PEPERANGAN (8)
Pembacaan Alkitab: Bil. 27:12-23
VII. KEMATIAN MUSA DAN PENERUSNYA
Dalam berita ini kita akan melihat kematian Musa dan penerusnya.
A. Kematian Musa
Pada saat Bilangan 27:12-23, Musa berusia seratus dua puluh tahun. Mengetahui bahwa Musa sudah sangat tua dan dia dapat meninggal kapan pun, orang Israel yang berpikiran panjang pasti memikirkan umat Allah dan pergerakan Allah bersama umat-Nya. Mereka mungkin berkata dalam hati, “Apa yang akan terjadi bila Musa meninggal? Siapa yang akan menjadi penerusnya?”
Sebenarnya, tidak perlu orang Israel merisaukan hal ini. Mereka dapat dengan damai menikmati hadirat Allah, yakin bahwa Dia tahu segala sesuatu dan Dia akan menangani situasi. Ini seharusnya juga menjadi sikap kita dalam hidup gereja hari ini. Apakah Anda mencemaskan gereja? Jangan mengira kecemasan Anda itu dibenarkan Allah? Perhatian kita untuk gereja dan kecemasan kita tentang gereja mungkin tidak dibenarkan oleh Allah. Boleh jadi Dia tidak membenarkan kecemasan kita, sebaliknya, Dia mungkin berkata, “Tenang saja. Jangan cemaskan kekacauan. Aku tahu situasi itu.”
1. TUHAN Menyuruh Musa Naik ke Gunung Abarim dan Memandang Negeri Itu
TUHAN menyuruh Musa naik ke Gunung Abarim dan memandang negeri itu (Bil. 27:12). Musa hanya dapat memandang negeri itu; dia tidak diizinkan memasukinya.
2. Musa Dikumpulkan kepada Kaum Leluhurnya
Tuhan berkata kepada Musa, “Sesudah engkau memandangnya, maka engkau pun juga akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, abangmu, dahulu” (Bil. 27:13; 20:24-29). Ayat ini tidak mengatakan bahwa Musa akan mati, melainkan dia akan dikumpulkan. Pengumpulan ini adalah sesuatu seperti tuaian. Musa “matang,” dan dia segera “dituai”. Pengumpulan ini, penuaian ini, adalah akhir hayat Musa.
3. Musa telah Memberontak terhadap Firman Allah
Musa tidak dapat masuk ke tanah permai karena, di padang gurun Sin, dia telah memberontak terhadap firman Allah untuk menguduskan Dia dalam hal air di depan mata orang Israel (Bil. 27:14; 20:10-13). Musa bertindak berkebalikan dengan sifat Allah dan ekonomi Allah. Kegagalan serius ini menyebabkan dia kehilangan hak untuk masuk ke dalam tanah Kanaan. Namun, meskipun Musa tidak dapat memasuki tanah permai karena kegagalannya, namun dia akan berada dalam Kerajaan Seribu Tahun. Matius 16:28—17:4 menunjukkan bahwa Musa pasti ada dalam kerajaan.
Apakah Musa memiliki akhir yang mulia? Tampaknya, karena kesalahannya, akhir hidupnya tidak mulia. Memang, tidak ada perayaan. Karena kegagalannya, akhir hidupnya tidak mulia, tetapi ministrinya jelas mulia.
B. Penerus Musa
1. Musa Meminta TUHAN Mengangkat Seorang untuk Mengepalai Jemaat Israel
Musa berkata kepada TUHAN, “Biarlah TUHAN, Allah dari roh segala makhluk, mengangkat atas umat ini seorang yang mengepalai mereka waktu keluar dan masuk, dan membawa mereka keluar dan masuk, supaya umat TUHAN jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala” (Bil. 27:16-17). Yang Musa perhatikan bukanlah dirinya sendiri serta kegagalannya untuk masuk tanah permai. Dia bukanlah tipe orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan keadaannya sendiri. Meskipun ia sudah sangat tua, ia sangat memperhatikan umat Allah, melihat bahwa mereka memerlukan seorang gembala.
