PEPERANGAN (3)
Pembacaan Alkitab: Bil. 22:41—23:26
B. Nubuat Bileam dalam Sajak
Dalam berita yang lalu kita lihat maksud jahat Balak. Dalam berita ini kita akan mulai memperhatikan nubuat Bileam dalam sajak (Bil. 22:41—24:25). Kata Ibrani yang diterjemahkan “sajak” (LAI: sanjak) dalam Bilangan 23:7, 18; 24:3, 15, 20, 21 juga dapat diterjemahkan “amsal”. Di sini kita lebih suka memakai kata “sajak”. Nubuat Bileam bukan amsal, melainkan sajak.
1. Sajak Pertama
Sajak pertama Bileam tercatat dalam Bilangan 22:41—23:12.
a. Balak Membawa Bileam Mendaki Bukit Baal
“Keesokan harinya Balak mengambil Bileam dan membawa dia mendaki bukit Baal. Dari situ dilihatnyalah bagian yang paling ujung dari bangsa Israel” (Bil. 22:41). Dalam Perjanjian Lama, bukit adalah tempat orang menyembah berhala. “Baal” adalah nama berhala. Karena itu, bukit Baal adalah tempat menyembah berhala Baal.
b. Bileam Meminta Balak Mendirikan Tujuh Mezbah
dan Menyediakan Baginya Tujuh Ekor Lembu Jantan dan Tujuh Ekor Domba Jantan
“Lalu berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Dirikanlah bagiku di sini tujuh mezbah dan siapkanlah bagiku di sini tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan.’ Balak melakukan seperti yang dikatakan Bileam” (Bil. 23:1-2a). Perkataan Bileam menunjukkan bahwa penyembahan yang dia lakukan merupakan percampuran. Mendirikan mezbah adalah menurut cara Allah. Namun, di sini Bileam mencampurkan penyembahan Allah dengan penyembahan Baal.
“Maka Balak dan Bileam mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu” (Bil. 23:2b). Kepada siapa mereka mempersembahkan, kepada TUHAN atau kepada Baal? Karena mencampurkan penyembahan kepada Allah dengan penyembahan kepada Baal, sulit untuk menentukan kepada siapa Balak dan Bileam mempersembahkan kurban-kurban persembahan ini.
Percampuran dalam penyembahan demikian dapat juga ditemukan dalam kekristenan tertentu. Dalam kekristenan tertentu kurban-kurban persembahan dipersembahkan, tetapi tidak jelas kepada siapa mereka mempersembahkan kurban persembahan itu. Kelihatannya, kurban-kurban persembahan kekristenan tertentu dipersembahkan kepada Allah; sebenarnya, kurban-kurban persembahan itu dipersembahkan kepada berbagai berhala dan patung. Jadi, kekristenan tertentu itu telah mencampuradukkan penyembahan kepada Allah dengan penyembahan kepada berhala. Sesungguhnya, penyembahan semacam itu malah bukan percampuran, melainkan adalah penyembahan kepada berhala.
c. Balak dan Semua Pemuka Moab Berdiri di Samping
Kurban Bakarannya, TUHAN Menaruh Perkataan dalam Mulut Bileam,
Bileam Bernubuat dalam Sajak
Balak dan semua pemuka Moab berdiri di samping kurban bakarannya (Bil. 23:3, 6). TUHAN menaruh perkataan dalam mulut Bileam, dan Bileam bernubuat dalam sajak (Bil. 23:4-5, 7-10). Situasi di sini agak aneh. Kurban-kurban persembahan tidak dipersembahkan kepada TUHAN; sebaliknya, dalam keadaan tidak jelas, mereka persembahkan kepada Baal. Walaupun demikian, untuk kepentingan umat-Nya, Israel, Allah mengendalikan Bileam. Memang, Bileam memendam pemikiran dan keinginan dalam hatinya untuk mengutuk orang Israel, supaya dia dapat menyenangkan Balak dan menerima banyak uang. Tetapi sebagai Dia yang menjaga dan berdaulat, TUHAN menaruh perkataan dalam mulut Bileam, dan Bileam tidak memiliki pilihan selain mengatakan perkataan Allah. Perkataan dalam Bilangan 23:7-10 sebenarnya diilhamkan oleh Allah. Pikiran manusia tidak mampu menyusun sajak yang demikian, sajak yang Bileam ucapkan sebagai nubuat. Ini adalah bukti kuat bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah yang hidup, perkasa, dan berbicara. Sekarang, mari kita perhatikan aspek tertentu dari sajak Bileam yang pertama.
