← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 22/25

DAHULU JAUH SEKARANG DEKAT

Efesus 2:1-3 memberi kita sebuah lukisan tentang kondisi alamiah kita. Dalam berita ini kita akan melihat ayat 11-12, yang menggambarkan kedudukan kita berdasarkan status kita. Karena sifat kita yang berdosa, kita berada dalam kondisi maut; namun menurut status kita, asalnya kita jauh dari Allah, Kristus, Kerajaan Allah, berkat-berkat Allah, janji-janji Allah, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah.

I. BANGSA-BANGSA DALAM DAGING

Butir pertama mengenai status kita ialah bahwa kita adalah orang-orang bukan Yahudi secara jasmani (ayat 11). Perkataan “orang-orang bukan Yahudi secara jas-mani” dalam bahasa Yunani dapat juga diterjemahkan “bangsa-bangsa (orang-orang kafir) dalam daging”. Maka menurut status kita, dahulu kita adalah orang-orang kafir dalam daging.

Manusia yang Allah ciptakan untuk menggenapkan kehendak-Nya adalah murni, tanpa dosa atau campuran negatif apa pun. Namun, dosa, sifat jahat Iblis masuk ke dalam manusia melalui kejatuhan. Pertama-tama, dosa membuat tubuh manusia menjadi daging, penuh hawa nafsu, akhirnya dosa membuat seluruh diri manusia menjadi daging. Sebenarnya Allah hanya menciptakan tubuh manusia, tidak menciptakan daging. Akan tetapi ketika dosa masuk ke dalam tubuh manusia, sifat tubuh lalu berubah menjadi daging. Tubuh adalah wadah yang murni yang diciptakan oleh Allah, sedang daging ialah tubuh yang telah rusak atau bejat. Allah tidak menciptakan hawa nafsu dalam tubuh manusia. Hawa nafsu berasal dari dosa. Berdasarkan Alkitab, pada akhirnya manusia yang telah jatuh itu seluruhnya menjadi daging. Manusia yang telah jatuh semuanya hidup menurut daging, tidak menurut roh, hati nurani, atau akal budi. Berhubung dalam pandangan Allah manusia yang terjatuh itu telah menjadi daging, maka Alkitab mengatakan, “Sebab tidak ada daging yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat . . .” (Rm. 3:20 Tl.). Kata “daging” dalam ayat ini mengacu kepada manusia yang telah jatuh, yang hidupnya menurut daging, dan yang telah menjadi daging.

Karena seluruh dirinya telah menjadi daging, manusia telah rusak, gagal, dan tidak berdaya menggenapkan kehendak Allah. Karena seluruh umat manusia tidak berdaya menggenapkan kehendak Allah, maka Allah datang memanggil satu ras dari antara orang-orang yang telah jatuh itu, yakni Abraham dan keturunannya, untuk menggenapkan kehendak-Nya. Bagi penggenapan tujuan-Nya, Allah memerintahkan mereka untuk disunat, yaitu menyingkirkan daging mereka. Ini berarti mereka dipisahkan dari umat manusia yang jatuh dan diselamatkan dari keadaan yang jatuh. Sunat membuat satu perbedaan yang hebat antara mereka dengan umat manusia lainnya. Orang-orang yang disunat disebut “sunat”, mereka yang dipisahkan dari situasi yang jatuh. Umat manusia lainnya disebut “tidak bersunat”, mereka yang tetap tinggal dalam keadaan yang jatuh. Berhubung Abraham dan keturunannya, ras yang terpanggil, telah disunat, maka mereka yang tetap dalam keadaan kejatuhan disebut bangsa-bangsa dalam daging, yakni bangsa kafir. Kita ada dalam kategori ini sebelum kita ada dalam Kristus.

