MERUBUHKAN TEMBOK PEMISAH
Dalam berita ini kita akan melihat perihal merubuhkan tembok pemisah (Ef. 2:14-15).
I. KRISTUS IALAH DAMAI
SEJAHTERA KITA
Berbicara tentang Kristus, Efesus 2:14 mengatakan, “Dialah damai sejahtera kita.” Kata “kita” di sini mengacu kepada kaum beriman Yahudi dan kaum beriman kafir. Oleh darah Kristus kita telah didekatkan kepada Allah dan umat-Nya. Kristus yang telah menggenapkan penebusan yang sempurna bagi kaum beriman Yahudi maupun kaum beriman kafir. Dia sendiri adalah damai sejahtera kita, keharmonisan kita, dan di dalamnya Dia menjadikan keduanya satu. Karena kejatuhan umat manusia dan panggilan kepada bangsa pilihan, bangsa Israel terpisah dengan bangsa kafir. Melalui penebusan Kristus, pemisahan ini telah disingkirkan. Sekarang, di dalam Kristus yang menebus, sebagai ikatan persatuan, keduanya menjadi satu. Saat ini, masih ada pemisahan antara Israel dengan umat manusia yang lain. Tetapi menurut ekonomi Allah, pemisahan itu disingkirkan oleh penebusan Kristus di atas salib. Kini Kristus yang telah menyingkirkan pemisahan ini adalah ikatan damai sejahtera antara Israel dengan orang kafir.
II. KRISTUS TELAH MERUBUHKAN
TEMBOK PEMISAH
A. Tembok Pemisah Itu adalah Hukum Taurat
dengan Segala Perintah
dan Ketentuannya
Ayat 14 mengatakan tentang tembok pemisah. Tembok pemisah itu tak lain ialah “hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya” (ayat 15) yang diberikan karena daging manusia. Peraturan pertama adalah sunat, pengeratan daging manusia. Sunat ini menjadi tembok pemisah yang merupakan perbedaan (terutama disebabkan oleh sunat) antara yang bersunat dan yang tidak bersunat, menjadi perseteruan antara orang Yahudi dengan orang kafir.
Dalam hukum Taurat Musa terdapat dua macam perintah atau peraturan: perintah moral, antara lain seperti perintah tentang pencurian dan penghormatan kepada orang tua; perintah ritual (tata cara), antara lain seperti perintah tentang pemeliharaan hari Sabat. Perintah tentang sunat dan peraturan tentang makanan tergolong perintah ritual, bukan perintah moral. Dalam Imamat 11 terdapat sejumlah perintah atau peraturan yang membahas masalah makanan. Perintah-perintah tersebut sudah tentu tidak ada sangkut pautnya dengan moralitas. Moralitas seseorang tidaklah terpengaruh oleh apakah ia telah memakan sesuatu yang dianggap najis atau haram.
