar yang tercatat dalam 4:1-10. Masalah-masalah ini ada-lah pelesiran, dunia, dan Iblis. Dalam berita ini kita akan meneruskan membahas apa yang dikatakan Yakobus dalam 4:6-17.

ANUGERAH YANG LEBIH BESAR

Dalam ayat 6 Yakobus berkata, “Tetapi anugerah yang diberikan-Nya kepada kita, lebih besar daripada itu. Karena itu, Ia katakan, ‘Allah menentang orang yang congkak, te-tapi mengasihani orang yang rendah hati.’” Kata ganti “ia” dalam ayat ini ditujukan kepada Kitab Suci dalam ayat 5. Bagian belakang ayat 6 merupakan sebuah kutipan dari Septuagin (Perjanjian Lama dalam terjemahan Yunani), Amsal 3:34. Ayat 6 ini mengatakan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Menurut konteksnya, congkak berarti sikap congkak kita terhadap Allah, yang menyebabkan Dia menolak kita. Ren-dah hati juga ditujukan terhadap Allah, dan menyebabkan Dia mengaruniakan anugerah, yang damba Dia lakukan ke-pada kita.

Kita perlu belajar mendekat kepada Allah (ayat 8) un-tuk menerima anugerah yang lebih besar. Karena itu, se-harusnya kita menerima firman yang tertanam dengan le-mah lembut, bukannya bersikap congkak dan menentang Allah. Orang yang congkak tidak dapat menerima firman Allah yang tertanam. Jika kita rendah hati, kita akan me-nerima firman yang tertanam, dan juga akan menerima anugerah yang lebih besar.

TUNDUK KEPADA ALLAH

Dalam ayat 7 Yakobus meneruskan, “Karena itu tun-duklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari hadapanmu!” Tunduk kepada Allah berarti merendah-kan diri di hadapan Allah (ayat 10; 1 Ptr. 5:6).

Congkak terhadap Allah adalah berpihak kepada musuh Allah, Iblis. Rendah hati di hadapan Allah, yaitu tunduk kepada Allah, adalah menentang, melawan Iblis. Ini adalah strategi yang paling baik untuk memerangi musuh Allah; hal ini akan membuat Iblis lari meninggalkan kita.

Daging yang ditunjukkan dalam ayat 1, dunia dalam ayat 4, dan Iblis dalam ayat 7 adalah tiga musuh besar kaum beriman. Ketiga hal ini saling berhubungan: daging berlawanan dengan Roh itu (Gal. 5:17), dunia berlawanan dengan Allah (1 Yoh. 2:15), dan Iblis berlawanan dengan Kristus (1 Yoh. 3:8). Daging terumbar dalam pelesiran me-lalui mengasihi dunia, dan dunia menjajah kita bagi Iblis. Hal ini menghancurkan kehendak kekal Allah atas diri kita.

Dalam ayat 8 Yakobus meneruskan, “Mendekatlah ke-pada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua jiwa (hati, LAI)!” Di sini, seperti dalam 1:8, Yakobus menggunakan istilah “mendua jiwa”, mendua pikiran. Dalam 1:8, mendua jiwa berkaitan dengan kebimbangan dalam doa. Allah menciptakan manu-sia hanya dengan satu jiwa, satu pikiran, dan satu tekad. Kalau seorang beriman bimbang dalam doanya, ia menjadi-kan dirinya mendua jiwa, seperti sebuah kapal dengan dua kemudi, arahnya tidak stabil. Dalam 4:8 mendua jiwa ada-lah masalah memiliki hati yang terbagi di antara dua pihak Allah dan dunia. Ini membuat orang menjadi orang yang berzina (ayat 4) dan berdosa. Orang yang demikian, hatinya yang perlu disucikan dan tangannya perlu dibasuh, sehingga mereka dapat mendekati Allah dan kemudian Allah dapat mendekati mereka.

