SATU KEHIDUPAN YANG TIDAK SEPENUHNYA MENURUT DAN UNTUK EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab : Yak. 1:1, 17-18, 21, 25; 2:2, 9-10; 3:13, 17; 4:4-5
Dalam Injil Markus kita nampak suatu kehidupan — kehidupan Tuhan Yesus — yang sepenuhnya menurut dan untuk ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sebaliknya, dalam Surat Yakobus kita nampak suatu kehidupan yang tidak sepenuhnya menurut dan untuk ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dalam berita ini dan berita berikutnya kita akan membahas sejumlah butir dalam Kitab Yakobus yang menunjukkan percampuran antara ekonomi Perjanjian Baru dengan zaman Perjanjian Lama.
Yakobus adalah seorang yang sangat saleh, dan secara insani, ia sangat berhikmat. Tetapi dari perkara demi perkara yang ada kita nampak bahwa Yakobus terlalu dipenuhi oleh hal-hal Perjanjian Lama. Tidak diragukan, ia dijenuhi, diresapi dengan rasa, aroma, dan suasana Perjanjian Lama. Kita tidak menemukan tanda-tanda yang kuat bahwa Yakobus benar-benar telah melewati zaman Perjanjian Lama dan masuk ke dalam ekonomi Perjanjian Baru. Boleh jadi Yakobus sudah dibaptis. Akan tetapi, melihat tulisan-tulisannya, saya tidak yakin ia pernah mengalami pengakhiran yang tuntas dan penguburan dirinya bersama-sama dengan segala perkara lampaunya, yang baik maupun yang buruk.
MASIH MEMPERTAHANKAN
KEDUA BELAS SUKU
ZAMAN PERJANJIAN LAMA
Dalam Surat Kirimannya Yakobus masih mempertahankan kedua belas suku zaman Perjanjian Lama. Ini terlihat dari cara Yakobus mengawali kitab ini: “Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan” (1:1). Fakta bahwa Yakobus mengalamatkan Surat Kirimannya kepada kedua belas suku di perantauan menunjukkan kurangnya visi yang jelas mengenai perbedaan antara orang-orang Kristen dengan orang-orang Yahudi, antara ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan zaman Perjanjian Lama. Yakobus boleh jadi tidak mengerti bahwa Allah dalam Perjanjian Baru telah melepaskan dan memisahkan kaum beriman Yahudi di dalam Kristus dari bangsa Yahudi. Karena itu, ungkapan “kedua belas suku” dalam 1:1 terlalu usang; merupakan milik zaman Perjanjian Lama.
Menurut tulisan-tulisan Paulus, kaum beriman Yahudi di dalam Kristus telah dipanggil oleh Allah keluar dari zaman atau pengelolaan yang usang. Dalam Kitab Galatia, Paulus bahkan menganggap agama Yahudi sebagai zaman jahat masa kini: “Yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia (zaman) jahat yang sekarang ini” (1:4). Menurut konteks Kitab Galatia, zaman jahat yang sekarang ini mengacu kepada dunia agamis, arus agamis dunia, agama orang Yahudi. Ini dikuatkan oleh Galatia 6:14-15, yang menganggap sunat sebagai bagian dari dunia agamis, yang bagi Rasul Paulus sudah disalibkan. Di sini rasul menekankan bahwa tujuan Kristus menyerahkan diri-Nya sendiri karena dosa-dosa kita adalah untuk menyelamatkan kita, untuk menarik kita keluar dari agama Yahudi, zaman jahat sekarang ini.
Zaman jahat yang sekarang ini dalam Galatia 1:4 sama dengan “angkatan yang jahat” dalam Kisah Para Rasul 2:40. Pada hari Pentakosta Petrus menyuruh orang banyak agar memberikan dirinya diselamatkan dari angkatan yang jahat ini. Lalu, bagaimana mungkin orang yang saleh seperti Yakobus ini menujukan suratnya, yang ditulisnya kepada orang-orang Kristen Yahudi, kepada kedua belas suku di perantauan? Hal ini sudah tentu bertentangan dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah.
