MENCIPTAKAN KEDUANYA MENJADI SATU MANUSIA BARU
Dalam berita ini kita akan melihat perkara penciptaan satu manusia baru (Ef. 2:14-15). Hal ini dalam Perjanjian Baru luar biasa penting dan menentukan, namun sayang sekali telah diabaikan oleh kebanyakan orang Kristen.
PEMBATALANPERATURAN-PERATURAN
Tatkala Kristus mati di atas salib, Dia tidak saja menanggulangi dosa-dosa, manusia lama, Iblis, dan dunia, Dia pun menanggulangi peraturan-peraturan. Dalam daging-Nya, Kristus telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya di atas salib. Karena itu, melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus menanggulangi lima kategori perkara: dosa-dosa, manusia lama, Iblis, dunia, dan peraturan-peraturan. Tampaknya tidak banyak orang Kristen hari ini yang membicarakan penanggulangan peraturan oleh Kristus, dan saya pun sangsi apakah ada buku-buku yang telah ditulis untuk membahas hal ini. Kebanyakan orang Kristen mengira semua problem kita tidak lain hanya mengenai dosa-dosa, manusia lama, Iblis dan dunia. Banyak yang mengira asalkan keempat perkara ini telah ditanggulangi, sudahlah baik atau beres. Akan tetapi tidaklah semua problem itu beres, dan kita tidak bisa baik kecuali masalah peraturan-peraturan juga ditanggulangi. Peraturan-peraturan, berbagai cara hidup dan penyembahan juga harus dibatalkan oleh Kristus di atas salib, agar Dia dapat menciptakan satu manusia baru di dalam diri-Nya.
Kita telah berkali-kali mendengar bahwa Kristus di atas salib telah merampungkan penebusan, menghancurkan Iblis, menghukum dunia, dan menyalibkan diri atau ego kita. Akan tetapi boleh jadi kita tidak pernah mendengar bahwa kematian-Nya di atas salib juga untuk menciptakan satu manusia baru. Untuk menciptakan satu manusia baru, Kristus perlu membatalkan peraturan-peraturan. Melalui membatalkan peraturan yang menyekat di dalam daging-Nya dan melalui menciptakan keduanya — orang beriman Yahudi dan kafir — menjadi satu manusia baru, Kristus telah menjadi perdamaian di antara seluruh kaum beriman. Orang Yahudi dan orang kafir telah terpisah hingga titik terjauh karena adanya peraturan-peraturan. Namun kini kedua pihak di dalam Kristus telah tercipta dengan esens ilahi menjadi satu satuan baru, yakni satu manusia yang korporat, gereja. Karena tidak ada orang Kristen lainnya yang membicarakan tentang pembatalan peraturan-peraturan dan penciptaan manusia baru, maka kita sangat berbeban untuk memberitakan firman tentang hal ini.
ASPEK GEREJA YANG TERTINGGI
Kebanyakan orang Kristen mengakui bahwa gereja ialah ekklesia, yaitu perhimpunan orang-orang yang dipanggil oleh Allah. Kaum Saudara (The Brethren) menitikberatkan aspek ini, bahkan menerjemahkan istilah Yunani ekklesia itu menjadi “assembly” (perhimpunan), memang terjemahan ini tepat. Akan tetapi itu tidak lebih daripada pengertian tentang gereja yang bertaraf dasar saja. Konsepsi yang lebih tinggi tentang gereja ialah nampak gereja sebagai keluarga atau rumah tangga Allah, dan yang lebih tinggi lagi ialah gereja sebagai Tubuh Kristus. Namun pengenalan tertinggi tentang gereja ialah gereja sebagai satu manusia baru. Keempat konsepsi tentang gereja ini seperti keempat tingkat sistem pendidikan: taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan, dan perguruan tinggi. Kita perlu maju dari taraf taman kanak-kanak — gereja sebagai ekklesia, ke tingkat perguruan tinggi — gereja sebagai manusia baru.
