← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 6/25

PENEBUSAN DALAM ANAK

Dalam Efesus 1:3-14 terdapat tiga bagian : ayat 3-6, pemilihan dan penentuan Bapa, membicarakan kehendak kekal Allah; ayat 7-12, penebusan Anak, membicarakan penggenapan kehendak kekal Bapa; dan ayat 13-14, meterai dan jaminan Roh Kudus, membicarakan penerapan kehendak Allah yang telah rampung. Pertama-tama kita mempunyai kehendak kekal Bapa, kemudian Anak menggenapkan kehendak Bapa, dan terakhir Roh Kudus menerapkan apa yang digenapkan Anak sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan ini kita nampak bahwa Allah Tritunggal terekspresi dalam berkat-Nya. Melalui kehendak Bapa, penggenapan Anak, dan penerapan Roh Kudus, kita menjadi gereja. Dalam berita terdahulu kita telah membahas tentang pemilihan dan penentuan Bapa. Dalam berita ini kita akan membahas penebusan Anak, yakni penebusan di dalam Anak (Ef. 1:7).

Kita telah nampak bahwa Kitab Efesus tidak berbicara dari keadaan kita, dari bumi, atau dari waktu, melainkan dari kehendak kekal Allah, dari surga, dan dari kekekalan. Karena demikian, mungkin Anda merasa heran, mengapa penebusan disinggung di sini. Alasannya adalah karena umat pilihan Allah telah jatuh. Menurut kehendak kekal Allah, kita telah dipilih, tetapi setelah diciptakan, kita lalu jatuh. Sebab itu, perlu ada penebusan. Melalui menebus kita, Anak telah menggenapkan kehendak Bapa.

Walaupun pasal 1 membicarakan penebusan, tetapi tidak mencatat keadaan kita yang kasihan. Hal itu terungkap sepenuhnya dalam pasal 2. Ketika kita tiba pada pasal 2, kita akan nampak betapa kasihannya keadaan kita, dan betapa kita memerlukan belas kasihan Allah. Meski pasal 1 sama sekali mulia, namun ia ditujukan ke-pada keperluan kita akan penebusan akibat kejatuhan.

Efesus 1:7 mengatakan, “Sebab di dalam Dia kita beroleh penebusan oleh darah-Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah-Nya.” Ayat 7 adalah kelanjutan ayat 6. Seperti telah kita lihat dalam berita yang lalu, ayat 6 menyatakan bahwa kita telah menjadi obyek kesukaan Allah, karena kita telah dikaruniai di dalam Anak yang terkasih. Kata “di dalam Dia” dalam ayat 7 ditujukan kepada “Anak yang dikasihi-Nya” dalam ayat 6. Ini berarti kita telah ditebus di dalam Anak yang terkasih, yakni di dalam Dia yang dikasihi Allah. Karena itu, dalam pandangan Allah, penebusan bukan suatu perkara yang kasihan, melainkan satu perkara yang disukai. Walau mengatakan kita telah ditebus di dalam Kristus itu tepat, tetapi tidaklah begitu menyenangkan seperti mengatakan ditebus di dalam Anak yang terkasih. Kata “di dalam Dia yang dikasihi-Nya” berarti di dalam perkenan Allah. Di dalam Anak yang terkasih, dalam perkenan Allah, kita telah ditebus. Hal ini merupakan keterangan lebih lanjut bahwa dalam pasal 1 tidak ada pikiran tentang keadaan kita yang kasihan; sebaliknya, pasal ini penuh dengan kesukaan. Kita telah ditebus melalui darah Anak Allah yang terkasih yang dicurahkan bagi kita di atas salib.

Menurut ayat 7, penebusan ini berarti pengampunan pelanggaran, bukan pengampunan dosa. (Kata “dosa” dalam ayat 7, menurut bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan sebagai “pelanggaran”. Red.). Pelanggaran berbeda dengan dosa. Karena catatan pasal 1 begitu manis, maka pasal ini tidak menyinggung dosa, melainkan pelanggaran. Dalam pandangan Bapa, umat pilihan-Nya telah melakukan beberapa pelanggaran yang perlu mendapat pengampunan. Sebaliknya, pasal 2 membicarakan tentang murka dan dosa-dosa. Dalam pasal 1 Allah Bapa membereskan pelanggaran kita. Namun, pelanggaran-pelanggaran itu menyebabkan penebusan menjadi suatu keharusan dan darah Anak Allah yang terkasih teralir di atas salib untuk pengampunan kita. Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22). Maka, darah itu diperlukan. Pengampunan ini adalah berdasarkan kekayaan anugerah Allah, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian (ayat 8).

