← Daftar isi Bilangan (2) · bab 3/27

PERJALANAN (14)

Pembacaan Alkitab: Bil. 20:2-13, 24; 27:12-14; 1Kor. 10:4, 6

VIII. KEGAGALAN LEBIH LANJUT

Dalam Bilangan 20 dan 21, bani Israel mengalami kegagalan lebih lanjut. Dalam berita ini kita akan melihat kegagalan yang dicatat dalam pasal 20, pasal yang menyampaikan butir-butir yang menakjubkan dari wahyu ilahi.

A. Bertengkar karena Air

Dalam Bilangan 20:2-13 kita lihat bangsa itu bertengkar karena air. Ketika bani Israel menempuh perjalanan di padang gurun, kekurangan air adalah masalah besar. Bangsa itu berjumlah lebih dari dua juta orang, dan mereka memiliki ternak yang sangat banyak. Mencari air untuk seluruh bangsa ini dan ternak mereka adalah masalah besar. Karena tidak ada air untuk jemaat itu, “Berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun” (ayat 2).

1. Bangsa Itu Bertengkar dengan Musa dengan Perkataan Jahat

Dalam pertengkaran karena air (Bil. 20:2-13), bangsa itu bertengkar melawan Musa dengan perkataan jahat. “Dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: ‘Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada?’” (Bil. 20:3-5). Orang-orang yang bertengkar itu menghendaki mereka mati di bawah penghakiman Allah dalam Bilangan 16 daripada hidup di padang gurun tanpa air. Perkataan mereka di sini sangat fasih. Saya heran mengapa mereka fasih berbicara tetapi tidak fasih berdoa. Daripada bertengkar dengan Musa, mereka seharusnya berdoa.

2. Musa dan Harun Meninggalkan Umat Itu, Pergi ke Kemah Pertemuan, lalu Sujud

“Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud” (Bil. 20:6a). Karena tidak tahu bagaimana menghadapi situasi itu, Musa dan Harun pergi kepada Allah. Mereka tidak mengucapkan apa-apa tetapi hanya sujud, dan “Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka” (Bil. 20:6b).

3. TUHAN Memerintahkan Musa untuk Mengambil Tongkat dan Memerintahkan Bukit Batu di Depan Mata Bangsa Itu supaya Mengalirkan Airnya

“TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Ambillah tongkat-mu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya’” (Bil. 20:7-8). Bukit batu melambangkan Kristus (1Kor. 10:4b), dan air melambangkan Roh itu (1Kor. 10:4a).

4. Musa Mengambil Tongkat, Menyebut Bangsa Itu Pemberontak, dan Memukul Bukit Batu dengan Tongkatnya Dua Kali, dan Keluarlah Banyak Air

Musa mengambil tongkat dari hadapan TUHAN, dan dia bersama Harun mengumpulkan jemaat itu di depan bukit batu (Bil. 20:9-10a). Kemudian Musa berkata kepada bangsa itu, “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (Bil. 20:10b). Sesudah itu, “Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum” (Bil. 20:11). Musa salah dalam perkataan dan tindakan. Memang, dia marah terhadap bani Israel, dan dia bahkan tidak bisa mengatasi temperamennya. Kapan kala kita marah-marah dan tidak mengendalikan diri sendiri, kita mudah membuat kesalahan. Pada waktu demikian, seperti Musa, kita dapat salah berbicara dan salah bertindak.

