← Daftar isi Kata Pengantar Kitab Efesus · bab 14/25

ROH HIKMAT DAN WAHYU DAN MATA HATI KITA

Dalam berita ini kita akan membahas masalah roh hikmat dan wahyu, dan mata hati kita (Ef. 1:15-18).

I. DOA PERTAMA RASUL

A. Untuk Kaum Saleh yang Beriman dalam Tuhan dan Mengasihi Semua Orang Kudus

Dalam membahas masalah-masalah ini, kita tiba pada doa pertama Rasul Paulus dalam Kitab Efesus: “Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus” (ayat 15). Paulus berdoa untuk kaum beriman sebab mereka beriman dalam Tuhan dan mengasihi semua orang kudus. Iman dan kasih merupakan hal yang penting dan menentukan dalam hidup kristiani kita. Terhadap Tuhan kita harus mempunyai iman, terhadap orang kudus kita harus mempunyai kasih.

B. Mengucap Syukur karena Mereka

Ayat 16 mengutarakan lebih lanjut, “Aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Aku selalu mengingat kamu dalam doaku.” Rasul Paulus senantiasa mengingat hal-hal yang baik dari kaum saleh, dan bersyukur kepada Allah karena mereka.

C. Meminta kepada Allah Tuhan Kita

Yesus Kristus, Bapa yang Mulia Itu

Dalam doa pertamanya, Paulus meminta kepada “Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu” (ayat 17). Dalam ayat 3 Paulus mengatakan tentang Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, menjajarkan Allah dan Bapa. Tetapi di sini ia menyebut Mereka secara terpisah, katanya, “Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu.” Dalam inkarnasi, Tuhan Yesus Kristus, Allah sendiri (Flp. 2:6) menjadi manusia. Sebagai manusia, Dia berhubungan dengan ciptaan Allah; maka, Allah Sang Pencipta adalah Allah-Nya. Inkarnasi-Nya membawa Allah Pencipta ke dalam manusia, ciptaan Allah. Jadi sebutan “Allah Tuhan kita Yesus Kristus” menyiratkan arti Allah Pencipta telah masuk ke dalam manusia. Setiap kali kita mengatakan Allah sedemikian, berarti Allah bukan lagi hanya sebagai Sang Pencipta yang berada di luar manusia, makhluk ciptaan-Nya, melainkan telah dibawa masuk ke dalam sifat insani. Orang-orang Yahudi tidak mengakui bahwa Sang Pencipta alam semesta telah masuk ke dalam manusia; mereka hanya percaya kepada Allah Yehova sebagai Sang Pencipta dan menolak untuk mengakui Allah sebagai Allah Tuhan Yesus Kristus.

Sebutan ini menyiratkan penciptaan, inkarnasi, dan penebusan. Allah ialah Sang Pencipta, tetapi Dia adalah Allah Tuhan Yesus Kristus, yaitu Allah yang telah berinkarnasi. Yesus Kristus bukan hanya Allah dalam penciptaan, tetapi juga dalam inkarnasi dan penebusan. Ketika berbicara tentang Allah sebagai Allah Tuhan kita Yesus Kristus, berarti kita mengatakan bahwa kita telah diciptakan, Allah Sang Pencipta telah masuk ke dalam sifat insani, dan kita telah ditebus. Inkarnasi menunjukkan bahwa kita telah memiliki kenikmatan atas Allah. Kita menikmati Allah karena Dia telah datang ke dalam sifat insani. Sifat ilahi di dalam Yesus Kristus menjadi kenikmatan kita.

Dalam 1:17 Paulus memakai ungkapan “Bapa yang mulia”. Sebutan Bapa mengandung arti lahir kembali; mulia adalah Allah terekspresi. Karena itu, Bapa yang mulia adalah Allah yang melahirkan kembali terekspresi melalui banyak anak-Nya. Kita telah dilahirkan kembali (1Ptr. 1:3), dan kita akan dimuliakan dalam ekspresi kemuliaan Allah (Rm. 8:30).

