DITENTUKAN DARI SEMULA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH
Dalam berita ini kita tiba pada masalah penentuan Allah atas diri kita dari semula untuk menjadi anak-anak Allah. Efesus 1:5 mengatakan, “Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” (kata “kerelaan”, dalam bahasa aslinya adalah “kesukaan”. Red.). Dalam susunan tata bahasa ayat 4-5, subyek dan predikat utamanya tidak terdapat dalam ayat 5, melainkan dalam ayat 4. Ayat 4 mengatakan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (dalam kasih).” Subyeknya ialah “Dia” dan predikat utamanya ialah “memilih”. Ayat ini boleh ditulis demikian: “Sebab di dalam Dia, Allah telah menentukan untuk memilih kita dari semula.” Pemilihan Allah tidak dapat dipisahkan dari penentuan-Nya, sebab keduanya merupakan dua aspek dari satu perkara. Pemilihan Allah berjalan seiring dengan penentuan-Nya dan penentuan-Nya bersatu dengan pemilihan-Nya. Sulit dikatakan yang mana yang pertama.
I. BUTIR KEDUA DALAM BERKAT ALLAH
Ditentukan dari semula untuk menjadi anak-anak Allah merupakan butir kedua dalam berkat Allah. Seperti telah kita tunjukkan dalam berita yang lalu, butir pertama dalam berkat Allah adalah terpilihnya kita menjadi kudus.
II. MENETAPKAN NASIB UMAT PILIHAN-NYA
DALAM KEKEKALAN YANG LAMPAU
Dalam kekekalan yang lampau Allah telah menen-tukan kita untuk menjadi anak-anak-Nya, menetapkan nasib bagi umat pilihan-Nya sebelum dunia dijadikan. Sasaran penentuan Allah adalah keputraan. Bahkan kita telah ditentukan untuk menjadi anak-anak Allah sebelum kita diciptakan. Maka, sebagai makhluk ciptaan Allah, kita perlu dilahirkan kembali oleh-Nya, agar kita boleh mengambil bagian dalam hayat-Nya untuk menjadi anak-anak-Nya. Keputraan bukan hanya menyiratkan hayat, juga kedudukan anak. Orang-orang yang telah ditetapkan ini memiliki hayat untuk menjadi anak-anak-Nya dan memiliki kedudukan untuk mewarisi Dia.
III. MEMBERI TANDA SEBELUMNYA PADA UMAT PILIHAN-NYA
Kata “ditentukan dari semula” yang diterjemahkan dari bahasa Yunani boleh juga diterjemahkan “menandai sebelumnya”. Memberi tanda sebelumnya adalah proses, sedangkan penentuan adalah tujuan, yaitu menetapkan nasib sebelumnya. Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan, menandai sebelumnya kepada suatu nasib tertentu.
IV. MENURUT PENGENALAN DINI-NYA
Allah memilih dan menentukan kita menurut pengenalan dini-Nya (1Ptr. 1:2). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah diprakarsai oleh Allah menurut pengetahuan dini-Nya.
V. MELALUI YESUS KRISTUS
Allah menentukan kita untuk menjadi anak-anak-Nya melalui Yesus Kristus. “Melalui Yesus Kristus” berarti melalui Putra Allah, Sang Penebus. Melalui Dia kita ditebus, menjadi anak-anak Allah, memiliki hayat dan kedudukan sebagai anak-anak Allah.
VI. SESUAI DENGAN KESUKAAN
KEHENDAK-NYA
Allah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kesukaan kehendak-Nya. Ini mewahyukan bahwa Allah mempunyai satu kehendak; dalam kehendak ini terdapat kesukaan-Nya. Allah menentukan kita menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kesukaan-Nya, menurut kesenangan hati-Nya. Tidak seperti Kitab Roma, Kitab Efesus tidak berbicara dari sudut keadaan manusia yang penuh dosa, tetapi dari sudut kesukaan dalam hati Allah. Sebab itu, Kitab Efesus lebih dalam dan lebih tinggi.
