PERJALANAN (16)
Pembacaan Alkitab: Bil. 21:4-9; 20:1, 22-29; 27:12-14; 20:14-21; 21:10-20; 33:1-49
Dalam Bilangan 20 dan 21, ada beberapa perkara penting yang perlu kita lihat. Perkara-perkara ini adalah mustika, dan kita perlu memiliki daya lihat untuk menampak kemustikaannya. Sebagai contoh, Bilangan 20 memperlihatkan kepada kita cara ilahi untuk menerima suplai ilahi, cara menerima suplai limpah lengkap dari Roh itu. Dalam Perjanjian Baru kita tidak memiliki satu pasal yang mewahyukan dengan jelas seperti Bilangan 20 cara menerima suplai limpah lengkap dari Roh itu. Kitab Filipi adalah kitab mengenai menerima suplai limpah lengkap dari Roh itu, tetapi bahkan dalam kitab ini kita tidak memiliki perkara mustika seperti yang diwahyukan dalam Bilangan 20. Dalam berita ini kita akan berusaha sekuatnya untuk melihat mustika-mustika dalam Bilangan 21.
B. Berbicara Melawan Allah dan Musa
1. Karena Perjalanan Berat, Bangsa Itu Tidak Sabar
dan Berbicara Melawan Allah dan Musa,
Terutama mengenai Suplai Makanan
Bila kita membandingkan Bilangan 20 dan 21, kita bisa mendapatkan banyak terang. Kedua pasal itu membicarakan pertengkaran bangsa Israel. Dalam Bilangan 20, bani Israel bertengkar karena air. Pertengkaran ini logis, karena disebabkan oleh kehausan bangsa itu. Dalam Bilangan 21, bangsa itu bertengkar lagi, tetapi saat ini petengkaran mereka tidak benar, karena disebabkan oleh ketidaksabaran bangsa itu. Allah tidak menghukum bangsa itu karena pertengkaran dalam Bilangan 20, tetapi Dia menghukum mereka karena pertengkaran dalam Bilangan 21. Allah membawa bani Israel keluar dari Mesir dan membawa mereka ke padang gurun, yang jalannya kasar dan sulit. “maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan” (Bil. 21:4b). Jalannya sulit, dan kesabaran mereka sudah habis. Dalam ketidaksabarannya mereka “berkata-kata melawan Allah dan Musa: Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak” (Bil. 21:5). Dari sudut pandang Allah, pertengkaran ini tidak seperti pertengkaran karena air, tidak beralasan. Allah tidak menjanjikan bahwa jalan yang dilalui di padang gurun itu mudah. Mereka seharusnya mengantisipasi perjalanan yang sulit. Karena itu, Allah tidak senang terhadap mereka dan Ia menghukum mereka.
2. TUHAN Menyuruh Ular-ular Tedung Memagut Bangsa Itu, sehingga Banyak dari Mereka yang Mati
Dalam Bilangan 20, Musa marah terhadap bangsa itu, tetapi Allah tidak marah terhadap mereka. Dalam Bilangan 21, Musa tidak marah terhadap mereka, tetapi Allah marah. “Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati” (Bil. 21:6). Ini adalah penghukuman yang serius, penghukuman yang menyebabkan kematian bagi orang yang bertengkar.
3. Bangsa Itu Menyesal kepada Musa, Mohon Dia Berdoa supaya Allah Mau Menyingkirkan Ular dari Mereka
“Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: ‘Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.’ Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu’” (Bil. 21:7). Dalam semua perjalanan mereka, ini adalah kali pertama bani Israel mengaku dosa. Setelah mengaku dosa berupa berkata-kata melawan Allah dan Musa, mereka memohon Musa berdoa untuk mereka, dan Musa pun berdoa.
