KATA PENGANTAR KITAB EFESUS
Berita pertama ini merupakan kata pengantar Kitab Efesus. Walaupun ini hanya kata pengantar, namun di sini kita akan membahas perkara yang amat penting, menentukan, dan berbobot.
I. POKOK — GEREJA
A. Tubuh
Pokok Kitab Efesus ialah gereja. Kitab Efesus membahas tujuh aspek gereja. Aspek pertama ialah gereja sebagai Tubuh Kristus, kepenuhan-Nya yang memenuhi segala sesuatu di dalam segala sesuatu. Jika seorang yang hidup ingin menjadi sempurna, ia harus memiliki satu tubuh sebagai ekspresinya. Tubuh Kristus ialah kepenuhan-Nya, yang memenuhi segalanya di dalam segalanya.
Orang Kristen hari ini telah menyalahgunakan, menyalahpahami, dan menyalahtafsirkan istilah “kepenuhan” ini. Kebanyakan guru Kristen mengira kepenuhan adalah kekayaan. Maka ketika orang Kristen membicarakan masalah kepenuhan Kristus, mereka mengartikannya kekayaan Kristus. (Walau ada banyak orang Kristen yang membicarakan tentang kepenuhan Roh Kudus atau kepenuhan Allah, tetapi jarang yang menyinggung tentang kepenuhan Kristus.) Menurut Kitab Efesus, istilah “kepenuhan” bukan berarti “kekayaan”, melainkan berarti ekspresi. Istilah “kekayaan Kristus” tercantum dalam Efesus 3:8, sedang istilah “kepenuhan” tercantum dalam Efesus 1:23 dan 4:13. Pasal pertama mengatakan kepe-nuhan Dia yang memenuhi segalanya di dalam segalanya, dan pasal 4 mengatakan kadar atau ukuran perawakan kepenuhan Kristus. Menurut Efesus 4:13, kepenuhan mempunyai suatu perawakan, dan perawakan mempunyai suatu ukuran (kapasitas). Kita masing-masing mempunyai satu perawakan, sebab kita mempunyai satu tubuh. Jika kita hanya kepala tanpa tubuh, tentu kita tidak mempunyai perawakan. Kepenuhan Kristus adalah Tubuh, karena Efesus 4:13 mengatakan bahwa kepenuhan ini punya satu perawakan berikut satu ukuran. Maka kita mempunyai ukuran perawakan kepenuhan Kristus.
Kepenuhan berbeda dengan kekayaan; kekayaan tidak memenuhi perawakan. Namun, kepenuhan yang merupakan Tubuh ini mempunyai satu perawakan, bahkan pada perawakan ini terdapat satu ukuran. Jadi, ini membuktikan dengan kuat bahwa kepenuhan Kristus bukan kekayaan Kristus, melainkan Tubuh Kristus.
Memahami mengapa Tubuh Kristus disebut kepenuhan sangatlah penting dan bermakna. Tubuh seseorang justru berarti kepenuhan orang itu sendiri, dan kepenuhan ini juga berarti ekspresinya. Sewaktu saya berbicara, tubuh saya ikut bergerak. Dengan demikian, manusia saya terekspresi lewat tubuh saya. Begitu pula, gereja adalah Tubuh Kristus, dan Tubuh ini merupakan kepenuhan Dia yang memenuhi segalanya di dalam segalanya. Alangkah dalamnya hal ini! Alam semesta dipenuhi oleh Kristus. Sebagai Persona yang memenuhi segalanya di dalam segalanya, Kristus sungguh tak kepalang tanggung besarnya. Persona yang demikian agung ini memerlukan satu Tubuh yang agung pula, dan Tubuh ini ialah gereja. Karena itu, gereja adalah Tubuh Kristus, kepenuhan-Nya.
