← Daftar isi Bilangan (2) · bab 20/27

PEPERANGAN (15)

Pembacaan Alkitab: Bil. 33:50-56; 34:1-29

Dalam berita ini, yang membahas pengaturan lebih dulu pembagian tanah permai, kita akan melihat ketetapan untuk mewarisi tanah permai (Bil. 33:50-56), batas-batas tanah permai dan orang-orang yang membagikannya (Bil. 34:1-29).

B. Ketetapan untuk Mewarisi Tanah Permai

1. Diberikan kepada Musa di Dataran Moab di Tepi Sungai Yordan Dekat Yerikho

Ketetapan-ketetapan ini diberikan kepada Musa di dataran Moab di tepi Sungai Yordan dekat Yerikho (Bil. 33:50); tanah yang menghadapi banyak masalah. Bahkan hari ini, tanah di sebelah timur Yordan adalah tanah yang bermasalah.

2. Bani Israel Menghalau Semua Penduduk Negeri Itu,

Membinasakan Segala Batu Berukir dan Patung Tuangan Mereka,

Memusnahkan Segala Bukit Pengorbanan Mereka, Menduduki dan Mendiami Negeri Itu

TUHAN memerintahkan Musa untuk berkata kepada bangsa itu, “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke tanah Kanaan, maka haruslah kamu menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu dan membinasakan segala batu berukir kepunyaan mereka; juga haruslah kamu membinasakan segala patung tuangan mereka dan memusnahkan segala bukit pengurbanan mereka. Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam di sana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki” (Bil. 33:51-53). Ayat-ayat ini mewahyukan bahwa setelah menghalau penduduk yang jahat dari negeri itu, mereka harus membinasakan segala berhala dan bukit pengurbanan, tempat-tempat penyembahan berhala. Hanya demikian, mereka baru bersyarat memiliki negeri itu dan menikmatinya.

Prinsipnya sama dengan kenikmatan kita atas Kristus hari ini. Kristus telah diberikan kepada kita sebagai bagian kita untuk kenikmatan kita, namun ada syarat yang harus kita penuhi untuk memiliki kenikmatan ini. Syarat ini adalah kita harus bekerja sama dengan ketetapan Allah untuk menghalau segala sesuatu di dalam kita yang bukan Allah dan Kristus. Ini berarti kita harus membinasakan segala berhala di dalam kita. Berhala adalah segala sesuatu selain Allah yang menduduki kita. Kedudukan, pekerjaan yang baik, rumah yang bagus, posisi atau jabatan, nama yang baik, semua ini dapat menjadi berhala yang menduduki kita. Kita harus membinasakan setiap berhala yang mungkin ada di dalam kita, tidak meninggalkan tumpuan di dalam kita untuk menyembah berhala. Tanpa menanggulangi berhala di dalam kita, kita tidak dapat memiliki kenikmatan yang sejati atas Kristus.

Banyak orang mungkin berbicara tentang menikmati Kristus, tetapi bagi mereka hal itu hanya satu slogan. Dapat atau tidaknya kita memiliki kenikmatan yang sejati atas Kristus tergantung pada tingkat pembersihan manusia batiniah kita. Hari ini Kristus sebagai tanah permai ada di dalam kita, tetapi kenikmatan atas tanah permai ini memerlukan pembersihan mutlak atas segala sesuatu selain Allah yang menduduki kita. Bahkan memberi tumpuan kecil untuk menyembah sesuatu yang bukan Allah akan menghambat kenikmatan kita atas Kristus. Semoga kita semua membersihkan setiap macam berhala dengan tuntas, sehingga kita dapat menikmati Kristus sebagai tanah permai.

3. Mewarisi Negeri Itu Melalui Undi Menurut Suku Nenek Moyang Mereka

“Maka haruslah kamu membagi negeri itu sebagai milik pusaka dengan membuang undi menurut kaummu: kepada yang besar jumlahnya haruslah kamu memberikan milik pusaka yang besar, dan kepada yang kecil jumlahnya haruslah kamu memberikan milik pusaka yang kecil; yang ditunjuk oleh undi bagi masing-masing, itulah bagian undiannya; menurut suku nenek moyangmu haruslah kamu membagi milik pusaka itu” (Bil. 33:54). Di sini kita lihat bahwa bani Israel mewarisi negeri itu menurut dua hal: menurut suku mereka dan menurut undi. Ukuran suku adalah perkara perluasan dalam hayat, dan undi adalah perkara kedaulatan Allah. Ini menunjukkan bahwa kenikmatan atas Kristus hari ini terutama tergantung pada perluasan hayat kita dan pada kedaulatan Allah.