4. TUHAN Memerintahkan Musa Membuat Ular Tedung Tembaga
dan Menaruhnya pada Sebuah Tiang, Setiap Orang yang Dipagut Dapat Melihatnya dan Tetap Hidup
“Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup” (Bil. 21:8-9). Ular tembaga ini melambangkan Kristus (Yoh. 3:14), dan tiang melambangkan salib (1Ptr. 2:24). Dalam perlambangan, tembaga melambangkan penghakiman. Kata Ibrani yang diterjemahkan “memandang” dalam Bilangan 21:9 dapat juga diterjemahkan “menganggap”, atau “memandang dengan sungguh-sungguh”.
Ular tembaga adalah satu lambang, dan dalam Yohanes 3:14 Tuhan Yesus menerapkan lambang ini kepada diri-Nya. “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.” Ular tembaga memiliki bentuk ular tetapi tidak memiliki racun ular. Ini sepenuhnya melambangkan Kristus yang datang dalam rupa daging dosa (Rm. 8:3) untuk menggantikan kita. Dalam Bilangan 20, kita memiliki lambang Kristus sebagai Dia yang disalibkan dan dibangkitkan yang mengalirkan Roh pemberi-hayat yang almuhit, tetapi dalam Bilangan 21, kita memiliki lambang Kristus sebagai pengganti kita.
Ketika bani Israel dipagut ular tedung, mereka menjadi ular di mata Allah. Mereka adalah ular yang memiliki sifat ular. Namun, ular tembaga hanya berbentuk ular tetapi tidak memiliki sifat ular. Karena itu, ular tembaga dapat menjadi lambang Kristus, yang memiliki bentuk, rupa daging dosa tetapi tidak memiliki sifat dosa dari daging dosa. Ular tembaga ditaruh pada sebuah tiang, yang melambangkan salib. Jadi, di padang gurun ada ular tembaga pada tiang, yang menggambarkan penggantian pada salib. Ular tembaga pada tiang menunjukkan bahwa bani Israel, yang telah menjadi ular, diletakkan pada tiang, di mana mereka digantikan oleh sesuatu yang memiliki bentuk ular tetapi tidak memiliki sifat ular.
Lama setelah Bilangan 21 ditulis, Kristus datang, dan dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Dia menyinggung ular tembaga. Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada Nikodemus, “Nikodemus, gambaran ular tembaga pada tiang melambangkan apa yang terjadi pada-Ku untukmu. Ular ini adalah pengganti nenek moyangmu supaya mereka dapat diselamatkan dari kematian dan tetap hidup. Aku akan melakukan yang sama untuk kamu. Aku akan mati di atas salib sebagai penggantimu supaya kamu memiliki hayat kekal.” Pada waktu Tuhan Yesus mengucapkan perkataan ini kepada Nikodemus, ia boleh jadi tidak memahaminya. Nikodemus tentu tidak menganggap dirinya sebagai ular tetapi sebagai seorang yang beretika yang datang kepada Tuhan Yesus untuk tujuan menerima pengajaran tentang perilakunya. Namun, dalam perkataan-Nya mengenai ular tembaga, Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada Nikodemus, “Engkau seharusnya tidak menganggap dirimu seorang yang terhormat tetapi sadarilah bahwa engkau adalah seekor ular. Engkau menjadi ular ketika di Taman Eden Adam ‘dipagut’ ular. Karena engkau memiliki sifat ular, Aku datang bukan untuk mengajarimu tetapi menjadi penggantimu. Di mata Allah, engkau adalah seekor ular. Sebagai penggantimu, Aku akan ditinggikan dalam bentuk ular.” Adalah berkat terbesar bila kita mengenal bahwa sebagai penggenapan lambang ular tembaga, Kristus datang dalam rupa daging dosa untuk mati di atas salib sebagai pengganti kita.
Ketika Adam ‘dipagut’ ular, kita semua menjadi ular. Kristus telah menjadi pengganti kita, dan kita percaya kepada Dia. Pada butir ini kita perlu mengajukan pertanyaan yang menarik: Apakah kita yang percaya kepada Kristus masih tetap ular? Jawaban pertanyaan ini tergantung pada apakah dalam pengalaman kita, kita ada dalam Yohanes 3, yang membicarakan ular tembaga, atau dalam Yohanes 7, yang membicarakan datang kepada Tuhan dan minum (Yoh. 7:37-39). Jika kita minum air hidup, maka kita bukan lagi ular. Tetapi jika kekurangan air hidup, kita adalah ular.
