PERJALANAN (13)
Pembacaan Alkitab: Bilangan 19
Dalam berita ini kita akan melihat Bilangan 19, yang berhubungan dengan air pentahiran. Namun, sebelum sampai kepada perkara ini, saya mau membicarakan pembagian Kitab Bilangan. Bagian pertama (1:1—9:14) memperlihatkan pembentukan bani Israel menjadi satu tentara. Dari Bilangan 9:15 sebagai tentara mereka mulai bersiap melakukan perjalanan. Mereka berangkat hanya tiga hari lebih sedikit lalu permasalahan, kekacauan, dan pemberontakan muncul. Hal-hal ini mulai terjadi pada Bilangan 11. Bilangan 11—14 membentuk satu kelompok, yang di dalamnya kita dapat melihat aspek pemberontakan. Pertama, orang di perbatasan, di tepi perkemahan bersungut-sungut, mengucapkan perkataan jahat menentang Allah (Bil. 11:1-3; lihat Ul. 8:2). Kedua, orang campuran, mereka yang tidak jelas status dan keluarganya, bernafsu rakus menurut keinginan dagingnya (Bil. 11:4-35). Ketiga, Miryam dan Harun, yang sangat dekat dengan Musa dan ada di pusat pemerintahan, memberontak (Bil. 12:1-16). Keempat, bani Israel tidak percaya mengenai masuk ke tanah permai. Ini adalah pemberontakan yang berasal dari ketidakpercayaan orang yang bersifat daging (Bil. 13:1—14:38).
Bilangan 15 adalah sisipan mengenai diberikannya ketentuan dengan tiga aspek: mengenai berbagai kurban persembahan, yang adalah aspek-aspek Kristus; mengenai memelihara hari Sabat, yang adalah untuk menerima apa yang telah Allah kerjakan bagi kita; dan mengenai pakaian umat itu, yang melambangkan bahwa kehidupan kita harus memiliki keindahan dan perilaku kita ada di bawah pemerintahan surgawi.
Tidak lama setelah tiga ketentuan diberikan, dalam Bilangan 16, terjadi pemberontakan secara umum, universal. Dua ratus lima puluh pemimpin terbaik dan orang-orang yang kenamaan dari antara bani Israel memberontak sedemikian rupa sehingga tidak ada perkataan yang dapat menggambarkannya. Di seluruh Alkitab kita tidak dapat melihat kesempatan lain di mana Allah sangat marah terhadap manusia, sehingga Dia menghakimi para pemimpin pemberontakan itu dengan menyebabkan bumi terbelah dan menelan mereka beserta keluarga dan harta mereka. Patut diperhatikan bahwa sebagian bani Korah tidak bergabung dengan pemberontakan ini. Sebaliknya, mereka meninggalkannya. Akhirnya, Samuel, keturunan Korah (1Taw. 6:33-37), menjadi nabi besar dan imam nazir. Cucu Samuel, Heman, menjadi pemazmur dan penyanyi kudus dalam bait Allah di bawah pelayanan orang Lewi yang diatur oleh Daud.
Bilangan 17 mencatat bahwa pada akhir pemberontakan yang luas dan mengerikan, Allah membela Harun melalui Kristus yang bangkit dalam kuat kuasa kebangkitan-Nya. Kuasa ini diperagakan pada sebatang kayu yang mati dan kering yang bertunas, berbunga, dan berbuah, bahkan sampai buahnya matang. Bilangan 18 dan 19 adalah sisipan lainnya. Kelihatannya Bilangan 18 adalah pengaturan yang menegaskan kembali imbalan atau upah yang diberikan untuk imamat Harun dan pelayanan orang Lewi. Sebenarnya, ini adalah pembelaan yang kuat, yang ditambahkan pada pembelaan sebelumnya, tongkat yang bertunas. Karena sekelompok orang Lewi telah memberontak melawan imam-imam, umat Israel menjadi bingung. Maka, setelah kekacauan itu, Allah menegaskan ulang jabatan imam. Allah telah menegaskan jabatan imam dalam Kitab Keluaran dan Imamat. Sekarang, dalam Kitab Bilangan, Allah menegaskan ulang upah untuk jabatan imam dan pelayanan orang Lewi. Ini adalah pembelaan yang kuat terhadap pemberontakan.
Jika kita membaca Bilangan 18 dan 19 secara sambil lalu, kita tidak akan dapat mengapresiasi latar belakang dan atmosfer yang tersisa setelah pemberontakan. Atmosfer yang khusus muncul di antara bani Israel terhadap imam-imam dan orang Lewi. Keduanya tidak memiliki warisan untuk menempuh hidup. Mereka hidup semata-mata pada apa yang bani Israel berikan kepada mereka dalam bentuk persepuluhan. Pelaksanaannya adalah orang Israel memberi persepuluhan kepada orang Lewi, orang Lewi memberi persepuluhan kepada imam-imam, dan imam-imam mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Ini berarti imam-imam, orang Lewi, dan bahkan Allah sendiri hidup berdasarkan “belas kasihan” bani Israel. Orang Lewi hidup dari pemberian bani Israel; imam-imam hidup dari pemberian orang Lewi; dan Allah hidup dari pemberian imam-imam, orang Lewi, dan bani Israel. Jika umat itu menolak memberikan, ketiga persona ini, orang Lewi, imam-imam, dan Allah sendiri, tidak akan memiliki apa-apa untuk dimakan. Karena itu, pada saat ini Allah datang untuk menegaskan ulang upah-Nya kepada imam-imam dan kepada semua orang yang melayani jabatan imam. Ini menjadi satu perjanjian, ketentuan turun-temurun, agar dipelihara oleh bani Israel dari generasi ke generasi (18:11, 19, 23).
