← Daftar isi Bilangan (2) · bab 17/27

PEPERANGAN (12)

Pembacaan Alkitab: Bil. 31:1-12

Dalam berita ini kita akan mulai melihat penaklukan orang Midian oleh orang Israel (Bil. 31:1-54).

IX. MENGALAHKAN ORANG MIDIAN

Bilangan 27—30 membahas masalah penghitungan kembali, ketetapan hukum warisan tanah untuk perempuan, kematian dan pengganti Musa, ketetapan mengenai kurban-kurban persembahan sebagai makanan Allah, dan ketetapan mengenai nazar. Dalam Bilangan 31 kita melihat bahwa orang Israel perlu mengalahkan orang Midian pengganggu itu. Musuh ini harus dikalahkan. Kalau tidak, ketika umat Allah hendak memasuki tanah permai, orang Midian ada di belakang mereka, dan dapat menyebabkan masalah serius. Musuh ini harus dikalahkan. Karena itu, Allah memerintahkan Musa untuk memusnahkan orang Midian.

A. Orang Midian

Apa yang dilambangkan orang Midian ini? Dalam perlambangan, orang Midian melambangkan kenajisan hawa nafsu daging, yang berhubungan dengan Satan, si Iblis dan dunia. Pada daging ada hawa nafsu, dan pada hawa nafsu ada kekotoran, kenajisan, yang berhubungan dengan Iblis dan dunia. Perjanjian Lama memberi kita gambaran tentang orang Midian. Orang Midian adalah keturunan Abraham, lahir dari istri keduanya, Ketura. Maka, secara alamiah mereka adalah kerabat dekat orang Israel dalam daging (Kej. 25:1-2). Orang Midian bersatu dengan orang Moab, keturunan Lot yang lahir melalui perbuatan sumbang dalam hawa nafsu daging (Bil. 22:3-4, 7; Kej. 19:30-38). Selain itu, orang Midian bersatu dengan orang Ismael, keturunan Abraham melalui daging, yang menjual Yusuf ke Mesir (Kej. 37:27-28, 36). Orang Midian juga berhubungan dengan orang Amalek, keturunan Esau (Hak. 6:3, 33; Kej. 36:12). Akhirnya, orang Midian menghasilkan Bileam, yang menjerat bani Israel dalam perzinaan dan penyembahan berhala (Bil. 22:7; 31:16).

Kita perlu menyadari bahwa ketika kita mencari kepentingan Tuhan, musuh, kenajisan hawa nafsu daging yang dilambangkan oleh orang Midian, berada tepat di belakang kita. Musuh ini memiliki sejumlah kerabat dan rekan jahat. Selain itu, pada musuh ini, kenajisan ini, tersembunyi nabi palsu. Nabi palsu ini berusaha menjerat kita dan menghalangi kita menggenapkan kedambaan Allah.

B. Perintah Tuhan untuk Pembalasan Orang Israel kepada Orang Midian

Dalam Bilangan 31:1-2 kita melihat perintah TUHAN untuk pembalasan orang Israel kepada orang Midian. Dengan menjerat bani Israel dalam perzinaan dan penyembahan berhala, orang Midian menyerang orang Israel sampai puncaknya, mengakibatkan lebih dari dua puluh ribu jiwa meninggal. Allah tidak akan melupakan hal itu, dan Dia memerintahkan Musa untuk membalas perbuatan orang Midian kepada bani Israel. Orang Midian harus dikalahkan dan dimusnahkan sama sekali.

C. Strategi Musa

Dalam Bilangan 31:3-6 kita lihat strategi Musa dalam menanggulangi orang Midian. “Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: ‘Baiklah sejumlah orang dari antaramu mempersenjatai diri untuk berperang, supaya mereka melawan Midian untuk menjalankan pembalasan TUHAN terhadap Midian. Dari setiap suku di antara segala suku Israel haruslah kamu menyuruh seribu orang untuk berperang’” (Bil. 31:3-4). Karena itu, dari ribuan orang Israel, ada dua belas ribu laskar untuk berperang (Bil. 31:5). Selain itu, Musa mengutus Pinehas, anak imam Eleazar untuk berperang, “dengan membawa perkakas tempat kudus dan nafiri-nafiri pemberi tanda semboyan” (Bil. 31:6). Karena Pinehas memiliki hati yang dipenuhi dengan cemburu Allah dan melakukan sesuatu yang sangat diperkenan Allah ketika orang Israel jatuh ke dalam perzinaan dan penyembahan berhala, maka Allah ingin Musa mengutus dia keluar dengan perkakas tempat kudus dan dengan nafiri. Perkakas untuk melindungi, dan nafiri pemberi tanda semboyan. Pinehas tentu memiliki pikiran yang bijaksana dan daya pembeda yang baik untuk mencari cara melindungi pasukan Allah dan tahu saat apa dan mengenai perkara apa tanda semboyan dibunyikan.