Dalam ayat 9 Yakobus berkata, “Sadarilah kemalang-anmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratapan dan sukacitamu dengan duka-cita.” Ayat ini merupakan suatu peringatan yang serius kepada jodoh Allah yang berzina, yang mengumbar dirinya sendiri dalam pelesiran daging melalui mengasihi dunia di bawah pengajaran Iblis.

Dalam ayat 10 Yakobus mengakhiri bagian ini: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan me-ninggikan kamu.” Perkataan ini adalah penutup dari bagian ini (ayat 1-10), adalah suatu nasihat terhadap pertengkaran dan nafsu yang disebutkan dalam ayat 1-3.

TIDAK MENGATA-NGATAI SAUDARA

Dalam ayat 11-12 Yakobus memberi tahu kita untuk tidak mengatai-ngatai saudara, “Saudara-saudaraku, jangan-lah kamu saling memfitnah (mengata-ngatai)! Siapa yang memfitnah (mengata-ngatai) saudara seimannya atau meng-hakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah pelaku hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamat-kan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?” Perhatikan, dalam ayat-ayat ini Yakobus menyebutkan hukum seba-nyak empat kali. Dalam ayat 12 ia menyebut Allah sebagai Pembuat hukum. Perkataan Yakobus di sini dan dalam 2:8-11 mengenai hukum Perjanjian Lama, dan perkataan-perkata-annya dalam 1:25 dan 2:12 mengenai hukum kemerdekaan yang sempurna, menunjukkan bahwa dalam pandangannya, tidak ada perbedaan antara memelihara hukum Perjanjian Lama dengan hidup oleh hukum kemerdekaan yang sem-purna, hukum hayat batini. Tetapi menurut wahyu ilahi dalam seluruh Perjanjian Baru, terdapat suatu perbedaan yang tegas dan jelas di antara keduanya. Memelihara hu-kum Perjanjian Lama hanya membuat kita benar terhadap Allah dan manusia sehingga kita dapat dibenarkan oleh hukum Taurat. Tetapi hidup oleh hukum hayat batini (Ibr. 8:10-11; Rm. 8:2) adalah memperhidupkan dan memperbe-sar Kristus (Flp. 1:20-21) bagi pembangunan Tubuh-Nya untuk mengekspresikan Dia (Ef. 1:22-23) dan bagi pemba-ngunan rumah Allah untuk memuaskan Dia (1 Tim. 3:15). Ini adalah bagi penggenapan sasaran kekal Allah sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Walaupun kita men-jadi sempurna melalui memelihara hukum Perjanjian La-ma, kita masih tidak dapat mencapai sasaran kekal Allah. Hanya kehidupan kita oleh hukum hayat batini sajalah yang bisa mencapainya. Kehidupan semacam ini dengan spontan dan otomatis menggenapkan lebih banyak daripada yang dituntut oleh hukum Perjanjian Lama (Rm. 8:4), bah-kan sampai kepada standar konstitusi kerajaan, seperti yang diungkapkan dalam Matius 5—7.

TIDAK MEMPERCAYAI TEKAD DIRI,

TETAPI MEMPERCAYAI TUHAN

Sejauh ini, kita telah mengungkapkan sembilan aspek kebajikan praktek kristiani yang sempurna: menanggung pencobaan dengan iman (1:2-12), menolak godaan sebagai orang yang dilahirkan Allah (1:13-18), menempuh hidup yang ibadah berdasarkan firman yang tertanam menurut hukum kemerdekaan yang sempurna (1:19-27), tidak me-mandang muka di antara saudara-saudara (2:1-13), dibenar-kan oleh perbuatan yang berhubungan dengan kaum ber-iman (2:14-26), mengekang lidah (3:1-12), berperilaku dalam hikmat (3:13-18), menanggulangi pelesiran, dunia, dan Iblis (4:1-10), dan tidak mengata-ngatai saudara (4:11-12). Dalam bagian berikutnya (4:13-17) kita memiliki kebajikan lainnya dari praktek kristiani yang sempurna: tidak mempercayai tekad diri, tetapi mempercayai Tuhan.

