MENDAPATKAN KRISTUS MELALUI MENGALAMI KUASA KEBANGKITAN-NYA
Pembacaan Alkitab: Flp. 3:10-16; Rm. 1:4; 8:11
Keempat kitab yang membentuk jantung wahyu ilahi — Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose — merupakan tambang yang tidak habis digali. Semakin digali, kita akan semakin memahami kekayaannya yang tidak ada habisnya. Dalam Filipi 3:10, satu ayat ini saja, setidak-tidaknya kita nampak empat “berlian”. Pertama-tama, Paulus di sini menampilkan “mengenal Dia”. Kata ganti “Dia” di sini mengacu kepada Kristus Sang almuhit. Kedua, ayat ini mengatakan tentang kuasa kebangkitan Kristus; ketiga, persekutuan dalam penderitaan-Nya; dan keempat, menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Alangkah kayanya ayat ini!
Dalam ayat 11 Paulus meneruskan, “Supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Di sini kita menemukan “berlian” lainnya — kebangkitan yang luar biasa dari antara orang mati, yaitu kebangkitan yang unggul.
Dalam 3:7 hingga 16 Paulus sedikitnya memakai tiga istilah Yunani yang berbeda untuk mengungkapkan pemikiran “mendapatkan”. Dalam ayat 8 ia berkata bahwa ia menderita rugi atas segala sesuatu dan menganggapnya sampah, supaya ia “mendapatkan (gain; memperoleh, LAI.) Kristus”. Kata “mendapatkan” ini dalam bahasa aslinya berarti mendapatkan, memperoleh, menangkap. Dalam ayat 12 Paulus memakai dua istilah lain yang berarti memperoleh (obtain) dan menangkap (lay hold of). Jadi, ia berbicara tentang mendapatkan, memperoleh dan menangkap Kristus. Menangkap di sini berarti merebut atau menduduki. Paulus tidak hanya damba mendapatkan Kristus, tetapi juga memperoleh bahkan menangkap Dia.
Menurut ayat 12, kedambaan Paulus ialah menangkap Kristus sebab ia telah ditangkap Kristus Yesus. Ketika ia berada di jalan menuju Damsyik, ia bertanya kepada persona yang menyatakan diri itu, “Siapakah Engkau, Tuhan?” (Kis. 9:5). Ketika Tuhan menjawab, “Akulah Yesus,” Tuhan menangkap Paulus. Sekarang, dalam Kitab Filipi Paulus dapat berkata bahwa ia berusaha menangkap Kristus yang telah menangkapnya.
Ketika kita diselamatkan, Kristus telah menangkap kita. Pada mulanya mungkin kita tidak memahami hal ini. Tetapi semua orang yang berusaha ingin melarikan diri dari genggaman Tuhan mengetahui bahwa kita tidak mung-kin melepaskan diri dari-Nya. Kristus benar-benar telah menangkap kita, maka kita sekarang bisa mendapatkan Dia, memperoleh-Nya, dan menangkap-Nya.
TIGA TAHAP MENDAPATKAN KRISTUS
Paulus memakai istilah Yunani yang berbeda untuk mengungkapkan konsepsi mendapatkan, hal ini menunjukkan bahwa keinginan Tuhan ialah agar kita mendapatkan Dia, memperoleh Dia dan menangkap Dia. Ada beberapa pembaca mungkin mengira ungkapan-ungkapan ini hanya dipakai untuk mengulangi saja. Tetapi ungkapan-ungkapan ini bukanlah pengulangan, melainkan menunjukkan adanya tiga tahap dari perihal mendapatkan Kristus. Dalam ayat 8 Paulus berkata, “Aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku mendapatkan Kristus” (Tl.). Ini menandakan permulaan dari didapatkannya Tuhan. Dalam ayat 10 Paulus meneruskan, “Mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Ini adalah tahap kedua dari proses mendapatkan Kristus. Apa yang kita nampak dalam ayat ini sebenarnya merupakan cara untuk mendapatkan Kristus. Akhirnya, pada tahap ketiga, kita menangkap (ayat 12). Inilah penggenapan proses mendapatkan Kristus.
Kita semua telah mengalami tahap pertama, sebab kita semua telah mendapatkan Kristus. Ketika kita percaya Tuhan dan menerima Dia, kita sudah mendapatkan Dia. Ini merupakan permulaan dari hal kita mendapatkan Kristus. Sekarang kita harus mendapatkan Dia terus-menerus. Terus-menerus mendapatkan Kristus berarti memperoleh Kristus. Pada akhirnya, proses ini digenapkan, yakni kita menangkap Kristus.
Dari ayat 12 kita nampak bahwa Paulus tidak menganggap dirinya seorang yang sudah memperoleh. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Aku belum memperoleh, tetapi aku masih dalam proses. Aku sedang berada dalam proses memperoleh Kristus, agar aku dapat menangkap Kristus.