4. Konsekuensi Tidak Menghalau Penduduk Negeri Itu dari Hadapan Mereka

Dalam Bilangan 33:55-56 kita lihat konsekuensi tidak menghalau penduduk negeri itu dari hadapan mereka. Jika umat Allah tidak menghalau penduduk itu, maka orang-orang yang mereka tinggalkan hidup di tengah mereka akan menjadi seperti selumbar di mata mereka dan seperti duri yang menusuk lambung mereka. Selain itu, penduduk itu akan menjadi celaka bagi mereka di negeri yang mereka diami, dan Allah akan melakukan kepada mereka seperti yang Dia rancang untuk dilakukan kepada penduduk itu. Ini berarti bagian orang kafir di bawah kutuk Allah akan menjadi bagian orang Israel.

C. Batas-batas Tanah Permai dan Orang-orang yang Membagi-bagikannya

1. Batas-batas Tanah Permai

Bilangan 34:1-15 membicarakan batas-batas tanah permai. Batas-batas tanah Kanaan melambangkan Kristus dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya.

a. Batas Sebelah Selatan

Batas sebelah selatan (Bil. 34:3-5) adalah dari padang gurun Sin menyusur Edom; dari ujung Laut Asin (Laut Mati) di sebelah timur, membelok di selatan ke pendakian Akrabim, terus ke Zin dan berakhir di sebelah selatan Kadesh-Barnea. Sesudah itu ia mencapai Hazar-Adar, dan terus ke Azmon, membelok dari Azmon ke Sungai Mesir dan berakhir ke Laut Besar (Laut Tengah).

b. Batas Sebelah Barat

Batas sebelah barat (ayat 6) menyusur Laut Besar dan pantainya, dari selatan sampai utara. Laut Besar melambangkan kematian Kristus yang almuhit.

c. Batas Sebelah Utara

Batas sebelah utara (ayat 7-9) adalah mulai dari Laut Besar sampai ke Gunung Hor, dari Gunung Hor sampai ke jalan yang menuju Hamat, lalu batas itu mencapai Zedad. Kemudian batas itu mencapai Zifron dan berakhir di Hazar-Enan.

d. Batas Sebelah Timur

Batas sebelah timur (ayat 10-12) dari Hazar-Enan ke Sefam, dari Sefam batas itu turun ke Ribla, di sebelah timur Ain, mencapai tebing Danau Kineret (Danau Galilea) di sebelah timur, turun ke Sungai Yordan (melambangkan kematian Kristus) dan berakhir di Laut Asin. Bagian terbaik dari tanah permai dikelilingi oleh dua laut, Laut Tengah dan Laut Mati dan satu sungai, sungai Yordan. Dua laut dan satu sungai ini melambangkan kematian Kristus. Ini menunjukkan bahwa kenikmatan atas Kristus berkaitan erat dengan kematian-Nya. Karena itu, kenikmatan kita atas Kristus ada dalam ruang lingkup, wilayah kematian-Nya.

Batas-batas tanah permai juga menunjukkan bahwa ini adalah satu tanah yang diangkat, ditinggikan. Ini melambangkan Kristus yang naik ke surga, Kristus yang surgawi. Kristus yang kita nikmati dalam kekayaan-Nya adalah Kristus yang bangkit dan naik ke surga. Kristus yang disalibkan dan dikuburkan telah masuk ke dalam kita dalam kebangkitan, dan sekarang kita ada di dalam kenaikan-Nya, menikmati Dia sebagai tanah yang ditinggikan dengan segala kekayaannya.

e. Batas-batas Negeri Itu yang Diberikan kepada Sembilan Setengah Suku

“Musa memerintahkan kepada orang Israel: ‘Itulah negeri yang akan kamu bagi sebagai milik pusaka dengan membuang undi, yang diperintahkan TUHAN untuk diberikan kepada suku yang sembilan setengah itu. Sebab suku bani Ruben menurut puak-puak mereka dan suku bani Gad menurut puak-puak mereka telah menerima milik pusakanya; juga suku Manasye yang setengah itu telah menerimanya. Dua setengah suku itu telah menerima milik pusaka mereka di seberang sungai Yordan di dekat Yerikho, ke sebelah timur” (Bil. 34:13-15). Ayat 1-12 menggambarkan batas-batas negeri yang diberikan kepada sembilan setengah suku. Tanah yang diberikan kepada dua setengah suku, tanah yang sesuai dengan pilihan mereka, dapat diraih tanpa menyeberang Sungai Yordan. Ini menunjukkan bahwa tanah itu di luar kematian Kristus dan dengan demikian sebenarnya bukan bagian tanah permai. Pilihan kita sendiri juga di luar kematian Kristus dan karena itu tidak ada hubungan dengan kenikmatan sejati atas Kristus yang kaya. Jika kita tidak melewati kematian Kristus, kita tidak dapat masuk ke dalam ruang lingkup kebangkitan dan kenaikan-Nya. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita seharusnya tidak memiliki pilihan kita sendiri. Kapan kala kita memiliki pilihan kita, kita ada di luar kematian Kristus, dan akibatnya tidak ada dalam ruang lingkup kebangkitan dan kenaikan-Nya untuk menikmati Dia sebagai Dia yang surgawi, yang ditinggikan.

