DIPILIH MENJADI KUDUS
Dalam berita ini kita akan membahas masalah pemilihan Allah (Ef. 1:4), yakni masalah kita dipilih menjadi kudus.
I. PERKARA PERTAMA
DALAM BERKAT ALLAH
Efesus 1:4 mengatakan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Setelah ayat 3, ayat 4-14 memberikan sebuah daftar tentang segala berkat rohani yang digunakan Allah untuk memberkati kita. Pemilihan Allah adalah berkat pertama yang Ia karuniakan kepada kita, dan perkara yang pertama dari kata-kata indah Allah tentang gereja. Pemilihan Allah berarti seleksi Allah. Dari antara orang-orang yang tak terhitung jumlahnya, Dia memilih kita.
II. DI DALAM DIA
Allah memilih kita “di dalam Dia”, yaitu di dalam Kristus. Kristus adalah ruang lingkup yang di dalam-Nya kita dipilih oleh Allah. Di luar Kristus kita bukan pilihan Allah.
III. SEBELUM DUNIA DIJADIKAN
Ayat 4 mengatakan, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Ini ditujukan pada kekekalan yang lampau. Sebelum Dia menciptakan kita, Allah memilih kita menurut pandangan jauhnya yang tak terbatas. Kitab Roma dimulai dengan manusia jatuh di bumi, Surat Efesus dimulai dengan orang-orang pilihan Allah di dalam surga.
Pemilihan Allah bukan terjadi dalam waktu, melainkan dalam kekekalan. Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Di antara jutaan manusia, Dia telah nampak dulu akan kita, bahkan sebelum kita terlahir, dan memilih kita sebelum dunia dijadikan. Ungkapan “sebelum dunia dijadikan” mencakup alam semesta, tidak hanya bumi. Ini berarti bahwa dunia, alam semesta, diciptakan bagi keberadaan manusia untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Maka manusia adalah inti dari kehendak kekal Allah. Alam semesta dijadikan agar manusia dapat hidup, agar kehendak kekal Allah dapat digenapkan.
IV. SUPAYA KITA MENJADI KUDUS
Allah memilih kita supaya kita menjadi kudus. Istilah “kudus” telah dirusak oleh ajaran-ajaran agama Kristen hari ini. Boleh jadi pengertian Anda terhadap “kudus” juga telah dipengaruhi oleh ajaran-ajaran tersebut. Istilah “kudus” dalam Alkitab tidak boleh kita pahami menurut konsepsi alamiah kita. Banyak orang mengira kudus berarti keadaan tanpa dosa. Menurut konsepsi ini, jika seseorang tidak berbuat dosa, dia adalah orang kudus. Anggapan demikian sama sekali keliru. Kudus bukan keadaan tanpa dosa, juga bukan kesempurnaan. Kudus bukan hanya berarti dikuduskan, disisihkan bagi Allah, tetapi juga berbeda, terpisah dari segala sesuatu yang bersifat umum. Hanya Allah yang berbeda, terpisah dari segala sesuatu. Karena itu, Dia yang kudus; kudus adalah sifat-Nya.
Ia membuat kita kudus dengan menyalurkan diri-Nya sendiri, Sang Kudus, ke dalam diri kita, sehingga seluruh diri kita diresapi dan dijenuhi dengan sifat kudus-Nya. Bagi kita, kaum pilihan Allah, menjadi kudus berarti mengambil bagian dalam sifat ilahi Allah (2Ptr.1:4), dan membiarkan seluruh diri kita diresapi dengan Allah sendiri. Ini berbeda dengan sekadar sempurna tan-pa dosa atau murni tanpa dosa. Ini membuat diri kita kudus dalam sifat dan karakter Allah, sama seperti Allah sendiri.
A. Allah itu Kudus
Menjadi kudus berarti terpisah dari setiap perkara yang di luar Allah, juga berarti dibedakan dari segala yang bukan Allah. Maka kita tidak seharusnya menjadi umum, tetapi harus berbeda. Dalam alam semesta, hanya Allah yang kudus. Dia berbeda dengan setiap perkara dan terpisah. Karena itu, menjadi kudus berarti menjadi satu dengan Allah. Tanpa dosa atau sempurna tidak sa-ma dengan menjadi kudus. Untuk menjadi kudus, kita perlu menjadi satu dengan Allah, sebab hanya Allah yang kudus (Im. 11:44; 1Sam. 2:2).
