← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 5/25

PUJIAN ATAS KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH

Dalam berita ini kita akan membahas tentang pujian atas kemuliaan anugerah (kasih karunia) Allah (Ef. 1:6). Judul ini kelihatannya sangat sederhana, tetapi sesungguhnya sangat sulit. Boleh jadi kita mengira bahwa kita mengenal istilah-istilah pujian, kemuliaan, dan anugerah, namun bila kita jujur, kita akan mengakui bahwa kita ti-dak cukup mengetahui apa sebenarnya makna istilah-istilah tersebut.

Efesus 1:6 mengatakan, “Supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” Ayat ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan akibat atau hasil penentuan keputraan yang dikatakan dalam ayat sebelumnya. Ini berarti pujian atas kemuliaan anugerah Allah adalah hasil atau akibat keputraan. Karena itu, untuk memahami pujian dalam ayat 6, haruslah kita memahami keputraan dalam ayat 5. Jika kita tidak memahami isi keputraan, kita hanya mungkin memahami ayat 6 secara alamiah.

I. ANUGERAH ADALAH APA ADANYA ALLAH

TERHADAP KITA BAGI KENIKMATAN KITA

Apa itu anugerah Allah? Sulit sekali mendefinisikan anugerah. Saya telah dipersulit olehnya bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai hari ini saya masih mempelajarinya. Menurut Perjanjian Baru, anugerah adalah apa adanya Allah terhadap kita bagi kenikmatan kita (Yoh. 1:16-17; 2Kor. 12:9; 1Kor. 15:10). Yohanes 1:17 mengatakan bahwa hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran (realitas) datang dari Yesus Kristus. Dalam 1Korintus 15:10 Paulus mengatakan bahwa ia bekerja lebih keras daripada rasul-rasul lainnya, tetapi bukan dia, melainkan anugerah Allah yang menyertainya. Galatia 2:20 sejajar dengan 1Korintus 15:10. Galatia 2:20 mengatakan, “Tetapi bukan aku, melainkan Kristus”, sedang 1Korintus 15:10 mengatakan, “Tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Ini menunjukkan bahwa anugerah adalah Kristus itu sendiri. Bagian lain dari Perjanjian Baru juga menekankan anugerah. Sebagai contoh, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor. 13:13). Selain itu, Paulus mengawali semua surat kirimannya dengan menyebut anugerah; ia pun mengakhirinya dengan kata-kata tentang anugerah. “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin” (Gal. 6:18). “Tuhan menyertai rohmu. Anugerah-Nya menyertai kamu!” (2Tim. 4:22). Dalam ayat ini Kristus paralel dengan anugerah. Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kita sama dengan anugerah menyertai roh kita. Ini menunjukkan bahwa anugerah pada hakekatnya sama dengan Kristus. Ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki anugerah. Ketika Kristus tiba, anugerah pun tiba. Inilah sebabnya Yohanes 1:17 mengatakan bahwa anugerah datang dari Yesus Kristus, menunjukkan bahwa anugerah agak mirip dengan seseorang. Anugerah dipersonifikasikan sebagai seorang manusia. Personifikasi anugerah ini tak lain ialah Allah sendiri.

Walau hal ini bagi sementara orang kedengarannya agak asing, namun ini adalah fakta. Mengenai anugerah, jika Anda memasuki roh dalam Perjanjian Baru, Anda akan nampak bahwa sedikit atau banyak anugerah memang dipersonifikasikan. Tatkala Paulus berkata, “Bukan aku, melainkan anugerah Allah”, anugerah merupakan satu persona hidup baginya. Dalam Paulus, ada satu Persona menjadi anugerah untuk bekerja keras. Karena itu, anugerah sesungguhnya adalah Allah itu sendiri; yaitu apa adanya Allah terhadap kita bagi kenikmatan kita. Ketika Allah telah kita nikmati, itulah anugerah. Anu-gerah adalah Allah sendiri, yang menjadi bagian kita di dalam Yesus Kristus Anak-Nya, agar kita dapat menikmati segala apa ada-Nya.