Dalam ayat 8, 10, dan 12 kita nampak awal dari proses mendapatkan Kristus, kelanjutan mendapatkan Dia, yaitu memperoleh-Nya, dan kegenapan mendapatkan Dia, yaitu menangkap Kristus. Dalam berita ini beban saya bukanlah untuk membahas awal dan akhir dari proses, yaitu mendapatkan dan menangkap Kristus. Beban saya adalah mengenai proses kelanjutan memperoleh Kristus, yakni proses yang terjadi antara mendapatkan Kristus, tahap pertama, dan menangkap Kristus, tahap terakhir.
MENDERITA BAGI TUBUH
Proses mendapatkan Kristus yang diwahyukan dalam ayat 10 ini ialah mengenal Dia melalui mengenal kuasa kebangkitan-Nya. Namun, jika kita ingin mengenal kuasa kebangkitan-Nya, haruslah kita mengambil bagian dalam penderitaan-Nya dan mengenal persekutuan penderitaan-Nya.
Sesungguhnya penderitaan Kristus belum lengkap. Ada beberapa orang mendengar kata-kata ini mungkin akan bertanya, “Bukankah Kristus telah mati, dikubur, dan telah dibangkitkan sekali untuk selamanya? Sekarang Dia berada di takhta, mengapa Anda mengatakan penderitaan-Nya masih belum lengkap?” Lihatlah perkataan Paulus dalam Kolose 1:24, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Memang benar, Kristus sekarang berada di takhta, tetapi masih ada kekurangan dalam aspek penderitaan-Nya. Sebagai Kepala, penderitaan Kristus telah genap. Tetapi penderitaan Kristus untuk Tubuh belum genap. Penderitaan yang demikian juga disebut “penderitaan-Nya”. Selain itu, dalam Kolose 1:24 Paulus menganggap penderitaannya sendiri melengkapi kekurangan dari penderitaan Kristus untuk Tubuh-Nya. Karena alasan inilah maka Filipi 3:10 menunjukkan bahwa kita perlu berperan serta dalam penderitaan Kristus. Penderitaan Kristus untuk Tubuh-Nya masih terus berlangsung, dan kita harus mengambil bagian di dalam penderitaan ini. Ketika Kristus di bumi, Dia menderita. Sebagai pengikut-Nya, kita harus mengambil bagian dalam penderitaan-Nya untuk Tubuh-Nya. Kalau kita ingin mengenal Kristus melalui mengalami kuasa kebangkitan-Nya, kita harus berperan serta dalam penderitaan-Nya. Proses mendapatkan Kristus berkaitan dengan kebangkitan-Nya, penderitaan-Nya, dan kematian-Nya. Untuk mengenal Dia kita harus mengambil bagian dalam penderitaan-Nya dan menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, agar kita dapat mengalami kuasa kebangkitan-Nya.
TERLEPAS DARI HAMBATAN DUNIAWI
Ayat 10 dimulai dengan frase dasar “mengenal Dia”. Frase dasar ini berkaitan dengan predikat majemuk yang tercantum dalam ayat 8 dan 9, yakni “supaya aku mendapatkan Kristus, dan ditemukan di dalam Dia” (Tl.). Pertama-tama kita harus melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, supaya kita mendapatkan Kristus. Mendapatkan Kristus dengan cara demikian bukan hanya percaya kepada-Nya atau menerima Dia, melainkan menganggap semuanya rugi, melepaskan semuanya, dan kemudian menganggapnya sampah. Paulus adalah seorang yang menderita rugi atas segalanya dan menganggap semuanya sampah. Ia telah terlepas dari segala hambatan duniawi. Demi mendapatkan Kristus ia telah membuang segala sesuatu, termasuk agama dan kebudayaan, dan menganggapnya sampah, barang rongsokan, makanan anjing. Karena itu, Paulus dapat berada pada jalan yang tanpa rintangan untuk mendapatkan Kristus dan ditemukan di dalam Dia demi mengenal Dia.
Paulus berkata bahwa ia ingin memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam Dia untuk mengenal Dia. Seperti halnya Paulus, kita juga harus terlepas dari segala hambatan duniawi dan menganggap semuanya sampah. Dengan demikian kita dapat berkata, “Tuhan Yesus, aku hanya memperhatikan Engkau, aku ingin mendapatkan Engkau, ditemukan di dalam Engkau, dan mengenal Engkau.”
Kita telah menunjukkan bahwa memperoleh dalam ayat 12 merupakan kelanjutan dari mendapatkan dalam ayat 8. Kedambaan Paulus ialah mendapatkan Kristus agar dapat mengenal Dia dan memperoleh Dia. Paulus menuntut untuk mendapatkan Kristus agar ia boleh memperoleh Dia melalui mengenal Dia, mengenal kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan penderitaan-Nya.
