KRISTUS SEBAGAI KEPALA ATAS SEGALA SESUATU KEPADA GEREJA
Dalam Efesus 1 Paulus berdoa agar kita beroleh roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar (penuh). Berdasarkan konteksnya, memiliki pengenalan yang benar akan Allah berarti mengetahui pengharapan panggilan Allah, kemuliaan warisan Allah di antara orang-orang kudus, dan kuat kuasa Allah yang hebat terhadap kita yang percaya. Mengenal Allah berarti mengenal pengharapan, kemuliaan, dan kuat kuasa, sebab Allah sendiri adalah pengharapan, kemuliaan, dan kuat kuasa. Jika kita mengaku telah mengenal Allah, tetapi tidak mengenal ketiga perkara ini, maka pengenalan kita akan Allah hanyalah pada segi obyektifnya, bukan pada segi pengalaman. Tetapi bila kita mengenal Allah dalam pengharapan, kemuliaan, dan kuat kuasa barulah berarti mengenal Dia pada segi pengalaman yang subyektif.
Kebanyakan orang Kristen hari ini mengenal Allah secara obyektif, yaitu hanya dalam pengetahuan belaka. Bagi mereka, Allah berada jauh di surga. Mereka tahu bahwa Allah itu sasaran atau obyek kepercayaan dan penyembahan mereka, namun mereka tidak mengenal-Nya sebagai pengharapan, kemuliaan, dan kuat kuasa secara subyektif. Mereka tidak mengenal Dia sebagai Persona yang sedang beroperasi di batin mereka untuk menguduskan mereka, menyusun mereka menjadi putra-putra Allah, dan memungkinkan mereka menjadi warisan Allah.
MENJADI WARISAN ALLAH
Kita sudah menunjukkan bahwa panggilan Allah merupakan gabungan kata-kata indah Allah tentang kita. Dalam kata-kata indah Allah kita dijadikan kudus, di-susun menjadi putra-putra Allah, dan menjadi warisan-Nya. Karena itu, kita akan menjadi mustika yang layak menjadi warisan Allah. Allah begitu tinggi, begitu agung, dan sangat mustika. Namun Ia mau menerima kita menjadi warisan-Nya. Tetapi, bila kita memandang kondisi kita dewasa ini, kita akan menyadari betapa kita tidak layak menjadi warisan-Nya. Namun Allah mau bekerja di dalam kita, membuat kita layak, berharga, dan menjadi mustika satu-satunya dan bernilai di dalam alam semesta sebagai warisan bagi-Nya. Allah memandang kita, umat pilihan-Nya, sebagai milik-Nya yang istimewa. Satu-satunya cara kita untuk menjadi mustika Allah, milik-Nya yang istimewa, adalah melalui pekerjaan ilahi di dalam kita. Allah itu mustika adanya dan Dia sedang menggarapkan diri-Nya sendiri sebagai mustika ke dalam kita, agar kita dapat menjadi satu mustika bagi-Nya.
YERUSALEM BARU
Kita telah melihat bahwa ketiga aspek penting dari kata-kata indah Allah ialah kita akan menjadi kudus, menjadi putra-putra Allah, dan menjadi warisan-Nya. Ketiga aspek ini dapat dilihat dalam Yerusalem Baru. Menurut Wahyu 21, Yerusalem Baru ialah sebuah kota ku-dus, kota yang di dalamnya tertampak kekudusan Allah. Lagi pula, Yerusalem Baru adalah satu komposisi dari putra-putra Allah. Wahyu 21:7 mengatakan bahwa siapa yang menang akan mewarisi segala-galanya, dan menjadi putra-putra Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Yerusalem Baru merupakan totalitas keputraan yang ilahi. Selain itu, Yerusalem Baru akan menjadi satu mustika, satu warisan baik bagi Allah maupun bagi kita. Dalam Yerusalem Baru Allah akan menikmati kita sebagai mustika-Nya, kita pun akan menikmati Dia sebagai mustika kita. Karena itu, Yerusalem Baru akan menjadi warisan dan kepuasan yang timbal balik bagi Allah maupun manusia. Yerusalem Baru akan menjadi perwujudan kekudusan, satu komposisi dari putra-putra Allah, dan satu warisan yang timbal balik bagi Allah dan manusia. Tidak saja demikian, bahkan Yerusalem Baru akan memiliki kemuliaan Allah, yakni kemuliaan warisan Allah, kekayaan kemuliaan warisan-Nya di antara orang-orang kudus. Hari ini kemuliaan ini adalah pengharapan kita.