Hubungan antar orang Kristen dalam satu perhim-punan tidak begitu erat, di dalam keluarga jauh lebih erat dan intim. Tetapi, kita tidak saja menjadi anggota keluarga Allah, kita pun anggota Tubuh Kristus; hubungan antar anggota tubuh lebih erat lagi. Mereka yang berada dalam perhimpunan dan anggota satu keluarga mungkin masih bisa saling berpisah, tetapi tidak demikian dengan anggota Tubuh, kecuali mereka diamputasi. Ke mana saja Tubuh pergi, anggota-anggota pun ikut pergi; mereka tidak ada pilihan. Namun, persekutuan dalam satu manusia baru lebih intim daripada dalam Tubuh, sebab ia bersifat korporat dan universal. Walau banyak orang beriman, tetapi dalam alam semesta hanya terdapat satu manusia baru. Semua orang beriman meru-pakan komponen satu manusia baru yang korporat dan universal ini. Semoga Tuhan memberi kita lebih banyak terang tentang manusia baru ini! Harus kita akui bahwa kita belum banyak nampak gereja pada aspek ini. Aspek gereja sebagai manusia baru adalah penemuan baru yang terbuka pada akhir-akhir ini. Saya yakin di hari-hari mendatang Tuhan akan lebih banyak mewahyukan tentang manusia baru ini.
Keluarga lebih intim daripada perhimpunan, Tubuh lebih tinggi daripada keluarga, dan manusia baru lebih tinggi daripada Tubuh. Maka dengan manusia baru ini berarti kita telah mencapai aspek gereja yang tertinggi. Meskipun para guru Kristen telah sering membicarakan masalah perhimpunan, keluarga, dan Tubuh, tetapi ham-pir tidak ada yang menyinggung masalah satu manusia baru ini. Kekurangan ini mencolok sekali dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris versi New American Standard Bible atas Efesus 4:22 dan 24. Terjemahan versi itu amat kasihan. Dalam kedua ayat ini, ayat 22 tidak memakai istilah “manusia”, melainkan diganti menjadi “menanggalkan diri lama” dan ayat 24 diganti pula dengan “mengenakan diri baru”. Ini adalah kekeliruan yang serius dalam terjemahan! Terjemahan versi Revised Standard juga melakukan kesalahan besar dalam menerjemahkan istilah tadi, yaitu menjadi “menanggalkan sifat lama” dan “mengenakan sifat baru”. Kesalahan-kesalahan itu terjadi karena para penerjemah yang bertanggungjawab dalam hal ini tidak memiliki konsepsi atau pengenalan yang tepat. Tetapi W.E. Vine mempunyai beberapa pengertian atas masalah ini. Dalam buku karangannya (Expository Dictionary of New Testament Words), ia mengatakan bahwa manusia baru dalam Efesus 4:24 ditujukan kepada gereja, sebab dialah manusia baru yang disebut dalam Efesus 2:15 itu. Manusia baru ini berasal dari dua golongan manusia: kaum beriman Yahudi dan kaum beriman kafir, maka sudah tentu merupakan satu satuan yang korporat.
Tuhan tidak ada jalan untuk menggenapkan kehendak-Nya kecuali Dia memperoleh manusia baru di bumi ini. Situasi di antara orang Kristen hari ini jauh sekali dari sasaran Allah. Walau banyak yang membicarakan masalah Tubuh, tetapi tidak banyak yang memiliki pengertian Tubuh secara tepat dan wajar. Lagi pula, orang-orang Kristen jarang sekali membicarakan manusia baru ini. Betapa pentingnya aspek gereja ini dipulihkan sepenuhnya!
