← Daftar isi Bilangan (2) · bab 10/27

PEPERANGAN (5)

Pembacaan Alkitab: Bil. 25:1-18; 31:2; Why. 2:14b

Dalam berita ini kita akan melihat kejatuhan orang Israel ke dalam perzinaan dan penyembahan berhala. Namun, sebelumnya saya akan meninjau ulang hal-hal yang penting, unsur-unsur mendasar, dalam Bilangan 20 sampai 24. Dalam perlambangan, kelima pasal ini menyajikan kepada kita satu gambaran Kristus dan gereja. Bilangan 20 memperlihatkan kepada kita Kristus sebagai bukit batu yang dipukul, yang dalam kebangkitan, mengalirkan air hidup untuk memenuhi keperluan kita (Bil. 20:8). Kristus telah dipukul, disalibkan, dan Dia tidak perlu dipukul lagi. Sekarang Dia ada dalam kebangkitan, mengalirkan air hidup untuk memuaskan dahaga orang. Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan ada di sini untuk memenuhi keperluan kita. Selama kita memiliki Dia, Allah tidak bermasalah dengan kita dan kita tidak bermasalah dengan Allah.

Dalam Bilangan 21, kita melihat aspek lainnya dari Kristus. Pertama, sebagai ular tembaga, Kristus adalah pengganti kita (Bil. 21:8-9). Dia menjadi sama seperti kita dalam sifat dengan pengecualian bahwa di dalam Dia tidak ada dosa. Dia serupa dengan daging dosa (Rm. 8:3), tetapi Dia tidak memiliki sifat dosa, hanya seperti ular tembaga yang memiliki bentuk ular tanpa memiliki sifat racun ular. Karena Kristus datang dalam rupa daging dosa, Dia dapat menjadi pengganti kita, memikul penghakiman Allah dan merampungkan penebusan. Sebagai pengganti kita, Kristus telah membereskan bukan saja masalah dosa-dosa luaran, tetapi juga masalah sifat dosa kita di batin. Setelah membereskan masalah-masalah ini melalui penyaliban-Nya, dalam kebangkitan Dia telah menjadi mata air, sumur (Bil. 21:17), yang memancarkan air hidup, yang adalah Roh Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung. Dalam pengalaman kita, kita perlu menggali sumur ini (Bil. 21:18). Jika kita menggali sumur, kita akan menjadi bangsawan dan pemimpin-pemimpin. Selain itu, seperti ditunjukkan Bilangan 33, Kristus adalah tanah tujuan kita, tanah perhentian kita. Karena itu, Kristus adalah pengganti kita, sumur kita, dan tanah perhentian kita. Ketika kita menikmati Dia sebagai tanah perhentian kita, kita tidak memiliki kesalahan atau kekurangan.

Dalam Bilangan 23 dan 24 kita memiliki empat sajak yang diucapkan Bileam, nabi dari bangsa kafir. Sajak-sajak ini mewahyukan banyak hal mengenai gereja, dengan sajak keempat mewahyukan sesuatu mengenai Kristus. Mari kita lebih dulu memperhatikan apa yang diperlihatkan sajak ini kepada kita mengenai gereja. “Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir!” (Bil. 23:9b). Ini menunjukkan bahwa gereja tersusun dari orang-orang yang disisihkan, orang-orang khusus, orang yang dikuduskan untuk Allah. Gereja tidak bercampur dengan bangsa-bangsa, tetapi berdiri sendiri. “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel” (Bil. 23:21a). Ini menunjukkan bahwa di mata Allah, gereja adalah sempurna, tidak memiliki kesalahan. Gereja adalah sempurna karena gereja ada di dalam Kristus. “Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel!” (Bil. 24:5). Ini menunjukkan bahwa dalam penampilan, gereja itu indah. Ringkasnya, kita lihat dalam sajak yang pertama bahwa gereja memiliki tumpuan yang khusus; dalam sajak yang kedua, gereja adalah sempurna di mata Allah; dan dalam sajak yang ketiga, penampilan gereja adalah elok, indah.

Sajak Bileam yang keempat berisi nubuat mengenai Kristus (Bil. 24:17). Satu gereja yang dikuduskan, sempurna, dan indah adalah gereja yang penuh dengan Kristus. Gereja dapat menjadi kudus, sempurna, dan indah karena gereja memiliki Kristus. Kristus adalah isi gereja. Kristus adalah penyusun gereja dan setiap bagian gereja. Dalam gereja sebagai manusia baru, Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu (Kol. 3:10-11).