KEBANGKITAN DAN PENDERITAAN KRISTUS
“Mengenal Dia” mengacu kepada mengenal Kristus secara umum. Tetapi mengenal kuasa kebangkitan Kristus dan persekutuan penderitaan-Nya, dan menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya merupakan perincian yang berkaitan dengan mengenal Kristus. Sebenarnya mengenal Kristus di sini berarti mengenal kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan penderitaan-Nya. Ada beberapa orang Kristen menyatakan bahwa mereka telah mengenal Kristus bertahun-tahun, tetapi mereka tidak mengenal kuasa kebangkitan Kristus, walaupun mereka tahu bahwa Kristus sangat berkuasa dan bahwa Dia telah menyatakan kuasa-Nya melalui membangkitkan Lazarus dari antara orang mati. Namun, kebangkitan Lazarus sangat berlainan dengan kuasa kebangkitan Kristus. Lazarus pada akhirnya tetap mati dan dikubur dalam makam. Tetapi kebangkitan Kristus adalah kebangkitan yang membawa-Nya ke takhta. Ketika Paulus menyinggung kuasa kebangkitan Kristus, dalam benaknya hal ini adalah sesuatu yang berbeda dengan kuasa yang dinyatakan dalam kebangkitan Lazarus. Paulus membicarakan kebangkitan yang dapat disebut kebangkitan “Kristus”. Dia ingin mengenal kuasa kebangkitan-”Nya” ini.
Dalam ayat 10 Paulus mengatakan tentang persekutuan penderitaan Kristus. Kita mungkin mengalami banyak penderitaan, tetapi tidak mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Sebagai contoh, mungkin seseorang kehilangan pekerjaan karena ia tidak bekerja dengan rajin, dan hal itu mungkin membuatnya menderita. Tetapi penderitaan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan penderitaan Kristus.
Berbeda pula antara penderitaan untuk transformasi dan untuk Tubuh. Perkataan Paulus dalam Filipi 3:10 tidak ditujukan kepada penderitaan untuk transformasi. Jika kita bandingkan Filipi 3:10 dengan Kolose 1:24, kita akan nampak bahwa penderitaan yang ia katakan dalam Kolose 1:24 adalah untuk menggenapkan kekurangan pen-deritaan Kristus bagi Tubuh. Ketika kita menderita bagi Tubuh, baru kita dapat mengalami kuasa kebangkitan Kristus. Tidak perlu diragukan, untuk transformasi memang kita perlu penderitaan. Tetapi jangan menyamakan penderitaan semacam ini dengan penderitaan Kristus, sebab Ia tidak perlu menderita untuk hal ini.
Kebanyakan orang Kristen tidak memiliki pengertian yang tepat terhadap penderitaan-penderitaan untuk transformasi, terlebih lagi terhadap penderitaan-penderitaan untuk Tubuh. Ada beberapa guru Alkitab menekankan penderitaan sebagai suatu disiplin atau hukuman. Mereka memperingatkan orang lain untuk menaati Tuhan dan hidup menurut firman Allah, agar tidak dihajar oleh Tuhan. Ada orang yang mengutip Ibrani 12 untuk menunjukkan bahwa penderitaan berfungsi menjadikan kita suci (ayat 11). Namun, mereka sering tidak dapat menjelaskan artinya menjadi suci.
Dalam Kitab Roma Paulus tidak mengatakan penderitaan sebagai suatu hajaran, melainkan ditujukan kepada transformasi dan penyerupaan. Roma 8:28 mengatakan bahwa Allah membuat segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya. Ada beberapa guru Alkitab sangat menekankan ayat ini tanpa mengaitkannya dengan ayat berikutnya, yang menunjukkan bahwa kehendak Allah ialah supaya kita dibentuk menjadi serupa dengan Anak-Nya. Penyerupaan ini merupakan hasil transformasi. Segala perkara bekerja sama untuk kebaikan kita supaya kita menjadi serupa dengan Anak Allah. Sudah pasti proses ini mencakup penderitaan; penderitaan yang membantu kita menjadi anak-anak yang matang. Ketika kita melalui penderitaan semacam ini, kita pun dapat mengalami kuasa kebangkitan Kristus, tetapi tidaklah sebanyak yang kita alami ketika kita menderita untuk Tubuh.
Sebagaimana penderitaan tidak hanya satu macam, maka kebangkitan juga lebih dari satu macam. Semua manusia yang mati akan dibangkitkan, ada yang “dibangkitkan untuk beroleh hayat” dan ada lagi yang “dibangkitkan untuk menerima hukuman” (Yoh. 5:29). Jenis kebangkitan yang kita bicarakan dalam berita ini adalah kebangkitan Kristus serta kuasa-Nya. Jarang sekali orang Kristen yang mengetahui kuasa kebangkitan yang unik ini.