KEHENDAK ALLAH ADALAH MEMPEROLEH SATU MANUSIA KORPORAT
Untuk nampak satu manusia baru ini, kita perlu memiliki pengenalan yang tepat terhadap manusia lama. Sebelum menasihati kita untuk mengenakan manusia baru, Paulus menyuruh kita menanggalkan manusia lama (Ef. 4:22). Setelah menciptakan langit dan bumi, Allah lalu menciptakan manusia, tidak saja manusia yang individual, tetapi juga manusia yang merupakan satuan kolektif. Kejadian 1:26 mengatakan manusia dalam bentuk tunggal dan jamak: “Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa . . . “ Ini mewahyukan bahwa kehendak Allah selalu ingin memperoleh satu manusia kolektif. Tetapi manusia korporat ciptaan Allah itu telah rusak akibat kejatuhan dan kini Allah perlu memperoleh satu manusia baru. Untuk menghasilkan manusia baru, Kristus tidak saja harus menanggulangi dosa, sifat kejatuhan manusia lama, Iblis dan dunia, tetapi seperti telah kita katakan, Dia pun harus membatalkan peraturan-peraturan. Yang paling menghalang-halangi Allah untuk memperoleh manusia baru adalah peraturan. Tatkala Kristus terpancang di atas salib, dosa-dosa kita, manusia lama kita, Iblis, dan dunia bukanlah satu-satunya yang disalibkan, semua peraturan pun disalibkan. Penyaliban peraturan-peraturan bukan untuk pengampunan, kekudusan, kemenangan atas Iblis, atau menyalurkan hayat, melainkan mutlak untuk menciptakan satu manusia baru.
Kita hafal sekali ayat-ayat seperti Yohanes 1:1 dan 3:16, tetapi tidak hafal Efesus 2:15. Ayat ini menerangkan, “Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” Sewaktu daging Kristus terpaku di atas salib, Dia membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, sehingga Dia dapat menciptakan keduanya, orang Yahudi dan kafir, menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya. Kalau kita membaca ayat 15-16, kita nampak jelas bahwa Kristus membatalkan peraturan-peraturan dan meniadakan perseteruan oleh salib, bukan untuk merampungkan penebusan atau menyalurkan hayat, melainkan untuk menciptakan orang Yahudi dan orang kafir menjadi satu manusia baru.
KEMATIAN KRISTUS TELAH
MENCAKUP SEGALA CIPTAAN
Ketika Kristus terpaku di atas salib dalam daging, segenap ciptaan lama telah tercakup, sebab semua ciptaan berkaitan dengan daging-Nya. Menurut Ibrani 10, daging Kristus dilambangkan oleh tirai dalam Bait Suci yang di atasnya tersulam gambar kerub yang mengiaskan makhluk-makhluk hidup. Karena itu, ketika Kristus terpaku di atas salib, segenap ciptaan pun terpaku bersama-Nya. Lagi pula, ketika tirai itu terbelah, kerub pun ikut terbelah. Hal mana mengiaskan ketika daging Kristus disalibkan, seluruh makhluk disalibkan juga. Inilah pengertian yang Alkitabiah tentang penyaliban.
Bila Anda bertanya kepada seorang Yahudi yang tidak beriman, “Siapa yang terpaku di atas salib?” Ia akan menjawab, “Itu Yesus orang Nazaret.” Bila Anda bertanya kepada orang yang baru beriman, ia mungkin mengatakan, “Itu Juruselamatku, Yesus Kristus”. Seorang Kristen yang lebih maju akan menjawab, “Itu adalah diriku bersama Juruselamat.” Seorang yang lebih maju lagi menjawab, “Itulah Juruselamat, dirinya sendiri, dan Iblis.” Tetapi orang Kristen lain, yang lebih maju daripada semua yang terdahulu akan mengatakan bahwa yang terpaku di atas salib ialah Juruselamat, diri sendiri, Iblis, dan dunia. Jika selanjutnya kita bertanya kepada orang Kristen yang matang dan beroleh terang, ia akan mengatakan itulah Juruselamat, diri sendiri, Iblis, dunia, dan segenap makhluk ciptaan. Jika pertanyaan ini diajukan kepada kita, kita tidak saja mengatakan kelima hal yang telah disebut tadi, bahkan juga peraturan-peraturan. Kematian Kristus telah membatalkan semua yang berasal dari ciptaan lama; setiap perkara negatif dalam alam semesta ini telah diakhiri.
