← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 19/25

ALLAH TRITUNGGAL DISALURKAN KE DALAM KITA DAN DIGARAPKAN KE DALAM SELURUH DIRI KITA

Efesus 1 berawal dengan kata-kata indah Allah dan berakhir dengan Tubuh, kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu. Ini menunjukkan bahwa Tubuh, kepenuhan Kristus adalah hasil dari berkat Allah. Ungkapan “kepada jemaat” dalam ayat 22 sangat bermakna. Segala yang dialami oleh Allah Tritunggal, termasuk inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan telah ditransmisikan kepada gereja. Gereja sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ciptaan lama, yang telah diakhiri di atas salib dan dikubur bersama Kristus dalam makam. Apa yang ditransmisikan kepada gereja sepenuhnya berasal dari ciptaan baru. Gereja adalah hasil dari transmisi ini.

Berita ini merupakan kesimpulan dari pasal 1. Dalam pasal ini ada tujuh perkara penting dan menentukan yang memerlukan faktor utama yang sama untuk penggenapannya: pemilihan Allah agar kita menjadi kudus tanpa cacat cela (ayat 4), penentuan Allah agar kita menjadi putra-putra-Nya (ayat 5), pemeteraian Roh Kudus agar kita tertebus sepenuhnya (ayat 13-14); pengharapan panggilan Allah; kemuliaan warisan Allah di antara orang-orang kudus (ayat 18); kuat kuasa Allah yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam pencapaian Kristus (ayat 19-22) dan Tubuh, yaitu kepenuhan Kristus yang memenuhi segala sesuatu (ayat 23). Semua perkara ini telah dirampungkan oleh Allah Tritunggal dan disalurkan ke dalam kita serta telah digarapkan ke dalam diri kita. Hasil penyaluran ilahi yang sedemikian ke dalam sifat insani kita adalah kepenuhan-Nya yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu dan menjadi pujian kemuliaan-Nya yang terekspresi. Pada hakekatnya, pasal 1 adalah wahyu tentang ekonomi ajaib dan unggul dari Allah yang dimulai dari pemilihan-Nya atas kita dalam kekekalan sampai dihasilkannya Tubuh Kristus untuk mengekspresikan diri-Nya sendiri sampai selama-lamanya.

Sewaktu Anda mendengar tentang Allah Tritunggal tersalur ke dalam kita dan digarapkan ke dalam diri kita, mungkin Anda mengira dalam pasal 1 tidak terdapat kata maupun pikiran yang sedemikian. Namun Allah Tritunggal benar-benar telah diwahyukan dalam pasal ini. Walau kita tidak dapat menjumpai istilah “tersalur”, tetapi kita melihat istilah “persiapan” (ekonomi) yang menunjukkan suatu tindakan penyaluran (ayat 10). Ingatlah bahwa ekonomi (persiapan) kegenapan waktu itu mencakup segala zaman. Fakta kita menjadi putra-putra Allah memperlihatkan bahwa Allah telah tersalur ke dalam kita. Jika Allah Bapa belum tersalur ke dalam kita, mana mungkin kita menjadi putra-putra-Nya? Kita ditentukan Allah Bapa untuk menjadi putra-putra-Nya. Tetapi kita jatuh dan menjadi orang dosa. Bagaimana mungkin orang-orang dosa menjadi putra-putra Allah? Satu-satunya jalan adalah mengalami Allah terlahir ke dalam diri kita, yaitu kita dilahirkan kembali oleh Allah. Mengalami Allah masuk ke dalam diri kita itu berarti menyalurkan Allah ke dalam kita. Melalui melahirkan kita kembali, Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Selain itu, kita telah menunjukkan bahwa Allah sedang menyusun kita menjadi satu mustika, satu warisan yang berharga dan mahal, melalui menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Karenanya pokok pikiran dari pasal ini ialah Allah Tritunggal disalurkan ke dalam kita dan digarapkan ke dalam diri kita.

Jika Anda tidak memahami pemikiran ini, Anda tidak dapat memasuki kedalaman Efesus 1. Untuk membaca pasal ini kita perlu memiliki konsepsi yang mendasar dan utama, yaitu bahwa Allah sedang menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita dan menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam seluruh diri kita. Ketika Paulus menulis bagian firman ini, saya percaya pemikiran ini tersirat dalam lubuknya. Paulus menyadari sepenuhnya bahwa Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya dan menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam mereka untuk menguduskan mereka, menyusun mereka menjadi putra-putra Allah, dan memungkinkan mereka menjadi warisan-Nya yang indah mustika.

