SKETSA VITAL DARI WAHYU ILAHI DALAM KITAB KELUARAN, IMAMAT, DAN BILANGAN MENGENAI EKONOMI ALLAH TERHADAP UMAT PILIHAN DAN TEBUSAN-NYA (3)
Pembacaan Alkitab: Ul. 8:2
Sekarang kita sampai pada berita ketiga mengenai sketsa vital dari wahyu ilahi dalam Kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan mengenai ekonomi Allah terhadap umat pilihan dan tebusan Allah. Dalam berita ini kita akan membahas halangan-halangan yang dialami umat Allah pada perjalanan ke tanah permai.
III. HALANGAN-HALANGAN YANG DIALAMI UMAT PILIHAN
DAN TEBUSAN ALLAH PADA PERJALANAN MEREKA KE TANAH PERMAI YANG DIJANJIKAN ALLAH
Kita telah melihat bahwa umat Allah perlu menerima wahyu ilahi mengenai diri Allah dan ekonomi-Nya dan juga mereka perlu dibentuk menjadi pasukan imam. Sekarang kita akan melihat bahwa umat pilihan dan tebusan Allah juga memerlukan halangan-halangan. Percayakah Anda bahwa Anda memerlukan halangan-halangan? Entah Anda percaya atau tidak, faktanya halangan-halangan ini terjadi dan, dalam satu aspek, sebenarnya diperlukan. Sekarang kita akan melihat berbagai jenis halangan yang dialami umat pilihan dan tebusan Allah pada perjalanan mereka ke tanah permai yang dijanjikan Allah.
A. Nafsu Rakus Orang Campuran di Antara Umat Pilihan dan Tebusan Allah
Halangan pertama adalah nafsu rakus orang campuran di antara umat pilihan dan tebusan Allah (Bil. 11:4a). Apakah orang campuran ini diselamatkan? Sulit menjawab pertanyaan ini.
Mungkin Anda heran mengapa ada orang campuran di antara umat Allah yang murni. Tetapi bahkan di antara dua belas murid yang dipilih oleh Tuhan Yesus ada yang campuran, Yudas. Selain itu, perumpamaan lalang (Mat. 13:24-30, 36-43) menunjukkan bahwa di dunia ada percampuran lalang dan gandum.
1. Menghasut Nafsu Rakus Umat Pilihan dan Tebusan Allah
Nafsu rakus orang campuran muncullah, dan ini menghasut umat pilihan dan tebusan Allah. Nafsu rakus sudah ada pada umat Allah, tetapi perlu dihasut, dan dihasut oleh orang campuran. Nafsu rakus mudah dibangkitkan di antara umat Allah oleh orang campuran.
2. Sebagai Sedikit Ragi yang Mengkhamirkan Seluruh Adonan
Dalam 1Korintus 5:6 Paulus berkata, “Sedikit ragi membuat seluruh adonan mengembang.” Dalam Bilangan 11 orang campuran seperti ragi, dan ragi ini mengkhamirkan seluruh adonan umat Allah.
B. Nafsu Rakus Umat Pilihan dan Tebusan Allah
Bilangan 11:4b-15, 31-35 membicarakan nafsu rakus yang langsung berasal dari umat pilihan dan tebusan Allah.
1. Mengingat Makanan Mesir,
yang Cocok dengan Hawa Nafsu Mereka
Bilangan 11:5 mengatakan, “Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.” Di sini kita melihat bahwa umat Allah mengingat makanan Mesir (cita rasa duniawi), yang cocok dengan nafsu rakus mereka. Umat Allah bernafsu rakus untuk cita rasa duniawi.
2. Membenci Manna yang Allah Berikan
Dalam ayat 6 bangsa itu melanjutkan berkata, “Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” Ini menunjukkan bahwa mereka benci kepada manna yang Allah berikan, yang adalah lambang Kristus sebagai roti hayat. Manna ini penuh dengan rasa. Namun, manna memiliki cita rasa surgawi, bukan cita rasa Mesir. Mereka tidak menyukai cita rasa surgawi dari manna yang Allah berikan, malah membencinya.