MANUSIA BARU DICIPTAKAN
DI DALAM KRISTUS
Di dalam daging-Nya Kristus membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya; tetapi Dia tidak menciptakan manusia baru di dalam daging-Nya. Tidak, di dalam daging Dia telah mengakhiri hal-hal yang negatif, agar Dia dapat menciptakan keduanya, Yahudi dan kafir, menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya. Hal-hal negatif telah diakhiri di dalam daging Kristus, sedangkan manusia baru, yang positif, ditunaskan di dalam diri Kristus sendiri. Kita perlu menaruh perhatian pada dua ungkapan dalam ayat 15: “di dalam daging-Nya” dan “di dalam diri-Nya”. Jika saya bertanya kepada Anda, di mana Anda berada hari ini, Anda harus mengatakan, “Pertama-tama, aku berada di dalam daging Kristus; sekarang aku di dalam diri-Nya. Di dalam daging-Nya, aku telah diakhiri di atas salib, tetapi di dalam diri-Nya, aku telah tercipta menjadi bagian dari satu manusia baru.”
Kristus tidak berhenti pada pengakhiran hal-hal yang negatif saja. Seperti telah berulang-ulang kita tandaskan, kematian adalah ambang pintu kebangkitan, yang membawa kita memasuki kebangkitan. Walau dalam daging Kristus telah mati tersalib, namun kematian itu membawa-Nya memasuki kebangkitan. Dalam kebangkitan Dia tidak lagi berada dalam daging, sebaliknya Dia sekarang adalah Roh yang ajaib. Memang dahulu di dalam daging-Nya, kita, manusia lama diakhiri, tetapi kini di dalam Roh yang ajaib, kita telah diciptakan menjadi satu manusia baru. Ketika manusia lama dan sifat lama kita tersalib, peraturan-peraturan yang berkaitan dengan sifat kita yang jatuh pun tersingkirkan. Lalu di dalam kebangkitan Kristus dan di dalam Roh-Nya yang ajaib, kita diciptakan menjadi satu manusia baru. Memang nampaknya tidak masuk akal kalau kita mengatakan bahwa kita telah disalibkan sebelum kita dilahirkan. Tetapi itu adalah fakta yang ajaib, yakni kita telah diakhiri dalam daging Kristus di atas salib. Lagi pula, sebelum kita dilahirkan, kita juga telah diciptakan di dalam Roh yang ajaib menjadi satu manusia baru.
KRISTUS SEBAGAI ESENS
MANUSIA BARU
Ungkapan “di dalam diri-Nya” sangat bermakna. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Kristus bukan hanya sebagai Pencipta satu manusia baru, gereja, tetapi juga sebagai ruang lingkup dan sarana yang dengannya satu manusia baru ini diciptakan. Dialah unsur manusia baru. Setelah kita diakhiri, di dalam-Nya kita menerima esens baru. Kristus sendirilah yang menjadi unsur baru kita. Tiada suatu pun perkara yang berasal dari manusia lama kita yang berguna bagi penciptaan manusia baru, sebab esens kita yang dahulu itu berdosa. Tetapi di dalam-Nya terdapat esens ajaib, di situlah diciptakan satu manusia baru.
Kristus telah menciptakan satu manusia baru — gereja, dengan jalan menggarapkan sifat Allah ke dalam sifat manusia. Pekerjaan ilahi ini adalah yang baru. Dalam ciptaan lama Allah tidak menggarapkan sifat-Nya ke dalam makhluk ciptaan-Nya yang mana pun, bahkan ke dalam manusia pun tidak. Tetapi dalam penciptaan manusia baru, sifat Allah telah digarapkan ke dalam manusia untuk membuat sifat ilahi-Nya menjadi satu satuan dengan sifat insani.
