PEPERANGAN (2)
Pembacaan Alkitab: Bil. 22:1-40; 2Ptr. 2:15-16; Yud. 11
IV. PENGACAUAN YANG DILAKUKAN OLEH BALAK DAN BILEAM
Bilangan 22 sampai 25 menanggulangi pengacauan yang dilakukan oleh Balak dan Bileam. Dalam berita ini kita akan melihat maksud jahat Balak (Bil. 22:1-40).
A. Maksud Jahat Balak
Dalam Bilangan 22, musuh bukan saja mengubah caranya berperang, tetapi juga model perangnya. Pertama-tama, dalam Kitab Keluaran, Iblis memakai tentara Mesir untuk menghalangi orang Israel. Ketika mereka mau menyeberangi Laut Merah, orang Mesir mengejar mereka dengan ketat. Kemudian, di padang gurun, umat Allah berperang melawan Amalek (Kel. 17:8-16). Seperti kita lihat dalam berita sebelumnya, orang Israel juga berperang dan mengalahkan raja-raja Arad, orang Amori, dan Basan, menghancurkan kota-kotanya dan menduduki negeri mereka (Bil. 21:1-3, 21-35). Setelah mengalahkan tiga raja itu, bani Israel siap menyeberang Sungai Yordan dan masuk ke tanah permai. Karena itu, musuh mengubah model perangnya melawan orang Israel.
1. Balak, Raja Moab, Bergabung dengan Midian,
dan Mereka Mengirim Tua-tuanya untuk Membujuk
Bileam Datang dan Mengutuk Orang Israel bagi Mereka
“Balak bin Zipor melihat segala yang dilakukan Israel kepada orang Amori. Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel” (Bil. 22:2-3). Balak, raja Moab, takut kepada orang Israel dan kemenangan mereka. Dia takut bahwa mereka mengalahkan dia dan mengambil alih wilayah kekuasaannya. “Lalu berkatalah orang Moab kepada para tua-tua Midian: ‘Tentu saja laskar besar itu akan membabat habis segala sesuatu yang di sekeliling kita, seperti lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang’” (Bil. 22:4a). Balak seolah-olah berkata, “Orang-orang perkasa ini akan mengganyang aku dan negeriku. Apa yang dapat aku lakukan untuk memerangi mereka?” Menyadari bahwa dia tidak bisa mengalahkan Israel secara militer atau politis, Balak memutuskan untuk mengambil cara agama.
Seperti ditunjukkan oleh Bilangan 22, cara agama berkaitan dengan Moab dan Midian. Moab adalah anak yang dilahirkan Lot dengan salah satu anak perempuannya melalui perbuatan sumbang (Kej. 19:30-38). Maka, Moab mewakili buah nafsu daging. Midian sangat dekat dengan bani Ismael, yang mewakili daging, berlawanan dengan Ishak, yang mewakili mereka yang dilahirkan Roh itu. Midian, tidak diragukan, juga melambangkan daging. Bileam memiliki hubungan yang erat dengan Moab dan Midian, karena itu Balak memakai mereka untuk membujuk Bileam datang dan mengutuk orang Israel. Empat orang ini, Balak, Moab, Midian, dan Bileam, menjadi satu.
Ketika tua-tua Moab dan Midian datang ke Bileam, dia berkata kepada mereka, “Bermalamlah di sini pada malam ini, maka aku akan memberi jawab kepadamu, sesuai dengan apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku” (Bil. 22:8a). Bileam mengatakan bahwa dia akan berbicara kepada Allah dan menunggu apa yang akan Allah katakan. Bileam kelihatannya sangat rohani. Setidaknya, dia cukup agamawi. Namun, Bileam mutlak salah. Dia tahu bahwa Balak menginginkan dia mengutuk umat Allah, bangsa Israel (Bil. 22:6). Jika Bileam setia kepada Allah, dia akan berkata, “Balak, selama engkau berencana untuk menghancurkan orang Israel, aku tidak dapat melakukan apa-apa untuk engkau. Aku mengasihi Allah, dan bangsa Israel adalah umat Allah.” Tetapi walaupun Bileam tahu bahwa maksud jahat Balak adalah untuk merusak umat Allah, Bileam memberi tahu para utusan bahwa dia mau bertanya kepada Allah apakah dia harus pergi dengan mereka atau tidak. Betapa konyol ini!