VII. KEPADA KEPUTRAAN (MENJADI ANAK-ANAK ALLAH)
Dalam ayat 4 kita nampak Allah telah memilih kita agar kita menjadi kudus. Tetapi menjadi kudus hanyalah prosedur, bukan sasaran. Sasarannya adalah keputraan. Kita telah ditentukan untuk menjadi anak-anak-Nya. Dengan kata lain, Allah memilih kita supaya menjadi kudus agar kita boleh menjadi anak-anak-Nya. Jadi, menjadi kudus adalah proses, prosedur, tetapi menjadi anak-anak Allah itulah sasaran. Allah tidak hanya menghendaki sekelompok manusia yang kudus; Ia menghendaki banyak anak. Bagi kita mungkin sudah cukup kalau Allah memilih kita menjadi kudus, dan kita mungkin merasa puas sekali akan hal ini. Namun Allah memilih kita menjadi kudus untuk satu maksud, dan maksud itu tidak lain ialah agar kita menjadi anak-anak Allah.
Baiklah kita mengambil contoh memanggang kue. Ketika seorang saudari memanggang kue, pertama-tama ia menyediakan adonan dengan mencampurkan berbagai bahan dengan tepung terigu. Setelah bahan-bahan ini tercampur dengan adonan, kita boleh mengatakan adonan ini sebagai satu lukisan pengudusan. Mula-mula adonan dipisahkan, lalu dikuduskan melalui dimasukkannya berbagai bahan ke dalamnya. Setelah saudari ini mengaduk adonan itu, ia lalu membentuknya menjadi bentuk-bentuk tertentu. Demikian pula, pertama-tama Allah memisahkan kita, lalu menaruhkan diri-Nya — Bapa, Putra, dan Roh Kudus ke dalam kita. Berikutnya ialah proses pengadukan. Mengatakan Allah mengaduk kita berarti Allah mengganggu kita. Kita mungkin menyukai kehidupan gereja yang tenang, tetapi sering kali Allah mengaduk, menjungkir-balikkan urusan-urusan kita. Namun justru inilah kehidupan gereja yang normal.
Menjadi kudus berarti berbaur dengan Allah. Allah menguduskan kita dengan menaruh diri-Nya ke dalam kita dan kemudian membaurkan kita dengan sifat-Nya. Ini adalah masalah sifat, yaitu agar sifat kita diubah dengan sifat-Nya. Kita dilahirkan sebagai yang insani dan alami, tetapi Allah menghendaki kita menjadi ilahi. Jalan satu-satunya supaya hal ini dapat terjadi ialah dengan memasukkan sifat ilahi ke dalam diri kita dan berbaur dengannya. Dengan jalan inilah Allah menguduskan kita. Jadi, pengudusan adalah suatu prosedur untuk mengubah sifat kita. Tetapi, ini masih bukan sasarannya. Sasarannya berkaitan dengan pembentukan. Itulah sebabnya selain Allah memilih kita menjadi kudus, Ia pun perlu menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya. Menjadi kudus adalah masalah sifat, tetapi menjadi anak-anak adalah masalah pembentukan. Anak-anak Allah adalah sekelompok manusia yang diserupakan dengan suatu bentuk atau rupa tertentu.
Kaki dian emas dalam Wahyu 1 telah menjelaskan hal ini. Dalam sifatnya, kaki pelita itu emas, tetapi dalam bentuknya ia adalah sebuah kaki pelita. Untuk memproduksi sebuah kaki pelita emas, pertama bahannya harus emas murni. Ini ditujukan kepada prosedurnya. Tetapi sasaran dari prosedur ini ialah memproduksi kaki pelita yang memiliki bentuk khas. Demikian pula, menjadi kudus adalah prosedur kita untuk menjadi anak-anak Allah.
