← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 20/25

MATI DALAM PELANGGARAN DAN DOSA

Dalam berita ini kita tiba pada Efesus 2. Kita telah nampak dalam pasal 1 tidak disebut-sebut tentang rahmat atau belas kasihan Allah, karena segala sesuatu yang terdapat di sana sangat indah. Namun yang terlukis dalam pasal 2 adalah situasi yang menyedihkan; situasi yang memerlukan belas kasihan Allah yang kaya. Dalam berita ini kita khusus ingin mempersekutukan ketiga ayat pertama dari pasal 2 ini.

Efesus 2 pada hakekatnya tidak membahas keadaan mengenaskan dari manusia yang telah jatuh, melainkan membahas terlahirnya dan terbangunnya gereja. Pada akhir pasal 1 kita nampak gereja sebagai Tubuh Kristus dihasilkan melalui transmisi Kristus yang naik ke surga. Inilah gereja dipandang dari sudut positif, dari atas. Namun kita tidak boleh melihatnya dari atas saja, kita juga perlu melihatnya dari bawah. Kalau pada pasal 1 Paulus melihat gereja dari sudut surga, yakni gereja sebagai hasil transmisi Kristus yang telah naik ke surga, maka pada pasal 2 ia memandangnya dari sudut bawah, yakni dari keadaan yang menyedihkan dari manusia yang jatuh.

I. KELANJUTAN PASAL SATU

Efesus 2:1 mengatakan, “(Dan) Kamu dahulu sudah mati karena (dalam) pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Secara gramatikal, adanya kata “dan” menandakan kalimat terakhir dari pasal 1 belum selesai. Ayat terakhir dari pasal 1 mewahyukan bahwa gereja, Tubuh Kristus, dihasilkan oleh Kristus melalui pencapaian-Nya. Pasal 2 menyatakan kepada kita latar belakang dihasilkannya gereja, yaitu wilayah kematian.

Dalam pasal 1 Rasul Paulus mengutarakan banyak perkara yang indah. Ia mengatakan bahwa gereja terlahir melalui transmisi yang ajaib dari Kristus yang naik ke surga. Ia juga menyinggung tentang Kristus dan kuat kuasa yang beroperasi di dalam-Nya, yang membangkitkan-Nya dari antara orang mati, mendudukkan-Nya di surga, jauh di atas segala sesuatu, menaklukkan segala-galanya di bawah kaki-Nya, dan menjadikan-Nya Kepala atas segala sesuatu kepada gereja, Tubuh-Nya, yakni kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu. Tetapi seperti telah kita tunjukkan, gereja mempunyai aspek lain; ada aspek Kristus, ada pula aspek diri kita sendiri. Karena itu, dalam pasal 2:1 Paulus mengatakan, “(Dan) kamu.” Gereja tidak hanya memiliki aspek ilahi, juga memiliki aspek insani. Kalau pada pasal 1 kita lihat gereja merupakan hasil transmisi dari keilahian surgawi ke dalam kita, maka dalam pasal 2 kita nampak gereja berasal atau keluar dari keinsanian batiniah. Kata sambung “dan” yang mengawali Efesus 2:1 sangatlah berarti dalam mengaitkan kedua aspek gereja ini.

II. MATI DALAM PELANGGARAN DAN DOSA

A. Kematian Rohani

Ayat 1 mengatakan kita sudah mati dalam pelanggaran dan dosa. Ungkapan “sudah mati” ini mengacu kepada kematian roh kita, yang menguasai seluruh diri kita. Kita bukan hanya telah jatuh dan berdosa, bahkan sudah mati.

Sewaktu saya memberitakan Injil di Shanghai pada Tahun Baru 1947, saya mengatakan kepada orang-orang, “Teman-teman, sebagai penginjil, kami harus memberi tahu kalian dengan jujur bagaimana keadaan kalian yang sebenarnya. Kalian bukan hanya orang yang berdosa, bahkan kalian semua sudah mati. Kalian semua ada dalam peti mati dan kubur. Kalian boleh saja menganggap diri kalian sebagai tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang beradab, namun kalian sebenarnya telah mati dan dikubur di dalam kubur. Saya mengatakan kalian demikian sebab sekarang juga Kristus ingin menghidupkan kalian dan membangkitkan kalian dari dalam peti mati kalian.” Inilah salah satu cara yang baik untuk memberitakan Injil.

