← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 16/25

KEHEBATAN KUASA ALLAH

Dalam Efesus 1:18-19 Paulus berdoa agar kita mengetahui pengharapan panggilan Allah, kekayaan warisan Allah di dalam orang-orang kudus, dan kehebatan kuasa Allah bagi kita orang-orang yang percaya. Sehubungan dengan ketiga hal ini kita perlu mengetahui tiga kata kunci: pengharapan, kemuliaan, dan kuasa. Pengharapan ialah pengharapan panggilan Allah, kemuliaan ialah kemuliaan warisan Allah di dalam orang-orang kudus, dan kuasa ialah kuasa terhadap kita orang-orang yang percaya menurut (sesuai dengan) operasi kekuatan Allah yang Dia kerjakan di dalam Kristus.

Pengharapan, kemuliaan, dan kuasa, semuanya berkaitan dengan berkat-berkat dalam ayat 3-14, yang meliputi lima aspek kata-kata indah Allah: pemilihan Bapa, penentuan Bapa, penebusan Putra, pemeteraian Roh Ku-dus, dan jaminan Roh Kudus. Pemilihan Bapa bertujuan agar kita menjadi kudus, dan penentuan-Nya bertujuan agar kita menjadi putra-putra-Nya. Penebusan Putra bertujuan agar kita dapat disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus. Pemeteraian Roh bertujuan agar kita dapat ditransformasi menjadi gambar Allah, diresapi sepenuhnya oleh Dia, supaya kita mempunyai gambar-Nya. Selain itu, penjaminan Roh ialah Allah menjaminkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai kenikmatan, kecapan, dan garansi kita. Inilah isi kata-kata indah Allah Tritunggal terhadap kita.

Hasil berkat-berkat ini ialah pengharapan. Panggilan kita merupakan totalitas berkat-berkat rohani, dan pengharapan kita ialah hasil berkat-berkat ini. Pengharapan ini juga suatu kemuliaan. Setelah menyebutkan isi kata-kata indah Allah, Rasul Paulus berdoa dari dalam akal budi rohaninya untuk kita, agar kita memiliki roh hikmat dan wahyu dan supaya mata hati kita diterangi. Untuk ini, segenap insan batiniah kita harus ditanggulangi. Roh kita harus terbuka, hati nurani kita harus dimurnikan, hati kita harus polos, pikiran kita harus jernih, emosi kita harus mengasihi, dan tekad kita harus patuh. Ketika setiap bagian insan batiniah kita sudah ditanggulangi, barulah kita dapat mengetahui pengharapan, kemuliaan, dan kuasa. Karena panggilan mencakup seluruh berkat Allah, maka pengharapan adalah pengharapan berkat-berkat ini; pengharapan ini akan menjadi kemuliaan kekudusan, kemuliaan juga merupakan keputraan yang lengkap. Bila kita mencapai keputraan yang lengkap dan sempurna, tubuh kita akan dimuliakan, yakni ditransfigurasi. Berdasarkan Roma 8:21, seluruh makhluk akan menikmati kemerdekaan kemuliaan putra-putra Allah. Kemuliaan ini adalah pengharapan kita.

Kita telah nampak bahwa kemuliaan ini mempunyai kekayaannya, termasuk seluruh aspek atribut dan kebajikan Allah. Allah kaya dalam atribut dan kebajikan, seperti kasih, hayat, terang, rendah hati, kebenaran, kekudusan, dan kesabaran. Bila hal-hal ini terekspresi sepenuhnya di dalam kita, ekspresi ini akan menjadi kekayaan kemuliaan Allah. Sekarang kita dapat nampak bahwa pengharapan dan kemuliaan ialah hasil dari kelima berkat tadi, yaitu kelima aspek kata-kata indah Allah bagi kita.

Kuasa ilahi ialah satu-satunya sarana untuk menggenapkan pengharapan ini dan untuk mencapai kemuliaan. Walaupun pengharapan dan kemuliaan agak bersifat obyektif, tetapi kehebatan kuasa Allah terhadap kita sangatlah subyektif dan dapat kita alami. Kuasa Allah terhadap kita sungguh hebat. Kita perlu mengetahui kuasa ini dan mengalaminya.