3. Setiap Orang Menangis di Depan Kemah-Nya
Menurut Bilangan 11:10, setiap orang menangis di depan kemahnya. Mereka menangis karena makanan yang mereka makan tidak sesuai dengan cita rasa mereka.
4. Murka TUHAN Sangat Membara atas Mereka, dan TUHAN Memukul Mereka dengan Tulah Hebat
Murka TUHAN sangat membara atas bangsa itu (Bil. 11:10b), dan Dia memukul mereka dengan tulah hebat (Bil. 11:33).
C. Pemberontakan Miryam
Bilangan 12:1-15 mencatat pemberontakan Miryam, yang adalah kakak perempuan Musa. Musa adalah pemimpin pilihan Allah, dan Miryam adalah nabiah yang, setelah menyeberang Laut Merah, memimpin para perempuan memuji Allah (Kel. 15:20-21). Walaupun ia adalah kakak Musa dan melayani bersama Musa, ia ternyata memberontak menentang Musa. Ini menunjukkan bahwa bahkan mereka yang sangat dekat dengan orang yang memimpin di antara umat Allah dapat memberontak menentang orang yang memimpin.
1. Iri Hati terhadap Posisi Musa dalam Menjadi Juru Bicara Allah
Miryam memberontak karena ia iri hati terhadap posisi Musa dalam menjadi juru bicara Allah. Ia, bersama Harun berkata, “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bil. 12:2).
2. Mengambil Kelemahan Musa dalam Menikahi Perempuan Kush sebagai Alasan
Miryam mengambil kelemahan Musa sebagai alasan untuk pemberontakannya. Kelemahan itu berupa perbuatan Musa menikahi perempuan Kush (Bil. 12:1). Saya tidak tahu mengapa Musa melakukan hal ini atau kapan dia melakukan hal ini. Mungkin ini adalah titik kelemahan hayat Musa, tetapi kelemahan ini tidak merusak fungsinya. Miryam memakai kelemahan ini sebagai satu alasan, tumpuan, untuk memberontak menentang Musa.
3. Dihukum Allah, Menderita Penghukuman Kusta,
dan Diasingkan di Luar Perkemahan Selama Tujuh Hari
Allah datang menanggulangi pemberontakan Miryam. Ia dihukum Allah dan menderita penghukuman kusta (Bil. 12:6-15a), satu penyakit yang menunjukkan bahwa dosa orang ini bersifat batiniah. Karena menderita penghukuman demikian, Miryam diasingkan di luar perkemahan selama tujuh hari.
4. Perjalanan Bangsa Itu Ditunda Selama Tujuh Hari
Sebagai akibat pemberontakan dan penghukuman Miryam, perjalanan bangsa itu ditunda selama tujuh hari (Bil. 12:15). Peberontakannya benar-benar suatu halangan bagi umat Allah.
D. Ketidakpercayaan Umat Pilihan dan Tebusan Allah
Bilangan 13:28—14:4 membicarakan ketidakpercayaan umat pilihan dan tebusan Allah. Ini terjadi di Kadesh-Barnea, setelah para pengintai kembali dari mengintai tanah permai. Dengan pengecualian Kaleb dan Yosua, pengintai membawa laporan jahat, katanya, “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami” (Bil. 13:32-33). Ketika bangsa itu mendengar ini, mereka menangis. Tangisan mereka bukan saja menunjukkan ketidakpercayaan mereka, tetapi juga menunjukkan pemberontakan.
1. Membangkitkan Murka TUHAN terhadap Mereka
2. Menyebabkan Mereka Kehilangan Hak Masuk ke Tanah Permai yang Dijanjikan Allah
Ketidakpercayaan bangsa itu membangkitkan murka Allah terhadap mereka (Bil. 14:11-12). Ketidakpercayaan ini juga menyebabkan mereka kehilangan hak masuk ke tanah permai yang dijanjikan Allah (Bil. 14:22-23).