PEPERANGAN BAGI KEBENARAN
PENCIPTAAN MANUSIA BARU
Setan dan malaikat jahat tahu bahwa satu manusia baru telah tercipta dalam esens ilahi ini, dan fakta ini telah membuat mereka ketakutan. Karena itulah, kuasa setan mencoba dengan sekuat tenaga supaya orang-orang Kristen tidak nampak fakta terciptanya satu manusia baru. Maka kita harus berperang untuk kebenaran ini. Kita perlu berdoa, memohon untuk suatu pikiran yang jelas dan jernih, agar kita dapat memahami tidak saja kita telah diakhiri di atas salib, dan melalui pengakhiran ini kita pun telah dipindahkan ke dalam Kristus. Di dalam Kristus, dengan esens ilahi-Nya, kita telah diciptakan menjadi satu manusia baru.
Alangkah pentingnya kita percaya bahwa kita sudah diciptakan menjadi satu manusia baru dan ada esens baru digarapkan ke dalam diri kita, sebelum kita lahir. Bila Anda percaya Kristus telah mati di atas salib untuk menyingkirkan dosa-dosa Anda, Anda pun harus percaya bahwa Anda telah ditaruh ke dalam-Nya melalui kematian-Nya, sehingga di dalam-Nya dan dengan esens ilahi-Nya Anda tercipta menjadi satu manusia baru. Pernahkah Anda mendengar sebelumnya bahwa dalam penyaliban-Nya, Kristus telah mengakhiri Anda di dalam dagingNya, kemudian di dalam kebangkitan-Nya, menaruh Anda di dalam diri-Nya, agar dengan esens ilahi Ia menciptakan Anda menjadi manusia baru? Konsepsi demikian jauh melampaui pengertian alamiah kita. Namun, menurut firman-Nya, inilah suatu fakta. Bila kita membaca Efesus 2:15 dengan cermat dan sambil berdoa, terang akan masuk, dan kita akan nampak betapa kita beserta seluruh makhluk, yang dilambangkan oleh kerub pada tirai, telah tersalib di dalam daging Kristus di atas salib. Karena kematian telah membawa kita memasuki kebangkitan, maka dalam kebangkitan-Nya, Kristus menaruh kita ke dalam diri-Nya sendiri. Lalu, dengan esens ilahi-Nya, Dia menciptakan kita, di dalam diri-Nya, menjadi satu manusia baru.
Efesus 2:15 tidak hanya mengatakan, “Menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru.” Janganlah mengabaikan ungkapan “di dalam diri-Nya”. Jika tidak di dalam diri-Nya, tidak mungkin kita diciptakan menjadi manusia baru, sebab di dalam diri kita sendiri tidak ada esens ilahi yang menjadi unsur manusia baru. Hanya di dalam dan dengan esens ilahi kita dapat diciptakan menjadi manusia baru. Kita memiliki esens ini hanya di dalam Kristus. Pada hakekatnya, Kristus itu sendiri adalah esens, unsur ini. Karena itu, dalam diri-Nya sendiri, Kristus menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru. Kita sekalian perlu berkesan dalam terhadap fakta bahwa kita, kaum beriman telah diciptakan menjadi satu manusia baru di dalam Kristus.
MENGENAKAN MANUSIA BARU
Sebagai orang yang telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali, kita sekarang harus menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru. Walaupun manusia baru telah diciptakan, namun kita tetap perlu mengenakannya. Sedikit sekali orang Kristen yang tahu bagaimana caranya menanggalkan manusia lama, lebih sedikit lagi yang tahu bagaimana caranya mengenakan manusia baru. Kebanyakan orang Kristen mengira bahwa menanggalkan manusia lama berarti menanggalkan sifat atau diri lama, dan mengenakan manusia baru berarti mengenakan sifat baru. Orang yang menganut konsepsi demikian keliru sama sekali. Kalau manusia baru dalam Efesus 2:15 berarti satu manusia yang korporat, maka manusia baru dalam Efesus 2:24 seharusnya juga manusia korporat. Menurut Efesus 4:24, kita perlu mengenakan manusia baru yang telah diciptakan di dalam Kristus.