VII. AIR PENTAHIRAN
Bilangan 19 adalah pasal yang sangat khusus dalam Alkitab. Tidak mudah memahami mengapa pasal ini ada di sini. Dalam pasal ini seekor lembu betina dibakar bersama hal-hal lain, dan abunya dipakai untuk membuat air pentahiran. Melalui membaca seluruh pasal ini kita dapat memahami kenajisan ini, kecemaran ini, terutama mengacu kepada kecemaran kematian. Air ini adalah persediaan untuk membersihkan pengaruh dan kenajisan kematian. Setelah pemberontakan dalam Bilangan 16, maut ada di mana-mana. Dalam satu hari 14.700 orang mati, dan mayat-mayatnya bergelimpangan di mana-mana. Di banyak kemah di perkemahan, ada mayat. Seseorang menjadi tercemar karena menjamah mayat (Bil. 19:11), dengan berada di tempat ketika seseorang mati (Bil. 19:18), atau melalui masuk ke kemah yang di dalamnya ada mayat (Bil. 19:14). Seluruh populasi Israel yang berjumlah dua juta orang ada di bawah pengaruh kematian. Mereka semua dalam situasi yang najis. Maka, perlu ada air pentahiran untuk menyingkirkan pengaruh dan kenajisan kematian.
Sangat mungkin, dalam Kitab Keluaran dan Imamat Allah tidak memiliki pemikiran mengenai air pentahiran, karena pada waktu itu tidak ada kematian masal, universal seperti dalam Kitab Bilangan. Dalam Bilangan 19, kematian membayangi seluruh umat Allah. Setelah kematian 14.700 orang, sebenarnya semua kemah dan segala bejana dalam kemah telah tercemar. Ke mana saja orang-orang pergi atau apa pun yang dia jamah, dia menjadi najis. Dalam Bilangan 17, tongkat yang bertunas adalah pembelaan terhadap jabatan imam. Kemudian, dalam Bilangan 18, peraturan-peraturan ditekankan lagi sebagai satu penegasan dari upah jabatan imam dan orang Lewi supaya masalahnya selesai selamanya. Akhirnya, dalam Bilangan 19, air pentahiran dibuat untuk menanggulangi pengaruh universal dari kematian di antara umat Allah.
A. Unsurnya
Mari kita pertama-tama melihat unsur air pentahiran dan melihat bagaimana air ini dibuat.
1. Seekor Lembu Betina
“Inilah ketetapan hukum yang diperintahkan TUHAN dengan berfirman: Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu seekor lembu betina merah yang tidak bercela, yang tidak ada cacatnya dan yang belum pernah kena kuk” (Bil. 19:2). Lembu betina ini, unsur utama air pentahiran, melambangkan penebusan Kristus.
a. Merah
Warna merah melambangkan rupa daging dosa, untuk menanggung dosa luaran manusia. Ketika Kristus berinkarnasi, Dia menjadi serupa dengan daging dosa (Rm. 8:3).
b. Tidak Bercela
Lembu betina itu tidak bercela. Ini melambangkan bahwa Kristus tanpa dosa. Walaupun Kristus ada dalam keserupaan daging dosa, di dalam Dia tidak ada dosa. Dia tidak memiliki sifat dosa.
c. Tidak Ada Cacatnya
Lembu betina itu tidak ada cacatnya. Ini menunjukkan bahwa Kristus itu sempurna.
d. Belum Pernah Kena Kuk
Lembu betina ini belum pernah kena kuk. Ini melambangkan bahwa Kristus tidak pernah dipakai oleh siapa pun, khususnya oleh atau untuk musuh Allah, Satan.
e. Disembelih di Luar Perkemahan di Depan Imam
“Dan haruslah kamu memberikannya kepada imam Eleazar, maka lembu itu harus dibawa ke luar tempat perkemahan, lalu disembelih di depan imam” (Bil. 19:3). Kristus disalibkan di luar perkemahan (Ibr. 13:12), di Golgota, gunung kecil di luar Kota Yerusalem.
f. Sedikit Darahnya Dipercikkan oleh Imam ke Arah Sebelah Depan Kemah Pertemuan Tujuh Kali
“Kemudian imam Eleazar harus mengambil dengan jarinya sedikit dari darah lembu itu, lalu haruslah ia memercikkan sedikit ke arah sebelah depan Kemah Pertemuan sampai tujuh kali” (Bil. 19:4). Pada hari pendamaian, darah pendamaian dibawa ke dalam Kemah (di tengah-tengah perkemahan) dan dipercikkan ke atas tabut dan ke arah tabir (Im. 4:5-7; 16:14-15).