Dalam satu sebutan ini — “Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia” tersirat lima perkara yang penting: penciptaan, inkarnasi, penebusan, kelahiran kembali, dan ekspresi. Kita telah dilahirkan kembali, tetapi pada masa yang akan datang kita akan dimuliakan dan mengekspresikan kemuliaan Allah (Rm. 8:30). Kelahiran kembali putra-putra dan ekspresi Allah merupakan kesempurnaan terakhir dari ekonomi ilahi. Sebelum penciptaan, tidak ada suatu apa pun kecuali Allah. Allah tidak memiliki keturunan, juga tidak ada ekspresi. Kemudian Allah menciptakan alam semesta dan setiap benda di dalamnya. Melalui pekerjaan penciptaan-Nya, Dia menjadi Sang Pencipta. Setelah penciptaan Dia mengambil langkah inkarnasi, dengan demikian Dia masuk ke dalam ciptaan-Nya — manusia. Melalui inkarnasi, Sang Pencipta menjadi satu dengan makhluk ciptaan. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia adalah kesatuan dari Allah dengan manusia. Melalui penyaliban, Tuhan menggenapkan penebusan. Hasilnya, tertebuslah kita, makhluk yang telah jatuh ini. Lalu kita dilahirkan kembali menjadi putra-putra Allah Bapa, sehingga kita dapat mengekspresikan Dia. Pada saat kita dimuliakan, Allah akan diekspresikan sepenuhnya dari dalam kita. Dengan cara inilah kita kelak akan menjadi ekspresi-Nya. Semua langkah yang penting ini — penciptaan, inkarnasi, penebusan, kelahiran kembali, dan ekspresi — tersirat dalam sebutan “Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia.”

Paulus berdoa kepada Persona ilahi yang sedemikian ini. Tetapi orang-orang Yahudi hanya berdoa kepada Allah Sang Pencipta, tanpa memiliki konsepsi inkarnasi, kelahiran kembali, atau ekspresi. Namun kita, orang-orang Kristen, memiliki Allah dalam penciptaan, inkarnasi, penebusan, kelahiran kembali, atau ekspresi. Yang kita miliki jauh lebih banyak daripada orang-orang Yahudi.

D. Untuk Wahyu

Doa Paulus kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia, adalah untuk wahyu. Kata Yunani yang diterjemahkan “wahyu” dalam ayat 17 berarti menyingkap tirai. Maka wahyu berarti menyingkap tirai.

II. ROH HIKMAT DAN WAHYU

A. Roh Kita yang Dilahirkan Kembali

Dihuni oleh Roh Allah

Untuk beroleh wahyu, kita perlu roh hikmat dan wahyu. Roh dalam ayat 17 tentu ditujukan kepada roh kita yang dilahirkan kembali yang dihuni oleh Roh Allah. Roh yang demikian diberikan Allah kepada kita agar kita memiliki hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dan ekonomi-Nya. Roh dalam ayat ini sesungguhnya adalah roh yang telah berbaur, yaitu roh insani yang telah dilahirkan kembali yang dihuni oleh Roh Kudus. Namun, titik beratnya terletak pada roh kita yang dilahirkan kembali, bukan pada Roh Kudus.

B. Hikmat ialah Kemampuan untuk Mengerti dalam Roh Kita, supaya Kita Dapat Mengetahui Rahasia Allah

Paulus berdoa agar kita beroleh roh hikmat dan wahyu. Hikmat ada dalam roh kita, supaya kita dapat mengetahui rahasia Allah, dan wahyu berasal dari Roh Allah supaya Dia dapat menunjukkan visi kepada kita dengan membuka selubung (tirai). Pertama, kita memiliki hikmat, kemampuan untuk mengerti hal-hal rohani; kemudian Roh Allah mewahyukan hal-hal rohani kepada pengertian rohani kita itu.

