← Daftar isi Yakobus · bab 12/14

KEBAJIKAN PRAKTEK KRISTIANI YANG SEMPURNA (12)

Pembacaan Alkitab: Yak. 5:12-20

Dalam berita ini kita akan membahas dua potongan terakhir Surat Kiriman Yakobus: berkata jujur, tidak perlu bersumpah (5:12) dan praktek yang sehat dalam hidup gereja (5:13-20).

BERKATA JUJUR,

TIDAK PERLU BERSUMPAH

Dalam 5:12 Yakobus berkata, “Tetapi yang terutama, Saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi surga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.” Kita tidak seharusnya bersumpah, karena kita bukanlah apa-apa dan tidak ada sesuatu pun yang berada di bawah kendali kita atau tergantung pada kita (Mat. 5:34-36). Bersumpah memperlihatkan bahwa kita bertindak berdasarkan diri sendiri dan melupakan Allah. Kita mengatakan, “Ya,” jika ya, dan mengatakan, “Tidak,” jika tidak, demikian adalah bertindak menurut sifat ilahi kita, dalam kesadaran di hadapan Allah, menyangkal kehendak diri sendiri dan sifat dosa kita.

Apa yang dikatakan Yakobus dalam ayat ini mengingatkan kita kepada perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 5:37, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Di sini Tuhan berkata bahwa perkataan kita harus sederhana dan benar: jika ya, katakanlah ya, jika tidak, katakankanlah tidak. Kita tidak seharusnya mencoba meyakinkan orang lain dengan berkata banyak.

Dalam 5:12 Yakobus berkata bahwa jika ya kita katakan ya, dan jika tidak kita katakan tidak, supaya kita jangan kena hukuman. Kesetiaan dan kesungguhan kita yang sejati dalam perkataan-perkataan kita menurut sifat ilahi, yang dalamnya kita berbagian, akan menjaga kita terhindar dari penghakiman Allah.

Sekali lagi, perkataan Yakobus mengenai hukuman mengingatkan kita kepada perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus. Dalam Matius 12:36-37 Tuhan berkata, “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” Kata Yunani untuk sia-sia adalah “argos”, tersusun atas dua kata: a berarti tidak dan ergon berarti pekerjaan. Perkataan yang sia-sia adalah perkataan yang tidak bekerja, tidak berfungsi, tidak berkhasiat, tidak memiliki fungsi yang positif, tidak berguna, tidak menguntungkan, tidak menghasilkan sesuatu, dan kosong. Orang-orang yang mengucapkan perkataan semacam itu akan mempertanggungjawabkannya satu persatu pada hari penghakiman. Karena itu, setiap perkataan yang jahat menuntut pertanggung jawaban yang lebih besar! Dalam Matius 5:37 Tuhan memberikan peringatan yang sangat serius kepada kita, dan peringatan ini menunjukkan kepada kita bahwa kita harus belajar mengekang dan membatasi perkataan kita.

Apa yang dikatakan Yakobus dalam 5:12 sesuai dengan pokok berita dalam Surat Kiriman ini — praktek kristiani yang sempurna, sikap berbicara kita besar pengaruhnya ter-hadap hal ini. Berbicara dengan jujur dan terkendali merupakan suatu kebajikan kesempurnaan orang Kristen. Tetapi jika perkataan kita kendur, kita belum mencukupi standar kesempurnaan. Karena itu, setelah memberi tahu agar kita jangan bersumpah, Yakobus berkata bahwa jika ya, kita harus mengatakan ya, dan jika tidak, kita harus mengatakan tidak, sehingga kita tidak kena hukuman.

Sebagai seorang yang saleh, Yakobus tidak pernah melupakan penghakiman yang akan datang, dan ia hidup di bawah penghakiman ini. Saya berharap kita semua mengerti bahwa apa pun yang kita lakukan akan dihakimi. Sebagai contoh, percakapan kita lewat telepon pun akan dihakimi oleh Tuhan. Sewaktu beberapa saudari sedang bertelepon, mereka berbicara tanpa batas. Nampaknya, mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka katakan suatu hari akan dihakimi menurut perkataan Tuhan dalam Matius 12:36-37.