Karena menanggulangi orang dosa, Kitab Roma tidak menekankan fakta bahwa orang-orang yang jatuh itu juga sudah mati. Kitab Roma menekankan masalah dosa-dosa (perbuatan dosa) dan dosa itu sendiri, sedangkan Kitab Efesus menekankan kematian dan orang-orang yang sudah mati. Keselamatan yang diwahyukan Kitab Roma adalah keselamatan berdasarkan kebenaran. Roma 1:16-17 menerangkan bahwa Injil Allah berkuasa menyelamatkan, karena kebenaran Allah dinyatakan di dalamnya. Jadi dalam Kitab Roma Allah menyelamatkan kita melalui, oleh, dan dengan kebenaran-Nya. Namun, dalam Kitab Efesus Allah menyelamatkan orang-orang mati dengan hayat. Kebenaran tidak berfaedah bagi orang-orang yang sudah mati, yang mereka perlukan ialah hayat. Banyak orang Kristen tidak jelas tentang perbedaan antara keselamatan melalui kebenaran dan keselamatan melalui hayat. Itulah sebabnya mereka memakai Kitab Efesus untuk menerangkan keselamatan melalui kebenaran. Sebagai orang dosa dan orang mati, kita perlu kebenaran dan hayat, kita perlu keselamatan dalam Kitab Roma maupun keselamatan dalam Kitab Efesus.

B. Kehilangan Fungsi yang Memungkinkan Kita Berkontak dengan Allah

Berhubung telah mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa, kita sudah kehilangan fungsi yang memungkinkan kita berkontak dengan Allah. Kematian rohani telah melenyapkan fungsi roh kita. Tidak peduli bagaimana aktifnya kita dalam tubuh dan jiwa, kita telah mati dalam roh kita, tidak dapat menghubungi Allah.

C. Dalam Pelanggaran-pelanggaran dan Dosa-dosa

Ayat 1 mengatakan kita sudah mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita. Pelanggaran-pelanggaran adalah tindakan-tindakan yang melangkahi batas hak seseorang. Dosa-dosa adalah perbuatan-perbuatan kejahatan. Sebelum kita diselamatkan, kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa. Dari latar belakang kematian inilah kita telah diselamatkan menjadi gereja, Tubuh Kristus. Orang-orang yang sudah mati ini telah dihidupkan menjadi organisme yang hidup untuk mengekspresikan Kristus.

Kita perlu menguraikan lebih lanjut tentang pelanggaran. Sewaktu Anda berlomba lari, Anda harus berada pada jalur yang telah ditetapkan. Jika Anda melampaui jalur, berarti Anda melakukan suatu pelanggaran. Anda berhak berlari di dalam jalur itu saja, bila Anda berlari di luar jalur itu, Anda sudah melampaui hak Anda.

Banyak tahun yang lalu, saya beroleh bantuan besar dari seorang saudara yang selalu belajar dalam perkara hayat. Pada suatu hari ia bersaksi, setelah ia diterangi Allah, ia menyadari jika ia mengetuk pintu kamar orang lain tanpa mendapat jawaban, ia tidak berhak memasuki kamar itu. Jika masuk berarti melanggar hak orang lain. Saya sangat beroleh bantuan melalui kesaksian itu. Sejak saat itu, bila saya mengunjungi rumah orang, saya membatasi diri untuk tetap duduk di ruangan tempat saya dipersilakan. Saya tidak berani berjalan-jalan di bagian lain dari rumah itu. Melakukan hal itu berarti melampaui hak saya dan melakukan suatu pelanggaran. Tetapi ada orang yang memasuki rumah orang lain, bahkan meneliti barang-barang orang tanpa perasaan. Walau mereka membenarkan tingkah laku mereka, tetapi dalam pandangan Allah mereka telah melampaui hak mereka.

Misalnya selesai sidang buku kidung seorang saudara tertinggal di kursi. Menurut Anda, berhakkah Anda mengambilnya? Tidak, Anda tidak berhak, kecuali Anda ditugaskan untuk membersihkan balai sidang atau mengumpulkan barang-barang yang hilang atau ketinggalan. Sekalipun Anda berkewajiban untuk memungut barang-barang dalam balai sidang, itu tidak berarti Anda berhak membuka dan melihat-lihat buku kidung saudara itu.

Dalam pandangan Allah, kita sangat sering melampaui hak kita. Karena itu, kita adalah orang-orang yang sudah mati dalam pelanggaran. Selain itu, kita juga sudah mati di dalam dosa-dosa, yakni dalam perbuatan-perbuatan jahat, seperti halnya berdusta, mencuri, dan sebagainya.

