← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 2/25

TIGA ASPEK PUJIAN (KATA-KATA INDAH)

Dalam berita ini kita akan membahas ketiga aspek dari pujian (kata-kata indah) terhadap Allah. Judul semacam ini mungkin kelihatannya sangat tidak lazim. Efesus 1:3 mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.” Istilah “terpujilah”, “mengaruniakan”, dan “berkat” dalam ayat ini, dalam bahasa Yunaninya memiliki kata dasar yang sama. Istilah Yunani yang diterjemahkan “terpujilah” berarti dibicarakan dengan baik, yaitu dipuji sembah; “mengaruniakan” berarti memuji atau menuturkan dengan baik; dan “berkat” berarti ucapan atau pengutaraan yang baik, tuturan yang baik, kata-kata yang indah yang menyiratkan kebaikan dan manfaat. Bila ditujukan untuk Allah, ini adalah suatu sanjungan dan pujian yang sejati, bahkan suatu pujian kepada Allah pada tingkat yang tertinggi. Istilah yang dipakai Rasul Paulus untuk memuji Allah dalam Efesus 1:3, dalam makna dasar Yunaninya adalah kata-kata indah (mengatakan yang baik). Dengan istilah ini Paulus menyanjung Allah, mengucapkan pujian yang indah, bahkan pujian yang elok kepada-Nya. Dengan ini pula Paulus memuji, menjunjung, dan meninggikan Allah. Maka, memuji Allah berarti mengatakan kata-kata indah tentang Allah.

I. TERPUJILAH ALLAH DAN

BAPA TUHAN KITA YESUS KRISTUS

Dalam pujian yang tinggi kepada Allah ini, Paulus tidak berkata, “Terpujilah Allah, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Banyak orang muda yang suka menyanyikan mazmur, khususnya Mazmur 136 yang mengatakan “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pujian terhadap Allah semacam ini sedikit pun tidak setinggi yang diucapkan oleh Paulus dalam Efesus 1:3 ini. Walaupun kita sulit memahami Efesus 1:3, tetapi kita mudah sekali mengerti apa artinya kata bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia Allah, sebab ini cocok dengan konsepsi alamiah kita.

Dalam kekristenan hari ini terdapat dua sumber utama percampuran. Percampuran pertama dibuat oleh gereja Katolik, mereka telah mencampurkan ekonomi Perjanjian Baru dengan tata cara Perjanjian Lama. Percampuran kedua dibuat oleh gerakan Pentakosta. Golongan Pentakosta mengembalikan orang Kristen kepada pujian Perjanjian Lama dalam Kitab Mazmur. Sudah tentu saya bukan menyalahkan Kitab Mazmur, tetapi saya menyalahkan cara mereka menyanyikannya menurut kon-sepsi alamiah itu. Sebagai contoh, tidak ada satu ayat pun dalam Perjanjian Baru yang mengatakan, “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia Allah.” Namun, golongan Pentakosta terus-menerus menyanyikan Kitab Mazmur menurut konsepsi alamiah. Saya tidak pernah men-dengar golongan Pentakosta menyanyikan Kitab Efesus, sebab bagi mereka Kitab Efesus adalah sebuah kitab yang tertutup. Dalam puji-pujian mereka tidak ada cita rasa inkarnasi, tidak ada petunjuk bahwa Allah telah menjadi satu dengan manusia. Untuk memuji Allah karena kasih setia-Nya yang kekal, tidak perlu wahyu. Siapa saja yang menaruh perhatian kepada Allah tentu mengetahui bahwa kasih setia-Nya kekal. Akan tetapi, jika ingin memuji Allah seperti yang diucapkan Paulus dalam Efesus 1:3, kita harus mempunyai wahyu.

Dalam Efesus 1:3 Paulus berkata, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Jika Yesus Kristus itu Allah, mengapa Paulus mengatakan Allah (dari) Yesus Kristus? Bagaimana mungkin Allah menjadi Allah-Nya? Tidak hanya demikian, Paulus juga mengatakan Bapa (dari) Yesus Kristus. Bagaimana mungkin Allah mempunyai seorang Bapa? Ditinjau dari Tuhan Yesus Kristus, kita sebagai Anak Manusia, Allah adalah Allah Tuhan kita Yesus Kristus; ditinjau dari Dia sebagai Anak Allah, Allah adalah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Menurut keinsanian Tuhan, Allah adalah Allah-Nya; menurut ke-ilahian Tuhan, Allah adalah Bapa-Nya.

