← Daftar isi Yakobus · bab 14/14

SATU KEHIDUPAN YANG TIDAK SEPENUHNYA MENURUT DAN UNTUK EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab: Yak. 4:15; 5:7, 13-20; Kis. 21:15-24

Dalam berita sebelumnya kita mulai menunjukkan bahwa dalam Surat Yakobus kita nampak satu kehidupan yang tidak sepenuhnya menurut dan untuk ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sampai saat ini, kita telah melihat delapan ciri khas kehidupan yang demikian: masih mempertahankan kedua belas suku dalam zaman Perjanjian Lama, mendapatkan hayat ilahi melalui kelahiran ilahi, menerima dengan lembut firman yang tertanam, melakukan hukum yang sempurna yang memerdekakan menurut praktek Perjanjian Lama, mencampurkan dengan praktek zaman Perjanjian Lama yang terpulih, masih memelihara hukum harfiah Perjanjian Lama, berperilaku dengan hikmat yang berbau Perjanjian Lama, dan memiliki Roh yang berhuni hanya untuk menanggulangi dunia.

Dalam berita ini kita akan membahas beberapa ciri khas lain dari kehidupan yang tidak sepenuhnya menurut dan untuk ekonomi Perjanjian Baru Allah.

BERTINDAK SEBAGAI KAUM SALEH

PERJANJIAN LAMA

Menurut 4:15, Yakobus menginginkan kita berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Kebanyakan orang Kristen menyukai ayat 13-17 dalam Surat Yakobus ini. Dalam 4:13 Yakobus menyatakan bahwa kita tidak boleh berkata, “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung.” Kemudian dalam ayat 14 Yakobus meneruskan ucapannya, “Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Karena itu, kita seharusnya berkata, “Jika Tuhan menghendaki . . .” Akan tetapi, cara hidup ini adalah menurut cara kaum saleh Perjanjian Lama. Kaum saleh Perjanjian Baru harus dipimpin oleh Roh itu. Dalam Roma 8:14 Paulus berkata, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Dipimpin oleh Roh Allah sangat berbeda dengan berkata kita akan melakukan ini atau itu “jika Tuhan menghendakinya”. Kaum saleh Perjanjian Baru adalah mereka yang dipimpin oleh Roh itu dalam hidup mereka setiap hari. Misalnya, seorang saudara berkata, “Jika Tuhan menghendaki, aku akan mengasihi istriku,” atau seorang saudari berkata, “Jika Tuhan menghendaki, aku akan tunduk kepada suamiku.” Ini bukanlah cara Perjanjian Baru. Orang yang mengikuti cara Perjanjian Lama boleh jadi berkata, “Jika Tuhan menghendaki, besok aku akan pergi berbelanja. Tetapi jika Tuhan tidak menghendaki, apakah yang dapat kuperbuat selain tinggal di rumah?” Kita tidak demikian, melainkan harus belajar dalam hidup kita dipimpin oleh Roh itu. Hari demi hari dan bahkan saat demi saat, kita seharusnya dipimpin oleh Roh yang berhuni itu.

CAMPUR ADUK DENGAN ORANG-ORANG YAHUDI ZAMAN PERJANJIAN LAMA

Kita telah nampak bahwa dalam suratnya Yakobus kelihatannya tidak menjelaskan perbedaan antara orang Kristen dengan orang Yahudi, antara ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan zaman Perjanjian Lama. Ia menujukan Surat Kirimannya kepada kedua belas suku (1:1) dan bahkan menggunakan istilah “sinagoga” (2:2) untuk menyatakan suatu tempat pertemuan orang-orang Kristen Yahudi. Kemudian dalam sepotongan ayat yang disisipkan (5:1-6) Yakobus nampaknya berbicara kepada orang-orang kaya di antara orang-orang Yahudi pada umumnya. Karena itu kita mengatakan bahwa di sini kita memiliki suatu campur aduk dengan orang-orang Yahudi zaman Perjanjian Lama.

MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN KEMBALI

DENGAN KESABARAN DARI PARA NABI

DAN KETEKUNAN KAUM SALEH

DALAM PERJANJIAN LAMA

Dalam 5:7 Yakobus mengatakan, “Karena itu, Saudara-saudara, bersabarlah sampai kedatangan Tuhan!” Menantikan kedatangan Tuhan dengan kesabaran sungguh menakjubkan, dan hal ini pastilah perkara Perjanjian Baru. Akan tetapi, ketika membahas perihal menantikan kedatangan Tuhan kembali, Yakobus tidak mempunyai konsepsi Perjanjian Baru. Malahan ia menggunakan nabi-nabi sebagai contoh kesabaran dan Ayub sebagai contoh ketekunan: “Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kita menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.”

Pengajaran Yakobus tentang menantikan Tuhan kembali sangat berbeda dengan yang diajarkan Tuhan Yesus dan Rasul Paulus. Dalam Matius 24:42 Tuhan berkata, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang,” dan dalam Matius 24:44 Ia berkata, “Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Di sini kita nampak, mengenai kedatangan-Nya, Tuhan menyuruh kita berjaga-jaga dan siap sedia. Kemudian dalam Lukas 21:36 Tuhan memberikan perintah-perintah ini kepada kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa.” Mengenai kedatangan, Paulus juga menyuruh kita berjaga-jaga: “Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar” (1Tes. 5:6).

Para nabi dan kaum saleh Perjanjian Lama jauh ketinggalan dari kita. Hari ini, kita mempunyai Allah Tritunggal yang berhuni di dalam kita. Para nabi dan kaum saleh Perjanjian Lama boleh jadi memiliki kesabaran dan ketekunan, tetapi hari ini kita memiliki Allah Tritunggal yang berhuni sebagai ketekunan dan kesabaran kita sewaktu kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus.

MEMPRAKTEKKAN HIDUP GEREJA

DENGAN CARA YANG CAMPUR ADUK

Mendoakan orang Beriman yang Sakit

dan Mengolesnya dengan Minyak dalam Nama Tuhan

Dalam Surat Kirimannya Yakobus berbicara tentang mempraktekkan hidup gereja; akan tetapi, praktek hidup gereja ini dalam cara yang campur aduk. Praktek pertama yang berkaitan dengan hidup gereja dibahas oleh Yakobus dalam 5:13-20 yakni perihal berdoa bagi kaum beriman yang sakit dan mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan: “Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan” (ayat 14). Kita harus mengakui sungguh baik berdoa bagi saudara yang sakit dan mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.

Berdoa dengan Cara Perjanjian Lama

Sekalipun Yakobus mengutarakan kata-kata yang indah mengenai doa dalam 5:14-16, namun cara berdoanya masih menurut cara nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Ini dibuktikan oleh fakta bahwa ia menggunakan doa Elia sebagai suatu contoh: “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa (berdoa di dalam doa), supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa lagi dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya” (ayat 17-18). Yakobus mengatakan bahwa Elia berdoa di dalam doa. Boleh jadi kita mengagumi doa ini dan menganggapnya indah. Akan tetapi, pendapat Paulus berbeda. Paulus memberi tahu kita agar kita senantiasa berdoa di dalam roh (Ef. 6:18). Berdoa di dalam roh jauh lebih baik, lebih manis, dan lebih kaya daripada berdoa di dalam doa. Berdoa di dalam doa adalah berdoa dengan cara Perjanjian Lama; sedang berdoa di dalam roh adalah berdoa dengan cara Perjanjian Baru. Dalam kasus Elia, Tuhan memberinya beban doa yang istimewa, yaitu agar tidak turun hujan. Karena itu, Elia mendoakan doa yang diberikan kepadanya oleh Tuhan. Tetapi hari ini kita mempunyai Roh yang berhuni, yang diam di dalam roh kita dan berdoa bagi kita (Rm. 8:26), dan kita tidak memerlukan doa atau beban khusus, karena kita dapat berdoa dengan tidak putus-putusnya dalam roh kita (1Tes. 5:17).

Jika kita tidak memiliki terang dari Tuhan, boleh jadi kita akan menghargai setinggi-tingginya doa yang dikatakan oleh Yakobus ini. Tetapi jika kita diterangi oleh Tuhan, kita akan nampak bahwa cara doa yang digambarkan oleh Yakobus adalah cara Perjanjian Lama. Dari sini kita nampak bahwa tulisan Yakobus membawa kita jauh dari praktek Perjanjian Baru dan kembali kepada praktek Perjanjian Lama.