II. TIDAK BERSUNAT

Ayat 11 mengatakan bahwa bangsa-bangsa dalam daging ini adalah yang “disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia.” Kata “tak bersunat” dan “sunat” dalam ayat ini kedua-duanya ditujukan kepada orangnya, bukan perbuatannya. Sunat adalah mereka yang menerima sunat, dan tak bersunat adalah mereka yang tidak menerima sunat.

III. DI LUAR KRISTUS

Ayat 12 mengatakan, “Pada waktu itu kamu tanpa Kristus.” Kristus, yang di dalam-Nya segala berkat Allah kepada umat pilihan-Nya diwujudkan, berasal dari Israel, orang-orang bersunat. Karena kita, orang-orang kafir tak bersunat, terpisah dari orang-orang Israel, kita terpisah dari Kristus, tidak ada hubungan apa pun dengan Kristus.

IV. TIDAK TERMASUK

KEWARGAAN ISRAEL

Ayat 12 juga mengatakan bahwa kita “tidak termasuk kewargaan Israel”. Kata “kewargaan” di sini berarti hak-hak sipil dari umat pilihan Allah, seperti pemerintahan, berkat-berkat, dan hadirat Allah. Melalui kejatuhan, umat manusia kehilangan semua hak yang Allah maksudkan bagi manusia dalam penciptaan-Nya. Allah memanggil Abraham dan melalui sunat membawa umat pilihan-Nya kembali kepada semua hak ini. Kita, sebagai orang-orang kafir tak bersunat, tetap tidak mendapat bagian dalam hak-hak sedemikian.

V. TIDAK MENDAPAT BAGIAN DALAM

KETENTUAN-KETENTUAN

YANG DIJANJIKAN

Menurut ayat 12, kita pun “tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan (perjanjian) yang dijanjikan.” Ketentuan-ketentuan Allah adalah janji-janji-Nya. Janji-Nya adalah firman-Nya bahwa Dia akan dengan cuma-cuma melakukan hal tertentu bagi umat pilihan-Nya. Perkataan janji ini bukan perintah, tuntutan, atau celaan. Dasar pemikiran atas janji Allah ialah janji-Nya adalah firman-Nya. Tanpa firman Allah, tidak ada janji.

Pada akhirnya, janji Allah itu menjadi ketentuan-ketentuan atau perjanjian yang mengikat, sebab telah disahkan dengan prosedur-prosedur yang diperlukan. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, firman janji Allah telah dilegalisir menjadi satu perjanjian yang mengikat. Anda mungkin merasa heran, prosedur apa-kah yang diperlukan untuk melegalisir janji Allah menjadi perjanjian? Ilustrasi yang paling baik ialah tentang kematian Tuhan Yesus bagi pengampunan dosa-dosa kita. Tuhan berjanji bahwa Dia akan mengalirkan darah-Nya di atas salib agar kita dapat beroleh pengampunan dosa-dosa. Janji pengampuan ini telah dilegalisir oleh pengaliran darah-Nya. Melalui prosedur inilah maka janji itu menjadi satu ketentuan, yakni perjanjian.

Tidak ada janji yang lebih mengikat seseorang seperti halnya suatu ketentuan atau perjanjian. Seseorang boleh membuat janji tanpa terlalu terikat olehnya. Akan tetapi begitu kita membayar harga untuk mengubah janji menjadi satu perjanjian, kita terikat oleh perjanjian yang kita buat itu. Jadi, harga itulah prosedur yang dibutuhkan untuk membuat suatu janji menjadi perjanjian.

Semua perkataan firman yang Allah katakan kepada umat pilihan-Nya, dari Abraham sampai Maleakhi, adalah janji-janji yang dibuat menjadi hukum untuk menjadi ketentuan-ketentuan-Nya. Firman-firman ini mencakup seluruh Perjanjian Lama, dari Kejadian 12 hingga akhir Kitab Maleakhi. Berhubung firman-firman ini telah dilegalisir menjadi perjanjian Allah, maka Perjanjian Lama disebut wasiat, istilah lain dari perjanjian. Seluruh Alkitab merupakan satu perjanjian, dan Perjanjian Lama adalah perjanjian atau wasiat yang lama.

