DISELAMATKAN OLEH ANUGERAH MENJADI KARYA AGUNG ALLAH
Dalam berita ini kita tiba pada Efesus 2:4-10, yaitu bagian Kitab Efesus yang mewahyukan kita telah disela-matkan oleh anugerah menjadi karya agung (master-piece) Allah.
I. ALLAH KAYA DENGAN RAHMAT
Ayat 4 yang memberi tahu kita bahwa Allah kaya dengan rahmat diawali dengan kata-kata “Tetapi Allah”. Ini merupakan faktor yang mengubah kedudukan kita. Dulu kita berada dalam situasi yang menyedihkan, tetapi Allah datang dengan rahmat-Nya yang kaya untuk mem-buat kita cocok bagi kasih-Nya.
II. KASIH ALLAH YANG BESAR YANG
DILIMPAHKAN-NYA KEPADA KITA
Allah kaya dengan rahmat “karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita” (ayat 4). Sasaran kasih seharusnya dalam keadaan yang dapat dikasihi, tetapi sasaran rahmat selalu dalam situasi yang patut dikasihani. Maka, rahmat Allah mencapai lebih jauh daripada kasih-Nya. Allah mengasihi kita karena kita adalah sasaran dari pemilihan-Nya. Tetapi karena ke-jatuhan, kita menjadi sangat kasihan, bahkan mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita; karena itu, kita memerlukan rahmat Allah. Karena kasih-Nya yang besar, Allah kaya dalam rahmat menyelamatkan kita keluar dari kedudukan kita yang kasihan ke dalam suatu keadaan yang sesuai untuk kasih-Nya.
III. SEKALIPUN KETIKA KITA MATI DALAM PELANGGARAN-PELANGGARAN
Rahmat Allah dilimpahkan kepada kita sekalipun kita telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran (ayat 5 Tl.). Kita sebenarnya tidak patut menerima apa-apa dari Allah, namun Allah telah melimpahkan rahmat kepada kita dalam situasi kita yang kasihan.
IV. MENGHIDUPKAN KITA
BERSAMA-SAMA DENGAN KRISTUS
Ayat 5 mengatakan bahwa kita telah dihidupkan bersama-sama dengan Kristus. Kitab Efesus tidak seperti Kitab Roma yang menganggap kita sebagai orang-orang dosa, melainkan sebagai orang-orang mati. Sebagai orang-orang dosa, kita memerlukan pengampunan dan pembenaran Allah, seperti yang dinyatakan dalam Kitab Roma. Tetapi sebagai orang-orang mati, kita perlu dihidupkan. Pengampunan dan pembenaran membawa kita kembali ke hadirat Allah untuk menikmati anugerah-Nya dan berbagian dalam hayat-Nya, sedangkan dihidupkan menyebabkan kita, anggota-anggota Tubuh Kristus yang hidup, mengekspresikan Dia. Allah menghidupkan kita dengan menyalurkan hayat kekal-Nya, yaitu Kristus sendiri (Kol. 3:4), ke dalam roh kita yang mati melalui Roh hayat-Nya (Rm. 8:2). Dia te-lah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus. Allah menghidupkan kita bersama-sama ketika Dia menghidupkan Yesus yang tersalib. Karena itu, Dia menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus.
Sebagai perkataan dalam tanda kurung dalam ayat 5, Paulus mengatakan, “Oleh anugerah kamu diselamat-kan.” Anugerah adalah cuma-cuma. Di sini bukan hanya berarti Allah menyalurkan diri-Nya dengan cuma-cuma ke dalam kita untuk kenikmatan kita, tetapi juga perbuatan Allah dalam menyelamatkan kita dengan cuma-cuma. Oleh anugerah ini kita telah diselamatkan keluar dari kedudukan kematian yang kasihan ke dalam wilayah hayat yang ajaib.
V. MEMBANGKITKAN KITA BERSAMA
DAN MENDUDUKKAN KITA BERSAMA
Ayat 6 mengatakan, “Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga.” Menghidupkan kita adalah langkah awal dari keselamatan Allah dalam hayat. Setelah ini, Allah membangkitkan kita dari posisi kematian. Dihidupkan itu satu perkara, dan dibangkitkan itu perkara lain. Kisah kebangkitan Lazarus adalah satu contoh (Yoh. 11). Tuhan mula-mula menghidupkan dia kemudian membangkitkannya keluar dari kubur. Seasas dengan itu, rahmat Allah mula-mula menghidupkan kita kemudian membangkitkan kita keluar dari kematian.