I. DALAM PEMILIHAN ALLAH

Sebelum dunia dijadikan, Allah telah memilih kita, “supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (ayat 4). Bagaimana kita dapat menjadi kudus? Apakah melalui mengikuti ajaran-ajaran yang disebut kekudusan atas masalah pakaian, tata rias, tata rambut, dan sebagainya? Tidak! Kekudusan adalah sifat Allah, dan menjadi kudus berarti memiliki sifat ilahi yang digarapkan ke dalam kita. Tanpa sifat Allah di dalam kita, mustahillah kita menjadi kudus. Untuk menjadi kudus, kita perlu diresapi oleh sifat kudus Allah.

Menjadi kudus mencakup sesuatu yang lebih dalam daripada pemisahan. Ada beberapa guru Kristen mengatakan bahwa menjadi kudus berarti dipisahkan; mereka membantah konsepsi kekudusan sebagai kesempurnaan tanpa dosa. Tuhan Yesus mengatakan bahwa emas dikuduskan oleh bait (Mat. 23:17). Ada beberapa guru memakai ayat itu sebagai ilustrasi untuk membuktikan pengudusan adalah masalah pemisahan, bukan masalah kesempurnaan tanpa dosa. Itu benar, tetapi itu hanya mencakup pengudusan aspek posisi, belum menjamah aspek wataknya, yang diwahyukan dalam Roma 6. Ketika Allah tersalur ke dalam kita dan digarapkan ke dalam diri kita dan kita diresapi oleh-Nya, maka watak kita akan dikuduskan. Dengan jalan inilah kita dikuduskan. Terakhir, Yerusalem Baru akan menjadi satu kota yang kudus. Ini tidak saja berarti dipisahkan dari setiap perkara yang umum, tetapi juga dijenuhi oleh Allah seluruhnya. Fakta bahwa kita telah dipilih oleh Allah Bapa agar menjadi kudus menunjukkan bahwa Allah hendak masuk ke dalam diri kita dan memenuhinya dengan sifat kudus-Nya. Tanpa sifat kudus-Nya digarapkan ke dalam kita, mustahillah kita menjadi kudus.

II. DALAM PENENTUAN ALLAH

Ayat 5 mengatakan Allah Bapa telah menentukan kita untuk menjadi anak-anak-Nya. Bila hayat Bapa tidak masuk ke dalam kita, mana mungkin kita menjadi putra-putra-Nya? Mustahil! Keputraan menuntut dijenuhinya kita oleh hayat Bapa. Kita bukan menantu atau anak angkat-Nya; kita adalah anak-anak Allah yang mempunyai hayat dan sifat Allah. Karena kita telah dilahirkan dari Allah dan Allah telah terlahir di dalam kita, kita memiliki Allah di dalam kita. Hal ini menyiratkan bahwa Allah Bapa sedang menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Satu-satunya jalan yang memungkinkan kita menjadi putra-putra Allah ialah membiarkan Dia menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita dan kemudian menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Haleluya, kita adalah putra-putra Allah yang dilahirkan dari Dia!

III. DALAM PEMETERAIAN ROH KUDUS

Sebagai kaum beriman, kita telah dimeteraikan oleh Roh Kudus (ayat 13). Roh Kudus ialah Allah Tritunggal yang mencapai kita. Allah yang di surga adalah Bapa, tetapi Allah yang datang kepada kita ialah Roh itu. Roh Kudus ialah meterai Allah. Dimeteraikan oleh Roh Kudus berarti Allah telah tersalur ke dalam diri kita. Kita telah menunjukkan bahwa meterai ini hidup dan bergerak di batin kita; Roh Kudus memeteraikan kita secara konstan dengan esens Allah. Dimeteraikan secara demikian berarti dijenuhi dengan segala apa adanya Allah. Karena itu, pemeteraian Roh Kudus juga menunjukkan bahwa Allah sedang digarapkan ke dalam kita.