Perihal bersumpah dan berbicara dengan sembrono, Yakobus mengutarakannya dengan serius. Akan tetapi, sebagian kaum beriman tidak serius menanggapi hal ini. Bagi mereka, seolah-olah tidak akan ada penghakiman apa pun. Konsepsi mereka, sekali diselamatkan dari kebinasaan kekal, maka selamanya tidak akan ada masalah apa-apa lagi. Tetapi, dari Perjanjian Baru kita mengetahui bahwa semua orang beriman harus memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan di depan takhta penghakiman Tuhan.

Apa yang terkandung di hati Yakobus sewaktu ia menulis Surat Kiriman ini adalah masalah praktek kristiani yang sempurna. Karena keprihatinannya untuk kesempurnaan orang Kristen, ia berkata dalam 5:12, “Tetapi yang terutama, Saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah.” Setelah banyak membicarakan perihal lidah dalam pasal 3, ia berbicara tentang sumpah dalam 5:12.

Setiap orang yang bersumpah, bukanlah orang yang jujur. Orang yang tidak jujur adalah pembohong. Seorang yang jujur tidak perlu bersumpah. Alasan mengapa kita orang-orang Kristen tidak perlu bersumpah adalah karena kita orang-orang yang jujur. Orang yang bersumpah adalah orang yang suka berdalih, dan sumpahnya menunjukkan kalau ia tidak jujur. Karena itu, bersumpah, merupakan tanda dari berdalih.

Akan tetapi, alasan utama agar kita tidak bersumpah, adalah karena tidak ada sesuatu pun yang di bawah kendali kita. Baik surga maupun bumi bukanlah milik kita. Bahkan diri kita pun bukan milik kita sendiri, dan kita tidak berkuasa atas apa pun. Karena segala sesuatu tidak berada di bawah kuasa kita, maka janganlah kita bersumpah. Sekali lagi kita nampak bahwa perkataan kita perlu dibatasi.

Dalam 5:12 Yakobus menunjukkan bahwa kita tidak boleh berbicara berlebihan. Perkataan yang tidak perlu selalu menimbulkan kesulitan. Jika kita berbicara dengan sembarangan, kita akan membesar-besarkan perkataan kita dan tidak jujur. Tetapi jika perkataan kita terkendali, kita dapat melatih diri kita untuk berbicara jujur.

PRAKTEK YANG SEHAT DALAM HIDUP GEREJA

Berdoa

Dalam 5:13 Yakobus sampai kepada masalah praktek yang sehat dalam hidup gereja: “Kalau ada seseorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seseorang yang bergembira baiklah ia bermazmur!” Berdoa memberi kita kekuatan dari Tuhan sehingga kita bisa memikul penderitaan; bermazmur memelihara kita dalam sukacita Tuhan. Kata “bermazmur” di sini menurut bahasa aslinya terutama berarti memainkan alat musik gesek atau menyanyikan lagu riang. Jadi, berarti menyanyi, berkidung, bermazmur. Baik kita berdoa atau bermazmur, kita berkontak dengan Allah. Dalam lingkungan dan keadaan apa pun, direndahkan atau ditinggikan, berduka atau bergembira, kita perlu berkontak dengan Tuhan.

Dalam ayat 14 Yakobus melanjutkan, “Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” Dalam ayat ini Yakobus menujukan perkataannya kepada orang yang lemah karena sakit. Kelemahan menimbulkan sakit-penyakit (1 Kor. 11:30), dan sakit-penyakit menyebabkan orang makin lemah.

Dalam ayat 14 Yakobus menganjuri orang yang lemah supaya memanggil para penatua gereja. Memanggil para penatua gereja untuk mendoakan penyakit seseorang menyi-ratkan: (1) tidak ada masalah antara yang memanggil dengan gereja, yang diwakili oleh para penatua; (2) suatu persekutuan yang normal antara yang memanggil dengan gereja pasti dipulihkan, jika penyakitnya disebabkan oleh kesalahan orang itu terhadap gereja (1 Kor. 11:29-32); (3) yang menderita sakit dan para penatua telah saling mengaku dosa secara tuntas (ayat 16). Setelah penghalang dalam gereja dihilangkan, barulah para penatua dapat mewakili ge-reja berdoa bagi orang yang sakit.