Kristus hari ini tidak lagi ular tembaga, Dia adalah Roh pemberi-hayat. Dia yang mati untuk kita di atas salib dalam bentuk ular, dalam keserupaan daging dosa, telah melalui kematian dan kebangkitan untuk menjadi Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45b). Ini berarti bahwa Dia mengubah bentuk-Nya. Ketika Dia mati di atas salib, seperti ditunjukkan dalam Yohanes 3, Dia ada dalam bentuk seekor ular, tetapi ketika Dia datang kembali kepada murid-murid-Nya, seperti diwahyukan dalam Yohanes 20, Dia adalah Roh pemberi-hayat. Bagaimanakah Kristus terhadap Anda hari ini? Apakah Dia itu ular tembaga atau Roh pemberi-hayat?
Sebagai kaum beriman dalam Kristus, apakah Anda tetap seekor ular? Jawabannya tergantung pada apakah Anda haus kering, kekurangan Roh pemberi-hayat, atau minum Roh itu. Terpisah dari Roh pemberi-hayat, kita adalah ular. Dalam hidup gereja kita mungkin sebagai ular atau sebagai orang yang minum Roh pemberi-hayat. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang minum Roh pemberi-hayat yang almuhit!
IX. AKIBAT KEGAGALAN
Pada perjalanan mereka, bani Israel melakukan sejumlah kegagalan. Kitab Bilangan memperlihatkan kepada kita bahwa akibat kegagalan mereka adalah kematian, bukan saja kematian orang Israel pada umumnya, tetapi juga Miryam (Bil. 20:1), Harun (Bil. 20:22-29), dan Musa (Bil. 27:12-14). Miryam, Harun, dan Musa adalah pemimpin di antara bangsa itu. Miryam adalah seorang nabiah, Harun adalah seorang imam besar, dan Musa adalah pemimpin yang unik. Akibat kegagalan mereka adalah kematian. Ini seharusnya menjadi satu peringatan bagi kita hari ini. Kita harus berhati-hati terhadap kegagalan, karena kegagalan mengakibatkan kematian.
X. PERJALANAN LEBIH LANJUT
A. Rintangan dari Edom
Pada perjalanan lebih lanjut bani Israel, ada rintangan dari Edom (Bil. 20:14-21). Edom adalah keturunan Esau, kakak Yakub. Bani Israel adalah keturunan Yakub. Jadi, ada hubungan yang erat antara Israel dengan Edom. Dalam Bilangan 20, Israel mencoba meminta bantuan dari Edom. Namun, Edom tidak mau memberikan pertolongan kepada bani Israel. Dalam perlambangan, Israel melambangkan roh kita, dan Edom melambangkan daging kita. Usaha Israel minta bantuan dari Edom melambangkan bahwa kita kadangkadang mencoba membantu roh kita melalui bersandar pada daging kita. Namun, daging kita tidak akan pernah membantu roh kita. Kita harus menjadi orang yang ada di dalam roh dan yang tidak mencoba meminta bantuan dari daging.
B. Tiba di Puncak Gunung Pisga
Akhirnya, bani Israel tiba di puncak Gunung Pisga (Bil. 21:10-20). Pisga adalah gunung yang di atasnya Musa berdiri ketika dia memandang tanah permai.
1. Melewati Sumur Beer
Pada perjalanannya ke Pisga, bani Israel melewati sumur Beer, di mana TUHAN memerintahkan Musa mengumpulkan bangsa itu supaya Dia dapat memberi mereka air. Sumur ini melambangkan Kristus (Yoh. 4:11-12), dan air dari sumur ini melambangkan Roh itu (Yoh. 4:13-14; 7:37-39). Karena itu, dalam Bilangan 21, Kristus dilambangkan oleh ular tembaga dan sumur. Sebagai ular tembaga Kristus adalah untuk menggantikan kita, dan sebagai sumur Dia adalah untuk kita nikmati.