Kekayaan Kristus dapat diumpamakan sebagai bahan makanan yang diproduksi di Amerika Serikat. Kekayaan itu bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dimakan. Ketika kita memakan bahan makanan Amerika Serikat yang kaya itu, kekayaan tersebut seolah-olah melenyap ke dalam diri kita. Setelah kekayaan itu dicerna dan diserap oleh kita, kekayaan itu menjadi bagian kita. Hasilnya, ia bukan lagi kekayaan, tetapi kepenuhan. Jadi kaum muda Amerika Serikat berawak besar karena menyerap begitu banyak bahan makanan Amerika Serikat yang kaya, merekalah kepenuhan Amerika. Melalui perumpamaan ini, kini kita dapat membedakan kekayaan dengan kepenuhan. Kekayaan berarti makanan yang masih belum kita makan, sedang kepenuhan adalah makanan yang telah kita makan, kita cerna, bahkan kita serap. Kekayaan Kristus adalah segala apa adanya Kristus. Tatkala kita mencerna dan menyerap kekayaan Kristus ke dalam diri kita, segala kekayaan itu akan menjadi bagian kita, dan kita pun menjadi kepenuhan-Nya. Jadi, gereja sebagai Tubuh Kristus adalah kepenuhan Persona yang betapa besar yang universal, yang memenuhi segalanya dan di dalam segalanya. Inilah hal atau aspek pertama dari apa adanya gereja.
B. Manusia Baru
Kedua, gereja ialah manusia baru (2:15). Dalam alam semesta hanya ada satu manusia baru; gerejalah manusia baru itu. Antara Tubuh dengan manusia baru terdapat satu perbedaan yang nyata. Tubuh hanya memerlukan hayat, tetapi manusia baru memerlukan hayat dan pribadi. Tubuh saya memerlukan hayat, namun diri saya sebagai seorang manusia memerlukan pribadi. Gereja bukan hanya Tubuh Kristus yang memiliki hayat Kristus, gereja juga manusia baru yang memiliki Kristus sebagai pribadi. Tidak dapat diragukan, manusia baru ini bersifat korporat, sebab dalam Efesus 2:15 dikatakan bahwa Kristus menciptakan satu manusia baru dari bangsa Yahudi dan bangsa bukan Yahudi. Ini berarti kedua golongan orang tersebut telah tercipta menjadi satu manusia baru. Bila kita nampak gereja hari ini bukan hanya suatu Tu-buh, bahkan suatu manusia yang berpribadi, pengenalan kita tentang hidup gereja akan dipertinggi.
C. Kerajaan
Dalam Efesus 2:19 kita nampak gereja adalah Kerajaan Allah. Ayat ini mengatakan, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Kata kawan sewarga menandakan Kerajaan Allah, karena menjadi kawan sewarga berarti menjadi seorang yang memiliki hak warga negara, dan hak warga negara ini selalu berkaitan dengan suatu bangsa atau kerajaan. Karena itu, ayat 19 ini mewahyukan bahwa gereja adalah Kerajaan Allah, dan kita adalah warga negara kerajaan ini, yang memiliki hak-hak warga negara tertentu. Ketika kita menikmati hak-hak itu, kita juga harus mengambil bagian atas kewajiban-kewajibannya. Maka sebagai Kerajaan Allah, gereja memiliki hak berikut kewajiban. Jika kita menginginkan hak, kita pun harus memikul kewajiban. Namun, kadang-kadang kita mungkin ingin menikmati hak saja, enggan memikul kewajiban. Sebenarnya kedua-duanya wajib kita terima, yaitu menikmati hak dan memikul kewajiban. Inilah gereja sebagai Kerajaan Allah.
D. Keluarga Allah
Keempat, gereja adalah keluarga Allah (Ef. 2:19). Keluarga bukan masalah hak warga negara, melainkan masalah hayat dan kenikmatan. Dalam keluarga Anda tidak banyak membicarakan soal hak, sebab di sana Anda mempunyai hayat ayah serta kenikmatan atas hayatnya. Jadi, gereja sebagai keluarga atau rumah tangga Allah berkaitan dengan masalah hayat dan kenikmatan.