Sebelum kita percaya kepada Kristus, kita ini, orang kafir, tidak saja terasing dari kewargaan Israel, tetapi juga tidak mendapat bagian dalam perjanjian-perjanjian yang dijanjikan Allah. Kita telah nampak bahwa janji ialah firman Allah, dan janji-janji itu telah menjadi perjanjian yang mengikat, agar semua firman yang dikatakan Allah kepada umat-Nya telah dilegalisir oleh-Nya menjadi satu perjanjian. Sebelum kita diselamatkan, kita adalah orang asing, yang terasing dari perjanjian yang dijanjikan Allah.

VI. TANPA PENGHARAPAN

Berdasarkan status kita sebelum kita diselamatkan, kita tidak memiliki pengharapan. Semua berkat Allah terkandung di dalam Kristus; semua hak kewargaan berhubungan dengan bangsa Israel, dan semua hal baik dijanjikan dalam ketentuan Allah. Karena kita terpisah dari Kristus, terasing dari kewargaan Israel, dan orang asing terhadap ketentuan janji Allah, kita tidak memiliki harapan apa pun.

VII. TANPA ALLAH

Sebagai orang kafir dalam daging, kita pun tanpa Allah (ayat 12). Allah ada di dalam Kristus; Dia memerintah dan bergerak di antara warga Israel; dan Dia melimpahkan berkat-Nya menurut ketentuan-Nya. Ketika kita terpisah dari Kristus, kewargaan Israel, dan ketentuan-ketentuan janji Allah, kita tanpa Allah; kita tidak memiliki Allah sebagai kenikmatan kita.

VIII. DI DALAM DUNIA

Ayat 12 juga menegaskan bahwa kita berada “di dalam dunia”. Dunia, sistem Iblis, berlawanan dengan kewargaan Israel. Kewargaan Israel adalah Kerajaan Allah, sedangkan dunia adalah kerajaan Iblis. Sebelum kita diselamatkan, kita hidup di dalam dunia, tidak memiliki pengharapan, dan tidak ada Allah sebagai kenikmatan kita. Itulah sebabnya kita mengejar-ngejar hiburan duniawi. Orang-orang duniawi hari ini lapar akan hiburan-hiburan, sebab mereka tidak memiliki Allah sebagai kenikmatan mereka. Namun, karena kita kini berada dalam Kristus, kita memiliki Allah sebagai kenikmatan kita. Betapa memuaskannya kenikmatan ini!

Banyak tahun yang lalu, beberapa teman saya yang belum beroleh selamat bertanya kepada saya, mengapa saya tidak mau ikut bermain judi. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya sibuk menikmati Alkitab, dan tidak ada waktu, juga tidak tertarik oleh perjudian. Sewaktu saya ditanya orang mengapa saya tidak mau menonton film, saya menjawab bahwa saya mempunyai film surgawi, yaitu hidup gereja, tempat di mana saya dapat melihat visi surgawi. Karena saya sudah mempunyai kenikmatan yang penuh atas Allah, maka di dalam saya tidak ada ruang kosong lagi untuk diisi oleh hiburan-hiburan duniawi. Hari ini kita tidak lagi berada dalam dunia, kita berada dalam Kristus, dalam Roh, dan dalam surga.