B. Di mana Ada Allah, di sana Kudus
Istilah “kudus” tidak tercantum dalam Kitab Kejadian. Istilah ini kali pertama dipakai dalam Kitab Keluaran. Di satu pihak, manusia dalam Kitab Kejadian masih belum terbawa ke dalam Allah. Dalam Kitab Keluaran, bukan dalam Kitab Kejadian, yakni ketika Allah mulai beroleh tempat kediaman di bumi, barulah manusia dibawa ke dalam tempat maha kudus. Tidak peduli berapa tingginya pengalaman rohani mereka yang berada dalam Kitab Kejadian, saat itu di bumi belum ada tempat maha kudus untuk dimasuki manusia. Tetapi dalam Kitab Keluaran terjadilah sesuatu yang luar biasa: di bumi dan di antara manusia ada satu tempat yang disebut tempat maha kudus, dan Allah ada di sana. Manusia bisa pergi ke tempat itu untuk berjumpa dengan Allah. Di sana, di dalam tempat maha kudus, Allah berfirman dan mengatur. Karena tempat yang demikian tidak terdapat dalam Kitab Kejadian, maka istilah “kudus” juga tidak dipakai dalam kitab tersebut. Ketika Allah datang dan menyuruh umat-Nya membangun Kemah Pertemuan dengan tempat maha kudus, barulah istilah “kudus” mulai dipergunakan.
Penyebutan pertama istilah ini terdapat dalam panggilan atas Musa dalam Keluaran 3. Ketika Musa menggembalakan kawanan domba, ia melihat semak duri menyala di padang gurun. Sewaktu ia ingin melihat mengapa semak itu tidak terbakar habis, Allah berfirman kepadanya dari dalam semak duri, “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (Kel. 3:5). Ini menunjukkan bahwa di mana saja Allah berada, tempat itu kudus. Ingatlah, hanya Allah yang kudus. Jika Anda tidak berhubungan dengan Allah, Anda tidak kudus; tidak peduli betapa Anda tanpa dosa atau sempurna. Anda mungkin tanpa dosa dan sempurna seluruhnya, tetapi bila Anda tidak berhubungan dengan Allah, Anda tidak kudus. Begitu Anda berhubungan dengan Allah, Anda segera menjadi kudus.
C. Apa saja yang dari dan untuk Allah adalah Kudus
Di mana saja, benda apa saja, perkara apa saja, dan siapa saja, yang berkaitan dengan Allah adalah kudus, sebab apa saja yang dari dan untuk Allah adalah kudus (Im. 20:26; Bil. 16:5; Neh. 8:9; Kel. 30:37).
D. Roh Allah Mencapai Manusia
— adalah Roh Kudus
Tambahan pula, ketika Roh Allah mencapai kita, Dia itulah Roh kudus (Luk. 1:35; Mat. 1:20; 28:19; lihat Rm. 1:4). Itulah sebabnya istilah “Roh Kudus” tidak dipakai dalam kitab Perjanjian Lama (Dalam Yesaya 63:10-11 untuk “Roh Kudus-Nya” seharusnya diterjemahkan menjadi “roh kekudusan”). Istilah ini kali pertama dipakai ketika Tuhan Yesus akan dikandung dalam rahim Maria (Luk. 1:35). Hal ini menandakan bahwa kudus berarti membawakan Allah kepada manusia dan membawakan manusia kepada Allah. Lebih lanjut lagi, istilah ini juga berarti membawakan Allah ke dalam manusia dan membawakan manusia ke dalam Allah. Bila Allah masuk ke dalam kita, kita menjadi kudus. Bila kita masuk ke dalam Allah, kita menjadi lebih kudus. Tetapi ketika kita berbaur dengan Allah, kita akan menjadi paling kudus. Jadi, kita menjadi kudus oleh adanya Allah di dalam kita, kita menjadi lebih kudus dengan berada di dalam Allah, dan kita menjadi paling kudus dengan dibaurkan, diresapi, dan dijenuhi oleh Allah.
