← Daftar isi Filipi (2) · bab 9/20

DITEMUKAN DI DALAM KRISTUS DALAM KEBENARAN ALLAH MELALUI IMAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Flp. 3:7-9; Gal. 2:19-20

Filipi 3:9 mengatakan, “Dan ditemukan di dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena iman Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan iman” (Tl.). Menurut ayat ini, kebenaran Paulus sendiri berkaitan erat dengan hukum Taurat. Jika kita ingin ditemukan di dalam Kristus, kita harus memenuhi syarat: bukan dengan kebenaran kita sendiri yang berasal dari menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran yang bukan dari diri kita sendiri — kebenaran yang berasal dari iman Kristus, yakni kebenaran yang dari Allah berdasarkan iman. Karena itu, judul berita ini ialah: “Ditemukan di dalam Kristus dalam kebenaran Allah melalui iman Kristus.” Dalam kebenaran Allah kita dapat ditemukan di dalam Kristus, dan kebenaran ini adalah melalui iman Kristus.

KEMUSTIKAAN PENGENALAN AKAN KRISTUS

Dalam Filipi 3:8 Paulus mengatakan tentang kemustikaan pengenalan akan Kristus Yesus”. Kemustikaan pengenalan akan Kristus bukan mengacu kepada pengenalan Kristus, melainkan mengacu kepada pengenalan kita akan Kristus. Inilah pengenalan yang olehnya kita mengetahui bagaimana sebenarnya diri Kristus itu. Pengenalan semacam ini adalah mustika.

Paulus mendapatkan kemustikaan pengenalan akan Kristus melalui wahyu. Ketika ia berada dalam agama Yahudi, ia berada di bawah hukum Taurat. Penglihatan dan pikirannya diduduki oleh hukum Taurat. Paulus dengan tekun menuntut pengenalan akan hukum Taurat. Baginya pengenalan akan hukum Taurat sangatlah mustika, sehingga ia rela berkorban untuknya. Namun pada suatu hari, dalam perjalanan menuju Damsyik, Tuhan mencelikkan matanya sehingga ia melihat ekonomi Allah mengenai Kristus. Sejak saat itu, Paulus berpaling dari pengenalan akan hukum Taurat kepada pengenalan yang mustika akan Kristus.

Dalam Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose Kristus tidak saja diwahyukan sebagai persona yang almuhit, tetapi juga yang alwasi. Kristus sendiri lebar, panjang, tinggi, dan dalam. Sebagai persona yang sedemikian, dimensi-Nya tidak terukur. Siapa yang dapat mengukur tinggi atau dalam ini? Petrus menerima wahyu tentang Kristus sebagai Anak Allah yang hidup bagi pembangunan gereja. Namun, Petrus tidak nampak wahyu tentang Kristus sebanyak Paulus. Wahyu yang diberikan kepada Paulus menghasilkan suatu kemustikaan pengenalan akan kealwasian Kristus.

Karena kemustikaan pengenalan ini, maka Paulus rela menderita rugi atas segala sesuatu dan menganggap semuanya sampah. Dengan perkataan lain, setelah ia melihat wahyu tentang Kristus, segala yang lainnya menjadi sampah, barang rongsokan, atau kotoran. Mengapa Paulus menganggap segalanya rugi? Tidak lain karena kemustikaan pengenalan atas Kristus yang alwasi dan almuhit. Selain itu, ia rela menganggap segala perkara rugi demi mendapatkan Kristus.

MENDAPATKAN KRISTUS

DAN DITEMUKAN DI DALAM DIA

Memiliki wahyu mengenai Kristus tidak berarti kita sudah mendapatkan Kristus. Setelah melihat wahyu, Paulus perlu menuntut demi mendapatkan Kristus. Demikian pula, mungkin kita telah memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus, namun Kristus belum menjadi milik kita dalam pengalaman. Karena itu, seperti halnya Paulus, kita perlu menuntut Kristus agar kita mendapatkan Dia.