Ayat 6 mengatakan bahwa kita telah dibangkitkan bersama dan diberi tempat (didudukkan) bersama-sama. Dari pihak kita, kita telah dibangkitkan dari posisi kematian satu demi satu. Tetapi dalam pandangan Allah, kita semua telah dibangkitkan bersama-sama, sama seperti bangsa Israel yang dibangkitkan bersama-sama dari air kematian Laut Merah (Kel. 14). Menurut Kitab Keluaran, seluruh jemaah bani Israel telah diselamatkan secara serentak, sebab mereka melalui Laut Merah bersama-sama. Lambang yang jelas ini memperlihatkan bahwa kita semua telah diselamatkan bersama-sama; kita semua telah dihidupkan dan dibangkitkan pada waktu yang sama.
Saya ingin menunjukkan sekali lagi bahwa kese-lamatan dalam Kitab Efesus berbeda dengan keselamatan dalam Kitab Roma. Dalam Kitab Roma keselamatan adalah melalui kebenaran Allah, tetapi dalam Kitab Efesus melalui hayat ilahi. Keselamatan yang diungkapkan dalam Kitab Efesus bukanlah yang memuaskan tuntutan keadilan Allah, melainkan yang menyalurkan hayat ke dalam kita, menjadikan kita anggota Tubuh Kristus, agar kehendak kekal Allah untuk memiliki satu Tubuh yang hidup bagi ekspresi Kristus dapat digenapkan. Kehendak ini bukan digenapkan melalui kebenaran, melainkan hayat. Karena itu, Efesus 2 menekankan bahwa kita telah dihidupkan bersama-sama dengan Kristus.
A. Di Surga
Ayat 6 mengatakan bahwa kita telah didudukkan bersama-sama di surga. Langkah ketiga dari keselamatan Allah dalam hayat adalah mendudukkan kita bersama-sama di surga. Allah bukan hanya membangkitkan kita dari posisi kematian, tetapi juga mendudukkan kita di tempat tertinggi dalam alam semesta.
Alam surgawi adalah posisi tertinggi, yang ke dalamnya kita telah diselamatkan dalam Kristus. Dalam Kitab Roma, Kristus sebagai kebenaran kita membawa kita ke dalam keadaan yang diperkenan Allah. Dalam Kitab Efesus, Kristus sebagai hayat kita telah menyelamatkan kita ke dalam kedudukan yang jauh melampaui semua musuh Allah. Di dalam atmosfer surgawi ini, dengan sifat dan ciri-ciri surgawi, kita adalah umat surgawi. Kata “di surga” sangat khas, bukan hanya mengacu kepada satu tempat, juga satu atmosfer yang mengandung sifat dan ciri-ciri tertentu. Maka keselamatan Allah oleh hayat telah membawa kita ke dalam tempat surgawi dan ke dalam atmosfer surgawi yang mengandung ciri-ciri surgawi pula. Ketika kita berhimpun bersama, kita sering mempunyai satu perasaan yang dalam, yaitu seolah-olah kita tidak berada dalam atmosfer atau suasana bumiah, melainkan dalam atmosfer surgawi. Akan tetapi bila Anda pergi ke bioskop atau tempat-tempat duniawi lainnya, Anda akan merasa diri Anda terendam dalam atmosfer bumiah. Berhubung kita berada dalam atmosfer surgawi yang mengandung sifat dan ciri-ciri surgawi, maka kita adalah umat surgawi. Keselamatan Allah telah memindahkan kita ke dalam alam lingkungan dan atmosfer yang sedemikian.
B. Di dalam Kristus Yesus
Di dalam Kristuslah Allah mendudukkan kita semua bersama-sama, sekali untuk selamanya di surga. Ini telah digenapkan ketika Kristus naik ke surga, dan telah diterapkan kepada kita oleh Roh Kristus sejak kita percaya kepada-Nya. Hari ini kita menyadari dan mengalami realitas ini di dalam roh kita oleh iman dalam fakta yang telah digenapkan.