Kitab Efesus menyebut kaum beriman “orang-orang kudus” (Ef. 1:1). Setiap orang yang telah percaya Tuhan Yesus adalah orang yang kudus (orang saleh). Tetapi ada sebagian orang beriman yang kudus, ada yang lebih kudus, dan ada yang paling kudus. Tidak perlu diragukan, kita semua kudus, tetapi apakah kita lebih kudus atau paling kudus, itu patut dipertanyakan. Sebagai contoh, selama Anda beserta dengan Tuhan di waktu pagi, Anda mungkin berada di bawah proses diresapi dan dijenuhi oleh-Nya. Tetapi kemudian istri Anda mengucapkan sesuatu yang menyinggung hati Anda, dan Anda menjadi marah. Kemudian setelah makan pagi, Anda kembali ke kamar dan berdoa, “Oh Tuhan, ampunilah aku. Aku tadi sudah dijenuhi oleh-Mu, tetapi sepatah kata istriku menyebabkan aku terpisah dari-Mu. Tuhan, bawalah aku kembali ke dalam penjenuhan-Mu. Tuhan, aku memuji-Mu karena darah pembasuhan-Mu.” Perumpamaan ini bertujuan menunjukkan bahwa ketika kita bersekutu dengan Allah, kita ini kudus, sebab kita berada di bawah penjenuhan-Nya. Tetapi bila kita meninggalkan Allah, kita menjadi tidak kudus. Saya ulangi, dikuduskan bukan berarti disempurnakan atau tanpa dosa, melainkan disatukan dengan Allah. Ketika kita dijenuhi dan diresapi oleh Allah, kita akan menjadi paling kudus.
Kita telah nampak bahwa kekudusan adalah Allah sendiri. Pemakaian istilah “kudus” yang pertama ialah ketika Allah mulai memiliki sekelompok orang di bumi yang di tengah-tengah mereka Dia dapat bermukim dan mereka dapat masuk ke hadirat-Nya dalam tempat maha kudus. Sejak saat itu dan seterusnya, istilah ini dipakai berulang-ulang dalam Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Banyak sekali benda yang tercantum dalam kitab-kitab itu yang disebut kudus, sebab dalam kitab-kitab itu Allah telah datang di antara manusia dan manusia telah dibawa kepada Allah; karena itu, setiap benda yang berhubungan dengan Kemah Pertemuan dan keimaman itu kudus adanya. Setiap perkara yang berhubungan dengan pengaturan atau ketetapan Allah dalam Perjanjian Lama, kudus adanya, sebab ia berhubungan dengan pertemuan bersama antara Allah dan manusia.
Kita telah menunjukkan bahwa kali pertama istilah “Roh Kudus” dipakai adalah ketika Tuhan Yesus dikandung dalam rahim gadis Maria. Hal ini merupakan perkara yang jauh lebih besar daripada bermukimnya Allah dalam kemah di tengah-tengah manusia. Kemah (Pertemuan) adalah tempat kediaman Allah. Tetapi inkarnasi Kristus berarti berkemahnya Allah di tengah-tengah manusia. Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia (daging), dan tinggal (berkemah) di antara kita.” Hal ini berawal dari waktu Kristus dikandung dalam rahim Maria. Peristiwa itu bukan hanya masalah kekudusan, juga masalah Roh Kudus. Walau banyak benda dalam Perjanjian Lama itu kudus, tetapi tidak ada satu pun yang berasal dari Roh Kudus. Hanya dalam masa Perjanjian Baru, ketika Allah masuk ke da-lam manusia dan menjadi manusia, barulah kita memiliki sesuatu yang berasal dari Roh Kudus (Mat. 1:20).
Dalam kitab Perjanjian Baru Yunani sering kali dipakai ungkapan “Roh itu, yang kudus itu” (1Tes. 4:8; Ibr. 3:7). Saya belum menemukan satu penjelasan yang memadai tentang ungkapan Yunani yang demikian. Ada beberapa orang menjelaskannya sebagai satu ungkapan bahasa Yunani belaka, namun saya meragukan apakah penjelasan seperti itu sudah memadai. Menurut roh saya, saya percaya bahwa alasan untuk ini dikarenakan Perjanjian Baru bukan hanya menitikberatkan Roh, juga kekudusan. Roh itulah kekudusan. Maka, Roh Kudus kadang kala disebut Roh itu, yang kudus itu. Di mana Roh itu berada, di situ ada kekudusan.
