← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 15/25

PENGHARAPAN PANGGILAN ALLAH DAN KEKAYAAN KEMULIAAN WARISAN ALLAH DI DALAM ORANG-ORANG

KUDUS

Efesus 1:18 mengatakan, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada (di dalam) orang-orang kudus.” Menurut ayat ini, kita perlu mengetahui dua perkara: pengharapan panggilan Allah dan kekayaan kemuliaan warisan-Nya di dalam orang-orang kudus. Doa pertama Rasul Paulus dalam Kitab Efesus ialah supaya kita memiliki roh hikmat dan wahyu untuk mengerti hal-hal tertentu, dan hal yang pertama ialah pengharapan panggilan Allah.

I. TIDAK LAGI SEBAGAI ORANG LUAR

YANG TANPA PENGHARAPAN

Sebelum kita beroleh selamat, kita tanpa pengharapan. Seperti yang dikatakan dalam Efesus 2:12 — “Tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Namun, setelah kita beroleh selamat, kita tidak lagi sebagai orang luar yang tanpa pengharapan, sebaliknya, kita penuh dengan pengharapan. Akan tetapi, karena kebanyakan orang beriman tidak mengetahui pengharapan yang mereka miliki, maka Paulus berdoa agar kita memiliki roh hikmat dan wahyu, supaya kita dapat mengerti pengharapan panggilan Allah itu.

II. UMAT TERPANGGIL ALLAH

PENUH DENGAN PENGHARAPAN

A. Kristus Sendiri

Sebagai umat terpanggil Allah, kita penuh dengan pengharapan. Pertama, pengharapan kita ialah Kristus itu sendiri. Kolose 1:27 menerangkan, Kristus di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan. Lagi pula, 1Timotius 1:1 mengatakan Yesus Kristus adalah pengharapan kita. Kristus bukan hanya hayat dan kekudusan kita, Dia juga pengharapan kita. Pengharapan kita hanya dan satu-satunya ialah Kristus. Setiap aspek dari pengharapan kita berkaitan dengan Dia.

B. Pengangkatan, Transfigurasi

Tubuh Kita, dan Dimuliakan

Aspek kedua dari pengharapan kita ialah pemindahan pengangkatan dari ruang lingkup bumiah dan jasmaniah kepada ruang lingkup surgawi dan rohani, serta dimuliakan (Rm. 8:23-25, 30; Flp. 3:21). Pengangkatan (rapture) berarti kegirangan yang luar biasa, lupa diri karena sukacita. Bagi kita orang Kristen, pengangkatan berarti diangkat ke atas. Para guru Alkitab memakai istilah ini untuk melukiskan pengangkatan, sebab menurut pandangan mereka, terangkat merupakan suatu kegirangan yang luar biasa. Namun, saya sangsi apakah kebanyakan orang Kristen benar-benar percaya bahwa pengangkatan mereka merupakan suatu kegirangan yang luar biasa. Apakah Anda bisa girang jika Tuhan datang hari ini? Apakah Anda girang luar biasa atau meratap dengan sedih? Kebanyakan orang Kristen jika tidak meratap tentu merasa takut. Walaupun pengangkatan merupakan satu aspek dari pengharapan panggilan Allah, tetapi pengharapan ini tergantung pada apakah kita sudah hidup berdasarkan Tuhan. Jika kita hidup berdasarkan Dia dan berjalan bersama Dia, pengangkatan kita barulah merupakan kegirangan yang luar biasa. Namun, jika kita tidak hidup berdasarkan Dia dan berjalan bersama-Nya, saya sangsi apakah hal itu menjadi kegirangan yang luar biasa bagi kita.

