SKETSA VITAL DARI WAHYU ILAHI DALAM KITAB KELUARAN, IMAMAT, DAN BILANGAN MENGENAI EKONOMI ALLAH TERHADAP UMAT PILIHAN DAN TEBUSAN-NYA (1)
Pembacaan Alkitab: Kel. 3:1-18; 19:1-6; Im. 1:1-2; Bil. 1:1
Dalam berita ini kita akan memulai menyajikan sketsa vital (sangat penting) dari wahyu ilahi dalam Kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan mengenai ekonomi Allah terhadap umat pilihan dan tebusan-Nya. Kita dapat memakai empat slogan untuk meringkas aspek penting tertentu dari sketsa vital ini: “Dibeli, ditebus, dan diselamatkan dari belenggu kejatuhan”; “Menikmati Kristus, menerima wahyu, dan dibangunkan dalam Allah Tritunggal”; “Dibentuk menjadi pasukan imam untuk berperang bagi Allah dan menempuh perjalanan bersama Allah”; serta “Dimiliki oleh Allah untuk memperoleh Kristus yang almuhit sebagai tanah permai”. Slogan ini adalah perbauran lambang Perjanjian Lama dan penggenapan perlambangan ini dalam Perjanjian Baru. Ini seharusnya tidak mengherankan karena kedua bagian Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah satu. Kita dapat berkata bahwa Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Lama ini dimanifestasikan dalam Perjanjian Baru.
Empat slogan ini berlaku bagi kaum beriman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kaum beriman telah dipilih, ditebus, dan diselamatkan dari belenggu kejatuhan. Kaum beriman Perjanjian Lama diselamatkan dari perbudakan di Mesir, dan kita telah diselamatkan dari perbudakan Iblis. Setelah beroleh selamat, kita sekarang menikmati Kristus. Seperti bani Israel di Gunung Sinai, kita juga telah menerima wahyu ilahi dan dibangunkan dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Kita dibangunkan dengan Putra sebagai perwujudan Bapa dan dengan Roh itu sebagai realisasi Putra. Selain itu, kita dibentuk menjadi pasukan imam. Istilah pasukan imam mungkin sa-tu istilah Perjanjian Lama, tetapi ini juga cocok dengan Perjanjian Baru yang menggenapkan perlambangan Perjanjian Lama. Pasukan imam ini berperang bagi Allah dan menempuh perjalanan bersama Allah. Ketika kita berperang bagi Allah dan bagi kerajaan-Nya, kita menempuh perjalanan bersama Dia. Akhirnya, kita telah disiapkan oleh Allah dalam segala aspek untuk memperoleh Kristus yang al-muhit sebagai tanah permai. Persiapan ini diwahyukan dalam lima pasal terakhir Kitab Bilangan, yang mencantumkan pengaturan awal pembagian tanah permai. Pengaturan awal ini mempersiapkan umat Allah untuk memasuki tanah permai dan memperolehnya.
Dalam berita ini dan dalam empat berita selanjutnya, kita akan menyajikan sketsa vital dari wahyu ilahi dalam Kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan mengenai ekonomi Allah terhadap umat pilihan dan tebusan-Nya. Kata “ekonomi” tidak digunakan dalam Perjanjian Lama, tetapi ditemukan dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam tulisan Paulus, yang menekankan perkara ekonomi Allah. Walaupun perkataan ini tidak digunakan dalam Kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan, perlambangan dalam kitab-kitab ini menyingkapkan ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah pemerintah-Nya beserta dengan rencana-Nya, tujuan-Nya, dan pengaturan-Nya untuk merampungkan rencana-Nya dan mencapai tujuan-Nya untuk menggenapkan kedambaan hati-Nya. Kedambaan ini adalah mendapatkan sekelompok orang yang bukan hanya diciptakan oleh Dia, tetapi juga yang dilahirkan kembali, dikuduskan, diubah, dan diserupakan dengan gambar Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Akhirnya, umat ini akan dibawa ke dalam kemuliaan, ke dalam ekspresi Allah Tritunggal. Ini adalah ekonomi Allah. Dalam Perjanjian Lama kita memiliki gambaran ekonomi Allah; dalam Perjanjian Baru kita memiliki pembicaraan yang jelas mengenai ekonomi Allah.