Hari ini Roh itu tidak hanya ada dalam kita, Ia pun menyatukan diri-Nya dengan kita dan kita dengan-Nya. Satu Korintus 6:17 mengatakan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Karena itu, kekudusan sesungguhnya berarti diresapi oleh Allah, yakni membuat seorang yang biasa diresapi sepenuhnya oleh Roh itu. Tatkala Allah datang untuk tinggal di antara manusia, istilah “kudus” baru dipakai untuk kali pertama. Ketika Allah datang sebagai manusia, istilah “Roh Kudus” baru pula disebut untuk kali pertama. Untuk menguduskan suatu perabot di Kemah Pertemuan, tidak perlu Roh Kudus. Begitu perabot itu ditaruh dalam Kemah Pertemuan untuk Allah, ia segera menjadi kudus. Kita tidak seperti perabot yang untuk Allah itu, kita adalah orang-orang hidup yang dihuni Roh Allah di dalam kita, sehingga kita disatukan dengan-Nya. Ini bukan sekadar menjadi kudus, tetapi juga diresapi dengan Roh Kudus. Dikuduskan mula-mula berarti dipisahkan kepada Allah; kedua berarti diterima Allah; ketiga berarti dimiliki Allah; dan keempat berarti diresapi Allah dan disatukan dengan Allah. Akhirnya, hasil dari perkara ini dalam Alkitab adalah Yerusalem Baru, yang disebut kota kudus, sebuah kota yang bukan hanya milik Allah dan untuk Allah, tetapi diresapi Allah, dan bersatu dengan Allah. Yerusalem Baru adalah satu perwujudan kudus yang dimiliki Allah, diduduki Allah, diresapi Allah, dan yang bersatu dengan Allah. Inilah kekudusan.
E. Dipisahkan kepada Allah dalam Kedudukan
Untuk membuat kita menjadi kudus, pertama-tama kita perlu dipisahkan kepada Allah dalam kedudukan. Terhadap keluarga, tetangga, rekan, dan teman sekolah, kita perlu dipisahkan. Namun, banyak orang Kristen yang sudah diselamatkan, belum lagi dipisahkan. Dalam keadaan normal, begitu seseorang beroleh selamat, ia pun harus dipisahkan. Itulah sebabnya orang yang percaya disebut orang kudus. Lihatlah mayoritas orang Kristen hari ini. Pada hakekatnya mereka tidak berbeda dengan orang-orang duniawi. Pada mereka tidak ada pemisahan. Sampai-sampai banyak kerabat atau kawan mereka tidak tahu kalau mereka orang Kristen. Namun kudus berarti terpisah bagi Allah. Ini sudah tentu merupakan masalah kedudukan.
1. Oleh Darah Penebusan Kristus
Kita telah dipisahkan kepada Allah oleh darah penebusan Kristus (Ibr. 9:14). Tetapi kita tidak dapat nampak kuasa darah Kristus dalam kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Semua orang Kristen percaya diri mereka telah ditebus, namun dalam beberapa orang di antara mereka tidak ada tanda penebusan darah. Tanda darah itulah tanda pemisahan. Bila Anda telah ditebus oleh darah, Anda pun harus membawa tanda pemisahan. Mungkin orang lain boleh dengan bebas berkata atau berbuat sesuatu, namun Anda tidak dapat. Sekalipun Anda dapat melakukan perkara itu, tetapi Anda menahan diri untuk tidak melakukannya, karena Anda telah ditebus oleh darah. Pada Anda terdapat suatu tanda bahwa Anda berbeda dan terpisah. Kalau orang lain boleh menuturkan perkataan tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan membeli barang tertentu, kita tidak dapat, sebab kita telah dipisahkan dan membawa tanda darah penebusan. Darah ini telah menguduskan dan memisahkan kita.
2. Oleh Roh Kudus
Kita pun telah dipisahkan kepada Allah oleh Roh Kudus (1Kor. 6:11; 1Ptr. 1:2; Rm. 15:16). Karena kuasa Roh menaungi kita, kita tidak dapat mengucapkan katakata tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan mengerjakan perkara tertentu. Ini tidak berarti kita berada di bawah peraturan. Tidak, melainkan berarti bahwa kita berada di bawah darah penebusan dan di dalam Roh Kudus.
3. Di dalam Nama Tuhan Yesus
Kita mempunyai satu kedudukan yang dikuduskan, bukan hanya oleh darah dan oleh Roh, tetapi juga di dalam nama Tuhan Yesus (1Kor. 6:11). Karena kita membawa nama Tuhan Yesus, kita tidak boleh memalukan nama-Nya dengan bersikap umum. Orang lain boleh menonton pertandingan olahraga atau bioskop, tetapi kita tidak mau, karena kita tidak mau memalukan nama Tuhan. Nama-Nya harus memelihara kita agar kita selalu terpisah. Jangan bertanya apakah suatu perkara itu terbilang berdosa atau tidak berdosa. Pemisahan tidak berkaitan dengan perkara berdosa atau tidak berdosa, melainkan masalah umum atau terpisah. Kita wajib mem-bawa beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kita berada di bawah darah, di dalam Roh, dan di dalam nama Tuhan Yesus.