Banyak orang Kristen memandang ringan masalah ini. Ada sementara orang berpegang pada konsepsi bahwa apa pun yang sedang mereka perbuat dan di mana pun mereka berada, mereka pasti akan diangkat ketika Tuhan kembali. Akan tetapi bagaimanakah jika Anda saat itu sedang berada di bioskop atau sedang bertengkar dengan suami atau istri Anda? Mungkinkah pengangkatan itu menjadi suatu kegirangan yang luar biasa dalam suasana seperti itu? Pasti tidak! Saya tidak mau bertengkar pada waktu Tuhan datang. Dalam 2Timotius 4:1, Paulus berkata kepada Timotius, “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi kedatangan-Nya dan demi Kerajaan-Nya.” Ini menunjukkan bahwa Timotius diberi pesan untuk hidup dalam terang penyataan Tuhan dan kerajaan. Apa pun yang akan ditolak oleh kerajaan yang akan datang, juga harus ditolak dalam kehidupan kita hari ini. Saya tidak yakin ada banyak orang, bahkan di antara kita, yang selalu hidup dalam penyataan Tuhan. Jika kita hidup dalam penyataan-Nya, tentu kita tidak akan bertengkar; kita tidak mau didapati sedang bertengkar ketika Tuhan menyatakan diri-Nya. Tidak banyak orang Kristen yang menganggap kedatangan Tuhan itu sebagai satu peringatan. Bila Anda membaca Perjanjian Baru, terutama Surat-surat Kiriman Efesus, Anda akan mengetahui bahwa para rasul hidup dalam penyataan Tuhan. Penyataan Tuhan senantiasa merupakan suatu peringatan bagi mereka dan mengatur kehidupan mereka. Mereka tidak berani melakukan perkara tertentu sebab mereka percaya bahwa sewaktu-waktu Tuhan bisa menyatakan diri. Jika kita dengan serius menanggapi masalah penyataan Tuhan dan kerajaan, hal-hal ini akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita dengan hebatnya.

Namun banyak orang Kristen walau sering membicarakan tentang pengangkatan dan kedatangan Tuhan, tetapi setelah membicarakannya, mereka kembali mengumbar nafsu dalam hiburan duniawi. Sungguh kasihan! Kabarnya, ada beberapa orang Kristen menggunakan meja yang sama untuk berjudi dan mempelajari Alkitab. Ada lagi yang setelah membahas kedatangan Tuhan lalu pergi menonton pertandingan olahraga tertentu, nonton film, atau berdansa. Apakah Anda nampak bahwa penyataan Kristus seharusnya merupakan faktor pokok dalam kehidupan sehari-hari kita? Hari ini kita wajib hidup dalam terang penyataan Tuhan. Jika demikian, barulah pengangkatan kita menjadi suatu kegirangan yang luar biasa.

Setelah kita diangkat, kita akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus dan melakukan perhitungan dengan Tuhan. Waktu itu kita harus menanggulangi segala kekurangan, ketidaksetiaan, kegagalan, dan ketidak-jujuran kita. Banyak orang Kristen telah menimbun banyak perkara semacam itu dalam proses kehidupan mereka sebagai orang Kristen. Ketika Tuhan datang dan mereka tampil di hadapan takhta penghakiman, mereka pasti tidak mungkin penuh dengan sukacita. Sebaliknya, mereka akan ketakutan. Kita semua perlu meninjau kembali kehidupan kita. Banyak orang mencari alasan untuk memaafkan diri sendiri, khususnya atas kelemahan mereka. Ada yang berkata, “Tuhan tahu betapa lemahnya kita, Dia tentu mau membelaskasihani kita. Maka kalau kita gagal atau bersalah tidaklah menjadi soal. Tuhan penuh dengan rahmat.” Lainnya membuat alasan untuk memaafkan dirinya sendiri dengan berkata, “Kita tidak usah terlalu rohani atau religius.” Namun ketika Tuhan datang, alasan yang mana pun akan lenyap. Apakah kedatangan-Nya menjadi kegirangan yang luar biasa atau tidak, tergantung pada kehidupan kita sehari-hari. Jika kita menempuh kehidupan yang gagal, kalah, tidak jujur, tidak setia, dan memberontak, kedatangan Tuhan tidak akan menjadi kegirangan yang luar biasa, melainkan menjadi suatu hukuman. Kita perlu memperhatikan firman Tuhan yang menyuruh kita berjaga-jaga dan berdoa (Luk. 21:36). Jika kita berjaga-jaga, menjadi pendoa dan pencari Tuhan, kedatangan-Nya niscaya merupakan kegirangan kita yang luar biasa. Inilah pengharapan kita.