MENDAPATKAN HAYAT ILAHI
MELALUI KELAHIRAN ILAHI
Dalam 1:17-18 Yakobus mengatakan, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak (buah) sulung di antara semua ciptaan-Nya.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Bapa segala terang melahirkan kita, supaya kita menjadi buah sulung dari antara semua ciptaan-Nya. Ini mengacu kepada kelahiran ilahi, yaitu kelahiran kembali kita (Yoh. 3:5-6), yang dirampungkan sesuai dengan kehendak kekal Allah. Fakta bahwa kita telah dilahirkan kembali oleh firman kebenaran berarti bahwa firman adalah benih hayat, yang olehnya kita telah dilahirkan kembali (1Ptr. 1:23). Karena itu, Yakobus menunjukkan bahwa kita mendapatkan hayat ilahi melalui kelahiran ilahi.
Di satu pihak, Yakobus menujukan Surat Kirimannya kepada kedua belas suku Israel. Di pihak lain, ia mengutarakan perihal hayat ilahi didapatkan melalui kelahiran ilahi. Kedua belas suku sepenuhnya merupakan sesuatu milik Perjanjian Lama, sedangkan hayat ilahi yang didapatkan melalui kelahiran ilahi adalah perkara Perjanjian Baru. Betapa campur aduknya tulisan Yakobus! Ia mencampurkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Bagaimana mungkin orang-orang yang dilahirkan kembali oleh Allah, yang diperanakkan oleh-Nya, masih disebut kedua belas suku? Bagaimana mungkin Yakobus berbicara kepada kedua belas suku dan kemudian berkata bahwa Allah telah mela-hirkan kembali mereka, menjadi buah-buah sulung di antara semua ciptaan-Nya? Bagaimanapun, itulah yang dilakukan Yakobus dalam kitab ini. Bagaimana mungkin kedua belas suku bisa dilahirkan oleh Allah menjadi buah-buah sulung? Bila kita membandingkan 1:1 dengan 1:17-18, kita nampak betapa suramnya situasi Yakobus, seperti yang dinyatakan oleh surat ini.
Pada butir ini saya ingin berkata bahwa kita tidak seharusnya tertarik kepada seseorang hanya karena ia saleh. Sepanjang abad, banyak orang saleh yang dalam kondisi suram terhadap ekonomi Allah. Mereka di bawah suasana mendung, diselubungi oleh kesalehan mereka. Mungkin saja kita disimpangkan oleh seseorang yang saleh sama seperti Paulus disimpangkan oleh Yakobus yang saleh dalam Kisah Para Rasul 21. Tidaklah mudah menghindari pengaruh situasi rohani yang mendung.
Dalam Kisah Para Rasul 21 Paulus menerima saran Yakobus untuk pergi ke Bait Allah dengan orang-orang yang bernazar dan menanggung biaya mereka. Menurut pikiran kita, dengan melakukan hal itu Paulus adalah seorang yang lapang, dan bertindak sesuai dengan kata-katanya kepada orang-orang di Korintus: “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat” (1Kor. 9:20). Tetapi dalam Kisah Para Rasul 21, Tuhan tidaklah selapang seperti yang diduga Paulus. Pada hari terakhir nazar tersebut, yaitu pada hari ketujuh, terjadilah kerusuhan, dan Paulus ditangkap. Jika kita membaca Kisah Para Rasul 21 dengan cermat, kita akan nampak Tuhan tidak setuju dengan apa yang terjadi di Yerusalem, dan Ia datang menanggulanginya.
MENERIMA FIRMAN YANG TERTANAM
Dalam 1:21 Yakobus berkata, “Sebab itu, buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Dalam ayat ini firman Allah disamakan dengan suatu tanaman hidup yang ditanamkan ke dalam diri kita dan bertumbuh di dalam kita untuk menghasilkan buah bagi keselamatan jiwa kita. Sudah tentu hal ini merupakan suatu perkara yang ajaib. Akan tetapi, dalam tulisan Yakobus ini juga dicampurkan dengan hal-hal Perjanjian Lama.