Mengoles dengan Minyak dalam Nama Tuhan

Dalam ayat 14 Yakobus mengatakan perihal mengoles dengan minyak dalam nama Tuhan. Dua kata Yunani yang diterjemahkan mengoles (mengurapi): aleipho, kata yang digunakan di sini dan dalam Yohanes 12:3, adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk mengoleskan minyak: chrio berarti mengurapi secara resmi untuk suatu jabatan sebagai seorang imam (Kis. 10:38), raja (Ibr. 1:9), atau penutur sabda (Luk. 4:18). Chrio, berhubungan dengan Christos (Kristus), digunakan untuk pengurapan Putra oleh Bapa (Kis. 10:38). Mengurapi dengan minyak berarti menyalurkan Roh hayat, yang telah dicurahkan ke atas Tubuh Kristus sebagai minyak urapan (Mzm. 133:2), kepada anggota Tubuh yang sakit melalui para penatua sebagai wakil gereja, untuk penyembuhan orang yang sakit (lihat 1 Yoh. 5:16).

“Dalam nama Tuhan” menandakan kesatuan dengan Tuhan. Para penatua tidak melakukan pengurapan sendirian, melainkan melalui menjadi satu dengan Tuhan, mereka mewakili Tubuh dan Kepala untuk melakukan pengurapan.

Dalam ayat 14 terdapat satu-satunya sebutan gereja secara langsung dalam Kitab Yakobus. Satu-satunya pembicaraan Yakobus tentang gereja yaitu dalam keterangannya terhadap masalah negatif, perihal menyembuhkan penyakit. Kemudian masalah membawa balik seorang saudara yang telah menyimpang dari kebenaran juga adalah suatu hal yang berkaitan dengan hidup gereja. Karena itu, apa yang dikatakan oleh Yakobus mengenai gereja, melibatkan hal-hal negatif seperti berdoa untuk orang sakit dan memulihkan orang-orang yang telah undur.

Konsepsi Yakobus dipenuhi dengan hal-hal agama Yahudi dan tidak begitu banyak dengan hal-hal mengenai gereja. Berkebalikan dengan Yakobus, Paulus diresapi, dijenuhi, dan dipenuhi dengan hal-hal gereja. Berulang-ulang dalam tulisan-tulisannya, ia membicarakan gereja. Dalam Surat Kirimannya Paulus menulis mengenai Kristus, Roh itu, hayat, dan gereja secara mendalam. Tetapi dalam Surat Yakobus ini hanya sedikit pembicaran tentang Kristus, Roh itu, hayat, ataupun gereja. Walaupun kita mengapresiasi penekanan Yakobus terhadap praktek kristiani yang sempurna, kita perlu maju lagi dengan pertolongan ministri Paulus mengenai ekonomi Allah untuk melihat bahwa gereja dibangun dengan kekayaan-kekayaan Kristus yang almuhit.

Doa dari Iman

Dalam 5:15 Yakobus meneruskan, “Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” Kata “doa” di sini bukanlah bentuk biasa dari kata doa. Kata ini diterjemahkan dengan “nazar” dalam Kisah Para Rasul 18:18 dan 21:23.

Dalam ayat 15 Yakobus menyebutkan penyakit dan dosa. Perbuatan dosa sering merupakan penyebab penyakit (Yoh. 5:14). Di dalam kasus semacam itu, pengampunan se-lalu merupakan penyebab kesembuhan (Mat. 9:2, 5-7; Mrk. 2:5). Karena alasan inilah, dalam bagian pertama ayat 16 Yakobus berkata, “Karena itu, hendaklah kamu saling meng-aku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.”

Berdoa di Dalam Doa

Dalam 5:16b-18 Yakobus berkata, “Doa orang yang be-nar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa (berdoa di dalam doa), supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa lagi dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.” Kata-kata “berdoa di dalam doa” menunjukkan bahwa suatu doa dari Tuhan telah diberikan kepada Elia, dan di dalam-nya Elia berdoa. Dia tidak berdoa di dalam perasaan, pemi-kiran, maksud, atau perasaan hatinya, atau di dalam rang-sangan yang muncul dari berbagai keadaan atau situasi, untuk mencapai tujuannya sendiri. Dia berdoa di dalam doa yang diberikan kepadanya oleh Tuhan bagi penggenapan kehendak Tuhan.