Allah itu kasih. Bila kita tidak menikmati-Nya sebagai kasih, kita tidak memiliki anugerah. Tetapi jika kita menikmati Allah sebagai kasih, kita memiliki anugerah. Sekali lagi saya katakan, anugerah ialah apa adanya Allah terhadap kita sebagai bagian kita, untuk kenikmatan kita. Kita seharusnya tidak hanya menyanyikan, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya, tetapi juga anugerah-Nya. Kita perlu mengubah beberapa lagu tentang Allah menjadi anugerah kita, untuk mengeks-presikan bahwa Allah itu untuk kenikmatan kita. Jika kita memuji Allah hanya untuk kasih setia atau belas kasih-Nya, berarti kita tetap berada di taraf Sekolah Dasar. Kita perlu maju terus, dari kasih setia kepada anugerah Allah. Anugerah terbit dari belas kasih, seperti halnya Sekolah Menengah sebagai lanjutan Sekolah Dasar. Setelah tamat Sekolah Dasar, kita harus meneruskan ke Sekolah Menengah. Kita perlu maju terus, jangan selalu tertinggal di Sekolah Dasar. Namun hari ini banyak orang Kristen, sekalipun telah bertahun-tahun lamanya menjadi orang Kristen, tetap saja tertinggal di tahap Sekolah Dasar. Marilah kita maju terus menuju tingkat yang lebih tinggi, dan memuji Allah karena anugerah-Nya.

II. KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH BERARTI

ALLAH DIEKSPRESIKAN DALAM

ANUGERAH-NYA

Kini kita perlu membahas apa itu kemuliaan anugerah Allah. Boleh jadi Anda telah sering membaca Kitab Efesus tanpa memperhatikan ungkapan “kemuliaan anugerah-Nya” ini. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Kristus, Anak Allah, adalah cahaya kemuliaan Allah. Allah mempunyai satu kemuliaan, dan cahaya atau pancaran kemuliaan-Nya ialah Anak-Nya. Jika Anda mempelajari dengan seksama perihal kemuliaan dalam Alkitab, Anda akan mengetahui bahwa kemuliaan adalah Allah yang terekspresi. Bila Allah terekspresi, itulah kemuliaan. Kita boleh mengambil listrik sebagai contoh. Listrik itu tersembunyi, tetapi bila diekspresikan sebagai terang, terang itu adalah kemuliaan listrik. Begitu pula, bila Allah tersembunyi, kita tidak dapat nampak kemuliaan-Nya, tetapi bila Ia terekspresi, kemuliaan-Nya ternyatakan. Karena itu, kemuliaan berarti Allah terekspresi. Begitu didirikan, tabernakel dipenuhi oleh kemuliaan Allah (Kel. 40:34). Kemuliaan itu adalah ekspresi Allah. Seprinsip dengan ini, Anak Allah datang sebagai cahaya kemuliaan Allah yang berarti Dia adalah ekspresi Allah. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi kita telah nampak kemuliaan Anak Tunggal-Nya.

Kemuliaan anugerah Allah menandakan bahwa anu-gerah Allah, yang adalah diri-Nya sendiri sebagai kenikmatan kita, mengekspresikan Dia. Allah terekspresikan dalam anugerah-Nya, dan penentuan-Nya adalah untuk kepujian ekspresi ini. Ketika kita menerima anugerah dan menikmati Allah, kita memiliki perasaan mulia, walaupun kita mungkin tidak mempunyai kata-kata untuk mengekspresikan perasaan itu. Kadang kala setelah selesai suatu sidang yang indah, kita dipenuhi oleh anugerah dan kita berkata, “Alangkah mulianya!” Ini berarti Allah terekspresi dalam anugerah-Nya.

Ketika kita nampak bahwa kita telah dipilih untuk menjadi kudus dan ditentukan untuk keputraan, nampak bahwa kita memiliki Roh Anak, hayat Anak dan kedudukan Anak, dan nampak bahwa kita akan diserupakan dengan gambar Anak, memiliki kesempurnaan keputraan, penebusan tubuh, dan mewarisi keputraan yang sempurna, kita akan berseru, “Oh, alangkah mulianya!” Kita perlu merenungkan keenam perkara ini sambil berdoa: Roh Anak, hayat Anak, kedudukan Anak, gambar Anak, kesempurnaan keputraan, dan warisan keputraan. Bila Anda berbuat demikian, Anda akan berada dalam kemuliaan dan memuji Allah atas keputraan.