Kristus yang dinubuatkan dalam Bilangan 24:17 bukanlah Kristus yang bumiah, melainkan Kristus yang surgawi. Dia adalah Bintang yang keluar dari Yakub dan Tongkat yang bangkit dari Israel. Dari gereja muncul Kristus yang adalah Bintang, dan Bintang ini adalah Tongkat. Ini berarti Kristus yang surgawi adalah kekuasaan di alam semesta. Hari ini Kristus adalah Bintang kita, tetapi kelak Dia akan menjadi Tongkat, Dia yang memegang kekuasaan alam semesta. Dalam sajak nubuat Bileam kita melihat bukan saja aspek tertentu dari Kristus dan gereja, tetapi juga banyak kekayaan yang berhubungan dengan gereja. Gereja “adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan” (Bil. 23:22; 24:8). Ini menunjukkan bahwa gereja itu menang. Gereja juga seperti singa jantan dan singa betina (23:24; 24:9). Ini selanjutnya menunjukkan bahwa gereja itu menang. Bilangan 24:6 dan 7 membicarakan “lembah yang membentang semuanya,” “taman di tepi sungai”, dan air yang mengalir dari timbanya. Ini mewahyukan bahwa gereja seperti taman, bahwa gereja memiliki lembah, dan bahwa di dalam gereja ada air yang melimpah.

Kitab Efesus adalah kitab surgawi mengenai gereja, tetapi dalam Surat Efesus tidak terlihat aspek-aspek gereja seperti yang disajikan dalam sajak Bileam dalam Bilangan 23 dan 24. Surat Efesus tidak memberi tahu kita bahwa gereja adalah taman dengan sungai atau bahwa dalam gereja air mengalir dari timba-timbanya. Selain itu, Surat Efesus tidak mewahyukan bahwa gereja memiliki lembah atau kita dalam gereja adalah singa jantan dan singa betina. Dalam gereja ada singa jantan yang dapat menelan musuh. Bahkan Moab menyadari bahwa umat Allah seperti lembu yang membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang (Bil. 22:4). Jika kita melihat gereja seperti yang diwahyukan dalam Kitab Bilangan, kita tidak akan menghina gereja atau memandang rendah gereja.

Kelihatannya Kitab Bilangan hanyalah satu kitab sejarah mengenai perjalanan Israel di padang gurun. Namun, isi intrinsik (yang di dalam), susunan intrinsik, dari sejarah ini tidak lain ialah Kristus dan gereja.

Setelah melihat gambaran Kristus dan gereja yang disajikan dalam Bilangan 20—24, sekarang mari kita melanjutkan dengan melihat Bilangan 25:1-18.

D. Israel Jatuh ke Dalam Perzinaan dan Penyembahan Berhala

Bilangan 23:21 mengatakan bahwa Allah tidak memandang kesalahan Yakub. Namun, dalam Bilangan 25 kita memiliki catatan kesalahan Israel. Kesalahan ini terdiri atas dua hal yang buruk, perzinaan yang merusak pribadi manusia yang diciptakan Allah, dan penyembahan berhala, yang menghina persona ilahi Allah. Menurut catatan Alkitab, perzinaan dan penyembahan berhala berjalan seiring. Di mana ada perzinaan, di sana ada penyembahan berhala. Aliran kekristenan tertentu adalah satu ilustrasi untuk hal ini. Dalam Perjanjian Baru, kekristenan tertentu ini diibaratkan sebagai Izebel, perempuan sundal (Why. 2:20). Selain itu, dalam kekristenan tersebut ada penyembahan berhala. Sebagai contoh, dalam bukunya “The Great Prophecies”, G. H. Pember menekankan bahwa bahkan Budha, di bawah nama Santo Yosafat, masuk ke dalam . . . ada santo yang bernama Yosafat, yang kisahnya sebenarnya adalah kisah Budha.

Balak tidak dapat mengalahkan Israel secara militer atau politik. Dia juga tidak dapat mengalahkan Israel melalui memakai agama. Karena itu, di bawah pengaruh Bileam (Why. 2:14), dia membujuk orang Israel jatuh ke dalam perzinaan dan penyembahan berhala. Tampaknya Balak dan Bileam membuat permufakatan dan persekongkolan menyerang orang Israel, dengan Bilean sebagai penasihat dan pembimbing Balak, mengajar Balak bagaimana menyandung umat Allah yang kudus, sempurna, dan indah. Rencana ini diprakarsai oleh Bileam, dan dilaksanakan oleh Balak. Karakteristik positif orang Israel dirusak melalui kejatuhan ke dalam perzinaan dan penyembahan berhala. Mereka tidak lagi kudus, sempurna, dan indah, mereka menjadi bangsa yang berzina dan menyembah berhala.