Dalam ayat 16 Yakobus mengatakan perihal doa (permohonan) orang yang benar. Ini menunjukkan, ketika mendoakan orang sakit, kita perlu berdoa dengan cara memohon. Ini berarti, kita tidak seharusnya berdoa tanpa beban. Sebaliknya, kita perlu berdoa seperti Elia.

Dalam ayat 17 Yakobus berkata bahwa Elia berdoa di dalam doa (Tl.) agar tidak turun hujan. Berdoa di dalam doa sesungguhnya tidak hanya berarti berdoa dengan sung-guh-sungguh. Yakobus tidak memberi tahu kita bahwa Elia berdoa di dalam kesungguhan hati, melainkan mengatakan Elia berdoa di dalam doa.

Apakah makna ungkapan berdoa di dalam doa ini? Doa Elia adalah satu doa yang sangat besar, karena ia berdoa agar jangan turun hujan di bumi ini selama tiga setengah tahun. Ini jauh lebih besar daripada mendoakan kesembuh-an orang sakit. Setelah tiga setengah tahun, Elia berdoa lagi, dan pada saat itu ia berdoa agar langit menurunkan hujan. Elia bisa berdoa demikian, karena Allah memberinya suatu doa, karena Allah membebaninya dengan suatu doa. Dengan kata lain, Elia mempunyai beban dengan cara yang khusus, dan beban itu adalah doa yang Allah berikan kepa-danya.

Kita tidak seharusnya berdoa menurut ingatan, pandangan, atau beban kita sendiri. Sebaliknya, kita harus mempunyai beban dari Allah untuk mendoakan suatu hal, sama seperti Elia yang mempunyai beban dengan doa yang Allah berikan kepadanya. Allah memberi Elia suatu doa, dan di dalam doa itulah Elia berdoa. Hal ini bukanlah soal berdoa dengan bersungguh-sungguh, melainkan soal Allah memberi Elia suatu doa di dalam pergerakan-Nya dan me-nurut rencana-Nya, dan Elia berbeban mendoakan doa yang Allah berikan kepadanya. Jadi, Elia berdoa di dalam doa.

Membawa Balik Seorang Berdosa kepada Kebenaran

Dalam 5:19-20 Yakobus meneruskan perkataannya, “Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang me-nyimpang dari kebenaran dan ada seseorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah bahwa siapa yang membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyela-matkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.” Hal ini menyiratkan bahwa orang yang sakit dalam ayat 14 telah menyimpang dari kebenaran dan perlu dipa-lingkan kembali.

Menurut konteks kedua ayat ini, orang berdosa dalam ayat 20 bukan orang berdosa yang tidak percaya, melainkan seorang saudara yang percaya namun telah menyimpang dari kebenaran dan dipalingkan kembali dari kesalahannya kepada kebenaran. Jadi, keselamatan jiwanya bukan meng-acu kepada keselamatan kekal orang itu, melainkan kepada keselamatan sezaman atas jiwanya dari penderitaan kema-tian jasmani di bawah pendisiplinan Allah.

Surat 1 Petrus 1:5 dan Ibrani 10:39 juga berkaitan dengan keselamatan jiwa. Keselamatan dalam 1 Petrus 1:5 bukanlah keselamatan dari kebinasaan kekal, melainkan keselamatan jiwa kita dari penghukuman sezaman oleh penanggulangan pemerintahan Tuhan. Ibrani 10:39 membicarakan tentang memperoleh hidup, pada saat kita percaya Tuhan Yesus dan diselamatkan, roh kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6). Tetapi kita harus me-nunggu sampai Tuhan Yesus datang kembali baru tubuh kita ditebus, diselamatkan, dan ditransfigurasi (Rm. 8:23-25; Flp. 3:21). Mengenai menyelamatkan, mendapatkan jiwa kita, itu tergantung pada bagaimana kita menanggulangi jiwa kita dalam mengikuti Tuhan setelah kita diselamat-kan dan dilahirkan kembali. Jika sekarang kita rela kehi-langan jiwa kita demi Tuhan, kita akan menyelamatkannya (Mat. 16:25; Luk. 9:24; 17:33; Yoh. 12:25; 1 Ptr. 1:9), dan jiwa kita akan diselamatkan atau didapatkan pada keda-tangan Tuhan kembali. Mendapatkan jiwa itu akan menjadi pahala dalam kerajaan bagi pengikut-pengikut Tuhan yang menang (Mat. 16:22-28).