Pengenalan subyektif atas pemeteraian Roh Kudus ini sangat diabaikan oleh orang Kristen hari ini. Kebanyakan orang Kristen memiliki ajaran-ajaran yang obyektif tetapi tidak memiliki pengalaman yang subyektif. Melalui pemeteraian Roh Kudus ini, Allah sedang menggarapkan esens-Nya ke dalam diri kita.

IV. DALAM PENGHARAPAN

PANGGILAN ALLAH

Ayat 18 membicarakan tentang pengharapan panggilan Allah. Salah satu aspek dari pengharapan kita itu ialah kita akan ditransfigurasi dan dimuliakan bersama Kristus. Transfigurasi dan pemuliaan ini merupakan hasil dari dijenuhinya diri kita oleh Allah Tritunggal. Kalau Allah tidak menjenuhi seluruh diri kita, termasuk tubuh kita, tidak mungkin kita dapat dimuliakan. Hal ini juga ditujukan kepada penyaluran Allah ke dalam kita. Sekali lagi kita nampak bahwa Allah sedang menyalurkan dan menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya. Inilah konsepsi yang utama dari pasal 1.

V. DALAM KEMULIAAN WARISAN ALLAH DI DALAM ORANG-ORANG KUDUS

Efesus 1:18 juga menyinggung tentang kekayaan kemuliaan warisan Allah dalam orang-orang kudus. Jika Allah tidak digarapkan ke dalam orang kudus, mana mungkin mereka dapat menjadi warisan-Nya, milik-Nya yang istimewa? Orang kudus menjadi demikian mustika bagi-Nya tidak lain melalui dijenuhinya mereka oleh esens ilahi. Hanya dengan jalan inilah orang-orang dosa yang kasihan bisa menjadi mustika istimewa Allah. Dalam alam semesta ini Allah adalah satu-satunya Persona yang mustika. Sekarang Allah yang mustika dan tidak ternilai ini sedang menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita untuk membuat kita menjadi warisan-Nya yang mulia. Ketika Yerusalem Baru datang, kita akan nampak kota itu sepenuhnya adalah satu warisan yang berharga, yang memancarkan kemuliaan Allah. Karena itu, fakta bahwa orang kudus menjadi warisan mulia Allah, mustika berharga bagi-Nya, menunjukkan pula bahwa Dia sedang menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita.

VI. DALAM KUAT KUASA YANG

MEMUNGKINKAN KITA MENGAMBIL BAGIAN DALAM PENCAPAIAN KRISTUS

Allah Tritunggal disalurkan dan digarapkan ke dalam diri kita dalam transmisi kuat kuasa ilahi untuk memungkinkan kita mengambil bagian dalam pencapaian Kristus, agar kita dapat menjadi Tubuh-Nya (ayat 19-23). Pencapaian Kristus adalah pencapaian yang tertinggi dalam alam semesta, sebab Dia telah menggenapkan penciptaan, mengalami inkarnasi, penyaliban dan kebangkitan, dan dinaikkan ke sebelah kanan Allah di surga. Semua pencapaian ini ditujukan kepada gereja. Seperti yang telah kita tunjukkan, ungkapan “kepada jemaat” dalam ayat 22 menyiratkan adanya suatu transmisi, yang merupakan satu tindakan penyaluran. Segala yang telah dialami, dirampungkan, diperoleh, dan dicapai oleh Kristus kini sedang ditransmisikan ke dalam gereja.

Kekristenan hari ini tidak mempunyai konsepsi ini. Mereka malah dipenuhi oleh ajaran-ajaran etika, dan dikuasai oleh ajaran-ajaran tersebut. Karena itu kita perlu menekankan fakta tentang Allah Tritunggal damba untuk menjenuhi kita dengan diri-Nya sendiri.