Cara untuk mengenakan manusia baru terdapat dalam Efesus 4:23 — “dibarui di dalam roh pikiranmu” (Tl.). Kata-kata ini menunjukkan bahwa dibarui di dalam roh pikiran adalah mengenakan manusia baru. Sekarang kita harus nampak apakah artinya dibarui di dalam roh pikiranmu. Tidak dapat disangkal, ini adalah ungkapan yang sangat khusus. Seandainya saya menjadi penulis Kitab Efesus, saya akan berkata “pikiran roh” bukan “roh pikiran”, sebab baginya itu lebih logis. Namun Paulus di sini mengatakan roh pikiran.
ROH KITA
Ungkapan “dalam roh” terdapat di tiap pasal dalam Kitab Efesus, kecuali pasal 1. Apakah Anda mengerti artinya di dalam roh? Anda mungkin berkata bahwa Tuhan Yesus dan Roh Allah kini berada dalam roh kita. Tentu saja itu benar. Tetapi kini kita perlu nampak bahwa manusia baru pun berada di dalam roh kita. Tempat tinggal Allah, tempat kediaman-Nya berada di dalam roh kita (Ef. 2:22). Menurut perlambangan, Kota Yerusalem kuno adalah tempat kediaman Allah, tetapi hari ini tempat kediaman Allah berada dalam roh kita. Roh kelahiran kembali kita hari ini ialah Yerusalem. Anda mungkin mengira antara Kota Yerusalem dengan roh kita tidak dapat dibandingkan, sebab Yerusalem itu sebuah kota besar, sedang roh kita sangat kecil. Akan tetapi jika Anda mengenal Alkitab, Anda akan mengetahui bahwa hari ini roh kita jauh lebih besar daripada Yerusalem. Roh kita besar dan luas seperti alam semesta. Kesulitan kita ialah kita terlalu individualistis dan hanya memikirkan roh pribadi kita saja. Namun, tiap kali Alkitab menyinggung “rohmu”, itu mencakup roh seluruh kaum saleh.
Pikiran kita terlalu lama dijajah oleh konsepsi alamiah, pikiran agamawi, dan ajaran-ajaran tradisional. Dalam membahas masalah roh kita, kita perlu membuang semuanya itu dan nampak bahwa roh kita sebesar alam semesta. Kita tahu Allah bersemayam dalam langit tingkat ketiga, tetapi Dia pun bersemayam di dalam roh kita. Itulah yang menjadikan roh kita Yerusalem hari ini. Haleluya, roh kita adalah suatu wujud ajaib dalam alam semesta! Roh Kudus bersaksi bersama roh kita (Rm. 8:16). Kata “roh kita” ini termasuk roh Paulus, roh Martin Luther, roh John Wesley, roh Saudara Watchman Nee, roh Anda, dan roh saya. Alangkah luasnya roh kita! Alkitab mewahyukan bahwa Allah adalah Allah roh kita (Bil. 16:22; Ibr. 12:9). Di manakah Allah hari ini? Di dalam roh kita. Di manakah tempat kediaman Allah hari ini? Di dalam roh kita. Di manakah satu manusia baru itu? Juga di dalam roh kita.