Mengenal kuasa kebangkitan Kristus berkaitan dengan mengenal persekutuan penderitaan-Nya. Paulus telah mengalami kuasa kebangkitan Kristus dengan jalan ini. Ketika kita menderita demi Tubuh dalam nama Kristus, kita akan mengalami kuasa kebangkitan-Nya. Saya dapat bersaksi, bila saya berdiri dengan berani bagi Tuhan, saya mengalami pengurapan dan penguatan. Namun, jika Anda malu mengaku diri Anda adalah orang Kristen, terutama orang Kristen yang menempuh hidup gereja, Anda tidak akan mempunyai kekuatan. Tetapi, jika Anda bersaksi bahwa Anda adalah orang Kristen yang berdiri di atas tumpuan gereja, Anda akan dikuatkan.
DISERUPAKAN DENGAN KEMATIAN-NYA
Ketika kita mengambil bagian dalam penderitaan Kristus bagi Tubuh, kita akan diserupakan dengan kematian-Nya. Ketika Tuhan berada di bumi, Ia mati terhadap setiap perkara yang di luar Allah, termasuk keluarga dan kerabat-Nya. Tuhan menempuh kehidupan yang tersalib. Ia terus-menerus mematikan hayat alamiah-Nya. Dengan menempuh kehidupan yang tersalib sedemikian, Ia hidup terhadap Allah dan memperhidupkan Allah.
Bila kita rela menderita bagi Kristus dan Tubuh-Nya, kita pun akan mati terhadap setiap perkara yang di luar Allah, dan kita hanya hidup terhadap Dia. Dengan demikian kita akan benar-benar menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, sebab kita akan mengambil bagian dalam kematian-Nya. Setiap hari kita akan mengalami kuasa kebangkitan-Nya. Inilah cara untuk mengenal Kristus dalam pengalaman kita. Dengan mengenal Kristus sedemi-kian, mengalami Dia dalam kuasa kebangkitan-Nya, kita akan mendapatkan Dia.
REALITAS KEBANGKITAN KRISTUS
Realitas kuasa kebangkitan Kristus ialah Roh itu. Roma 1:4 membuktikan fakta ini; ayat ini mengatakan bahwa Kristus “Menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa.” Selain itu, Roma 8:11 mengatakan, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Roh itu adalah realitas kuasa kebangkitan Kristus. Sebenarnya, Kristus sendiri adalah kuasa kebangkitan-Nya, dan Roh itu adalah Kristus di dalam kebangkitan. Kita harus mengalami kuasa ini agar kita bisa mendapatkan Kristus.
KEKUATAN BATINI HAYAT ILAHI
Kuasa kebangkitan Kristus berbeda dengan kuasa-Nya yang dinyatakan dalam penciptaan. Penciptaan mempersaksikan bahwa Allah itu penuh kuasa, “Sebab sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:20). Namun, apa yang kita alami untuk Tubuh bukanlah kuasa penciptaan Allah, melainkan kuasa kebangkitan Kristus. Kuasa kebangkitan bukan suatu kekuatan jasmani yang di luar, melainkan kekuatan batini yang di dalam. Kuasa ini adalah kuasa hayat. Jika kita ingin mendapatkan Kristus, haruslah kita mengalami kekuatan yang batini ini. Semakin kita mengalami kuasa kebangkitan Kristus, kita akan semakin mendapatkan Dia. Jadi, kita mendapatkan Dia melalui mengalami kuasa kebangkitan-Nya.
Untuk menampilkan kuasa kebangkitan-Nya yang batini, pertama-tama Dia menjadi seorang manusia, kemudian mati dan mengunjungi alam maut, yaitu alam lingkungan orang mati. Melalui kebangkitan-Nya, kekuatan batini di dalam-Nya itu dimanifestasikan. Para malaikat tidak dapat mengalami kuasa ini. Tetapi kita, umat manusia yang berdarah daging, dapat mengalaminya, bila kita mengambil bagian dalam penderitaan Kristus dan diserupakan dengan kematian-Nya.
Hari ini banyak orang Kristen menekankan kuasa penciptaan Kristus, bukan kuasa kebangkitan Kristus. Bila orang-orang Kristen itu membicarakan kuasa Kristus, mereka mengira itu adalah kuasa penciptaan, bukan kuasa kebangkitan. Sebagai persona yang telah mengalami kematian, dan yang tidak akan pernah mati lagi, Kristus telah dinyatakan dalam kekuatan batini di dalam kebangkitan-Nya. Inilah kuasa kebangkitan-Nya. Melalui mengalami kuasa kebangkitan Kristus, kita akan dengan riil memperoleh Kristus.