Baik Kitab Roma maupun Kitab Efesus, kedua-duanya menunjukkan bahwa kita berada dalam Kristus. Hanya saja dalam Kitab Roma, berpindah dari Adam ke dalam Kristus terutama adalah satu masalah ditempatkannya kita ke posisi dibenarkan, sedangkan dalam Ki-tab Efesus, berada dalam Kristus bukan hanya perkara posisi surgawi, bahkan lebih penting lagi, yaitu masalah hayat. Karena kita ada di dalam Kristus, kita memiliki vitalitas hayat. Dalam Kitab Roma Kristus ialah kebenaran Allah, tetapi dalam Kitab Efesus Kristus ialah hayat. Karena itu, menurut Kitab Roma, berada dalam Kristus berarti berada dalam posisi dibenarkan, sedang menurut Kitab Efesus, berada dalam Kristus berarti memiliki vitalitas hayat.
VI. KEKAYAAN ANUGERAH ALLAH YANG BERLIMPAH-LIMPAH
Ayat 7 mengatakan, “Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan anugerah-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.” Masa yang akan datang ialah zaman-zaman Kerajaan Seribu Tahun dan kekekalan yang akan datang, yaitu setelah zaman ini, saat gereja dihasilkan. Menunjukkan kekayaan anugerah Allah berarti memamerkannya kepada alam semesta secara publik (umum). Kekayaan anugerah Allah, yaitu kekayaan Allah sendiri bagi kenikmatan kita, melampaui setiap batasan. Ini akan dipamerkan di depan umum sampai kekekalan.
Dikatakan dalam ayat 7 bahwa kekayaan anugerah Allah yang berlimpah-limpah ditujukan kepada kita sesuai dengan kebaikan-Nya di dalam Kristus Yesus. Kebaikan adalah keindahan kebajikan yang keluar dari rahmat dan kasih. Dalam kebaikan inilah anugerah Allah diberikan kepada kita.
VII. KARENA ANUGERAH
Ayat 8 mengatakan, “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman.” Kata “sebab” yang mengawali ayat ini menyatakan alasan Allah memamerkan anugerah-Nya (ayat 7). Karena kita telah diselamatkan oleh anugerah-Nya, maka Allah dapat memamerkannya.
Dalam Kitab Efesus anugerah mengacu kepada Allah disalurkan ke dalam kita. Jadi, diselamatkan karena anugerah berarti diselamatkan melalui penyaluran Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke dalam kita. Kebanyakan orang Kristen menganggap anugerah sebagai suatu barang, bukan suatu persona. Bagi mereka anugerah adalah hadiah yang diberikan kepada mereka dengan cuma-cuma. Berdasarkan konsepsi anugerah yang demikian, kita sebagai orang dosa yang tidak layak beroleh keselamatan Allah, tetapi Allah telah menyelamatkan kita dengan cuma-cuma melalui memberikan hadiah tanpa jasa. Namun anggapan ini adalah pengertian yang dangkal atas arti diselamatkan karena anugerah.
Yohanes 1:17 mengatakan bahwa anugerah datang oleh Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa anugerah mirip dengan suatu persona. Kitab Efesus mewahyukan bahwa anugerah yang menyelamatkan ialah Allah sendiri dalam Kristus yang digarapkan ke dalam diri kita. Kita telah menekankan bahwa konsepsi yang menguasai Efesus 1 ialah penyaluran Allah Tritunggal ke dalam diri kita. Karena itu, diselamatkan karena anugerah berarti diselamatkan melalui penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita.