Banyak orang beriman menyukai hidup gereja yang bergaya keluarga, bukan yang bergaya kerajaan; ini berarti mereka selalu menginginkan waktu yang indah dan kenikmatan yang mengasyikkan. Akan tetapi, kita tidak dapat selamanya diam di rumah. Kita perlu menggunakan beberapa jam dalam sehari untuk mencari nafkah di luar rumah. Jadi, kita tidak boleh hanya memiliki kenikmatan keluarga, kita pun harus memikul kewajiban kerajaan. Gereja tidak dapat selalu menjadi keluarga Allah, gereja juga harus menjadi Kerajaan Allah. Namun demikian, saya girang, karena dalam keluarga Allah, yaitu gereja, kita memiliki hayat dan kenikmatan.
E. Tempat Kediaman Allah
Dalam Efesus 2:21-22 kita nampak bahwa gereja juga adalah tempat kediaman Allah. Ayat 21 mengatakan, “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” Ini ditujukan kepada pembangunan yang universal. Ayat 22 mengatakan bahwa kaum beriman di Efesus terbangun bersama menjadi suatu tempat kediaman Allah di dalam roh. Ini adalah pembangunan yang bersifat lokal. Secara universal, gereja adalah bait dalam Tuhan, sedang secara lokal, gereja ialah tempat kediaman Allah di dalam roh kita.
F. Mempelai Perempuan — Istri Kristus
Dalam pasal 5 kita nampak bahwa gereja adalah mempelai perempuan — istri Kristus. Seorang istri ialah untuk kepuasan suami. Ketika Adam hidup seorang diri, Alkitab mengatakan, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej. 2:18). Perkataan ini menunjukkan ketika Adam seorang diri, ia tidak memiliki kesenangan atau kepuasan. Adam memerlukan seorang istri. Setelah Adam mendapat seorang istri, barulah ia mempunyai perhentian dan kepuasan. Karena itu, menurut Alkitab, mempelai perempuan, istri, adalah untuk perhentian dan kepuasan. Tanpa perhentian, mungkinkah kita puas? Maka kepuasan yang penuh berarti menikmati perhentian yang penuh. Hari pernikahan seorang lelaki adalah hari kepuasan dan perhentiannya. Karena Kristus mengasihi gereja, gereja adalah perhentian dan kepuasan-Nya.
Kasih Kristus yang ditujukan kepada gereja berbeda dengan kasih-Nya yang ditujukan kepada orang dosa. Orang Kristen sering membicarakan tentang kasih Kristus terhadap orang dosa, tetapi jarang yang membicarakan kasih-Nya terhadap istri-Nya. Kita dulu adalah orang dosa, tetapi kini kita adalah istri Kristus. Tak peduli kita pria atau wanita, kita semua adalah istri-Nya. Gereja adalah istri untuk kepuasan Kristus.
G. Pejuang
Terakhir, Efesus 6 mewahyukan bahwa gereja ialah pejuang, yaitu pejuang yang korporat. Kalau pasukan tentara terdiri atas banyak prajurit, maka pejuang adalah seorang saja. Gereja adalah manusia baru, dan manusia baru ini ialah seorang pejuang. Seluruh perlengkapan senjata Allah yang tercantum dalam pasal 6 bukan untuk orang Kristen perorangan, melainkan untuk seluruh gereja, manusia baru ini. Sebagai pejuang, gereja melawan musuh Allah dan menaklukkannya.
Jika kita menggabungkan ketujuh aspek gereja tersebut di atas, kita akan nampak sebuah lukisan gereja yang sangat indah: sebagai Tubuh, gereja mengekspresikan Kristus; sebagai manusia baru, gereja menerima Kristus sebagai pribadi; sebagai kerajaan, gereja mempunyai hak dan kewajiban; sebagai keluarga, gereja memiliki hayat dan kenikmatan; sebagai tempat kediaman Allah, gereja memberi Allah tempat tinggal; sebagai mempelai perempuan, gereja memuaskan Kristus; dan sebagai pejuang, gereja berperang dan mengalahkan musuh, sehingga Allah dapat menggenapkan kehendak-Nya yang kekal. Inilah gereja.