Dua puluh lima tahun yang lalu, saya pernah memimpin penelaahan Kitab Efesus secara tuntas di Taipei. Tetapi pada waktu itu saya tidak nampak bahwa pengharapan dan kemuliaan merupakan hasil dari berkat-berkat Allah, dan digenapkan oleh kuasa ilahi. Sekarang saya nampak, setelah Paulus mengatakan berkat-berkat Allah Tritunggal yang berkaitan dengan kita, ia lalu berdoa agar kita dapat mengenal pengharapan dan kemu-liaan berkat Allah. Kemuliaan adalah ekspresi berkat-berkat Allah. Dalam berkat-berkat-Nya, Allah menghendaki kita menjadi warisan-Nya. Untuk menjadi warisan Allah, kita harus mewarisi dan menikmati-Nya. Pertama kita mewarisi-Nya, kemudian kita menjadi warisan-Nya. Ini merupakan hasil dari pekerjaan Allah yang menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita untuk mempersatukan kita dengan Dia. Melalui penggarapan Allah di dalam kita, kita menjadi kepuasan-Nya, dan Dia menjadi kepuasan kita. Kepuasan yang timbal balik ini juga merupakan warisan yang timbal balik, yakni suatu warisan yang akan mempunyai kemuliaan yang mengekspresikan apa adanya Allah dalam atribut dan kebajikan-Nya. Hal ini akan menjadi ekspresi Allah Tritunggal untuk selama-lamanya. Kemuliaan ini adalah pengharapan kita.

Sekarang kita akan melihat perkara subyektif dari penggenapan pengharapan dan kemuliaan ini oleh kuasa ilahi. Khususnya pada zaman nuklir ini, kita sangat merasakan perlunya kekuatan untuk melakukan setiap perkara. Sebagai contoh, manusia memerlukan kekuatan untuk mendarat di bulan. Tanpa kekuatan, tidak mungkin kita berbuat apa-apa. Kuasa yang menggenapkan pengharapan kita adalah kuasa yang dikatakan dalam Efesus 3:20, di mana Paulus mengatakan bahwa Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Kata “bekerja” dalam Efesus 3:20 berarti beroperasi. Dalam bahasa Inggris, searti dengan memberikan energi. Jadi kuasa dalam kita itu bukan hanya bekerja dan beroperasi, bahkan memberikan energi. Bahasa manusia tidak cukup untuk melukiskan kehebatan kuasa ini.

I. TERHADAP ORANG-ORANG YANG PERCAYA

Kuasa ini adalah terhadap (bagi) orang-orang yang percaya. Hal ini seperti tenaga listrik yang mengalir terus-menerus dari pusat pembangkitnya ke rumah kita, untuk kebutuhan sehari-hari kita. Demikian pula, kuasa ilahi pun terus-menerus tersalur ke dalam kita, menjadikan kita warisan bagi kegenapan kehendak Allah yang kekal.

II. SESUAI DENGAN OPERASI

KEKUATAN KUASA-NYA

Ayat 19 juga mengatakan bahwa kehebatan kuasa Allah itu “sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya”. Dalam menulis Kitab Efesus, Paulus menggunakan istilah Yunani sampai “habis”. Dalam ayat ini ia membicarakan tentang kuasa, operasi, kekuatan, dan tenaga. Paulus memakai banyak istilah yang berbeda untuk menyatakan kehebatan kuasa Allah itu terhadap kita.

III. DIKERJAKAN DI DALAM KRISTUS

Kuasa hebat yang Allah nyatakan terhadap kita se-suai dengan pekerjaan kuat kuasa-Nya yang Dia kerjakan di dalam Kristus. Kuasa Allah terhadap kita sama dengan kuasa yang bekerja di dalam Kristus. Sebagai Tubuh, kita berbagian dalam kuasa yang bekerja dalam Kepala.

A. Membangkitkan Dia dari antara Orang Mati

Kuasa hebat yang bekerja dalam Kristus pertamatama membangkitkan Dia dari antara orang mati. Kuasa ini telah menaklukkan maut, kubur, dan alam maut, tempat orang mati tertahan. Demi kuasa kebangkitan Allah, maut dan alam maut tidak berdaya menahan Kristus (Kis.2:24).