2. Israel Menyanyikan Nyanyian Atas Sumur Itu
Dalam Bilangan 21:17-18 orang Israel menyanyikan nyanyian ini: “Berbual-buallah, hai sumur! Mari kita bernyanyi-nyanyi berbalas-balasan karena sumur yang digali oleh raja-raja, yang dikorek oleh kaum bangsawan di antara bangsa itu dengan tongkat-tongkat kerajaan, dengan tongkat-tongkat mereka.” (Mengenai makna rohani menggali sumur, lihat Kidung, kuningNo. 201). Menurut nyanyian ini, sumur dikorek oleh raja-raja dan kaum bangsawan. Mereka hari ini yang menuntut Roh itu dan memimpin penggalian sumur adalah kaum bangsawan dan raja-raja.
XI. TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN SELAMA PERJALANAN
A. Jumlahnya, Empat Puluh Dua Tempat Persinggahan,
dari Negeri Perbudakan sampai Negeri Perhentian
Dalam berita ini saya juga ingin menyampaikan perkataan mengenai tempat-tempat persinggahan selama perjalanan yang ditempuh oleh bani Israel. Menurut Bilangan 33:1-49, jumlahnya ada empat puluh dua tempat persinggahan, dari negeri perbudakan sampai negeri perhentian. Catatan dari empat puluh dua tempat persinggahan ini tidak menyebutkan apa-apa tentang kegagalan bangsa itu. Jika kita hanya memiliki catatan dalam Bilangan 33, kita akan berpikir bahwa dalam perjalanannya bani Israel benar-benar agresif, positif, dan sukses, pergi dari satu tempat persinggahan ke tempat persinggahan lainnya sampai mereka mencapai sasarannya, negeri perhentian. Sebagai hasil dari pembacaan Bilangan 1 sampai 33, kita mungkin memiliki opini bahwa tidak ada sesuatu yang baik pada bani Israel. Tetapi pasal 33 memperlihatkan kepada kita bahwa di mata Allah, catatan mengenai mereka adalah positif. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan-Nya, Allah selalu memperhatikan umat-Nya secara positif. Allah memandang umat-Nya bukan dari sudut yang buruk, tetapi dari sudut yang baik.
Anda perlu mengingat hal ini bila Anda dicobai untuk mengkritik gereja lokal tertentu. Entah suatu gereja menakjubkan atau kasihan, sebenarnya tidak tergantung pada apa adanya gereja itu; sebaliknya, tergantung pada apa adanya Anda. Jika Anda bersikap negatif dan memandang negatif gereja, Anda tidak akan melihat sesuatu yang baik dalam gereja. Jika Anda memiliki sikap positif dan meman-dang gereja dari sudut yang positif, Anda akan berkata bahwa gereja menakjubkan. Mengenai hidup gereja di kota kita, kita seharusnya tidak dikalahkan atau kecewa, dan kita seharusnya tidak tawar hati. Kita perlu memandang gereja-gereja secara surgawi dan menyadari bahwa semua gereja lokal adalah bagian dari Yerusalem Baru yang akan datang. Dari Kitab Bilangan, kita perlu tahu bahwa cara kita memandang umat Allah adalah perkara serius. Kemungkinan di mata Anda umat Allah tidak terlalu baik. Tetapi Allah melihat mereka sebagai umat yang dipilih, ditebus, diselamatkan dari perbudakan kejatuhan, menikmati Kristus, terbangun bersama Allah Tritunggal, dibentuk menjadi tentara untuk berperang bagi Allah, dan dipersiapkan Allah untuk memiliki Kristus yang almuhit sebagai tanah permai. Jika kita melihat umat Allah secara demikian, kita tidak akan tawar hati atau kecewa terhadap hidup gereja.