Apa yang dilakukan oleh gereja tidak sepenting apa adanya gereja. Gereja adalah Tubuh, manusia baru, kerajaan, keluarga, tempat kediaman, istri, dan pejuang. Apa yang kita lakukan tidaklah begitu penting, namun apa adanya kita, sangatlah penting. Dalam gereja yang terlukis dalam Kitab Efesus ini, Kristus telah diekspresikan. Melalui gereja yang demikian, Kristus, Persona ini telah dihidupkan. Dalam gereja yang demikian, terdapatlah Kerajaan Allah yang disertai hak dan kewajiban; bahkan, sebagai keluarga Allah, gereja adalah yang membawakan hayat dan kenikmatan. Gereja ini juga adalah tempat kediaman Allah, kepuasan Kristus, dan pejuang Allah yang berperang demi kehendak kekal-Nya. Alangkah hebatnya gereja ini!
Bila kita nampak visi gereja, kita akan tahu betapa kasihannya situasi agama hari ini. Dalam agama kita tidak nampak Tubuh atau manusia baru. Selain itu kita tidak nampak kerajaan, keluarga Allah, tempat kediaman Allah, mempelai perempuan Kristus, atau pejuang Allah. Sebagai gereja, kita harus menjadi ketujuh aspek tersebut. Terutama mereka yang memimpin dalam gereja, perlu nampak visi gereja yang tercantum dalam Kitab Efesus ini. Gereja bukan sebuah sekolah, lembaga masyarakat, atau organisasi. Gereja adalah Tubuh, manusia baru, kerajaan, keluarga, tempat kediaman, mempelai perempuan, dan pejuang. Inilah gereja dan inilah pokok Kitab Efesus. Karena Kitab Efesus mempunyai pokok yang sedemikian, maka kitab ini sangat limpah tidak habis terkatakan.
Namun, masih banyak lagi aspek gereja yang tercantum dalam kitab terakhir dari Alkitab. Dalam Kitab Wahyu kita nampak empat aspek lain dari gereja: Gereja sebagai kaki dian, anak laki-laki, buah sulung, dan kota kudus. Hanya satu aspek gereja yang tercantum dalam Kitab Wahyu, yaitu mempelai perempuan, yang sepadan dengan aspek yang terdapat dalam Kitab Efesus.
II. ISI
A. Berkat yang Diterima Gereja di dalam Kristus
Sekarang baiklah kita meninjau isi Kitab Efesus. Perkara pertama dalam isi kitab ini ialah berkat yang diterima oleh gereja di dalam Kristus (1:3-14). Tidak banyak orang yang memahami istilah “berkat” dengan tepat. Berkat ini bukan sejenis benda seperti mobil baru atau rumah yang mentereng. Rasul Paulus berdoa agar gereja beroleh wahyu untuk melihat semua berkat yang telah diterimanya. Berkat-berkat material seperti mobil atau rumah itu tidak perlu wahyu untuk melihatnya. Tetapi berkat yang diperoleh gereja memerlukan wahyu. Kebanyakan orang Kristen justru tidak nampak berkat yang telah diterima oleh gereja.
B. Doa Rasul bagi Gereja untuk Wahyu
Setelah mewahyukan berkat-berkat ini kepada gereja, Rasul Paulus berdoa agar kaum beriman memiliki roh hikmat dan wahyu untuk memahami hasil dari berkat-berkat ini, dan mengetahui kuat kuasa yang mendatangkan berkat ini, agar gereja dapat menjadi Tubuh Kristus, yakni kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu (1:15-23).
C. Kelahiran, Sifat, Kedudukan,
Pembangunan, dan Fungsi Gereja
Menyusul penyebutan gereja pada akhir pasal 1, pasal 2 memperlihatkan kepada kita tentang kelahiran, sifat, kedudukan, pembangunan, dan fungsi gereja.