Pada akhir ayat 8 Paulus menyinggung tentang mendapatkan Kristus, dan dalam ayat 9 ia mengatakan tentang ditemukan di dalam Dia. Ini merupakan dua aspek dari satu perkara. Paulus damba untuk mendapatkan Kristus dan ditemukan di dalam Dia. Memiliki kemustikaan pengenalan atas Kristus adalah satu perkara, tetapi mendapatkan Kristus dan ditemukan di dalam Dia adalah perkara lain. Walaupun boleh jadi saya telah melihat wahyu tentang kealwasian dan kealmuhitan Kristus, tetapi saya masih ditemukan dalam etika, budaya atau kelakuan baik, bukan di dalam Kristus. Jika seseorang mengunjungi Anda di rumah Anda, apakah Anda ditemukannya di dalam Kristus? Mungkin Anda bisa menyatakan, “Haleluya, aku ada di dalam Kristus! Aku telah dipindahkan dari Adam ke dalam Kristus.” Tetapi, itu mungkin hanya satu pernyataan semata, bukan satu fakta dari pengalaman yang sebenarnya.

Dalam 2:14 Paulus berkata, “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Kita tidak ditemukan di dalam Kristus, malah mungkin ditemukan di dalam sungut-sungut dan perbantahan. Sebagai contoh, seorang istri mungkin bersungut-sungut terhadap suaminya, dan suaminya mungkin menanggapi dengan perbantahan. Dalam peristiwa ini, baik istri maupun suami sama-sama tidak ditemukan di dalam Kristus.

Kita telah banyak membicarakan tentang Kristus berlawanan dengan agama, budaya dan filsafat. Namun, kebanyakan kita ditemukan di dalam kebudayaan kita, dalam agama buatan kita, dan dalam filsafat ciptaan kita sendiri. Mungkin kita menetapkan satu kaidah bagi diri kita sendiri dalam kehidupan pernikahan atau hidup gereja. Karena itu, orang lain tidak menemukan kita di dalam Kristus, melainkan dalam diri kita sendiri untuk kehidupan pernikahan maupun hidup gereja. Kaidah tersebut merupakan sumber banyaknya sungut-sungut, perbantahan, dan kritik. Kita mungkin juga menggunakan kaidah tersebut sebagai patokan untuk mengukur orang lain. Oh, penting sekali setelah kita memiliki kemustikaan pengenalan akan Kristus, kita juga mendapatkan Dia dan ditemukan di dalam Dia!

SYARAT YANG DIPERLUKAN

Kita telah menunjukkan bahwa untuk dapat ditemukan di dalam Kristus ada suatu syarat atau permintaan. Syarat ini ialah kita tidak memiliki kebenaran kita sendiri yang berasal dari hukum Taurat, melainkan kebenaran yang berasal dari Allah berdasarkan iman. Adakalanya kita seolah-olah ditemukan di dalam Kristus, namun pada saat itu tidak ada realitas kecuali kita memenuhi syarat memiliki kebenaran Allah melalui iman Kristus. Saya ulangi, kita harus ditemukan di dalam Kristus dalam kebenaran Allah melalui iman Kristus. Frase “dalam kebenaran Allah” yang dipakai dalam judul berita ini ditujukan kepada fakta bahwa ini adalah syarat ditemukannya kita di dalam Kristus dalam realitas. Jadi, aspek yang terpenting dari syarat ini ialah kebenaran Allah.

KEBENARAN ALLAH DAN

KEBENARAN KITA SENDIRI

Dalam butir ini saya ingin menampilkan sebuah penjelasan atau tafsiran baru atas kebenaran yang tercantum dalam 3:9. Dalam ayat ini kebenaran mengacu kepada kehidupan sehari-hari yang benar terhadap Allah maupun manusia. Ketika Paulus mengisahkan masa lampaunya dalam 3:6, ia berkata bahwa “tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat”, ia tidak bercacat. Sebelum ia dipindahkan ke dalam Kristus, ia adalah seorang Farisi yang tidak bercacat dalam hukum Taurat. Paulus mengira diri-nya benar dalam kehidupan setiap hari, baik terhadap Allah maupun manusia. Sebenarnya, dia sama sekali tidak benar di hadapan Allah. Kebenaran yang menunjukkan suatu kehidupan yang sungguh-sungguh benar terhadap Allah dan manusia adalah kebenaran yang berasal dari Allah. Ungkapan “kebenaran Allah” tidak hanya berarti kebenaran yang dimiliki Allah sendiri; tetapi juga berarti kebenaran ini adalah Allah sendiri. Sebagai contoh, istilah hayat Allah, terang Allah, dan kasih Allah tidak hanya berarti bahwa hayat, terang, dan kasih adalah milik Allah. Hayat Allah adalah Allah sendiri. Demikian pula terang dan kasih Allah. Allah sendirilah terang dan kasih itu. Pada dasarnya, kebenaran Allah pun demikian. Sebagaimana hayat dan terang Allah adalah Allah sendiri, maka kebenaran juga adalah diri Allah sendiri. Karena itu, kehidupan yang benar terhadap Allah dan manusia seharusnya adalah Allah sebagai ekspresi dalam kehidupan sehari-hari kita, dan Allah sendiri diperhidupkan melalui kita.