Dalam 1:21 Yakobus mengatakan tentang menyelamat-kan jiwa kita. Menurut konteks pasal 1, keselamatan jiwa kita menyiratkan menanggung pencobaan yang timbul dari lingkungan (ayat 2-12) dan menolak godaan nafsu (ayat 13-21). Pandangan Yakobus terhadap keselamatan jiwa kita agak negatif, tidak sepositif pandangan Paulus. Paulus ber-kata bahwa jiwa kita dapat diubah oleh Roh pembaruan, bahkan sampai serupa dengan gambar Tuhan, dari kemu-liaan ke kemuliaan (Rm. 12:2; Ef. 4:23; 2 Kor. 3:18).

Dalam 5:20, keselamatan jiwa kita dari kematian bukanlah perkara keselamatan dari kebinasaan kekal. Melainkan, merupakan perkara pendisiplinan sezaman melalui kematian jasmani (1 Yoh. 5:16). Dalam ayat 20, kata-kata “dari maut” seharusnya sebanding dengan “membangunkan” dalam ayat 15.

Dalam ayat 20 Yakobus berkata bahwa seorang yang menyelamatkan satu jiwa dari maut juga akan menutupi banyak dosa. “Menutupi banyak dosa” merupakan ungkap-an Perjanjian Lama (Mzm. 32:1; 85:3; Ams. 10:12) yang digunakan oleh Yakobus untuk menunjukkan bahwa mema-lingkan saudara yang bersalah adalah menutupi dosa-dosa-nya sehingga dia tidak dihukum. “Menutupi banyak dosa” di sini tentu berarti “dosa-dosa . . . diampuni” dalam ayat 15, seperti dalam Mazmur 32:1 dan 85:3. Dosa-dosa dalam 5:20 adalah dosa-dosa yang dilakukan oleh saudara yang berdosa, yang mendatangkan maut atas dirinya (1:15).

Beberapa penulis beranggapan bahwa dalam 3:19-20 Yakobus membicarakan keselamatan orang berdosa yang hilang. Mereka menyatakan bahwa orang berdosa di sini adalah orang yang hilang, sehingga menyelamatkan jiwa adalah soal memenangkan jiwa, dan maut itu sama dengan kebinasaan kekal. Penafsiran demikian tidak tepat. Dalam ayat 19 Yakobus berbicara kepada saudara-saudara dan me-ngenai seseorang di antara para saudara yang telah me-nyimpang dari kebenaran, dan kemudian saudara itu di-pimpin balik kepada kebenaran. Jika ia tidak berada di dalam kebenaran, bagaimana mungkin ia menyimpang dari kebenaran? Karena ia telah menyimpang dari kebenaran, berarti sebelumnya ia berada di dalam kebenaran. Selanjut-nya, ayat 20 mengutarakan tentang orang berdosa yang dibawa balik dari jalannya yang sesat. Hal ini juga menya-takan bahwa ia pernah berada dalam kebenaran, dan kemu-dian ia menyimpang dari kebenaran itu, namun sekarang ia kembali kepada kebenaran itu. Sudah tentu, hal ini bu-kan ditujukan kepada orang berdosa yang belum beroleh selamat. Memang, dalam ayat 20 Yakobus menggunakan kata-kata “orang berdosa”, karena dalam pandangan Allah orang beriman yang menyimpang untuk sementara waktu dipandang sebagai orang berdosa. Keadaannya yang menyim-pang merupakan masalah dosa. Jadi, karena penyimpang-annya, ia menjadi orang dosa sejangka waktu. Membawa-nya kembali kepada kebenaran berarti membawa orang berdosa kembali kepada kebenaran. Sebab itu, orang ber-dosa di sini adalah seorang saudara yang menyimpang.

Menyelamatkan Jiwa dari Maut

Dalam 5:20 Yakobus berkata bahwa orang yang memalingkan orang berdosa seperti itu, saudara yang menyimpang, akan menyelamatkan jiwanya dari maut. Kita perlu memperhatikan fakta bahwa Yakobus bukannya berkata, “menyelamatkannya”, melainkan berkata, “menyelamatkan jiwanya.” Kita perlu membedakan “menyelamatkannya” dari “menyelamatkan jiwanya”. Yang kita miliki dalam ayat 20 adalah perkara keselamatan jiwa.