3. Allah Menghukum Mereka dengan Menyebabkan
Mereka Mengembara di Padang Gurun
dan Dihabisi di Sana
Allah menghukum bangsa itu dengan menyebabkan mereka mengembara di padang gurun dan dihabisi di sana (Bil. 14:32-35). Allah berkata kepada mereka, “Tentang anak-anakmu yang telah kamu katakan: Mereka akan menjadi tawanan, merekalah yang akan Kubawa masuk, supaya mereka mengenal negeri yang telah kamu hinakan itu. Tetapi mengenai kamu, bangkai-bangkaimu akan berhantaran di padang gurun ini” (Bil. 14:31-32).
E. Pemberontakan Korah, Datan, dan Abiram,
dengan Dua Ratus Lima Puluh Pemimpin
di Antara Perkumpulan Umat Allah
Dalam Bilangan 16:1-12 kita memiliki catatan pemberontakan korporat, pemberontakan Korah, Datan, Abiram, dan dua ratus lima puluh pemimpin. Korah adalah orang Lewi, dan Datan dan Abiram adalah pemimpin di antara bangsa itu. Mereka meyakinkan dua ratus lima puluh pemimpin untuk bergabung dalam satu komplotan untuk memberontak.
1. Iri Hati terhadap Kedudukan Tinggi Musa dan Harun
Korah, Datan, Abiram, dan dua ratus lima puluh pemimpin jemaat “. . . berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: ‘Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggininggikan diri di atas jemaah Tuhan?’” (Bil. 16:3). Ini menunjukkan bahwa pemberontak-pemberontak ini iri hati terhadap kedudukan tinggi Musa dan Harun. Perkara iri hati mengenai kedudukan dan kepemimpinan selalu menjadi masalah di antara umat Allah. Sering, mereka yang iri hati demikian memiliki ambisi tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan ambisi mereka. Sepanjang sejarah umat Allah, pemberontakan disebabkan oleh kombinasi ambisi dan kekurangan kemampuan. Ini adalah situasi dalam Bilangan 16. Korah, Datan, dan Abiram berambisi, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan seperti yang dimiliki Musa dan Harun.
2. Korah Tidak Puas Menjadi Pemimpin dalam Pelayanan Lewi,
dan Datan dan Abiram Tidak Puas Menjadi Pemimpin Jemaat Umat Allah
Korah tidak puas menjadi pemimpin dalam pelayanan Lewi, yang adalah jabatan imam sekunder, dan Datan dan Abiram tidak puas menjadi pemimpin dalam jemaat umat Allah (Bil. 16:8-11). Mereka semua ingin kedudukan tinggi, tetapi menurut kedaulatan Allah, mereka tidak memiliki kapasitas untuk kedudukan demikian.
3. Penghukuman Allah atas para Pemberontak
Dalam Bilangan 16 kita juga melihat penghukuman Allah atas para pemberontak. Walaupun Musa lemah lembut, dia memanggil Allah datang, dan Allah datang untuk menghukum para pemberontak.
a. Bumi Menelan Korah, Datan, dan Abiram,
dengan Seisi Rumahnya dan Semua Orang yang Ada pada Korah dan Segala Harta Miliknya
Bumi menelan Korah, Datan, dan Abiram, dengan seisi rumahnya dan semua orang yang ada pada mereka dan segala harta miliknya, sehingga mereka dan semua yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati (Bil. 16:31-33). Mereka pergi ke dunia orang mati tanpa mati. Saya percaya bahwa mereka adalah kelompok orang pertama yang binasa secara demikian.
b. Api Turun dari TUHAN dan Memakan Habis Dua Ratus Lima Puluh Pemimpin
Menurut Bilangan 16:35, api turun dari TUHAN dan memakan habis dua ratus lima puluh pemimpin.