Seperti ditunjukkan oleh lambang tanah permai, Kristus yang diberikan kepada kita melalui ketetapan Allah adalah Kristus yang besar, Kristus yang luas. Namun, ukuran Kristus yang kita alami sebenarnya tergantung pada kita. Dalam diri-Nya, Kristus adalah seluas alam semesta dan tidak berubah-ubah ukurannya, tetapi pengalaman kita atas Kristus ini bisa berbeda-beda ukurannya. Untuk beberapa orang, Kristus mungkin hanya sebidang tanah yang sempit; untuk orang lain, Dia mungkin wilayah yang sangat luas. Sebagaimana pengalaman kita atas Kristus sebagai kurban-kurban persembahan mungkin berbeda-beda ukurannya, anak domba, anak burung merpati; demikian pula, pengalaman kita atas Kristus sebagai tanah permai mungkin juga berbeda-beda.

2. Orang-orang yang Membagikan Tanah Permai

Dalam Bilangan 34:16-29 tercatat nama orang-orang yang membagikan tanah permai. Pemimpin-pemimpin dari dua setengah suku tidak termasuk dalam daftar orang yang membagikan. Dua setengah suku itu memiliki sesuatu, tetapi apa yang mereka miliki bukan bagian tanah permai. Dalam prinsip, situasi kita dalam hidup gereja mungkin demikian. Kita mungkin memiliki pilihan sendiri dan mendapat sesuatu. Apa yang kita dapatkan mungkin kelihatannya sesuai dengan janji Allah, tetapi sebenarnya hanya sesuatu yang sesuai dengan pilihan kita sendiri dan tidak dapat dianggap sebagai bagian dari janji Allah.

a. Imam Eleazar dan Yosua Bin Nun

“Inilah nama orang-orang yang harus membagikan tanah itu kepadamu sebagai milik pusaka: imam Eleazar dan Yosua bin Nun” (Bil. 34:17). Eleazar dan Yosua keduanya melambangkan Kristus. Di satu pihak, Kristus adalah Imam kita; di pihak lain, Dia adalah Pemimpin kita.

b. Seorang Pemimpin dari Setiap Suku

Bilangan 34:18 mengatakan, “Lagi haruslah kamu mengambil seorang pemimpin dari setiap suku untuk membagikan tanah itu sebagai milik pusaka.” Dalam ayat 19-28 kita memiliki daftar para pemimpin ini: Kaleb, dari suku Yehuda, yang pertama; Samuel, dari suku Simeon; Elidad, dari suku Benyamin; Buki, dari suku Dan; Haniel, dari suku Manasye; Kemuel, dari suku Efraim; Elisafan, dari suku Zebulon; Paltiel, dari suku Isakhar; Ahihud, dari suku Asyer; dan Pedael, dari suku Naftali. “Itulah orang-orang yang diperintahkan TUHAN untuk membagikan milik pusaka kepada orang Israel di tanah Kanaan” (Bil. 34:29).

Daftar nama ini tidak memasukkan nama pemimpin dua setengah suku. Ini tentu ada maknanya. Saya percaya bahwa nama-nama mereka tidak disebutkan karena suku-suku tersebut membuat pilihannya sendiri. Hari ini, jika kita memiliki pilihan kita sendiri, nama-nama kita mung-kin tidak termasuk pada “daftar nama” Allah. Mengenai ini, kita seharusnya tidak memperhatikan opini, penilaian, apresiasi, kritik, dan kecaman manusia. Hari ini adalah “hari manusia” (1Kor. 4:3), zaman di mana manusia menghakimi. Mari kita tunggu hari Tuhan ketika Dia akan menghakimi (1Kor. 4:4-5). Hanya Tuhan yang bersyarat memberikan perkataan akhir. Karena itu, mari kita belajar untuk tidak memiliki pilihan kita sendiri, yang menjaga kita di luar kematian Kristus. Kita harus memperhatikan pilihan Tuhan, bukan pilihan kita, dan semoga nama-nama kita ada pada daftar nama-Nya, bukan daftar nama kita.

c. Perbedaan antara Para Pemimpin dalam Pasal 1 dan Pasal 34

Akhirnya, kita perlu melihat bahwa ada perbedaan antara para pemimpin dalam Bilangan 1 dan Bilangan 34. Para pemimpin dalam pasal 1 adalah untuk penghitungan; para pemimpin dalam pasal 34 adalah untuk pembagian tanah permai. Batas-batas tanah permai dan orang-orang yang membagikan tanah permai sangat bermakna.