Dalam ayat 3 Paulus juga membicarakan tentang Tuhan kita Yesus Kristus. Karena Tuhan Yesus Kristus adalah milik kita, maka hakiki Allah terhadap Dia juga merupakan milik kita. “Tuhan kita” mengacu kepada ketuhanan (Lordship) Juruselamat kita (Kis. 2:36); Yesus mengacu kepada Dia sebagai seorang manusia (1Tim. 2:5); dan Kristus mengacu kepada Dia sebagai Yang diurapi Allah (Yoh. 20:31).

Adalah mutlak benar jika kita mengatakan Allah penuh rahmat dan kasih setia-Nya kekal. Memang ini suatu ungkapan yang indah untuk menyanjung Allah. Namun, ungkapan sedemikian adalah menurut konsepsi alamiah kita semata. Hari ini kita berada di surga, di dalam kekekalan, di dalam kehendak hati Allah, dan di dalam tujuan Allah. Karena itu, kita tidak seharusnya memuji-muji Allah menurut konsepsi alamiah kita, melainkan menurut wahyu-Nya tentang diri-Nya sendiri. Pujian atas kasih setia dan keagungan Allah itu bertaraf sekolah dasar, sedang pujian dalam Efesus 1:3 bertaraf pasca sarjana. Dalam sidang kita perlu lebih banyak pujian tingkat tinggi.

Pujian Efesus dalam 1:3 sungguh dalam dan rahasia, karena mencakup seluruh ekonomi Perjanjian Baru. Di sini tidak saja ada penciptaan yang dinyatakan oleh sebutan “Allah”, tetapi juga ada inkarnasi yang ditunjukkan oleh sebutan “Allah Tuhan kita Yesus Kristus”. Wahyu pertama tentang Allah dalam Alkitab terdapat dalam penciptaan, sebab Alkitab dimulai dengan kalimat, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Setelah penciptaan ada inkarnasi. Pada suatu hari, Allah Pencipta berinkarnasi menjadi seorang manusia. Firman yang bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah itu, telah menjadi daging (manusia) (Yoh. 1:1, 14). Ketika Allah sendiri menjadi manusia, maka Allah yang menciptakan segala sesuatu itu menjadi Allah-Nya. Inilah inkarnasi, bukan hanya keagungan atau kasih setia Allah. Karena itu, Allah Tuhan kita Yesus Kristus dalam Efesus 1:3 mengacu kepada inkarnasi; Bapa Tuhan kita Yesus Kristus mengacu kepada penyaluran hayat.

Allah tidak hanya menciptakan, pada suatu hari, Dia juga berinkarnasi. Dalam inkarnasi Dialah Bapa yang menyalurkan hayat-Nya kepada semua anak-Nya. Allah Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia. Jika Dia hanya sebagai Allah, Allah tidak mungkin menjadi Allah-Nya. Agar Allah bisa menjadi Allah-Nya, Dia harus menjadi seorang manusia. Allah yang disembah orang-orang Yahudi hanyalah Allah yang menciptakan, bukan Allah yang berinkarnasi. Na-mun Allah yang kita sembah hari ini bukan hanya Allah yang menciptakan, tetapi juga Allah yang berinkarnasi dan Bapa yang menyalurkan hayat. Maka puji-pujian yang tertinggi terhadap Allah mengatakan bahwa Allah kita, Pencipta, telah menjadi seorang manusia, dan Allah kita juga sebagai Bapa penyalur hayat. Dalam inkarnasi, Allah Pencipta telah menjadi Allah Yesus. Pada saat yang sama, Allah pun menjadi Bapa Kristus (sebagai Anak Allah). Dalam keinsanian Kristus, Allah adalah Allah-Nya, tetapi dalam keilahian Kristus, Allah adalah Bapa-Nya. Sebelum penyaliban dan kebangkitan-Nya, Dia adalah Anak Tunggal Allah, tetapi setelah kebangkitan-Nya, Dia menjadi Anak Sulung Allah, yang menghasilkan banyak anak Allah. Karena itu, puji-pujian terhadap Allah yang di-ucapkan Paulus dalam Efesus 1:3 mencakup penciptaan, inkarnasi, dan penyaluran hayat.

