← Daftar isi Bilangan (2) · bab 12/27

PEPERANGAN (7)

Pembacaan Alkitab: Bil. 27:1-11

VI. KETETAPAN HUKUM BAGI WARISAN

PEREMPUAN ATAS TANAH

Dalam Bilangan 27:1-11 kita melihat ketetapan hukum bagi warisan perempuan atas tanah.

A. Permohonan dari Putri-putri Zelafehad

Putri-putri Zelafehad berkata, “Mengapa nama ayah kami harus hapus dari tengah-tengah kaumnya, oleh karena ia tidak mempunyai anak laki-laki? Berilah kami tanah milik di antara saudara-saudara ayah kami” (Bil. 27:4). Menurut ketentuan Allah, hanya laki-laki yang memiliki hak warisan. Namun, di sini beberapa perempuan memohon warisan. Seperti akan kita lihat, Allah menghargai permohonan mereka.

1. Salah Satu Keluarga Manasye Bin Yusuf

Bilangan 27:1-4 membicarakan permohonan putri-putri Zelafehad. Mereka adalah salah satu keluarga Manasye bin Yusuf. Ini adalah satu lambang yang berhubungan dengan hayat dan persekutuan hayat. Fakta bahwa putri-putri Zelafehad adalah salah satu dari keluarga Manasye bin Yusuf menunjukkan bahwa mereka ada dalam hayat dan persekutuan hayat dari asal usul yang tepat. Dalam Alkitab, warisan diserahkan menurut silsilah. Silsilah adalah perkara hayat, dan hayat ini berhubungan dengan suku, kaum, dan keluarga. Konsepsi dasar dalam perlambangan dalam Bilangan 27 berkaitan dengan hayat. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kita di dalam Kristus melibatkan hayat yang kita terima di dalam Dia. Hayat memiliki sumbernya, dan hayat diterima oleh kita dalam cara tertentu, melalui saluran khusus. Cara kita menerima hayat ilahi sangatlah penting. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita semua telah menerima hayat ilahi, tetapi ada perbedaan dalam sarana atau saluran yang melaluinya kita menerima hayat ini.

Sarana menerima hayat ilahi berkaitan dengan keluarga rohani kita. Menurut lambang dalam Kitab Bilangan, yang berkaitan dengan sumber hayat dan sarana menerima hayat, apa adanya kita dan keberadaan kita kelak tergantung pada keluarga kita. Perkara ini sangat penting, yaitu melalui siapa kita beroleh selamat dan menerima Tuhan Yesus, karena kehidupan kristiani dengan aktivitasnya tergantung pada sumber hayat dan saluran hayat. Inilah alasannya kita diberi tahu, dalam lambang, bahwa penghitungan bangsa ini dilaksanakan menurut rumah ayah mereka. Ini adalah syarat mendasar. Setiap orang yang tidak memiliki rumah, sekalipun dia adalah orang Israel sejati, tidak memiliki silsilah dan tidak bersyarat untuk dihitung. Agar terhitung, orang Israel harus memiliki tumpuan yang kuat yang berhubungan dengan sumber hayat dan saluran hayat. Prinsipnya sama dengan kita hari ini. Kita harus memiliki tumpuan yang kuat dalam sumber hayat, dan kita harus memiliki saluran yang tepat untuk menerima hayat ilahi. Saluran ini adalah sarana yang melaluinya kita berada dalam hayat ilahi.

2. Adalah Perempuan

Permohonan dalam Bilangan 27:4 dibuat oleh lima orang perempuan. Perempuan melambangkan orang yang lemah. Di mata Allah, kita semua adalah perempuan. Ini berarti di dalam diri kita, kita semua adalah orang yang lemah, bahkan orang yang sangat lemah. Hanya Kristus yang kuat. Secara rohani, di alam semesta hanya ada satu laki-laki, Allah yang diwujudkan dalam Kristus. Karena itu, Kristus adalah Suami satu-satunya. Semua orang beriman, termasuk saudara-saudara, adalah perempuan. Dalam penciptaan Allah saya adalah laki-laki, tetapi dalam ciptaan baru Allah, saya adalah perempuan. Kelima anak perempuan Zelafehad melambangkan kita, dan permohonan mereka adalah untuk kita semua.

3. Memiliki Kedambaan untuk Memiliki Warisan Ayah Mereka

Putri-putri Zelafehad memiliki kedambaan untuk memiliki warisan ayah mereka. Dalam perlambangan, ini melambangkan memiliki perhatian atas warisan, anugerah yang diberikan oleh Allah; ini melambangkan kedambaan untuk mewarisi anugerah Allah, untuk mewarisi Kristus sebagai anugerah yang diberikan kepada kita oleh Allah. Kita semua perlu belajar mengajukan permohonan ini. Damba memiliki Kristus sebagai kenikmatan kita adalah perkara yang indah, dan ini menyenangkan Allah.