B. Mendudukkan Dia di sebelah

Kanan-Nya di Surga

Kehebatan kuasa Allah juga mendudukkan Kristus di sebelah kanan Allah di surga, “jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang” (ayat 20-21). Sebelah kanan Allah, tempat Kristus didudukkan oleh kuasa Allah yang hebat, adalah tempat yang terhormat, tempat dengan otoritas tertinggi. Surga ini bukan hanya mengacu kepada langit tingkat tiga, tempat tertinggi dalam alam semesta, tempat Allah berdiam, tetapi juga keadaan dan atmosfer surga, tempat Kristus didudukkan oleh kuasa Allah.

Dalam ayat 21 Paulus mengatakan bahwa Kristus telah didudukkan di atas segala pemerintah, penguasa, kuasa, kerajaan, dan tiap-tiap nama yang dapat disebut. Pemerintah mengacu kepada jabatan yang tertinggi; pe-nguasa mengacu kepada setiap macam kuasa resmi (Mat. 8:9); kekuasaan mengacu kepada kekuatan otoritas semata; kerajaan mengacu kepada tempat terutama yang didirikan oleh kekuasaan. Penguasa-penguasa di sini bukan hanya meliputi penguasa, malaikat yang baik atau yang jahat di surga, tetapi juga penguasa manusia di bumi. Dengan kuasa Allah yang hebat, Kristus yang naik ke surga telah didudukkan jauh lebih tinggi daripada segala pemerintah, penguasa, kekuasaan, dan kerajaan dalam alam semesta. Tiap-tiap nama yang dapat disebut bukan hanya mengacu kepada sebutan kehormatan, tetapi juga kepada setiap nama. Kristus didudukkan jauh melampaui setiap nama yang dapat disebut, bukan hanya dalam zaman ini, tetapi juga dalam zaman yang akan datang.

C. Segala Sesuatu Diletakkan di bawah Kaki-Nya

Ayat 22 mengatakan, “Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus.” Ketiga, kuasa yang Allah kerjakan di dalam Kristus telah meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus. Kristus itu jauh melampaui segala sesuatu, ini adalah satu hal. Segala sesuatu ditaklukkan di bawah kaki Kristus, ini adalah hal yang lain. Yang pertama mengacu kepada keunggulan Kristus; yang terakhir mengacu kepada penaklukan segala sesuatu kepada-Nya. Di sini kita nampak kuasa-Nya yang menundukkan, kuasa yang menundukkan segala sesuatu.

D. Menjadikan Dia Kepala Segala yang Ada kepada Gereja

Bagian akhir dari ayat 22 mengatakan, “Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Keempat, kuasa Allah yang dikerjakan-Nya dalam Kristus menjadikan Kristus Kepala atas segala sesuatu kepada gereja. Kekepalaan Kristus atas segala sesuatu adalah pemberian dari Allah kepada-Nya. Melalui kuasa Allah yang unggul, Kristus menerima kekepalaan dalam alam semesta. Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, didudukkan di surga, menerima sega-la sesuatu ditaklukkan kepada-Nya, dan dijadikan Kepala atas segala sesuatu dalam keadaan-Nya sebagai manusia, dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya.

Dalam ayat-ayat tersebut kita nampak empat aspek kuasa yang bekerja di dalam Kristus: kuasa kebangkitan, kuasa kenaikan, kuasa penakluk, dan kuasa mengepalai. Kuasa empat ganda ini ditransmisikan kepada gereja. Ungkapan “kepada Jemaat” dalam ayat 22 menyiratkan adanya semacam transmisi. Apa pun yang telah dicapai dan didapatkan oleh Kristus, Sang Kepala, ditransmisikan kepada gereja, Tubuh-Nya. Dalam transmisi ini gereja mengambil bagian dengan Kristus dalam segala pencapaian-Nya: kebangkitan dari antara orang mati, didudukkannya Dia dalam keunggulan-Nya, penaklukan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan kekepalaan atas segala sesuatu.

Gereja adalah sesuatu yang keluar dari kuasa demikian. Kata kecil “kepada” ini menunjukkan sumber gereja. Kuasa yang ditransmisikan kepada gereja ini akan menggenapkan kemuliaan dan mewujudkan pengharapan kita. Baik pengharapan dan kemuliaan berada di hadapan kita, tetapi kuasa hari ini beserta dengan kita.