c. Murka TUHAN Selanjutnya Memakan Habis Empat Belas Ribu Tujuh Ratus Orang dengan Tulah
Akhirnya, murka TUHAN menghabisi empat belas ribu tujuh ratus orang dengan tulah (Bil. 16:44-49). Ini adalah penghakiman yang sangat serius. Penghakiman Allah di sini adalah penghakiman rangkap tiga, melibatkan bumi, api, dan tulah. Bagi para pemberontak ini adalah satu penghakiman, tetapi bagi seluruh jemaat orang Israel, semua perkara ini adalah halangan. Namun, melalui halangan-halangan ini, dan khususnya melalui penghakiman Allah, bangsa itu disaring, dibersihkan, dan dimurnikan.
F. Siasat dan Pengajaran Bileam
Halangan lain untuk umat pilihan dan tebusan Allah adalah siasat dan pengajaran Bileam (Bil. 31:16; Why. 2:14b).
1. Mengajar Balak untuk Menyandung Umat Pilihan dan Tebusan Allah
Bileam mengajar Balak untuk menyandung umat pilihan dan tebusan Allah melalui membujuk mereka berzina dengan anak-anak perempuan Moab, yang membuat mereka menyembah berhala (Bil. 25:1-2). Sulit untuk dipercaya bahwa sejumlah besar umat Allah dapat melakukan dosa perzinaan, yang merusak diri mereka sendiri, dan penyembahan berhala, yang memalukan persona Allah. Bagaimanapun juga, banyak orang Israel jatuh ke dalam dosa-dosa ini.
2. Melalui Ini, Umat Pilihan dan Tebusan Allah Membangkitkan Murka Allah
untuk Membinasakan Dua Puluh Empat Ribu Orang dari Mereka dengan Tulah
Melalui kejatuhan ke dalam perzinaan dan penyembahan berhala ini, umat pilihan dan tebusan Allah menyebabkan Allah membinasakan dua puluh empat ribu orang dari mereka dengan tulah (Bil. 25:3, 9). Ini adalah penyaringan, pembersihan, dan pemurnian yang besar. Melalui halangan ini orang Israel dimurnikan, dan setelah pemurnian ini mereka dihitung kembali Berkenaan dengan apa saja yang negatif dalam situasi dan keadaan kita, perlu ada halangan-halangan. Saya telah memperhatikan hal ini pada saat saya menghadapi pemberontakan di antara kita. Apakah kita menyadari hal ini atau tidak dan apakah kita memahaminya atau tidak, kita perlu dimurnikan melalui halangan-halangan.
G. Semua Halangan Ini Seharusnya Dianggap
sebagai Sarana Supaya Umat Tebusan Allah
Menjadi Rendah Hati Melalui Penderitaan-penderitaan
dan Menguji Mereka pada Perjalanan Mereka di Padang Gurun
Semua halangan yang dialami umat pilihan dan tebusan Allah seharusnya dianggap sebagai sarana supaya umat Allah menjadi rendah hati melalui penderitaan-penderitaan dan menguji mereka pada perjalanan mereka di padang gurun (Ul. 8:2). Begitulah situasi kita hari ini. Berbagai halangan dipakai Allah untuk merendahkan kita dan menguji kita. Saat kita melakukan perjalanan melalui padang gurun yang luas dan mengerikan, kita akan mengalami halangan-halangan lagi dan lagi. Sebagaimana beberapa orang menjadikan dirinya sendiri kurban untuk kebaikan orang Israel, hari ini banyak orang berkurban untuk kebaikan kita, khususnya untuk membersihkan dan memurnikan kita. Dari sini kita melihat sekali lagi bahwa catatan perjalanan orang Israel di padang gurun adalah catatan perjalanan kita hari ini. Halangan-halangan yang mereka alami dalam perjalanan mereka juga akan kita alami dalam perjalanan kita. Karena itu, sangatlah membantu bila kita membahas halangan-halangan yang dicatat dalam Kitab Bilangan.