D. Wahyu Rahasia dan Ministri
Kepengurusan Rumah Tangga Gereja
Dalam Efesus 3:1-13 kita memiliki wahyu dari rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga gereja. Tidak banyak orang Kristen yang mengerti apa itu ministri kepengurusan rumah tangga. Ada suatu hal yang disebut kepengurusan rumah tangga, dan kepengurusan rumah tangga ini mempunyai satu ministri. Ministri kepengurusan rumah tangga ini berkaitan dengan gereja. Maka bukan rahasia saja yang berkaitan dengan gereja, tetapi juga kepengurusan rumah tangga. Jika kita ingin memahami gereja, kita perlu mengenal wahyu rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga. Masalah ini akan kita bahas secara rinci bila kita tiba pada pasal 3.
E. Doa Rasul bagi Gereja untuk Mengalami Kristus
Rasul tahu bahwa perkara rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga adalah perkara yang sangat dalam, maka rasul segera berdoa agar gereja dapat mengalami Kristus secara riil (3:14-21). Gereja yang diwahyukan dalam rahasia dan yang dilayankan oleh kepengurusan rumah tangga memerlukan pengalaman atas Kristus. Rasul Paulus berdoa untuk hal ini.
F. Kehidupan dan Kewajiban Gereja di dalam Roh
Dalam pasal 4 sampai pasal 6 kita nampak kehidupan dan kewajiban gereja di dalam Roh. Jika kita mempunyai satu pandangan yang jernih atas isi Kitab Efesus, segenap Kitab Efesus akan terungkap di hadapan kita. Kita akan nampak berkat-berkat antara lain: pemilihan Allah, penentuan, keputraan, kekudusan, penebusan, pemeteraian, jaminan, dan masih banyak lagi. Kemudian kita akan nampak doa rasul untuk roh hikmat dan wahyu supaya kita mengetahui pengharapan panggilan Allah, nampak kemuliaan warisan Allah di antara kaum beriman-Nya, dan memahami kebesaran kuat kuasa yang telah tergarap dalam Kristus untuk melahirkan Tubuh. Kemudian dalam pasal 2, kita akan nampak kelahiran gereja, sifat gereja, visi gereja, pembangunan gereja, dan fungsi gereja. Dalam pasal 3 kita akan nampak wahyu rahasia dan ministri kepengurusan rumah tangga gereja. Selanjutnya kita akan nampak doa Paulus untuk penguatan manusia batiniah kita, agar Kristus dapat berumah di dalam hati kita, dan agar kita dapat dipenuhi dengan segala kepenuhan Allah. Hal ini memungkinkan kita mengalami Kristus secara riil. Sesudah itu, seperti yang diwahyukan dalam ketiga pasal terakhir, kita akan mengetahui bagaimana kita harus hidup di bumi, bagaimana kita harus menanggung kewajiban, dan bagaimana kita berperang bagi kehendak Allah. Demikianlah isi Kitab Efesus.