Kelihatannya putri-putri Zelafehad memohon sesuatu untuk diri mereka sendiri. (Allah tidak senang dengan permohonan yang untuk diri kita sendiri.) Sebenarnya, mereka memohon sesuatu untuk kepentingan ayah mereka, yang tidak memiliki anak laki-laki, hanya memiliki anak perempuan (Bil. 27:4a). Dalam hukum Taurat ada ketetapan yang mengatakan bahwa jika seorang laki-laki menikah kemudian mati tanpa melahirkan anak laki-laki, maka warisannya dengan istrinya jatuh ke tangan saudaranya, yang dengan istrinya, melahirkan anak laki-laki untuk saudaranya. Anak laki-laki yang dilahirkan oleh istri saudara yang pertama melalui saudara yang kedua harus mengemban nama bukan dari saudara yang kedua, tetapi nama saudara yang pertama, supaya nama saudara yang pertama bisa tetap tinggal di antara umat Allah. Dengan demikian akan ada keturunan untuk mengingat saudara yang pertama. Putri-putri Zelafehad prihatin nama ayah mereka akan dicoret dari keluarganya dan warisannya akan beralih kepada seseorang di luar keluarganya. Mereka menginginkan warisan ayah mereka jatuh kepada seseorang yang lahir untuk dia, supaya namanya dapat diingat di antara sukunya. Karena itu, permohonan mereka bukan untuk mereka sendiri, tetapi untuk ayah mereka. Dengan membuat permohonan berdasarkan hayat, mereka menginginkan nama ayah mereka diingat.

Permohonan ini menyenangkan Allah. Dia tidak menginginkan setiap anak-Nya tanpa keturunan. Sebaliknya, Dia ingin anak-anak-Nya tetap dalam sejarah umat-Nya. Jika satu dari umat-Nya tidak memiliki keturunan, Dia akan mencari cara untuk menyediakan keturunan untuk dia, supaya dia dapat diingat dalam sejarah umat-Nya.

B. Ketetapan Hukum Allah

Ketika Musa membawa kasus lima putri Zelafehad ke hadapan TUHAN (Bil. 27:5), TUHAN berkata kepada dia, “Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar; memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya di tengah-tengah saudara-saudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya hak atas milik pusaka ayahnya” (Bil. 27:7). Tuhan tampaknya berkata, “Permohonan mereka adalah benar, menyukakan Aku. Aku tidak suka melihat umat-Ku mati tanpa diingat dalam sejarah umat-Ku. Permohonan kelima putri ini sesuai dengan kedambaan-Ku.”

Kelima anak perempuan itu diberi warisan di antara saudara-saudara ayah mereka. Namun, ada syarat yang mengikat, yaitu mereka tidak boleh menikah dengan suku yang lain (Bil. 36:2-3, 6-7). Kita dapat menerapkan lambang dalam Bilangan 27:1-11 kepada situasi kita sebagai kaum beriman hari ini. Di dalam Kristus kita memiliki hak untuk mewarisi hal-hal ilahi. Kita perlu memohon hak warisan kita, dan Allah akan mengabulkan permohonan ini. Namun, ada syarat yang harus kita penuhi: kita tidak boleh menikah dengan orang di luar “suku” kita.’ Suku kita hari ini adalah Kristus dan gereja. Dalam Bilangan 27:8-11 kita melihat aspek lebih lanjut dari ketetapan hukum ini. Jika seorang Israel mati dan tidak memiliki anak laki-laki, warisannya akan diberikan kepada anak perempuannya (Bil. 27:8). Jika dia tidak memiliki anak perempuan, warisannya akan diberikan kepada saudaranya (Bil. 27:9). Jika dia tidak memiliki saudara, warisannya akan diberikan kepada saudara ayahnya (Bil. 27:10). Jika ayahnya tidak memiliki saudara, warisannya akan diberikan kepada kerabat terdekat dari keluarganya (Bil. 27:11). Ini melambangkan bahwa memiliki kenikmatan atas Kristus harus berdasarkan hubungan kita dalam hayat.