Membawa Balik seorang Saudara yang Menyimpang kepada Pertobatan

untuk Memperoleh Pengampunan Menurut Cara Perjanjian Lama

Dalam 5:19-20 Yakobus membahas tentang membawa balik seorang saudara yang menyimpang kepada pertobatan untuk memperoleh pengampunan : “Saudara- saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seseorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah bahwa siapa yang membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.” Bahkan perkataan Yakobus tentang memulihkan seorang saudara yang telah menyimpang adalah menurut cara Perjanjian Lama. Apa yang dikatakannya tentang menutupi banyak dosa adalah sebuah kutipan dari Perjanjian Lama. Mazmur 32:1 mengatakan, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” Mazmur 85:3, “Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka.” Berikutnya, Amsal 10:12b mengatakan, “Kasih menutupi segala pelanggaran.” Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Lama mengampuni dosa berarti menutupinya. Akan tetapi, dalam Perjanjian Baru, mengampuni dosa adalah melupakannya atau tidak mengingatnya lagi (Ibr. 8:12). Karena itu, sekali lagi kita nampak, saat itu, praktek hidup gereja di dalam cara yang campur aduk, yaitu konsepsi Yakobus untuk memulihkan seorang saudara yang menyimpang kepada pertobatan untuk beroleh pengampunan adalah menurut cara Perjanjian Lama.

ILHAM ALKITAB

Setelah membahas semua masalah dalam Surat Yakobus yang menunjukkan kepada kita suatu hidup yang tidak sepenuhnya menurut dan untuk ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita harus maju lagi untuk membahas masalah yang besar — masalah ilham Alkitab. Karena kita telah menunjukkan demikian banyak kekurangan Kitab Yakobus, sebagian orang mungkin meragukan apakah Surat Kiriman ini diilhamkan oleh Allah, apakah kitab ini merupakan hembusan Allah. Dalam 2Timotius 3:16 Paulus berkata, “Seluruh Kitab Suci adalah hembusan Allah” (Tl.). Karena itu, kita perlu menerangkan dengan cermat bagaimanakah sikap kita terhadap ilham Alkitab dalam hubungannya dengan Kitab Yakobus.

Pertama, kita percaya dengan pasti bahwa semua tulisan dalam Alkitab adalah hembusan Allah, yaitu diilhamkan oleh Allah. Kita yakin bahwa setiap kata dalam ayatayat Alkitab adalah hembusan Allah.

Kedua, walaupun setiap baris dan setiap kata dalam Alkitab diilhamkan oleh Allah, namun ini tidak berarti bahwa setiap kata dalam Kitab Suci adalah perkataan Allah, melainkan kita harus dengan sangat hati-hati memahami masalah ini. Dalam Alkitab terdapat sangat banyak perkataan yang bukan perkataan Allah. Saya akan paparkan beberapa contoh supaya jelas.

Dalam Kejadian 3:1, 3-5 terdapat kata-kata yang diucapkan oleh ular. Mula-mula, ular bertanya kepada perempuan itu, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (ayat 1). Kemudian, si ular melanjutkan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Kata-kata yang diucapkan oleh si ular ini sebenarnya kata-kata yang dikeluarkan oleh Iblis, Satan.

Dalam Kitab Kejadian juga terdapat kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang yang jahat. Sebagai contoh, dalam Kejadian 4:23-24 Lamekh sesumbar kepada kedua istrinya, “Hai istri-istri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.” Di seluruh Perjanjian Lama, banyak perkataan lain yang diucapkan oleh orang-orang jahat dan orang-orang yang menjadi musuh-musuh Allah dan musuh umat-Nya. Sudah tentu, tak satu pun dari kata-kata tersebut merupakan perkataan Allah.