B. Melambangkan Empat Puluh Dua Generasi, dari Abraham sampai Kristus
Empat puluh dua tempat persinggahan dalam Bilangan 33 melambangkan empat puluh dua generasi, dari Abraham sampai Kristus (Mat. 1:17). Pada akhir perjalanan umat Allah dalam Perjanjian Lama, ada catatan mengenai empat puluh dua tempat persinggahan. Pada permulaan Perjanjian Baru, ada catatan empat puluh dua generasi. Sasaran empat puluh dua tempat persinggahan adalah tanah permai, dan sasaran dari empat puluh dua generasi adalah Kristus. Kesesuaian di sini menunjukkan bahwa Allah bermaksud membawa seluruh umat-Nya ke tanah permai sebagai sasaran. Hari ini Kristus adalah tanah permai kita, tanah perhentian kita.
Dalam Perjanjian Lama, sasaran ada pada akhir; tetapi dalam Perjanjian Baru, sasaran ada pada awal. Ini berarti kita, kaum beriman dalam Kristus, memulai dari sasaran. Ini mungkin bisa dibandingkan dengan makna hari Sabat dalam Kitab Kejadian. Hari Sabat adalah hasil pekerjaan Allah. Dia bekerja selama enam hari, mencapai sasaran-Nya, dan beristirahat pada hari ketujuh. Ini berarti, bagi Allah hari Sabat adalah hasil pekerjaan-Nya. Tetapi bagi manusia, hari Sabat sangat berbeda. Bagi manusia, hari Sabat bukanlah akhir tetapi awal. Manusia diciptakan pada hari keenam, kemungkinan pada petang. Ini berarti segera setelah manusia muncul dari tangan penciptaan Allah, datanglah hari Sabat, dan hari ini menandakan bukan akhir pekerjaan manusia tetapi awal kenikmatannya. Karena itu, bagi Allah yang bekerja, Sabat adalah hasilnya, tetapi bagi manusia yang menikmati, hari Sabat adalah awal. Prinsipnya sama dengan sasaran Allah membawa kita masuk ke dalam Kristus sebagai tanah permai. Bagi kita hari ini, sasaran ini bukan hasil; ini adalah awal. Di manakah Anda? Dalam hasil atau dalam awal? Cara terbaik menjawab pertanyaan ini adalah mengatakan bahwa kita ada dalam hasil yang, bagi kita, adalah awal.
Prinsip ini boleh diterapkan pada segala sesuatu dalam hal rohani. Untuk Allah, sasaran adalah hasil; untuk kita, sasaran adalah awal. Kita tidak melakukan perjalanan panjang untuk mencapai sasaran. Sebaliknya, kita mulai pada sasaran dan kemudian maju ke depan dalam perjalanan kristiani kita.
Empat puluh dua tempat persinggahan dalam Bilangan 33 sesuai dengan empat puluh dua generasi dalam Matius 1. Akhir keduanya adalah Kristus. Akhir dari empat puluh dua tempat persinggahan adalah tanah permai, yang melambangkan Kristus, dan akhir dari empat puluh dua generasi adalah Kristus sendiri. Kristus bagi kita adalah realitas tanah permai. Dalam Perjanjian Lama, umat Allah berjalan dan kemudian sampai pada sasaran. Tetapi dalam Perjanjian Baru kita, kaum beriman, sudah dalam sasaran, kita menikmati sasaran, dan kenikmatan kita atas sasaran menjadi suplai kita saat kita menempuh perjalanan yang panjang.
Perjanjian Baru ditulis secara demikian untuk memperlihatkan kepada kita, dalam Matius 1, bahwa sasaran ini, hasil ini, dicapai hanya setelah perjalanan yang jauh selama empat puluh dua generasi. Hasilnya, Kristus, ada di sini hari ini. Tidak perlu menunggu sampai masa yang akan datang untuk mencapai sasaran, untuk masuk ke dalam hasil. Tidak, kita mulai dengan hasil. Ketika kita dibaptis ke dalam Kristus, kita dibaptis ke dalam hasil. Segala sesuatu telah selesai, dan segala sesuatu mengenai kenikmatan kita atas Kristus telah disiapkan dan sekarang ada di “meja”. Kita hanya perlu datang dan makan dan masuk ke dalam kenikmatan atas Kristus.