Akan tetapi, memuji-muji kekekalan kasih setia Allah tidaklah mencakup inkarnasi atau penyaluran hayat, melainkan hanya mengatakan Allah penuh kasih setia. Puji-pujian demikian tidak ada hubungannya dengan Allah menjadi manusia atau penyaluran hayat-Nya, bahkan sama sekali tidak berkaitan dengan penyaluran hayat Bapa ke dalam ciptaan-Nya, agar mereka menjadi anak-anak Allah. Karena alasan inilah maka saya mengatakan puji-pujian tinggi dalam Efesus 1:3 berada di tingkat pasca sarjana, berbeda dengan puji-pujian yang mengatakan “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia Allah.”

Karena pujian Paulus dalam Efesus 1:3 sulit dimengerti, maka di tempat lain dalam Efesus 1, Paulus berdoa meminta Allah memberikan roh hikmat dan wahyu. Hari ini kita benar-benar memerlukan roh yang sedemikian. Kita perlu wahyu untuk melihat, kita pun perlu hikmat untuk mengerti, menyadari, dan memahami. Namun kebanyakan kita tidak mempunyai wahyu dan hikmat. Kita hanya mempunyai konsepsi alamiah. Karena itulah kita hanya bisa memuji, “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kita tidak seharusnya memuji sedangkal itu, melainkan perlu memuji-muji Allah menurut puji-pujian Efesus 1:3 ini. Kita harus memuji Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, memuji Dia atas penciptaan-Nya, inkarnasi-Nya, dan penyaluran hayat-Nya.

Apa adanya Allah bagi Kristus telah ditransmisikan kepada kita. Allah itu milik-Nya, dan Dia milik kita. Allah itu Allah dan Bapa-Nya, dan Dia adalah Tuhan kita. Nanti akan kita lihat dalam Efesus 1:22 bahwa Allah memberikan Kristus kepada gereja sebagai Kepala atas segala sesuatu. Istilah “kepada” yang kecil ini menyiratkan suatu transmisi, yang menunjukkan bahwa apa yang telah dicapai dan diperoleh Kristus telah ditransmisikan kepada gereja.

Sebutan “Tuhan kita Yesus Kristus” mengandung arti yang kaya. “Tuhan” berarti ke-Tuhanan (Lordship) Kristus, “Yesus” berarti keinsanan-Nya menjadi Penebus dan Juruselamat kita, dan “Kristus” berarti Dialah yang diurapi Allah. Ini merupakan keterangan lebih lanjut yang membuktikan bahwa Efesus 1:3 adalah puji-pujian yang top, dan penyanjungan tertinggi terhadap Allah. Kita semua perlu memuji-muji Allah dalam aspek-aspek sedemikian: Allah itu Allah yang menciptakan, berinkarnasi, yang menyalurkan hayat, dan yang mentransmisikan dengan penebusan; sebagai Penebus, Juruselamat, dan Persona yang diurapi untuk menggenapkan kehendak Allah yang kekal.

Ketika Bapa di surga mendengar puji-pujian Paulus yang setinggi ini, Dia pasti sangat gembira. Mungkin Dia akan berkata, “Paulus, sebelum engkau mengucapkan perkataan ini, Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang menyanjung Aku sedemikian. Aku pernah mendengar orang-orang Yahudi memuji-Ku, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Ku. Aku juga mendengar mereka memuji-muji-Ku karena keagungan-Ku. Namun Aku merasa bosan dengan puji-pujian yang demikian. Tetapi, Paulus, puji-pujianmu sungguh menjamah hati-Ku.” Sudah tentu Allah Bapa mengerti makna pujian Paulus. Kita semua perlu memuji Allah dengan pujian yang bermutu tinggi menurut Efesus 1:3 ini.