III. BERJALAN MENURUT

ZAMAN DUNIA INI

Berbicara tentang pelanggaran dan dosa-dosa kita, ayat 2 mengatakan, “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan (zaman) dunia ini.” Ungkapan “dunia ini” mengacu kepada sistem setani yang terdiri atas banyak zaman. Karena itu, “zaman” di sini mengacu kepada satu bagian, satu aspek penampilan modern saat ini dari sistem Iblis yang digunakan olehnya untuk meng-hasut dan menduduki manusia, sehingga manusia jauh dari Allah dan tujuan-Nya. Ketika kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa, kita berjalan menurut zaman, penampilan modern, arus dunia masa kini, sistem setani itu.

Sepanjang waktu ketika kita mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa, kita sangat aktif dalam dunia ini, yaitu dalam lingkungan kerajaan Iblis. Kata “dunia” dalam bahasa Yunani adalah “cosmos”, berarti sistem. Tetapi ini bukan sistem ilahi maupun insani, melainkan sistem setani. Sistem ini, dunia, tersusun dari banyak zaman, dan setiapnya merupakan satu bagian dari sistem setani itu. Setiap zaman juga merupakan satu jalur atau jalan. Karena itu, terjemahan versi King James memakai ungkapan “jalan dunia ini”. Setiap zaman mempunyai satu gaya atau penampilan yang tersendiri. Dunia yang tampil pada masa Abraham mempunyai satu corak, berlainan dengan corak masa Daud, berbeda pula dengan corak masa Paulus. Hari ini dunia pun memiliki corak modernnya yang tersendiri. Lagi pula, zaman dunia ini memiliki arusnya sendiri. Dahulu kita mengikuti arus zaman sekarang. Ketika orang mengikuti arus zaman, itu suatu bukti kuat bahwa mereka telah mati, mereka bagaikan mayat yang terhanyut oleh arus zaman.

Saya pernah nampak ilustrasi yang amat baik tentang ini ketika saya pergi ke pedalaman China di tahun 1937. Pada suatu hari saya melintasi sebuah sungai kecil yang mengalir dari sebuah bukit. Sungai itu penuh dengan daun yang mati terbawa oleh aliran air. Di antara daun-daun itu ada beberapa ikan kecil yang sedang berenang melawan arus. Ikan-ikan kecil itu dapat melawan arus karena mereka penuh dengan hayat, sedangkan daun-daun itu tidak berhayat, maka mereka terbawa oleh arus. Mereka tidak mempunyai hayat untuk menentang arus. Siapa yang mengikuti arus dunia ini berarti ia telah mati. Arus zaman ini dapat menghanyutkan begitu banyak orang karena mereka semua telah mati. Di seluruh dunia dan di setiap negara, orang-orang telah mati. Karena itu, begitu arus zaman ini datang, mereka segera tergulung olehnya. Dahulu kita pun mati dan terbawa oleh arus zaman, namun sekarang kita telah dihidupkan, arus zaman tidak berdaya mempengaruhi kita lagi.

IV. MENAATI PENGUASA

KERAJAAN ANGKASA

Tatkala kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa, kita tidak hanya aktif dalam mengikuti zaman dunia ini, kita pun menaati “penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” Penguasa di sini mengacu kepada Iblis, kepala dari penguasa-penguasa dan kekuasaan-kekuasaan di udara yang disebutkan dalam 6:12. Roh di sini sama dengan “penguasa kerajaan angkasa” mengacu kepada keseluruhan kuasa malaikat jahat, yang di atasnya ada Iblis sebagai kepala penguasanya. Keseluruhan roh ini sekarang sedang bekerja di dalam orang-orang durhaka. Tetapi kita yang dulunya juga anak-anak durhaka telah diselamatkan menjadi gereja.

Di atas kita ada ruang lingkup yang dikuasai oleh Iblis, penguasa kerajaan angkasa. Tidak banyak orang Kristen yang memahami dengan memadai tentang kuasa jahat di angkasa ini. Seluruh bumi berada di bawah kuasa roh di angkasa ini. Roh jahat dan atmosfer jahat inilah yang menjadi penyebab segala kejahatan, pembunuhan, bahkan bunuh diri. Dialah yang mempengaruhi orang melakukan perkara-perkara jahat yang tidak akan dilakukan oleh manusia yang normal. Sumber kejahatan ini ada di dalam roh, atmosfer, yang menguasai mereka. Roh ini kini sedang beroperasi di antara anak-anak durhaka, di antara mereka yang tidak taat kepada Allah.

