← Daftar isi Bilangan (2) · bab 4/27

PERJALANAN (15)

Pembacaan Alkitab: Bil. 20:2-13, 24; 27:12-14; 1Kor. 10:4, 6

Dalam Bilangan 20 ada dua garis: garis hayat dan garis lambang. Dalam berita ini saya ingin menyampaikan perkataan mengenai lambang-lambang.

7. Makna Lambang-lambang

Menurut perlambangan dalam bagian firman ini, air melambangkan Roh hayat, atau hayat dalam Roh itu. Karena hayat ilahi dan Roh ilahi adalah satu, maka air di sini sama-sama melambangkan hayat dan Roh. Masalah dalam Bilangan 20 terjadi karena kekurangan Roh hayat. Ini menunjukkan bahwa bila umat Allah kekurangan Roh hayat, mereka akan menghadapi masalah. Kebanyakan masalah dalam hidup gereja disebabkan oleh kekurangan Roh hayat. Jika kita ada kekurangan seperti itu, kita akan menyalahkan orang lain atau bertengkar dengan Allah. Dalam Bilangan 20, diperlihatkan jalan untuk menerima Roh hayat. Dalam Bilangan 20:8 Allah berkata kepada Musa, “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” Firman Allah kepada Musa menunjukkan bahwa kita perlu menerapkan kematian Kristus kepada situasi kita hari ini. “Mengambil tongkat” adalah menerapkan kematian Kristus kepada diri kita. Dalam Keluaran 17, tongkat dipakai untuk memukul bukit batu. Di sana, tongkat ada di tangan Musa, yang mewakili hukum Taurat. Kristus dipukul oleh hukum Taurat; Dia terbelah supaya Roh hayat dapat mengalir dari Dia. Karena telah dipukul dalam Keluaran 17, bukit batu tidak perlu dipukul lagi dalam Bilangan 20. Kristus, yang dilambangkan dengan bukit batu harus disalibkan hanya satu kali. Dalam memukul bukit batu dua kali, Musa membuat kesalahan yang serius. Tindakan ini bertentangan dengan ekonomi Allah. Dalam ekonomi Allah Kristus seharusnya disalibkan tidak lebih dari sekali.

Dalam 1Korintus 10:4, berbicara tentang bani Israel, Paulus mengatakan, “Dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” Ini mewahyukan bahwa Kristus telah disalibkan untuk menjadi batu karang yang mengikuti umat-Nya. Kita dapat berkata bahwa Dia adalah “batu karang yang mengikuti”. Ini berarti Dia adalah Roh pemberi-hayat, yang selalu menyertai kita untuk menyuplai kita dengan air hayat. Kristus disalibkan di bawah tongkat hukum Taurat, dan sekarang Dia adalah batu karang yang mengikuti, Roh pemberi-hayat. Untuk memenuhi keperluan kita akan Roh hayat, kita tidak boleh memohon Kristus disalibkan sekali lagi untuk kita. Kita seharusnya cukup mengambil tongkat; yaitu, menerapkan kematian Kristus kepada situasi kita. Ketika kita melakukan hal ini, kita akan mengalami Kristus yang disalibkan, Kristus yang dengan tegas disajikan oleh Paulus dalam Surat 1 Korintus. Sebagai contoh, dalam Surat Kiriman ini Paulus berkata, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor. 2:2). Perkataan Paulus menunjukkan bahwa dia mengambil tongkat, kematian Kristus, dan menerapkannya kepada orang Korintus supaya melalui kematian Kristus, mereka dapat menerima Roh itu. Sekarang, karena Roh itu telah diberikan, Kristus tidak perlu disalibkan lagi supaya air hidup mengalir keluar. Untuk memiliki air hidup, kita cukup mengambil tongkat dan menerapkannya kepada situasi kita hari ini. Kita juga perlu berkata kepada bukit batu. Berkata kepada bukit batu adalah perkara percaya. Selain itu, berkata kepada bukit batu menunjukkan bahwa kita harus berdoa, bukan dengan memohon, tetapi dengan percaya bahwa Roh itu sudah diberikan.