2. TUHAN Memberi Tahu Musa untuk Meletakkan Tangannya ke Atas Yosua dan Memerintahkan Yosua Menjadi Penerusnya
a. Yosua Adalah Seorang yang Penuh Roh
TUHAN menyuruh Musa untuk mengambil Yosua bin Nun, seorang yang penuh Roh, meletakkan tangannya ke atas dia, menyuruh dia berdiri di hadapan imam besar Eleazar dan segenap umat, dan memerintahkan dia di depan mata mereka untuk menjadi penerus (Bil. 27:18-19).
b. Musa Memberi Sebagian Kewibawaannya ke Atas Yosua
“Dan berilah dia sebagian dari kewibawaanmu, supaya segenap umat Israel mendengarkan dia” (Bil. 27:20). Kewibawaan di sini adalah kehormatan dan kemuliaan.
c. Yosua Berdiri di Depan Imam Eleazar, yang Menanyakan Keputusan Urim untuk Dia di Hadapan TUHAN
“Ia harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN; atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu” (Bil. 27:21). Keluaran 28:30 mengatakan tentang menaruh Urim dan Tumim pada tutup dada pernyataan keputusan yang dikenakan imam besar. Tutup dada berisi dua belas batu, dan setiap batu bertuliskan nama satu suku Israel. Dalam buku The Ancient Scriptures and the Modern Jew karangan David Baron ada tambahan artikel mengenai Urim dan Tumim. Menurut artikel ini, dua belas nama pada tutup dada mencakup delapan belas dari dua puluh dua huruf dalam abjad Ibrani. Sisa empat huruf diletakkan pada satu keping yang disebut Tumim. Kata Ibrani “Tumim” berarti “penyempurna” atau “pelengkap”. Maka, pada tutup dada dengan tambahan keping yang disebut Tumim, dapat ditemukan dua puluh dua huruf abjad Ibrani. Huruf-huruf ini dapat dipakai untuk mengeja kata-kata dan kalimat.
Selain itu, menurut artikel ini, Urim adalah penerang yang disisipkan ke dalam tutup dada di bawah dua belas batu. Dalam kata Ibrani “Urim” berarti “terang” atau “penerang”. Artikel ini selanjutnya mengatakan bahwa Urim memiliki dua belas penerang, satu penerang untuk setiap batu pada tutup dada. Ketika Urim dan Tumim ditambahkan ke tutup dada, mereka menyebabkannya menjadi tutup dada pernyataan keputusan. Ketika Allah membawa umat-Nya ke padang gurun, Dia berbicara kepada mereka melalui Musa. Allah berbicara kepada Musa berhadap-hadapan. Tetapi Yosua, penerus Musa, harus menerima pimpinan Allah bukan melalui pembicaraan langsung-Nya seperti cara Dia berbicara kepada Musa, tetapi melalui Urim dan Tumim pada tutup dada yang dikenakan oleh imam Eleazar. Kapan kala Yosua perlu pimpinan mengenai pergerakan bangsa itu, dia harus pergi kepada imam besar, yang kemudian menerima pimpinan dari Allah melalui sarana Urim dan Tumim.
Walaupun Yosua dijadikan pemimpin, dia tidak memiliki hak menerima petunjuk ilahi secara langsung. Sebaliknya, imam besar menerima petunjuk Allah dan kemudian menyampaikannya kepada Yosua, yang bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Imam besar memiliki hak untuk menerima petunjuk ilahi, tetapi tidak memiliki hak atau otoritas untuk melaksanakan arahan-arahan ini. Otoritas untuk melaksanakan petunjuk ilahi diberikan kepada pemimpin, kepada Yosua. Bangsa itu kemudian akan keluar dan masuk menurut petunjuk yang diberikan kepada imam dan dilaksanakan oleh Yosua.
Pemerintahan Allah di antara umat-Nya bukanlah perkara otokrasi atau demokrasi, tetapi teokrasi. Pemerintahan ilahi ini, teokrasi ini, dilaksanakan melalui koordinasi imam besar, yang menerima petunjuk Allah, dan pemimpin, yang melaksanakan petunjuk tersebut.
Ketika Musa memimpin bangsa itu ke padang gurun, pemerintahan ilahi tidak tergantung pada koordinasi dua orang, imam besar dan pemimpin, tetapi pada satu orang, Musa. Musa adalah pemimpin, dan dia juga berfungsi sebagai seorang imam. (Harun tidak banyak membantu.) Namun, setelah Musa, pemerintahan ilahi tergantung pada dua orang, satu imam besar dan satu pemimpin. Begitulah keadaannya sepanjang generasi dalam Perjanjian Lama, kecuali pada masa Daud melayani sebagai pemimpin dan sebagai imam yang mengenakan efod (rompi yang dikenakan pada jubah imam). Ketika bani Israel pulang dari pembuangan, Yosua yang adalah imam besar dan Zerubabel, keturunan raja, adalah pemimpin. Kedua orang ini bekerja sama untuk melaksanakan teokrasi, pemerintahan ilahi.
3. Musa Melakukan seperti yang Diperintahkan TUHAN kepadanya
Maka Musa melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya. “Ia memanggil Yosua dan menyuruh dia berdiri di depan imam Eleazar dan di depan segenap umat itu, lalu ia meletakkan tangannya atas Yosua dan memberikan kepadanya perintahnya, seperti yang difirmankan TUHAN dengan perantaraan Musa” (Bil. 27:22-23).