Bila kita hanya mengerti memuji Allah karena kasih setia-Nya, kita tetap berada dalam kondisi yang kasihan. Puji-pujian macam itu tidak menunjukkan ada sesuatu dari diri-Nya telah masuk ke dalam kita. Karena itu, kita perlu nampak bahwa Pencipta, Allah Yesus Kristus, telah berinkarnasi menjadi manusia, Dia pun Bapa Penyalur hayat yang menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai hayat ke dalam kita, sehingga kita dapat menjadi anak-anak-Nya. Berdasarkan Yohanes 20:17, setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus memberi tahu Maria Magdalena, “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Karena Kristus telah menjadi milik kita, maka segala apa adanya Allah bagi Kristus telah disalurkan ke dalam kita. Hal ini jauh lebih besar daripada kasih setia. Allah tidak lagi hanya memberikan kasih setia kepada kita. Dialah Allah dan Bapa kita, dan kita adalah anak-anak- Nya; bukan hanya makhluk ciptaan-Nya. Kita bukan hanya makhluk ciptaan Allah yang telah diciptakan, jatuh, dan ditebus, tetapi juga anak-anak-Nya, yang memiliki hayat dan sifat-Nya dalam batin kita. Jadi, kita bersatu dengan Dia. Oh, semoga Tuhan mencelikkan mata kita, agar kita nampak hal ini! Kita wajib memuji-muji Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru. Dalam puji-pujian kita harus terkandung pikiran inkarnasi, penyaluran hayat, dan transmisi yang surgawi dan rohani. Kita pun harus merangkum pikiran Kristus sebagai Tuhan, sebagai Kepala, dan Yesus sebagai Yehova, Juruselamat kita, yang merampungkan penebusan dan keselamatan bagi kita. Kita pun harus ingat bahwa Kristus adalah Persona yang diurapi Allah, yang telah menggenapkan kehendak Allah sepenuhnya. Puji-pujian kita yang tinggi kepada Allah tidak seharusnya alamiahnya, tetapi harus dipenuhi oleh wahyu tentang setiap aspek yang indah dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.

II. YANG TELAH MENGARUNIAKAN BERKAT

KEPADA KITA

Allah yang kita puji ini telah mengaruniakan berkat kepada kita. (Berkat dalam ayat 3, dalam bahasa aslinya berarti ucapan atau pengutaraan yang baik, kata-kata yang indah). Kata-kata indah Allah kepada kita mencakup seluruh Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, Allah mengucapkan kata-kata indah tentang kita. Kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru penuh dengan ungkapan dan kata-kata indah Allah tentang kita. Salah satu contoh dari kata-kata indah Allah itu tercatat dalam Wahyu 22:14, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.”. Kata-kata “anugerah dan damai sejahtera . . . menyertai kamu”, juga merupakan sebagian dari kata-kata indah Allah. Jika Anda ingin mendengar kata-kata indah Allah, Anda perlu membaca Perjanjian Baru, dan mengaminkan setiap aspeknya. Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Amin. Dia memilih kita agar kita kudus dan tak bercacat. Amin.

Kita memuji Allah, karena Allah telah memberkati kita. Karena Dia telah mengatakan kata-kata yang begitu indah terhadap kita, maka kita membalas-Nya pula dengan kata-kata indah. Sebagai contoh, ketika kita membaca tentang penebusan tubuh kita, kita harus berkata, “Ya Allah, betapa syukurku kepada-Mu, karena engkau telah masuk ke dalamku, dan engkau telah menjenuhi aku dengan diri-Mu sendiri. Pada suatu hari, jenuhan-Mu ini akan terekspresi melalui tubuhku. Itulah saat tubuhku ditebus. Ya Allah, betapa syukurku kepada-Mu atas hal ini!” Berkata demikian berarti membalas Allah dengan kata-kata indah. Jadi, Dia memberkati Anda, Anda pun memuji-muji Dia. Belajarlah mengucapkan kata-kata indah kepada Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Setelah mendengar kata-kata indah Allah terhadap kita, kita pun memenuhi syarat untuk mengucapkan kata-kata indah, yakni memuji-muji-Nya.