Hikmat berbeda dengan kepintaran, dan lebih mendalam daripada kepintaran. Boleh jadi seseorang sangat pintar, tetapi tidak berhikmat. Kepintaran berada dalam pikiran, sedang hikmat terutama di dalam roh kita. Yang kita perlukan ialah hikmat di dalam roh, bukan pintar dalam pikiran. Problem pada kaum saleh tertentu ialah mereka sangat pintar dalam pikiran, tetapi kekurangan hikmat dalam roh. Pada tahun 1933, di Shanghai ada seorang saudara yang seperti itu. Ia seorang pedagang yang pandai, ia sangat pintar mencari uang. Bisnisnya ialah menjual topi wanita, khususnya kepada wanita-wanita Inggris. Pada suatu hari seorang nyonya kaya merasa tidak tertarik akan sebuah topi yang istimewa, sebab ia merasa harganya terlalu rendah. Saudara ini lalu pergi ke belakang toko dan menukar pita yang terdapat di topi tadi, dan melipatgandakan harganya. Dengan harga itu, maka wanita kaya tadi membelinya dengan senang. Dengan ini kita nampak alangkah pintarnya saudara ini menjadi pedagang. Kendatipun ia sangat pintar dalam hal bisnis, tetapi ketika kita membicarakan Alkitab, ia tidak dapat mengerti, karena ia kekurangan hikmat. Pikirannya sangat aktif, namun rohnya tidak tajam. Tetapi saudara ini mempunyai hati terhadap Tuhan, ia sering datang mengikuti sidang gereja, dan menyerahkan setiap perkara tentang Tuhan kepada kami. Dia adalah satu contoh yang sangat tepat untuk membuktikan perbedaan antara hikmat dan kepintaran.

Izinkanlah saya memberi satu contoh juga tentang mereka yang memiliki hikmat, namun tidak begitu pintar. Pada tahun 1938 saya mengunjungi daerah-daerah pedesaan di China Utara. Di sana kebanyakan orang kurang berpendidikan. Di antara mereka ada seorang saudari tua. Walaupun ia tidak berpendidikan, namun ia sangat berhikmat dalam hal-hal tentang Tuhan. Setiap kali Anda bercakap-cakap dengannya tentang Tuhan, ia begitu bijak dalam rohnya. Jika berbicara tentang bisnis, saudari ini sama sekali tidak becus, tetapi tentang Tuhan, ia jauh lebih jelas daripada kebanyakan orang saleh, sebab ia mempunyai hikmat dalam roh.

C. Wahyu Berarti Tersingkapnya Tirai oleh Roh

Allah untuk Memperlihatkan Visi

Rahasia Allah kepada Kita

Wahyu menyusul di belakang hikmat. Seperti telah kita tunjukkan, wahyu berarti penyingkapan, yaitu terbukanya tirai. Jadi wahyu ialah Roh Allah memperlihatkan visi rahasia Allah kepada kita (Ef. 3:3-5). Misalnya Anda seorang mahasiswa jurusan teknik mesin. Melalui pelajaran beberapa tahun, Anda beroleh pengetahuan tentang bermacam-macam mesin. Pengetahuan itu boleh diibaratkan sebagai hikmat. Pada suatu hari, Anda mengunjungi sebuah pabrik, Begitu pintu terbuka, Anda lalu nampak mesin-mesin itu. Terbukanya pintu dapat diibaratkan sebagai wahyu. Karena hikmat Anda, pengetahuan Anda tentang mesin-mesin itu, maka dengan sendirinya Anda memiliki pengertian terhadap mesin-mesin itu. Tetapi orang yang tidak memiliki kepandaian teknik mesin, walau juga bisa melihat mesin-mesin itu ia tidak memahaminya; ia memiliki wahyu, tetapi kekurangan hikmat. Ada orang mungkin berhikmat, tetapi pintunya tidak terbuka; yang lain pintunya terbuka, namun tidak berhikmat. Bila kita telah memiliki hikmat dan wahyu, barulah kita dapat memahami mesin-mesin itu. Demikian pula halnya dalam masalah rohani. Kita perlu hikmat, kita pun perlu tersingkapnya tirai. Bila kita mempunyai kedua-duanya, barulah kita dapat mengerti hal-hal rohani.