KUAT KUASA YANG ALMUHIT
TERHADAP KITA YANG PERCAYA
Pengharapan ini telah digenapkan oleh kuat kuasa Allah yang hebat. Kekuatan kekristenan fundamental sangat tipis dan lemah, kekristenan Pentakosta juga tidak memiliki kuat kuasa yang wajar. Namun Efesus 1 membicarakan adanya kuat kuasa yang ditujukan kepada kita, orang-orang yang percaya. Sebagai orang-orang yang percaya Tuhan Yesus dan Alkitab, kita dapat mengumumkan, “Haleluya, kita percaya! Kita percaya Tuhan Yesus dan kita percaya firman Allah.” Kita tidak perlu berpuasa dan berdoa untuk menerima kuat kuasa ilahi, sebab kuat kuasa ini adalah terhadap (bagi) kita yang percaya. Dengan percaya, kita telah memiliki kedudukan dan memenuhi syarat untuk menerima kuat kuasa Allah. Haleluya, kuat kuasa ini adalah terhadap kita, orang-orang yang percaya!
Dalam hal ini, listrik adalah ilustrasi yang paling baik. Ketika kita membangun balai sidang kita di Anaheim, listrik telah dipasang. Kini tenaga listrik adalah terhadap bangunan ini. Masalah penggunaan tenaga listrik tergantung pada kita, dan kita menggunakannya dengan menekan tombol atau saklar. Demikian pula, listrik surgawi telah terpasang di dalam kita, dan kuat kuasa surgawi adalah terhadap kita. Cara untuk menerima kuat kuasa ini bukan dengan berpuasa atau berdoa beberapa hari, cukup dengan menekan tombol saja. Cara untuk berlatih menekan tombol ialah berulang-ulang mengumumkan Efesus 1:19-23. Jika kita mengumumkan ayat-ayat ini sepuluh kali, kita akan beroleh kekuatan. Namun, jika Anda berulang-ulang mengatakan bahwa Anda lemah, Anda akan sungguh-sungguh lemah. Tetapi dengan mengucapkan kata-kata yang positif berdasarkan iman, kita akan menggunakan seluruh diri kita untuk menerima kuat kuasa ilahi itu. Ketika kita berkata-kata dalam iman dan menerima kuat kuasa itu, semua per-kara yang negatif akan lari. Iblis tidak takut terhadap doa-doa kita yang mengemis-ngemis dengan kasihan, tetapi dia takut akan perkataan kita dalam iman. Maka kita perlu berkata, “Aku percaya, aku berbicara, aku memiliki kuasa, aku kuat.” Ini bukan takhayul, melainkan iman kita sebagai orang Kristen.
Berbicara tentang iman, pertama-tama harus ada faktanya. Allah memberi tahu kita fakta itu, kemudian kita percaya perkataan Allah, inilah iman kita yang sesungguhnya sebagai orang Kristen. Walaupun hal ini tidak dapat kita lihat, tetapi adalah satu fakta bahwa Kristus telah bangkit dari antara orang mati dan telah didudukkan di surga jauh melebihi segalanya. Selain itu, adalah fakta pula bahwa segala sesuatu telah diletakkan di bawah kaki-Nya, dan Dia menjadi Kepala bagi gereja atas segala yang ada. Semuanya ini merupakan fakta yang telah rampung di dalam alam semesta ini. Melalui firman kudus-Nya, Allah datang memberi tahu kita fakta-fakta tadi. Lalu kita percaya apa yang Allah katakan dan kita mengatakan apa yang telah Allah katakan. Inilah iman. Kita tidak seharusnya hanya membaca dan mempelajari Alkitab saja, kita pun harus mengumumkan Alkitab. Ada sementara orang menyalahkan kita karena kita mengulang-ulang pembacaan ayat-ayat Alkitab, tetapi kita justru ingin lebih banyak lagi mengulanginya.