Sewaktu saya nampak kekudusan itu untuk keputraan, saya berkata kepada diri sendiri, “Bagaimana kamu bisa merasa puas dengan kekudusan sebagai sasaran? Kamu hanya dapat merasa puas bila menjadi anak Allah.” Jadi, kita tidak hanya menjadi kudus, juga menjadi anak-anak Allah. Kita tidak hanya mempunyai sifat kudus Allah, bahkan memiliki Persona Anak-Nya. Karena itu, kita tidak hanya menjadi adonan kudus, juga sebagai anak-anak Allah.
Semua orang Kristen tahu bahwa kaum beriman yang sejati di dalam Kristus adalah Gereja. Namun gereja bukan hanya sekelompok manusia yang telah beroleh selamat. Gereja adalah manusia korporat yang telah dikuduskan sifatnya menjadi anak-anak Allah. Orang korporat ini seharusnya dikuduskan, diresapi, dan dibaurkan dengan sifat Allah. Demikian, mereka baru menjadi anak-anak Allah. Orang-orang yang demikian adalah gereja.
Situasi agama Kristen hari ini menyimpang jauh dari yang demikian. Dalam agama Kristen kita nampak kelompok-kelompok orang yang telah beroleh selamat, namun mereka masih awam dan duniawi, tanpa kekudusan sedikit pun. Lagi pula, mereka tidak hidup seperti anak-anak Allah. Sebaliknya, mereka kebanyakan hidup seperti anak-anak orang dosa. Walaupun begitu banyak orang percaya Tuhan Yesus, dibasuh oleh darah, dan dilahirkan kembali oleh Roh, tetapi mereka masih duniawi dan awam, tanpa tanda kekudusan dalam kehidupan mereka. Mereka sama sekali serupa dengan tetangga, teman, atau kerabat mereka. Namun demikian, mereka mengatakan dirinya itu gereja. Alangkah memalukan Allah dan alangkah memalukan gereja! Gereja tersusun dari sekelompok orang yang telah dipisahkan bagi Allah, dijenuhi dengan sifat Allah, dan dikuduskan sepenuhnya untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Gereja jelas bukan sekelompok orang Kristen yang duniawi, yang hidup seperti anak-anak orang dosa. Memalukan sekali jika Anda mengatakan kelompok orang yang semacam itu gereja.
Kalau kita menyatakan diri kita gereja, kita harus bertanya apakah kita ini orang yang telah dipisahkan dan dikuduskan. Sudahkah kita dipisahkan bagi Allah dan dijenuhi Allah? Sudahkah kita dikuduskan dalam kedudukan dan watak oleh sifat Allah untuk hidup seperti anak-anak Allah? Oh, semoga mata kita tercelik, sehingga kita nampak apa itu gereja. Gereja bukanlah sekelompok orang Kristen yang bergairah, tetapi awam dan duniawi, tanpa pemisahan atau penjenuhan apa-apa. Gereja tersusun dari mereka yang telah Allah kuduskan, untuk hidup seperti anak-anak Allah.
Ingatlah, Kitab Efesus membahas masalah gereja. Dalam kata pembukaan kitab ini, diberitahukan bahwa gereja adalah orang-orang yang berada di bawah kata-kata indah Allah (Ef. 1:3). Perkara yang pertama dalam kata-kata indah Allah adalah kita telah dipilih untuk menjadi kudus. Itulah berkat Allah, kata-kata indah-Nya tentang kita. Tetapi, banyak orang Kristen menolak berkat ini. Allah mengatakan bahwa Ia telah memilih kita untuk menjadi kudus, tetapi mereka mengatakan mereka tidak mau berbeda dengan orang lain. Ada sebagian orang berkata, “Kami tidak mau menjadi kudus. Kami suka menjadi awam.” Allah berkata, “Kamu telah dipilih agar berbeda.” Tetapi mereka membantah, “Kami tidak ingin berbeda. Kami ingin menjadi serupa dengan orang lain.” Menolak kata-kata indah Allah yang sedemikian berarti memberontak. Oh, semoga Tuhan membelaskasihani kita! Betapa kita memerlukan rahmat-Nya, karena situasi hari ini demikian kasihan! Kita perlu nampak bahwa kita telah dipilih untuk menjadi kudus, agar kita dapat me-nempuh kehidupan anak-anak Allah.