Kita bisa menyebutkan contoh lebih banyak lagi dari Kitab Ayub dan Kitab Mazmur. Dalam Kitab Ayub banyak hal diucapkan oleh Ayub dan para sahabatnya, yang kesemuanya adalah orang-orang saleh. Yang termuda, Elihu, juga seorang yang saleh. Namun akhirnya, Allah sendiri datang berbicara dan Ia menolak banyak perkataan yang telah diucapkan Ayub maupun teman-temannya. Allah tidak mau mengakui banyak perkataan dari orang-orang saleh tersebut sebagai perkataan-Nya; itu bukan firman Allah, melainkan perkataan-perkataan yang diucapkan oleh Ayub dan teman-temannya yang bersifat insani. Selain itu, dalam Kitab Mazmur, kata-kata tertentu adalah kata-kata manusia saja, sedangkan yang lain benar-benar perkataan Allah.

Dalam Perjanjian Baru kita juga menemukan kata-kata indah yang bukan perkataan Allah. Menurut Injil Matius, Imam Besar meminta agar Tuhan Yesus memberi tahu orang yang memeriksa-Nya apakah Ia itu Kristus, Putra Allah (Mat. 26:63). Setelah Tuhan Yesus memberikan jawaban-Nya, Imam Besar itu mengatakan, “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya” (ayat 65). Dan kemudian, orang banyak itu pun berteriak, “Salibkan Dia, salibkan Dia!” (Yoh. 19:6). Sudah jelas, walaupun kitab-kitab Injil merupakan hembusan Allah, diilhamkan oleh Allah, namun perkataan Imam Besar dan orang-orang banyak itu bukanlah perkataan Allah.

Seperti yang telah dicatat dalam keempat Injil, Petrus juga mengatakan hal-hal tertentu yang bukan perkataan Allah. Seperti dalam Matius 16:16, Petrus dengan wahyu dari Bapa menyatakan, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Tetapi setelah Tuhan melanjutkan perkataan-Nya perihal kematian-Nya, Petrus menarik-Nya ke samping dan menegur Dia, katanya, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (Mat. 16:22). Tentu saja, perkataan Petrus di sini bukanlah perkataan Allah. Ini dibuktikan oleh fakta bahwa Tuhan berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ayat 23). Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh Petrus itu bukanlah perkataannya sendiri, melainkan perkataan yang berasal dari Iblis.

Dalam Matius 17:4 kita nampak contoh lainnya, yaitu sepatah kata yang diucapkan oleh Petrus yang bukan perkataan Allah: “Tuhan, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.” Perkataan Petrus di sini ngawur, perkataan ini jelas bukan perkataan Allah.

Contoh lain dari perkataan yang diucapkan oleh Petrus yang bukan berasal dari Allah terdapat dalam Matius 26:33, 70, 72, dan 74. Setelah Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid bahwa mereka semua akan terguncang imannya, Petrus berkata, “Biarpun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (ayat 33). Akan tetapi, ketika ia ditanya tentang kebersamaannya dengan Yesus, ia menyangkalnya, katanya, “Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud” (ayat 70). Sekali lagi ia menyangkal dan bersumpah, “Aku tidak kenal orang itu” (ayat 72). Terakhir, “mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah, ‘Aku tidak kenal orang itu’” (ayat 74). Kata-kata ini memang diucapkan oleh Petrus, tetapi merupakan hasutan Iblis, si jahat. Walaupun kata-kata ini dicatat dalam Kitab-kitab Injil, adalah hembusan (ilham) dari Allah, namun bukanlah perkataan Allah.

Baiklah kita maju lagi ke Kitab Kisah Para Rasul. Tidak diragukan, ketika Petrus berdiri pada hari Pentakosta, semua yang diucapkannya adalah perkataan Allah. Tetapi dalam Kisah Para Rasul 21 kita mempunyai catatan kata-kata yang bukan perkataan Allah. Dalam Kisah Para Rasul 21:20-21 Yakobus dan para penatua lainnya berkata kepada Paulus, “Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka mendengar tentang engkau bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita.” Perhatikan, Yakobus menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi itu rajin memelihara hukum Taurat. Kemudian Yakobus dan orang-orang lainnya beralih ke hal lainnya dan mengajukan usul ini kepada Paulus, “Di antara kami ada empat orang yang bernazar. Bawalah mereka ber-sama-sama dengan engkau, lakukanlah upacara penyucian diri bersama-sama dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka, sehingga mereka dapat mencukurkan rambutnya; maka semua orang akan tahu bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat” (ayat 23-24). Kata-kata siapakah ini? Kata-kata Allahkah? Bukan, kata-kata ini diucapkan oleh penatua yang saleh, dan Yakobus adalah pemimpin mereka. Janganlah kita ber-pikiran bahwa karena orang-orang ini adalah orang-orang yang saleh, maka yang mereka ucapkan di sini adalah perkataan Allah.