Tenaga listrik dan nuklir adalah perumpamaan yang paling baik untuk menerangkan kuasa rangkap empat ini. Dalam pemulihan Tuhan kita memiliki tenaga listrik ilahi dan tenaga nuklir surgawi, dan kita menggunakan keduanya itu. Kebanyakan orang Kristen tidak begitu mengenal tenaga ini. Yang mengenal tenaga atau kuasa ini dan mengenal tentang tombol atau saklarnya juga tidak banyak. Andaikata Anda bertamu di rumah seseorang satu malam. Walau Anda diberi kamar yang sangat indah, Anda akan berada dalam kegelapan kalau Anda tidak mengetahui di mana saklar lampunya. Dari hari ke hari kita berada dalam pemulihan dan selalu menyentuh saklar ini. Rasul Paulus berdoa agar kita dapat mengenal kuasa ilahi yang besar dan hebat ini. Karena kehebatan kuasa nuklir surgawi melampaui pengetahuan kita, maka tidak seorang pun dapat mengatakan berapa besarnya. Namun, kita tetap dapat mengetahuinya. Alangkah ajaibnya!

Jika kita mengetahui betapa hebat kuasa ilahi yang beroperasi di dalam Kristus, kita takkan pernah memakai kelemahan kita sebagai alasan. Sehubungan dengan kuasa yang sedemikian, kelemahan kita menjadi tidak berarti apa-apa. Kuasa ilahi ini dapat membangkitkan kita dari antara orang mati, sekalipun kita telah mati, telah dikubur, dan telah berbau seperti Lazarus. Karena mengharapkan simpati saya, beberapa saudari sering mengatakan bahwa mereka adalah bejana yang lemah. Memang, menurut 1Petrus 3:7, saudari-saudari merupakan bejana yang lemah, tetapi saya tidak bersimpati kepada kelemahan mereka, sebab kuasa nuklir surgawi tersedia bagi mereka. Pada kuasa ini tidak ada kele-mahan.

Transmisi kuasa rangkap empat ini ditujukan kepada mereka yang percaya. Apa yang kita katakan adalah yang kita percayai. Bila Anda mengatakan Anda lemah, berarti Anda percaya Anda memang lemah. Para saudari perlu bangkit dan mengumumkan bahwa mereka tidak lemah, sebab mereka memiliki kuasa nuklir surgawi. Paulus berdoa agar kita beroleh roh hikmat dan wahyu untuk mengenal pengharapan panggilan Allah, kekayaan kemuliaan-Nya, dan kuasa-Nya yang hebat terhadap kita. Jika Anda telah nampak bahwa kuasa yang ditujukan kepada kita adalah kuasa yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati, dapatkah Anda tetap mengatakan bahwa Anda lemah? Janganlah meremehkan nilai perkataan Anda. Apa saja yang dikatakan Allah pasti terjadi. Pada prinsipnya kita pun demikian. Beriman berarti mengatakan apa yang Allah katakan. Ketika Allah berkata, “Engkau telah beroleh selamat,” kita wajib berkata, “Amin!” Siapa yang bereaksi demikian, ia pasti beroleh selamat. Demikian pula, bila Allah berkata, “Kuasa ilahi adalah milikmu,” kita wajib berkata, “Amin!” Demikian, kuasa itu benar-benar akan kita miliki. Jangan mengatakan masih ada orang-orang yang lemah di antara kita, sebab kita semua lebih kuat daripada Daud, bahkan kita ini sama kuatnya dengan Yesus Kristus. Apakah Anda berani mengatakan bahwa Anda sama kuatnya dengan Kristus? Jika kita mengetahui transmisi kuasa surgawi ini, kita akan dapat berkata demikian dengan penuh keyakinan.

Dalam Efesus 6:10 Paulus berkata, “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Kata-kata Paulus dalam pasal 6 berdasar pada perkataan yang ia ucapkan dalam pasal 1. Bersandar kuasa ilahi ini kita dapat menjadi kuat dan berdiri tegap. Kerap kali saudara saudari berkata bahwa mereka sedang “merosot”. Tetapi kita sebenarnya tidak “merosot” — kita se-dang berada di surga yang jauh melampui segala-galanya. Kita sedang berada dalam keunggulan Kristus, jauh di atas segala sesuatu, termasuk segala setan, malaikat-malaikat jahat, pemerintah, dan penguasa. Jika kita menyadari hal ini, tidak ada apa pun yang mampu merubuhkan kita. Ini bukan satu impian, melainkan kuasa yang akan menggenapkan kemuliaan dan mewujudkan pengharapan kita yang satu-satunya itu. Pengharapan kita tidak sia-sia, sebaliknya ia memiliki dasar yang kuat dan teguh di dalam kuasa ilahi. Sebelum para astronot mendarat di bulan, mereka memiliki keyakinan penuh bahwa mereka memiliki kekuatan untuk mencapai dan mendarat di bulan. Demikian pula, dasar kita ialah kuasa Allah yang hebat terhadap kita, orang-orang yang percaya. Saya benar-benar tidak mempunyai perkataan untuk menyatakan hal ini. Yang dapat saya lakukan tak lain mengulangi kata-kata Rasul Paulus: Kuasa yang hebat itu ditujukan kepada kita, orang-orang yang percaya.