Tiga peraturan utama dalam agama Yahudi ialah sunat, memelihara hari Sabat, dan peraturan makanan. Setiap anak laki-laki orang Israel harus disunat pada hari kedelapan setelah ia lahir. Selain itu, orang Yahudi diharuskan memelihara hari Sabat dan memelihara berbagai peraturan tentang makanan. Ketiga peraturan ini merupakan tiga tiang penopang agama Yahudi. Sewaktu Tuhan Yesus berada di bumi, Dia telah mematahkan tiang hari Sabat. Selama beberapa tahun pelayanan-Nya, Dia sengaja mematahkan hari Sabat melalui menyembuhkan orang pada hari Sabat. Orang-orang Yahudi tersinggung sekali akan hal itu. Kemudian Petrus mengepalai mendobrak peraturan makanan, walau dilakukannya agak lemah. Karena ia telah menerima visi dalam Kisah Para Rasul 10, Petrus mau tidak mau harus meninggalkan peraturan-peraturan itu. Akan tetapi dalam Galatia 2, Petrus memisahkan diri dari makan bersama dengan orang kafir ketika ada orang-orang tertentu datang dari Yerusalem. Namun, melalui pendobrakan peraturan makanan, tiang penyokong agama Yahudi lainnya telah dirubuhkan. Rasul Paulus telah merubuhkan tiang sunat. Dalam Filipi 3 ia bahkan memakai satu istilah yang hina “mengerat” sebagai pengganti istilah terhormat — “sunat”. Lagi pula ia mengiaskan mereka yang bersunat sebagai “anjing-anjing”, dan menyuruh orang Filipi “waspada terhadap anjing-anjing itu.” Maka tidaklah heran kalau orang Yahudi berusaha membunuhnya. Dari suatu segi, ia bahkan dipandang lebih buruk daripada Yesus oleh orang-orang Yahudi, sebab sunat merupakan peraturan utama dalam agama Yahudi, dan bagi mereka sunat lebih penting daripada hari Sabat atau peraturan makanan. Karena itu, melalui ministri Rasul Paulus, sisa bangunan agama Yahudi telah runtuh.
Kita perlu ingat baik-baik akan perbedaan antara hukum moral dengan hukum ritual. Hukum moral selamanya tidak dihapus, baik pada masa kini, di Kerajaan Seribu Tahun, maupun dalam kekekalan. Tetapi sebaliknya, perintah-perintah ritual tidaklah bersifat permanen. Apakah seseorang boleh atau tidak boleh makan daging babi, memelihara hari Sabat, atau menerima sunat, itu semua tergantung pada zaman di mana ia hidup. Setiap orang laki-laki Yahudi yang dilahirkan sesudah Abraham dan sebelum Yohanes pembaptis, diwajibkan bersunat. Begitu pula, perintah tentang hari Sabat dan makanan hanya berlaku selama waktu-waktu yang khusus.
Tembok pemisah ini oleh Paulus ditujukan kepada hukum Taurat dengan semua peraturannya, dan itulah perintah atau hukum ritual yang berkaitan dengan sunat, hari Sabat, dan makanan. Hukum Taurat perintah-perintah ritual adalah tembok pemisah di antara orang Yahudi dengan orang kafir. Seperti yang akan kita nampak, setiap peraturan atau ritual merupakan tembok pemisah.
Perintah-perintah ritual diberikan kepada manusia terutama karena daging manusia. Misalnya sunat; hal ini harus dilakukan karena manusia telah menjadi milik daging. Karenanya Allah memerintahkan manusia mengerat daging. Sedang perintah ritual tentang makanan diberikan agar umat pilihan Allah berhati-hati memelihara diri selalu tahir. Binatang-binatang yang tidak berkuku belah dan tidak memamah biak bersifat najis. Berkuku belah melambangkan pembedaan dalam berjalan, itu menunjukkan bahwa kita tidak boleh berjalan di tempat najis yang mana pun. Umat Allah perlu memiliki daya pembeda yang peka dalam tingkah laku mereka sehari-hari. Selain itu, mereka perlu belajar “memamah biak” melalui mengambil firman Allah dan merenungkan-nya berulang-ulang. Berhubung umat yang telah jatuh tidak mempunyai daya pembeda yang diperlukan dan tidak merenungkan firman Allah, maka perintah-perintah diberikan kepada umat pilihan Allah. Namun demikian, peraturan-peraturan ini telah menjadi tembok pemisah di antara orang Yahudi dengan orang kafir. Lagi pula, perbedaan dan sekatan ini menjadi penyebab permusuhan di antara orang Yahudi yang bersunat dengan orang kafir yang tidak bersunat.