Alkitab memberi tahu kita bahwa Musa “seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (Bil. 12:3). Abdi Allah yang sejati, Musa sujud di hadapan Allah, tidak mengatakan apa-apa. Dia benar-benar telah belajar dari Allah. Walaupun demikian, orang yang lembut demikian menjadi marah kepada bani Israel. Allah menyuruh dia mengambil tongkat dan memerintahkan bukit batu itu mengalirkan air. Musa seharusnya mengumpulkan jemaat itu bersama-sama di hadapan bukit batu dan berkata, “Puji Tuhan! Dia baik dan pemurah. Dia betul-betul memperhatikan kita. Kalian perlu air, dan Dia akan memberikan air. Kita hanya perlu berbicara kepada bukit batu, dan air akan mengalir keluar.” Betapa indahnya jika Musa berkata demikian! Namun, dalam kemarahannya, Musa berkata kepada bangsa itu, “Kalian pemberontak.” Musa tidak berani mengatakan sesuatu kepada Allah, tetapi ketika dia datang dari hadirat Allah kepada bangsa itu, dia berbicara dengan sangat marah kepada mereka. Kemudian dia memukul bukit batu dua kali dengan tongkatnya. Dia tidak perlu memukul bukit batu satu kali, apa lagi dua kali. Bukit batu sudah dipukul dalam Keluaran 17, dan Allah tidak menyuruh Musa untuk memukulnya lagi. Sebaliknya, Allah menyuruh Musa hanya berkata kepada bukit batu itu. Walaupun Musa hamba Allah yang setia, dalam Bilangan 20 dia membuat kesalahan yang menyebabkan dia kehilangan haknya untuk masuk ke tanah permai yang dijanjikan.

5. Allah Menyuplai Orang Israel dengan Manna dan Air

untuk Memenuhi Keperluan Mereka yang Wajar,

tanpa Penghukuman Apa pun, tetapi Menyuplai Mereka

dengan Burung Puyuh untuk Memuaskan Nafsu Rakus

Mereka akan Daging, sebagai Hukuman

Dalam Keluaran 16:14-18 dan 17:5-6, Allah menyuplai orang Israel dengan manna dan air untuk memenuhi keperluan mereka yang wajar, tanpa penghukuman apa pun. Namun, dalam Bilangan 11, Dia menyuplai mereka dengan burung puyuh untuk memuaskan nafsu rakus mereka akan daging, sebagai hukuman (Bil. 11:4, 18-20, 31-34). Dalam Keluaran 16 dan 17, Allah tidak marah terhadap bangsa itu. Ketika mereka perlu makanan, Dia mengirim manna, sebab makanan adalah suatu kebutuhan pokok. Demikian juga, ketika mereka perlu air, kebutuhan lainnya, Dia dengan senang menyuplai mereka dengan air mengalir dari bukit batu yang dipukul. Namun, dalam Bilangan 11, bangsa itu bernafsu rakus akan daging. Karena ini bukan perkara kebutuhan, Dia marah terhadap mereka, dan dalam kemarahan-Nya dan sebagai satu penghakiman, Dia menyuplai mereka dengan burung puyuh. Dapatkah Anda membedakan dua jenis situasi ini? Ketika bani Israel merepoti Allah dengan kebutuhan pokok, Dia tidak merasa disalahi, tetapi ketika mereka bernafsu rakus, Dia disalahi. Dalam Bilangan 20, bangsa itu bertengkar karena mereka tidak memiliki air. Karena air adalah kebutuhan pokok, Allah tidak marah terhadap mereka. Sebenarnya, Allahlah yang bertanggung jawab menyuplai mereka dengan air.

6. Musa Tidak Menguduskan Allah karena Marah terhadap Bangsa Israel dan Bersalah dalam Memukul Bukit Batu Dua Kali

Musa tidak menguduskan Allah karena marah terhadap bangsa Israel dan bersalah dalam memukul bukit batu dua kali. Dalam amarahnya, dia tidak mewakili Allah dengan benar dalam sifat kudus-Nya terhadap umat-Nya. Dalam memukul bukit batu dua kali, dia mewakili Allah dengan salah dalam tindakan Allah. Maka, dia dan kakaknya dihukum Allah dengan tidak diizinkan masuk ke tanah permai (Bil. 20:12-13, 24; 27:12-14).

Dalam Bilangan 20, Allah tidak marah terhadap bangsa itu, tetapi Musa marah terhadap mereka. Dia pergi kepada Allah dan memohon, tetapi dia tidak berani mengatakan sesuatu. Dalam perkara ini Musa benar, karena kita tidak seharusnya berdoa ketika kita sedang marah. Mengenai hal ini, kita perlu mengingat bagaimana Elia berdoa dalam 1Raja-raja 19:14. Dalam doanya Elia berkata, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Mengacu kepada doa ini, Paulus berkata bahwa Elia mengadukan Israel kepada Allah (Rm. 11:2). Dalam pengaduannya, sebenarnya Elia menuduh bangsa itu. Dari kasus Musa dalam Bilangan 20 dan kasus Elia dalam 1Raja-raja 19, kita melihat bahwa kita harus berhati-hati bila kita berdoa kepada Allah mengenai umat-Nya.

“Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: ‘Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka’” (Bil. 20:12). Allah menyalahkan Musa dan Harun karena tidak percaya kepada Dia dan tidak menguduskan Dia di hadapan bangsa itu. Karena Musa marah ketika Allah tidak marah, ia tidak tepat mewakili Allah. Dalam kemarahannya, Musa mungkin mengira bahwa waktu Allah telah sampai untuk memusnahkan bangsa itu. Namun, Allah menyadari bahwa masalah dalam Bilangan 20 disebabkan oleh kehausan bangsa itu. Seperti seorang ibu tidak marah terhadap anak yang menangis karena haus, tetapi sebaliknya merawat anak itu, Allah pun tidak marah terhadap umat-Nya yang haus, sebaliknya memikul tanggung jawab menyuplai mereka dengan air.

Menurut pandangan Allah terhadap umat-Nya dalam Bilangan 20, tidak ada yang salah pada mereka. Situasi yang serupa ada dalam Bilangan 23 dan 24. Balak menyewa Bileam untuk mengutuk Israel, tetapi alih-alih mengutuk, yang ada malah berkat. Karena tidak dapat mengutuk orang yang tidak Allah kutuk (Bil. 23:8), Bileam berkata, “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel” (Bil. 23:21). Dalam Bilangan 24:5, Bileam selanjutnya berkata, “Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel!” Menurut pandangan Musa dalam Bilangan 20, ada banyak masalah dan kesalahan di antara umat Allah, tetapi dalam pandangan Allah tidak ada masalah atau kesalahan. Ini berarti walaupun Musa biasanya bersatu dengan Allah, dalam hal ini ada ketidaksesuaian yang besar antara dia dengan Allah.

Dalam menanggulangi perkara air, Musa salah. Dia adalah perwakilan Allah dan memiliki kedudukan untuk mewakili Allah, tetapi di sini dia mewakili Allah di depan bangsa itu secara salah. Pada saat ini, Allah tidak marah. Ini ditunjukkan oleh fakta bahwa Dia memberi tahu Musa untuk berkata kepada bukit batu agar mengalirkan air. Namun, Musa tersinggung dan tidak dapat mentoleransi situasi. Setelah mengumpulkan jemaat dan marah terhadap bangsa itu, dia berkata, “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka.” Melalui berkata kepada bangsa itu sedemikian, Musa salah mewakili Allah. Kesalahannya berbicara membuat Allah menjadi umum; yaitu, perbuatan ini tidak menguduskan Allah, tidak menjadikan Dia terpisah dari segala allah (dewa). Karena itu, dalam perkataan-Nya kepada Musa dalam Bilangan 20:12, Allah seolah-olah berkata, “Musa, engkau mewakili Aku dengan tidak benar. Engkau memberi kesan yang salah tentang Aku kepada bangsa itu. Dalam kemarahanmu engkau memberi mereka kesan bahwa Aku marah terhadap mereka, padahal Aku tidak marah. Engkau tidak menguduskan Aku. Engkau tidak mengekspresikan Aku sebagai Sang kudus dan terpisah dari segala allah. Engkau tidak menyajikan Aku kepada bangsa itu sebagai Allah yang penuh belas kasihan dan anugerah.” Allah yang Musa wakili tidak marah; karena itu, Musa, perwakilan-Nya, seharusnya tidak marah juga.

Dalam Bilangan 20:10, Musa menyebut bangsa itu pemberontak (orang-orang durhaka. LAI). Dalam Bilangan 20:24 Allah berkata kepada Musa dan Harun, “karena kamu berdua telah mendurhaka kepada titah-Ku dekat mata air Meriba.” Di sini Allah sepertinya berkata, “Engkau tidak menaati Aku. Engkau tidak melakukan apa yang Aku katakan kepada-Mu untuk dilakukan, malah melakukan sesuatu yang lain. Bangsa itu tidak mencerca Aku. Tidak ada yang salah pada mereka. Mereka hanya perlu air, dan hanya Aku yang dapat menyediakan air bagi mereka. Bangsa itu tidak bersalah karena haus, dan mereka tidak memberontak terhadap Aku. Engkau menyalahkan mereka sebagai pemberontak, tetapi sebenarnya engkaulah yang memberon-tak melawan firman-Ku.”