MELAKUKAN HUKUM YANG SEMPURNA
YANG MEMERDEKAKAN MENURUT
PRAKTEK PERJANJIAN LAMA
Dalam 1:25 Yakobus berkata, “Tetapi siapa yang meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan, adalah suatu hukum yang unggul. Ini adalah hukum hayat yang ditulis dalam hati kita (Ibr. 8:10), standar moralnya sesuai dengan konstitusi kerajaan yang diumumkan oleh Tuhan di atas bukit (Mat. 5—7). Walaupun melakukan hukum yang sempurna yang memerdekakan adalah perkara yang sangat positif, namun Yakobus membicarakan tentang melakukan hukum ini dalam praktek Perjanjian Lama. Hal ini ditunjukkan oleh apa yang ia katakan dalam 1:26-27: “Jikalau seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Di sini kita nampak bahwa Yakobus menyuruh kaum beriman memelihara hukum yang sempurna yang memerdekakan dalam hubungannya dengan tiga hal: mengekang lidahnya, mengunjungi yatim piatu dan janda-janda, dan menjaga supaya diri kita sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. Tidak satu pun dari hal-hal ini merupakan butir yang penting dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dari sini kita nampak bahwa Yakobus tidak menyuruh kita melakukan hukum yang sempurna yang memerdekakan dalam praktek Perjanjian Baru. Dengan menyuruh kita mengekang lidah, mengunjungi yatim piatu dan janda-janda, serta menjaga diri kita supaya tidak dicemarkan oleh dunia, ia membicarakan praktek-praktek Perjanjian Lama.
Sewaktu kita membaca dalam pasal 1 Surat Kirimannya, kita nampak bahwa Yakobus mempertahankan konsepsi untuk memelihara hukum yang sempurna. Dalam 1:22 ia mengatakan kita harus menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja. Kemudian dalam 1:25 ia mengatakan, siapa yang meneliti hukum yang sempurna dan bertekun di dalamnya, sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Yakobus dengan tegas mengatakan bahwa kita harus menjadi pelaku hukum. Seorang pelaku hukum, menurut Yakobus adalah seorang yang memelihara hukum. Akan tetapi, ia tidak memberi tahu kita cara Perjanjian Baru memelihara hukum yang sempurna yang memerdekakan. Perjanjian Baru mengajarkan kita untuk memelihara hukum yang memerdekakan melalui hidup dan bertindak menurut Roh itu. Seluruh Perjanjian Baru tidaklah menyuruh kita melakukannya sendiri, melainkan menghendaki kita hidup oleh Roh itu, sehingga kita bisa memeliharanya. Memelihara hukum, semata-mata merupakan perkara melakukan oleh diri kita sendiri, sedang memperhidupkan, berarti memperhidupkan melalui Roh yang berhuni yang ada di dalam roh kita yang telah dilahirkan kembali. Sekarang kita tidak perlu berupaya melakukan hukum oleh diri kita sendiri, dan kita tidak perlu menjadi pelaku-pelaku hukum oleh usaha kita sendiri. Yang kita perlukan ialah hidup menurut Roh itu. Ini berarti kita tidak seharusnya melakukan berdasarkan diri kita, melainkan kita harus hidup oleh Roh itu. Ada perbedaan yang besar antara seorang yang melakukan hukum oleh dirinya sendiri dengan seorang yang hidup menurut Roh itu.
Dalam Surat Yakobus tidak banyak hal yang menurut konsepsi Perjanjian Baru. Sebaliknya, sebagian besar konsepsi dalam Surat Kiriman ini adalah dari Perjanjian Lama. Ya, Yakobus memang membicarakan hukum yang memerdekakan, tetapi ia membicarakannya dalam cara Perjanjian Lama, yaitu melakukan hukum yang harfiah. Boleh jadi Yakobus berpikir bahwa hukum Musa belum lengkap, belum sempurna, tetapi pengajaran Perjanjian Baru itu sempurna. Yakobus pun menyadari bahwa pengajaran Perjanjian Baru itu sempurna dan memerdekakan kita. Jadi, menurut Yakobus, kita perlu memeliharanya, kita juga perlu melakukannya. Konsepsinya tentang bagaimana menggenapkan hukum tidak secara jelas menurut Perjanjian Baru. Caranya melakukan hukum adalah menurut cara Perjanjian Lama, yakni memelihara dan melakukannya oleh diri sendiri, bukan menurut cara Perjanjian Baru, yaitu dengan hidup, berjalan, bertindak-tanduk, dan berperilaku menurut Roh itu.