Setiap peraturan selalu menciptakan permusuhan. Pada tahun 1963 saya diundang berkhotbah dalam suatu sidang di Tyler, Texas. Dalam sidang saya mulai mengucapkan “Amin” dengan suara yang sangat lembut. Tetapi segera ada seseorang mengingatkan saya bahwa orang-orang di tempat itu tidak bisa menerima hal tersebut. Setelah peringatan itu saya tidak berani lagi mengucapkan “amin”. Seandainya saya tetap memaksa berbuat demikian, suatu tembok pemisah akan terpancang dan permusuhan pun akan timbul di sana.
Bahkan masalah berlatih doa-baca pun mungkin menjadi satu tembok pemisah dan sumber permusuhan. Walaupun Anda menemukan bahwa doa-baca itu sangat berfaedah, tetapi bila orang lain tidak menyetujuinya, janganlah Anda memaksakannya. Jika Anda memaksakannya, hal itu akan menyebabkan sekatan dan permusuhan.
Kita harus berhati-hati, jangan memasukkan peraturan apa pun ke dalam hidup gereja, sebab semua peraturan mematikan. Ada orang suka berteriak dalam sidang, ada pula yang suka tenang, keduanya itu mungkin menjadi peraturan. Peraturan-peraturan tidak saja menyebabkan perpecahan, juga menyebabkan permusuhan. Saya sudah menyaksikan sendiri permusuhan yang diciptakan oleh peraturan-peraturan semacam itu.
Pada tahun 1963 saya bersama beberapa saudara mengunjungi suatu kelompok di Los Angeles. Dalam sidang itu saya hanya berbuat apa yang mereka perbuat. Setelah itu seorang saudara bertanya kepada saya, ba-gaimana saya dapat berbuat demikian. Saya jawab, “Apa salahnya praktek itu? Apakah itu berdosa? Mengapa Anda tidak mau melakukan hal itu? Mengapa Anda mempertahankan apa yang berbeda dengan kaum saleh lainnya?” Saya pribadi dalam sidang tersebut tidak menghiraukan apa-apa yang dipraktekkan, tetapi saya meng-ambil bagian dalam mereka, justru untuk menggeser tembok pemisah.
Saya pernah mengalami hal serupa di Mancuria pada tahun 1933. Selama saya mengunjungi tempat itu, pada suatu hari saya bertamu ke rumah seorang Kristen Jepang. Seperti banyak pemuda China lainnya, saya pun diajar untuk membenci orang Jepang, sebab ada hubungan politik yang tidak bersahabat antara China dan Jepang pada masa itu. Akan tetapi, sewaktu saya masuk ke rumah mereka, saya melucutkan kasut saya dan duduk di atas tatami (lantai rumah orang Jepang), seperti yang dilakukan setiap orang di situ. Tentu saja tidak ada salahnya kita duduk di atas tatami, tidak duduk di kursi. Kita tidak dapat mengatakan yang satu ini benar dan yang satu itu salah. Demikian pula dengan orang berteriak atau tenang di dalam sidang. Dalam Alkitab ada ayat-ayat yang menerima keduanya.
Kendati kita mungkin menyukai praktek tertentu, kita tidak boleh mempertahankannya. Bila kita mempertahankan praktek-praktek tertentu, kita akan menjadikannya satu peraturan yang menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Orang Kristen telah terpecah-belah karena peraturan, antara lain seperti berbagai aturan tentang baptisan. Ada yang mempertahankan cara baptisan menengadah ke belakang; lainnya mempertahankan cara baptisan menunduk ke depan. Ada sementara orang Kristen terpecah-belah karena alat-alat musik. Ada yang menyetujui piano, tidak setuju dengan orgel atau organ, tetapi ada yang berkebalikan. Selama kita memiliki peraturan, perpecahan akan segera terjadi. Walau saya suka berteriak dan memuji dengan suara keras dalam sidang, tetapi saya tidak untuk hal ini. Mempertahankan praktek apa saja akan mengakibatkan perpecahan. Karena itu, kita tidak seharusnya mempunyai peraturan apa pun. Segala peraturan telah disingkirkan di atas salib Kristus.