III. CIRI-CIRI
Kitab Efesus memiliki ciri-ciri yang khusus. Tidak seperti Kitab Roma, yang membahas dari keadaan orang dosa. Kitab Efesus berbicara dari kehendak Allah yang kekal. Pada pasal-pasal permulaan Kitab Roma, kita nampak keadaan orang dosa. Dalam Roma 1 tercantum daftar segala jenis dosa. Namun, daftar yang demikian tidak terdapat dalam Efesus 1. Ini disebabkan Kitab Efesus bukan berbicara dari keadaan orang dosa, melainkan dari kehendak Allah yang kekal. Tambahan pula, Kitab Efesus berbicara dari kekekalan, bukan dari waktu; dan dari surga, bukan dari bumi. Kitab Efesus membawa kita ke dalam kekekalan. Janganlah tertinggal di dalam waktu — masuklah ke dalam kekekalan. Karena Kitab Efesus membawa kita ke dalam surga, kita tidak seharusnya tertinggal di dalam keadaan kita sendiri, sebaliknya kita harus berada di dalam kekekalan dan surga. Kita berada dalam kehendak Allah yang kekal, dan kita tidak perlu memandang keadaan diri kita sendiri. Sebaliknya, marilah kita memandang kehendak Allah yang kekal. Karena kita begitu terikat oleh keadaan kita dan terbungkus di dalamnya, maka kita perlu diselamatkan. Kitab Efesus memperhatikan kehendak Allah jauh lebih banyak daripada memperhatikan keadaan kita. Kitab Efesus berbicara kepada kita dari inti kehendak Allah. Ketika kita membaca kitab ini, kita perlu berdoa, “Oh Tuhan, bawalah aku keluar dari keadaanku, keluar dari bumi, dan keluar dari waktu. Tuhan, selamatkanlah aku dari keadaanku dan bawalah aku masuk ke dalam kekekalan dan surga. Aku ingin masuk ke dalam hati Allah dan ke dalam kehendak-Nya yang kekal.”
Pada tahun-tahun yang lalu, ketika saya membaca Kitab Efesus, saya seperti katak dalam tempurung yang sempit. Dari posisi saya di dalam tempurung itu, saya mencoba memahami Kitab Efesus ini. Tetapi saya tidak berdaya memahaminya. Untuk memahami kitab ini, kita perlu dilepaskan dari keadaan kita dan dibawa masuk ke dalam kehendak Allah yang kekal dan ke dalam surga. Bila kita membaca Kitab Efesus dari posisi yang sedemikian, pembacaan kita akan lain. Ciri kitab ini ialah ditulis dari kekekalan, dari surga, dari hati Allah, dan dari kehendak Allah yang kekal.
IV. KEDUDUKAN
Kitab Efesus mempunyai satu kedudukan khusus dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru. Janggal sekali seandainya Kitab Efesus menjadi kitab pertama Perjanjian Baru. Terpujilah Tuhan, karena kitab ini telah ditempatkan pada posisi yang benar dan tepat, yakni segera setelah adanya wahyu tentang Kristus berlawanan dengan agama (Kitab Galatia), diikuti dengan pengalaman kita yang riil atas Kristus (Kitab Filipi), dan memimpin kepada Sang Kepala (Kitab Kolose).
A. Sesudah Wahyu tentang Kristus
Berlawanan dengan Agama
Dalam Kitab Galatia kita nampak masalah Kristus berlawanan dengan agama. Kita tidak boleh mengganti Kristus dengan perkara apa pun. Ini berarti bukan emosi kita berlawanan dengan agama, atau praktek kita berlawanan dengan agama, melainkan Kristus berlawanan dengan agama. Kitab Efesus menyusul setelah wahyu Kristus berlawanan dengan agama ini, membawa kita kepada gereja. Kristus berlawanan dengan agama bukan sekadar untuk pengalaman kita; itu adalah penekanan yang tidak tepat oleh orang-orang yang menyebut dirinya aliran hayat batiniah; mereka memang mencari Kristus, tetapi bukan untuk gereja, melainkan untuk pengalaman mereka sendiri. Kristus berlawanan dengan agama terutama bukan untuk pengalaman kita, melainkan untuk gereja. Galatia 2:20 mengatakan bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus, dan Kristus hidup di dalam kita. Pengalaman ini seharusnya ditujukan untuk hidup gereja.