Ini akan menjadi lebih jelas bila kita membahas apa artinya kita mengatakan kebenaran kita sendiri. Kebenaran kita sendiri adalah ekspresi diri kita sendiri, yaitu ekspresi “aku” kita. Kebenaran saya tidak lain hanyalah tertampilnya saya. Tetapi kebenaran Allah ialah Allah diperhidupkan dari diri kita, yakni Allah menjadi kehidupan dan ekspresi kita sehari-hari. Ketika kita mengasihi orang lain, kasih kita adalah ekspresi Allah. Selain itu, kerendahan hati kita bukan kerendahan hati yang etis semata, tetapi juga kerendahan hati yang ilahi, yakni Allah sendiri yang diperhidupkan dari diri kita. Jika kita ingin ditemukan di dalam Kristus, wajiblah kita berada dalam kondisi di mana Allah terekspresi melalui kita dan menjadi kehidupan sehari-hari kita.

Sewaktu saya masih muda, saya mengira kebenaran dalam ayat 9 mengacu kepada kebenaran yang Allah berikan kepada kita melalui pembenaran. Namun, bertahun-tahun lamanya saya mempunyai perasaan yang dalam bahwa itu bukanlah arti yang tepat dari kebenaran yang terdapat di sini. Pada suatu hari saya menyadari bahwa kebenaran Allah dalam 3:9 sebenarnya adalah Allah sendiri yang menjadi kehidupan sehari-hari kita. Jika kita ingin memiliki kebenaran ini, kita harus memiliki suatu kehidupan yang mengekspresikan Allah. Kita harus memenuhi syarat ini agar kita dapat ditemukan di dalam Kristus dengan riil.

IMAN KRISTUS

Bagaimana kebenaran Allah dapat menjadi kehidupan sehari-hari kita? Hal ini hanya dapat terjadi melalui iman Kristus. Sebagaimana kebenaran Allah adalah Allah itu sendiri, maka iman Kristus adalah Kristus itu sendiri. Iman Kristus bukanlah sesuatu milik Kristus, melainkan Kristus itu sendiri. Hanya melalui mendengarkan firmanlah baru iman Kristus dapat menjadi iman kita. Melalui firman, unsur Kristus masuk ke dalam kita. Dalam waktu yang sama, kita mengalami fungsi Roh itu. Hasil infusi dan fungsi ini ialah iman yang mendatangkan kesatuan organik antara kita dengan Allah Tritunggal. Iman yang benar-benar adalah Kristus sendiri ini membuat kita bersatu dengan Allah secara organik. Dalam kesatuan yang organik ini kita dan Allah adalah satu roh. Kita hidup, Allah juga hidup di dalam kita. Allah hidup, kita juga hidup di dalam Dia.

Jangan mengira bahwa kita di dalam Allah, tetapi Allah tidak di dalam kita; atau Allah di dalam kita, tetapi kita tidak di dalam Allah. Sebaliknya, antara kita dengan Allah ada suatu hubungan yang timbal balik: kita ada di dalam Allah, dan Allah ada di dalam kita. Karena alasan inilah maka Tuhan Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4).

Melalui kesatuan yang organik yang menggabungkan kita dengan Allah Tritunggal dan menjadikan kita satu roh dengan Dia ini, kita memiliki kebenaran Allah. Kebenaran Allah ini mutlak bukan berasal dari hukum Taurat, melainkan dari iman. Dalam kesatuan organik yang dihasilkan oleh iman ini kita dapat memperhidupkan Allah, Allah juga tertampil dari batin kita, menjadi kebenaran kita. Ketika kita berada dalam kebenaran ini, kita berada dalam kondisi yang tepat untuk ditemukan di dalam Kristus. Pemikiran yang terdapat di sini sangatlah dalam. Namun, bila kita nampak hal ini, kita akan mengalami aspek keselamatan Allah yang tertinggi, dan akan diselamatkan dari semua perkara lainnya. Semoga kita semua damba untuk mendapatkan Kristus dan ditemukan di dalam Dia dalam kondisi sedemikian ini.