Berapa banyak pengharapan yang kita miliki pada hari yang akan datang, tergantung pada terbangunnya kita pada hari ini. Jika kita tidak terbangun di dalam Tuhan, pengharapan kita akan menjadi sangat kecil. Kristus di dalam kita adalah pengharapan kemuliaan, namun pengharapan ini pun tergantung pada berapa banyak kita terbangun. Ketika Kristus datang kembali, bagi Anda Dia akan menjadi Hakim atau Mempelai Laki-laki? Jangan-jangan Dia menjadi Mempelai Laki-laki bagi orang lain, namun bagi Anda, Dia adalah Hakim. Kalau sungguh demikian, Dia bukanlah pengharapan kemuliaan bagi Anda. Entah Dia adalah pengharapan Anda atau tidak, semua tergantung pada bagaimana kehidupan kekristenan yang Anda tempuh hari ini. Ini hal yang serius, dan hal ini patut mendorong kita untuk meninjau kembali kehidupan kita. Bila kehidupan kita normal, Kristus adalah pengharapan kita, dan pengangkatan akan menjadi kegirangan yang luar biasa.

Pada saat pengangkatan, tubuh kita akan ditransfigurasi, dan kita akan dimuliakan. Tetapi saya mengatakan hal ini dengan hati-hati, sebab situasi di antara orang Kristen dewasa ini sangat kasihan. Namun, demi anugerah Tuhan, kita yang berada dalam pemulihan Tuhan, harus mencapai standar-Nya, dan menempuh ke-hidupan yang dikehendaki-Nya. Kita perlu menjadi saksi-saksi-Nya yang hidup, yang mengemban kesaksian bagi-Nya di luar perkemahan. Bila kita demikian, kedatangan Kristus kelak dan keterangkatan kita akan menjadi pengharapan kita. Selain itu, transfigurasi tubuh kita dan pemuliaan kita juga akan menjadi satu pengharapan bagi kita.

C. Keselamatan Jiwa Kita Kelak

Pengharapan keselamatan jiwa kita kelak tercakup pula dalam pengharapan panggilan Allah (1Ptr. 1:5, 9). Jika pada hari ini kita kehilangan jiwa bagi Tuhan, menderita dalam jiwa bagi kesaksian-Nya, kita akan memiliki pengharapan untuk menerima keselamatan jiwa kita pada kedatangan Tuhan kelak. Hari ini jiwa kita sedang menderita, tetapi ketika Dia datang, Dia akan membawa jiwa kita ke dalam kenikmatan-Nya. Inilah keselamatan jiwa yang dikatakan dalam 1Petrus. Tetapi jika kita hari ini menyelamatkan jiwa kita, yakni lebih mementingkan kenikmatan jiwa kita daripada kesaksian Tuhan, maka kedatangan Tuhan kelak bagi jiwa kita itu akan menjadi kerugian dan hukuman. Namun, kalau kita selalu rela kehilangan jiwa kita karena kesaksian-Nya, maka kedatangan-Nya kembali akan membawakan keselamatan bagi jiwa kita, yakni keselamatan yang akan membawa jiwa kita ke dalam kenikmatan-Nya. Pengharapan ini ditentukan oleh kehidupan kita hari ini.

D. Kenikmatan Meraja Bersama Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun

Aspek lain dari pengharapan kita ialah kenikmatan meraja bersama Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun (Why. 5:10; 2Tim. 4:18; Mat. 25:21, 23). Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana kehidupan kita hari ini. Dalam Injil Matius, hamba yang malas dilempar keluar ke dalam kegelapan, sedang yang setia dibawa masuk ke dalam kenikmatan Tuhan. Jadi, ada orang yang diganjar dan ada orang yang secara positif akan mendapatkan pahala. Kita semua adalah orang Kristen, namun kelak kita tidak akan diperlakukan sama rata ketika Tuhan kembali. Cara Tuhan memperlakukan kita tergantung pada bagaimana kehidupan kita hari ini. Bila kita setia, kita akan beroleh pahala berupa kenikmatan Tuhan selama seribu tahun. Akan tetapi, bila kita malas, kita akan dihukum. Maka entah Kerajaan Seribu Tahun akan menjadi satu peng-harapan bagi kita, itu tergantung pada sikap kita hari ini. Kita harus menjadi orang Kristen yang normal, yang setia kepada Tuhan. Kemudian, barulah Kerajaan Seribu Tahun itu menjadi pengharapan kita.