Dalam 1Korintus 7:25 Paulus berkata, “Sekarang tentang orang-orang yang belum kawin. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah.” Setelah memberikan pandangannya, Paulus menyimpulkan, “Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah” (1Kor. 7:40). Di sini kita nampak bahwa mula-mula Paulus mengutarakan pandangannya sendiri. Terakhir, ia mempunyai keberanian untuk berkata, “Aku juga mempunyai Roh Allah.” Apakah Anda mengira bahwa Yakobus dan para penatua lainnya di Yerusalem bisa mengucapkan hal semacam ini dalam Kisah Para Rasul 21? Setelah menunjukkan kepada Paulus bahwa beribu-ribu orang beriman Yahudi sangat taat memelihara hukum Taurat, dan setelah menganjurinya untuk pergi ke Bait Allah bersama orang-orang yang telah bernazar, beranikah Yakobus dan orang-orang lainnya mengatakan, “Lagi pula aku yakin bahwa kita juga mempunyai Roh Allah”? Tidak, mereka pasti tidak berani mengucapkan perkataan ini. Kata-kata yang diucapkan oleh Yakobus dan para penatua lainnya dalam Kisah Para Rasul 21 bukanlah kata-kata Allah, melainkan, kata-kata dari orang-orang saleh.

Baik dalam Kisah Para Rasul 21 maupun dalam Surat Yakobus terdapat kata-kata yang diucapkan oleh Yakobus, seorang yang saleh. Jika kita memahami sifat Kisah Para Rasul 21, kita akan mengetahui posisi Surat Yakobus. Dalam Kisah Para Rasul 21 dan dalam Kitab Yakobus kita temukan kata-kata dari seorang yang saleh. Memelihara hukum Taurat adalah saleh, memenuhi nazar dan menang-gung biaya orang lain juga adalah saleh. Dalam Surat Kirimannya, Yakobus menulis dengan cara yang saleh mengenai banyak hal: mengunjungi janda-janda dan yatim piatu, menjaga diri dari kecemaran dunia, menggenapkan hukum kemerdekaan yang sempurna, mengatakan, “Jika Tuhan menghendaki,” mengenai masa mendatang, menganjuri kaum beriman untuk berdoa seperti Elia. Perkataan-perkataan Yakobus mengenai hal-hal ini boleh jadi memang saleh, tetapi itu bukanlah kata-kata Allah. Bagaimanapun, kitab seperti ini termasuk di antara tulisan-tulisan kudus, yang dihembuskan oleh Allah, diilhamkan oleh Allah.

Sama seperti pasal 1 dan 2 Kitab Kejadian merupakan hembusan Allah, demikian juga pasal 3 Kitab Kejadian dihembuskan oleh Allah. Walaupun kata-kata tertentu dalam Kejadian 3 bukanlah kata-kata Allah, namun seluruh pasal tersebut adalah hembusan Allah. Allah mengilhamkan catatan ini dengan satu tujuan. Jika kita tidak mempunyai catatan tentang perkataan si ular seperti yang terdapat dalam Kejadian 3, kita tidak akan mengetahui kelicikan si ular. Karena itu, Allah menghembuskan catatan ini untuk menyingkapkan kelicikan musuh.

Prinsipnya sama dengan perkataan Petrus kepada Tuhan Yesus dalam Matius 16:22. Jika kata-kata itu tidak dicatat, kita tidak akan tahu bahwa seorang yang beriman seperti Petrus, seorang yang sangat mengasihi Tuhan dan menerima wahyu yang paling tinggi dari Bapa tentang Tuhan Yesus, masih bisa dihasut oleh musuh, Iblis, untuk mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan ekonomi Allah. Kata-kata Petrus dalam ayat itu pasti bukan kata-kata Allah. Tetapi catatan itu dihembuskan oleh Allah dengan tujuan untuk menunjukkan hasutan si jahat dan kelicikan musuh Allah.