A. Melalui Roh Anak Allah
Sekarang kita perlu membahas tiga perkara tentang keputraan, yaitu tentang kita menjadi anak-anak Allah. Pertama-tama Allah telah menentukan kita untuk menjadi anak-anak-Nya melalui menaruh Roh Anak-Nya ke dalam kita. Pada waktu kita percaya Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali, Roh Allah masuk ke dalam kita sebagai Roh Anak Allah. Itulah sebabnya setelah kita dilahirkan kembali kita dapat dengan mudah dan manis menyebut “Ya Abba, ya Bapa.” Sebelum kita dilahirkan kembali, kita hanya dapat berkata, “Ya Allah, tolonglah aku.” Namun setelah kita diselamatkan, kita dengan spontan mulai berseru secara lembut dan dengan rasa manis, “Ya Abba, ya Bapa.”
Roma 8:15 dan Galatia 4:6 mengatakan hal ini. Galatia 4:6 mengatakan bahwa Roh Anak berseru, “Ya Abba, ya Bapa.” Tetapi Roma 8:15 mengatakan kitalah yang berseru demikian. Hal ini menunjukkan bahwa seruan kita adalah seruan-Nya dan seruan-Nya adalah seruan kita. Kita dan Dia bersama-sama berseru, “Ya Abba, ya Bapa”, demikian manis dan intim. Tetapi ketika kita mengatakan demikian, kita merasa senang, manis dan nyaman! Ini membuktikan dengan kuat bahwa Roh Allah ada di dalam kita, kita memiliki Roh keputraan.
Sering kali orang-orang muda bertanya kepada saya tentang olahraga. Ada beberapa yang ingin mendebat dengan mengatakan bahwa berolahraga tidak ada salahnya. Saya menjawab, “Saya tidak mengatakan berolahraga itu salah. Saya hanya ingin bertanya, dapatkah kalian menyebut ‘ya Abba, ya Bapa’ sewaktu kalian ingin mengikuti olahraga tertentu?” Jawab mereka, “Saudara Lee, Anda memang terlalu pintar. Anda tahu jika kami menyebut ‘ya Abba, ya Bapa’, kami pasti tidak jadi mengikuti olah-raga itu, karena kami tahu Bapa kami tidak memperkenankannya.” Saya tidak menentang olahraga, tetapi saya menentang si jahat itu. Tidak perlu Anda bertanya kepada saya tentang olahraga. Sebaliknya, berseru saja, “Ya Abba, ya Bapa.” Jika Anda melakukan hal ini, Dia akan menyuruh Anda berdoa atau membaca Alkitab sebagai pengganti olahraga itu. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah ditanggulangi oleh Bapa sedemikian. Itulah hayat anak-anak Allah. Apakah Anda menempuh kehidupan anak-anak Allah, atau menempuh kehidupan anak-anak orang dosa, yaitu anak-anak durhaka?
B. Dalam Hayat Anak Allah
Kita telah ditentukan untuk menjadi anak-anak Allah bukan hanya melalui Roh Anak Allah, juga di dalam hayat Anak Allah. Ini sangatlah subyektif. Kita benar-benar memiliki hayat Anak Allah. Seperti dikatakan dalam 1Yohanes 5:12, “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” Karena itu, kita bukan anak menantu Allah, melainkan anak Allah yang memiliki hayat Allah. Sering kali, kita mungkin bisa menolak Roh Anak Allah, tetapi kita tidak dapat menolak hayat Anak Allah, karena hayat itu telah menjadi diri kita. Kita memiliki dua manusia: manusia alamiah yang dilahirkan oleh orang tua kita, dan manusia rohani yang dilahirkan oleh Allah. Dalam manusia kedua inilah kita memiliki hayat Anak Allah. Menurut manusia kedua ini, kita tidak saja memiliki Roh yang bergerak dan bekerja dalam batin kita, kita pun memiliki hayat yang telah menjadi diri kita sendiri; bukan diri yang alamiah, melainkan yang rohani. Kadang-kadang kita tidak saja memberontak kepada Roh, juga kepada diri kita sendiri, menentang diri sendiri.