Dalam Keluaran 32, Musa mewakili Allah dengan tepat. Perbuatan bangsa itu, menyembah anak lembu emas, sangat menyinggung Allah, dan Dia berkata kepada Musa, “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar” (Kel. 32:9-10). Ketika Musa mendengar ini, dia berdoa kepada Allah, mengatakan, “Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu” (Kel. 32:11-12). Kelihatannya Musa memberontak melawan perkataan Allah; sebenarnya doanya menenangkan hati Allah. Di sini dia dengan benar mewakili Allah, tetapi dalam Bilangan 20, dia lupa tentang menguduskan Allah, ia dengan salah mewakili Allah.

Pengalaman Musa dalam Bilangan 20 adalah pelajaran penting untuk kita dalam hidup gereja hari ini. Kita perlu belajar, khususnya ketika kita disalahi oleh kaum beriman dalam gereja, kita seharusnya tidak pergi kepada Allah untuk menyalahkan umat-Nya. Jika dalam doa kita menyalahkan umat Allah, kita akan menyinggung Allah. Seorang ibu akan sakit hati bila anaknya disalahkan dan dikritik. Allah pun sakit hati bila kita menyalahkan dan mengkritik umat-Nya. Hati-hatilah ketika Anda pergi menghadap Tuhan mengenai umat-Nya. Anda mungkin berpikir bahwa kaum beriman tidak begitu baik dan menyalahkan mereka di hadapan Allah. Ini sebenarnya akan menyinggung Dia.

Perkara penting yang diwahyukan dalam Bilangan 20 adalah bahwa sifat Allah adalah kudus. Kudus adalah berbeda, terpisah. Sebagai Sang kudus, Allah berbeda dari segala allah palsu. Allah palsu mudah marah kepada orang, tetapi Allah sejati tidak demikian. Allah tidak memiliki sifat itu. Dalam sifat-Nya, Allah penuh belas kasihan, anugerah, kasih, dan simpati. Dia tidak menyalahkan umat-Nya ketika karena kekurangan air mereka bertengkar. Bahkan jika Dia harus menghukum umat-Nya, Dia menghukum mereka dengan lapang. Sebagai contoh, Korah dilahap, ditelan, oleh bumi, tetapi keturunan Korah menjadi manusia kudus dan pemazmur. Ini menunjukkan bahwa Allah dengan lapang menghakimi umat-Nya.

Kita tidak boleh memberi orang kesan yang salah mengenai Allah yang kita layani. Agar tidak memberi kesan yang salah demikian, kita harus berhati-hati bila kita disalahi oleh beberapa orang beriman di lokal kita. Kita tidak boleh marah terhadap mereka atau pergi kepada Allah untuk menyalahkan mereka. Jika kita menyalahkan kaum beriman, Allah mungkin merasa bahwa kita menuduh mereka dan kita tidak menguduskan Dia. Kita tidak boleh tergesa-gesa berbicara tentang mereka yang menyalahi kita. Sebaliknya, dalam mewakili Allah, kita perlu belajar selalu memperhatikan sifat kudus-Nya. Ini adalah menguduskan Dia. Semua yang kita katakan dan lakukan mengenai umat Allah harus mutlak menurut sifat kudus-Nya. Kalau tidak, dalam perkataan dan perilaku kita, kita akan memberontak melawan Allah dan menyalahi Allah.