Sekarang kita telah mempunyai satu gambaran yang jelas tentang status kita sebelum kita diselamatkan. Kita berada dalam kedudukan sebagai orang Kafir dalam daging, tidak bersunat, di luar Kristus, terasing dari kewargaan Israel, dan tidak mendapat bagian dalam perjanjian yang dijanjikan Allah, tanpa pengharapan, dan tanpa Allah di dalam dunia. Menurut sifat kita, kita telah mati; menurut status kita, kita telah terasing dari Allah, Kristus, janji Allah, Kerajaan Allah, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah. Karena kita berada dalam kedudukan sedemikian, maka kita tidak berpengharapan, dan tidak memiliki Allah sebagai kenikmatan kita. Di dalam dunia kita menuntut hiburan-hiburan yang berdosa untuk mendapatkan kepuasan. Namun, gereja telah dikeluarkan dari keadaan dan kedudukan yang menyedihkan itu. Allah telah menyelamatkan kita dari keadaan itu dan menjadikan kita anggota Tubuh Kristus. Kita sekarang adalah karya agung Allah, dan kita mempunyai satu keadaan baru, kedudukan baru, sifat baru, dan status baru.

Efesus 2:13 mengatakan, “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.” Kalau ayat 4 dimulai dengan kata “tetapi Allah”, ayat ini dimulai dengan “tetapi seka-rang”.

Dalam Efesus 2 Rasul Paulus menampilkan dua gambar: gambar keadaan kita berdasarkan sifat kita (ayat 1-3), dan gambar kedudukan kita berdasarkan status kita (ayat 11-12).

Karena sifat kejatuhan kita, kita berada dalam kedudukan yang demikian rendah. Menurut sifat kita, kita telah jatuh; menurut status kita, kita telah jauh dari Allah, Kristus, kewargaan Israel, dan perjanjian-perjanjian yang dijanjikan. Efesus 2 mewahyukan bahwa kita tidak saja perlu diselamatkan dari keadaan kita oleh anugerah Allah, tetapi juga perlu dipindahkan dari kedudukan kita oleh penebusan Kristus. Ketika kita dipindahkan keluar dari kedudukan kita yang semula, maka kita yang dahulu jauh kini telah menjadi dekat.

Allah telah menyelamatkan kita melalui menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita menjadi keselamatan kita. Inilah anugerah keselamatan yang menyelamatkan kita dari keadaan yang diakibatkan oleh sifat kita yang jatuh. Ketika hayat masuk ke dalam kita, kita lalu diselamatkan dari keadaan maut. Allah pun telah memindahkan kita dari kedudukan kita yang semula kepada satu kedudukan baru, di mana kita memperoleh satu status baru.

IX. DAHULU JAUH

Untuk mengapresiasi ayat 13, kita perlu meninjau kembali butir-butir utama dalam ayat 11 dan 12. Sebelum kita beroleh selamat, kita adalah bangsa-bangsa dalam daging, yang disebut sebagai orang-orang tidak bersunat. Manusia yang diciptakan Allah untuk menggenapkan kehendak Allah asalnya murni, tanpa dosa atau campuran negatif yang mana pun. Tetapi dosa, sifat Iblis yang jahat, melalui kejatuhan masuk ke dalam manusia, mula-mula mengakibatkan tubuh manusia menjadi daging, penuh dengan hawa nafsu, dan akhirnya membuat seluruh diri manusia menjadi daging. Jadi, manusia dirusak dan tidak berdaya menggenapkan kehendak Allah. Lalu Allah datang memanggil satu suku dari antara manusia yang telah jatuh — Abraham dan keturunannya. Untuk menggenapkan kehendak Allah, Allah menyuruh mereka disunat, yaitu menyingkirkan daging mereka. Hal ini telah membuat umat Allah terpisah dari umat manu-sia yang telah jatuh, dan menyelamatkan mereka keluar dari keadaan kejatuhan itu. Sunat membuat satu perbedaan yang hebat antara mereka dengan umat manusia lainnya, yaitu mereka yang kemudian disebut orang-orang yang tidak bersunat, dan yang tetap berada dalam keadaan kejatuhan. Dahulu, sebelum kita dimasukkan ke dalam Kristus, kita pun berada dalam kategori ini.