Berhubung peraturan-peraturan menyebabkan permusuhan dan perpecahan, kita wajib menghadapi dan menanggulanginya dengan sangat serius. Peraturan mungkin menyebabkan kebencian bagi mereka yang telah akrab. Mungkin dua orang saudara telah bertahun-tahun menikmati persekutuan yang indah, tetapi hanya karena yang satu suka berteriak, yang lainnya suka tenang, akhirnya mereka saling bermusuhan. Mereka tidak saling mengasihi, malah sebaliknya saling membenci. Kedengkian agama merupakan masalah yang mengerikan. Sejarah menunjukkan bahwa banyak orang terbunuh karena hal ini, karena tipu muslihat Iblis, si pembunuh. Karena itu, kita harus menolak semua peraturan dan menerima praktek-praktek apa pun di kalangan orang kudus asalkan praktek-praktek itu tidak mengandung unsur dosa, asusila, atau berhala. Walau kita mungkin tidak menyetujui praktek-praktek tertentu, tetapi kita wajib menuruti mereka, agar tidak memberi tempat bagi peraturan.
B. Merubuhkan Tembok Pemisah
1. Melalui Membatalkan Hukum Taurat dengan Segala Perintah dan Ketentuannya
Kristus merubuhkan tembok pemisah antara orang Yahudi dengan orang kafir melalui membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya. Ketika Dia terpaku di atas salib, segala peraturan telah dipaku pula di sana. Hukum Taurat yang disebut dalam Efesus 2:15 bukanlah hukum ketetapan moral, tetapi hukum ketetapan ritual, yang secara prinsip terdiri atas praktek sunat, perhatian terhadap peraturan-peraturan makan, dan pemeliharaan hari Sabat.
Peraturan merupakan cara hidup dan penyembahan. Setiap orang mempunyai cara hidup masing-masing. Kita wajib hati-hati agar tidak menjadikan cara hidup atau cara penyembahan kita suatu peraturan. Bersamaan dengan itu, kita pun tidak boleh menganggap apa yang dilakukan orang lain sebagai peraturan. Bila kita semua mempraktekkan hal ini, tentu takkan timbul problem apa pun.
Pemulihan Tuhan telah tersebar ke seluruh dunia. Pemulihan ini berkembang di berbagai negara — misalnya di Jepang, Korea, dan Indonesia — yang cara-cara hidup penduduknya berbeda dengan cara hidup kita. Sudah tentu pemulihan Tuhan tidak dapat menuntut orang Jepang, orang Korea, dan orang Indonesia memiliki cara hidup yang sama. Cara hidup kita besar sekali pengaruhnya terhadap cara sidang kita. Sebagai contoh, di Korea orang mudah sekali mengadakan penyegaran pagi pada pukul 5:30. Namun, jika praktek ini diterapkan kepada orang Amerika, hal itu akan menimbulkan kesulitan yang serius.
Berbagai cara hidup tertampak pula dalam peralatan makan. Ada orang memakai pisau dan garpu, orang lain memakai sumpit, dan orang lain lagi memakai jari tangan mereka. Siapa dapat mengatakan cara mana yang terbaik? Karena ini adalah masalah yang sangat peka, kita perlu memperhatikan perasaan orang lain. Bila Anda mengunjungi Indonesia atau Taiwan, Anda harus mengikuti kebiasaan orang-orang di sana. Demikian pula, orang-orang yang dari Indonesia dan Taiwan harus berbuat demikian ketika mereka mengunjungi negara-negara Barat. Jika kita ingin menyingkirkan peraturan, hal inilah yang perlu kita praktekkan.
Karena kemajuan transportasi dan komunikasi, orang-orang di dunia menjadi lebih mudah berbaur. Hal ini adalah di bawah kedaulatan Tuhan, supaya Dia dapat memperoleh manusia baru, yakni hidup gereja yang wajar, yang mencakup seluruh manusia yang berbeda-beda. Karena itu, mengenai cara hidup kita, kita semua harus belajar tidak memaksakan permintaan kita ke atas orang lain dan tidak mengadakan peraturan apa-apa.