Beberapa pembaca Surat Yakobus mungkin berpikir tidak ada salahnya menjadi pelaku hukum yang sempurna. Mereka mungkin akan berkata, “Yakobus benar, menyuruh kita menjadi pelaku-pelaku hukum. Sudah tentu, kita semua harus menjadi pelaku-pelaku hukum yang sempurna yang memerdekakan.” Jika kita membaca Alkitab dengan cara demikian, berarti kita membacanya menurut pengertian alamiah, bukan menurut penerangan Roh itu. Sebenarnya, seluruh pengajaran Perjanjian Baru merupakan definisi dari hidup dan berhuninya Roh yang almuhit di dalam kita. Berupaya memelihara atau melakukan pengajaran tersebut berdasarkan diri kita sendiri bukanlah keperluan kita; keperluan kita adalah hidup menurut dan berdasarkan Roh yang berhuni itu. Kalau kita hidup menurut dan berdasarkan Roh itu, kita memperhidupkan hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan; kita memperhidupkan seluruh Perjanjian Baru. Kita tidak memelihara Perjanjian Baru berdasarkan upaya kita sendiri; kita hidup berdasarkan Roh itu sehingga kita bisa melakukannya. Melakukan adalah sesuatu yang berasal dari diri kita sendiri, sedang memperhidupkan adalah dari Roh Kudus. Inilah sebabnya Paulus berkata dalam Galatia 2:19b-20a, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Konsepsi Perjanjian Baru adalah demikian: bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Surat Kiriman Yakobus tidak jelas mengenai hal ini. Yakobus mengetahui kita telah dilahirkan dari Allah, dan Allah telah melahirkan kita kembali melalui firman kebenaran. Akan tetapi, konsepsinya mengenai hidup umat Allah, khususnya mengenai praktek kristiani yang sempurna, nampaknya berdasar pada konsepsi Perjanjian Lama.
MEMBAURKAN EKONOMI PERJANJIAN BARU
DENGAN PRAKTEK ZAMAN
PERJANJIAN LAMA YANG TERPULIH
Yakobus mencampuradukkan praktek ekonomi Perjanjian Baru dengan hal-hal dari zaman Perjanjian Lama yang terpulih. Ini dibuktikan dengan dipakainya kata “sinagoga” dalam 2:2. Kita telah mengetahui, kata Yunani “sunagoge” terdiri dari dua kata: sun, yang berarti bersama-sama, dan ago, berarti membawa; jadi, berarti suatu perkumpulan, perhimpunan, pertemuan. Arti khusus: tempat berkumpul. Kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan jemaat Yahudi (Kis. 13:43; 9:2; Luk. 12:11) dan tempat pertemuan (Luk. 7:5) orang-orang Yahudi. Di Yerusalem terdapat sejumlah sinagoga untuk berbagai kelompok Yahudi (Kis. 6:9).
Sinagoga-sinagoga belum ada sebelum bani Israel dibuang ke Babel. Setelah Bait Allah diruntuhkan, baru didirikan sinagoga-sinagoga. Orang-orang Yahudi datang ke sinagoga untuk mencari dan mengenal Allah dengan mempelajari Kitab Suci (Luk. 4:16-17; Kis. 13:14-15). Sewaktu orang-orang Yahudi kembali dari pembuangan, mereka membawa ke negeri mereka praktek pertemuan di dalam sinagoga ini. Inilah praktek zaman Perjanjian Lama yang terpulih setelah orang-orang Yahudi kembali dari Babel. Di Yerusalem ada sinagoga untuk orang-orang Yahudi yang kembali dari berbagai tempat dengan bahasa dan tradisi mereka masing-masing. Setelah mereka kembali ke Yerusalem, mereka mendirikan sinagoga-sinagoga menurut bahasa dan tradisi masing-masing. Inilah sebabnya ada berbagai sinagoga di antara orang-orang Yahudi di Yerusalem.