Balak berkata kepada Bileam, “Datanglah, katanya, kutuklah bagiku Yakub, dan datanglah, kutuklah Israel” (Bil. 23:7b). Namun, ini tidak mungkin. Bileam berkata, “Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN? Sebab dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir” (Bil. 23:8-9). Perkataan mengenai orang Israel diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa yang dikuduskan, bangsa yang terpisah dari bangsa-bangsa kafir. Dalam ayat 10 Bileam selanjutnya berkata, “Siapakah yang menghitung debu Yakub dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan Israel? Sekiranya aku mati seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal mereka!” Di sini kita lihat berkat perkembangbiakan yang berlimpah. Yakub, seperti debu, tidak akan dapat dihitung. Tidak seorang pun dapat menghitung bondongan-bondongan Israel. Selain itu, perkataan mengenai matinya orang jujur adalah perkataan berkat dan apresiasi yang besar. Sajak pertama adalah berkat atas orang Israel sebagai umat yang terpisah, umat yang berkelas khusus dan istimewa yang diam tersendiri, serta yang tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir. Karena umat ini diberkati dengan perkembangbiakan yang berlimpah, tidak seorang pun dapat menghitung mereka. Setelah mengucapkan berkat besar itu, Bileam menyatakan apresiasinya terhadap orang Israel.
d. Balak Kesal kepada Bileam karena Dia Memberkati Orang Israel, bukan Mengutuk Mereka
Perkataan berkat dan apresiasi Bileam terhadap orang Israel telah menyalahi Balak. Karena itu Balak berkata kepada Bileam, “Apakah yang kaulakukan kepadaku ini? Untuk menyerapah musuhkulah aku menjemput engkau, tetapi sebaliknya engkau memberkati mereka!” (Bil. 23:11). Untuk ini Bileam menjawab, “Bukankah aku harus berawas-awas, supaya mengatakan apa yang ditaruh TUHAN ke dalam mulutku?” (Bil. 23:12).
2. Sajak Kedua
Dalam Bilangan 23:13-26 kita melihat sajak Bileam yang kedua.
a. Balak Membawa Bileam ke Puncak Gunung Pisga,
Mendirikan Tujuh Mezbah, Mempersembahkan Seekor Lembu Jantan
dan Seekor Domba Jantan pada Setiap Mezbah
“Lalu Balak berkata kepadanya: ‘Baiklah pergi bersama-sama dengan aku ke tempat lain, dan dari sana engkau dapat melihat bangsa itu; engkau akan melihat hanya bagiannya yang paling ujung, tetapi seluruhnya tidak akan kaulihat; serapahlah mereka dari situ bagiku.’ Lalu dibawanyalah dia ke Padang Pengintai, ke puncak gunung Pisga; ia mendirikan tujuh mezbah dan mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu” (Bil. 23:13-14). Balak membawa Bileam ke tempat lain, ke gunung, dan seperti tercatat dalam ayat 1 dan 2, membangun tujuh mezbah.
b. Balak dan Semua Pemuka Moab Berdiri di Samping Kurban Bakarannya,
TUHAN Menaruh Perkataan dalam Mulut Bileam,
Bileam Bernubuat dalam Sajak yang Kedua
Sekali lagi, Balak dan semua pemuka Moab berdiri di samping kurban bakarannya, sekali lagi TUHAN menaruh perkataan dalam mulut Bileam, dan Bileam bernubuat dalam sajak yang kedua (Bil. 23:15-24). Satu dari banyak baris yang mencolok dalam sajak ini ada dalam Bilangan 23:21: “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel.” Bagaimana Bileam dapat mengucapkan perkataan demikian, mengingat orang Israel tidak sempurna dan karena Allah dapat melihat semua kesalahan umat-Nya? Jawabannya adalah perkataan ini diucapkan bukan menurut pandangan manusia, tetapi menurut pandangan ilahi. Pandangan Allah berbeda dengan pandangan kita. Jika kita menyadari ini, kita akan berhati-hati ketika kita membicarakan kekurangan (cacat cela) kaum beriman. Menurut pandangan kita, orang beriman tertentu memiliki banyak cacat, tetapi menurut pandangan Allah, orang beriman ini sempurna.