I. UMAT PILIHAN DAN TEBUSAN ALLAH
PERLU MENERIMA WAHYU ILAHI
MENGENAI DIRI ALLAH DAN EKONOMI-NYA
AGAR DILATIH DAN DIBANGUN
SEBAGAI KESAKSIAN-NYA
Umat pilihan dan tebusan Allah perlu menerima wahyu ilahi mengenai diri Allah dan ekonomi-Nya agar dilatih dan dibangun sebagai kesaksian-Nya. Karena pemilihan Allah atas umat-Nya ada dalam Kitab Kejadian, maka butir ini mencakup Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran. Dalam Kitab Kejadian umat Allah dipilih, dan dalam Kitab Keluaran mereka menerima wahyu ilahi mengenai Allah dan tempat tinggal-Nya.
A. Setelah Berbagian dalam Keselamatan Awal Allah
seperti Direalisasikan dalam Paskah
Umat pilihan Allah menerima wahyu ilahi setelah mereka berbagian dalam keselamatan awal Allah seperti direalisasikan dalam Paskah (Kel. 12). Allah membawa umat-Nya keluar dari Mesir ke gunung Allah, Gunung Sinai, dan memberi mereka wahyu penuh mengenai tempat tinggal-Nya di antara umat manusia di bumi. Kita dapat mengatakan wahyu itu berisi “cetak biru” untuk pembangunan tempat tinggal Allah. Untuk tinggal di antara umat manusia, Allah perlu umat yang bukan saja dipilih dan ditebus, tetapi juga siap menerima wahyu ilahi mengenai Dia dan tempat tinggal-Nya. Seperti yang ditunjukkan Kitab Keluaran kepada kita, umat Allah menerima wahyu ini dan mereka membangun Kemah Suci menurut cetak biru itu. Ketika Kemah Suci didirikan, kemuliaan Allah turun ke atasnya.
B. Melalui Menikmati Persediaan Ilahi
Wahyu ilahi adalah melalui menikmati persediaan ilahi seperti mencicipi suplai manna surgawi dan air hidup yang mengalir dari bukit batu yang dipukul (Kel. 16; 17:1-7).
C. Melalui Mengalami Menjadi Pasukan yang Berbagian
dalam Peperangan Allah Melawan Musuh-musuh-Nya
Wahyu ilahi juga diberikan melalui mengalami menjadi pasukan yang berbagian dalam peperangan Allah melawan musuh-musuh-Nya, seperti dalam peperangan mereka melawan orang Mesir dan orang Amalek (Kel. 14; 17:9-16).
D. Mencapai dan Tiba di Gunung Allah
Akhirnya, dalam Keluaran 19 umat pilihan dan tebusan Allah mencapai dan tiba di gunung Allah. Ketika Allah mengutus Musa untuk menolong bani Israel terlepas dari tangan Firaun, Allah memberi tahu Musa bahwa setelah dia membawa umat itu keluar dari Mesir, mereka akan melayani Tuhan di atas gunung ini (Kel. 3:12). Dalam Keluaran 19 perkataan ini digenapi.