Secara batiniah Allah memiliki sifat-Nya, dan secara lahiriah, Allah memiliki pemerintah-Nya, ekonomi-Nya, cara-Nya bertindak. Perkataan Allah kepada Musa tentang memerintahkan bukit batu supaya mengalirkan air adalah perkataan menurut pemerintahan Allah dan untuk ekonomi-Nya. Maka, ketika Musa, dalam amarah, bertindak salah, dia merusak prinsip ekonomi Allah. Ini seharusnya menjadi peringatan agar kita tidak mempertahankan amarah kita, tetapi melaksanakan perkataan Paulus dalam Efesus 4:26: “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu.” Musa menyalahi sifat kudus Allah dan ekonomi ilahi-Nya. Dia mewakili Allah secara salah, dan dia merusak prinsip ekonomi Allah. Karena itu, walaupun dia sangat dekat dengan Allah dan dapat dianggap teman Allah (Kel. 33:11), Musa kehilangan hak untuk masuk ke tanah permai.

Bersikap hati-hati tentang apa yang kita katakan mengenai umat Allah ketika kita disalahi akan membantu kita tinggal dalam Kerajaan Allah. Mengenai ini, saya sarankan Anda memperhatikan Matius 18:1-35, yang menunjukkan bahwa jalan terbaik untuk terpelihara dalam Kerajaan Allah adalah mengampuni orang lain. Kita seharusnya tidak menyinggung kaum beriman lain atau menyandung mereka. Kapan kala kita tersinggung atau tersandung, kita harus mengampuni. Jika kita hanya tahu menyalahkan orang lain dan tidak mau mengampuni mereka, kita akan bermasalah. Dalam hidup gereja perlu ada pengampunan.

Mengampuni adalah melupakan. Misalnya ada sepasang suami-istri yang tidak berlatih saling mengampuni dan melupakan kesalahan. Bukannya mengampuni, yang ada malah menyalahkan; bukannya melupakan, yang ada malah mengingat-ingat. Pernikahan demikian tidak akan tahan lama. Sekalipun pernikahan ini bisa bertahan, mereka akan kekurangan kebahagiaan dan sukacita. Jika Anda ingin memiliki hidup pernikahan yang penuh sukacita, Anda perlu mengampuni kesalahan yang dilakukan oleh pasangan hidup Anda dan melupakannya.

Hidup gereja seharusnya merupakan kehidupan yang mengampuni. Terhadap Alkitab kita harus memiliki ingatan yang baik, tetapi terhadap kesalahan orang lain, kita harus memiliki ingatan yang buruk. Ini akan menjaga kita dalam hidup gereja. Kalau tidak, kita akan memiliki banyak hal negatif untuk dikatakan tentang kaum beriman, dan akhirnya kita akan meninggalkan hidup gereja. Untuk hidup gereja dan di dalam hidup gereja, kita perlu roh yang mengampuni. Kemudian kita tidak akan menghukum kaum beriman, melainkan melupakan kesalahan dan pelanggaran mereka. Kesalahan besar yang dilakukan Musa dalam Bilangan 20 mencakup tidak memiliki perasaan positif dan indah terhadap umat Allah. Ini menyebabkan dia membuat kesalahan serius dalam mewakili Allah. Musa tidak menguduskan Allah yang kudus dalam sifat-Nya, dan dia tidak menjaga firman Allah dalam ekonomi-Nya. Beban saya dalam berita ini tidak lain menunjukkan pelajaran penting yang perlu kita pelajari dari kegagalan Musa mengenai pertengkaran bangsa itu karena air.

Kita semua perlu menyadari bahwa hidup gereja itu sangat lembut dan peka, dan setiap saudara dan saudari dalam gereja juga sangat peka dan lembut. Kadang-kadang kita menyinggung orang lain karena kita tidak ingat bahwa hidup gereja dan kaum beriman itu peka dan lembut. Kita mungkin berpikir bahwa saudara tertentu sangat baik dan dia tidak mungkin tersinggung. Saudara demikian mungkin baik selama beberapa tahun, tetapi tiba-tiba, karena dia peka dan lembut, dia mungkin tersinggung oleh seseorang dan tidak lagi memiliki perasaan positif tentang hidup gereja. Kasus seperti ini mengingatkan kita bahwa kita perlu belajar selalu menyadari kepekaan dan kelembutan semua orang beriman dalam hidup gereja. Dalam Bilangan 20, Allah tidak datang untuk membela Musa; sebaliknya, Dia datang untuk membela umat-Nya. Ini mungkin kejutan besar bagi Musa, yang mungkin tidak pernah mengharapkan Allah membela mereka yang dia anggap pemberontak. Namun, itulah yang Allah kerjakan. Dalam pasal ini Dia seolah-olah berkata, “Musa, engkau telah memberontak menentang perkataan-Ku. Umat-Ku tidak salah, engkaulah yang salah.”