Tidak dapat disangkal, pemisahan bukanlah suatu masalah yang sangat dalam, ia hanyalah pada aspek kedudukan saja. Tetapi janganlah mengira kedudukan itu tidak penting. Kedudukan sangat penting. Kita memiliki kedudukan sebagai orang kudus, orang yang terpisah; kita perlu menjaga dan memelihara kedudukan ini.
4. Sebelum Pembenaran
Menurut doktrinnya, aspek pengudusan ini terjadi sebelum pembenaran (1Kor. 6:11). Pengudusan kedudukan mendahului pembenaran, tetapi pengudusan watak (sifat) menyusul pembenaran. Sebelum kita dibenarkan, kita telah dikuduskan oleh darah, oleh Roh Kudus, dan di dalam nama Tuhan Yesus.
F. Dijenuhi Allah dalam Watak Kita
1. Setelah Pembenaran
Kini kita meninjau masalah pengudusan watak (sifat) kita, yang terjadi sesudah pembenaran (Rm. 6:19, 22). Ini adalah pengudusan yang bukan hanya pada kedudukan kita, tetapi juga di dalam watak kita. Maka, hal ini lebih dalam dan lebih subyektif daripada pengudusan kedudukan.
Dalam pengudusan yang subyektif ini, kita dijenuhi Allah dalam watak kita. Pemisahan dapat terjadi lebih mudah dan memakan waktu yang sangat singkat, namun untuk dijenuhi dalam watak memakan waktu panjang. Jika kita setia kepada Tuhan, barulah kita akan dijenuhi dengan sifat Allah dari hari ke hari. Allah memang ingin menjenuhi kita dengan diri-Nya sendiri, dan kita wajib menyesap Allah ke dalam diri kita. Hal ini memerlukan waktu. Inilah proses pengudusan kita.
Allah telah memilih kita dengan tujuan menjenuhi kita dengan diri-Nya sendiri; Ia ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita. Kemudian kita akan menjadi kudus, sekudus Ia sendiri. Dewasa ini, kita semua berada dalam proses penjenuhan. Saya telah berada dalam proses ini lebih dari 50 tahun, dan saya masih berada di dalamnya, yakni masih “menyesap” Allah dari hari ke hari. Kadang kala istri saya atau saudara saudari saya membantu saya untuk menyesap Allah. Mereka membantu saya untuk rela dijenuhi, sekalipun sewaktu saya sendiri tidak mau. Maka, mau atau tidak, Tuhan tetap membuat saya dijenuhi-Nya dan menyesap-Nya. Banyak orang di antara kita yang dahulunya berada dalam kekristenan dapat bersaksi, ketika kita berada di sana, kita tidak mengalami banyak penjenuhan yang sedemikian. Akan tetapi sejak kita memasuki hidup gereja, kita mengalami sangat banyak penjenuhan Allah ini. Hidup gereja adalah hidup yang menyesap Allah. Mau atau tidak, kita tetap akan dijenuhi oleh unsur ilahi.
Saya tidak mempedulikan koreksi luaran, itu tidak ada artinya. Tetapi diresapi dan dijenuhi Allah sangat besar artinya. Dalam hidup gereja, Anda telah dikoreksi atau dijenuhi? Banyak di antara kita telah dijenuhi Allah dalam hidup gereja. Saya tidak mengapresiasi koreksi diri. Misalkan ada seseorang yang congkak dan ia mengoreksi dirinya supaya menjadi rendah hati, itu tidak ada artinya. Hanya satu perkara yang penting, yaitu kita dijenuhi Allah. Alangkah girangnya saya melihat banyak saudara saudari telah dijenuhi Allah; mereka telah menyesap kelimpahan Allah ke dalam diri mereka. Inilah kekudusan atau pengudusan yang diwahyukan dalam Alkitab.
Kita semua telah dipilih menjadi kudus dengan cara demikian. Pertama, kita dipisahkan kepada Allah; kedua, kita dijenuhi Allah; akhirnya kita menjadi satu dengan-Nya. Pada suatu hari, kita akan serupa dengan-Nya. Hal itu akan menjadi tanda kegenapan pengudusan kita, proses yang diawali pemisahan, dilanjutkan dengan penjenuhan, dan tergenap dengan penebusan sepenuhnya atas tubuh kita. Pada saat itu, kita akan menjadi benar-benar serupa dengan Dia lahir dan batin. Kita akan menjadi kudus. Dengan tujuan inilah kita dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan.