Dalam ayat 13 Yakobus berkata, “Jadi, sekarang, hai kamu yang berkata, ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan ber-dagang serta mendapat untung.’” Ayat ini diawali dengan kata-kata, “Jadi, sekarang, hai” Yakobus menggunakan ungkapan ini untuk kali kedua dalam 5:1, sewaktu ia ber-bicara kepada orang-orang kaya. Apakah makna ungkapan “jadi, sekarang, hai” di sini? Mungkin ini merupakan gaya bahasa yang serupa dengan perkataan “dengarkanlah aku”.

Sewaktu membaca ayat 13 kita perlu memperhatikan kata “akan”. Bertengkar demi pelesiran daging (ayat 1), bersahabat dengan dunia (ayat 4), mengata-ngatai saudara (yaitu menghakimi hukum, ayat 11), berdagang menurut kehendak sendiri, dan bermegah dalam kecongkakan (ayat 16), semuanya merupakan tanda-tanda dari keyakinan diri yang tidak saleh dan kecongkakan dari orang yang melupa-kan Allah. Pengajaran Yakobus mengenai perkara-perkara ini mungkin didasarkan pada pandangannya mengenai prak-tek kristiani yang sempurna.

Sekali lagi, saya ingin menunjukkan perbedaan antara penekanan Yakobus terhadap praktek kristiani yang sem-purna dengan penekanan Paulus dalam Surat-surat Kirim-annya mengenai mengalami Kristus untuk menghasilkan gereja. Jika kita memiliki visi yang jelas terhadap perban-dingan ini, kita akan nampak perlunya maju terus dari tingkat manusia, yang ditekankan dalam Kitab Yakobus, ke tingkat ilahi, yang ditekankan dalam Surat Kiriman Paulus.

Pada tingkat ilahi, kita mengenal Kristus, mengalami Kristus, dan memiliki Kristus untuk pembangunan gereja, Tubuh-Nya, sebagai ekspresi-Nya. Saya harap Kitab Yakobus bisa menolong kita nampak perbedaan ini.

Dalam ayat 14-15 Yakobus melanjutkan, “Sedangkan kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata, ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan ber-buat ini dan itu.’” Nada perkataan Yakobus di sini juga mirip dengan nada Perjanjian Lama (lihat Mzm. 90:3-10). Bagai-manapun, perkataannya membangkitkan ketakutan terha-dap tekad diri seseorang dan membangkitkan suatu keya-kinan kepada Allah, seperti yang diekspresikan dalam ayat 15. Perkataan semacam ini selalu keluar dari mulut orang yang takut akan Allah

Dalam 4:16-17 Yakobus menyimpulkan, “Tetapi seka-rang kamu memegahkan diri dalam kecongkakanmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi, jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Kata “congkak” dalam ayat 16 juga berarti kemegahan yang kosong, kemuliaan yang sia-sia.

Kata “jadi” dalam ayat 17 menunjukkan bahwa ayat ini adalah penutup atas semua perintah-perintah dalam ayat-ayat terdahulu, yang mengatakan bahwa jika peneri-ma Surat Kiriman ini terbantu oleh tulisan Yakobus, tetapi tidak mau melakukan seperti apa yang ditulisnya, itu ada-lah dosa bagi mereka.

PERIBAHASA

Banyak orang Kristen memustikakan 4:13-17, teristimewa kata-kata Yakobus dalam ayat 14-15. Dalam ayat 14 Yakobus berkata, “Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Pernyataan ini bisa dipandang sebagai sebuah peribahasa. Kemudian dalam ayat 15 Yakobus menganjuri kita untuk berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Di sini Yakobus mengatakan, daripada mengatakan bahwa hari ini atau besok kami akan berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal beberapa waktu, dan berdagang, serta mendapat untung, sebaiknya kita berkata, “Jika Tuhan menghendakinya . . .”