Dalam alam semesta ini sedang terjadi suatu transmisi dari Tuhan di surga kepada gereja. Efesus 1:19 mengatakan bahwa transmisi ini adalah “bagi (terhadap) kita yang percaya”. Lagi pula Efesus 1:22 mengatakan, “Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Istilah “kepada” yang kecil ini menunjukkan suatu transmisi. Kuat kuasa yang ditujukan kepada kita adalah Allah Tritunggal. Kuat kuasa ini tidak saja sebagai kuat kuasa penciptaan, tetapi juga sebagai kuat kuasa yang telah mengalami inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Setelah melalui semua langkah ini, Allah Tritunggal datang kepada kita sebagai kuat kuasa yang sedemikian. Maka dalam kuat kuasa ini terkandung kuat kuasa penciptaan, inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Karenanya kuat kuasa ini adalah kuat kuasa yang almuhit. Kuat kuasa yang ditujukan kepada kita, orang-orang yang percaya, ialah Allah Tritunggal, Pencipta alam semesta yang berinkarnasi, mengalami penyaliban, memasuki kebangkitan dan kenaikan; dan telah mendatangi kita. Kuat kuasa ini telah terpasang di dalam kita, sama halnya dengan listrik telah terpasang dalam sebuah bangunan.
Kita perlu percaya bahwa kuat kuasa ini sekarang juga berada di batin kita. Tetapi banyak di antara kita yang terlampau alamiah dan menekankan logika, lalu berkata, “Bagaimana mungkin kuat kuasa ini berada di dalamku? Aku tahu aku telah bertobat, aku telah meng-aku dosa-dosaku kepada Allah, aku percaya dan bersandar kepada-Nya. Aku pun mengerti Allah telah menyelamatkan, mengampuni, dan menyucikan aku dengan darah adi Kristus. Akan tetapi pada saat aku percaya, aku tidak pernah merasakan adanya kuat kuasa ilahi itu terpasang di dalamku. Bukankah Anda mengatakan ada suatu kuat kuasa almuhit, Bapa, Putra, dan Roh berikut penciptaan, inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan telah tergarap di dalamku? Aku tidak pernah merasakan telah memiliki kuat kuasa ini. Maka tidak masuk akal jika aku mengatakan telah memilikinya.” Masuk akal selalu bertentangan dengan iman, begitu pula sebaliknya. Dalam masalah transmisi kuat kuasa ilahi ini, janganlah Anda terlalu menurut logika; sebaliknya, gunakanlah iman.
Baiklah kita demikian melihatnya. Kita telah dilahirkan kembali. Dilahirkan kembali berarti Allah terlahir di dalam kita. Percayakah Anda bahwa Allah telah terlahir di dalam Anda? Allah sendiri yang terlahir di dalam Anda, adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebelum Allah ini terlahir di dalam Anda, Dia telah melalui penciptaan, inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Sudahkah Anda merasakan semuanya ini ketika Anda dilahirkan kembali? Entah Anda memiliki perasaan ini atau tidak, tidak mengapa. Yang penting ialah Anda percaya segala yang dikatakan dalam Alkitab. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Anda berdosa, Anda harus berkata, “Amin”. Ketika Alkitab menyuruh Anda bertobat, Anda harus bertobat. Pada waktu Anda percaya, ada sesuatu yang terjadi pada diri Anda dan di dalam Anda, walaupun Anda mungkin tidak mengerti apakah itu. Yang terjadi tidak lain ialah kuat kuasa itu, Allah Tritunggal sendiri yang telah terpasang di dalam Anda.