2. Melalui Transformasi Jiwa
Pengudusan secara watak ini pertama-tama mentransformasi (mengubah) jiwa kita melalui dijenuhinya tiap bagian batin insani kita oleh unsur Allah yang kudus (2Kor. 3:18; Rm. 12:2).
3. Melalui Transfigurasi Tubuh
Yang terakhir, pengudusan secara watak itu akan mentransfigurasi tubuh kita menjadi tubuh yang mulia seperti yang dimiliki Kristus (Flp. 3:21). Ini berarti unsur kudus Allah akan menjenuhi tubuh kita sehingga tubuh kita dapat ditebus (Rm. 8:23).
4. Terakhir Menjadi Kota Kudus
Melalui pengudusan watak tersebut, semua orang beriman pada akhirnya akan menjadi kota kudus yang dijenuhi oleh Allah yang kudus (Why. 21:2, 10).
V. TAK BERCACAT
Ayat 4 juga mengatakan bahwa kita dipilih di dalam Dia supaya kita tak bercacat. Suatu cacat adalah seperti sebutir benda asing dalam permata yang mahal. Kaum pilihan Allah seharusnya hanya dijenuhi dengan diri Allah, tanpa benda-benda asing, seperti unsur manusia alamiah yang telah jatuh, daging, diri, atau perkara-perkara duniawi. Inilah “tanpa cacat”, tanpa campuran apa pun, tanpa unsur lain, selain sifat kudus Allah. Setelah terbasuh seluruhnya dengan air dalam firman, gereja akan dikuduskan dengan cara demikian (Ef. 5:26-27).
Hari ini, kita masih memiliki banyak sekali campuran. Banyak benda asing, antara lain seperti daging, diri sendiri, dan hayat alamiah, masih terdapat di dalam kita. Tetapi kita sedang diubah secara berangsur-angsur. Maka, pada akhirnya kita akan dijadikan demikian kudus dan jernih, sehingga tanpa cacat, tanpa benda asing, melainkan hanya unsur ilahi semata.
VI. DI HADAPAN-NYA
Kita akan menjadi kudus tanpa bercacat di hadapan-Nya. “Di hadapan-Nya” menandakan bahwa kita kudus dan tak bercacat dalam pandangan Allah sesuai dengan standar Allah. Keadaan ini melayakkan kita untuk tetap di dalam hadirat-Nya dan menikmati penyertaan-Nya. Kita menjadi kudus dan tak bercacat bukan menurut standar atau pandangan kita sendiri, melainkan menurut standar-Nya dan pandangan-Nya.
VII. DALAM KASIH
Terakhir, kita akan menjadi kudus tak bercacat di hadapan-Nya, di dalam kasih. Kasih di sini mengacu kepada kasih Allah, dengan kasih ini Allah mengasihi umat pilihan-Nya, dan dengan kasih ini juga umat pilihan-Nya mengasihi Dia. Di dalam dan dengan kasih ini umat pilihan Allah menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Mula-mula Allah mengasihi kita, kemudian kasih Allah ini membangkitkan kita untuk mengasihi-Nya kembali. Dalam keadaan dan suasana kasih ini, kita dijenuhi Allah agar menjadi kudus dan tanpa cacat seperti apa adanya Dia. Dalam kasih ini, yaitu kasih yang timbal balik, Allah mengasihi kita, dan kita membalasnya dengan kasih pula. Dalam kondisi semacam inilah kita diubah. Di bawah kondisi seperti inilah, kita dijenuhi oleh Allah.
Saya harap kita dapat nampak bahwa kekudusan yang diwahyukan dalam Alkitab mutlak berbeda dengan ajaran tentang koreksi diri atau perbaikan kelakuan yang ada pada hari ini. Pertama, kita dipisahkan kepada Allah, lalu kita dijenuhi dengan Allah secara terus-menerus, hingga semua campuran dalam diri kita tertelan oleh sifat ilahi-Nya. Ketika hal ini mencapai kesempurnaannya, kita pun akan dikuduskan, diubah, dan diserupakan dengan gambar Anak Allah, Yesus Kristus, dengan sempurna. Akhirnya, kita akan menjadi kudus dengan sempurna.