E. Kenikmatan Terakhir Bersama Kristus dalam Yerusalem Baru

dengan Berkat yang Universal dan Kekal dalam Langit dan Bumi Baru

Terakhir, pengharapan panggilan Allah mencakup kenikmatan terakhir atas Kristus dalam Yerusalem Baru dengan berkat-berkat yang universal dan kekal dalam langit dan bumi baru (Why. 21:1-7; 22:1-5). Haleluya bagi pengharapan ini! Kita semua akan berada dalam Yerusalem Baru. Tetapi untuk memasuki tempat ini kita perlu matang dan dituai. Jika kita tidak matang pada zaman ini, kita harus matang pada zaman yang akan datang. Setiap orang yang menikmati Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru, pasti sudah matang. Jangan bertanya kepada saya bagaimana cara Tuhan mematangkan kita semua. Dia tahu bagaimana melakukan hal tersebut, dan Dia mempunyai cara untuk merampungkannya, entah pada zaman ini atau pada zaman yang akan datang. Saya tahu bahwa fakta ini tidak diakui oleh teologi populer di antara orang-orang Kristen hari ini. Kebanyakan orang Kristen mengatakan bahwa asalkan kita telah ditebus oleh darah Kristus, segala hal yang bersangkutan dengan kita akan beres pada zaman yang akan datang. Namun harinya akan tiba, saat itu banyak orang akan menyadari bahwa tidak semua perkara sudah beres. Ya, kita memang diselamatkan selamanya, tetapi kita masih perlu ditanggulangi agar dapat mencapai kematangan. Sebab itu, saya katakan sekali lagi bahwa kita perlu meninjau kembali kehidupan kita. Namun demikian, bagi kita semua, Yerusalem Baru adalah pengha-rapan kita. Dua Petrus 3:13 mengatakan, “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.”

Tanpa mengetahui pengharapan panggilan Allah, kita takkan rela menyingkirkan perkara-perkara yang mengganggu kita. Tetapi jika kita nampak bahwa Kristus akan datang, kita akan diangkat, ditransfigurasikan, dan dimuliakan, serta kita dapat mengambil bagian dalam kenikmatan Tuhan di dalam Kerajaan Seribu Tahun, kita pasti akan menyingkirkan segala perkara yang lain dengan spontan. Jika tidak, yakni jika tidak nampak apa yang akan datang, kita akan tertipu oleh perkara-perkara zaman ini. Kita perlu diselamatkan melalui melihat setiap aspek dari pengharapan kita. Karena alasan inilah Rasul Paulus berdoa agar kita mengetahui pengharapan panggilan Allah. Panggilan Allah tidak saja mencakup pemilihan, penentuan, penebusan, pemeteraian, dan penjaminan, tetapi juga satu hari depan yang gilang-gemilang. Panggilan-Nya tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang lampau, juga dengan hal-hal yang akan datang. Alangkah indahnya masa depan yang kita miliki!

III. PANGGILAN ALLAH ADALAH TOTALITAS DARI SEGALA BERKAT ALLAH

Panggilan Allah adalah totalitas dari segala berkat yang tercantum dalam ayat 3-14: pemilihan dan penentuan Allah Bapa; penebusan Allah Putra; dan pemeteraian serta penjaminan Allah Roh. Ketika kita dipanggil, kita beroleh bagian dalam pemilihan dan penentuan Allah Bapa, penebusan Anak dan pemeteraian serta penjaminan Roh Kudus.

Pernahkah Anda memikirkan bahwa dalam panggilan kita, kita telah menerima semua berkat dari Allah Tritunggal itu? Jarang sekali orang Kristen yang menyadari hal ini. Bagaimanapun, berkat-berkat ini merupakan isi dari panggilan Allah. Maka panggilan Allah besar sekali maknanya. Panggilan Allah adalah pemilihan, penentuan dari semula, penebusan, pemeteraian dan penjaminan-Nya. Hal ini berarti Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh terlibat dalam panggilan Allah. Allah Tritunggal adalah bagian kita dalam panggilan-Nya.

