PEPERANGAN (11)
Pembacaan Alkitab: Bil. 30:1-16
Bilangan 28:1—30:16 adalah bagian yang berhubungan dengan ketetapan-ketetapan, yang adalah hukum tambahan. Ketetapan-ketetapan ini mengatur dua hal: kurban-kurban persembahan (Bil. 28:1—29:40) dan nazar (Bil. 30:1-16).
B. Mengenai Nazar
Ketetapan mengenai nazar mengikuti ketetapan mengenai kurban persembahan, yang adalah makanan Allah. Adalah tugas dan tanggung jawab kita untuk menyajikan kurban-kurban persembahan kepada Allah, sedangkan nazar adalah sukarela. Allah menginginkan kita melakukan sesuatu yang melebihi sekadar melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita untuk memenuhi permintaan-Nya. Dia menginginkan kita melakukan suatu tambahan, bernazar kepada-Nya. Satu contoh dari nazar khusus adalah nazar orang Nazir dalam Bilangan 6. Dalam hidup gereja hari ini, kita juga memiliki dua perkara: memenuhi tuntutan Allah dan bernazar kepada Dia. Jika kita hanya memenuhi tuntutan Allah, kita belum mencapai standar tertinggi. Kita perlu bernazar kepada Allah, merelakan diri bernazar secara pasti dan khusus. Menurut sejarah gereja, semua orang yang dipakai Allah untuk menggenapkan ministri Perjanjian Baru-Nya adalah sukarelawan. Mereka bukan hanya menggenapkan tuntutan Allah, tetapi juga dengan sukarela bernazar kepada Dia. John Nelson Darby adalah contoh orang demikian. Dia menggenapkan tuntutan Allah, dan dia juga bernazar untuk tetap membujang demi keperluan dalam hidup gereja.
Sampai tingkat apa Tuhan memakai kita tergantung pada nazar kita. Tentu saja, nazar tidak terbatas pada perkara pernikahan. Kita bisa bernazar kepada Tuhan mengenai banyak hal. Semakin tinggi nazar kita, semakin banyak Tuhan memakai kita. Saya harap banyak orang muda dalam pemulihan Tuhan akan terjamah dan terinspirasi untuk bernazar kepada Allah. Pemulihan Tuhan memerlukan orang muda yang bernazar kepada Allah. Seorang muda yang dengan sukarela bernazar mungkin berkata, “Tuhan, melalui belas kasihan dan anugerah-Mu, aku telah menggenapkan tuntutan Perjanjian Baru-Mu. Tetapi aku mau melakukan sesuatu sebagai tambahan. Aku mau bernazar untuk hidup bagi Engkau dengan mutlak.” Kita semua perlu bernazar kepada Tuhan seperti itu.
1. Orang yang Bernazar dan Bersumpah kepada TUHAN dan Mengikat Dirinya dengan Janji
Orang yang bernazar dan bersumpah kepada TUHAN dan mengikat dirinya dengan janji tidak boleh melanggar perkataannya (Bil. 30:1-2a). Sebaliknya, dia harus melakukan semua yang diucapkan mulutnya (Bil. 30:2b). Ini menunjukkan bahwa ketika kita bernazar kepada Allah, kita harus menggenapinya. Jika kita melanggar perkataan kita, kita akan menderita kerugian.
2. Seorang Perempuan yang Bernazar kepada TUHAN, Mengikat Dirinya dengan Janji ketika Ia masih Gadis di dalam Rumah Ayahnya
Bilangan 30:3-5 membicarakan seorang perempuan yang bernazar kepada TUHAN dan mengikat dirinya dengan janji ketika ia masih gadis di rumah ayahnya. Dalam kasus demikian, keputusan terakhir harus dibuat oleh ayahnya. Di sini perempuan melambangkan orang beriman, dan ayah melambangkan Allah Bapa. Dalam pandangan Allah, semua orang beriman adalah perempuan. Keputusan terakhir mengenai setiap nazar yang kita ucapkan kepada Allah akan diputuskan oleh Bapa.
3. Nazar Perempuan yang Bersuami Diputuskan oleh Suaminya
Dalam Bilangan 30:6-8 kita lihat bahwa nazar perempuan yang bersuami diputuskan oleh suaminya. Suami di sini melambangkan Kristus Tuhan. Sebagai kaum beriman, kita semua memiliki Allah sebagai Bapa kita dan Kristus sebagai Tuhan kita. Sebagai perempuan yang ada di dalam rumah Bapa dan yang memiliki Kristus sebagai Suami kita, kita tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan terakhir mengenai nazar-nazar kita. Keputusan terakhir harus dibuat oleh Allah Bapa atau Kristus Tuhan.
4. Nazar Seorang Janda atau Perempuan yang Diceraikan
Nazar seorang janda atau perempuan yang diceraikan tetap berlaku baginya, dan ia perlu memenuhinya (Bil. 30:9). Tetapi jika nazarnya atau sumpahnya dibuat di rumah suaminya, suaminyalah yang memutuskan (Bil. 30:10-15). Ini menunjukkan bahwa dalam hubungan dengan Allah Bapa dan Kristus Tuhan, kaum beriman telah kehilangan hak mereka sebagai manusia. Di hadapan Allah Bapa atau di hadapan Kristus Tuhan, kita tidak memiliki hak apa pun.
Bilangan 30:3-15 mewahyukan betapa seriusnya Allah dalam hal otoritas. Seorang gadis yang tinggal di rumah ayahnya harus tunduk kepada ayahnya. Seorang perempuan yang bersuami harus tunduk kepada suaminya. Namun, seorang janda atau perempuan yang diceraikan berdiri sendiri. Saya tidak ingin seperti janda atau perempuan yang diceraikan. Saya lebih suka memiliki seorang bapak, Allah Bapa dan seorang suami, Kristus Tuhan. Betapa baiknya memiliki Allah sebagai Bapa kita dan Kristus sebagai Suami kita! Karena saya memiliki Allah sebagai Bapa saya dan Kristus sebagai Suami saya, maka saya bisa memiliki damai sejahtera. Sebaliknya, orang duniawi, berperilaku seperti janda atau perempuan yang diceraikan. Mereka tidak memiliki Allah sebagai Bapa mereka dan Kristus sebagai Tuhan mereka. Mereka berdiri sendiri, memikul tanggung jawab sendiri. Kita berbeda dari orang duniawi. Kita adalah perempuan yang memiliki Bapa dan Tuhan. Kita harus membawa segala sesuatu dan membiarkan keputusan akhir dibuat oleh Bapa kita dan Suami kita.