Dalam 2:1-2a Yakobus berkata, “Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada seseorang masuk ke dalam kumpulanmu (sinagoga) . . .” Dalam 2:1 Yakobus membicarakan tentang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan dalam ayat 2, tentang sinagoga. Dengan jelas hal ini menunjukkan suatu percampuran antara ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan praktek zaman Perjanjian Lama setelah kembali dari Babel. Kelihatannya, Yakobus sama sekali tidak mengerti perbedaan antara orang Kristen dengan orang Yahudi. kata sinagoga yang dipakai oleh Yakobus mungkin menyatakan bahwa ia menganggap perhimpunan dan tempat ibadah kaum beriman Yahudi sebagai satu sinagoga di antara sinagoga-sinagoga orang Yahudi, yang boleh jadi adalah sinagoga orang Kristen. Ini menunjukkan bahwa ia menganggap orang-orang Kristen Yahudi masih sebagai bagian dari bangsa Yahudi, sebagai umat pilihan Allah menurut Perjanjian Lama. Jika demikian, hal ini menunjukkan bahwa ia kekurangan visi yang jelas tentang perbedaan antara umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama dengan kaum beriman dalam Kristus dalam Perjanjian Baru. Betapa seriusnya percampuran ini!
MASIH MELAKUKAN HUKUM HARFIAH
PERJANJIAN LAMA
Dalam pasal 2 dan 4 dalam Surat Kirimannya, kita nampak Yakobus masih memelihara hukum-hukum harfiah Perjanjian Lama. Sebagai contoh, dalam 2:9-10 ia berkata, “Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata bahwa kamu melakukan pelanggaran. Sebab siapa saja yang menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian saja, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Perkataan ini menunjukkan bahwa Yakobus masih mempraktekkan pemeliharaan hukum Perjanjian Lama. Hal ini sesuai dengan perkataan dalam Kisah Para Rasul 21:20 yang diucapkan kepada Paulus oleh Yakobus dan semua penatua di Yerusalem, dan beribu-ribu orang beriman Yahudi masih berada dalam percampur-an kepercayaan kristiani dengan hukum Musa. Yakobus dan orang-orang lainnya bahkan menganjurkan Paulus untuk mempraktekkan percampuran setengah Yahudi yang sedemikian (Kis. 21:17-26). Dalam Kisah Para Rasul 21 Yakobus menganjuri Paulus untuk memelihara hukum. Ia tidak menyadari bahwa zaman hukum Taurat telah berakhir sama sekali dan bahwa zaman anugerah seharusnya mutlak dihormati; setiap pengabaian akan perbedaan antara kedua zaman ini berarti bertentangan dengan pemerintahan Allah atas zaman, dan merupakan suatu perusakan yang serius terhadap rencana ekonomi Allah untuk pembangunan gereja sebagai ekspresi Kristus. Dengan demikian, Surat Kiriman Yakobus ditulis di bawah awan campuran yang setengah Yahudi.
BERPERILAKU DENGAN HIKMAT
YANG BERBAU PERJANJIAN LAMA
Dalam suratnya Yakobus menekankan pentingnya hikmat. Dalam 1:5 ia berkata, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit —, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Yakobus menyadari bahwa hikmat Allah diperlukan untuk praktek kristiani yang sempurna. Dalam 3:13 Yakobus berkata mengenai hikmat yang lahir dari kelemahlembutan: “Siapa di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah dengan cara hidup yang baik ia menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” Menurut konteks pasal 3, hikmat yang lahir dari kelemahlembutan di sini tentu mengacu kepada pembatasan dalam berkata-kata. Dalam 3:17 Yakobus meneruskan percakapannya mengenai hikmat yang dari atas, katanya, “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” Hikmat ini mencakup kelemahlembutan dalam ayat 13 dan kebajikan insani yang disinggung dalam ayat 17. Semuanya adalah ciri praktek kristiani yang sempurna menurut visi Yakobus.