Strategi Musa melawan orang Midian menuntut orang Israel sehati dengan tidak ada perbedaan opini. Dalam catatan di sini kita tidak dapat melihat opini apa pun, walaupun ada banyak orang bijak di antara lebih dari enam ratus ribu orang yang dihitung kembali. Jika kita ada di sana, kita mungkin tidak setuju dengan perintah Musa mengutus seribu orang dari setiap suku untuk berperang. Sebaliknya, kita mungkin mengusulkan, karena setiap suku berbeda jumlahnya, maka suku yang besar harus menyediakan laskar yang lebih banyak dan suku yang lebih kecil harus menyediakan lebih sedikit. Kita mungkin berpikir bahwa Musa terlalu tua untuk membedakan situasi dan merencanakan strategi yang benar. Usulan seperti ini sebenarnya jubah yang menutupi opini. Namun, dalam Bilangan 31, tidak seorang pun, termasuk perempuan, yang menyatakan opini. Bangsa itu bertindak menurut strategi Musa. Ini menunjukkan bahwa mereka ada dalam kesehatian.

Kita juga perlu memelihara kesehatian untuk pergerakan Tuhan dalam pemulihan-Nya hari ini. Pada tahun 1984, setelah mempelajari situasi pemulihan Tuhan, saya menyadari bahwa kita perlu menempuh jalan baru. Untuk jalan ini, kita perlu sehati. Mengenai hal ini, saya berbeban untuk mengumpulkan para penatua dalam beberapa sidang yang penting. Dalam sidang-sidang ini, yang diselenggarakan pada bulan Februari 1986, saya berbicara mengenai perkara kesehatian untuk pergerakan Tuhan. Saya memberi tahu saudara-saudara bahwa saya tidak mengharapkan setiap orang menempuh jalan baru, tetapi harapan saya adalah tidak ada seorang pun yang mengkritik jalan ini atau menentangnya. Kritik dan penentangan menimbulkan masalah dan mengakibatkan perpecahan. Memakai pasukan Gideon sebagai satu ilustrasi, saya menunjukkan bahwa pasukan ini mengalahkan musuh bagi bangsa Israel. Saya juga berkata bahwa satu gereja yang tidak mengikuti jalan baru tetap gereja, sama seperti orang Israel yang tidak bergabung dalam pasukan Gideon tetap orang Israel. Harapan saya adalah banyak orang yang mau bergabung dengan saya dalam pasukan untuk berperang bagi kepentingan Tuhan, dan kaum beriman yang lain, jangan mengkritik atau menentang, melainkan mendukung pasukan ini. Walaupun demikian, segera setelah memulai pelatihan di Taipei pada bulan Agustus tahun yang sama, ada beberapa saudara yang bertindak terlalu dini, tidak menunggu melihat apa hasil dari pelatihan, mulai mengkritik dan menentang. Mula-mula saudara-saudara ini mengkritik, dan kemudian mereka menentang. Ini diikuti oleh serangan mereka atas pemulihan Tuhan dan usaha mereka untuk menghancurkannya. Kita perlu belajar dari hal ini, bahwa untuk bisa sehati bagi pergerakan Tuhan, kita seharusnya tidak menyatakan opini kita, melainkan kembali kepada firman.

Saya percaya bahwa kemenangan Israel atas orang Midian dikarenakan fakta bahwa orang Israel memelihara kesehatian. Mereka yang keluar berperang dalam peperangan ini dan mereka yang tidak berperang bersatu dengan Musa. Tentunya, banyak dari mereka yang tinggal di rumah berdoa untuk mereka yang pergi berperang. Akhirnya, karena bangsa itu sehati, barang rampasan dibagikan bukan saja di antara orang yang berperang, tetapi juga di antara mereka yang tinggal di rumah. Ada kesehatian di antara orang yang berperang, dan ada kesehatian juga di antara orang Israel yang tidak berperang, termasuk perempuan-perempuan. Semua orang, yang tua dan yang muda, memelihara kesehatian. Karena itu, mereka meraih kemenangan.

D. Kemenangan Orang Israel atas Orang Midian

Bilangan 31:7-12 menggambarkan kemenangan orang Israel atas orang Midian. Orang Israel membunuh setiap laki-laki di antara orang Midian (Bil. 31:7). Mereka juga membunuh Bileam dan lima raja orang Midian (Bil. 31:8). Selain itu, orang Israel menawan perempuan dan anak-anak orang Midian dan menjarah segala ternak, dan kekayaan mereka (Bil. 31:9). Mereka juga membakar segala kota orang Midian dan seluruh perkemahan mereka (Bil. 31:10), dan kemudian mereka membawa segala jarahan dan rampasan kepada Musa, kepada imam Eleazar, dan kepada umat Israel (Bil. 31:11-12). Semua ini dikarenakan kesehatian di antara orang Israel.