Karena kita terpisah dari Israel, yang darinya Kristus berasal, maka kita pun terpisah dari Kristus dan tidak bersangkut paut apa pun dengan-Nya. Lagi pula, kita telah terasing dari kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan. Selain itu, kita tidak berpengharapan, tanpa Allah, dan berada di dalam sistem dunia yang setani. Berhubung kita jauh dari Kristus, kewargaan Israel, dan ketentuan yang dijanjikan Allah, maka kita pun jauh dari Allah serta segala berkat-Nya.

X. TETAPI SEKARANG DEKAT

Frase yang mustika yang mengawali ayat 13 “tetapi sekarang”, menandakan bahwa sekarang di dalam Kristus, kita memiliki pengharapan, juga memiliki Allah. Kita pun tidak lagi berada di dalam dunia, melainkan di dalam Kristus Yesus. Di dalam Kristus inilah kita telah menjadi dekat.

Namun kepada apakah atau siapakah kita telah didekatkan? Kita tidak saja telah dekat dengan Allah, juga dekat kepada Kristus, kepada Israel, dan kepada janji Allah. Ini sama dengan dekat kepada Allah dan semua berkat-Nya. Maka dalam darah penebusan Kristus kita telah menjadi dekat, baik kepada Israel maupun kepada Allah.

Telah kita tandaskan bahwa kita dahulu jauh dari Kristus, dari kewargaan Israel, dan dari ketentuan-ketentuan janji Allah. Ini sama dengan jauh dari Allah dan semua berkat-Nya. Namun sekarang, di dalam Kristus kita telah didekatkan kepada setiap perkara yang da-hulunya jauh dari kita. Kita telah dipindahkan dari status kita yang semula ke dalam Kristus. Karena posisi dan status kita yang baru di dalam Kristus inilah maka kita sekarang tidak jauh lagi.

Ayat 13 khusus mengatakan bahwa kita menjadi dekat oleh darah Kristus. Ini berarti kita tidak saja berada dalam Mesias, tetapi juga berada dalam penebusan yang dirampungkan oleh Mesias. Orang-orang Yahudi masih mengharapkan kedatangan Mesias, namun mereka tidak menyadari betapa mereka memerlukan penebusan Mesias. Pemindahan kita dari status lama ke status baru di dalam Kristus sesungguhnya telah dirampungkan oleh penebusan Kristus. Kita dahulu berada dalam status rendah karena kita telah jatuh. Tatkala Kristus mengalirkan darah-Nya di atas salib bagi penebusan kita, darah-Nya mengeluarkan kita dari status rendah itu. Sekarang karena kita telah dipindahkan oleh darah Kristus, kita kini berada di dalam Kristus dan di surga. Karena itu, kita sudah dekat dengan Allah. Kita pun dekat dengan Israel, janji Allah, dan berkat-berkat Allah. Dengan kata lain, dalam posisi surgawi ini kita menjadi satu dengan Allah, dengan Israel yang wajar, dengan perjanjian Allah, dan juga menjadi satu dengan berkat-berkat Allah. Berhubung kita telah dipindahkan dari status semula ke status baru, maka kita dapat mengambil bagian dalam segala sesuatu yang berasal dari Allah. Inilah bagian kita di dalam Kristus.

Kita telah diselamatkan dari keadaan kejatuhan melalui hayat, dan kita telah dipindahkan dari status kita yang dahulu melalui penebusan Kristus. Sekarang kita menikmati keselamatan dan mengambil bagian dalam segala sesuatu yang berasal dari Allah. Haleluya, kita telah diselamatkan dan dipindahkan! Pasal 2 menampilkan sebuah lukisan yang jelas, yaitu bagaimana kita telah diselamatkan dari keadaan kita yang kasihan, untuk menjadi karya agung Allah, dan bagaimana kita telah dipindahkan dari kedudukan dan status kita yang dahulu untuk menjadi manusia yang baru, yakni warga Allah, kaum keluarga Allah, dan tempat kediaman Allah. Demikianlah wahyu yang terdapat dalam Efesus 2.