Misalkan tinta merah telah disuntikkan ke dalam inti sebuah bola kapas, maka kapas itu sedikit demi sedikit akan menyerap tinta itu. Dengan demikian tinta akan berangsur-angsur menjenuhi seluruh bola kapas itu. Kita seperti bola kapas itu. Pada suatu hari, tinta merah surgawi dimasukkan ke dalam inti diri kita. Sejak waktu itu dan seterusnya, tinta, Allah sendiri, telah meresapi kita. Sekarang kewajiban kita bukanlah meniru atau menyalinnya, sebaliknya, harus mengisapnya, yakni dijenuhi olehnya. Melalui dijenuhi seluruhnya oleh tinta surgawi, kita akan menjadi tinta, sebab tinta telah terbaur ke dalam diri kita. Konsepsi dasar dari Perjanjian Baru ini telah hilang dari ajaran-ajaran kekristenan hari ini. Jika kita memahami konsepsi dasar ini, niscaya kehidupan kristiani kita akan mutlak berbeda, dan konsepsi kita akan berubah secara hebat.

Kita mengambil bagian dalam pencapaian Kristus agar kita dapat menjadi Tubuh-Nya. Pemilihan, penentuan, pemeteraian, pengharapan, kemuliaan, kuat kuasa — semua adalah untuk Tubuh.

VII. DALAM TUBUH, YAITU KEPENUHAN

KRISTUS YANG MEMENUHI

SEGALA SESUATU

Allah Tritunggal disalurkan dan digarapkan ke dalam kita dalam Tubuh, yaitu kepenuhan Kristus yang memenuhi segala sesuatu, supaya kita dapat menjadi ekspresi-Nya yang sempurna (ayat 23). Hasil dari butir keenam ialah dihasilkannya Tubuh Kristus. Sebagai kepenuhan Kristus yang memenuhi segala sesuatu, Tubuh ini adalah ekspresi Allah Tritunggal hingga ke tahap paling penuh. Inilah kesempurnaan terakhir dari penyaluran Allah sesuai dengan ekonomi ilahi-Nya.

Mari kita mengulangi sekali lagi ketujuh butir dalam pasal 1, yang membuktikan betapa Allah sedang disalurkan dan digarapkan ke dalam kita. Butir pertama adalah kekudusan. Satu-satunya jalan yang memungkinkan kita menjadi kudus ialah membiarkan Allah tergarap ke dalam kita. Ketika Allah memilih kita, tujuan-Nya bukan agar kita mengenakan busana model tertentu atau menyisir rambut dengan suatu gaya yang khas. Kita harus membuang konsepsi kekudusan yang demikian. Kekudusan ialah Allah sendiri tergarap ke dalam kita. Kita perlu memperhatikan penyaluran Allah ke dalam kita. Model baju yang kita pakai harus tergantung pada-Nya. Dia itu hidup, riil, dan sensitif. Dijenuhi oleh-Nya baru berarti menjadi kudus.

Demikian pula, jalan untuk menjadi putra-putra Allah bukan melalui memperbaiki diri kita, juga bukan mengoreksi diri. Dalam hal ini, ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan tidaklah berfaedah. Satu-satunya yang berkhasiat ialah mengalami Putra Allah tersalur ke dalam kita dan tergarap ke dalam seluruh diri kita.

Hal itu juga berlaku bagi penebusan tubuh kita. Pada akhirnya, kita akan tertebus sepenuhnya demi terjenuhinya kita oleh Allah. Penebusan ini bukan penebusan darah, melainkan penebusan tubuh kita melalui penjenuhan Allah. Roma 8 mengatakan bahwa penebusan ini adalah keputraan sempurna, atau keputraan yang lengkap. Itu berarti bahwa penebusan tubuh kita adalah langkah terakhir dalam proses “pemutraan”. Allah sekarang sedang “memutrakan” kita melalui menjenuhi kita dengan diri-Nya sendiri. Pada waktu tubuh kita tertebus, usaha “pemutraan” ini baru akan rampung.

Pengharapan kemuliaan juga berkaitan dengan tersalurnya Allah Tritunggal ke dalam kita dan tergarap ke dalam seluruh diri kita. Menurut ajaran kekristenan yang diterima oleh umum, pada suatu hari kita akan tiba-tiba mendapati diri kita dibawa ke dalam alam lingkungan mulia. Akan tetapi, satu-satunya jalan kita untuk dimuliakan adalah dijenuhi oleh Allah dari hari ke hari. Beban ministri saya ialah agar Anda dapat dijenuhi oleh Allah Tritunggal. Saya damba Allah Tritunggal tersalur ke dalam Anda dan Anda dijenuhi oleh-Nya. Penjenuhan ini akan berlangsung sampai selama-lamanya; ia tidak dapat habis. Karena itu, kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang dijenuhi oleh Allah Tritunggal semata. Pada akhirnya, melalui penjenuhan ini, kita akan dimu-liakan.