Perbedaan di antara umat manusia dimulai dari Babel. Dalam ekonomi Allah, dalam hidup gereja, kita harus mengalahkan Babel. Bahasa kita bisa menjadi suatu peraturan. Ketika kita tinggal agak lama di negeri lain atau menetap terus di sana, jika mungkin, wajiblah kita mempelajari bahasa di sana dan tidak mempertahankan ba-hasa asli kita sendiri.
Sebagai umat yang ditebus dan dipulihkan, yang telah dipindahkan ke dalam Kristus dan hidup gereja, kita harus belajar membenci perbedaan-perbedaan yang memecah-belah. Orang dunia menganggap perbedaan kebudayaan sebagai tanda martabat atau gengsi. Tetapi dalam Kristus kita semua telah kehilangan gengsi. Sekarang gengsi kita satu-satunya ialah Kristus dan kesatuan yang sejati. Kita tidak seharusnya memiliki suatu gengsi yang unik karena lokal kita atau balai sidang kita. Kita semua wajib melatih diri kita untuk seiring sejalan dengan orang lain. Asalkan suatu praktek tidak melibatkan berhala atau unsur-unsur yang asusila, tidak ada salahnya dipraktekkan. Jangan mempertahankan gengsi Anda. Bila kita mau meletakkan kesombongan kebudayaan kita, barulah Tuhan dapat memiliki kehidupan gereja yang wajar.
Merubuhkan tembok pemisah adalah untuk manusia baru, kewargaan Allah, keluarga Allah, dan pembangunan tempat kediaman Allah. Jika kita mempertahankan perbedaan-perbedaan kita, tidak mungkinlah kita memiliki hidup gereja dalam keempat aspek ini. Kekristenan di antara berbagai bangsa penuh dengan perbedaan-perbedaan yang bersifat memecah. Karena alasan itu, tidak mungkin orang Kristen di luar pemulihan memiliki hidup gereja. Demi hidup gereja, semua perbedaan harus kita injak di bawah kaki kita.
2. Di dalam Daging
Efesus 2:15 mengatakan, “Sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia”, Kristus telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya. (Perkataan “sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia”, menurut bahasa aslinya seharusnya di terjemahkan “di dalam daging-Nya”. Red.). Karena umat manusia telah menjadi daging (Kej. 6:3) dan telah terpisah dari Allah dan kehendak-Nya, maka Allah menetapkan umat pilihan-Nya harus disunat, menyingkirkan daging. Ketetapan sunat diadakan karena daging manusia. Di dalam daginglah Kristus disalib. Ketika Dia disalib, daging-Nya, yang dilambangkan oleh tirai yang memisahkan tempat kudus dan tempat maha-kudus dalam Bait Suci, terbelah (Ibr. 10:20). Melalui merubuhkan tembok pemisah di atas salib, maka Kristus telah menciptakan perdamaian.
Kita telah nampak, menurut Alkitab, peraturan yang mendasar ialah yang mengenai sunat, Sabat, dan makanan. Tetapi bahkan peraturan-peraturan yang ditentukan Allah itu sudahlah dibatalkan. Kalau peraturan-peraturan yang mendasar telah dibatalkan, apalagi yang kecil-kecil, pasti telah dibatalkan juga. Janganlah kita mempertahankan peraturan yang mana pun, dan jangan menciptakan peraturan baru. Bersandar anugerah Tuhan, kita harus belajar bersikap luwes dan meletakkan semua perbedaan demi hidup gereja. Tidak peduli ke mana saja kita pergi, kita harus belajar serupa dengan orang lain. Kemudian baru kita dapat menikmati hidup gereja sebagai manusia baru, kewargaan Allah, keluarga Allah, dan tempat kediaman Allah.