I. BERKAT KETIGA

YANG ALLAH KARUNIAKAN

Ayat 4-5 mengungkapkan bahwa kita telah dipilih dan ditentukan. Tetapi setelah diciptakan, kita jatuh. Maka, kita perlu penebusan, yang telah digenapkan Allah di dalam Kristus melalui darah-Nya. Inilah bagian lain dari berkat yang Allah karuniakan kepada kita. Berkat pertama ialah pemilihan untuk menjadi kudus, kedua ialah ditentukan untuk menjadi anak-anak, dan ketiga ialah penebusan di dalam Anak.

II. PENEBUSAN DALAM ANAK TERKASIH

ALLAH, MEMUASKAN TUNTUTAN

KEADILAN ALLAH DAN MENYUKAKAN ALLAH

Walaupun Allah menyukai kita dan menjadikan kita sasaran anugerah-Nya, namun kita tetap memerlukan penebusan, sebab Dia adalah Allah yang adil. Bapa kita yang menyukai kita itu adil, Dia tidak dapat membiarkan ketidakbenaran, kesalahan, atau pelanggaran. Perkara-perkara semacam itu merupakan penghinaan terhadap keadilan-Nya. Karena itu, keadilan-Nya menyebabkan penggenapan penebusan menjadi suatu keharusan. Pene-busan memenuhi tuntutan keadilan Allah dan menyuka-kan Allah. Allah bukan hanya Allah pengasih, Dia pun Allah yang adil; setiap perkara yang tidak benar tidak disukai-Nya. Setiap perkara yang berhubungan dengan-Nya harus dapat memuaskan tuntutan keadilan-Nya. Inilah alasannya, untuk menyukakan Allah, Anak yang terkasih harus tersalib, demi menggenapkan penebusan dengan sempurna bagi umat pilihan Allah.

III. MELALUI DARAH-NYA YANG TERALIR DI ATAS SALIB BAGI DOSA-DOSA KITA

Penebusan Anak itu melalui darah-Nya yang teralir di atas salib bagi dosa-dosa kita (1Ptr. 1:18-19). Karena kematian Anak dalam daging di atas salib telah memenuhi tuntutan keadilan Allah, maka darah-Nya menjadi sarana penebusan kita.

IV. PENEBUSAN OLEH DARAH-NYA SEBAGAI

PENGAMPUNAN PELANGGARAN KITA

Penebusan Anak oleh darah-Nya adalah pengampunan pelanggaran kita (Mat. 26:28; Ibr. 9:22). Penebusan adalah perkara yang telah Kristus genapkan untuk pelanggaran kita, sedang pengampunan adalah penerapan apa yang telah Kristus genapkan untuk pelanggaran kita. Penebusan telah dirampungkan di atas salib, sedang pengampunan diterapkan pada saat kita percaya Kristus. Penebusan dan pengampunan sebenarnya adalah dua ujung dari satu perkara. Kita telah nampak bahwa pengampunan pelanggaran adalah penebusan yang telah rampung melalui darah Kristus. Akan tetapi, untuk perihal ini dipakai dua istilah, sebab perkara ini mempunyai dua ujung: ujung yang dirampungkan di atas salib dan ujung yang diterapkan di atas diri kita pada saat kita percaya. Walaupun penebusan telah rampung di atas salib tatkala Kristus mengalirkan darah-Nya, tetapi pada waktu itu belum diterapkan pada diri kita. Penerapan baru terjadi ketika kita percaya Kristus dan bertobat terhadap Allah yang adil. Pada saat itulah, Roh Allah menerapkan penebusan Kristus yang telah rampung di salib itu ke atas diri kita. Maka, penebusan merupakan penggenapan, sedang pengampunan merupakan penerapan.

V. MENURUT KEKAYAAN ANUGERAH-NYA

Ayat 7 menerangkan bahwa penebusan itu berdasarkan kekayaan anugerah Allah. Menurut konsepsi kita, Allah sangat mudah mengampuni kita, sebab Dia Maha-kuasa dan berdaulat. Namun, kenyataannya tidak begitu mudah. Penggenapan penebusan adalah satu perkara yang amat besar, penting, dan serius. Karena keseriusannya, untuk ini diperlukan kekayaan anugerah Allah.