Dalam Surat Kiriman ini Yakobus telah berbicara mengenai keselamatan jiwa. Dalam 1:21 Yakobus berkata, “Sebab itu, buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Menyelamatkan jiwa bukanlah perkara keselamatan awal, melainkan perkara tahap keselamatan yang lebih maju, tahap pengubahan (transformasi) (lihat catatan 5 dalam 1Petrus 1:5). Mereka yang telah beroleh keselamatan awal perlu menerima lebih banyak firman yang dapat menyelamatkan jiwanya. Karena itu, menurut 1:21, setelah keselamatan kita yang awal, kita masih memerlukan keselamatan yang lebih lanjut, keselamatan jiwa kita.

Keselamatan jiwa dalam 5:20 tidak berkaitan dengan keselamatan seseorang dari kebinasaan kekal, melainkan menyelamatkan jiwanya dari penderitaan tertentu. Menurut 1Yohanes 5, dosa dapat menyebabkan kematian jasmani seseorang karena pendisiplinan Allah. Seorang beriman mungkin saja berdosa dan kemudian diberi peringatan oleh Allah. Jika ia mengabaikan peringatan Allah dan tetap berkecimpung dalam dosa, Allah boleh jadi akan mendisiplinkannya dan membiarkannya sakit. Penyakit ini merupakan suatu pendisiplinan dan juga peringatan supaya bertobat, meninggalkan dosa, dan menghentikan hidup kedosaan. Jika ia tidak bertobat, boleh jadi Allah mendisiplinkannya lebih lanjut sampai ke tingkat memperpendek hidupnya. Dan akibatnya, orang itu pun meninggal.

Fakta bahwa seorang beriman bisa meninggal sebagai akibat dosa tidaklah berarti bahwa ia akan mengalami binasa kekal. Sekali beroleh selamat, kita akan diselamatkan selamanya. Pada hari kita percaya Tuhan Yesus, kita diselamatkan sekali untuk selamanya, dan kita tidak akan pernah kehilangan bagian ini. Akan tetapi, jika seorang beriman tetap tinggal di dalam kedosaan, ia akan diperingati dan didisiplinkan oleh Allah melalui penyakit. Pertama-tama, Allah mendisiplinkannya dengan penyakit sebagai suatu peringatan untuk kembali kepada kebenaran. Kemudian gereja menyuruh seseorang berupaya membawa kembali orang ini. Tetapi jika orang tersebut tetap tinggal di dalam dosa, keadaan ini memaksa Allah melakukan pendisiplinan yang lebih lanjut dan membiarkannya mati.

Misalnya, Anda berbeban membawa seorang beriman yang menyimpang kembali kepada kebenaran. Membawanya balik berarti menyelamatkan jiwanya dari kematian jasmani. Inilah penafsiran yang benar untuk 5:19-20.

Apa yang dikatakan Yakobus dalam ayat-ayat ini tidak berhubungan dengan kebinasaan kekal atau keselamatan kekal. Masalah keselamatan kekal sepenuhnya beres pada saat kita percaya dan diselamatkan. Namun, jika kita menyimpang dan kembali kepada dosa, kita akan ditimpa penyakit sebagai pendisiplinan Allah. Jika kita tidak bertobat, kita akan mati lebih cepat.

Jika seseorang mati, yang paling menderita adalah jiwanya, bukan tubuhnya. Mati jasmani adalah penderitaan yang paling besar bagi jiwanya. Diselamatkan dalam jiwa kita dari penderitaan seperti itu adalah dibawa kembali kepada kebenaran. Inilah yang dimaksud dengan membawa kembali seorang beriman yang telah menyimpang dan dengan demikian menyelamatkan jiwanya dari kematian jasmani.

Apa yang digambarkan Yakobus dalam ayat ini merupakan bagian dari hidup gereja. Akan tetapi, hal itu adalah segi negatif hidup gereja. Dalam suratnya ini kita tidak dapat menemukan hal-hal positif yang diungkapkan oleh Yakobus berkenaan dengan hidup gereja. Walaupun yang dikatakan oleh Yakobus mengenai hidup gereja itu hanya di segi negatifnya, kita masih dapat menerima banyak bantuan yang positif dari apa yang ditulisnya dalam kitab ini. Khususnya, kita dapat memperoleh bantuan dalam praktek kristiani yang sempurna.