Hari ini kita mungkin melakukan sesuatu yang sama konyolnya seperti apa yang Bileam lakukan. Sebagai contoh, andaikan seseorang menganjuri Anda berpartisipasi dalam hiburan duniawi tertentu, dan Anda berkata kepada orang itu bahwa Anda akan mempertimbangkan perkara itu di hadapan Tuhan dan melihat apakah Tuhan akan mengizinkan Anda berpartisipasi. Dalam prinsip, pertimbangan di hadapan Tuhan ini akan sama seperti yang dilakukan Bileam dalam Bilangan 22.
Mari kita mengambil satu ilustrasi lainnya berupa gaya rambut kita. Apakah Tuhan senang dengan gaya rambut Anda? Seandainya seorang saudari ingin menata rambutnya secara duniawi. Ia tahu bahwa Tuhan tidak setuju dengan gaya itu, tetapi ia mencoba mendoakan hal ini. Pertimbangannya sama sifatnya seperti pertimbangan Bileam.
Mungkin sering terjadi ketika kita tahu bahwa melakukan hal tertentu bukan dari Tuhan, namun kita masih mencoba mencari pimpinan Tuhan dalam perkara itu. Walaupun kita tahu bahwa hal itu salah, kita mungkin bertanya kepada Tuhan apakah kita harus melakukannya atau tidak. Ini dapat menipu diri sendiri. Dalam Bilangan 22 Bileam sebenarnya menipu diri sendiri.
2. Allah Melarang Bileam Pergi
Dalam Bilangan 22:9-14, Allah melarang Bileam pergi. Allah berkata kepada dia, “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati” (Bil. 22:12). Bileam kemudian memberi tahu pegawai-pegawai Balak bahwa Tuhan tidak mengizinkan dia pergi bersama mereka.
3. Balak Sekali Lagi Mengirim Pegawai-pegawai,
Menambah Jumlah Upah dari yang Sebelumnya, untuk Membujuk Bileam
Balak sungguh jahat. Ketika pegawai-pegawainya memberi tahu dia bahwa Bileam menolak datang dengan mereka, Balak sekali lagi mengirim pegawai-pegawai, lebih banyak dan lebih terhormat daripada yang sebelumnya, untuk membujuk Bileam datang (Bil. 22:14-15). Pegawai-pegawai ini datang kepada Bileam dengan persembahan dari Balak. Mereka berkata kepada Bileam untuk kepentingan Balak, memaksa Bileam mengutuk bani Israel untuk Balak.
“Tetapi Bileam menjawab kepada pegawai-pegawai Balak: ‘Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku. Oleh sebab itu, baiklah kamu pun tinggal di sini pada malam ini, supaya aku tahu, apakah pula yang akan difirmankan TUHAN kepadaku’” (Bil. 22:18-19). Jika Bileam setia, dia akan memberi tahu pegawai-pegawai Balak bahwa TUHAN tidak akan membiarkan dia pergi bersama mereka. Namun, dia malah memberi tahu mereka bahwa dia akan pergi kepada TUHAN sekali lagi dan mencari pimpinan-Nya. Ini juga menunjukkan Bileam menipu diri sendiri.
4. Allah Mengizinkan Bileam Pergi, dan Bileam Pergi
Allah mengizinkan Bileam pergi, dan Bileam pergi (Bil. 22:20-21; 2Ptr. 2:15; Yud. 11). Allah datang kepada Bileam pada malam hari dan berkata kepada dia, “Jikalau orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kau lakukan” (Bil. 22:20). Karena itu, Bileam pergi bersama-sama pemuka-pemuka Moab (Bil. 22:21).