ROH MEMIMPIN SELURUH
DIRI KITA
Jalan untuk mengenakan manusia baru ialah membiarkan roh kita (yang telah berbaur dengan Roh Kudus) menjadi roh pikiran kita. Dalam roh kita terdapat Allah, tempat kediaman Allah, dan manusia baru. Pikiran kita mendominasi dan mengatur seluruh diri kita. Roh menja-di roh pikiran berarti roh memimpin, mengontrol, mendominasi, dan menduduki pikiran kita. Bukan pikiran kita menjadi pikiran roh kita, melainkan roh kita harus menjadi roh pikiran kita. Jika pikiran itu menjadi pikiran roh kita, berarti pikiran kitalah yang mendominasi, mengontrol, dan memimpin roh kita. Namun bila roh kita yang menjadi roh pikiran kita, itu berarti roh kita yang mendominasi, mengontrol, dan memimpin pikiran kita. Tatkala roh memimpin pikiran kita, ia menguasai seluruh diri kita. Pada saat demikian, seluruh diri kita berada di bawah kontrol roh kita, yang di dalamnya terdapat Allah, tempat kediaman Allah, dan manusia baru. Di dalam roh pikiran kita yang sedemikianlah kita dibarui. Maka melalui roh inilah kita mengenakan manusia baru.
Berapa banyak kita mengenakan manusia baru, tergantung pada berapa banyak roh kita mengarahkan seluruh diri kita. Ketika roh kita mendominasi dan memimpin kita, tidak ada tempat bagi opini atau peraturan-peraturan, tidak ada tempat bagi cara kita, sebab seluruh diri kita didominasi, dikontrol, dikuasai, dan dipimpin oleh roh kita.
SUATU PROSES YANG
BERANGSUR-ANGSUR
Mengenakan manusia baru bukan terjadi sekali untuk selamanya. Sebaliknya, ini merupakan satu perkara seumur hidup, suatu proses yang berangsur-angsur berlangsung dalam seluruh hidup kekristenan kita. Kita telah berkali-kali menandaskan bahwa manusia baru telah diciptakan di dalam dan dengan Kristus. Dalam Efesus 2:15, kata “di dalam” bahasa Yunaninya juga mengandung arti unsur, yang juga berarti “dengan”. Maka di dalam diri-Nya sesungguhnya berarti dengan Dia sendiri. Manusia baru telah diciptakan dengan Kristus sebagai esens ilahi. Ketika kita dilahirkan kembali, manusia baru ini diletakkan di dalam roh kita. Sekarang kita perlu mengenakannya dari hari ke hari melalui membiarkan roh mengontrol seluruh diri kita dan membarui pikiran kita. Setiap saat ketika sebagian diri kita dibarui, itu berarti kita lebih banyak mengenakan manusia baru. Karena itu, semakin dibarui melalui pengontrolan roh atas pikiran kita, kita akan semakin mengenakan manusia baru itu. Akhirnya, proses mengenakan manusia baru ini akan mencapai kesempurnaannya.
KRISTUS ITU SEGALA SESUATU
Dalam satu manusia baru tidak terdapat satu pun perbedaan bangsa atau kebudayaan antara satu dengan yang lain. Di sini tidak ada orang Yahudi atau kafir, orang merdeka atau budak, berbudaya atau tidak berbudaya (Kol. 3:10-11). Demikian pula, tidak ada orang Amerika, atau orang Inggris, tidak ada orang Jepang atau orang China, tidak ada orang Jerman atau orang Prancis. Dalam manusia baru ini Kristus adalah segala sesuatu, karena Dialah esens yang oleh-Nya manusia baru itu diciptakan. Maka manusia baru tidak lain ialah Kristus itu sendiri.
DICIPTAKAN MENURUT ALLAH
Karena manusia baru ini telah diciptakan di dalam dan oleh Kristus menurut Allah, maka manusia baru ini memiliki gambar Allah. Jika dibandingkan dengan Kejadian 1:26, yang mengatakan manusia diciptakan dalam gambar Allah, maka Efesus 2:24 mengatakan manusia baru ini diciptakan langsung menurut Allah. Pada akhirnya, manusia baru akan memiliki gambar Allah di dalam kekudusan dan kebenaran realitas. Melalui pembaruan di dalam roh yang menguasai pikiran kita, kita sudah mengenakan manusia baru yang telah diciptakan di dalam Kristus Yesus.