Saya tidak setuju dalam gereja harus ada suatu peraturan. Namun, saya tahu dalam setiap anak Allah terdapat Roh Anak Allah dengan hayat Anak Allah. Karena itu, tidak perlu ada peraturan-peraturan. Sebagai contoh: Anda tidak perlu menempelkan sebuah peraturan di rumah Anda yang menyatakan anak-anak Anda tidak boleh makan barang yang pahit, hanya boleh makan barang yang manis. Andaikata seorang anak memasukkan sesuatu yang pahit ke dalam mulutnya, ia akan memuntahkannya dengan spontan, sekalipun ia tidak mengetahui apa artinya pahit. Karena hayat dalam setiap anak menolak benda-benda yang pahit, tidak perlu diberi peraturan tentang hal-hal yang pahit. Sebagai tambahan Roh Anak Allah, kita memiliki hayat Anak Allah. Jika kita mengecap sesuatu yang dirasa pahit oleh hayat Anak ini, kita tidak dapat berpura-pura merasa senang terhadapnya. Walau kita boleh berpura-pura senang, tetapi di dalam batin kita tidaklah senang, sebab kita tahu bahwa kita telah bertindak melawan hayat Anak Allah. Jika kita menyebut, “Ya Abba, ya Bapa” dan hidup menurut hayat Anak Allah, kita akan bersukacita dalam lubuk batin kita. Pada hakekatnya, seluruh diri kita akan dipenuhi oleh sukacita.
C. Dalam Kedudukan Anak Allah
Kita tidak saja memiliki Roh Anak Allah dan hayat Anak Allah, kita pun memiliki kedudukan Anak Allah (Yoh. 20:17). Sesungguhnya, keputraan lebih erat hubungannya dengan kedudukan daripada dengan hayat. Mungkin Anda seorang anak dari ayah Anda, tetapi karena alasan hukum tertentu, Anda mungkin tidak mempunyai kedudukan sebagai anak, jika demikian berarti Anda tidak memiliki hak keputraan. Jadi, keputraan merupakan masalah hukum. Sebagai contoh: seseorang mungkin sebenarnya bukan terlahir sebagai anak orang kaya. Tetapi bila ia memiliki kedudukan sebagai anak orang itu secara hukum, maka ia berhak menjadi ahli warisnya. Warisan itu menjadi miliknya bukan menurut hayat, melainkan menurut kedudukannya. Tetapi beberapa anak yang sejati malahan boleh jadi kehilangan kedudukan sebagai anak, sekalipun mereka memiliki hayat ayah mereka. Ini menerangkan suatu fakta bahwa hayat anak Allah hanya berkaitan dengan hayat, tetapi kedudukan anak Allah itu masalah hukum. Haleluya, kita memiliki Roh Anak Allah, hayat Anak Allah, dan kita pun memiliki kedudukan Anak Allah.