Kita telah menunjukkan bahwa panggilan Allah mencakup pemilihan. Bapa juga telah menentukan kita, Dia telah menentukan nasib kita sejak semula, dan nasib itu ialah keputraan. Alangkah ajaibnya nasib ini! Setelah dipilih dan ditentukan oleh Bapa, kita ditebus oleh Putra. Selanjutnya Roh Kudus datang memeteraikan kita dan menjaminkan Allah ke dalam kita. Berhubung kita telah mempunyai segalanya itu, apa lagi yang kita dambakan? Saya sudah merasa puas dan cukup sepenuhnya dengan apa adanya Allah Tritunggal itu terhadap diri saya.

IV. KEMULIAAN ALLAH BERARTI

ALLAH DIEKSPRESIKAN

Sekarang kita tiba pada kekayaan kemuliaan warisan Allah di dalam orang-orang kudus. Kita telah sering kali menunjukkan bahwa kemuliaan Allah adalah terekspresinya diri Allah. Ketika Allah diekspresikan itulah kemuliaan.

V. KEKAYAAN KEMULIAAN ALLAH IALAH

BERBAGAI ASPEK ATRIBUT ALLAH YANG

TEREKSPRESI DALAM TINGKATAN

YANG BERLAINAN

Kekayaan kemuliaan Allah ialah berbagai aspek dari atribut Allah, seperti terang, hayat, kekuatan, kasih, kebenaran, dan kekudusan yang terekspresi dalam tingkatan yang berlainan. Karena kemuliaan adalah ekspresi Allah, maka kekayaan kemuliaan adalah kekayaan ekspresi Allah. Beberapa contoh dari atribut ilahi adalah kasih ilahi, rendah hati ilahi, kesabaran ilahi, dan kekudusan ilahi. Saya khusus memakai istilah “ilahi”, sebab kita dibuat sedemikian rupa agar memiliki bentuk luar dari perkara-perkara ilahi. Sebagai contoh: kita memiliki rendah hati insani. Tetapi rendah hati insani bukan rendah hati yang sejati, melainkan hanya sebagai bentuk luar dari rendah hati yang sejati, yaitu rendah hati ilahi. Kasih insani pun demikian, adalah suatu bentuk luar dari kasih sejati dan ilahi. Karena itu, kasih ilahi adalah realitas kasih insani. Setiap manusia memiliki kasih. Tetapi kasih ini tidak tahan lama. Anda mungkin mengasihi orang tua Anda, tetapi kasih Anda terhadap mereka mungkin hanya beberapa hari saja. Demikian pula, seorang saudara mungkin mengasihi istrinya, namun boleh jadi hanya beberapa minggu sudah luntur. Kita semua mengasihi orang lain, namun kasih kita bagaikan bayangan yang berlalu. Pada suatu hari seorang saudara mungkin sangat mengasihi istrinya, tetapi sehari kemudian, ia mungkin menyeret istrinya ke dalam neraka. Sebab itu, kasih yang demikian bukanlah bagian kekayaan kemuliaan Allah.

Saya ulangi, kekayaan kemuliaan adalah ekspresi atribut ilahi dan kebajikan ilahi. Bukan hanya ada dua macam kasih dan rendah hati, yaitu yang insani dan ilahi, tetapi juga ada dua macam keadilan dan kesabaran, keadilan dan kesabaran insani dengan keadilan dan kesabaran ilahi. Kebanyakan orang Kristen salah sangka, mengira kebajikan insani sebagai kebajikan ilahi. Dengan demikian, mereka telah membuat satu kekeliruan yang serius. Kita tidak perlu mengembangkan kebajikan insani, kita kini kekurangan kebajikan ilahi. Ketika Allah di dalam Kristus menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, maka kasih, rendah hati, kesabaran, dan keadilan kita akan diubah menjadi yang ilahi. Semua kebajikan ilahi ini adalah kekayaan kemuliaan Allah. Kebajikan yang sedemikianlah yang merupakan warisan Allah di dalam orang-orang kudus. Penting sekali kita nampak hal ini.

Bila kita nampak hal ini, kehidupan kristiani kita akan berubah. Hampir semua orang yang mencari Tuhan masih tetap hidup secara alamiah dan mereka hanya menghakimi kejahatan alamiah mereka, tetapi tidak menghakimi kebaikan alamiah mereka. Yang jahat dihakimi, namun yang baik diapresiasi. Tidak ada pembedaan antara yang alami dengan yang ilahi. Asalkan suatu hal itu baik, pasti dibenarkan dan diterima. Tindakan ini keliru. Kita wajib membedakan yang alami dari yang ilahi. Bukan kebajikan insani, tetapi atribut ilahilah yang menjadi kekayaan kemuliaan Allah. Bila kita nampak hal ini, kita akan memiliki kehidupan gereja yang normal. Kehidupan gereja yang normal bukan dipenuhi dengan kebajikan insani yang alamiah, tetapi dipenuhi dengan atribut ilahi, sebagai kekayaan ekspresi Allah di dalam warisan-Nya di dalam orang-orang kudus.