D. Pengenalan Penuh akan Dia

Ketika kita memiliki hikmat dan wahyu, kita baru memiliki pengenalan penuh akan Allah, yakni mengenal Allah secara menyeluruh.

III. FAKTA — RAHASIA

KEHENDAK ALLAH

Selain memiliki roh hikmat dan wahyu, kita juga harus menanggulangi mata hati kita. Di sini yang terutama perlu dibahas adalah fakta tentang rahasia kehendak Allah (Ef. 1:9). Dalam contoh yang ditampilkan di atas, pabrik mewakili fakta. Begitu pula, rahasia kehendak Allah adalah fakta yang perlu kita nampak.

IV. WAHYU — PENYINGKAPAN TIRAI

Meskipun faktanya sudah ada, kita masih perlu wahyu, yakni penyingkapan tirai. Keberadaan pabrik memang suatu fakta, tetapi pintu-pintunya perlu terbuka bagi kita. Itulah penyingkapan tirai.

V. MATA HATI KITA — INDRA ROHANI

UNTUK MELIHAT

Mungkin kita telah memiliki fakta dan tirai pun telah tersingkap, namun kita masih perlu mata untuk me-lihat. Mungkin kita telah mempunyai rahasia kehendak Allah dan wahyu, namun kita masih perlu mata — indra penglihatan rohani (Kis. 26:18; Why. 3:18). Mata yang kita katakan sudah tentu mengacu kepada mata rohani, mata hati. Dalam Wahyu 3:18 Tuhan Yesus mengatakan, “Maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari Aku . . . minyak (salep mata) untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.” Kita perlu salep mata untuk memulihkan daya lihat mata kita. Hari ini tidak ada problem dengan fakta, sebab Alkitab penuh dengan fakta. Juga tidak ada problem dengan wahyu maupun dengan penyingkapan tirai. Allah penuh anugerah terhadap kita, dan firman-Nya terus-menerus terbuka bagi kita. Problem utamanya ialah pada mata kita.

A. Roh yang Terbuka dengan

Hati Nurani yang Murni

Agar mata kita dapat melihat, kita perlu satu roh yang terbuka dengan hati nurani yang murni (Mat. 5:3; Ibr. 9:14; 10:22). Janganlah menutup roh Anda — biarlah ia terbuka. Selain itu, hati nurani kita wajib dimurnikan tidak saja oleh percikan darah penebusan Kristus, juga oleh pengakuan kita dan penanggulangan atas dosa-dosa, kejahatan, pelanggaran, dan kekhilafan, atau kekeliruan. Kita harus bersih dalam hati nurani, yaitu bagian utama dari roh kita itu. Bila hati nurani kita terselubung, roh kita pasti tidak dapat melihat.

B. Hati yang Murni

Kita pun perlu sebuah hati yang murni. Firman Tuhan mengatakan, “Berbahagialah orang yang suci (murni) hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8). Banyak orang tidak dapat melihat Allah atau menerima wahyu tentang hal-hal rohani karena hati mereka tidak murni. Jika kita ingin mempunyai hati yang murni, kita harus menanggulangi seluruh hati kita, yakni menanggulangi setiap bagian yang membentuk hati kita itu.

1. Pikiran yang Jernih

Untuk memiliki hati yang murni, kita pun perlu sebuah pikiran yang jernih (2Tim. 1:7). Ada kaum saleh yang pikirannya sangat rumit, tidak dapat membedakan perkara. Bagi mereka huruf “b” hampir sama dengan “d”. Ketika mereka membaca Alkitab, Kitab Galatia dan Kolose seolah-olah sama saja. Itu menandakan bahwa pikiran mereka tidak jernih.