Semuanya ini adalah untuk warisan kita. Karena kita anak-anak Allah, kita akan mewarisi segala apa adanya Allah dan segala milik Allah. Kita mempunyai kedudukan yang sah untuk mewarisi segala kekayaan Bapa. Dalam kehidupan gereja, kita menikmati Bapa dari hari ke hari. Hari ini, hal ini mungkin merupakan masalah hayat, tetapi kelak ini juga merupakan masalah kedudukan. Wahyu 21:7 mengatakan, “Siapa yang menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.” Dalam ayat ini, menjadi anak dan mewarisi semuanya, bukan hanya masalah hayat, juga masalah kedudukan. Walau kita hari ini adalah anak-anak Allah di dalam hayat, namun alam semesta belum lagi nampak kita sebagai anak-anak Allah pada aspek kedudukan. Tetapi ketika Yerusalem Baru tiba, alam semesta akan mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah dalam kedudukan, juga dalam hayat kita. Andaikata saya masuk ke sebuah rumah makan dan menyatakan kepada orang-orang yang duduk di situ bahwa saya adalah anak Allah, mereka pasti akan menganggap saya mengidap sakit jiwa. Namun, ketika Yerusalem Baru tiba, kita tidak perlu mengatakan apa-apa. Setiap orang dapat melihat kita sebagai anak-anak Allah dalam kedudukan kita. Semua malaikat akan berkata, “Lihat orang-orang itu — mereka adalah anak-anak Allah. Mereka menikmati Allah dan mewarisi segala apa adanya Allah di dalam Yerusalem Baru.”
Hari ini gereja adalah miniatur Yerusalem Baru. Dalam gereja kita adalah anak-anak Allah dalam hayat dan kedudukan. Kita tidak perlu saling mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah, sebab kita mengenal satu sama lain bahwa kita adalah anak-anak Allah. Karena kita memiliki Roh, hayat, dan kedudukan, kita saling memahami dan saling mengenal. Kita mengakui bahwa kita semua adalah anak-anak Allah. Walaupun kita mempunyai Roh, hayat, dan kedudukan sebagai anak-anak Allah, tetapi ditinjau dari watak kita, kita masih belum kudus. Karena itu, dalam kehidupan gereja Allah senantiasa membaurkan kita, agar kita dapat dikuduskan melalui berbaur dengan sifat-Nya.
Banyak guru Kristen menunjukkan bahwa Kitab Efesus membahas masalah gereja, namun mereka sendiri tidak berada dalam kehidupan gereja yang riil. Kita tidak puas dengan hanya membicarakan gereja, kita ingin memiliki kehidupan gereja secara riil. Kehidupan gereja yang riil terdapat dalam terpilihnya kita agar menjadi kudus, dan penentuan-Nya atas kita untuk menjadi anak-anak dengan Roh, hayat, dan kedudukan. Karena kita memiliki ketiga hal tersebut, maka Bapa sering meletakkan kita ke dalam alat pengaduk, agar kita dapat dikuduskan pada aspek watak. Kadang kala Bapa seolah-olah berkata, “Anak-Ku, kamu mempunyai Roh, hayat, dan kedudukan, tetapi kamu masih perlu diaduk. Kamu perlu dibaurkan dengan sifat-Ku yang kudus. Aku telah memilihmu menjadi kudus. Kini Aku akan menggarap dirimu, agar kamu menjadi anak-Ku yang kudus.” Inilah kehi-dupan gereja.
Kita semua mengharapkan kehidupan gereja menjadi teduh, tenang, dan damai sejahtera. Tetapi tidak ada dapur yang demikian pada saat koki menyiapkan makanan. Sebaliknya, segalanya berantakan. Bila keadaan dapur tidak demikian ketika makanan dipersiapkan, tidak mungkin ada pesta. Kehidupan gereja hari ini serupa dengan suatu dapur yang penuh dengan macam-macam barang yang berantakan. Di satu pihak, kehidupan gereja memang indah dan mulia, tetapi di pihak lain, kehidupan gereja benar-benar “berantakan”, agar kita dapat berbaur dengan Allah dan menjadi kudus. Semakin mengalami pembauran, kita akan semakin dikuduskan. Tatkala Yerusalem Baru tiba, ia akan menjadi keputraan yang kudus dan korporat dengan Roh, hayat, dan kedudukan. Pada saat itu, pembauran akan berlalu, karena kita semua sudah dijenuhi, dikuduskan, dan diubah. Itu barulah keputraan yang sempurna.