Banyak orang Kristen mengira keselamatan hanya berarti tertolongnya kita dari situasi yang kasihan. Menurut pengertian ini, diselamatkan karena anugerah berarti memiliki Juruselamat yang kaya dengan rahmat, yang mendatangi kita yang berada dalam keadaan rendah dan menyelamatkan kita. Tetapi ini bukanlah keselamatan yang diwahyukan dalam Kitab Efesus. Menurut Kitab Efesus, keselamatan ialah transmisi Kristus yang telah berinkarnasi, disalibkan, dibangkitkan, dan dinaikkan itu ke dalam diri kita. Ketika Persona ini datang ke dalam kita sebagai anugerah, kita pun diselamatkan. Begitu kita menerima transmisi ilahi yang sedemikian, kita dihidupkan, dibangkitkan, dan didudukkan bersama-sama Kristus di surga. Maka, dalam Kitab Efesus anugerah ialah Persona Penyelamat, Kristus sendiri. Haleluya bagi keselamatan yang sedemikian! Inilah satu pengertian yang lebih dalam atas hal diselamatkan karena anugerah.
Bukanlah satu hal yang sederhana bagi Allah untuk ditransmisikan ke dalam kita sebagai anugerah. Dia harus melalui proses inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Setelah melalui proses sedemikian, barulah Dia sekarang dapat mentransmisikan diri-Nya ke dalam kita. Sewaktu Allah yang telah melalui proses ini mentransmisikan diri-Nya ke dalam kita, Dia lalu menjadi anugerah yang menyelamatkan. Anugerah ini bukan hanya merupakan anugerah yang menakjubkan, juga anu-gerah yang berlimpah-limpah. Anugerah berarti ditransmisikannya Allah yang telah melalui proses ke dalam diri kita.
Jangan mengira ini hanya suatu penafsiran manusia belaka. Jika Anda membaca Kitab Efesus 1 dan 2 dengan banyak berdoa, Anda akan nampak bahwa Allah melalui proses dan yang ditransmisikan ke dalam diri kita adalah anugerah keselamatan dan anugerah yang berlimpah. Kita telah diselamatkan melalui transmisi Allah yang telah melalui proses ini.
Seperti telah kita tegaskan, anugerah ini memiliki kekayaan yang berlimpah-limpah, mempunyai banyak aspek, kebajikan, dan atribut, seperti hayat, terang, dan kuat kuasa. Tanpa hayat, terang, dan kuat kuasa, Allah tidak dapat menyelamatkan kita. Sebagai contoh, mana mungkin Anda menolong seorang yang jatuh ke dalam lubang jika Anda tidak memiliki tenaga untuk mengangkatnya? Lagi pula, jika Anda tidak mempunyai kasih tentu Anda tidak mau menyusahkan diri untuk menolongnya. Untuk menyelamatkan kita, Allah perlu kasih dan hikmat. Itulah beberapa kekayaan anugerah keselamatan Allah yang berlimpah. Dalam kebaikan-Nya yang ditujukan kepada kita di dalam Kristus Yesus, Allah telah menyelamatkan kita karena anugerah-Nya. Pada zaman-zaman yang akan datang — dalam Kerajaan Seribu Tahun dan kekekalan yang akan datang — Allah akan memamerkan anugerah ini secara terbuka kepada alam semesta.
VIII. OLEH IMAN
Dalam ayat 8 Paulus mengatakan bahwa karena anugerah, kita diselamatkan oleh iman. Iman adalah sub-stansiasi (perwujudan) dari hal-hal yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1). Dengan imanlah kita membuktikan semua hal yang telah Kristus genapkan bagi kita. Melalui kemampuan membuktikan ini, kita telah diselamatkan karena anugerah. Tindakan cuma-cuma dari anugerah Allah menyelamatkan kita melalui substansiasi iman kita.
Berbicara mengenai iman, ayat 8 juga mengatakan, “itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Iman bukan hasil usaha kita, bukan pula pekerjaan atau perjuangan kita, melainkan pemberian Allah, sehingga tidak seorang pun dapat memegahkan diri (ayat 9). Iman bukan berasal dari diri kita sendiri. Walaupun kita percaya, tetapi iman yang olehnya kita percaya bukan berasal dari kita. Di dalam diri kita sendiri tidak ada iman sedikit pun. Akan tetapi ketika kita bertobat dan mengaku dosa kepada Allah dalam nama Tuhan Yesus, kemampuan untuk percaya itu ditaruh di dalam kita. Sebelum kita diselamatkan, kita sama sekali tidak dapat percaya. Tetapi pada hari kita diselamatkan, iman telah disalurkan kepada kita, sehingga kita dapat percaya. Orang lain mungkin bertanya bagaimana kita bisa percaya kepada Yesus Kristus, sedangkan kita tidak pernah melihat-Nya. Walaupun kita tidak pernah melihat-Nya, kita tidak dapat tidak percaya kepada-Nya. Iman ini bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan bagian dari anugerah yang ditransmisikan ke dalam kita.