2. Emosi yang Penuh Kasih

Walau pikiran kita harus dingin, lebih dingin lebih baik, tetapi emosi kita harus panas. Untuk memiliki mata yang dapat melihat, kita perlu emosi yang penuh kasih (Yoh. 14:21). Bila pikiran kita panas, pikiran kita akan menjadi tidak jernih. Problem kita ialah panas dalam pikiran maupun emosi, atau dingin kedua-duanya. Saudari mudah panas, saudara mudah dingin. Tetapi kita semua perlu dingin dalam pikiran dan panas dalam emosi.

3. Tekad yang Patuh

Terakhir, hati yang murni memerlukan tekad yang patuh (Yoh. 7:17). Jika tekad kita patuh, tentu tekad kita lembut.

Saya telah belajar dari pengalaman, yakni bila kita memiliki hati yang murni dengan pikiran yang jernih, emosi yang penuh kasih, tekad yang patuh, dan roh yang terbuka dengan hati nurani yang murni, barulah mata kita dapat melihat. Roh kita harus terbuka dan hati nurani kita harus tanpa tuduhan. Selain itu, hati kita harus berpikiran dingin dan sehat, beremosi panas dan penuh kasih, serta bertekad lembut dan patuh. Bila kita memiliki roh dan hati yang sedemikian, barulah mata hati kita dapat melihat. Bila kita menggunakan salep pada mata kita, salep itu akan membuka roh kita, memurnikan hati nurani kita, mendinginkan pikiran kita yang panas, membangkitkan emosi kita yang dingin, dan menundukkan tekad kita yang degil. Ketika semua itu sudah siap, barulah mata kita disembuhkan. Disembuhkan adalah ditang-gulangi dalam kelima aspek tadi. Bila kita tidak memiliki roh yang terbuka, hati nurani yang murni, pikiran yang jernih, emosi yang kasih, dan tekad yang patuh, kita tidak akan melihat apa-apa, sekalipun kita bisa mengikuti banyak sidang istimewa atau sidang pelatihan. Mungkin kita telah mempelajari doktrin, namun tidak nampak visi apa pun.

VI. TERANG — PENERANGAN ALLAH

Mungkin kita mempunyai fakta, wahyu, dan daya lihat, tetapi tetap masih tidak dapat melihat, sebab kita tidak memiliki terang. Karena itu, kita juga perlu penerangan Allah (1Yoh. 1:5, 7). Selain fakta, wahyu, dan daya lihat, kita juga perlu terang, untuk dapat beroleh visi.

VII. VISI — NAMPAK

Visi merupakan gabungan dari empat perkara: fakta, wahyu, daya lihat, dan terang. Banyak orang Kristen yang berulang-ulang membaca Kitab Efesus tanpa nampak apa-apa. Bagi mereka, Efesus merupakan kitab yang tertutup. Mereka tidak memiliki daya lihat batiniah untuk nampak sesuatu di balik huruf-huruf hitam dalam kitab tersebut. Beberapa orang mungkin memiliki daya lihat, tetapi tanpa terang. Melalui pengalaman, kita dapat bersaksi bahwa Kitab Efesus penuh dengan fakta rohani. Kitab ini mewahyukan rahasia kehendak Allah. Jika kondisi kita normal dan wajar, ketika kita membaca kitab ini, tirai akan tersingkap, terang akan datang, dan kita akan nampak visi kehendak Allah. Bila terang ilahi tidak kunjung datang, kita perlu berdoa lebih banyak, mohon Tuhan mengaruniakan terang kepada kita. Pada akhirnya, terang akan memancar dan kita akan nampak suatu visi dari apa yang tercantum dalam kitab ini. Seperti telah kita tunjukkan, tidak ada problem pada fakta dan penyingkapan tirai. Lagi pula, Allah penuh anugerah dan mau mengaruniakan terang itu kepada kita. Apa yang paling kita perlukan hari ini ialah agar mata kita dapat nampak.