Kini kita perlu melihat mengapa penebusan memerlukan kekayaan anugerah Allah. Alkitab mengatakan, tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Karena itu, darah harus teralir, agar kita bisa beroleh pengampunan. Tetapi, dalam hal ini darah binatang tidak berguna (Ibr. 10:4). Darah kurban binatang hanya merupakan lambang. Untuk penggenapan penebusan yang sejati, perlu darah yang berasal dari hayat yang lebih tinggi, yaitu darah yang sama sekali tidak berdosa. Dari manakah Allah bisa memperoleh darah semacam ini di antara umat manusia? Tidak mungkin, sebab seluruh umat manusia telah berdosa. Di antara manusia yang telah jatuh tidak ada darah yang tanpa dosa. Lagi pula, orang pilihan Allah berjumlah jutaan. Jika suatu kurban penghapus dosa harus dipersembahkan untuk setiap orang, tentu harus ada jutaan kurban pula. Maka selain darah yang sempurna dan tanpa dosa, perlu pula ada satu kurban penghapus dosa yang mampu mencakup jutaan orang. Hal ini menunjukkan bahwa darah yang olehnya penebusan dirampungkan bukan hanya harus tanpa dosa, bahkan harus berfungsi almuhit, dapat menebus ju-taan orang pilihan Allah. Hanya Yesus Kristus yang dapat menjadi kurban penghapus dosa dengan mengalirkan darah-Nya yang tanpa dosa bagi jutaan orang pilihan. Dengan penumpahan darah-Nya yang sekali di salib itu, penebusan kekal bagi orang pilihan Allah dirampungkan sekali untuk selama-lamanya (Ibr. 9:28; 10:10, 12).

Sekarang kita perlu meninjau bagaimana Allah memperoleh darah yang tanpa dosa dan almuhit ini. Untuk memperoleh darah yang sedemikian jauh lebih sulit daripada menciptakan alam semesta. Untuk menciptakan alam semesta, Allah cukup berfirman. Misalnya Dia berfirman, “Jadilah terang”, maka terang itu jadi (Kej. 1:3). Tetapi, penebusan tidak mungkin terjadi secara demikian. Allah tidak dapat hanya berfirman, “Jadilah penebusan.” Untuk menciptakan alam semesta, Allah tidak memerlukan anugerah, tetapi untuk merampungkan penebusan, diperlukan kekayaan anugerah Allah.

Coba pikirkan bagaimana Sang Penebus, Tuhan Yesus, terkandung. Untuk hal ini Roh Kudus perlu berkontak dengan anak dara Maria. Kita tidak dapat menjelaskan bagaimana Roh Kudus membuat Sang Penebus terkandung di dalam rahim seorang dara. Untuk ini, perlu kekayaan anugerah Allah. Menurut Lukas 1:35, anak yang dikandung dalam Maria oleh Roh Kudus itu disebut “kudus”. Hal ini menunjukkan bahwa terkandungnya Tuhan Yesus mutlak suatu perkara yang kudus. (Kekudusan ditujukan kepada sesuatu yang terkandung dari Roh Kudus). “Benda kudus” ini berada dalam rahim Maria selama sembilan bulan. Siapakah yang dapat menerangkan berapa banyak anugerah yang dibutuhkan untuk ini? Betapa besar anugerah yang diperlukan bagi Yesus, Yehova Juruselamat, untuk tinggal di dalam rahim selama 9 bulan!

Tuhan Yesus bekerja sebagai tukang kayu hingga berusia 30 tahun. Betapa besarnya anugerah yang dibu-tuhkan oleh seorang yang bernama Imanuel, Allah menyertai kita, untuk bekerja sebagai tukang kayu selama bertahun-tahun. Terakhir, Dia muncul menunaikan ministri-Nya selama tiga setengah tahun. Walaupun Dia begitu prihatin terhadap orang dosa, tetapi mereka menentang-Nya, menganiaya-Nya, bahkan bersekongkol untuk membunuh-Nya. Dia dikhianati oleh seorang murid-Nya dan ditangkap. Dia sebenarnya bukan ditangkap, melainkan menyerahkan diri-Nya kepada mereka yang datang mencari-Nya. Dia bisa memohon kepada Bapa untuk mengutus dua belas pasukan malaikat untuk menolong-Nya, namun Dia tidak mau (Mat. 26:53). Setelah ditangkap, Dia diadili di hadapan Imam Besar, Pilatus, dan Herodes. Setelah itu Dia dipaku di atas salib, dan digantung selama 6 jam; dari pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore. Betapa besar anugerah yang diperlukan untuk semuanya itu! Tuhan Yesus mati bagi dosa kita di atas salib. Lalu Dia dimakamkan, dibangkitkan, dan diangkat ke surga untuk mendatangkan pertobatan dan pengampunan (Kis. 5:31). Karena kekayaan anugerah Allah, kita dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Janganlah mengira pertobatan Anda berasal dari Anda sendiri. Tidak, Allah Bapalah yang mengaruniakan pertobatan kepada Anak, Sang Penebus, dan Dialah yang memberikannya kepada Anda melalui Roh itu. Selain pertobatan, kita pun menerima pengampunan. Semua ini adalah berdasarkan kekayaan anugerah-Nya. Alangkah tak terbatas dan tak terukur anugerah Allah ini!