Iman sebenarnya adalah satu aspek dari Kristus. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan iman Kristus (Rm. 3:22). Dalam Galatia 2:20 Paulus mengatakan, “Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah . . .” Iman adalah Kristus itu sendiri. Ketika beberapa orang mendengar saya berkata demikian, mereka mungkin mengira bahwa bagi saya Kristus adalah segala-galanya. Ini memang benar. Iman yang dikaruniakan kepada kita ialah iman bersama yang dimiliki setiap orang beriman (Tit. 1:4). Iman ialah yang dikaruniakan, iman ialah yang diterima, dan iman ialah yang dimiliki bersama. Ketika kita menjajarkan semua fakta ini, kita nampak bahwa iman tidak lain ialah Kristus sendiri.
Seandainya di depan Anda ada sebutir berlian yang indah, Anda akan spontan mengapresiasinya. Apresiasi ini bukan berasal dari Anda, melainkan dari berlian itu. Dari suatu segi, apresiasi Anda adalah berlian itu sendiri. Anda pasti tidak memiliki apresiasi serupa itu terhadap segumpal tanah. Sebutir berlian patut mendapat apresiasi, tetapi tanah tidak. Demikian pula, alasan kita tidak menaruh iman kepada Sokrates atau Konghucu adalah karena mereka tidak dapat dipercaya. Tetapi karena Kristus mutlak dapat dipercaya, maka kita menaruh iman kepada-Nya. Iman kita kepada Kristus bukan berasal dari kita, melainkan dari Dia. Ketika kita melihat Kristus, iman lalu disalurkan kepada kita. Karena itu, tidaklah tanpa alasan kita mengatakan bahwa iman ialah Kristus. Ini sama dengan kita mengatakan kekudusan, kasih, keadilan, kesabaran, dan ketahanan ialah Kristus.
Berhubung iman yang unik ialah Kristus sendiri, maka kita yang percaya kepada-Nya memiliki iman bersama. Anda tidak mungkin memiliki satu macam iman dan saya memiliki iman lain. Ketika Dia datang kepada saya, saya percaya; ketika Dia datang kepada Anda, Anda percaya. Kapan saja Kristus datang kepada seseorang, orang itu percaya kepada-Nya. Inilah petunjuk lebih lanjut bahwa iman bukan berasal dari kita, melainkan dari Kristus.
Karena iman ialah pemberian Allah, bukan hasil usaha kita, maka tidak seorang pun di antara kita berhak memegahkan diri. Sebaliknya, kita semua wajib berkata dengan rendah hati, “Tuhan, bila Engkau tidak datang kepadaku, aku tidak mungkin memiliki iman sedikit pun. Tetapi terpujilah Tuhan, Engkau telah datang, dan aku telah menerima iman! Tuhan, Engkaulah imanku.”
IX. KARYA AGUNG ALLAH
Kita telah diselamatkan karena anugerah dan oleh iman untuk menjadi karya agung Allah. Ayat 10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah.” Istilah buatan dapat kita terjemahkan menjadi “karya agung”, yakni “poiema” dalam bahasa Yunaninya, dan yang berarti sesuatu yang telah dibuat, pekerjaan tangan atau sesuatu yang ditulis atau dikarang sebagai puisi. Bukan hanya tulisan puisi dapat dianggap sebagai puisi, tetapi juga setiap karya seni yang mengekspresikan hikmat dan pola pembuatnya. Kita, gereja, karya agung Allah, adalah puisi yang mengekspresikan hikmat Allah yang tidak terbatas, dan pola ilahi Allah.