Perkataan Yakobus dalam ayat 15 kedengarannya sangat mirip dengan sebuah peribahasa. Ketika masih mu-da, saya ingin membuat satu slogan yang berisi peribahasa ini untuk mengingatkan saya agar saya selalu berkata, “Jika Tuhan menghendakinya.” Walaupun saya masih mengapresiasi peribahasa ini, saya mengakui kata-kata ini bernadakan Perjanjian Lama.

Orang Kristen kadang-kadang menggunakan ayat ini sewaktu menulis surat, berkata bahwa mereka akan pergi ke tempat anu atau melakukan hal-hal tertentu “jika Tuhan menghendakinya”. Dari pengalaman saya mengetahui, anak kalimat ini dapat menjadi perlindungan bagi kita. Misalnya, saya diundang ke tempat tertentu dan saya menerima undangan itu. Tetapi dalam surat jawaban saya, saya dapat menambahkan anak kalimat “jika Tuhan menghendaki-nya”. Hal ini melindungi saya dalam hal kalau akhirnya saya tidak bisa pergi ke sana sesuai dengan rencana sebelumnya, saya tidak dapat disalahkan oleh orang lain karena tidak datang. Karena itu, berkata “jika Tuhan menghendakinya” dapat menjadi suatu perlindungan.

DIPIMPIN OLEH ROH ITU

Apa yang dikatakan oleh Yakobus dalam ayat-ayat ini berbeda nadanya dengan apa yang terdapat di tempat lainnya dalam Perjanjian Baru, terutama dalam tulisan-tulisan Paulus. Boleh jadi Anda mengira bahwa ayat-ayat tertentu yang ditulis oleh Paulus sama dengan yang ditulis oleh Yakobus dalam 4:15. Namun, nada dasar dalam tulisan Paulus berbeda, karena ia menyuruh kita hidup menurut Roh itu. Sebagai contoh, dalam Galatia 5:16 Paulus berkata, “Maksudku ialah: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Kemudian dalam Galatia 5:25 Paulus meneruskan ucapannya, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Berikutnya, dalam Roma 8:4 Paulus memberi tahu kita bahwa “tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.”

Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita nampak bahwa Paulus dipimpin oleh Roh itu dan hidup dalam roh. Kisah Para Rasul 16:6 mengatakan bahwa “Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.” Kemudian ayat 7 mengatakan Roh Yesus tidak mengizinkan mereka ma-suk ke daerah Bitinia. Di sini kita nampak bahwa sewaktu Paulus melakukan perjalanan untuk memberitakan Injil, ia dikendalikan dan dipimpin oleh Roh itu. Pada kesempatan lainnya Paulus sangat sedih rohnya (Kis. 17:16), tertekan di dalam roh (Kis. 18:5), dan atas dorongan Roh memutuskan (Kis. 19:21).

Mengatakan “jika Tuhan menghendakinya” agak obyektif dan terlalu bernada Perjanjian Lama. Tetapi dipimpin oleh Roh itu, hidup menurut Roh itu, dan melakukan apa yang dikehendaki roh kita, bersifat subyektif dan jauh lebih sesuai dengan Perjanjian Baru.

Sudah tentu saya sedikit pun tidak bermaksud meremehkan Yakobus atau Surat Kirimannya. Akan tetapi, saya harus sungguh-sungguh menunjukkan bahwa setelah berta-hun-tahun saya mempelajari kitab ini, saya merasakan Surat Kiriman ini bersifat sangat Yahudi dan mempunyai warna, nada, rasa, dan suasana Perjanjian Lama yang keras. Jika kita tidak mempunyai keempat belas Surat Kiriman Paulus, kita bisa dipengaruhi oleh Kitab Yakobus serta berpaling ke agama Yahudi. Sekalipun kita mengapresiasi dan memerlukan penekanan Yakobus atas hal praktek kristiani yang sempurna, kita masih perlu mempunyai pandangan yang jelas bahwa sebagian besar dari Surat Kirimannya memiliki nada, warna, dan atmosfer Perjanjian Lama.