A. Anugerah Allah yang Berlimpah telah

Menggenapkan Penebusan bagi Kita dan

Menerapkan Pengampunan atas Kita

Anugerah Allah yang berlimpah telah menggenapkan penebusan bagi kita dan telah menerapkan pengampunan atas kita. Melalui inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus, genaplah sudah penebusan itu. Setelah naik ke surga, dan mendatangkan pertobatan dan pengampunan, kini Dia menerapkan pengampunan itu atas diri kita. Hal ini berdasarkan kekayaan anugerah Allah.

B. Penebusan dan Pengampunan Sesuai dengan

Keadilan Allah, tetapi Digenapkan dan Diterapkan oleh Kekayaan Anugerah Allah

Penebusan dan pengampunan sesuai dengan keadilan Allah, namun digenapkan dan diterapkan oleh kekayaan anugerah Allah. Ini berarti keadilan Allah, yaitu cara Allah melakukan sesuatu, dan anugerah, yaitu Allah sendiri yang disalurkan ke dalam umat pilihan-Nya, telah diterapkan hingga mencapai titik tertinggi.

VI. MEMBUAT ANUGERAH ALLAH

DILIMPAHKAN KEPADA KITA

Efesus 1:8 mengatakan, bahwa anugerah Allah “dilimpahkan-Nya kepada kita”. Anugerah Allah bukan hanya kaya, tetapi juga limpah. Banyak orang Kristen mengetahui tentang “anugerah yang mengagumkan”, tetapi tidak mengetahui tentang anugerah yang melimpah. Untuk memahami anugerah yang melimpah, perlu wahyu. Anugerah ini menjadikan kita warisan bagi Allah (ayat 11), dan melayakkan kita mewarisi segala apa adanya Allah (ayat 14). Dengan kata lain, anugerah yang melimpah ini pada satu aspek membuat kita menjadi warisan Allah, pada aspek lain membuat Allah menjadi warisan kita. Ini jauh lebih besar daripada sekadar beroleh selamatnya orang dosa atau naik ke surga. Konsepsi tentang beroleh selamat masuk ke surga sangatlah alamiah. Kita perlu nampak anugerah yang melimpah, yang menjadikan kita warisan Allah, dan yang melayakkan kita mewarisi segala apa adanya Allah.

VII. DENGAN SEGALA HIKMAT DAN

KEBIJAKSANAAN

Ayat 8 mengatakan bahwa kekayaan kasih karunia Allah telah dilimpahkan kepada kita dengan segala hikmat dan pengertian (kebijaksanaan). Hikmat adalah apa yang ada di dalam Allah untuk merencanakan dan menetapkan suatu kehendak tentang kita; pengertian (kebijaksanaan) adalah penerapan hikmat Allah. Pertama-tama, Allah merencanakan dan menetapkan kehendak di dalam hikmat-Nya, kemudian dengan kebijaksanaan Dia menerapkan apa yang telah Ia rencanakan dan tetapkan bagi kita. Hikmat terutama bagi rencana Allah dalam kekekalan, dan kebijaksanaan terutama bagi pelaksanaan rencana Allah di dalam waktu. Apa yang di dalam hikmat-Nya Allah rencanakan dalam kekekalan, sekarang dalam kebijaksanaan-Nya dilaksanakan-Nya di dalam waktu. Dengan kebijaksanaan-Nya, Allah telah membawa kita kepada diri-Nya sendiri serta ke dalam pemulihan-Nya. Kini, melalui pelaksanaan kebijaksanaan-Nya, Dia sedang menerapkan setiap perkara yang berhubungan dengan kita yang telah dirancang-Nya dalam kekekalan itu ke atas diri kita.