Melalui kita mempelajari Bilangan 20, kita dapat belajar bagaimana berperilaku ketika orang lain bertengkar dengan kita dalam hidup gereja. Bangsa itu berkata kepada Musa, “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada.?” Setelah bangsa itu bertengkar dengan Musa demikian, Musa seharusnya pergi kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan mengenai keperluan umat-Mu yang terkasih?” Dalam pasal ini seolah-olah Allah berkata kepada Musa, “Tidak perlu engkau melakukan sesuatu. Ambil tongkatmu, pergi ke bukit batu, dan perintahkan bukit batu untuk mengalirkan air, supaya umat-Ku dan ternak mereka minum.” Musa seharusnya menurut perkataan Allah, dengan sederhana memerintahkan bukit batu itu untuk mengalirkan air. Jika kita menanggulangi pertengkaran umat Allah seperti ini pada hari ini, hidup gereja akan mulia.

Ada hubungan yang pasti antara Kitab Bilangan dengan Surat 1Korintus. Ketika Paulus menulis Surat 1Korintus, boleh jadi dia menyadari bahwa sejarah Israel adalah lambang hidup gereja. Dalam 1Korintus 5:7 dia menyebut soal Paskah, mengatakan, “Sebab Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih” (Tl.). Kemudian, mengenai hal-hal yang terjadi atas bani Israel di padang gurun, dia berkata dalam 1Korintus 10:6, “Semuanya ini telah terjadi . . . untuk memperingatkan kita.” Dalam ayat 11 dia selanjutnya berkata, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu zaman akhir telah tiba.” Ini dengan jelas menunjukkan bahwa ada pelajaran-pelajaran untuk kita pelajari dari perjalanan bani Israel. Apa yang terjadi atas mereka juga dapat terjadi atas kita.

Pelajaran yang perlu kita pelajari dari kegagalan Musa dalam Bilangan 20 adalah kita harus sangat hati-hati ketika kita membicarakan umat Allah. Kita mungkin mengira kita benar dan orang lain yang salah. Namun, Allah datang bukan membela kita, melainkan membela orang-orang yang kita salahkan.

Dalam 1Korintus 4:3-5 kita melihat sikap Paulus mengenai menghakimi dan dihakimi. “Bagiku tidak begitu penting entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak ku hakimi . . . melainkan Tuhanlah yang menghakimi aku. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Kelak tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” “Pengadilan manusia” dalam ayat 3 adalah pada zaman ini, yang di dalamnya manusia menghakimi, berlawanan dengan hari Tuhan (1Kor. 3:13), yang ada pada zaman yang akan datang, zaman kerajaan, yang di dalamnya Tuhan akan menghakimi. Sekarang, pada hari manusia, manusia melaksanakan

penghakiman, tetapi pada hari Tuhan, Tuhan akan melaksanakan penghakiman. Dalam hidup gereja hari ini, kita tidak boleh menghukum orang lain, melainkan harus mengampuni mereka dan melupakan kesalahan mereka. Jangan menyimpan catatan dalam ingatan Anda yang berisi kesalahan orang lain. Mengingat kesalahan itu riskan, sebab dapat menyebabkan Anda kehilangan hak kesulungan, kehilangan hak Anda untuk menikmati Kristus sebagai tanah permai. Maksud saya dalam Pelajaran-Hayat Kitab Bilangan ini bukanlah mengajarkan Alkitab hanya secara doktrinal. Saya harap dari pembahasan mengenai Bilangan 20 kita semua akan menerima terang dan wahyu yang akan membantu kita dalam kehidupan kristiani dan hidup gereja hari ini. Dari lambang dalam pasal ini, kita dapat belajar menghormati sifat Allah dan pemerintahan-Nya di antara umat-Nya. Jika kita belajar pelajaran ini, kita akan berhati-hati sehingga tidak berbicara secara negatif mengenai umat Allah.