Bagaimana kita dapat mencocokkan perkataan dalam ayat 21 dengan fakta jelas bahwa bani Israel melakukan banyak kesalahan? Kelihatannya pertentangan ini didamaikan oleh fakta bahwa umat tebusan Allah memiliki status ganda: status mereka di dalam diri sendiri dan status mereka dalam penebusan Allah. Beginilah situasi kita sebagai kaum beriman hari ini. Dalam diri kita sendiri kita memiliki banyak cacat, tetapi dalam penebusan Allah dan di dalam Kristus kita tidak memiliki cacat. Ketika Allah melihat kita, Dia tidak melihat kita menurut apa adanya kita di dalam diri kita, tetapi menurut apa adanya kita di dalam Kristus. Allah tidak melihat apa adanya umat tebusan-Nya di dalam diri mereka sendiri. Kita bahkan dapat berkata bahwa Dia melupakan apa adanya kita di dalam diri kita sendiri. Dasar kita mengatakan ini adalah Allah telah mengampuni kita, dan bila Allah mengampuni, Dia melupakan (Ibr. 8:12). Allah menaruh kita semua ke dalam Kristus (1Kor. 1:30). Karena Dia telah menaruh kita ke dalam Kristus, ketika Dia melihat kita, Dia melihat kita di dalam Kristus. Pandangan Allah mengenai kita adalah di dalam Kristus kita tidak memiliki pelanggaran apa pun.
Prinsipnya sama dengan pandangan Allah terhadap hidup gereja. Menurut pandangan kita, hidup gereja mungkin sangat kasihan. Tetapi menurut pandangan Allah, hidup gereja sangat mulia. Allah tidak melihat kesalahan dalam gereja. Bilangan 23:21 mengatakan bahwa Allah tidak melihat kepincangan di Israel. Kata “kepincangan” di sini berarti hal-hal yang sulit, hal-hal jahat yang menyebabkan bangsa itu celaka. Kepincangan ini bahkan lebih buruk dibandingkan kesalahan. Di mata Allah, tidak ada kesalahan atau kepincangan pada umat-Nya Israel.
Dalam prinsip yang sama, Allah tidak melihat kesalahan atau kepincangan dalam hidup gereja, karena gereja ada di dalam Kristus. Di dalam Kristus kita telah dipilih, ditebus, dan diselamatkan dari perbudakan kejatuhan. Karena itu, menurut pandangan Allah, kita telah dibawa keluar dari kejatuhan, keluar dari penghukuman, dan keluar dari diri kita sendiri. Karena itu, kita dapat berkata bahwa dalam Kristus hidup gereja sangat mulia. Baris pertama dalam koor kidung mengenai gereja (Suplemenkuning No. 711) mengatakan “hidup gereja yang mulia.” Karena hidup gereja mulia di dalam Kristus, saya sarankan kita menambahkan perkataan “di dalam Kristus” pada akhir baris dan menyanyikannya, “hidup gereja yang mulia di dalam Kristus!” Kita mungkin ingin membuat penyesuaian lebih lanjut dan menyanyikan, “hidup gereja yang mulia, di dalam Kristus, tetapi bukan di dalam diri kita sendiri!” Dalam diri kita hidup gereja tidak mulia, tetapi di dalam Kristus hidup gereja benar-benar mulia.
Allah tentu berhak mengatakan bahwa Dia tidak melihat kesalahan Yakub ataupun melihat kepincangan Israel. Umat-Nya telah ditebus dan diampuni; karena itu, Allah dapat berkata bahwa mereka tanpa kesalahan. Bileam, di bawah kendali dan inspirasi Allah, tidak memiliki pilihan kecuali menyatakan bahwa Allah tidak melihat kesalahan atau kepincangan dalam orang Israel. Dalam Bilangan 23:21 Bileam juga berkata, “TUHAN, Allah mereka, menyertai mereka, dan sorak-sorak karena Raja ada di antara mereka.” Siapakah raja ini? Saya percaya akhirnya, raja ini mengacu kepada Kristus. Maka, untuk menyorakkan seorang raja di antara mereka berarti menyorakkan Kristus di antara mereka.
Ayat 22 membicarakan Allah membawa umat-Nya keluar dari Mesir. Ayat ini juga memberi tahu kita bahwa Israel “adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan.” Ayat 23 mengatakan sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, “ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan dikatakan kepada Yakub, begitu juga kepada Israel, keajaiban yang diperbuat Allah!” Akhirnya, dalam ayat 24 perumpamaan kedua ditutup: “Lihat, suatu bangsa, yang bangkit seperti singa betina, dan yang berdiri tegak seperti singa jantan, yang tidak membaringkan dirinya, sebelum ia memakan mangsanya dan meminum darah dari yang mati dibunuhnya.” Singa betina, singa jantan, dan tanduk kekuatan lembu hutan semua mengacu kepada peperangan umat Israel.
c. Balak Berbicara kepada Bileam
Setelah Bileam mengucapkan sajaknya yang kedua, Balak berkata kepada dia, “Jika sekali-kali tidak mau engkau menyerapah mereka, janganlah sekali-kali memberkatinya” (Bil. 23:25). Di sini Balak menyuruh Bileam bersikap netral terhadap umat Allah.