Melalui penyaliban Kristus, air hidup telah mengalir keluar dari Kristus. Ini dengan jelas diwahyukan dalam Yohanes 19:34. “Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Hari ini kita hanya perlu berkata kepada bukit batu itu, dan air akan mengalir lagi dari bukit batu itu. Kita dapat berkata, “Puji Tuhan bahwa Roh itu ada di sini!” Ini adalah berkata kepada bukit batu agar air dapat mengalir ke dalam kita menjadi suplai kita. Ini adalah cara menerapkan kematian Kristus kepada situasi kita, supaya kita mendapatkan Roh hayat. Dalam Kidung kita ada satu nyanyian yang sangat baik dengan makna rohani yang dalam mengenai hubungan antara salib dengan Roh itu (kuningKidung #227). Bait empat kidung ini mengatakan bahwa kita harus menyeberangi Sungai Yordan sebelum kita dapat diurapi dari atas, kita harus dibaptis dalam kematian sebelum kita dapat mengalami Roh Kudus seperti Merpati. Sungai Yordan di sini melambangkan kematian, dan Merpati melambangkan Roh itu. Jika kita menyeberangi sungai kematian, kita akan menerima Merpati yang hidup.

Masalah-masalah dalam hidup gereja bisa beres ketika kita memiliki kelimpahan Roh hayat. Masalah-masalah di antara kita dengan orang lain dan antara kita dengan Allah timbul karena kita kekurangan Roh hayat. Alasan kita kekurangan Roh hayat adalah kita kurang menerapkan kematian Kristus kepada situasi kita hari ini. Jika banyak orang beriman dalam gereja lokal tidak menerapkan kematian Kristus, gereja ini akan mengalami banyak masalah. Tetapi jika kita menerapkan kematian Kristus kepada diri kita, penerapan ini akan mendatangkan air hidup untuk menyuplai keperluan kita dan membereskan masalah kita. Kemudian, setelah keperluan kita tersuplai dan masalah kita terselesaikan, kita akan menempuh hidup yang menang dalam gereja. Pada butir ini saya ingin menyampaikan perkataan lebih lanjut mengenai kekudusan dan keadilan (kebenaran) Allah dalam memperhatikan kebutuhan umat-Nya. Ketika umat Allah bertengkar karena kebutuhan mereka, Allah tidak tersinggung, tetapi bersikap adil dalam memperhatikan kebutuhan kita. Tetapi ketika bangsa itu bernafsu rakus menurut daging, Allah marah terhadap mereka. Kita dapat membandingkan Allah dengan seorang ibu yang merawat yang bersimpati terhadap keperluan anaknya. Ketika anaknya menangis minta susu, ia akan bersimpati terhadap anak itu, merawat, dan menyuplai anak itu dengan susu untuk membuat dia senang. Namun, ini tidak berarti ia mengasihi anaknya secara buta dan tidak mendisiplinkan dia ketika dia nakal. Mengenai hal-hal tertentu si ibu akan merawatnya, tetapi mengenai hal-hal lain ia akan mendisiplinkan dia.

Perawatan ibu terhadap anaknya adalah satu ilustrasi dari apa adanya Allah dalam sifat-Nya. Sifat Allah adalah adil. Ketika umat-Nya bertengkar karena makanan, Dia tidak marah terhadap mereka, tetapi menyuplai mereka dengan manna. Ketika mereka bertengkar karena air, Dia juga tidak marah terhadap mereka, tetapi menyuplai mereka dengan air. Namun, ketika mereka bertengkar menurut nafsu rakusnya, Dia menghukum mereka. Allah bukan saja adil, tetapi juga kaya dan berlimpah. Dalam kemarahannya terhadap bani Israel, Musa tentu tidak ingat bahwa Allah itu berlimpah dan bahwa Dia dapat menyuplai keperluan umat-Nya di bawah segala lingkungan. Entah ada hujan atau air, atau tidak ada, Dia dapat memuaskan keperluan umat-Nya yang mendesak akan air. Allah adil, kaya, berlimpah, pengasih, pemurah. dan penuh anugerah. Untuk melayani Dia, kita harus mengenal Dia dalam semua aspek ini. Karena Dia itu adil, berlimpah, dan penuh anugerah, Dia tidak memiliki masalah terhadap umat-Nya ketika mereka bertengkar karena makanan atau air. Karena Dia tidak marah terhadap umat-Nya ketika mereka bertengkar untuk kebutuhan mereka, orang yang melayani Dia seharusnya juga tidak marah terhadap mereka dalam situasi demikian.