Hubungan dalam hayat yang kita miliki akan menentukan kenikmatan yang akan kita miliki. Ini berarti tingkat hubungan kita dalam hayat menentukan jumlah kenikmatan kita atas Kristus. Kenikmatan atas Kristus dapat dibedakan dalam jenis dan tingkatannya. Jika pengalaman kita atas hayat tinggi, kenikmatan kita atas Kristus juga akan tinggi. Namun, jika pengalaman kita atas hayat rendah dan sangat terbatas, kenikmatan kita atas Kristus juga akan rendah dan sangat terbatas. Kenikmatan atas Kristus diukur oleh pengalaman kita atas hayat. Bagian Kitab Bilangan mengenai ketetapan hukum bagi warisan perempuan atas tanah sebenarnya berkaitan dengan Kristus dan gereja. Mungkin Anda heran di mana kita dapat melihat Kristus dan gereja dalam Bilangan 27:1-11. Ayat-ayat ini sering mengacu kepada warisan, makna warisan tanah permai. Dalam perlambangan, tanah permai melambangkan Kristus, dan warisan tanah permai melambangkan kenikmatan kita atas Kristus. Jadi, dalam ayat-ayat ini Kristus dilambangkan oleh warisan tanah permai. Tetapi di manakah kita dapat melihat gereja? Gereja dilambangkan oleh rumah ayah, yang disebutkan dalam Bilangan 26:2 dan yang dinyatakan dan diasumsikan dalam Bilangan 27. Gereja hari ini adalah rumah Allah (1Tim. 3:15), dan kita yang dulu adalah pendatang dan orang asing sekarang adalah “anggota keluarga Allah” (Ef. 2:19). Kita semua adalah anggota rumah Bapa. Sebagai anggota keluarga Allah, kita memiliki sumber hayat yang sejati, dan mendapatkan saluran dan sarana hayat.

Walaupun kita memiliki hak untuk menikmati warisan atas tanah permai, untuk melaksanakan hak ini, kita perlu rumah dan saluran. Terpisah dari rumah dan saluran, kita tidak dapat melaksanakan hak kita atas warisan. Kita perlu sumber dan saluran. Sumber adalah hayat, dan saluran adalah persekutuan hayat. Banyak dari kita dapat bersaksi bahwa dalam gereja kita telah menerima hayat ilahi dan menikmati persekutuan hayat ilahi. Menerima hayat ilahi dan menikmati persekutuan hayat ilahi menghasilkan kenikmatan atas Kristus. Namun, orang-orang yang berbeda pendapat, memiliki konsepsi yang salah mengenai menikmati Kristus. Mereka menyatakan bahwa kita tidak seharusnya memperhatikan pekerjaan apa pun, tetapi harus memperhatikan menikmati Kristus saja. Jenis kenikmatan yang mereka promosikan tidak seimbang. Menurut Yohanes 15, kenikmatan atas Kristus yang tepat adalah kenikmatan yang seimbang, sebab ini berhubungan dengan berbuah. Kenikmatan atas Kristus yang tidak menghasilkan buah tidaklah tepat dan tidak seimbang. Sebenarnya, menikmati Kristus semacam itu adalah salah dan tidak sejati. Alkitab mewahyukan jika kita memiliki kenikmatan yang sejati atas tanah permai, kita akan memiliki hasil. Jika seseorang mengaku menikmati warisannya atas tanah permai, tetapi tidak pernah menuai, kita berhak mempertanyakan kenikmatan apa yang dia bicarakan itu. Kenikmatannya mungkin tidak tepat dan bahkan palsu, karena kenikmatan itu tidak menghasilkan tuaian. Menuai pada waktunya adalah bukti kenikmatan kita atas Kristus sebagai tanah permai.

Perlambangan dalam Kitab Bilangan mewahyukan bahwa jika kita ingin menikmati Kristus sebagai warisan kita, berbagian dalam kekayaan Kristus, kita harus menempuh hidup gereja. Untuk menikmati Kristus, kita harus menempuh hidup gereja. Hidup gereja adalah sesuatu yang berhubungan dengan persekutuan kita dengan mereka yang dekat dengan kita. Bilangan 27:8-11 menunjukkan bahwa mendapatkan warisan, mendapatkan kenikmatan atas Kristus, adalah berdasar pada hubungan kita dalam hayat. Mungkin lebih baik mengganti “hubungan”, perkataan manusia, dengan “persekutuan”, perkataan ilahi. Persekutuan kita dengan kaum beriman dalam gereja adalah semacam hubungan. Kita harus memiliki hubungan ini, persekutuan ini, jika kita ingin memiliki kenikmatan atas Kristus. Jika kita kehilangan persekutuan kita dengan kaum beriman, kita juga akan kehilangan kenikmatan kita atas Kristus. Dari sini kita melihat bahwa meninggalkan hidup gereja sangat riskan dan berbahaya, seperti yang dilakukan beberapa orang terkasih. Mereka yang meninggalkan hidup gereja dengan persekutuan hayat, secara spontan kehilangan hak mereka untuk mewarisi kenikmatan atas Kristus. Semoga kita semua diterangi mengenai perkara penting ini dan tetap tinggal dalam persekutuan hayat dengan kaum beriman, anggota-anggota keluarga besar Allah.