1. Menerima Wahyu Ilahi Mengenai diri Allah,
supaya Mereka Disisihkan kepada Allah yang Kudus sebagai Umat-Nya yang Dikuduskan
Di Gunung Sinai umat Allah menerima wahyu mengenai diri Allah, supaya mereka disisihkan kepada Allah yang kudus sebagai umat-Nya yang dikuduskan (Kel. 20—24). Mengenai wahyu tentang diri Allah, yang kita maksudkan adalah hukum Taurat. Hukum Taurat adalah menggambarkan Allah. Sebelum orang Israel menerima wahyu mengenai bangunan Allah, Allah memberi mereka gambaran diri-Nya untuk memperlihatkan kepada mereka seperti apakah Allah itu. Hukum Taurat mewahyukan bahwa Allah adalah Allah kasih dan terang dan bahwa Dia kudus dan benar. Karena itu, kasih, terang, kudus, dan benar adalah perkataan penting yang menggambarkan karakteristik Allah Tritunggal yang mahakuasa. Sebagai Allah kasih dan terang, Dia benar-benar kudus; yaitu, Dia tidak umum, berbeda, dan terpisah dari segala sesuatu yang lain di alam semesta. Selain itu, Allah sepenuhnya benar. Dia benar dengan diri-Nya sendiri, Dia benar dalam segala yang Dia lakukan, dan Dia benar terhadap manusia dan semua ciptaan-Nya. Ini adalah Allah sebagai Dia yang diwahyukan dalam gambar dalam Keluaran 20—24. Dalam Perjanjian Baru kita memiliki penjelasan Allah, tetapi kita tidak memiliki gambar Allah. Yohanes memberi tahu kita dengan jelas bahwa Allah adalah kasih dan terang, dan Paulus memberi tahu kita bahwa Allah yang adalah kasih dan terang mutlak kudus dan benar. Sepuluh Perintah adalah lambang yang melambangkan Kristus sebagai gambaran Allah, sebagai ekspresi gambar Allah. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Anak Allah, Yesus Kristus, adalah ekspresi gambar substansi Allah. Memakai istilah modern, kita dapat berkata bahwa Kristus adalah “foto” Allah. Melihat Dia adalah melihat Allah.
Hukum Taurat juga adalah foto Allah. Melalui mempelajari perintah-perintah hukum Taurat, kita dapat melihat bahwa Allah adalah kasih dan terang dan bahwa Dia adalah kudus dan benar. Karena hukum Taurat adalah foto Allah yang demikian, maka hukum Taurat disebut kesaksian Allah (Kel. 25:16, 21; 31:18 Tl.). Tabut yang di dalamnya hukum Taurat ditempatkan disebut tabut kesaksian (Kel. 25:22 Tl.), dan Kemah Suci disebut Kemah kesaksian (Kel. 38:21 Tl.). Dalam Kitab Mazmur hukum Taurat sering disebut sebagai kesaksian (Mzm. 19:8; 25:10; 119:2 Tl.). Kesaksian ini adalah foto, gambar Allah.
Umat Allah menerima wahyu mengenai Allah sendiri, supaya mereka disisihkan kepada Allah yang kudus sebagai umat-Nya yang dikuduskan. Perkara ini khususnya ditekankan dalam Kitab Imamat. Sebagai contoh, Imamat 11:44 mengatakan, “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus.”
2. Menerima Wahyu Ilahi Mengenai Ekonomi Allah,
supaya Mereka Dapat Dibangun Bersama Allah dalam Trinitas Ilahi-Nya
sebagai Tempat Tinggal-Nya di Bumi untuk Kesaksian-Nya
Selain menerima wahyu ilahi mengenai diri Allah, orang Israel juga menerima wahyu ilahi mengenai ekonomi Allah, supaya mereka dapat dibangun bersama Allah dalam Trinitas ilahi-Nya sebagai tempat tinggal-Nya di bumi untuk kesaksian-Nya (Kel. 25—40). Wahyu mengenai ekonomi Allah meliputi wahyu mengenai pengaturan, pemerintahan, dan kehendak ilahi. Umat Allah harus dibangun bersama Dia. Hal ini ditunjukkan oleh bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk membangun Kemah Suci. Sebagai contoh, papan-papan Kemah Suci, seperti tabut, dibuat dari kayu penaga yang dilapisi emas. Papan-papan kayu penaga adalah lambang umat Allah, dan emas yang melapisi papan melambangkan Persona ilahi. Jadi, papan kayu penaga yang dilapisi emas melambangkan umat Allah dibangun bersama Allah menjadi tempat tinggal-Nya. Dari sini kita melihat bahwa umat Allah adalah bahan-bahan bangunan untuk tempat tinggal-Nya, juga melihat Allah sendiri adalah bahan bangunan.