Melayani Allah meliputi merawat umat Allah. Karena itu, tidak cukup kita hanya benar terhadap Allah; kita juga harus benar dalam sikap kita terhadap umat Allah. Sikap kita terhadap umat Allah harus sesuai dengan sifat Allah. Dalam Bilangan 20, Musa seharusnya bersikap demikian terhadap bani Israel. Dia harus menyadari bahwa umat itu perlu air. Dia juga harus mempertimbangkan bahwa karena air adalah satu keperluan, Allah dalam keadilan-Nya tidak akan marah terhadap umat-Nya, tetapi sebaliknya, akan menyuplai mereka dengan air. Mereka bertengkar bukan karena nafsu rakusnya, mereka bertengkar untuk keperluan mereka. Dalam hal ini Musa harus memperhatikan sifat Allah dan seharusnya tidak memperhatikan perasaannya sendiri. Karena Musa memperhatikan perasaannya dan tidak memperhatikan sifat Allah, dia tersinggung dan marah. Namun, Allah tidak memiliki masalah dengan umat-Nya dalam hal ini. Berlawanan dengan Musa, yang marah, Allah itu adil, berlimpah, dan penuh anugerah.

Dalam berita ini saya khusus memperhatikan kaum beriman muda, yang memiliki perjalanan rohani yang masih panjang untuk mereka tempuh. Untuk menyelesaikan perjalanan ini secara tepat, kita perlu mengenal Allah dalam sifat-Nya, khususnya dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya. Pelayanan kita kepada Tuhan bisa tahan lama atau tidak, tergantung pada sikap kita terhadap umat-Nya. Sikap kita terhadap umat Allah harus sesuai dengan sifat kudus Allah. Untuk memiliki sikap yang tepat, kita harus mengenal sifat Allah. Kita perlu melihat bahwa dalam sifat-Nya, Allah itu adil, berlimpah, kaya dalam suplai, pengasih, pemurah, dan perahmat. Bila kita melihat sesuatu dalam umat Allah yang, menurut pandangan kita, tidak benar, kita perlu memperhatikan situasi menurut sifat Allah. Jika kita melakukan hal ini, hubungan kita dengan umat Allah akan benar. Kalau tidak, kita akan salah dan gagal menguduskan Tuhan. Menguduskan Allah berarti menghormati dan menghargai sifat kudus-Nya. Allah sepenuhnya berbeda dari setiap orang. Dia berbeda bukan hanya dari allah palsu, tetapi juga dari setiap orang. Karena Allah berbeda dari setiap orang, kita tidak boleh menjadikan Dia umum. Kita tidak boleh merendahkan Dia ke tingkat kita. Allah itu khusus dan istimewa, dan kita harus menguduskan Dia, memandang Dia menurut apa adanya Dia dalam sifat-Nya. Selain itu, sikap kita terhadap umat Allah seharusnya tidak menurut perasaan dan kesenangan kita, melainkan menurut sifat Allah. Setiap kali kita akan berurusan dengan umat-Nya, kita harus memikirkan sifat Allah. Kemudian kita akan terjaga dari kesalahan serius berupa kegagalan menguduskan Dia dalam apa adanya Dia.

Allah memiliki ekonomi-Nya, dan ekonomi-Nya mencakup semua tindakan-Nya. Tindakan-tindakan Allah dalam ekonomi-Nya terutama berhubungan dengan Kristus dan Tubuh-Nya, gereja. Karena itu, jika kita mau bertindak menurut ekonomi Allah, kita harus memperhatikan Kristus dan gereja. Kadang-kadang situasi dalam gereja tidak menyenangkan karena di antara kaum beriman ada banyak pertengkaran. Apakah alasan pertengkaran ini? Alasannya mungkin umat Allah kekurangan air hidup, kekurangan makanan hayat. Cara menanggulangi kekurangan ini adalah berkata kepada Kristus, sebab Dia adalah batu karang yang selalu mengikuti gereja. Setelah merampungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ekonomi Allah, Kristus sekarang ada di surga dan juga di dalam kita, menunggu untuk menjadi suplai yang memenuhi keperluan kita. Untuk menerima suplai ini, tidak perlu kita memohon atau bahkan berdoa. Kita cukup mengatakan perkataan langsung kepada Kristus sebagai batu karang yang telah dipukul. Kita mungkin berkata bahwa perkataan ini sebenarnya menghasilkan satu perintah. Percayakah Anda bahwa Anda dapat memerintah Kristus untuk menyuplai Anda dengan air hidup? Kita semua harus percaya ini, menyadari bahwa Kristus senang mendengarkan perintah ini. Sebagai satu ilustrasi, perhatikan kembali hubungan antara ibu dengan anak kecilnya. Anak itu mungkin berkata, “Mama, aku perlu air. Beri aku segelas air.” Ibunya dengan senang memenuhi keperluan anaknya. Demikian pula, Tuhan senang menyuplai kita dengan air hidup untuk memenuhi keperluan kita.