Apa yang Yakobus katakan tentang hikmat mempunyai aroma Perjanjian Lama. Menurut pengertian Yakobus, hikmat yang dari atas mungkin seperti hikmat yang diberikan Allah kepada Salomo. Hikmat Salomo bukan datang dari bawah, dari dunia, dari Mesir; hikmatnya datang dari atas, dari Allah.
Jenis hikmat yang dibicarakan Yakobus adalah hikmat untuk perilaku manusia. Hikmat ini berbau Perjanjian Lama, dan sedikit pun tidak ada sangkut-pautnya dengan hikmat dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, hikmat Allah adalah perkara memperhidupkan Kristus, dengan Kristus sebagai segala sesuatu. Dalam 1Korintus 1:30 Paulus berkata bahwa dalam Allah, Kristus telah menjadi hikmat bagi kita. Di samping itu, hikmat Perjanjian Baru yang dari Allah bukanlah untuk pembentukan karakter kita atau kesempurnaan kristiani, melainkan untuk pembangunan gereja, Tubuh Kristus. Jika Anda membaca 1Korintus 1 dan 2, Efesus 1 dan 3, dan Kolose 2, Anda akan melihat betapa besarnya perbedaan yang ada di antara kedua jenis hikmat ini — hikmat Perjanjian Lama untuk perilaku manusia dan hikmat Perjanjian Baru untuk memiliki Kristus sebagai segala sesuatu sehingga gereja bisa terbangun.
Banyak orang Kristen menghargai tipe hikmat yang tertulis dalam Kitab Yakobus. Alasan mereka menghargai hikmat tersebut adalah karena mereka tidak nampak halhal penting tentang Kristus sebagai hayat dan pembangunan gereja. Di antara orang-orang Kristen hari ini, sedikit sekali disampaikan berita-berita mengenai menikmati Kristus sebagai segala sesuatu sehingga gereja, Tubuh Kristus, bisa terbangun. Sebaliknya, kaum beriman sangat memandang tinggi Surat Yakobus. Akan tetapi, kita bisa melihat adanya kesimpangsiuran yang hebat antara hikmat dalam Surat Yakobus dengan hikmat dari Allah yang dinyatakan dalam Surat-surat Kiriman Paulus.
MEMILIKI ROH YANG BERHUNI HANYA UNTUK MENANGGULANGI DUNIA
Dalam 4:4-5 Yakobus berkata, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia (berzina)! Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi, siapa saja yang hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. Janganlah kamu menyangka bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata, ‘Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!’” Ini merupakan satu-satunya kalimat Yakobus yang menyebutkan Roh Allah yang berhuni, namun dari segi negatifnya, yaitu mengenai mengakhiri persahabatan dengan dunia, bukan secara positif, mengenai memperhidupkan Kristus untuk pembangunan Tubuh Kristus. Karena itu, Yakobus tidak mengatakan perihal Roh yang berhuni, melainkan membicarakan Roh itu yang berkaitan dengan menanggulangi dunia.
Mengenai Roh itu, ada perbedaan yang besar antara Surat Yakobus dengan Surat-surat Kiriman Paulus. Paulus membicarakan banyak tentang Roh yang berhuni. Sebagai contoh, dalam Roma 8, Roh yang berhuni menyebabkan kita mempunyai hayat dalam roh kita, dalam pikiran kita, dan bahkan pada akhirnya dalam tubuh fana kita. Dengan jalan ini, Roh yang berhuni menyebabkan ketiga bagian diri kita benar-benar dijenuhi dengan hayat ilahi. Sudah tentu, dalam Galatia 5 Paulus juga membicarakan tentang pertentangan antara Roh itu melawan daging: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging” (ayat 17). Di tempat lain di Kitab Galatia Paulus mengatakan tentang Roh Anak: “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (4:6). Kita telah menerima Roh Anak sehingga Kristus bisa terbentuk di dalam kita (Gal. 4:19). Kristus terbentuk di dalam kita, betapa besarnya perkara ini! Karena itu, Roh Anak tidak hanya membuat kita dapat mengalahkan daging dan menanggulangi dunia, tetapi membuat Kristus terbentuk di dalam kita. Di sini kita nampak penekanan yang positif mengenai Roh itu yang tidak terdapat dalam Kitab Yakobus.