Demikian pula, walaupun kata-kata tertentu dalam Surat Yakobus merupakan kata-kata Yakobus sendiri dan bukan firman Allah, namun Allah mengilhamkan tulisan dalam Surat Kiriman ini agar kita bisa menyadari bahwa mungkin saja seorang yang saleh terselubung terhadap ekonomi Perjanjian Baru Allah. Jika Surat Yakobus bukan bagian dari Alkitab, maka akan ada lubang, celah, dalam Alkitab. Tanpa Kisah Para Rasul 21 dan Surat Yakobus, mungkin tidak seorang pun di antara kita yang mengira bahwa seorang yang saleh masih bisa terselubung dan tertudung dalam hal ekonomi Allah. Jika kita tidak mempunyai Kisah Para Rasul 21 dan Surat Yakobus, kita tidak akan pernah membayangkan betapa seorang yang saleh seperti itu tidak mempunyai visi yang jelas terhadap ekonomi Perjanjian Baru Allah. Karena itu, kita harus bersyukur karena kita memiliki Surat Yakobus yang bisa membantu kita menyadari bahwa tidaklah cukup dengan hanya menjadi orang yang saleh, kudus, alkitabiah, rohani, dan menang. Mungkin ini cukup bagi seseorang yang menjadi orang beriman dalam Perjanjian Lama, tetapi ini tidak cukup bagi kita untuk menjadi anggota Kristus dalam Perjanjian Baru, anak Allah yang sejati yang dilahirkan kembali oleh-Nya. Hal ini bisa membantu kita untuk memahami mengapa Surat Yakobus termasuk sebagai bagian dari Alkitab yang adalah hembusan Allah. Surat Kiriman ini tercantum di sini dengan maksud untuk menunjukkan kepada kita bahwa seorang yang saleh mungkin saja jauh dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Saya menyadari bahwa melalui mengutarakan dengan terus terang kekurangan Surat Yakobus mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah, saya mengambil risiko untuk dituduh tidak adil dan tidak mempercayai setiap firman dalam Alkitab merupakan hembusan Allah, diilhamkan oleh-Nya. Akan tetapi, jika semua berita dalam Pelajaran-hayat Surat Yakobus, teristimewa berita ini, kita baca dengan cermat, akan jelas bahwa tidak ada alasan untuk berkata demikian. Kita sama sekali tidak mengabaikan atau meragukan ilham ilahi dalam Alkitab. Sebaliknya, kita mempunyai pengertian yang tepat terhadap ilham Alkitab. Kita yakin bahwa seluruh Alkitab, setiap kata yang tercantum dalam Alkitab adalah hembusan Allah. Namun, tidak setiap kata dalam Alkitab adalah perkataan Allah. Seperti yang telah kita lihat, banyak kata yang dicatat dalam Alkitab adalah kata-kata Iblis, orang-orang jahat, para penentang Allah, dan bahkan orang-orang saleh yang berbicara secara “ngawur”. Selain itu, semua kata dalam Alkitab merupakan hembusan Allah dan dicatat untuk tujuan khusus. Dalam Kejadian 3, tujuannya adalah untuk menyingkapkan keli-cikan musuh. Dalam Kisah Para Rasul 21 dan dalam Surat Yakobus tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa mungkin saja seorang yang saleh kekurangan visi yang jelas, yang surgawi, terhadap ekonomi Perjanjian Baru Allah. Puji Tuhan! Segala sesuatu dalam Alkitab adalah hembusan Allah, dan segala sesuatu dicatat untuk menyampaikan tujuan khusus! Kita bersyukur kepada Allah untuk Alkitab yang dihembuskan oleh-Nya.

?

PELAJARAN HAYAT

INJIL YOHANES

BERITA

01 02 03 04 05 06 07 08

09 10 11

12 13 14 15 16 17 18