Dalam Keluaran 17, Kristus dalam penyaliban dilambangkan dengan bukit batu yang dipukul, dan dalam Bilangan 17, Kristus dalam kebangkitan dilambangkan dengan tongkat yang bertunas. Mula-mula, sebagai bukit batu, Kristus dipukul oleh tongkat di tangan hukum Taurat. Kemudian, dalam kebangkitan, Dia menjadi tongkat yang bertunas, berbunga, dan berbuah. Sebagai tongkat yang bertunas, hari ini Dia menyertai kita untuk menjadi suplai kita. Hal utama yang sekarang dihasilkan dari Dia untuk menjadi suplai kita adalah air hidup, Roh pemberi-hayat yang almuhit. Hari ini kita tidak perlu memohon Dia memberi air hidup atau menanti Dia menyuplai kita dengan air. Kita hanya perlu datang kepada Dia dan berkata, “Tuhan, aku perlu Roh-Mu. Tuhan, beri aku Roh hayat.” Kita semua perlu mengenal Tuhan dalam aspek ini, mengenal Dia berdasarkan ekonomi Allah.

Orang-orang Pentakosta tidak tahu aspek Tuhan Yesus ini. Mereka berpikir, untuk menerima Roh itu, kita harus menantikan Tuhan, mungkin dengan berpuasa. Tetapi menurut wahyu dalam Alkitab, penantian demikian tidak diperlukan. Kristus telah merampungkan segala sesuatu untuk kita, dan sebagai Dia yang ada di surga dan juga di dalam kita, Dia siap untuk menyuplai kita. Tidak perlu menantikan Dia, Dia menantikan Anda. Dia menantikan Anda untuk berkata kepada-Nya, “Tuhan, beri aku Roh-Mu.” Begitu Anda berkata kepada Dia secara ini, Anda akan menerima Roh hayat.

Bukit batu dalam Bilangan 20 melambangkan Kristus yang tersalib dan bangkit. Kristus yang demikian adalah Kristus yang siap sedia. Dia siap untuk memberi Anda apa saja yang Anda perlukan. Anda perlu manna, Dia adalah manna. Anda perlu air hidup, Dia adalah air hidup. Mintalah Dia untuk memberi Anda apa yang Anda perlukan. Dia menunggu Anda melakukan hal ini.

Kapankala kita berkata kepada Kristus sebagai batu karang, memberi tahu Dia untuk memberi kita air hidup, kita harus memiliki tongkat di tangan kita. Ini berarti ketika kita berkata kepada batu karang, kita harus menerapkan kematian Kristus pada diri kita dan menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang disalibkan. Kristus disalibkan, dan kita seharusnya bersatu dengan Dia dalam kematian-Nya. Jika kita tidak menerapkan kematian Kristus pada diri kita, suplai air hidup tidak akan datang. Mari kita mengambil tongkat dan memegangnya di tangan kita dan berkata, “Tuhan Yesus, aku menerapkan kematian-Mu pada diriku, dan aku mohon Engkau memberiku kami Roh-Mu.”

Menerapkan kematian Kristus pada diri kita ketika kita meminta Dia memberikan Roh hayat benar-benar sesuai dengan ekonomi Allah. Namun, tidak banyak orang Kristen, termasuk orang-orang di antara kita, yang mengenal sifat dan ekonomi Allah sampai tingkat ini. Untuk alasan ini, banyak orang beriman tidak mengenal apa yang diwahyukan dalam Bilangan 20. Semoga mata kita terbuka, melihat apa yang ditunjukkan pasal ini mengenai sifat dan ekonomi Allah! Semoga kita melihat bahwa sikap kita terhadap umat Allah harus menurut sifat-Nya, dan semoga kita juga melihat bahwa dalam ekonomi Allah, cara menerima Roh yang hidup sebagai suplai hayat adalah menerapkan kematian Kristus pada diri kita dan kemudian dengan sederhana memohon Roh hayat kepada Tuhan.