VI. WARISAN ALLAH DI DALAM DAN

DI ANTARA ORANG-ORANG KUDUS

Sekarang kita perlu meninjau apakah itu warisan Allah di dalam dan di antara orang-orang kudus. Dalam ayat 18 istilah Yunani yang diterjemahkan “di dalam” boleh juga diterjemahkan “di antara”. Warisan Allah itu ada di dalam dan di antara orang-orang kudus. Kita, orang-orang kudus ialah warisan Allah. Akan tetapi apa adanya alamiah kita tidak dapat menjadi warisan Allah. Allah tidak mau mewarisi sifat, daging, dan insan alamiah kita, Dia hanya mau mewarisi seluruh diri-Nya sendiri, yang telah digarapkan ke dalam kita. Maka, apa saja dari diri Allah yang telah Allah garapkan ke dalam kita itulah yang menjadi warisan-Nya.

VII. WARISAN ALLAH MENJADI

EKSPRESI-NYA YANG KEKAL

Pertama-tama Allah menjadikan kita warisan-Nya (ayat 11), menjadi milik belian-Nya (ayat 14), dan membuat kita berbagian dalam segala apa ada-Nya, segala milik-Nya, dan segala yang telah digenapkan-Nya sebagai warisan kita. Terakhir, semuanya itu menjadi warisan-Nya dalam orang kudus sampai selama-lamanya. Hal ini akan menjadi ekspresi-Nya yang kekal, yaitu kemuliaan-Nya dengan segala kekayaan-Nya guna mengekspresikan Dia dengan sempurna secara universal dan abadi (Why. 21:11).

Kita telah melihat bahwa Allah sedang dalam proses menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sedikit demi sedikit. Apa saja yang Allah salurkan dari diri-Nya ke dalam kita itu menjadi warisan-Nya. Pada akhirnya, Allah akan mewarisi kita, sebenarnya itu adalah mewarisi Dia sendiri di dalam kita. Di dalam kita terdapat sejumlah warisan Allah. Kadarnya tergantung pada berapa banyak diri Allah tergarap ke dalam diri kita. Kita perlu berdoa dan mohon Tuhan memperlihatkan kepada kita berapa banyak kadar-Nya di dalam kita. Jangan mengira berbuat demikian berarti melakukan introspeksi. Kita perlu mohon Tuhan memperlihatkan kepada kita berapa banyak kadar-Nya di dalam kita dan berapa banyak kadar diri kita sendiri. Jarang sekali orang Kristen yang mempertimbangkan urusan-urusan secara demikian. Sebaliknya, mereka mengukur diri sendiri menurut skala etika, menurut baik atau buruk, benar atau salah, kasih atau benci, dan seterusnya. Namun, skala yang seharusnya kita pakai untuk mengukur diri kita adalah Allah itu sendiri. Berapa banyakkah kadar Allah di dalam Anda, dalam kehidupan keluarga Anda, dan dalam kehidupan gereja Anda? Bila kita mengukur diri sendiri dengan cara demikian, kita akan menemukan bahwa kadar Allah di dalam kita belum banyak. Namun demikian, kita bersyukur kepada-Nya atas apa yang kita miliki. Yang kita perlukan saat ini ialah bertambahnya Allah di dalam kita. Allah sendiri di dalam kita menyusun warisan-Nya di antara orang-orang kudus. Dalam warisan ini terdapat kekayaan kemuliaan-Nya. Karena itu, dalam pasal 1:18 Paulus menyinggung tentang kekayaan kemuliaan-Nya dalam orang-orang kudus. Kehidupan gereja yang wajar bukanlah suatu kehidupan kebajikan alamiah, melainkan kehidupan kebajikan ilahi, sebagai ekspresi Allah dalam warisan-Nya di antara orang-orang kudus.