V. HIDUP DALAM HAWA NAFSU DAGING

Kita telah nampak adanya dua ruang lingkup — ruang lingkup dunia dan ruang lingkup penguasa angkasa. Ketika kita mati dalam pelanggaran dan dosa, kita sangat aktif dalam kedua ruang lingkup ini. Sekarang kita perlu meninjau ruang lingkup ketiga — ruang lingkup hawa nafsu daging kita. Ayat 3 mengatakan, “Sebe-narnya dahulu kita semua juga termasuk di antara mereka, ketika kita hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita yang jahat. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.” Kata “mereka” dalam ayat ini mengacu kepada orang-orang durhaka dan kata “kita” mengacu kepada semua orang yang beriman, baik orang Yahudi maupun orang kafir. Ketika kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita, kita bertingkah laku dalam hawa nafsu daging, melakukan keinginan daging dan pikiran. Ada tiga hal jahat yang menguasai kehidupan kita: zaman dunia ini di luar kita; kepala penguasa di udara, di atas dan di dalam kita; dan hawa nafsu daging kita, di dalam sifat kita yang jatuh. Dari hal-hal yang jahat ini kita telah diselamatkan menjadi Tubuh Kristus.

Sebelum diselamatkan, kita semua bertingkah laku dalam hawa nafsu daging, melakukan apa saja yang disukai oleh daging dan pikiran. Kata “kehendak” dalam ayat 3 mengacu kepada kesukaan kita. Dahulu, kita melakukan hal-hal tertentu hanya karena kita senang melakukannya. Jika kita senang berdansa, kita pergi berdansa. Jika kita senang menonton pertandingan olahraga, kita menontonnya. Jika kita senang berbelanja, kita pergi berbelanja. Generasi muda hari ini mungkin melebihi generasi mana pun dalam sejarah dalam hal berbuat segala sesuatu semaunya. Kalau Anda bertanya kepada orang muda mengapa mereka melakukan hal-hal tertentu, kebanyakan mereka akan menjawab, karena mereka senang melakukannya. Inilah bukti nyata dari orang yang telah mati. Dalam berbuat segala sesuatu semau mereka, banyak kaum muda hari ini seperti mobil tanpa rem. Betapa berbahaya!

Kehendak daging dalam ayat 3 mengacu kepada halhal yang jahat, dan kehendak pikiran mengacu kepada hal-hal yang agak baik. Namun keduanya adalah tanda matinya roh (khususnya hati nurani). Bila seseorang mati dalam rohnya, pasti ia melakukan apa saja yang disukai oleh daging dan pikirannya.

VI. PADA DASARNYA ADALAH ORANG-ORANG YANG HARUS DIMURKAI

Dalam ayat 3 Paulus mengatakan bahwa kita “pada dasarnya adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.” Kita tidak saja sebagai orang-orang durhaka, kita juga adalah anak-anak yang harus dimurkai. Karena kedurhakaan kita, kita berada di dalam ruang lingkup kematian, di bawah murka Allah. Namun kita sekarang telah diselamatkan baik dari kedurhakaan kita maupun dari murka Allah.

VII. DISELAMATKAN MENJADI

TUBUH KRISTUS

Kita telah nampak bahwa dahulu kita aktif dalam tiga ruang lingkup: zaman dunia, atmosfer jahat yang mengitari bumi, dan hawa nafsu daging, termasuk kehendak atau keinginan daging dan pikiran. Dunia berada di luar kita, hawa nafsu berada di dalam kita, dan atmosfer rohani yang jahat berada di atas dan di dalam kita. Maka mustahillah orang yang sudah mati meloloskan diri dari ketiga ruang lingkup ini. Pada dasarnya semua orang adalah anak-anak durhaka dan anak-anak murka di bawah penghakiman Allah. Tatkala kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa, kondisi kita pun sedemikian. Puji Tuhan, gereja telah dibawa keluar dari ruang lingkup kematian yang sedemikian ini! Kita telah diselamatkan menjadi Tubuh Kristus. Sekarang kita tidak lagi berada dalam ketiga ruang lingkup ini, sebaliknya, kita kini berada dalam Kristus, dalam Roh, dan dalam surga.

Efesus 2:1-3 memberikan suatu lukisan yang jelas tentang keadaan kita menurut sifat kita yang jatuh. Ketika kita berada dalam keadaan itu, kita sudah mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa, namun kita sangat aktif dalam zaman dunia, di bawah penguasaan atmosfer angkasa, dan dalam keinginan daging dan pikiran. Inilah latar belakang gelap yang menonjolkan gereja yang kita lihat. Gereja telah dibawa keluar dari sumber yang menyedihkan sedemikian ini. Haleluya, walaupun kita dulu telah mati dan berada dalam keadaan yang menyedihkan, namun kita telah diselamatkan menjadi Tubuh Kristus! Alangkah ajaibnya keselamatan ini!