1. Orang Israel Melakukan Perzinaan

dengan Anak-anak Perempuan Moab dan Berpasangan dengan Baal-Peor

“Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzina dengan perempuan-perempuan Moab. Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke kurban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari kurban itu dan menyembah allah orang-orang itu. Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor” (Bil. 25:1-3a). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan perzinaan menjadi pasangan Baal, allah perzinaan. Maka, ada kombinasi perzinaan dengan penyembahan berhala. Para penyembah Baal adalah pezina-pezina, dan mereka membujuk orang lain untuk melakukan perzinaan dengan mereka dan menyembah berhala perzinaan. Ini adalah nasihat jahat Bileam (Bil. 31:16).

2. Tersandung oleh Batu Sandungan yang Diletakkan oleh Balak, yang Diajar oleh Bileam

Wahyu 2:14 mengatakan “ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berzina.” Bileam mengajar Balak bagamana memakai penyembahan berhala dan perzinaan untuk menyandung orang Israel.

3. Bangkitlah Murka TUHAN terhadap Israel

“Bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel” (Bil. 25:3b). Dia memerintahkan Musa untuk menangkap semua orang yang mengepalai bangsa itu dan menggantung mereka di tempat terang (Bil. 25:4). Digantung di tempat terang adalah dipermalukan di depan umum. Musa kemudian memerintahkan hakim Israel untuk membunuh setiap laki-laki Israel yang berpasangan dengan Baal-Peor (Bil. 25:5). Selain itu, 24.000 orang terbunuh oleh tulah (Bil. 25:9).

4. Dosa Zimri dan Cemburu Kudus Pinehas

Bilangan 25:6-15 memberi tahu kita dosa Zimri dan cemburu kudus Pinehas. Zimri melakukan perzinaan dengan perempuan Midian (Bil. 25:6, 14-15). Imam Pinehas, yang memiliki cemburu kudus untuk Allah, membunuh keduanya (Bil. 25:7-8). Ini bukan pembunuhan, membunuh dilarang oleh hukum Taurat. Sebaliknya, ini adalah pembunuhan yang dikuduskan, pembunuhan yang dikuduskan oleh Allah. Dalam Bilangan 25:10-13, kita melihat bahwa TUHAN memberi pahala kepada Pinehas atas pembunuhan yang dikuduskan ini. Pahala itu adalah perjanjian jabatan imam yang kekal untuk Pinehas dan keturunannya.

5. Pembalasan TUHAN kepada Orang Midian

Dalam Bilangan 25:16-18 dan 31:2 kita lihat pembalasan TUHAN kepada orang Midian karena penipuan yang mereka lakukan terhadap orang Israel. Dalam nubuat Bileam semua butir mengenai orang Israel sangat positif. Akan tetapi, segera setelah nubuat-nubuat ini ada satu pasal yang memperlihatkan kepada kita sebenarnya orang Israel itu orang macam apa menurut sifat mereka. Pandangan Allah terhadap Israel, yang diwahyukan dalam sajak Bileam, benar-benar positif. Tetapi situasi dan kondisi Israel sebenarnya sangat negatif. Sebenarnya, bani Israel adalah bangsa yang berzina dan menyembah berhala.

Alkitab menyajikan catatan penuh dari aspek dan status umat Allah, mewahyukan apa adanya kita di dalam Adam dan apa adanya kita di dalam Kristus. Bilangan 25 menyingkapkan apa adanya kita di dalam sifat Adam, orang yang berzina dan menyembah berhala. Menurut sifat Adam, kita hanya layak dibunuh dan digantung di tempat terang. Allah adalah pencemburu, dan kecemburuan-Nya membakar kita. Dalam kecemburuan-Nya yang menyala-nyala, Dia tidak akan menyisakan apa pun dari sifat Adam. Bilangan 22—25 memberi kita pandangan jelas mengenai orang Israel. Di mata Allah, bangsa ini surgawi, tetapi menurut sifat sejati mereka, mereka jatuh dan berdosa. Situasinya sama dengan kaum beriman hari ini. Di satu pihak, di dalam Kristus kita sangat menakjubkan; di pihak lain, dalam diri kita sendiri kita adalah orang yang berzina dan menyembah berhala yang nasibnya adalah dihakimi Allah.