PERLU MENGENAL KUAT KUASA INI
Berhubung kaum beriman sangat perlu memiliki pengetahuan yang wajar akan kuat kuasa ini, maka Rasul Paulus berdoa agar kita mempunyai satu roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar dan mengenal kehebatan kuat kuasa terhadap kita, orang-orang yang percaya. Ya, kita memang memiliki kuat kuasa yang hebat di dalam kita, namun keperluan kita hari ini ialah mengenal kuat kuasa ini. Entah Anda merasakannya atau tidak, ada satu transmisi yang terjadi dari surga tingkat ketiga, tempat Allah berada, ke dalam diri kita. Transmisi inilah yang membuat kita berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya. Karena adanya kuat kuasa ini di dalam kita, maka tidak mungkin kita membuang iman kita sebagai orang Kristen. Saya ulangi, di dalam kita terdapat kuat kuasa ilahi, dan kuat kuasa ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui penciptaan, inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan, yang telah terpasang di dalam kita sebagai kuat kuasa yang almuhit. Karenanya, ada suatu hubungan ilahi di antara kita dengan surga tingkat ketiga. Keperluan kita hari ini adalah mengenal kehebatan kuat kuasa ini.
MEMBICARAKAN DAN MENGALAMI
TRANSMISI INI
Kita perlu berkali-kali membaca ayat-ayat dalam Efesus ini sampai kita berkesan mendalam dan sampai kita dapat membicarakannya. Setiap hari kita perlu membicarakannya kepada diri kita sendiri, kepada sanak keluarga kita, kepada saudara saudari, kepada malaikat dan setan-setan, dan kepada seluruh makhluk. Semakin kita membicarakan kuat kuasa ini, kita akan semakin mengalaminya, ditrasmisikan ke dalam diri kita.
Akhirnya, melalui iman dan pembicaraan (pengumuman) kita akan transmisi ini, gereja akan ternyata dengan riil. Kristus adalah Kepala atas segala sesuatu kepada gereja. Kita perlu mempercayai dan membicara-kannya terus-menerus. Demi hidup gereja yang lebih baik, saya anjurkan supaya kita sekalian membicarakan (mengumumkan) Efesus 1:19-23 sepuluh kali sehari. Lihatlah akibat yang akan terjadi bila kita semua melakukan hal ini. Entah berapa lebih baiknya pembicaraan semacam ini daripada perkataan yang sia-sia tentang saudara, saudari, atau tentang situasi gereja! Membicarakan tentang keadaan kaum saleh tidak dapat mengangkat dan menguatkan kita; sebaliknya itu akan menenggelamkan dan melemahkan kita. Jika semua orang saleh berbicara sia-sia, hidup gereja akan lenyap. Karena itu, marilah kita mengumumkan saja Efesus 1:19-23 dan melupakan situasi gereja, para penatua, dan saudara saudari. Selama sepuluh hari ini, marilah kita semua dalam hidup gereja mengumumkan ayat-ayat ini sepuluh kali sehari. Saya percaya, bila kita berbuat demikian, hidup gereja akan membubung tinggi, sebab ketika kita mengumumkan, transmisi ini akan berlangsung. Dengan demikian kita akan diinfus dengan kuat kuasa ilahi dari transmisi surgawi. Dari pengalaman saya, saya dapat bersaksi bahwa hal ini benar-benar akan terjadi.
Kita terlalu alamiah, terlalu menekankan logika, dan terlalu rendah. Lupakanlah keadaan gereja dan kaum saleh, kembalilah ke perkataan Allah. Marilah kita beralih kepada firman Allah yang murni. Marilah kita percaya firman Allah dan mengumumkannya. Bila kita mengumumkannya, kita akan mengalami transmisi surgawi, dan kita akan diinfus dengan Allah Tritunggal sebagai kuat kuasa yang almuhit. Kuat kuasa yang hebat ini adalah terhadap gereja. Di sini, di dalam transmisi kuat kuasa ilahi, kita akan memiliki hidup gereja yang mantap.
Jangan mempelajari Efesus 1 untuk doktrin melulu, melainkan kita harus percaya kepada perkataan Allah tentang fakta universal. Kita tidak saja percaya kepada perkataan Allah, kita sendiri pun berulang-ulang menggemakannya. Dengan jalan inilah kita mengalami transmisi kuasa ilahi terhadap gereja.