B. Diikuti oleh Pengalaman yang Riil atas Kristus
Adalah hal yang keliru bila kita terlalu memperhatikan pengalaman pribadi atas Kristus sehingga mengabaikan gereja. Namun, bila kita terlalu mementingkan gereja dan mengabaikan pengalaman yang riil atas Kristus, itu pun tidak benar. Kepada orang yang hanya mementingkan pengalaman pribadi tanpa mementingkan gereja, saya ingin berkata, “Kalian harus maju ke depan, dari Kitab Galatia menuju Kitab Efesus.” Tetapi kepada mereka yang terlalu mementingkan gereja, sehingga mengabaikan pengalaman atas Kristus, saya akan berkata, “Kalian harus ingat, setelah Kitab Efesus ada Kitab Filipi.” Kita perlu pengalaman yang riil atas Kristus, agar kita dapat berkata, “Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku” (Flp. 1:20); kita juga harus bisa berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Bahkan kita harus dapat menganggap segala sesuatu seperti sampah, karena kemustikaan Kristus (Flp. 3:8). Kita semua perlu mengalami Kristus. Sebelum seseorang masuk ke dalam gereja, ia harus memiliki pengalaman atas Kristus, dan setelah ia masuk ke dalam gereja, ia bahkan perlu mengalami-Nya lebih banyak.
C. Dipimpin kepada Sang Kepala
Pengalaman atas Kristus akan memimpin kita kepada Sang Kepala. Karena itu, setelah Kitab Filipi, ada Kitab Kolose. Saya sangat menyukai Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose. Saya telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempelajari keempat kitab ini daripada kitab lainnya dalam Alkitab. Kita semua perlu meluangkan lebih banyak waktu atas keempat kitab ini. Kitab Galatia memuat wahyu Kristus berlawanan dengan agama, Kitab Efesus membahas ketujuh aspek gereja, Kitab Filipi membicarakan pengalaman riil atas Kristus, dan Kitab Kolose memimpin kita kepada Sang Kepala. Kalau kita memasuki keempat kitab ini, kita akan nampak Kristus ada di sini, Kristus membawa kita memasuki gereja, hidup gereja membawa kita mengalami Kristus dari hari ke hari, dan semuanya itu membawa kita kepada Sang Kepala. Demikianlah kedudukan Kitab Efesus dalam Perjanjian Baru.
V. PENULIS
Sekarang kita perlu melihat penulis Kitab Efesus. Kita tahu penulisnya ialah Rasul Paulus. Efesus 1:1 mengatakan, “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah.” Paulus dijadikan seorang rasul Kristus bukan oleh manusia, tetapi melalui kehendak Allah, sesuai dengan ekonomi Allah. Kedudukan ini memberinya otoritas untuk menjabarkan wahyu tujuan kekal Allah mengenai gereja dalam surat ini. Gereja dibangun di atas wahyu ini (2:20). Paulus sebagai rasul Kristus ditujukan kepada kedudukannya, sedang ia sebagai rasul oleh kehendak Allah ditujukan kepada kekuasaannya. Sebagai seorang rasul yang demikian, Paulus menjadi penulis kitab ini.
VI. PENERIMA
A. Orang-orang Kudus di Efesus
Bagian akhir dari Efesus 1:1-2 menerangkan, “Kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” Penerima surat ini ialah orang-orang kudus di Efesus. Ini ditujukan kepada posisi mereka. Orang-orang kudus adalah orang-orang yang dijadikan kudus, yang dikuduskan, dipisahkan bagi Allah dari segala sesuatu yang umum.
B. Orang-orang yang Setia dalam Kristus Yesus
Para penerimanya juga adalah orang-orang “yang setia” (Tl.) dalam Kristus Yesus. Orang-orang yang setia ialah mereka yang setia dalam iman, yang disebutkan dalam Efesus 4:13, 2Timotius 4:7 dan Yudas 3. Para penerima ini, orang-orang yang setia dalam Kristus Yesus, tidak saja memiliki kedudukan yang dikuduskan, juga memiliki kehidupan yang setia. Mereka hidup dengan setia dalam iman mereka. Untuk memenuhi syarat dan berkedudukan menjadi penerima surat ini, kita perlu menjadi orang yang sedemikian. Kita harus menjadi orang-orang yang kudus dan menjadi orang-orang yang setia dalam Kristus Yesus. Kita harus mempunyai posisi yang dikuduskan dan kehidupan yang setia.