Kuat kuasa ilahi yang ditransmisikan ke dalam kita membuat kita dijenuhi oleh Allah Tritunggal. Kita sudah melihat bahwa kuat kuasa ini ditujukan kepada gereja, dan terhadap kita yang percaya. Kata “bagi” dalam ayat 19 juga boleh diterjemahkan menjadi “ke dalam”. Maka, kuat kuasa ilahi ini ialah ke dalam kita yang percaya. Ini menyatakan pemikiran penjenuhan. Setiap bagian dan wilayah diri kita dijenuhi oleh kuat kuasa ilahi ini. Inilah yang sedang Tuhan kerjakan dalam pemulihan-Nya dewasa ini.

Pada hari kita bertobat, kuat kuasa ilahi ini telah terpasang di dalam kita. Sekarang kuat kuasa ini bukan lagi sebagai kuat kuasa yang dari atas, melainkan di batin kita. Ketika kita membuka diri kita, kuat kuasa ini datang berfungsi untuk menjenuhi kita dengan esens ilahi dan mentransmisikannya ke dalam kita dari surga. Hari ini transmisi ini sedang bergerak di batin kita seperti darah yang beredar di seluruh tubuh kita. Karena kita tidak senantiasa terbuka atau karena kita mungkin bermasalah dalam hati nurani, pikiran, emosi, atau tekad kita, maka transmisi itu bisa saja terhambat untuk sementara waktu. Bila kita mau mengalami suatu transmisi yang terus-menerus, kita perlu bertobat, mengaku dosa, dan membersihkan semua rintangan. Setelah itu transmisi ini akan terpulih dan akan menjenuhi kita terus.

Dalam penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita dan penggarapan diri-Nya sendiri ke dalam diri kita, barulah kita menjadi gereja. Sekarang kita dapat mengerti mengapa gereja disebut pada akhir pasal 1. Gereja bukan dihasilkan melalui membentuk kaum saleh menjadi satu organisasi. Sebaliknya, gereja dihasilkan oleh transmisi yang berasal dari Kristus yang telah naik ke surga. Gereja yang dihasilkan secara demikian adalah Tubuh. Jadi apa yang hanya memiliki sebutan “gereja”, bukanlah Tubuh. Itu bukan suatu organisme, melainkan mirip dengan tubuh buatan, yakni suatu organisasi. Tetapi gereja ialah organisme yang berasal dari transmisi Kristus yang almuhit. Gereja ini, Tubuh Kristus, ialah kepenuhan Dia yang memenuhi semua dalam segala sesuatu.

Betapa pentingnya kita melihat Efesus 1 berakhir pada Tubuh! Gereja sebagai Tubuh Kristus dihasilkan oleh kata-kata indah Allah, dan faktor utama dari ini ialah tersalurnya hayat ilahi ke dalam kita dan tergarap ke dalam seluruh diri kita. Gereja adalah hasil kata-kata indah Allah, dan faktor utamanya ialah Allah Tritunggal tersalur dan tergarap ke dalam kita. Penyaluran Allah dimulai dari kekekalan yang lampau, melalui penciptaan, inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan, sekarang mencapai umat pilihan-Nya untuk membuat mereka menjadi umat kudus-Nya, putra-putra Allah, umat yang dimeteraikan, dan Tubuh, sebagai kepenuhan Kristus.

Tubuh berasal dari transmisi Kristus yang almuhit. Transmisi ini adalah totalitas kata-kata indah Allah. Untuk menikmati transmisi ini kita perlu satu pikiran yang jernih, emosi yang membara, tekad yang patuh, dan hati nurani yang bersih. Melalui mengalami transmisi ini, kita akan menjadi Tubuh. Apa yang kita butuhkan hari ini ialah memperoleh lebih banyak transmisi yang almuhit ini. Haleluya, Allah Tritunggal sedang ditransmisikan ke dalam kita! Karena itu, kita tidak hanya memiliki ajaran-ajaran — kita pun memiliki penyaluran, transmisi, dan penjenuhan. Inilah konsepsi yang mendasar dalam Efesus 1.