III. PUJIAN ATAS KEMULIAAN ANUGERAH

ALLAH ADALAH PUJIAN TINGGI ATAS

TEREKSPRESINYA ALLAH

DALAM ANUGERAH-NYA

Kita telah nampak bahwa anugerah itu berarti Allah sendiri menjadi kenikmatan kita, kemuliaan berarti terekspresinya Allah, dan kemuliaan anugerah Allah berarti Allah diekspresikan dalam kenikmatan kita terhadap-Nya. Sekarang kita harus meninjau aspek yang tersulit dalam berita ini, yaitu makna pujian dalam ayat 6. Apa maksud pujian kemuliaan anugerah Allah? Pernahkah Anda memuji Allah karena keputraan? Kita, anak-anak Allah, tidak banyak memuji-muji Allah. Biasanya kita bersyukur kepada-Nya saja. Ketika kita mengatakan, “Puji Tuhan,” maksud kita sering berarti, “Syukur ke-pada Tuhan”. Bersyukur kepada Allah berarti kita berterima kasih untuk suatu kebaikan Allah. Tetapi tatkala kita memuji Allah, itu terutama berarti memuji-Nya atas apa ada-Nya atau perbuatan-Nya, tidak peduli kita menerima suatu kebaikan dari Dia atau tidak. Dalam memuji Allah Anda harus melupakan diri sendiri dan keluar dari diri sendiri. Ketika Anda benar-benar memuji Allah, seolah-olah diri Anda sendiri tidak ada. Anda hanya nampak apa adanya Allah dan apa yang Dia lakukan. Karena itu, Anda memuji-Nya dan mengatakan kata-kata indah tentang Dia. Dengan perumpamaan yang ekstrem, seandainya Allah menyuruh Anda turun ke neraka, dapatkah Anda memuji-Nya? Jika Anda benar-benar mengenal Allah, Anda dapat berkata, “Ya Allah, sekalipun Engkau menyuruh aku turun ke neraka, aku akan tetap memuji-Mu, sebab Engkau adalah Allah.” Oh, betapa perlunya kita belajar memuji-Nya!

IV. ALLAH MENENTUKAN KITA UNTUK

KEPUTRAAN BAGI KEPUJIAN EKSPRESI ALLAH DI DALAM ANUGERAH-NYA

Allah menentukan kita untuk keputraan bagi kepujian ekspresi-Nya di dalam anugerah-Nya. Mungkin para malaikat adalah yang pertama-tama memuji Allah atas keputraan kita. Ketika para malaikat memuji Allah atas keputraan kita, setan-setan akan terkejut dan berkata, “Astaga, orang-orang dosa yang kita kuasai bisa menjadi anak-anak Allah!” Bukan hanya para malaikat memuji Allah atas keputraan kita, tetapi juga setiap perkara yang positif dalam alam semesta akan memuji Dia. Hal ini akan terjadi pada saat anak-anak Allah dinyatakan (Rm. 8:19). Dewasa ini semua makhluk sedang berkeluh-kesah di bawah perbudakan, dan menantikan manifestasi anak-anak Allah. Ketika hal itu terjadi, alam semesta akan memuji Allah. Jadi, Efesus 1:6 akan tergenap kelak pada saat Roma 8:19 itu. Pada waktu itu seluruh perkara yang positif dalam alam semesta akan memuji Allah, sebab kemuliaan anugerah Allah akan tertampak dalam manifestasi anak-anak Allah. Kita, anak-anak Allah, mungkin akan tercengang melihat puji-pujian yang dipersembahkan para malaikat kepada Allah, karena mereka memuji-muji Allah atas keputraan kita. Itulah pujian terhadap kemuliaan anugerah Allah.

Keputraan sangatlah bermakna. Berdasarkan Roma 8, alam semesta sedang menantikan manifestasi anak-anak Allah. Kemerdekaan seluruh makhluk dari perhambaan kebinasaan tergantung pada manifestasi kita. Saya ulangi, pada saat manifestasi itu, barulah Efesus 1:6 tergenap.