C. Anugerah dan Damai Sejahtera
Di antara penulis dan penerima terdapat persekutuan anugerah (kasih karunia) dan damai sejahtera (1:2). Anugerah dan damai sejahtera mengalir dari penulis kepada penerima. Tidak ada gosip, kritik, tuduhan, atau penghakiman, melainkan anugerah dan damai sejahtera semata.
1. Anugerah Berarti Allah Menjadi Kenikmatan Kita
Anugerah berarti Allah menjadi kenikmatan kita (Yoh. 1:17, 1Kor. 15:10). Ketika Allah menjadi bagian kita, untuk kita nikmati, itulah anugerah. Jangan mengira anugerah sebagai sesuatu yang lebih rendah daripada Allah. Anugerah tidak lain ialah Allah yang kita nikmati menjadi bagian kita secara riil.
2. Damai Sejahtera adalah Keadaan yang Dihasilkan dari Anugerah
Damai sejahtera ialah suatu keadaan yang dihasilkan dari anugerah, berasal dari kenikmatan kita terhadap Allah Bapa. Tatkala kita menikmati Allah sebagai anugerah, berarti kita berada dalam suatu keadaan yang penuh perhentian, kepuasan, dan sukacita. Inilah damai sejahtera. Anugerah ialah suatu substansi, sedang damai sejahtera adalah suatu keadaan. Substansi anugerah ialah Allah sendiri, dan keadaan damai sejahtera ialah hasil dari kenikmatan kita terhadap Allah sebagai anugerah. Kita semua dapat bersaksi, ketika kita menikmati Allah sebagai anugerah, kita pun memiliki damai sejahtera. Pada baris pertama kidung No: 378 tercantum, “Hayat dan alangkah teduh (damai).” Hayat adalah anugerah. Ketika kita benar-benar menikmati Kristus sebagai hayat kita, kita pun beroleh bagian dalam anugerah. Kemudian kita akan memiliki damai sejahtera. Alangkah hayat! Alang-kah damai! Sekarang kita pun dapat berkata: Alangkah substansi! Alangkah keadaan! Kita memiliki substansi ilahi menjadi kenikmatan kita, dan kita memiliki keadaan surgawi. Inilah damai sejahtera yang kita nikmati.
3. Allah adalah Pencipta bagi Kita, Makhluk Ciptaan-Nya;
dan Bapa Kita adalah Bapa bagi Kita, Anak-anak-Nya
Anugerah dan damai sejahtera ini berasal dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus. Kita adalah makhluk ciptaan Allah dan anak-anak Allah. Dari kedudukan kita sebagai makhluk ciptaan Allah, Allah adalah Allah kita, sedang ditinjau dari kedudukan kita sebagai anak-anak Allah, Allah adalah Bapa kita. Di satu pihak, kita adalah makhluk ciptaan Allah; di pihak lain, kita adalah anakanak Bapa.
4. Tuhan Yesus Kristus adalah Penebus bagi Kita, Umat Tebusan Allah
Anugerah dan damai sejahtera juga datang kepada kita dari Tuhan Yesus Kristus. Dialah Penebus kita, dan kita adalah umat tebusan-Nya. Sebagai umat tebusan Tuhan, kita memiliki-Nya sebagai Tuhan kita.
Jadi, anugerah dan damai sejahtera datang kepada kita dari Allah, Pencipta kita, dari Bapa kita, dan dari Tuhan, Penebus kita. Sebagai umat ciptaan, yang dilahirkan kembali dan ditebus, kita berkedudukan untuk menerima anugerah dan damai sejahtera Dia. Kita memiliki tiga status: kita telah diciptakan, kita telah dilahirkan kembali, dan kita telah ditebus. Kita mempunyai Allah sebagai Pencipta kita, kita mempunyai Bapa sebagai Bapa kita, dan kita mempunyai Yesus Kristus sebagai Penebus kita. Karena itu, kita benar-benar memenuhi syarat untuk menerima anugerah dan damai sejahtera dari Allah Tritunggal. Demikianlah kata pengantar untuk Kitab Efesus ini.