ROH DAN FIRMAN

Untuk memiliki pengertian yang tepat atas Filipi 3:9 haruslah kita melihatnya berdasarkan konteks seluruh Kitab Filipi. Dalam 1:19 Paulus mengatakan tentang suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Suplai yang limpah lengkap ini tidak semata-mata dimiliki oleh Roh itu, ia sebenarnya adalah Roh itu sendiri. Seasas dengan ini, ungkapan “Roh Yesus Kristus” tidak hanya berarti Roh itu dimiliki oleh Kristus, melainkan berarti Roh itu adalah Kristus. Sebagaimana Putra Allah adalah Allah itu sendiri, maka Roh Kristus juga adalah Kristus itu sendiri. Kristus itulah Roh itu, dan Roh itu ialah suplai yang limpah lengkap.

Dalam 2:16 Paulus meneruskan membicarakan firman hayat. Sekali lagi di sini kita nampak bahwa firman bukan semata-mata dimiliki hayat, ia sebenarnya adalah hayat. Dalam cara penggunaan kata-kata Perjanjian Baru, firman hayat adalah hayat itu sendiri. Surat 1Yohanes 1:1 mengatakan tentang firman hayat itu, dan dalam Yohanes 6:63 Tuhan Yesus mengatakan bahwa perkataan yang Ia katakan itulah hayat. Dalam Kitab Filipi, di satu pihak kita memiliki Roh Yesus Kristus sebagai suplai yang limpah lengkap, di pihak lain kita memiliki firman hayat sebagai sarana.

Kita perlu membahas Filipi 1 hingga 3 sebagai satu keseluruhan dan menggabungkan suplai Roh itu, firman hayat, dan kebenaran Allah yang berdasarkan iman. Ketika dalam pengalaman kita memiliki Roh itu, firman, dan iman, maka kita akan terinfus dengan Allah sendiri. Kemudian, Allah yang terinfus ke dalam kita akan menjadi kehidupan sehari-hari kita, yang oleh Paulus dilukiskan sebagai kebenaran Allah.

DIINFUS DENGAN ALLAH

Ketika kita memiliki suplai Roh itu, firman hayat, dan kebenaran Allah oleh iman, maka kita sudah diinfus dengan Allah. Allah yang diinfuskan ini kemudian akan kita perhidupkan sebagai kehidupan sehari-hari kita. Kehidupan sehari-hari seperti ini dapat juga disebut kebenaran Allah. Ini bukan hanya mendapatkan Kristus, melainkan merupakan pengalaman dan kenikmatan atas Kristus secara riil. Ini berarti ditemukan di dalam Kristus di bawah kondisi menikmati infus Allah sehingga kita dapat memperhidupkan Dia melalui suplai Roh, firman hayat, dan kebenaran Allah oleh iman. Saya sepenuhnya yakin bahwa inilah konsepsi Paulus ketika ia menulis Kitab Filipi.

Dalam hal ini Paulus sangat berpengalaman. Dari firman hayat, dan melalui suplai Roh itu dia mendapatkan iman. Iman membawa infus Allah kepadanya. Dengan spontan Paulus memperhidupkan Allah sebagai kehidupannya sehari-hari dan ditemukan di dalam Kristus, serta memiliki kebenaran Allah. Inilah harapan dan keinginan Paulus, yakni agar ia selalu ditemukan di dalam Kristus dalam kondisi sedemikian. Paulus tidak hanya damba mendapatkan Kristus, tetapi juga ditemukan di dalam kondisi yang seajaib ini, sehingga orang dapat mengakui bahwa ia adalah seorang yang memperhidupkan Allah. Sebagai orang yang demikian, Paulus bukan berada di dalam kebudayaan, agama, filsafat, etika atau moralitas, tetapi ia mutlak sebagai orang yang berada di dalam Kristus, yang memperhidupkan Allah seba-gai kehidupan sehari-harinya.