V. ALLAH MENGARUNIAI KITA BERARTI

MENEMPATKAN KITA DALAM KEDUDUKAN

ANUGERAH DAN MENJADIKAN KITA

SASARAN PERKENAN-NYA

Efesus 1:6 mengatakan bahwa Allah telah “mengaruniai kita” (dikaruniakan-Nya kepada kita). Istilah “dikaruniakan” merupakan ungkapan yang sangat tidak lazim. Allah mengaruniai kita berarti Ia menaruh kita ke dalam kedudukan anugerah, sehingga kita menjadi sasaran anugerah dan kemurahan Allah, yaitu agar kita boleh menikmati segala apa adanya Allah bagi kita. Untuk menerima sesuatu, perlu kedudukan yang tepat. Karena itu, Allah telah menaruh kita dalam anugerah-Nya. Ia telah memberi kita kedudukan dalam anugerah-Nya, agar kita menjadi sasaran anugerah. Di sini, di atas kedudukan anugerah dan sebagai sasaran anugerah, kita sepenuhnya diperkenan oleh Allah. Karena kita berada dalam kedudukan anugerah dan menjadi sasaran anugerah, maka Allah berkenan menerima kita. Perkenan-Nya ada di dalam kita, dan kita pun bersukacita dengan Dia. Pada akhirnya, terdapatlah saling menikmati: kita menikmati Dia, Dia pun menikmati kita. Di sini, dalam anugerah, Dialah sukacita dan kepuasan kita, dan kita adalah sukacita dan kepuasan-Nya. Semuanya ini tercakup dalam istilah “dikaruniakan-Nya” ini.

Hari ini kita tidak hanya berada di bawah belas kasih Allah, kita juga di atas kedudukan anugerah, menjadi sa-saran anugerah-Nya. Kita menikmati-Nya dan juga menjadi kenikmatan-Nya. Maka, di sini terdapat saling menyukai, saling menikmati, dan saling memuaskan. Jangan lagi menganggap diri sendiri sebagai orang berdosa, karena kita tidak lagi terikat oleh waktu dan tempat. Sebaliknya, kita berada di surga, dan di dalam kekekalan. Kita juga tidak berada dalam kondisi kita — kita berada dalam kesukaan hati Allah. Itulah artinya kita mengatakan Allah telah mengaruniai kita. Sebab itu, kita tidak seharusnya memandang diri sendiri lagi, tetapi harus menengadah dan menatap ke surga, ke dalam kekekalan. Jangan terlalu membicarakan atau memikirkan diri sendiri, melainkan bicarakanlah anugerah Allah, dan pikirkanlah betapa Dia telah mengaruniai kita.

VI. DIKARUNIAI DI DALAM ANAK-NYA

YANG DIKASIHI-NYA

Terakhir, Efesus 1:6 mengatakan bahwa Allah telah mengaruniai kita di dalam Anak-Nya yang dikasihi-Nya. Di sini Paulus tidak mengatakan, “di dalam Kristus” atau “di dalam Dia”, melainkan “di dalam Dia, yang dikasihi-Nya”. “Dia, yang dikasihi-Nya” adalah Putra terkasih Allah, yang di dalam-Nya Dia berkenan (Mat. 3:17; 17:5). Sebab itu, dalam mengaruniai kita, Allah bertujuan men-jadikan kita sasaran yang diperkenan-Nya. Ini mutlak adalah kesenangan bagi Allah. Dalam Kristus kita telah diberkati oleh Allah dengan segala berkat. Di dalam Dia yang dikasihi-Nya, diperkenan-Nya, kita diberi anugerah, kita menjadi sasaran kesukaan dan kesenangan hati Allah, sehingga kita menikmati Allah, dan Allah menikmati kita dalam anugerah. Di dalam Dia yang dikasihi-Nya, kita juga menjadi perkenan-Nya.

Allah berkenan kepada Dia yang dikasihi-Nya Anak-Nya — Dia pun berkenan kepada kita. Jadi, dalam ung-kapan “di dalam Dia yang dikasihi-Nya” terkandung kesukaan, kepuasan, dan kenikmatan, yang dimiliki Allah Bapa di dalam kita, karena kita telah menjadi sasaran anugerah dan perkenan-Nya. Dalam pengertian ini, kita semua wajib menghargai dan menilai tinggi diri kita sendiri, karena kita adalah sasaran kesukaan Allah. Anda wajib berkata, “Karena Allah menyukai aku, aku menghargai diri sendiri. Bahkan aku menilai tinggi diriku sendiri, sebab aku telah diletakkan di atas kedudukan anugerah, dan menjadi sasaran anugerah Allah.” Kita wajib mempunyai pandangan yang sedemikian terhadap diri sendiri; bukan menurut keadaan alami kita, tetapi menurut fakta bahwa kita telah dipilih, ditentukan, dilahirkan kembali, dan dikaruniai. Allah berkenan kepada kita, bukan di dalam diri kita sendiri, melainkan di dalam Anak-Nya yang terkasih.