Allah telah menciptakan banyak hal, tetapi selain gereja, tidak ada satu pun yang disayangi, dihargai, dimustikakan, dan didambakan. Gereja adalah karya agung Allah. Para pengarang, komposer, atau seniman sering berusaha mencapai suatu karya agung, suatu hasil karya yang luar biasa. Langit, bumi, dan manusia yang diciptakan Allah bukanlah karya agung Allah, tetapi gereja, Tubuh Kristus, kepenuhan dari Dia yang memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu, manusia baru yang korporat dan universal. Apakah yang dapat menjadi suatu pekerjaan yang lebih besar daripada gereja ini? Selain itu, gereja sebagai karya agung Allah ialah manusia baru yang korporat dan yang universal (Ef. 2:15). Karena kita meninjau dari sudut “dapur” kehidupan gereja yang berantakan, maka kita tidak dapat memahami gereja sebagai karya agung. Namun pada akhirnya kita akan nampak bahwa kita adalah Tubuh dan manusia baru, yakni karya agung Allah.
X. DICIPTAKAN
A. Dalam Kristus Yesus
Ayat 10 mengatakan bahwa kita, buatan Allah ini “diciptakan dalam Kristus Yesus”. Kita, gereja, karya agung Allah, adalah hal yang mutlak baru, penemuan baru Allah dalam alam semesta. Kita diciptakan oleh Allah dalam Kristus melalui kelahiran kembali untuk menjadi ciptaan baru-Nya (2Kor. 5:17).
B. Melalui Perbauran Allah dengan Manusia
Karya agung Allah ini sama sekali baru karena ia merupakan perbauran antara Allah dengan manusia. Kita dapat juga mengatakan bahwa gereja merupakan satu produk perbauran, yakni dua hayat berbaur menjadi satu. Para penentang menuduh kita mengajarkan bahwa gereja adalah Allah. Namun, kita tidak mengatakan demikian. Tetapi kita benar-benar mengatakan bahwa gereja adalah perbauran Allah dengan manusia. Karya agung Allah, buatan-Nya yang terbesar ialah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia dan menyusun manusia menjadi satu dengan diri-Nya untuk memproduksi gereja.
Seperti telah kita tunjukkan, karya agung ini ialah suatu puisi, suatu karya seni yang mengekspresikan hikmat, rancangan dan keindahan si pembuatnya. Gereja adalah puisi Allah yang menyatakan hikmat-Nya. Menurut Efesus 3:10, berbagai ragam hikmat Allah akan disiarkan melalui gereja. Puisi (syair) mengekspresikan hikmat si penulis. Pada zaman yang akan datang, dalam Kerajaan Seribu Tahun dan dalam kekekalan, akan ada sebuah syair yang unik, yakni gereja, yang mengekspresikan hikmat dan rancangan Allah. Tatkala kita nampak Yerusalem Baru, kita akan memuji keindahan, hikmat, dan rancangan Allah yang dinyatakan dalam produk ajaib ini. Yerusalem Baru akan menjadi puisi atau syair Allah, karya agung Allah. Ketika kita nampak karya agung Allah di langit baru dan bumi baru, kita boleh berkata, “Inilah syair yang terbaik yang pernah dikarang da-lam alam semesta!” Demikianlah konsepsi Paulus dalam menulis Efesus 2.
C. Untuk Pekerjaan Baik
Terakhir, kita adalah karya agung Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus “untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (ayat 10). Pekerjaan-pekerjaan baik yang mendorong Allah menciptakan kita bukanlah hal-hal baik menurut konsepsi umum kita, tetapi perbuatan-perbuatan baik tertentu yang telah direncanakan dan ditetapkan Allah sebelumnya bagi kita agar kita hidup di dalamnya. Hal-hal yang baik ini pastilah perbuatan kehendak-Nya supaya kita dapat menempuh kehidupan gereja dan mengemban kesaksian Yesus, seperti yang dinyatakan dalam pasal-pasal berikutnya dari kitab ini. Karena itu, kita perlu melakukan kehendak Allah, menempuh hidup gereja, dan memikul kesaksian Yesus. Itulah pekerjaan-pekerjaan baik yang disediakan Allah sebelumnya bagi kita, karya agung-Nya, agar kita hidup di dalamnya. Maka, Efesus 2:4-10 mewahyukan bahwa kita telah diselamatkan karena anugerah untuk menjadi karya agung Allah agar kita dapat hidup di dalam pekerjaan-pekerjaan baik yang disediakan sebelumnya oleh Allah.