Namun, lembu betina disembelih di luar perkemahan, jauh dari Kemah Pertemuan, sedangkan darah dipercikkan tujuh kali ke arah depan Kemah Pertemuan.
g. Kulit, Daging, Darah, dan Kotorannya Dibakar di Depan Imam
Kulit, daging, darah, dan kotorannya dibakar di depan imam (Bil. 19:5).
2. Kayu Aras, Hisop, dan Kain Kirmizi Dilemparkan ke Dalam Api yang Membakar Lembu Betina Itu
“Dan imam haruslah mengambil kayu aras, hisop dan kain kirmizi dan melemparkannya ke tengah-tengah api yang membakar habis lembu itu” (Bil. 19:6). Kayu aras melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya yang luhur, hisop melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya yang rendah, dan kirmizi melambangkan penebusan dalam maknanya yang tertinggi. Ini berarti Kristus yang tinggi dan luhur dan Kristus yang merendah dan hina dalam penebusan-Nya adalah unsur untuk membuat air pentahiran.
3. Menghasilkan Abu untuk Air Pentahiran
Bilangan 19:9 menyebutkan abu lembu betina. Lembu betina yang dibakar dengan unsur-unsurnya menghasilkan abu, yang melambangkan Kristus dikurangi sampai tidak ada apa-apanya lagi. Abu ini disimpan untuk membuat air pentahiran; ini adalah untuk pentahiran dosa, atau kurban penghapus dosa.
4. Air Hidup
Bilangan 19:17b membicarakan air yang mengalir. Secara harfiah, kata Ibrani yang diterjemahkan “mengalir” berarti “hidup”. Air hidup ini melambangkan Roh Kudus dalam kebangkitan Kristus. Dalam air pentahiran ada khasiat penebusan Kristus dengan kuasa pembasuhan Roh kebangkitan-Nya.
B. Kegunaannya
Perkara selanjutnya yang perlu kita lihat adalah bagaimana air pentahiran ini digunakan.
1. Dipercikkan ke Atas Orang yang Najis
Air pentahiran dipercikkan ke atas orang yang najis: mereka yang menjamah tubuh orang mati, atau masuk ke dalam kemah atau ada di dalam kemah tempat seseorang yang mati, atau menjamah orang yang telah dibunuh dengan pedang, atau tubuh orang mati, atau tulang manusia, atau kuburan (Bil. 19:11-14, 16-20). Ini adalah gambaran dari situasi bani Israel pada waktu itu. Kenajisan kematian ada di mana-mana. Kenajisan dalam pasal ini tidak mengacu kepada dosa, tetapi kepada kematian. Kematian diakibatkan oleh dosa, dan dosa adalah akar kematian (Rm. 5:12). Dari dosa pemberontakan, kematian berkuasa di antara bani Israel. Maka, perlu ada air pentahiran. Hanya pekerjaan penebusan Kristus, melalui keinsanian-Nya yang agung dan merendah, dengan kematian-Nya dan Roh kebangkitan-Nya, dapat menyembuhkan dan membersihkan situasi dari kenajisan kematian.
2. Dipercikkan ke Atas Kemah yang di Dalamnya
Ada Orang Mati dan ke Atas Bejana dan Perabotan di Dalamnya
Air itu juga dipercikkan ke atas kemah yang di dalamnya ada orang mati dan ke atas bejana dan perabotan di dalam kemah, untuk membersihkannya (Bil. 19:15, 18).
C. Imam yang Memercikkan Darah Lembu Betina
dan Membakar Kulit, Daging, Darah,
dan Kotorannya, Orang yang Membakar
Lembu Betina, Orang yang Mengumpulkan
Abu Lembu Betina, dan Orang yang Memercikkan
Air Pentahiran, Membasuh Pakaiannya
dan Membasuh Tubuhnya dengan Air
Imam yang memercikkan darah lembu betina dan membakar kulit, daging, darah, dan kotorannya, orang yang membakar lembu betina, orang yang mengumpulkan abu lembu betina, dan orang yang memercikkan air pentahiran, membasuh pakaiannya dan membasuh tubuhnya dengan air (Bil. 19:7-10, 18-19). Ini melambangkan bahwa siapa pun yang terlibat dengan air pentahiran menjadi najis dan perlu dibasuh dan dibersihkan. Setelah itu, seluruh situasi bani Israel dibersihkan dari pengaruh kematian yang masuk dari dosa pemberontakan mereka.
Saya harap kita semua mengingat empat pemberontakan dalam Bilangan 11—14; sisipan dalam Bilangan 15, dengan ketentuan mengenai kurban-kurban persembahan, memelihara hari Sabat, dan pakaian bangsa itu; pemberontakan yang meluas dalam Bilangan 16; pembelaan melalui tongkat yang bertunas dalam Bilangan 17; dan penegasan upah untuk imam-imam dan orang Lewi dalam Bilangan 18. Mengikuti semua ini, dalam Bilangan 19 kita lihat air pentahiran untuk membersihkan dan menyingkirkan pengaruh kematian yang datang dari pemberontakan besar.