Efesus 1:22 menyiratkan bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kaki kita, dan kita harus percaya hal ini. Jika kita tidak percaya, berarti kita menentang perkataan Bapa kita. Bapa kita tidak dapat berdusta; apa yang Dia katakan pasti benar. Maka, kita harus menerima dan percaya kepada firman-Nya. Lupakanlah perasaan, kondisi, dan situasi Anda. Jangan berkata bahwa ada suatu situasi yang sulit yang tidak dapat diletakkan di bawah kaki Anda. Yang benar ialah bahwa kita jauh di atas segala-galanya, dan kuasa ilahi telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki kita, termasuk setiap situasi yang sulit. Janganlah terganggu oleh keadaan sekitar Anda dan jangan percaya kepada situasi Anda. Lupakan semua itu, dan terimalah firman, percayalah firman, dan umumkanlah firman Tuhan. Haleluya bagi kuasa penakluk ini!

Kita pun bersyukur kepada Tuhan bagi kuasa yang mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala, yaitu kuasa yang menjadikan Kristus Kepala atas segala sesuatu kepada gereja. Kita tidak boleh menyalahartikan perkataan Paulus dalam Efesus 1:22, yaitu mengira kita adalah kepala. Jika demikian, kita akan keliru besar. Kita harus selalu memiliki perasaan berada di bawah Kepala. Akan tetapi, ketika kita berada di bawah Kepala, kita akan mengambil bagian dalam kuasa yang mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala. Kita bukan Kepala itu, tetapi kita mempunyai bagian dalam pekerjaan mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala tersebut.

Karena yang ada di dalam kita adalah kuasa yang unggul yang membuat kita melampaui segala-galanya. Kita perlu bangkit dari kelemahan kita dan percaya kepada perkataan yang mengatakan bahwa kita adalah luar biasa. Kita perlu melihat hal ini, percaya hal ini, dan mengatakan hal ini. Kita pun perlu mengetahui bahwa segala perkara telah ditaklukkan di bawah kaki kita. Jangan percaya kepada situasi Anda, ambillah firman dan umumkan apa saja yang Dia katakan. Lagi pula, kita harus memelihara diri kita di bawah kekepalaan Kristus. Jika kita demikian, kita akan berada di dalam proses penyatuan segala sesuatu di bawah satu kepala. Hasil dari semuanya itu ialah hidup gereja. Setiap problem dalam hidup gereja berasal dari kurangnya pengenalan penuh atas kuasa ilahi ini. Bila kita memiliki pengenalan penuh atas kuasa ini dan hidup olehnya, kita akan memiliki hidup gereja yang indah, yaitu hidup gereja tanpa problem apa pun.

Semoga kita semua membawa hal ini kepada Tuhan dan berdoa, “Ya Tuhan, kabulkanlah kiranya doa Paulus di dalamku, agar aku memiliki roh hikmat dan wahyu, dan agar mata hatiku diterangi sehingga dapat mengenal kuasa yang ditujukan kepadaku menurut operasi kekuatan kuasa-Mu. Aku ingin mengenal kuasa yang bekerja di dalam Kristus yang membangkitkan-Nya dari antara orang mati, mendudukkan-Nya di surga jauh lebih tinggi daripada segala sesuatu, menaklukkan segala perkara di bawah kaki-Nya, serta yang menjadikan-Nya Kepala atas segala sesuatu bagi gereja.” Anda tidak perlu menafsirkan perkataan Paulus dalam Efesus 1:19-22 ini. Doakan saja ayat-ayat ini dan persekutukanlah. Pada akhirnya ayat-ayat ini akan menjadi riil bagi Anda. Semoga kita semua nampak, mengenal, percaya, dan menuturkan kuasa ini.