Kita memenuhi syarat, sebab kita adalah makhluk ciptaan-Nya, umat tebusan-Nya, dan umat yang dilahirkan kembali oleh-Nya. Semua berkat, kebaikan, dan manfaat dalam alam semesta ini terbagi dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah penciptaan Allah, kategori kedua ialah penebusan Allah, dan kategori ketiga ialah kelahiran kembali Allah. Dalam penciptaan Allah, kita menikmati banyak sekali benda yang baik dan indah, seperti udara, cahaya matahari, mineral, hayat binatang, hayat tumbuhan. Semua itu adalah barang yang baik dan indah dalam penciptaan Allah, dan kita memenuhi syarat untuk mengambil bagian atas semua itu, karena kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Selain itu, sebagai umat tebusan, kita menikmati pengampunan dosa, pembenaran oleh iman, pendamaian dalam anugerah Allah, dan pe-ngudusan. Karena kita telah ditebus, maka semua kebaikan dalam penebusan Allah menjadi milik kita. Selain itu, karena kita telah dilahirkan kembali, kita menikmati hayat Allah, sifat-Nya, dan pribadi-Nya. Melalui ketiga kualifikasi ini — diciptakan, ditebus, dan dilahirkan kembali — kita benar-benar memenuhi syarat untuk menikmati segala berkat dalam alam semesta ini; yakni berkat-berkat Allah dalam penciptaan, penebusan, dan kelahiran kembali. Para malaikat mungkin tidak berdosa, tetapi mereka tidak bersyarat untuk menikmati semua berkat ini. Namun melalui darah Kristus, kita menikmati pengampunan dosa, pembasuhan darah, pembenaran oleh iman, dan pendamaian dengan Allah. Kita menikmati semua berkat dalam penebusan Kristus. Tidak hanya demikian, dari hari ke hari kita menikmati segala kebaikan dan manfaat dari kelahiran kembali. Kita memiliki hayat ilahi, sifat ilahi, dan Persona ilahi. Adakah yang lebih tinggi daripada ini? Hari ini kita menikmati Pencipta, Penebus, dan Bapa. Itulah aspek kedua dari kata-kata indah.

III. SEGALA BERKAT ROHANI DALAM SURGA

DI DALAM KRISTUS

Aspek ketiga dari kata-kata indah ialah bahwa Allah “dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.” Allah telah memberkati kita dengan kata-kata-Nya yang baik dan indah. Tiap kata-kata yang demikian adalah berkat bagi kita. Ayat 4-14 adalah suatu catatan kata-kata indah atau berkat yang sedemikian. Semua berkat ini bersifat rohani, di dalam surga, dan di dalam Kristus.

A. Segala

Istilah “segala” di sini menunjukkan kealmuhitan (meliputi segala sesuatu, all inclusive) berkat Allah. Berkat ini meliputi segala sesuatu, tanpa ada yang terkecuali.

B. Rohani

Semua berkat ini bersifat rohani. Ini menunjukkan hubungan antara berkat Allah dengan Roh Kudus. Karena segala berkat yang digunakan Allah untuk memberkati kita bersifat rohani, maka hal ini berhubungan dengan Roh Kudus. Roh Allah bukan hanya saluran, tetapi juga realitas berkat-berkat Allah. Dalam ayat ini, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh, semuanya berhubungan dengan berkat-berkat yang dikaruniakan kepada kita. Sebenarnya, berkat Allah atas kita adalah penyaluran diri-Nya sendiri ke dalam kita. Maka berkat-berkat Allah terutama ialah untuk menyalurkan Allah yang Tritunggal ke dalam kita.

C. Di dalam Surga

Selain itu, berkat-berkat rohani ini ialah berkat yang ada di dalam surga. Kata “surga” di sini bukan hanya menandakan tempat surgawi, tetapi juga sifat, keadaan, ciri-ciri, dan atmosfer surgawi dari berkat-berkat rohani yang dengannya Allah telah memberkati kita. Berkat-berkat ini berasal dari surga, memiliki sifat surgawi, keadaan surgawi, ciri-ciri surgawi, dan atmosfer surgawi. Kaum beriman dalam Kristus di bumi sedang menikmati berkat-berkat surgawi ini, yang rohani juga surgawi. Berkat-berkat ini berbeda dengan berkat-berkat yang Allah berikan kepada orang Israel. Berkat-berkat itu ber-sifat jasmaniah dan bumiah. Berkat-berkat yang dikaruniakan ke atas kita adalah dari Allah Bapa, dalam Allah Putra, melalui Allah Roh, dan di dalam surga.

D. Di dalam Kristus

Terakhir, segala berkat rohani itu adalah di dalam Kristus. Kristus adalah kebajikan, alat, dan ruang lingkup tempat Allah memberkati kita. Di luar Kristus, terpisah dari Kristus, Allah tidak ada hubungannya dengan kita, tetapi dalam Kristus, Dia telah memberkati kita dengan berkat rohani di dalam surga.

Kita bukan berada di dalam diri sendiri, melainkan di dalam Kristus. Bila kita berada dalam diri sendiri, kita putus hubungan dengan berkat Allah. Haleluya! Kita berada di dalam Kristus, Dialah ruang lingkup, saluran, alat, dan kebajikan yang di dalamnya kita telah diberkati.