VIII. KEPADA DIRI-NYA SENDIRI
Keputraan membawa kita kepada Allah, yaitu masuk ke dalam diri Allah sendiri, supaya kita dapat disatukan dengan-Nya dalam hayat dan sifat.
IX. DISERUPAKAN DENGAN
GAMBAR ANAK-NYA
Sewaktu Bapa membawa kita kepada keputraan yang sempurna, kita diserupakan dengan gambar Anak-Nya (Rm. 8:29). Hal ini berarti Allah hendak “memutrakan” seluruh diri kita. Proses pemutraan ini sedang berlangsung dalam kehidupan gereja dewasa ini. Boleh jadi Anda telah disalahi oleh seseorang dalam kehidupan gereja, atau Anda yang menyalahi orang lain. Baik disalahi maupun menyalahi, kedua-duanya berguna bagi proses “pemutraan”. Saya bukan menganjuri Anda untuk disalahi atau menyalahi orang lain. Tetapi nyatanya masalah ter-sebut tidak dapat kita hindari. Jika bukan Anda yang menyalahi orang, Anda akan disalahi orang. Tetapi kita semua akan “diputrakan” oleh hal tersebut. Semakin di-salahi, kita akan semakin “diputrakan”. Jika Anda tidak pernah disalahi dalam kehidupan gereja, Anda mungkin masih belum banyak mengalami “pemutraan”. Berbaha-gialah bila Anda disalahi oleh saudara saudari atau para penatua, sebab Anda telah cukup “diputrakan”. Tetapi, ada sebagian orang tidak bisa disalahi orang. Bila di-salahi, ia akan meninggalkan kehidupan gereja. Pada saat demikian, seharusnya tidak meninggalkan kehidupan ge-reja, melainkan menghargainya, bahkan mencium hal-hal yang menyalahi kita, sebab hal-hal itulah yang “memut-rakan” kita. Bila Anda ingin melarikan diri dari kehidupan gereja, hayat Anak Allah dalam Anda akan berkata, “Janganlah melarikan diri. Tinggallah dan tanggunglah hal itu, bahkan rangkullah dia.” Bila Anda merangkul hal itu, ia akan menjadi sukacita Anda. Itulah “pemutraan” dalam kehidupan gereja.
Kita semua berada dalam proses “pemutraan”. Kita memiliki Roh Anak Allah, hayat Anak Allah, dan kedudukan Anak Allah, tetapi kita masih perlu diserupakan dengan gambar Anak Allah. Karena itu, kita perlu lebih banyak “pemutraan”. Tuhan hendak menyerupakan kita dengan gambar-Nya, gambar Anak Allah. Satu-satunya tempat yang memungkinkan hal ini bisa terjadi adalah kehidupan gereja. Di luar gereja kita tidak dapat diserupakan dengan gambar Anak Allah. Sebab itu, saya menganjuri kalian, bersukacitalah dalam kehidupan gereja yang serba berantakan ini. Janganlah menendang duri (galah rangsang), melainkan terimalah proses “pemutraan” dengan senang hati.
X. DISEMPURNAKAN DALAM KEPUTRAAN
Akhirnya, kita akan disempurnakan dalam keputraan. Kesempurnaan keputraan, keputraan yang penuh, adalah penebusan tubuh kita (Rm. 8:23). Ini berarti tu-buh kita akan ditransfigurasi dan juga “diputrakan”. Roh kita telah “diputrakan”, jiwa kita dalam proses “pemutraan”, dan ketika Tuhan datang, tubuh kita juga akan “diputrakan”. Itulah kesempurnaan keputraan.
XI. TERAKHIR MEWARISI SEGALA
APA ADANYA ALLAH
Terakhir, makna keputraan adalah kita akan mewarisi segala apa adanya Allah sampai selama-lamanya (Why. 21:7).