Bileam mungkin mengambil perkataan Tuhan sebagai dasar untuk berkata bahwa dengan pergi bersama pegawai-pegawai Balak, dia melakukan kehendak Allah. Sebenarnya, Bileam mencari kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah. Karena dia ingin pergi bersama-sama pegawai-pegawai Balak, Allah menyuruh dia pergi. Situasi kita hari ini mungkin mirip. Jika kita pergi melakukan suatu hal dan bahkan memaksa melakukannya, Tuhan akhirnya mengizinkan kita melakukannya.
5. Allah Murka terhadap Bileam karena Dia Pergi;
Malaikat TUHAN Berdiri di Jalan sebagai Lawannya,
Memakai Keledai yang Dia Tunggangi
Berbicara kepadanya
“Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya” (Bil. 22:22a). Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok (Bil. 22:25). Ketika melihat Malaikat TUHAN lagi, meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya (Bil. 22:27). Akhirnya, karena Bileam memukul keledai dengan tongkatnya, Allah membuka mulut keledai itu, dan keledai itu berbicara kepada Bileam (Bil. 22:28-30). Ini benar-benar mukjizat. Kemudian “TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud” (Bil. 22:31).
Perhatikan bahwa dalam teks kita “Malaikat TUHAN” ditulis dengan besar untuk menunjukkan bahwa malaikat ini adalah Kristus. Dalam Perjanjian Lama, ungkapan “Malaikat TUHAN” mengacu kepada Kristus. Sebagai contoh, ketika Musa dipanggil oleh Allah, dia dipanggil secara langsung oleh Malaikat TUHAN, dipanggil secara langsung oleh Kristus (Kel. 3:2, 4). Jika kita membaca Bilangan 22 secara hati-hati, kita akan melihat bahwa Malaikat TUHAN di sini adalah Allah sendiri. Tuhan sendiri yang menanggulangi nabi yang tamak ini.
6. Bileam Tahu bahwa Kepergiannya Salah,
tetapi Malaikat TUHAN Mengizinkan Dia Pergi
dan Menyuruh Dia Mengatakan Hanya Apa
yang Malaikat TUHAN akan Katakan kepadanya
Walaupun Bileam menyadari situasi sesungguhnya, melihat bahwa Malaikat TUHAN berdiri di jalan di hadapannya, ia tidak mau pulang. Sebaliknya, ia tetap pergi. Bileam tahu bahwa kepergiannya ini salah. Dia berkata kepada Malaikat TUHAN, “Aku telah berdosa, karena aku tidak mengetahui bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang” (Bil. 22:34). Namun, Malaikat TUHAN mengizinkan dia pergi dan berkata kepada dia, “Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kau katakan” (Bil. 22:35).
7. Balak Menyambut Bileam di Ibu Kota Moab
Ketika Bileam muncul, Balak menyambut dia di ibu kota Moab (Bil. 22:36-40). Seperti akan kita lihat dalam berita selanjutnya, Balak tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi Allah mendapatkan apa yang Dia inginkan. Walaupun Bileam adalah nabi yang tamak, dia masih berada di bawah kendali Allah.
Catatan mengenai Bileam dalam Bilangan 22 berisi pelajaran berharga yang kita semua perlu pelajari hari ini. Pelajaran di sini adalah bahwa ketika kita telah menetapkan untuk melakukan sesuatu, kita seharusnya tidak mencari kehendak Tuhan. Jika kita memiliki kedambaan tertentu, namun masih ingin mencari kehendak Allah, akibatnya adalah menipu diri sendiri. Kita perlu belajar mencari kehendak Tuhan tanpa memiliki kedambaan lain. Ini berarti kita harus dapat berdoa dengan sederhana, “Tuhan, aku di sini mencari kehendak-Mu. Aku hanya damba mengenal kehendak-Mu dan melakukannya.” Jika keadaan kita demikian, kita akan tahu kehendak Tuhan. Namun, jika kita mencari kehendak Tuhan tetapi sebenarnya cenderung melakukan kedambaan kita sendiri, kita menipu diri kita sendiri, sama seperti Bileam menipu dirinya sendiri.