Dalam Kemah Suci kita dapat melihat gambaran Tri-nitas ilahi. Melihat bahwa Kemah mewahyukan Kristus Putra itu agak mudah. Sebagai contoh, tabut, meja roti sajian, dan mezbah ukupan semua melambangkan Putra. Tetapi di mana kita melihat Allah Bapa dan Allah Roh? Bapa dilambangkan oleh emas, karena dalam perlambangan emas melambangkan sifat Allah, yang tidak diragukan, berhubungan dengan Allah Bapa. Allah Roh dilambangkan dengan minyak dalam tujuh pelita di kaki pelita. Jika pelita tidak memiliki minyak, mereka tidak berguna, dan tidak akan ada terang dalam Kemah Suci. (Di sini kita juga mau menekankan bahwa kaki pelita, yang adalah satu kesatuan, melambangkan Allah Tritunggal. Emas melambangkan Bapa, bentuk melambangkan Putra, dan minyak melambangkan Roh.) Karena itu, pada Kemah Suci kita memiliki Allah Tritunggal,dengan Putra dilambangkan oleh perabotan, Bapa dilambangkan oleh emas, dan Roh dilambangkan oleh minyak dan keinsanian, yang dilambangkan oleh kayu penaga. Ini adalah wahyu tentang umat Allah yang dibangun dengan Allah Tritunggal menjadi tempat tinggal-Nya di bumi.
Seluruh Kemah Suci adalah kesaksian Allah. Seperti telah kita tekankan, dua loh hukum Taurat disebut loh kesaksian, tabut disebut tabut kesaksian, dan Kemah Suci disebut Kemah kesaksian. Karena itu, seluruh Kemah Suci, dari dalam sampai luar, dianggap kesaksian Allah. Ini berarti Kemah Suci adalah foto Allah Tritunggal. Selain itu, Allah Tritunggal sebenarnya adalah tempat tinggal-Nya sendiri, sebab penghuni dan tempat tinggal adalah satu. Penghuni adalah tempat tinggal. Empat puluh delapan papan Kemah berhubungan dengan empat puluh delapan kota yang diberikan kepada orang Lewi. Enam dari kota-kota ini menjadi kota-kota perlindungan. Butir yang sangat ditekankan sehubungan dengan kota-kota perlindungan adalah mereka dapat dimasuki. Akhirnya, keempat puluh delapan kota orang Lewi ini akan rampung dalam kota yang unik, Yerusalem Baru. Kemah Suci yang diwahyukan dalam Kitab Keluaran adalah miniatur kota yang unik ini. Dalam Perjanjian Lama kesaksian Allah adalah Kemah Suci, dan dalam Perjanjian Baru kesaksian Allah adalah gereja, Tubuh Kristus. Dalam kekekalan kesaksian ini akan rampung dalam Yerusalem Baru, yang juga di sebut Kemah Allah (Why. 21:3). Jadi, ada Kemah Suci dalam Perjanjian Lama, ada Kemah Suci dalam Perjanjian Baru, dan akan ada Kemah Suci dalam kekekalan. Dalam Perjanjian Lama Kemah Suci ada bersama orang Israel, dan dalam Perjanjian Baru Kemah Suci mula-mula adalah Kristus (Yoh. 1:14) dan kemudian gereja sebagai perbesaran Kristus. Dalam kekekalan akan ada Kemah Suci yang rampung sempurna, Yerusalem Baru. Dalam setiap keadaan, butir yang ditekankan adalah Kemah Suci dapat dimasuki. Pintu masuk ke dalam Kemah Suci tersedia bagi kita hari ini. Haleluya, Allah Tritunggal dapat dimasuki!
3. Menerima Wahyu Ilahi Mengenai Jabatan Imam Allah
dengan Segala Kurban Persembahannya dan Pelayanannya
Akhirnya, umat pilihan dan tebusan Allah menerima wahyu ilahi mengenai jabatan imam Allah dengan segala kurban persembahan dan pelayanannya. Seluruh Kitab Imamat adalah catatan wahyu ini.